Bang Jo di Bekasi

lampu-merahBagi yang belum pernah tinggal di Jawa Tengah pasti belum tahu arti kata Bang Jo.

Saya memang orang Jawa Timur, tapi sempat mampir hidup di Jawa Tengah, sebelum (akhirnya?) sekarang merapat di Bekasi, Jawa Barat.

Bang Jo bukan nama orang Betawi seperti Bang Ali, Bang Jiun, Bang Jampang ataupun Bang Yos (mantan Gubernur DKI, yang sebenarnya orang Jawa itu). Dalam istilah warga Jawa Tengah (dan DIY) Bang Jo adalah lampu lalu lintas. Bang Jo dari kata abang ijo (merah dan hijau), salah dua dari tiga lampu pada lampu lalu lintas. Kuning gak disebut mungkin karena jarang menyala. Ini sangat membahayakan, karena pengendara bisa berhenti mendadak jika lampu tiba-tiba merah. Atau melaju mendadak karena tiba-tiba lampu menyala hijau dan pengendara mobil dibelakang dengan kesalnya memukul klakson mobilnya agar kita yang paling depan segera tancap gas. Memang kalau gak buru-buru khawatir lampu segera berubah jadi merah.

Nah…. ketidak menentuan ini tidak saya rasakan ketika menjelajahi kota Bekasi. Di sebelah lampu Bang Jo itu ternyata dipasang lampu timer yang memberitahukan kepada pemakai jalan raya, berapa detik lagi lampu merah atau hijau menyala. Jika lampu merah menyala, di sebelahnya ada lampu timer merah yang berhitung mundur (count down). Ini memberitahu kita merapa detik lagi kita harus sabar menunggu. Jadi gak perlulah kesal karena menunggu dalam waktu yang tak diketahui.

Yang paling nyaman tentu kalau lampu hijau yang giliran menyala. Di sebelahnya ada lampu timer hijau. Jadi kita yang masih jauh gak perlulah menancap gas dalam-dalam, kalau tahu bahwa lampunya masih bakal menyala 120 detik misalnya. Angkanya jelas tampak dari kejauhan. Sepanjang mata kita masih agak bagus. Jadi santai saja. Yang penting diperkirakan saja saat di perempatan lampu merah belum menyala.

Sebaliknya jika lampu hijau tapi timernya tinggal hitungan dibawah sepuluh detik, juga gak perlulah kelabakan ngebut. Toh gak bakalan keburu. Nanti malah terjadi kecelakaan. Jadi santai saja. Enak, toh…..

Fasilitas ini memang membuat pengendara nyaman ketika mendekati perempatan atan pertigaan.

Karena saya beredarnya di Cikarang-Bekasi jadi saya pertama kali tahu fasilitas seperti ini ya ketika menjelajah kota Bekasi. Belakangan saya tahu ini juga ada di kota Jakarta. Dasar udik!

Siapapun dan dimanapun yang duluan, fasilitas ini sangat bermanfaat dan perlu diterapkan di wilayah lain. Demi keselamatan pengendara kendaraan bermotor.

Salam Bang Jo,

Choirul Asyhar

http://ayomenulisbuku.wordpress.com

Silaturahim di dunia maya, juga membawa rizki

Dunia maya berkembang sangat pesat. Kalau dulu pemakai hanya menggunakan untuk chatting dan browsing, kini kita berperan lebih. Yaitu sebagai pemain. Yaitu penulis cerita, catatan harian, atau berbagi ilmu. Ini menjadi mudah sejak munculnya berbagai sarana blogging.

Dulu punya website adalah prestise. Karena berarti harus bayar. Dan hanya lembaga bisnis yang memilikinya. Kini tidak lagi. Pribadi-pribadi yang dulu bukan siapa-siapa, kini bisa menjadi ‘orang’ karena ketekunannya menulis di blog pribadi meskipun tidak ada kegiatan bisnis di dalamnya. Semua menjadi mudah karena ada penyedia website gratis. Apalagi yang berbisnis melalui media online seperti Pak Afrizal Juragan Poeti itu (see http://adf.ly/rAd).

