Titik Temu Antara Pemikiran dan Peradaban Islam dan Barat Merajut Pendidikan Islam Rahmatan Lil Alamin

Sebagaimana kita maklumi bersama, Barat dan Islam merupakan dua peradaban besar dan penting yang eksis di muka bumi saat ini, dengan memiliki karakter dan ciri khas tersendiri. Dalam perspektif sejarah, dua peradaban ini telah melakukan interaksi yang panjang dalam situasi pahit dan manis selama sekian abad. Hubungan keduanya banyak diwarnai oleh proses saling belajar, saling memberi, dan saling menerima, di samping itu antara keduanya juga pernah terjadi ketidak harmonisan, konflik, dan benturan.
Sumber: Internet
Dalam konteks tersebut di atas, untuk menata masa depan dunia yang damai, adil dan makmur, maka sudah seyogianya jika Barat dan Islam belajar dari sejarah masa lalu yang panjang, mengevaluasi kondisi maupun konflik masa lalu, sehingga kita bersama mampu mengambil hikmah yang positif dalam rangka membangun masa depan untuk kemanusiaan yang lebih gemilang. Untuk itu dituntut adanya sikap saling menerima dan menghargai perbedaan masing-masing.

Barat yang kini mendominasi kepemimpinan dunia, sudah selayaknya memberikan keteladanan yang tinggi bagi peradaban-peradaban lain, dalam misi bersama mewujudkan kehidupan umat manusia yang damai, adil dan makmur. Sebaliknya, dunia Islam juga harus mampu dan mau belajar dari berbagai aspek positif peradaban Barat, tanpa meninggalkan nilai-nilai asasi dalam Islam. Malahan jika Barat secara jujur mengakui sumbangan besar dunia. Islam terhadap peradaban Barat di masa lalu, niscaya sikap saling pengertian dan saling menghargai antar-peradaban akan lebih mudah dibangun (Muhammad M. Basyuni: 2010).

Untuk mengatasi konflik tersebut, perlu adanya saling pengertian dan sikap toleransi yang harus diinternalisasikan pada masing-masing pihak. Dialog budaya antara Islam dan Barat menjadi peredam bagi benturan antarbudaya. Jika hal itu terabaikan, masa depan dunia bisa dipastikan akan semakin suram dan hanya akan mempercepat masa “kiamat”. Perdamaian harus menjadi harga mati yang tidak boleh ditawar lagi.

Dalam kitab suci Al Quran yang menjadi pedoman hidup umat Islam di seluruh dunia, Allah SWT menegaskan, sekiranya Allah menghendaki seluruh manusia bisa dijadikan satu umat saja, tetapi Allah ingin menguji manusia dengan segala pemberianNya, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (QS Al-Maidah [5]: 48). Allah menjadikan umat manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal satu sama lain (QS Al Hujurat [49]: 12)

Di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di dunia ini, perlunya mengimplementasikan kembali bahwa kemajemukan merupakan kenyataan yang tidak dapat ditolak. Saling menghormati perbedaan baik itu diranah bangsa, agama, suku, ras, dan budaya adalah langkah kongkrit yang patut dijadikan sebuah pandangan hidup, cita-cita, dan sebagai dasar pijak dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia.

Manivestasi pendidikan agama Islam yang dinamis, salah satunya berpijak pada penyebaran kasih sayang. Berawal dari kasih sayang, umat Islam diharapkan lebih erat dalam merajut hubungan interaksi dan berdialog antar sesama manusia tanpa memandang perbedaan bangsa, ras, suku dan agama. Pendidikan Agama Islam sudah menjadi semestinya untuk mampu mengerakan dan digerakan oleh pemeluknya. Lebih dari itu pendidikan agama Islam, perlu memberi ruang dialog dengan tradisi dan budaya, serta mampu merespon tantangan lokal dan global. Demi menjaga bergairahnya pendidikan agama Islam ditengah-tengah umat manusia, maka pemaknaan dan penafsiran teks-teks suci keagamaan menjadi sesuatu yang mesti terus berlangsung dan tidak boleh mandeg. Terlebih, adanya fenomena klaim kebenaran yang selalu muncul dalam wilayah heterogenitas, semestinya terus terbungkus dalam satu kerangka yang sama yaitu menegakan kedamaian, kenyamanan dan keharmonisan antar sesama mahluk. Bukan pula memperuncing perbedaan. Langkah ini sangat urgen digalakan oleh semua pihak, agar tidak menimbulkan saling curiga dan mencurigai.

