Ngarak Manten di KEMILAU NUSANTARA 2010

Teks & foto: Aries Rachmandy

Sekelompok warga nampak bersiap-siap menuju suatu tempat. Seorang pria dengan pakaian pernikahan khas Betawi begitu terlihat gagah. Para penari dengan gemulai dan enerjik, mengikuti alunan gambang kromong yang menghentak hingga mencuri perhatian warga. tak ayal, warga pun tumpah ruah untuk melepas rasa penasarannya.

Seorang wanita begitu serasi dengan pakaian pernikahannya yang didominasi oleh warna merah dihiasi assesoris keemasan. Rombongan tiba di rumah mempelai wanita dengan maksud untuk meminang sang wanita. Namun rombongan mempelai pria harus menghadapi terlebih dahulu sang tuan rumah dengan beberapa rintangan, yakni beradu pantun dan beradu silat oleh pendekar dari masing keluarga. Ternyata pantun dan adu silat dimenangkan oleh pihak mempelai pria, sehingga sang tuan rumah mempersilahkan rombongan mempelai pria untuk memasuki rumah.

Itulah kebudayaan yang ditampilkan oleh Disparbudpora Kabupaten Bekasi pada helaran KEMILAU NUSANTARA 2010, Sabtu (23/10) di MPR-JB (Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat) Bandung. Acara ini dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, menampilkan kebudayaan daerah se-nusantara yang sangat beragam dan menarik. Event tersebut merupakan agenda tahunan Kembudpar Indonesia dan Disparbud Jabar sebagai upaya melestarikan kebudayaan nusantara. Selain pawai kebudayaan dari kota/kabupaten se-nusantara, dalam event tersebut terdapat stand-stand yang mempromosikan potensi khas tiap daerahnya masing, seperti wisata alam, kerajinan tangan (handy craft), makanan ringan, pakaian, dan assesoris.

Rombongan ngarak manten
Rombongan mempelai pria disambut tuan rumah mempelai wanita.
Enerjik

Jembatan Penyeberangan Mengenaskan

HAMPIR TERPUTUS, jembatan yang hampir terputus mengkhawatirkan bagi warga yang melintasinya.

Menikmati fasilitas umum (fasum) yang layak dan nyaman merupakan hak setiap warga negara. Karena fasum merupakan hasil dari pajak yang dibayarkan oleh warga kepada pemerintah setiap tahunnya. Fasilitas umum tersebut antara lain: jalan raya, jalan bebas hambatan, lapangan olahraga, taman kota, jembatan penyebrangan, dan lain-lain.  Tetapi bagaimana bila hak tersebut tak terpenuhi? Bahkan dapat menimbulkan resiko berbahaya bagi warga. Seperti keadaan jembatan penyebrangan yang terdapat di Jalan Jendral Sudirman Bekasi Barat pada Sabtu (4/09/2010). Jembatan yang menghubungkan antara Grand Mall (GM) dengan kantor Dinas Kesehatan Kota Bekasi dengan melewati jalan raya Jendral Sudirman ini, mengalami rusak parah dan mengenaskan keadaannya.

LUBANG BESAR, lubang besar yang menganga pada anak tangga yang dapat membahayakan pejalan kaki.

Pada bagian antara ujung anak tangga teratas dengan bagian tengah jembatan berlubang dengan diameter sekitar 15 cm yang menyebabkan jembatan hampir terputus, sehingga anak tangga menjadi labil dan bergoyang-goyang saat dipijak. Sama sekali tidak ada papan peringatan di sekitar jembatan. Hampir putusnya bagian tangga dengan bagian tengah jembatan itu, terjadi pada kedua sisi tangga (sisi utara dan sisi selatan). Keadaan itu membahayakan para pejalan kaki yang memanfaatkan jembatan penyebrangan tersebut, terutama pada malam hari karena jembatan tak dilengkapi dengan alat penerangan. Hal itu menyebabkan banyak warga memilih untuk menyebrang langsung tanpa menggunakan jembatan penyebrangan. Padahal Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi telah memasang rambu didekat jembatan yang berisi ajakan untuk menggunakan jembatan penyebrangan demi ketertiban dan kenyamanan. Selain itu, yang membuat warga enggan menggunakan jembatan penyebrangan adalah keadaan jembatan yang kotor dan kumuh karena dijadikan tempat bernaung para pengemis untuk mengais rejeki.

