Untuk Pemimpin Negeri, Belajarlah dari Umar bin Khattab

Kepada banyak orang yang mengharap-harap diri menjadi pemimpin,

belajarlah terlebih dahulu dari kepemimpinan sang zuhud, Umar bin Khattab

seorang pemimpin yang dihinggapi rasa takut tidak bisa memikul amanah Allah

seorang amir yang harus kembali bertanya, benarkan saya harus jadi pemimpin ? mengapa saya?

seorang amir yang lalu berdoa demi amanah berat ini, Y a Allah.. berikanlah pundak yang kuat untuk menanggung bebannya

Belajarlah dari Umar,

seorang pemimpin yang sangat khawatir apakah dia telah memakan uang ummat,

bahkan untuk sekedar lampu penerang

tidak punya kendaraan dinas mewah yang dipakai mudik, bahkan tatkala BBM melambung tinggi

seorang pemimpin yang tidak punya selembarpun baju yang mewah, hanya dua lembar jubah yang penuh tambalan di sana sini

seorang pemimpin yang tidak mau menerima hadiah, walau hanya selembar sajadah baru

seorang pemimpin yang mau memanggul karung makanan untuk dibagikan pada para kelaparan

seorang pemimpin yang rela meninggalkan usaha dagangnya gara-gara pekerjaan jadi pemimpin yang menyita waktu

seorang pemimpin yang marah ketika ditawari naik tunjangan

seorang pemimpin yang selalu menahan lapar

seorang pemimpin yang selalu terakhir kenyang

seorang pemimpin yang menolak hidangan kenegaraan hingga semua rakyat memakannya

seorang pemimpin yang turun langsung mengawasi pasar

seorang pemimpin yang juga menjaga harta ummat dengan baik

seorang pemimpin yang cerdas dan menelurkan ide-ide hebat

seorang pemimpin yang bahkan tidak tergoda oleh permadani indah hasil pampasan perang

Kepada orang yang mengharap-harap jadi pemimpin,

Belajarlah dari Umar,

yang tetap teguh mencontoh Rasulullah

Keberadaan Kota Mandiri, Benarkah Mengurangi Peran Pemerintah ?

Menggelitik rasa ingin tahu saya tentang kota mandiri yang ditanyakan panelis pada saat Debat Kandidat Calon Bupati dan wakilnya di Metro TV Rabu, 7 Maret 2012 kemarin. Pertanyaannya adalah : kebijakan kota mandiri yang terus bermunculan di kabupaten Bekasi akankah dilanjutkan dan di manakah peran pemerintah jika keberadaanya tetap diadakan ? Saya penasaran, kenapa ya para kandidat tidak mampu menjawab dengan tegas dan menggigit?

Kota mandiri (township) sendiri adalah kota yang mampu menyediakan fasilitas lengkap, sehingga para penghuninya tidak perlu ke luar kompleks perumahan untuk mendapatkan segalanya.

Menurut pengamat property, Ali Tranghada, sebuah kawasan bisa disebut sebagai kota mandiri apabila 60 persen penghuninya melakukan aktivitas di kawasan tersbeut. Konsep township ini pertama kali dikembangkan Sinar Mas dengan BSD (Bumi Serpong Damai)nya. Fasilitas yang diberikan BSD dalam area perumahan pada saat itu adalah kompleks perkantoran, sarana bermain, sampai sarana belanja. Pengembang Lippo di kawasan Karawaci Tangerang memberikan huniannya kawasan industry, sementara itu Ancol menawarkan tambahan tempat wisata.

Kemandirian kota-kota ini di satu sisi memang menguntungkan, karena bisa berbagi beban dengan kota besar seperti Jakarta, misalnya dalam hal berbagi pekerjaan. Seharusnya pula keberadaan township ini membantu mengurangi kemacetan di wilayah-wilayah sekitarnya. Di Kabupaten Bekasi sendiri ada kota mandiri Deltamas dan Grandwisata yang juga menawarkan konsep bekerja, tinggal, dan memiliki factor penggerak ekonomi di area pemukiman tersebut. Deltamas menambahkan fasilitas pusat pemerintahan kabupaten Bekasi. Grand Wisata malah memberikan akses tol yang sangat mudah.