Pendidikan dan Sikap Kelompok

Dalam banyak kasus, hubungan kekuasaan antar berbagai kelompok masyarakat banyak dipengaruhi oleh kesempatan belajar dan intensitas respons mereka terhadap pendidikan Barat. Ketika Indonesia baru merdeka, partai-partai politik dan lembaga-lembaga kenegaraan banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh sekuler berpendidikan Barat yang tergabung dalam organisasi-organisasi nasionalis, seperti Boedi Oetomo dan Partai Nasionalis Indonesia (PNI).
Kelompok masyarakat yang merasa tertekan dan menjadi korban imperialisme budaya cendrung menginginkan sistem pendidikan terpisah, dalam rangka melindungi identitas kelompok mereka. Inilah yang terjadi pada sistem pendidikan Islam tradisional di Indonesia, khususnya pesantren. Di bawah tekanan kelompok-kelompok bahasa dan agama minoritas, beberapa pemerintah memenuhi tuntutan mereka, sementara yang lainnya memaksakan penyeragaman sistem pendidikan, dengan harapan dapat mengeliminasi bahaya laten perpecahan sosial. Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memberi peluang keberbagai kelompok etnis dan keagamaan untuk mengembangkan pendidikan tersendiri sehingga lahirlah sekolah Arab, Sekolah Cina, Sekolah Kristen, Sekolah Islam, Sekolah Budha, dan Sekolah Hindu.
Bertahan atau tidaknya sistem pendidikan tunggal dalam masyarakat pluralis umumnya tergantung pada dua hal, yakni sistem tersebut memberi kesempatan yang sama (equality of opportunity) pada semua kelompok masyarakat, dan generasi muda mengalami bahwa belajar bersama dapat mencairkan perbedaan-perbedaan sosial mereka (Abernethy dan Coombe, 1965: 290). Di negara-negara berkembang, banyak pemimpin yang berasal dari sekolah yang sama. Meskipun mereka berbeda dalam hal asal daerah, agama, dan suku. Akbar Tanjung yang berasal dari Sibolga, misalnya, ternyata berasal dari SMP yang sama dengan Megawati yang dibesarkan di Jakarta, yaitu SMP Cikini.
Hal ini tidak mungkin terjadi jika tidak ada equality of opportunity dalam sistem pendidikan nasional. Kesempatan yang sama telah memungkinkan anak-anak negeri yang memiliki latar belakang sosial budaya berbeda-beda untuk belajar bersama dan mencairkan perbedaan-perbedaan sosial dan ekonomi di antara mereka.

Kontrol Diri

           

Ilmuan, filsuf, dan mistikus terkenal bernama Al-Ghazali mengutip pendapat Musa Djabar dalam salah satu bukunya yang  tekenal, menyatakan bahwa orang-orang yang berhasil melakukan kontrol diri melakukan cara yang berbeda untuk menaklukan diri. Pendapat Musa Al-Jabar menyampaikan cara mengontrol diri yang berkaitan dengan fisik. Cara ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik secara bertahap maupun sekaligus. Tiga cara itu adalah pertama, tidur sekedarnya, kedua, berbicara seperlunya, dan ketiga, makan secukupnya.

1.      Tidur Sekedarnya

Bagi manusia tidur memiliki dua fungsi utama: membuat tubuh menjadi rileks untuk kegiatan berikutnya dan memberi kesempatan pada otak untuk melakukan konsolidasi dalam pembentukan memori. Mengantuk dan tidur berkaitan dengan jam biologis tubuh yang disebut irama sirkadian dan melibatkan zat otak bernama melatonin yang terutama meningkat produksinya saat gelap datang.

Tidur yang benar adalah tidur dalam waktu cukup ketika kita merasa pulas dan kemudia rileks dan segar ketika bangun. Ini bukan durasi tidur, tetapi berkaitan dengan kualitas tidur. Kita bisa tidur lebih panjang dan lama, tetapi tanpa kualitas (tidak pulas). Namun kita juga bisa tidur dalam waktu singkat dan berkualitas. Dorongan untuk tidur dipengaruhi oleh banyak faktor. Ketika kita bisa membatasi tidur, dan mengisinya dengan tidur berkualitas, sama artinya dengan kita meminimalkan kecendrungan tubuh untuk diam. Lebih banyak hal yang dapat kita lakukan saat sadar ketimbang tidur. Para penidur biasanya orang malas dan hampir selalu merupakan orang gagal mendapatkan kebaikan hidup. Mengontrol tidur sama halnya mengontrol diri.

