Doa Naik Kendaraan (Telah Dilupakan?)

Siang tadi ada kajian di masjid kantor saya. Temanya tentang sunnah-sunnah dalam berkendaraan. Tema yang, semula, menurut saya sangat sederhana. Karena biasanya kajian yang bagus itu adalah membahas mengenai tauhid, fikih, atau masalah-masalah islam terkini. Lah, ini malah membahas sesuatu yang biasa banget.

Mungkin, layaknya seperti saya juga bahwa kebanyakan dari orang-orang juga berpikir demikian. Masalah sunnah-sunnah dalam berkendaraan bukanlah pokok permasalahan yang besar. Masalah yang “WAH” dalam islam. Masalah ini hanya berlevel biasa saja, tidak ada yang luar biasa.

Namun, sejatinya, itulah sesungguhnya kekurangan saya (atau mungkin kita) dalam memahami keberagamaan, islam khususnya. Kita lupa bahwa dalam beragama ada hal-hal kecil yang sejatinya memiliki “tempat” dalam kesempurnaan keberagamaan seseorang. Ketika kita tidak melihat ini sebagai penyempurna keberagamaan kita, maka pertanyaan yang tepat adalah, Sudahkah kita mengamalkan hal-hal besar dalam agama kita?

Maksud pertanyaan saya diatas adalah, ketika kita berpikir suatu hal yang besar dalam agama, tak menjamin bahwa kita mengerti seluruhnya, atau melaksanakan suatu yang besar  itu dengan kaaffah (sempurna). Kita seringkali dibuat bingung dengan Fikih. Kita seringkali tertimpa keraguan ketika membahas tauhid, dan lain sebagainya. Namun, ketika ada hal-hal yang “kecil” yang belum tersentuh dalam keberagamaan kita- seperti halnya berdoa sebelum naik kendaraan- tak mau kah kita menjalankannya? masih tak maukah kita coba mendengarkan dan bahkan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari? Atau sudah lupakah kita, bahwa hal-hal yang kita anggap kecil ini adalah sunnah atau kebiasaan yang Rosulullah Muhammad selalu melaksanakannya bahkan tak pernah meninggalkannya?

Pertanyaan itu menggelitik saya, sepanjang kajian tadi. Benar halnya, bahwa tak selamanya yang kecil itu akan kecil dinilai oleh Tuhan. Yakinlah bahwa yang kecilpun yang bernilai ibadah akan selalu memiliki tempat di mata Tuhan kita, Allah. Apalagi jika dilakukan dengan istiqomah atau mudawwam, tak terputus.

Oke, kembali ke Kajian tadi. Kajian tadi cukup menarik. Apalagi ketika Ustadnya meminta para jamaah ikut turut serta untuk menghafal doa naik kendaraan dengan sedikit gerakan tubuh agar lebih mudah menghafalnya. SEmua jamaah pun tak malu-malu untuk mengikutinya dan bahkan langsung hafal dan mengerti arti doa itu.

Itulah menariknya kajian tadi. Bahwa selama ini kita sering lupa untuk melakukan sunnah-sunnah yang, menurut kita, sebagai hal-hal yang biasa saja, namun ternyata memiliki nilai yang dapat menyempurnakan ibadah dan keberagamaan kita. Kajian sederhana yang hanya menyanmpaikan Doa Naik Kendaraan yang diambil dari Surat Az-Zukhruf (43) Ayat 13-14 , yakni:

????????? ??????? ??????? ????? ???? ????? ?????? ???? ??????????? ???????? ???? ???????? ??????????????
Artinya : Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan/menjinakkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya/mengendarainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.

Ini saya kasih oleh-oleh kajian tadi siang.,

IMG-20130228-WA0001

Diary Cinta

Sebelumnya, dipublikasikan di blog :

 

 

======================

Dear Diary,

Aku sangat suka melihatnya. Dia begitu tampan tampak dari kamar. Rapih. Dia begitu mempesona dengan sedikit buliran air diwajahnya. Baju kokonya begitu putih bersih. Sangat matching dengan kain sarungnya yang bercorakkan garis-garis, yang membuat ia nampak lebih tinggi dan gagah.