Sementara itu pengembang-pengembang lainnya mulai menggeliat mengikuti kesuksesan Deltamas dan Grandwisata ini. Sebut saja ada Permata Metropolitan yang sudah melengkapinya dengan fasilitas pendidikan, mall, ruko, hotel dan kolam renang. Lantas, mengacu kembali kepada pertanyaan panelis untuk calon Bupati tentang kota mandiri ini, benarkah pemerintah tidak lagi mempunyai peran dalam pembangunan?

Menurut saya, tidak mungkin pemerintah tak lagi mempunyai pekerjaan karena tanggung jawabnya meliputi banyak wilayah yang tersebar di seantero kabupaten Bekasi. Pekerjaan pemerintahpun tidak hanya memberikan tandatangan pada proposal-proposal yang disebutkan oleh seorang kandidat, namun adanya kota mandiri seharusnya memberikan peluang dan waktu lebih banyak bagi pemerintah memberdayakan wilayah lainnya.

Kota mandiri sendiri harus tetap dikontrol agar pengembangannya tidak melanggar tata kota yang sudah dibuat pemerintah. Kota mandiri harus dipantau agar tetap memiliki ruang hijau dan masterplan ramah lingkungan. Jangan sampai pengembang hanya memikirkan keuntungan dengan membuka ruko atau mall dan mengorbankan ruang hijau tersebut.

Orang Pintar juga Harus Mau Diatur

Kalau kata-kata tersebut terlontar dari mulut orang-orang terpelajar mungkin itu hal biasa. Karena biasanya orang-orang terpelajar itu pintar dan merasa bisa mengatur dirinya sendiri. Namun akan berbeda nuansanya jika yang melontarkannya adalah seorang Pak Ogah yang mengatur jalanan.

Pak Ogah inilah yang kadang menjadi Pahlawan buat orang-orang yang melewati ruas jalan Kalimalang/Setu. Seringkalinya polisi lalu lintas dan petugas DLLAJ terlambat hadir tepat waktu di TKP sehingga mengakibatkan jalanan macet total. Hal ini kadang memaksa para Pak Ogah ini nyambi sebagai pengatur jalan.

Pagi ketika terjadi macet total. Tak ada polisi di kiri kanan. Petugas DLLAJ pun tak nampak, seorang Pak Ogah sibuk melambai-lambaikan tangan dan setengah berteriak pada para pengendara motor yang tak mau mengalah. Suasana sangat kacau. Klakson dibunyikan di mana-mana. Pak Ogah terlihat sangat stress. Namun dia adalah gambaran Pak Ogah yang bertanggung jawab. Sementara, para pengendara motor kebanyakan adalah para buruh pabrik yang notabene minimal lulusan SMA. Orang-orang ini tentulah lebih terpelajar daripada Pak Ogah dengan tampang lusuh, kumal, dan kurang berpendidikan.

Para pengendara ini saling rebutan mencari jalan untuk bisa melewati puluhan kendaraan lain di kanan kirinya.  Saking kacaunya, akhirnya Pak Ogah berkata pada para pengendara tersebut, ” Mas. Mas kan orang pinter semua. Kok ga pada mau diatur sih ?”. Dan kata-kata itu tak ampuh sama sekali. Terlihat dari kelakuan pengendara yang tetap saja berlaku serupa.

Hal ini mempertegas arti bahwasanya Pak Ogah “tak ada artinya” sama sekali. Dia tak diindahkan. Peluit yang dipakainya mengatur lalu lintas memang tak ubahnya sebagai  alat mencari uang recehan yang kadang terlihat sangat hina. Tapi pengendarapun jadi lebih hina lagi jika tak mau mentaati aturan atau tak bisa mengatur dirinya sendiri.

 

Try Out Ujian Nasional SD dan SMP berlangsung seru dan full doorprize

Bertempat di Yayasan Al Muslim, Ahad 12 Februari 2012, Try Out Ujian Nasional  SD dan SMP berlangsung meriah dengan peserta hampir 2000 orang.