2.      Bicara Seperlunya

Kontrol bicara menempati posisi kunci dalam upaya kontrol diri karena bicaralah yang membuat manusia menjadi manusia, dan manusia berbeda dengan makhluk lain. Ketika nenek moyang kita bisa berbahasa, dan terutama berbicara, ketika itu pula mereka membangun peradaban besar. Bicara dan bahasa adalah dua hal yang dibawa secara naluriah.  Sebuah penelitian membuktikan bahwa sekali seorang bayi mengenal kata, dan seorang anak mengenal huruf, maka secepat kilat kemampuan bahasa mereka berkembang.

Kemampuan berbahasa juga bisa menjadi sumber bencana. Konflik-konflik yang terjadi disekitar kita umumnya disebabkan karena kita tidak piaway memilih dan memilah mana kata yang boleh diutarakan, apalagi kesesuaian yang diucapkan dan dilakukan, merupakan tingkatan tertinggi dalam kontrol bicara, jika kita perhatikan orang-orang yang tidak bisa mengontrol bicara, terutama mereka yang mengucapkan sesuatu yang tidak mereka lakukan, adalah orang-orang yang tidak bisa mengontrol diri. Perilaku mereka kebanyakan perilaku buruk, sekalipun indah dari luar.

Karena itu, jika kita bisa memilih dan memilah apa yang pantas diucapkan, kita pasti bisa mengontrol diri. Dorongan kita untuk berbicara sangat kuat. Karena itu, bicara seperlunya merupakan kiat sederhana dalam mengontrol dorongan itu.

 3.      Makan Secukupnya

Seperti berbicara, dorongan untuk makan merupakan dorongan yang sangat kuat. Dalam hal ini, kita bisa jadi tidak berbeda dengan binatang. Akibatnya untuk mendapatkan makanan kita kadang bisa berperilaku seperti binatang, bisa mencakar, menggigit, bahkan membunuh. Jika seseorang sudah bisa mendapatkan makanan yang standar, selalu ada kecendrungan untuk mendapatkan makanan yang lebih enak. Kita menggunakan berbagai cara untuk memuaskan naluri makan. Padahal kelezatan makanan hanya dikecap dalam waktu yang sangat singkat, yaitu ketika makanan berada dalam mulut.

Kecendrungan manusia untuk mengenyangkan perut juga merupakan dorongan yang sangat kuat. Tanpa sadar kita semua cendrung memenuhi perut kita dengan segala jenis makanan. Pada akhirnya, makanan dan makanan enak sudah menjadi kegiatan yang otomatis, tanpa kita pikirkan lagi. Makan dan seksual merupakan dorongan terkuat manusia untuk melakukan apa saja. Bahkan melakukan yang melanggar hukum. Jika rakyat merasa lapar dan tidak aman, dapat dipastikan mendorong gerakan revolusi dan akan  terjadi revolusi serta kerusahan.

Dari keterangan di atas maka pentingnya kontrol makan. Jika kita sanggup mengelola rasa lapar, misalnya makan sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh saja atau berhenti menguyah makanan sebelum rasa kenyang dapat dipastikan kita dapat mengontrol diri.

Lebaran Ajang Silaturrahim

Silaturrahim. Secara terminologi berasal dari kata silah = maknanya hubungan, Ar-Rahim maknanya pertalian manusia dari segi keturunan dan disebut juga kerabat atau keluarga. Secara etimologi silaturrahm adalah proses interaksi dengan sasama masnusia. Allah subhanahu ta’ala mewajibkan kepada kita semua untuk menghubungkan silaturrahim dan mengharamkan, memutuskannya dan menyuruh supaya sentiasa berbuat baik dan tolong-menolong dalam perkara-perkara kebaikan kepada semua manusia terutama kepada yang ada hubungan kekeluargaan ataupun kerabat .

Firman Allah di didalam surah An-Nisa’ ayat 36 :

” Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan jangan kamu sekutukan dia dengan sesuatu pun jua dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu-bapa dan kaum kerabat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan jiran tetangga yang dekat dan jiran tetangga yang jauh dan rakan sejawat dan orang musafir yang terlantar dan jga hamba yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong takbur dan membangga-banggakan diri “

 