Dia berjalan begitu tergesa-gesa subuh ini. Nampaknya dia agak telat pergi ke mushallah. Iyah, saat itu iqamah sudah terdengar. Wajar saja dia terburu-buru.

Ketika selesai shalat, ia kembali dari mushallah bersama ayah. Hatiku tergetar. Dia sempat mengobrol lama di depan rumahku. Hatiku pun semakin bergemuruh tak karuan. Baru kali ini aku melihatnya sangat lama. Tidak salah dugaanku, dia sangat dewasa. Terlihat dari caranya bicara dengan ayah. Ya allah, dia sedang bicara dengan ayahku.

Diary,

Aku sangat ingin bertanya kepada ayah. Tapi aku malu. Aku sangat malu. Lain kali mungkin.

Diary,

Siapakah pemuda itu?

 

18 Nopember 2008

Dear Diary,

Subuh ini dia memakai kemeja lengan panjang bermotif garis-garis. Warnanya biru muda. Baru kali ini saya meihatnya berkemeja dan bercelana panjang. Jalannya nampak begitu santun. Ia menuju mushallah ditemani dengan Ust. Rahman. Caranya bicara dengan Ust Rahman, sepertinya mencerminkan bahwa ia adalah seorang yang sangat dewasa, walau saya kira usianya mungkin tidak jauh dari saya, sekitar 23-24 tahun.

Diary,

Lama sekali aku menunggunya. Tidak seperti biasanya. Aku kira aku sudah telat melihat dari jendelaku akan kepulangannya dari mushallah. Aku akan sangat menyesal kiranya demikian. Tapi ternyata tidak. Saat kembali, dia bersama dengan para tetangga lainnya.

“Ya allah, dia masih terlihat sangat tampan.”

Diary,

Entah kenapa hati ini ingin selalu memandangnya setiap subuh datang.

 

20 Nopember 2008

Dear Diary,

Aku menunggunya lama subuh ini. Tapi dia tidak juga muncul. Satu per satu orang menuju mesjid. Tapi dia tidak ada. Kemana dia? Saya tidak tahu. Saat Ust Rahman lewat, saya ingin sekali membuka jendela kamar dan bertanya berteriak padanya tentang keberadaan pemuda itu.

Diary,

Subuh ini aku kecewa. Tapi, saya akan selalu menunggunya di jendela kamar ini tiap adzan subuh berkumandang.

 

21 Nopember 2008

Dear Diary,

Setelah kemarin aku kecewa, subuh ini aku sangat senang sekali. Dia ada subuh ini. Yang membuat aku semakin senang, dia sempat melihat jendela kamarku. Saat itu langsung saja aku tutup tirainya. Aku takut ketawan olehnya. Entah apa yang ada dipikirannya. Apakah dia tahu bahwa ada seorang wanita yang selalu memandangnya lewat jendela? Aku tak tahu pasti apa yang ada dipikirannya. Namun itu telah membuatku merasa tersanjung dan senang luar biasa. Paling tidak dia melihat jendela kamarkku.

Dia begitu gagah dengan setelan koko putih dan sarung hijau dengan corak garis yang mungkin kesukaannya. Kali ini pecinya lain, nampaknya baru. Tapi itu sangat membuatnya tambah manis.

“Ya allah, aku semakin suka melihatnya. Aku sangat ingin berada disampingnya saat itu untuk menemani ia pergi ke mushallah.”

Diary,

Subuh ini aku sangat senang sekali. Aku sangat senang.

 

22 Nopember 2008

Dear Diary,

Aku sangat kecewa hari ini. Aku telat bangun tidur. Aku sedih. Aku sangat menyesal. Andai saja waktu ini bisa kuputar. Tiada tenanga aku menulis ini. Semuanya habis seiring penyesalan. Seiring kekecewaan.