Berikut liputannya:

Peserta dari SMP: SMP Al Muslim, SMP Daarul Fikri, SMP 2 Tambun, SMP 2 Cibitung, SMP 2 Cikarang Barat, SMP 1 Tambun Selatan, SMPIT Al Imaroh, SMP Al Amin, SMP 12 Tambun

Peserta SD : SD Al Muslim, SD Padurenan 6, SD Insan Madani, SD Mutiara Hati, SD Mekarsari 02, SDN Telaga Murni 03, SD Tambun 08, SDN Cibuntu 01, SDN Telaga Asih 03, SDN Telaga ASih 06, SDN Telaga Asih 02, SDIT Nurul Islam, SDIT Al Muthmainnah, SDN Sukadanau 02, SDN Telaga ASih 01, SDN Ganda Sari 02, SDN Telajung 02.

suasana ujian yang bertempat di gedung SMP, SMA, dan SMK Al Muslim.

Doorprize yang buanyak. Sponsor terdiri dari : Unilever, Primagama English, Chicks Music, Easy Flow, CV Cahaya Dav (Oxxydav water), Indofood, Sinde Budi Sentosa, Catur Dame Collection, Bintang Pelajar, Kalbe Nutrition.

dimeriahkan juga oleh penampilan kakak-kakak SMA Al Muslim dan Flora Band.

Antisipasi Demo Buruh Setiap Hari

Demo Buruh Bekasi rupanya benar-benar membuat resah warga yang terbiasa kena dampaknya. Terutama saya dan keluarga yang memang selalu kebagian macet di sepanjang jalan Kampung Utan -Setu.

Rumor dan SMS pemberitahuan demo beredar sejak Rabu kemarin dan membuat saya merasa berkepentingan untuk menyebarluaskannya. Biasanya yang saya SMS adalah keluarga yang memang bekerja atau tinggal di Jakarta, Bogor, atau sekitar Bekasi. Saya merasa perlu memberitahukan mereka untuk kepentingan antisipasi saja. Bayangkan kalau mereka tidak mengetahui berita ini lalu pergi ke suatu tempat dan terkena macet atau mendapati demo di depan mata, tentu akan membuat tidak nyaman perjalannya. Apalagi jika demo yang terjadi mengarah pada demo yang  anarkhis.

Dalam hati saya berharap SMS saya tidak justru membuat orang lain terganggu aktivitasnya. Saya juga sebenarnya akan merasa tidak enak jika ternyata demonya tidak jadi seperti yang pernah saya lakukan waktu rencana demo ke-2 gagal dilangsungkan. SMS sudah saya sebar ke orang tua siswa namun ternyata agendanya dibatalkan.

Kemarin  Kamis pun sama (26 Januri 2012). Berita akan adanya demo besar-besaran sudah beredar luas. Ruas jalan yang biasa saya laluipun macet (biasanya terjadinya demo juga ditandai dengan ciri-ciri terjadinya kemacetan luar biasa di Jalan Raya Kampung Utan – Setu karena menjadi akses alternatif menuju kawasan MM 2100). Lalu ketika saya melewati jembatan yang melalui jalan Tol Jakarta – Cikampek dekat Pintu tol Cibitung, saya agak takjub . Baru kali ini saya melihat jalan tol kosong melompong. Pada kemana nih mobil? Kemungkinan terbesar adalah sudah ditutupnya ruas tol ke arah Cibitung hingga Cikampek untuk antisipasi terjadinya demo.

Hari ini, Jumat 27 Januari 2012 saya mendapati lagi berita akan adanya demo besar-besaran buruh Bekasi. Walaahhh… saya jadi capek ah. Rempong banget ga sih setiap hari deg-degan ?

Tapi walaupun terjadi, mudah-mudahan demonya damai ya teman-teman buruh. Kalau rusuh, kasihan keluarga menanti dengan kecemasan tingkat tinggi di rumah. Mudah-mudahan ada jalan keluar yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

Salam.

Karakter Guru Sekarang adalah Cerminan Karakter Siswa Mendatang

Saya mendapat cerita memilukan  dari seorang keponakan yang kebetulan gurunya di sekolah sering sekali mengatakan hal-hal yang menyakitkan hati. Alih-alih memberikan ceramah atau mengingatkan sebuah kebenaran. Gurunya ini malah sering mengumpat, menyumpahi dan berkata hal-hal yang tidak mernah. Menurut dia, tidak pantas seorang guru mengatakan goblok pada saat mendapati anak-anaknya tidak dapat melakukan sesuatu dan umpatan-umpatan lain yang juga tidak pantas diteriakkan oleh seorang pendidik.