Teks & foto: Aries Rachmandy

Bekasi Barat Padat Merayap

Penumpukkan kendaraan terjadi pada jalur yang mengarah ke Kranji dan sekitarnya.

Hiruk pikuk kendaraan dan rentetan klakson yang berbunyi saling bersahutan di jalanan menjadi suasana yang sudah akrab bagi warga Kota Patriot, Bekasi. Tak hanya di kota, di daerah pinggiran pun mengalami hal serupa. Rutinitas kemacetan seperti itu biasanya terjadi pada pagi hari disaat orang-orang memulai aktivitasnya masing-masing, saat jam pulang kantor, dan pada akhir pekan. Apalagi menjelang lebaran

Penumpukkan kendaraan terjadi pada jalur yang mengarah ke Kranji dan sekitarnya.

seperti ini, tak sedikit warga yang menggunakan kendaraan pribadi untuk pulang ke kampung halamannya. Seperti suasana kemacetan yang terjadi sepanjang jalan Jenderal Sudirman menuju kranji, Bekasi Barat kemarin (Kamis, 2/09/2010). Penumpukan kendaraan terjadi di bawah jembatan penyebrangan yang menghubungkan GM dengan Kantor Dinas Kesehatan Kota Bekasi. Kendaraan hanya dapat memacu kecepatan 20 Km/Jam saja dan hanya dapat beranjak satu meter disetiap tarikan gasnya. Menurut pengamatan saya, kemacetan yang terjadi pada pukul 16:28 itu, disebabkan oleh angkutan perkotaan (angkot) yang membuka terminal bayangan alias nge-tem sepanjang daerah yang dilarang untuk berhenti sehingga lebar jalan menjadi menyusut, lalu didukung oleh volume kendaraan roda dua dan roda empat yang terlampau banyak melebihi kapasitas lebar jalan terutama kendaran roda empat yang berbadan besar seperti truk dan bus. Walau kemacetan telah terjadi kurang lebih satu jam, namun polisi belum terlihat mengatur carut marutnya kendaraan.

Angkutan perkotaan (angkot) membuka terminal bayangan di area larangan berhenti.

Terjebak macet adalah hal yang menyebalkan, karena waktu dan bahan bakar kendaraan terbuang sia-sia. Namun tak perlu khawatir, bagi anda yang memiliki tujuan ke daerah kranji dan sekitarnya. Anda dapat menggunakan jalan alternatif untuk menuju pasar kranji baru, yaitu melalui gang yang terdapat di belakang kantor Dinas Kesehatan Kota Bekasi, tetapi khusus untuk pengendara sepeda motor saja karena lebar jalan yang tak lebih dari dua mobil sejenis sedan. Berhati-hatilah dalam berkendaraan, gunakanlah perlengkapan keselamatan standar karena keluarga menanti anda di rumah. Tak lupa, sikap saling menghargai antarsesama pengendara pun diperlukan saat berada di jalanan.

Teks & Foto: Aries Rachmandy

Terkungkung dalam Lingkaran Satanis

Judul Buku : SATANIC FINANCE, true conspiracies

Penulis : A. Riawan Amin

Penerbit : Celestial Publishing

Tahun Terbit : Cetakan I, April 2007

Ukuran / halaman : 12,5 x 18 cm / 147 halaman

Kehidupan bermasyarakat tak dapat dilepaskan dari kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau lebih familiarnya disebut dengan kegiatan ekonomi. Entah di kota maupun di desa, setiap orang selalu berupaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya masing-masing, baik berupa barang maupun jasa. Berbagai profesi digeluti demi menyambung hidup dengan segala kebutuhan, mulai dari cara yang halal hingga kadang kala menghalalkan segala cara. Itulah sifat dasar manusia, selalu ingin memenuhi segala keinginannya untuk mempertahankan eksistensinya.