Abul Laits berkata: “Jika seorang itu dekat dengan kerabatnya maka hubungan kerabat itu berupa hidayah-hidayah dan ziyarah, jika tidak dapat membantu dengan harta, maka cukup dengan tenaga, jika jauh maka hubunginya dengan surat menyurat dan jika dapat mendatangi maka itu lebih utama. Ketahuilah bahawa silaturrahim itu mengandungi sepuluh keuntungan yaitu: Mendapat keridhoan Allah s.w.t. sebab Allah s.w.t. menyuruh silaturrahim, Menggembirakan mereka kerana ada hadis yang mengatakan bahwa seutama-utama amal ialah menyenangkan orang mikmin, Kegembiraan malaikat kerana malaikat senang dengan silaturrahim, Mendapat pujian kaum muslimin, Menjengkelkan iblis laknatullah, Menambah umur, Menjadi berkat rezekinya, Menyenangkan orang-orang yang telah mati kerana ayah dan nenek-nenek itu senang jika anak cucunya bersilaturrahim, Memupuk rasa cinta dikalangan kekeluargaan sehingga suka membantu bila memerlukan bantuan mereka, Bertambahnya pahala jika ia mati sebab selalu diingati kepadanya jika telah mati dan mendoakan kerana kebaikannya

 

Beberapa Tips Etika Bertamu

1. Ucapkan Salam

2. Minta Izin (Ucapkan Salam) maksimal tiga kali.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata, Abu Musa telah meminta izin tiga kali kepada Umar untuk memasuki rumahnya, tetapi tidak ada yang menjawab, lalu dia pergi, maka sahabat Umar menemuinya dan bertanya, “Mengapa kamu kembali?” Dia menjawab, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, Barangsiapa meminta izin tiga kali, lalu tidak ada jawaban, maka hendaklah kembali. (Shahih HR. Ahmad)

3. Jika ditanya hendaknya menjawab dengan perkataan yang jelas

4. Dilarang Mengintai Ke Dalam Bilik (Jangan menunjukkan sikap yang mencurigakan)

5. Dari Anas bin Malik, sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip sebagian kamar Nabi, lalu Nabi berdiri menuju kepadanya dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang untuk menusuk orang itu. (HR. Bukhari)

6. Memahami Situasi dan Kondsi

Memahami situsi dan kondisi keadaan rumah yang dikunjungi, baik bagi orang yang bertamu, sehingga orang yang dikunjungi merasa tidak terganggu dengan kedatangan orang yang ingin bersilaturrahim, meskipun orang yang dikunjungi tetap menunjukkan sikap-sikap yang baik. Jika dirasa maksud dan tujuan sudah terpenuhi hendaknya bergegas pamit.

7. Mengucapkan salam kepada shohibul bait bila telah berjumpa (Berpamitan)

hadits dari Abu Hurairoh bahwasanya ia berkata, Rasulullah bersabda, “Hak orang muslim kepada muslim yang lain ada enam perkara.” Beliau ditanya “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika kamu menjumpainya, hendaknya engkau menyampaikan salam kepadanya…”(HR.Muslim)

Tips Menerima Tamu

  1. Menjawab Salam
    Dari Abu Hurairoh berkata: Saya mendengar Rosulullah bersabda: “Hak orang muslim terhadap muslim lainnya ada lima; Menjawab salam, Boleh menanyakan siapa namanya dan boleh menolak tamu” (HR. Bukhari)
  2. Menyambut tamu dengan gembira

Hendaknya shohibul bait menyambut tamunya dengan penuh gembira, wajah berseri-seri sekalipun hati kurang berkenan karena melihat sikap atau akhlaknya yang jelek. Dari Aisyah ia berkata: “Sesungguhnya ada seorang yang mints izin kepada Nabi. Ketika Nabi melihatnya sebelum dia masuk, beliau berkata: “Dialah saudara golongan terjelek,dialah anak golongan terjelek” Kemudian setelah dia duduk, Nabi berseri-seri wajahnya, dan mempersilakan padanya. Setelah lakilaki itu pergi, Aisyah berkata kepada Rosulullah: “Wahai Rosulullah ketika engkau lihat laki-laki itu tadi, engkau berkata begini dan begitu, kemudian wajahmu berseri-seri dan engkau mempersilakan padanya?” Maka Rosulullah bersabda: “Wahai Aisyah, kapan engkau tahu aku mengucap kotor? Sesungguhnya sejelek-jelek manusia di sisi Allah pada hari Qiamat adalah orang yang ditinggalkan manusia karena takut akan kejelekannya “. (HR. Bukhari

3. Menjamu Tamu Sesuai Kemampuan

Lebaran 1433 H sudah hampir habis, namun hubungan silaturrahim dengan memberikan rasa dan sikap pengasih dan penyayang antar sesama manusia harus tetap diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga konflik SARA dapat di minimalisir dengan baik. Semoga diklat ramadhan yang kemarin kita laksanakan dapat kita impementasikan dalam kehidupan sehari-hari dan alhasil sertifikat takwa dapat kita raih dan Allah SWT mengangkat dan menambah tunjangan hidup di dunia sampai akhirat.