Kedapatan, semua siswa memang melakukan semua hal yang disuruh si guru, namun mereka mengakui bahwa yang mereka lakukan itu adalah keterpaksaan belaka. Saking seringnya diperlakukana begitu, mereka jadi merasa benci dan sakit hati. Itu tertuang dalam sumpah-sumpah yang diucapkan teman-temannya.

Begitu ya… Sebenarnya, saya mendengarnya juga agak risih. Masa iya sih ada guru yang begitu cara penyampaiannya? Saya juga seorang guru, saya jadi merasa harus melihat diri sendiri dulu kalau mendengar cerita seperti ini sebelum saya memberikan komentar apapun.

Begini, sebagai guru saya  harus menempatkan diri bukan hanya sebagai orang tua bagi siswa di sekolah, namun juga sebagai teman. Menurut saya, keterbukaan mereka menerima saya dalam keseharian akan mempu membukakan hati mereka untuk menerima apapun perintah saya. Sebagai orang tua, saya harus mampu memberikan masukan yang benar tentang apa yang seharusnya saya beritahukan. Saya juga harus memberikan contoh dengan perbuatan, sehingga anak-anak merasa apa yang saya katakan adalah memang kebiasaan baik saya. Jangan salah loh, demokratisme anak-anak sekarang lebih tinggi. Mereka akan menuntut jika kita melakukan hal yang berbeda dengan apa yang kita bicarakan. Tak apalah, hitung-hitung sebagai latihan bahwa sesungguhnya nanti Allah akan menuntut perbuatan kita yang seharusnya sama dengan ucapan kita. Pada tingkatan yang lebih tinggi, mereka akan menuntut persamaan hak sebagai manusia merdeka.

Sebagai orang tua, guru adalah tempat curhat anak-anak di sekolah. Gurupun dituntut menjadi orang yang pertama tahu tentang apapun. Kalau kita tidak mampu menjawab pertanyaan anak-anak, jangan-jangan mereka akan mengatakan kita goblok juga. Lah wong gurunya melakukan hal itu. Wajar dong jika mereka melakukan hal yang sama. Lagi pula, memang ada ya anak yang tolol atau goblok ? Terlalu kasar mengatakan hal itu di sekolah, tempat orang berpendidikan berada.

Anak-anak juga manusia yang punya hati bak pualam, dan mereka punya daya rekam yang luar biasa. Rasa kecewa, sakit hati dan benci akan terus menumpuk dalam dada, suatu ketika keadaan ini akan membuahkan ledakan yang luar biasa merugikan. Ledakan ini bisa berupa tingkah laku buruk yang akan mulai terdeteksi semenjak siswa menerima perlakuan buruk tersebut hingga mereka tua nanti.

Perlakuan buruk siswa akan diteruskan kepada anak-anaknya kelak, dilakukan di kantor mereka, dilakukan di kursi-kursi dewan mereka, di lakukan di keseharian mereka. Hancurlah Negara ini beberapa puluh tahun kemudian jika kita melakukan hal-hal seperti itu.

Sebagai orang tua, semua perkataan guru adalah doa. Jadi kalau guru mendoakan siswanya sebagai ahli surga kan Alhamdulillah. Jangan doakan sebaliknya. Orang tua macam apa kita? Kalau tak sanggup berkata benar, lebih baik diam atau lakukan saja dengan baik karena semua perkataan yang menyakitkan anak-anak merupakan tanggungjawab kita terhadap karakternya di masa depan. Jangan melatihnya mengucapkan sumpah serapah sebagai balasan yang merupakan umpatan kasar yang justru tidak mendidik.

Guru juga harus menempatkan diri sebagai teman bagi siswa. Menyiapkan bahu tempat mereka bersandar, menyerahkan dua buah telinga untuk mendengar dan menutup mulut kita untuk lebih banyak mendengar. Saya setuju kalau guru memang manusia biasa, tapi justru status guru inilah yang mewajibkan kita untuk terus belajar memperbaiki diri. Perkataan dan umpatan guru yang tidak senonoh merupakan sikap egoisme guru semata, atau dengan kata lain guru merasa dirinya lebih pintar, lebih baik, dan sebagainya.

Itu yang terjadi di sekolah, belum lagi kenyataan yang terjadi di rumah. Karena hal semacam di atas adalah sesuatu yang tidak pantas, maka untuk para guru dan orang tua, ayo kita selalu belajar. Bantulah anak-anak didik kita menjadi bijaksana dan terpuji dengan memberikan contoh-contoh keseharian yang baik dan terpuji pula. Karena karakter mereka di masa yang akan datang ditentukan oleh karakter orang tua dan gurunya sekarang.