Tahun 1998, Indonesia beserta negara asia lainnya, terkena dampak badai krisis ekonomi yang begitu cepat menjalar, dikarenakan nilai tukar mata uang domestik terdepresiasi oleh mata uang dollar. Salah satu efek yang menimpa di Indonesia adalah, semakin meluasnya lahan kemiskinan, karena banyak karyawan yang dirumahkan, disusul dengan harga barang kebutuhan pokok yang meningkat signifikan, berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan. Apakah badai krisis tersebut merupakan hal yang kebetulan? Mengapa hal itu dapat terjadi? Apakah kita sadar, bahwa saat ini sedang berada dalam kungkungan sistem finansial setan yang lambat laun membawa manusia pada kehidupan apatis, miskin, egois, hedonis, antipati, rakus dan hal negatif lainnya? Continue reading Terkungkung dalam Lingkaran Satanis

Sariban, Pahlawan Tanpa Bintang

Mentari pagi telah menampakkan sinarnya yang begitu cerah. Dari sebuah gang sempit, keluar seorang pria tua berpakaian wearpack lusuh berwarna kuning dengan tulisan besar di bagian belakangnya, PETUGAS KEBERSIHAN KOTA BANDUNG. Melaju dengan menunggangi sepeda ontel klasik yang dilengkapi dengan berbagai jenis perkakas di bagian belakang, sayap kiri dan sayap kanan sepeda, nampak seperti seorang prajurit yang akan berperang ke medan pertempuran dengan seperangkat alat perangnya. Perkakas yang beliau bawa antara lain: sapu injuk besar dengan ratusan batang lidi yang tersusun rapi dalam satu ikatan; karung plastik besar bekas pembungkus beras; pengki yang terbuat dari kaleng bekas biskuit; linggis tebal; dan lain-lain. 15 menit telah berlalu, beliau pun sampai di sebuah tempat yang tak jauh dari rumahnya, yaitu Jalan Taman Makam Pahlawan, Bandung. Sepeda ontel pun dia parkirkan di sisi trotoar, lalu dengan segera diambilnya sapu injuk, pengki dan sebuah karung plastik untuk mulai menyisir sampah yang berserakan sepanjang jalan Taman Makam Pahlawan, Bandung. Continue reading Sariban, Pahlawan Tanpa Bintang

Jurnalis Miris

Oleh: Aries Rachmandy

Mendapatkan informasi yang akurat, menarik, dan bermanfaat merupakan kebutuhan tambahan dari manusia yang tak kalah penting dari kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Di era yang serba digital ini, mendapatkan informasi tidaklah sesulit seperti pada jaman kemerdekaan dahulu. Jaman sekarang, anda bisa mendapatkan informasi melalui jejaring maya (internet) dengan tingkat sirkulasi informasi yang begitu tinggi, bahkan anda bisa mendapatkan update informasi terbaru dalam hitungan detik hanya dengan menggunakan handphone yang terkoneksi dengan internet.

Siapakah orang di balik layar yang mencari infomasi-informasi tersebut, yang lalu mengolahnya dan selanjutnya tersampaikan kepada anda sebagai khalayak?. Ya, siapa lagi kalau bukan mereka para awak media, terutama para jurnalis yang bertugas memburu informasi atau berita yang terjadi di lapangan untuk selanjutnya disebarluaskan secara massal kepada publik melalui media cetak ataupun media elektronik. Terkuaknya kasus skandal Century, sampai ayam tiren, merupakan beberapa hasil kerja keras mulia dari para jurnalis yang berhasil mem-blow up kasus tersebut sehingga dilakukan penyelidikan lebih lanjut dan membantu masyarakat untuk lebih waspada. Continue reading Jurnalis Miris