 

LAILATUL QADR

Disaat memasuki pertengahan Ramadhan, dalam realitas dan fakta di masyarakat, masjid-masjid atau musola mulai mengalami penurunan tingkat jama’ah jika di bandingkan waktu-waktu awal ramadhan, bahkan tak sedikit pula saudara-saudara kita sesama muslim ada yang nekat tidak berpuasa tanpa ada undzur. Nampaknya terdapat penurunan tingkat Motivasi untuk melaksanakan perintah Tuhan YME, maka berkenaan dengan itulah maka Lailatul Qadr  hadir sebagai alat pemacu motivasi untuk menggapai derajat Taqwa beserta bonus-bonus lainnya yang telah di janjikan dan di sarankan oleh Allah dan  Rasulnya, sebagaimana telah tertera dalam Al-Qur’an maupun di dalam Al-Hadis.

Allah berfirman dalam Q.S.Al-Qadr ayat 1-5:

Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1], Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?, Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan, Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

            Apa yang dimaksud dengan lailatul qadar?. Pertama, qadar berarti ketentuan Allah yang berkaitan dengan hidup dan mati kita, suka dan duka kita, sehat dan sakit kita. Inilah malam ketika Tuhan menetapkan takdirnya bagi kita. Dalam Q.S. Al-Dukhan 3-4 Allah berfirman:

Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.[1]

Pada Lailatul Qadar malaikat turun untuk “menuliskan” takdir kita buat tahun berikutnya. Karena itu, dimalam itu kita dianjurkan untuk membaca do’a-do’a; seraya bermohon agar Allah menuliskan kebaikan buat kita. Salah satu di antara do’a itu ialah: “ya Allah, panjangkanlah usia ku, luaskan rezeki ku, sehatkan tubuhku, dan sampaikan aku pada harapanku. Jika aku sudah termasuk pada kelompok yang celaka, hapuskanlah namaku dari kelompok itu dan tuliskanlah aku termasuk kelompok yang berbahagia. Karena engkau berfirman di dalam kitab-Mu yang diturunkan kepada Nabi-Mu sang utusan SAW. Allah menghapus apa yang dia kehendaki dan menetapkan apa yang dia kehendaki dan pada sisi dia ada Ummul Kitab.

Jawaban Kedua, “qadr”artinya kemuliaan, keagungan. Lailatul Qadar artinya malam keagungan, malam kemuliaan, the night of honors. Lailatul Qadar itu menjadi mulia karena ada peristiwa mulia yang terjadi padanya. Ada tiga kemuliaan yang terjadi di malam Qadar. Pertama, turun kitab suci yang mulia. Keagungan Al-Qur’an, yang melintas ruang dan waktu, membuat malam itu menjadi sangat istimewa. Kedua,Al-Qur’an turun kepada Nabi yang mulia, yang tanpa dia tidak akan diciptakan alam semesta. Ketiga, kemuliaan juga diberikan kepada mereka yang menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah dan amal shalih. Kerena itu, pada surah Al-Qadar yang tadi telah di baca pada awal kultum ini, kata lailatul qadar disebut tiga kali.

 


[1] yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti: hidup, mati, rezki, untung baik, untung buruk dan sebagainya.


[1]Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, Karena pada malam itu permulaan Turunnya Al Quran.

+++

sumber gambar disini

Pengendalian Diri

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183)

Secara piqih puasa merupakan menahan diri dari hal-hal yang dapat  membatalkannya di mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

Pada dasarnya puasa sebagai media untuk melatih diri agar manusia memiliki kemampuan mengendalikan diri  atau mengendalikan hawa nafsu. Pada umunya manusia butuh perjuangan untuk mengendalikan diri. Dengan contoh yang sangat baik Al-Qur’an mengisahkan bagaimana Adam di tempatkan Allah bersama Istrinya dengan segala fasilitas kenikmatan yang telah tersedia. Bahwa drama kosmis kejatuhan Adam dari surga ke dunia dilatar belakangi oleh ketidak mampuan Adam mengendalikan dirinya, terutama sifat rakus (tamak).