 

Demo Buruh terjadi lagi, bagaimana anak-anak pulang sekolah ?

Berita demo buruh Bekasi Kamis sore itu begitu sangat mendadak buat saya dan teman-teman guru di sekolah kami. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya demo yang sudah terencana dan diinformasikan dengan baik ternyata gagal. SMS sudah saya sebar waktu itu agar semua pihak mengantisipasi keadaan ketika demo pertama terjadi namun ternyata malam hari ada kesepakatan terbaru untuk membatalkan demo.

Kemarin, sebuah pesan singkat dari orang tua siswa yang mengatakan bahwa Cikarang macet total karena ada demo buruh kontan saja jadi membuat kami kaget. “Kok ga bilang-bilang ?”, begitulah kami sedikit mengeluh. Berita begitu cepat menyebar karena SMS dan telepon dari orang tua pun tak henti-hentinya  berdering, apalagi  kabar yang mereka terima mengatakan bahwa  demo kali ini mengarah pada anarkhisme. Beberapa siswa menyambutnya dengan bersorak ,”Asiiik… nonton lagi aaah!’, beberapa lagi malah ingin ikutan demo. Seru katanya.

Sementara itu, kepanikan mulai melanda guru dan siswa karena berita muncul tepat di saat anak akan pulang. jam tiga sore. Beberapa orang tua yang meminta anaknya segera  pulangpun segera ditolak karena kabar terakhir yang didapat bahwa jalanan macet total di mana-mana. Dipulangkanpun akan menimbulkan kekhawatiran. Akhirnya dicarilah beberapa alternative pemecahan masalah, yang paling memungkinkan dilaksanakan oleh siswa. Pertama, siswa yang pulang dengan menggunakan motor harus mencari jalan tikus sebagai alternative utama karena jalan raya yang mengarah ke akses utama Cikarang dan jalan tol macet total. Yang kedua, siswa yang pulang dengan jemputan harus mengikuti jalur yang ditetapkan oleh hasil rembugan para sopir jemputan, terutama untuk jalur ke arah Cikarang pulang melewati Jalan Raya Setu.

Ternyata benar saja, semua jalanan yang dilewati siswa dalam keadaan macet, terutama jalur Cikarang dan Kalimalang. Jalan-jalan tikus yang semula dijadikan alternatifpun ternyata juga mengalami antrian yang lumayan panjang. Hal ini terjadi karena kemacetan sudah  berlangsung dari beberapa jam sebelumnya. Waduuh…

Di atas jembatan yang melintang di atas jalan tol arah Cikampek saya menyaksikan kendaraan padat dalam keadaan berhenti total. Entah macet sampai ke mana. Yang pasti saya berempati turut merasakan penderitaan para maceters alias orang-orang yang kena macet, karena macet memang memerlukan kondisi fisik dan mental yang prima.

Malam harinya, saya tidak sempat bertanya pada orang tua siswa tentang keadaan anak-anaknya, sampai jam berapa mereka di rumah. Saya juga capek luar biasa karena kemacetan sore ini. Saya berharap mereka baik-baik saja dan kemudian bisa beristirahat dengan baik agar esok hari bisa kembali ke sekolah dalam keadaan segar. Mudah-mudahan tidak ada lagi demo yang membuat kedaan susah seperti hari kemarin.

Kemarin Nyalon Sekarang Berbekam

Pernah mencoba berbekam ?

Awalnya saya agak seram dengan bekam yang harus mengeluarkan darah, namun mengingat manfaatnya untuk kesehatan akhirnya dinekat-nekati juga berbekam. Apalagi garansinya dari Rasulullah. “Berbekam /hijamah dapat menyembuhkan dan mencegah 72 macam penyakit” (HR. Bukhari).

Bekam semalam di BRC Grand Wisata adalah bekam saya yang kedua kali. Seperti biasa, saya selalu merasa ngeri dulu sebelumnya, namun setelah dimulai ternyata  tidak berasa sakit sama sekali. Malah, setelah berbekam badan langsung terasa lebih sehat.