Setiap orang yang punya blog pasti ingin agar tulisannya bermanfaat. Dengan dikunjungi oleh banyak orang dan tulisannya dibaca. Untuk apa menulis kalau tidak ada yang membaca. Maka para penulis amatiran itupun mempromosikan blog dan tulisannya melalui berbagai cara. Ada yang rajin menulis di milis, ada yang rajin jalan-jalan mengunjungi blog orang lain. Yang ini sering disebut blog walking. Ada yang selalu menulis di milis sebuah cerita singkat dari tulisannya. Lalu ketika pembacanya penasaran disarankan untuk meng-klik URL tertentu. Dengan mengklik alamat itu, pembaca akan ‘terperosok’ masuk kedalam blognya.

Pendeknya harus banyak meninggalkan jejak di dunia maya!

Contoh untuk yang satu ini adalah teman saya yang rajin nulis dan meninggalkan jejaknya di mana-mana. Yaitu Pak Eko Eshape. Beliau ini seperti tak henti-hentinya menulis. Meskipun tentang sesuatu yang menurut orang lain dianggap sepele, seperti tentang “Mutual Friend” (see http://adf.ly/rAS). Ini ternyata tidak menjadi sepele karena ternyata banyak facebooker belum paham. Syukurlah beliau ini banyak meninggalkan jejak kebaikan. Bukan jejak keburukan seperti yang banyak dilakukan oleh para blogger iseng (untuk yang ini saya tidak usah kasih contoh link-nya).

Yang lebih cerdas lagi adalah web site atau blog yang bersedia membayar siapa saja yang mengunjungi website atau blognya. Kalau dulu ada filmnya Dedi Mizwar berjudul Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Kini ada bahkan banyak blog yang mengajak kita mengunjunginya dengan iming-iming: “Masuklah ke Blog-ku Nanti Kau Kubayar.” (lihat http://adf.ly/?id=25800)

Atau minimal di dalam blognya, pemilik memberikan kita kesempatan mengiklankan produk-produk kita secara gratis. Misalnya website ini http://adf.ly/rAb.

Wuih… hebat tenan… lha apa untungnya? Dia bayar pakai apa?

Kita beriklan, produk kita laku, dia dapat apa? Inilah dunia maya.

Mau tau prinsipnya? Ini salah satu link yang bisa di klik: http://adf.ly/?id=25800.

Saya sendiri sih pengen juga punya blog yang banyak dikunjungi orang dan menghasilkan uang. Pasti Anda juga pengen, kan?

Oke… selamat blogwalking dan sebelum itu klik http://adf.ly/?id=25800, agar blogwalking Anda tak sia-sia.

Bagi yang belum punya blog jangan gigit jari, karena ada workshop belajar blog yang diselenggarakan oleh CiMart, yang diberi tajuk Duel Maut Joomla vs Blogger. Nah, apa pula itu? Kunjungi saja beritanya di sini http://adf.ly/rAm.

Inikah namanya silaturahmi membawa rizki? Bisa jadi!

Wallahu’alam.

Cikarang Baru,

Choirul Asyhar

http://adf.ly/?id=25800

NB. Tulisan ini saya tulis bukan karena saya ahli dibidang ini. Tapi saya sedang mempraktekkan bagaimana website melakukan treatmen agar websitenya dikunjungi orang. Agar tujuannya tercapai, website itu menjanjikan fee bagi yang mau memasarkannya. Nah, saya sedang mempraktekkan ini. Jadi kalau Anda juga pengen mencoba silakan saja klik http://adf.ly/?id=25800. Kalau Anda bosan dengan iklan-iklan yang muncul saat URL-URL itu di klik…. Langsung aja klik SKIP AD di kanan atas.

Kalau Anda tidak mau mencoba, ya gak papa…. Keputusan ada di ujung jari Anda. Seperti kata William Shakespear “To Click or not to Clik” (walah… ngawure puollll)

Kontrakan, Kerja Kontrak & Kontraktor

rumah

Memang gak enak jadi orang kontrakan. Rumah ngontrak. Setiap tahun pindah rumah. Karena rumah lama biasanya kalau diperpanjang kontraknya nilai kontraknya naik. Maka setiap tahun harus berburu rumah kontrakan yang lebih murah atau minimal sama dengan yang lama. Baru jalan 6 bulan, sudah kepikiran untuk ngumpulin uang lagi. Karena waktu jatuh tempo 6 bulan ke depan bakal terasa cepat sekali datangnya.