Dalam bahasa Al-Qur’an peristiwa ini disebut dengan hubut. Allah SWT berfirman:

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (Al-Baqarah [2]: 36)

Dari ayat tersebut dapat di analisis bahwa orang yang tidak mampu mengendalikan diri dari godaan hawa nafsu akan mengalami kejatuhan moral- spiritual. Oleh sebab itu, keberhasilan Ramadhan akan terlihat pada kemampuan setiap orang yang berpuasa dalam mengendalikan dirinya. Ia tidak akan pernah memperturutkan hawa nafsunya yang cendrung mendorong manusia untuk melakukan kemaksiatan. Sebaliknya, ia lebih memberi kesempatan pada nafsu, qalbu, dan ru’yu-nya untuk menjelajahi keangkasa raya untuk melihat kebesaran-kebesaran Allah SWT.

Sejatinya, Ramadhan melahirkan manusia yang memiliki orientasi hidup yang bersifat ilahiyah. Bukan manusia yang berorientasi dunawiyah yang hidupnya sebatas hanya untuk memenuhi kebutuhan fa’ali seperti makan, harta dan jabatan saja, tetapi manusia yang berfikir jauh kedepan, yaitu kebahagiaan dan keselamatan di akhirat yang bersifat Abadan-abada. Sebagai akhir dari tausiyah yang singkat ini, semoga kita semua menjadi ummat muslim yang bahagia di dunia maupun di akhirat. Amien ya Raabbal Aaalamin,…

 

 

 

Sekolah Efektif

Dewasa ini boleh dikatakan bahwa masyarakat semakin merindukan keberadaan sekolah yang benar-benar memiliki kinerja tinggi, mampu mengembangkan kemampuan anak berprestasi tinggi dan berkepribadian baik, di dalamnya para guru dan pegawai bekerja dengan senang hati dan memiliki kepuasan kerja. Inikah sekolah yang di sebut efektif?

Sekolah efektif atau sekolah unggulan (excellent School) berada dalam lapangan manajemen sekolah. Karakteristiknya menurut Edmonds (1979) (Beare, dkk, 1989) yaitu:

  1. Guru-guru memiliki kepemimpinan yang kuat. Kepala sekolah memberikan perhatian tinggi terhadap perbaikan mutu pengajaran.
  2. Guru-guru memiliki kondisi penghasilan yang tinggi untuk mendukung pencapaian prestasi murid.
  3. Atmosfir sekolah yang tidak rigid (kaku), sejuk tanpa tekanan dan kondusif dalamseluruh proises pengajaran atau suatu tatanan iklim yang nyaman.
  4. Sekolah memiliki pengertian yang luas tentang fokus pengajaran dan mengusaha efektivitas sekolah dengan energidan sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan pengajaran secara maksimal.
  5. Sekolah efektif menjamin kemajuan murid dimonitor secara periodic. Kepala sekolah dan guru-guru menyadari bahwa kemajuan prestasi pelajar berhubungan dengan tujuan pengajaran.

Sekolah dapat menjadi efektif dan sekaligus menjadi efisien. Sekolah efektif karena pencapaian hasil yang baik, sedengkan sekolah yang efisien ialah penggunaan sumber daya yang hemat. Untuk mengetahui indicator prestasi pelajar tentunya dilihat dari absensi (kehadiran), tingkah laku di sekolah, laporan kejahatan atau penyimpangan, dan hasil ujian Negara. Sekolah yang unggul tersebut adalah sekolah yang efektif dan efisien yang menjanjikan lulusan yang terbaik, keunggulannya secara kompetitif dan komparatif. Keunggulan kompetitif dimiliki antar lulusan sejenis dalam jurusan yang sama, sedangkan komparatif antar lulusan berbeda dari satu sekolah dengan sekolah lain.

Manajemen pengembangan mutu salah satu bidang manajemen peningkatan mutu sekolah dengan iklim yang baik juga harus dalam hal suasana kelas yang dikelola oleh guru dengan para murid, pendayagunaan sumber daya kelas, pemanfaatan alokasi waktu secara baik, dan keterlibatan guru secarqa baik dalam pelaksanaan dan pengembangan kurikulum.

Kepemimpinan yang efektif oleh kepala dijalankan dengan menetapkan kerjasama dengan para guru-guru dalam meningkatkan mutu pendidikan yang muaranya adalah lulusan yang berkualitas. Demikian pula para manajer atau kepala sekolah harus berfungsi sebagai bagian dari kerjasama dalam lembaga untuk menjamin perubahan dalam lingkungan pendidikan era kekinian.