Bekam dalam bahasa arab disebut hijamah yang artinya torehan/pelukaan. Pelukaan dalam proses bekam dilakukan pada bagian teratas kulit di mana terdapat pembuluh kapiler, yaitu pembuluh darah yang sangat kecil dan berbentuk seperti serabut sehingga walaupun menimbulkan rasa sakit namun sakitnya hanya sementara dan lebih mirip digigit semut .

Buat saya,  mungkin karena sugestinya terlebih dahulu makanya bekam menyehatkan saya. Yang kedua, memang darah kental yang dikeluarkan lumayan banyak walaupun tidak lagi berwarna merah pekat. Rasanya racun-racun dalam tubuh saya ikut terbuang semua.

Memang, bekam adalah proses detoksifikasi terbaik karena mampu mengeluarkan darah yang tidak lagi diperlukan oleh tubuh yang berpotensi menimbulkan penyakit. Jika Anda baru pertama kali berbekam bisa jadi warna darahnya hitam pekat karena mengandung bahan-bahan berbahaya dalam tubuh yang lebih banyak. Bahan-bahan tersebut bisa saja berasal dari makanan/ minuman yang berpengawet, memakai pemanis dan pewarna buatan, penyedap rasa, udara yang penuh polutan, air yang tercemar limbah, obat-obatan kimia dan sebagianya.

Polutan ini mengendap dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa bisa dikeluarkan, maka pada saat pertama kali dibekam darah akan terlihat lebih pekat. Namun pada bekam selanjutnya biasanya darahnya lebih merah segar.

Darah yang dikeluarkan dari proses berbekam bukanlah darah segar biasa, namun memiliki karakteristik berbeda. Darah hasil berbekam biasanya akan menggumpal. Darah kotor tersebut tidak akan terus menerus keluar jika memang sudah habis. Sehingga akan berbeda jumlahnya antara orang yang satu dengan yang lainnya tergantung racun yang terdapat dalam tubuh.

Semalam saya pilih paket bekam biasa dengan harga Rp. 50.000,- . Ada beberapa paket bekam di sana, namun harganya juga berbeda-beda. Saya pilih yang paling sederhana karena waktunya yang sudah agak malam.

Proses bekam diawali dengan sebatan rotan. Setelah tengkurap, saya dipukul-pukul ringan menggunakan rotan. Tujuannya adalah untuk merangsang toksin agar naik ke permukaan kulit dan memberikan relaksasi pada tubuh. Jika toksin sudah naik mendekati permukaan kulit maka akan semakin banyak  gumpalan darah yang dikeluarkan.

Demikianlah, selama proses pembaringan dalam berbekam, saya merenung. Biasanya saya dan kebanyakan para wanita menghabiskan waktu di salon untuk creambath, totok wajah, cuci rambut, dan sebagainya, maka sepertinya  harus dibuatkan jadwal khusus untuk berbekam agar kesehatan tetap terjaga sekaligus kita menghidupkan sunah nabi.

Salam bekam

 

Gaya Berfikir Anak, Sequential atau Random ?

Pernahkah Anda mendapati Hasil Psikotest Anak Anda memakai istilah-istilah tertentu seperti Concrete Sequential (CS), Abstract Random (AR), Abstract Sequential (AS), Concrete Random (CR)?

Ternyata istilah-istilah seperti itu adalah karakter gaya berfikir seseorang dimana menurut  Anthony Gregorc , seorang Profesor di bidang kurikulum dan pengajaran di Universitas Connecticut, tiap orang memiliki salah satu gaya berpikir yang dominan diantara keempat tipe yang ada tersebut.

Gaya berfikir ini memandang sesuatu dan bagaimana ia melakukan pengaturan informasi. Ada orang yang cenderung memandang sesuatu secara abstrak, dan ada pula yang konkret. Sedangkan dari aspek pengaturan informasi, manusia mengolahnya secara sekuensial (teratur/urut) dan acak (random).

Continue reading Gaya Berfikir Anak, Sequential atau Random ?

Masih Ada Siswa PKL yang Tidur, di Saat yang Lain Membuat Mobil

Fenomena keberhasilan Sukiyat dan Siswa SMK Negeri di Solo menelurkan  mobil dengan label Kiat Esemka jelas membuat bangga seisi negeri. Bukan hanya mampu menunjukkan keberhasilan Indonesia secara umum, namun secara khusus menaikkan pamor SMK yang sering dijadikan sekolah tak berkelas dibandingkan dengan SMA.