Diary,

Entah perasaaan apa ini??

 

25 Nopember 2008

Dear Diary,

Aku telat bangun. Tapi aku terus menuggunya. Karena aku yakin shalat shubuh belum berakhir di mushalah. Aku akan terus menunggu dia pulang. Dan betul saja. Dia ada. Dia bersama rombongan tetangga. Dan termasuk ayah. Dia tampak sangat dekat dengan ayah. Dia tampak memilih mengobrol dengan ayah dibanding dengan para tetangga lainnya.

“Ya Allah, apa yang mereka bicarakan. Apakah ayah membicarakan saya, putrinya. Ataukah yang lain?”

Diary,

Ia terlihat sangat dewasa.

“Ya Allah, dia membawa mushafMu, Alquran. Begitu dekatnya kah dia terhadap agamaMu dan terhadapMu? Ya Allah sudah cukup bukti itu. Dan sudah cukup kau buat aku sangat tergila-gila ingin selalu melihatnya.”

Diary,

Aku mulai aneh dengan perasaan ini…

 

28 Nopember 2008

Dear Diary,

Dia tak ada subuh ini. Aku sedih.

 

1 Desember 2008

Dear Diary,

Kemana dia??? Aku tak tahu. Haruskah aku bertanya pada ayah? Tapi aku masih malu.

 

3 Desember 2008

Dear Diary,

Aku sangat sedih. Aku sedih sekali. Entah kenapa hati ini ini terus mencarinya. Hatiku telah jatuh padanya. Tapi dimana dia??

 

6 Desember 2008

Dear Diary,

Walau kurasa sakit ini terasa semakin parah. Aku tak pernah berhenti menunggunya.

Wahai pemuda… dimana gerangan dirimu??

 

8 Desember 2008

Dear Diary,

Aku sudah merasa tidak kuat menahan sakit dan rindu ini. Kepalaku sangat sakit. Hatiku pun demikian.

Wahai pemuda pengobat hati. Dimanakah dirimu sekarang…??

Aku sadar, Aku telah jatuh cinta padamu…

———————————–

 

13 Nopember 2008,

Lagi-lagi, subuh ini, aku merasa ada seseorang yang telah melihatku di jendela rumah Pak Sarwo. Siapakah ia? Nanti suatu saat saya tanyakan ke Pak Sarwo.

 

15 Nopember 2008

Subuh ini aku beranikan diri untuk bertanya pada Pak Sarwo. Aku sengaja berlama-lama mengobrol didepan rumahnya. Karena aku sangat penasaran, siap gerangan yang selalu melihatku dibalik tirai jendela itu.

Aku kaget. Ternyata jendela itu adalah kamar putrinya Pak Sarwo yang sedang sakit keras. Aku sangat bersimpati mendengarnya. Dia terkena kanker otak. Sekarang sudah tak berdaya untuk berjalan. Hanya berbaring dan duduk didipan kamarnya. Aku diberitahu puterinya bernama Layla Badriyah. Nama yang indah. Tapi apakah putrinya merasa demikian terhadap nasibnya. Aku harap dia mengerti arti hidup.

Aku dijanjikan akan ditunjukkan foto Layla oleh Pak Sarwo.

 

19 Nopember 2008

Aku masih meliatnya. Tirai jendela kamar layla sedikit terbuka subuh ini. Ingin sekali aku menyapanya. Karena kemarin saat di mushallah Pak Sarwo sempat menunjukkan fotonya. Dan Layla sangat cantik, secantik namanya. Hati ini sangat tertarik ketika melihat foto dirinya. Andai saja saya boleh menyapanya subuh ini dan berbagi simpati padanya. Tapi itu tidak mungkin. Dia wanita bukan muhrimku, apalagi ini subuh buta. Belum pantas bertamu.