Dengan demikian sekolah efektif harus menampilkan, yang menurut Beach dan Reinhartz (2000:64) cirri-cirinya yaitu:

  1. Efektivitas didasarkan kepada ukuran keberhasilan belajar siswa (pengetahuan, keterampilan dan sikap).
  2. Pembelajran siswa menjadi tujuan utama atau fokus pengajaran
  3. Sikap dan perilaku guru beserta staf adalah komponen kuci sekolah efetif
  4. Sekolah menerima tanggung jawab terhadap penguatan prestasi akademik siswa dan mereka percaya bahwa hal itu dapat dicapai dari pelajaran.
  5. Sekolah sebagai organisasi harus teruji secara holistic, buka terpecah atau menjadi bagian terpecah dari seluruh komponennya.

Iklim sekolah yang baik merupakan salah satu dari karakteristik sekolah yang efektif. Iklim sekolah yang baik tersebut adalah iklim atau suasana kondusif yang tercipta didalam sekolah akibat dari pengaruh perilaku komponen sekolah dalam interaksi belajar mengajar maupun manajerial.

Iklim sekolah yang diharapkan bersifat kondusif bagi sekolah yang efektif adalah bersifat terbuka, kekeluargaan, komunikatif, memiliki otonomi, aman, tentram, tertib aturan dan disiplin serta bekerja dengan tanggung jawab bersama.

Iklim sekolah yang baik dapat ditumbuhkembangkan melalui perubahan gaya manajeman dan kepemimpinan sekolah yang sangat ditentukan oleh kepala sekolah, dengan bekerjasama dalam semua pencapaian kinerja sekolah bersama para guru dan pegawai, orang tua siswa, komite sekolah yang berusaha menjadi efektif sesuai harapan masyarakat, maka perwujudan iklim yang baik dan kondusif bagi memenuhi karakteristik dan cita-cita sekolah efektif harus diperhatikan sejak sekolah bertekad menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Setiap sekolah yang sedang mengusahakan menjadi sekolah efektif, perlu memperhatikan dan mewujudkan hal-hal di atas, agar masyarakat benar-benar mendapatkan haknya untuk tidak sekedar mudah masuk ke sekolah tapi sekaligus dapat memilih sekolah efektif yang diharapkan. Semakin banyak sekolah berkualitas, efektif atau unggul, maka percepatan pengembangan SDM di daerah untuk kompotitif antar satu daerah dengan daerah lain dalam era otonomi dan globalisasi semakin terpenuhi dengan baik dan cepat.

Lima Cara Allah Menyatakan Tujuan Hidup

1.      Allah menyatakan tujuan hidup melalui sebuah peristiwa

Cara menemuan hidup seseorang ditunjukkan dengan peristiwa yang di alaminya sendiri  ataupun peristiwa yang dia lihat, perhatikan atau amati. Dan kemudian, melalui peristiwa itulah pada akhirnya ia menemukan panggian di hatinya untuk melakukan sesuatu agar menjadi jawaban atas peristiwa itu.

Penemuan tujuan hidup ini pun dapat diperoleh karena adanya informasi tentang sebuah peristiwa sejarah, berita, ataupun kisah hidup dari tokoh-tokoh yang dia kagumi yang begitu menginspirasi kehidupannya.

2.      Allah menyatakan tujuan hidup melalui perjalanan hidup selangkah demi selangkah

Cara ini diawali dari perjalanan hidup yang dilalui setahap demi setahap yang akhirnya tanpa sadar mengarahkan hidup seseorang pada sebuah panggilan yang spesifik. Setiap pengalaman yang dialaminya di waktu-waktu sebelumnyaterlihat seperti rangkaian sistematis yang sebenarnya merupakan pengalaman yang memperlengkap dirinya untuk melakukan apa yang menjadi panggilan hidupnya.

3.      Allah menyatakan tujuan hidup melalui kesadaran yang bertumbuh seiring berjalannya waktu.

Seiring bertumbuhnya kedewasaan seseorang, Tuhan mulai mengarahkannya pada kesadaran untuk berbuat sesuai yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

4.      Allah menyatakan tujuan hidup melalui konfirmasi dari seseorang yang dipandang berotoritas secara rohani.

Cara ini mungkin lebih melibatkan pihak lain yang meneguhkan apa yang menjadi arah hidup kita, mungkin karena kita tidak terlalu menyadari atau tidak terlalu jelas gambaran hidup kita itu. Pihak lain itu bukanlah orang sembarangan yang tidak memiliki kridibelitas tertentu yang layak dipertanggungjawabkan. Mereka bukanlah sebagai penentu tetapi pihak yang menegaskan.