Munculnya berita keberhasilan Kiat Esemka ini mulai diikuti oleh kabar keberhasilan siswa-siswa SMK yang lain dalam berkreatifitas. Sebut saja, sejumlah siswa SMK di Bandung pun membuktikan diri di bidang otomotif merakit mobil jenis boogie yang biasa dipakai untuk kegiatan offroad (http://metrotvnews.com/read/news/2012/01/08/77837/Buggi-Mobil-Offroad-Karya-Siswa-SMK-Bandung/11)

Pembuatan Buggi ini bermula di tahun 2009. Sejumlah siswa kelas II dan III jurusan otomotif membuat mobil dengan bantuan para guru. Mereka lalu memamerkan mobil di berbagai pameran ataupun jalanan. Mereka juga menawarkan Buggi ke sejumlah objek wisata petualangan. Usaha mereka berhasil karena mendapat pesanan dari luar Pulau Jawa.

Rupanya SMK sekarang sudah mulai menggeliat menunjukkan bahwa dirinya memang mempunyai kelas berbeda. Mulai berbenah untuk berkreatifitas tanpa batas. Namun keadaan berbeda saya temukan ketika minggu lalu saya mengunjungi sebuah instansi pemerintah yang di dalamnya terdapat siswa-siswa SMK yang sedang PKL. Jika di Solo dan Bandung siswa-siswa merakit mobil, saya malah menyaksikan siswa-siswa di sini ini hanya duduk bergerombol, SMSan (atau facebukan?), ngobrol, bahkan ada yang tidur di ruangan kantor tersebut. Loh ?

Saya berharap saya sedang salah menyimpulkan sesuatu. Namun dalam benak saya juga muncul kecurigaan, jangan-jangan bukan di tempat ini saja keadaan seperti ini berlangsung. Menurut saya, tak peduli di manapun siswa SMK PKL, yang juga harus diperhatikan oleh pihak sekolah dan instansi yang menerima magang seharusnya adalah esensi dari PKL atau magang itu sendiri.

Sekolah Menengah Kejuruan adalah salah satu sekolah menengah yang mempersiapkan peserta didik dalam suatu bidang keahlian tertentu untuk memasuki lapangan kerja sesuai dengan tujuan pokok kurikulum SMK, yaitu :

1. Menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan pekerjaan serta mengembangkan sikap professional

2. Menyiapkan siswa agar memilih karir, mampu berkompetensi, dan mampu mengembangkan diri.

3. Menyiapkan tenaga kerja menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industry pada saat ini maupun pada saat masa yang akan datang.

4. Menyiapkan tamatan agar menjadi warga Negara yang produkstif, aktif, dan kreatif.

Nah, Praktek Kerja Lapangan (PKL) diperlukan agar siswa mampu menerapkan materi-materi yang telah diajarkan di sekolah ke dunia kerja yang nyata, sehingga tujuan di atas tercapai.

Di sinilah peran sekolah untuk memilihkan tempat praktek yang tepat untuk mereka. Instansi pun sebaiknya menolak kehadiran mereka jika memang tidak ada keterampilan khusus yang bisa diadopsi siswa. Jangan sampai anak SMK dihadapkan pada kenyataan dunia kerja yang tidak produktif dan tidak mengasah keterampilan, atau tidak cocok untuk mereka.

Salah menempatkan siswa PKL beresiko menularkan cara kerja orang-orang yang tidak sepatutnya, yang hanya facebukan di kantor atau ngobrol ngalor ngidul. Datang kesiangan, pulang kepagian. Atau bisa jadi kegiatan  mengobrol atau memainkan HP melulu karena memang tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan oleh mereka. Berbahaya sekali  ketika mereka benar-benar bekerja nanti dan mental-mental seperti inilah yang mereka terapkan. Sebaliknya, siswa SMK yang PKL seharusnya dihadapkan pada situasi kerja nyata dan berkarakter. Dicontohkan dengan datang dan pulang kerja tepat waktu. Lingkungan kerja yang mendukung kreatifitas, ataupun kebiasaan bekerja yang bertanggung jawab.

Semoga menjadi bahan perbaikan kita untuk  semua.

http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/09/masih-ada-siswa-pkl-yang-tidur-di-saat-yang-lain-membuat-mobil/