Sudah rumah ngontrak, status kepegawaiannya juga sebagai karyawan kontrak pula. Maunya sih disyukuri saja. Biarpun kontrak, ini lebih baik daripada nganggur. Pada awal-awal kerja pasti senang sekali. Kerja penuh semangat. Setelah waktu berjalan, masa kontrak tinggal 2-3 bulan lagi, kerja sudah nggak konsentrasi. Tiap hari hunting mencari majikan baru yang mau mempekerjakan dirinya. Syukur kalau langsung dapat begitu masa kontrak habis. Kalau tidak, akan jadi pengangguran lagi untuk sementara waktu.

Betapa tidak nyamannya menjadi orang kontrakan demikian. Maka wajar saja jika banyak orang pengen punya rumah sendiri. Maka wajar saja jika setiap karyawan pengen diangkat menjadi karyawan tetap dengan segala fasilitasnya.

Tapi bagaimanapun tak nyamannya, masih ada sisi positifnya. Cepat atau lambat cita-cita itu bakal terwujud. Paling tidak, selesai kontrakan rumah pertama pindah ke rumah kontrakan berikutnya. Selesai kontrak dari majikan pertama pindah ke majikan berikutnya. Dan suatu saat akan memiliki rumah sendiri dan menjadi karyawan tetap.

Maka jangan bersedih para kontraktor, karena ada yang lebih ‘tak enak’ daripada itu. Dan itu dialami oleh setiap orang. Ya, setiap kita adalah orang kontrakan. Meskipun sudah punya rumah sendiri. Meskipun sudah jadi karyawan tetap. Kita adalah orang kontrakan….. Kontrak hidup di dunia. Kita tinggal di dunia ini dibatasi waktu tertentu.

Kalau orang kontrakan di atas, mereka tahu kapan masa kontraknya habis, maka tidak demikian dengan kontrak hidup kita. Tak ada yang tahu kapan masa kontrak kita habis.

Ya, tak ada yang tahu!

Meskipun demikian semua orang sadar, bahwa masa kontrak kita suatu saat pasti habis. Kalau orang kontrakan di atas, begitu masa kontrak rumahnya habis dia bisa pindah kontrak rumah lain. Dia sudah merencanakan dengan matang termasuk menabung uang sewa. Tapi tidak demikian dengan kontrak hidup kita. Sekali masa kontraknya habis, tak bisa diperpanjang. Merencanakan cicilan ‘tabungan’ pun tak bisa diatur dengan satuan waktu sedemikian sehingga saat habis kontrak terkumpul jumlah tertentu yang kita inginkan. Karena kita tak tahu kapan masa jatuh temponya.

Jadi bersyukurlah orang kontrakan, karena masih ada jenis kontrakan lain yang lebih tak menentu.

Maka pantaslah dalam ketidakmenentuan itu, Rasulullah bersabda bahwa orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematiannya –yaitu habisnya masa kontrak hidupnya di dunia. Dengan selalu mengingat habisnya masa kontrak yang bisa datang tiba-tiba, maka si cerdas ini akan memanfaatkan waktunya seefisien dan seefektif mungkin untuk menuai berlimpah ruahnya rahmat, keberkahan dan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sehingga setelah masa kontraknya habis, dia akan diangkat menjadi ‘karyawan tetap’ di surga. Lengkap dengan rumah mewahnya.

Cikarang Baru, 12 November 2009
Renungan 44 tahun menjalani masa kontrakku di dunia. Entah berapa tahun lagi Allah memberi kesempatan aku tinggal di sini. Semoga Allah memberi kita semua kecerdasan.

Tulisan lain di http://choirul-asyhar.co.cc

Mati Duluan

Setelah azan maghrib, saya dan dua anak laki-laki saya Abyan (13) dan Adnan (5) pergi ke masjid dekat rumah. Dalam perjalanan seperti biasanya Adnan ngajak ngobrol.

“Ayah, berapa umur Ayah?”
“Empat puluh tiga!” jawabku cepat… yang ternyata salah.
“Empat puluh empat, Yah…” Abyan cepat mengkoreksi.
“O ya, sebentar lagi pas empat puluh empat.” Kataku.
“Kalau Ibu?” Tanya Adnan selanjutnya.