5.      Allah menyampaikan tujuan hidup kita melalui hubungan pribadi kita dengan Tuhan

Cara penemuan arti hidup atau tujuan hidup seseorang  melalui hubungan yang di bangunnya dengan sang pemilik kehidupan itu sendiri. Cara ini lebih mengacu pada inspirasi yang diperoleh karena proses perenungan.

Hutang Kehidupan

Siapa yang tak pernah berhutang? Karena umur hutang sama tuanya dengan umur manusia. Jika berbicara jenisnya, ada banyak; ada istilah karenanya secured and unsecured debt, private and public debt, syndicate and bilateral debt, atau jenis yang menggabungkan dua atu tiga jenis sebelumnya. Tatacara dan prasyarat-prasaratnya macam-macam. Ada juga lembaga internasional yang ngurus soal hutang internasional (IMF). Ada juga masalah Negara-negara berkembang yang terbelit hutang tak berkesudahan. Sepemahaman penulis, dulu orang yang butuh uang dating kepada yang butuh uang untu hutang. Hari ini justru orang yang ber-uang  mendatangi orang yang tidak ber-uang untuk dihutangi. Ini unik, sekaligus perlu dikaji, “ada apa”?

Al-Qur’an memandang serius permasalahan hutang-piutang ini. Jika kita perhatikan, ayat yang paling panjang adalah ayat yang berbicara tentang hutang.satu ayat ini panjangnya mencapai satu halam sendiri. Tidak ada ayat lain lagi yang sepanjang ini dalam ayat lain, yaitu dalam Q.S. al-Baqarah ayat 282. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.

Ada dua jenis hutang dalam hidup ini: pertama, hutang yang bias di bayar dan kedua, hutang yang tidak pernah bias dibayar. Pepatah mengatakan, “hutang uang di bayar uang, hutang budi dibawa mati”. Parelel dengan hal itu, dalam bahasa Arab, ada dua kata yang komposisi hurufnya sama, hanya berbeda satu harokat saja, yakni diinun  dengan dainun. Yang pertama berarti “hutang” dan yang kedua biasa diterjemahkan sebagai “agama”. Jadi seseorang itu beragama, ber-diin adalah dalam rangka bertatakrama kepada Allah yang talah menghutanginya tangan, kaki, mata, telinga, hati, akal-budi, menghutangi hidup, setiap hal, segalanya dan semuanya. Atas semua ini, kita akanselalu berhutang, karena kita tidak bias membayarnya. Satu kenikmatan mata saja tidak cukup dihargai dengan uang, luar biasa mahal.

Dalam ranah yang lebih kecil, setiap anak juga akan selalu berhutang kepada orang tuanya. Ini juga termasuk hutang yang tidak bias terbayar. Kita berhutang atas jasa Ibu; mengandung, melahirkan, bertaruh nyawa, menyusui, membelai. Berhutang atas curahan kasih sayang. Sesuatu yang berada di luar kurs harta-benda materill.

Ternyata semua manusia hadir ke dunia, sampai bias seperti ini hari ini, hamper-hampir tidak ada yang lahir dari usaha manusia sendiri. Tubuh bukan kita yang bikin, lahir procot  atas jasa Ibu. Belajar berdiri, belajar ngomong, belajar ini dan itu juga atas jasa orang lain. Kesadaran dan penghayatan merasa berhutang ini sepertinya yang bias mengendalikan diri kita. Apa bias disombongkan atas diri ini, jika segalanya adalah hasil hutang?1 itu pun tidak pernah bias melunasinya.

Ada hal yang menarik, jika hutang harta-duniawi, membayarnya adalah dengan mengembalikan kepada yang meminjam. Tapi tidak dengan demikian dengan hutang kehidupan, membayarnya justru dengan generasi kehidupan selanjutnya. Jika kita berhutang hidup kepada orang tua kita, membayarnya adalah kepada anak cucu kita. Menyayangi dan membersarkan kita. Hutang kehidupan itu seoperti tongkat estafet. Terus digilirkan kepada generasi selanjutnya. Inilah cara kehidupan menyediakan jalan bagi kita untuk apen-apen mencicil hutang hidup kepada orang tua kita.

Demikian jugalah kira-kira yang dimaksudkan oleh Allah. Kita berhutang kepada-Nya. Tidak kemudian kita menyerahkan sesuatu kepada-Nya. Allah tidak membutuhkan apa-apa dari kita. Tapi hutang rahmat-Nya harus tetap dicicil. Caranya adalah dengan berbuat baik kepada semua makhluk-makhluk-Nya sebaik Allah berbuat baik atas diri kita. Wallahu A’lam bi ash-Shawab.