Continue reading Mati Duluan

“Tari Pendet Malaysia”

Setelah lagu Rasa Sayange, Batik, Angklung, Reog Ponorogo, kini Tari Pendet diklaim oleh Malaysia sebagai budaya Malaysia. Motif yang nampak adalah bisnis. Merebut hati turis mancanegara untuk datang ke Malaysia. Sebagai Negara tetangga memang Malaysia tampaknya menjadikan Indonesia sebagai pesaing ketat.

Dari iklan pariwisata Malaysia, tampak tersurat bahwa semua yang ada di Indonesia ada juga di Malaysia. Jadi dengan kondisi keamanan Indonesia akhir-akhir ini, bolehlah turis mampir ke Malaysia saja, toh mereka akan menikmati sajian yang sama bagusnya dengan yang ada di Indonesia.

Continue reading “Tari Pendet Malaysia”

Wah, Kok Banyak …………?

Sabtu, tanggal 22 Agustus 2009. Dhuhur. Saya seperti biasanya mengajak anak terkecil saya, Adnan (5), ke masjid untuk shalat berjamaah.

“Wah, kok banyak orang…?” itu kata-kata yang terlontar spontan dari mulutnya. Sesaat setelah kakinya melewati pintu masjid. Rupanya dia heran kenapa dhuhur ini jamaah sholat dhuhur sampai lebih dari 3 shaf. Berarti lebih dari 75 orang. Biasanya cuma satu shaf. Baik hari libur maupun hari kerja.

“Iya, Awal Ramadhan banyak yang shalat di masjid.” Jawab saya spontan dan tak sempat menutup-nutupi kenyataan ini. Padahal bisa saja saya jawab “Iya, kan hari libur… mungkin banyak yang tidak bepergian jadi sempat sholat dhuhur berjamaah.”. Entah kenapa justru jawaban jujur itu yang saya berikan. Continue reading Wah, Kok Banyak …………?

Dua Momen Besar di Bulan Ini

Ada dua momen besar di bulan Agustus tahun 2009 ini. Yang pertama hari ulang tahun kemerdekaan RI dari penjajahan colonial Belanda dan Jepang. Setelah hidup terjajah lebih dari 350 tahun. Lalu yang kedua yang tak kalah pentingnya adalah datangnya bulan Ramadhan 1430H.

Yang pertama adalah momen penting bagi kehidupan kita berkebangsaan. Telah 64 tahun kita merdeka. Artinya kita bebas mengatur nasib kita sendiri. Tanpa campur tangan asing. Tanpa pesan sponsor asing yang mendikte bahkan mencocok hidung kita. Ini patut disyukuri. Allah telah menganugerahkan kemerdekaan kepada kita sejak 64 tahun yang lalu. Sebagai bangsa yang mayoritas beragama Islam, kita bebas melaksanakan sholat lima waktu. Dan keempat rukun islam lainnya. Tak ada lagi penjajah yang mendikte kita untuk menghadap dan menghormat kearah tertentu seperti pada jaman Jepang dulu. Continue reading Dua Momen Besar di Bulan Ini

Mimpi Yuk…. mumpung Gratis!

Alhamdulillah, aku bersyukur atas kehidupanku akhir-akhir ini. Teman-teman disekitar yang sangat mendukung. Saling mendukung. Ada ilmu baru, ada ilmu lama yang lama kutinggalkan, padahal dulu terbukti efektif!

Kali ini aku diajari lagi untuk bermimpi. Mimpi di siang bolong. Karena memang pertemuannya tadi siang. Mimpi yang direncanakan. Bukan yang selewat saat kita tidur. Bukan mimpi yang tanpa kemauan kita. Ya…. bermimpilah. Dan tuliskan mimpimu. Nanti suatu saat terwujud, Anda akan terkejut, surprised dan bersujud syukur!

Yang menarik karena perencanaan mimpi ini ditulis lalu disampaikan di muka umum, maka semua teman-teman baik kita akan mensupport dan terus mengingatkan agar kaki terus melangkah mengejar mimpi itu. Intinya harus ada kemajuan menuju realisasi mimpi-mimpi itu. Let the dream becomes true! Continue reading Mimpi Yuk…. mumpung Gratis!