 

20 Nopember 2008,

Duh aku tidak shalat shubuh berjamaah hari ini. Aku telat bangun. Kerjaan sangat mengganggu aku. Ya Allah, Apakah aku termasuk orang yang lebih mementingkan kehidupan duniawi?? Astagfirullah…

 

22 Nopember 2008

Aneh. Hari ini Jendela kamar Layla tertutup rapat. Tidak seperti biasanya. Kemanakah ia? Ataukah ia sakitnya mulai keras? Ah semoga saja Allah melindungi putri cantik itu.

Entah kenapa, hari ini sangat terasa aneh ketika tirai jendelanya tak terbuka sedikit. Aku merasa ada yang hilang hari ini. Aneh.

Subuh itu Pak Sarwo juga tak tampak di Mushallah.

 

23 Nopember 2008

Alhamdulillah, perasaanku mengatakan ia baik-baik saja. Subuh ini aku melihat tirainya jendela kamarnya terbuka. Aku sangat yakin ia tak apa-apa. Tapi apakah ia melihatku? Kenapa kemarin lusa, ketika saya coba menegaskan penglihatan saya ke jendela itu, tirainya langsung segera tertutup? Ah, ini perasaanku saja. Aku tarlampau geer kali…

 

25 Nopember 2008

Aku mengobrol banyak dengan ayahnya. Aku sangat penasaran tentang dirinya. Ternyata dia baru berumur 22 Tahun. Kasihan. Padahal usianya masih muda. Namun beban hidupnya sudah luar biasa. Kanker Otak. Dia Lulusan Pondok pesantren di jawa tengah.

Dia sangat pandai, cerita Pak Sarwo. Dia selalu juara kelas di sekolahnya. Sejak Sekolah Dasar hingga Lulus Madrasah Aliyah. Banyak sekali saat dia di Pondok Pesantren, ustad-ustadnya, berusaha melamarnya. Namun karena cita-citanya tinggi, jadi dia tidak ingin menikah muda. Dan akhirnya Pak Sarwo dengan perasaan tidak enak selalu menolak pinangan para ustad.

Sangat luar biasakah Layla Badriyah itu?

Lusa aku harus tugas ke Samarinda kurang lebih selama dua minggu. Aku harus persiapkan diri dan arsip-arsip untuk keperluan kerja di sana.

 

9 Desember 2008

Akhirnya aku sampai di rumah kontrakan yang belum lama aku tempati ini. Walau sangat kecil, tapi aku sangat rindu berada di sini. Lingkungannya sangat bersahabat. Sudah malam, besok harus jamaah subuh. Karena aku sudah rindu juga dengan suasana ketika layla melihatku lewat jendela kamarnya waktu subuh. Ah, lagi-lagi aku geer.

 

10 Desember 2008

Berita sangat besar aku terima pagi ini. Dan entah mengapa aku sangat terpukul. Aku sangat menyesal tidak berada di sini kemarin lusa.

Innalillahi wa inna ilaihi raajiun…..

Layla telah meninggal dunia kemarin lusa. Aku sangat terkejut. Dan entah mengapa ada perasaan kehilangan, padahal aku belum pernah melihat apalagi mengenalnya. Tapi entah mengapa berita itu membuat hatiku bagai terinjak-injak tronton. Aku kehilangan. Yah aku merasa kehilangan.

Apalagi saat ayahnya menyodorkan aku sebuah catatan harian layla. Aku sangat terkejut. Ternyata yang selama ini aku pikirkan benar adanya. Dia selalu melihatku. Dia selalu menunggu aku di jendela kamarnya saat subuh datang. Aku merinding. Aku bingung.

Dan ternyata dalam tulisan terakhirnya dia mengatakan bahwa ia jatuh cinta padaku. Bagaimana ini mungkin?? Dan aku adalah pengobat hatinya yang selalu merindu. Aku gemetar membacanya. Tak kuasa aku menangis. Andai saja aku tidak pergi kemarin. Mungkin ia masih tertawa memandang ke jendela saat subuh.

Ya Allah, aku kah penyebab semua ini…??

Ya Allah, engkau zat maha pencinta, Cintailah ia selalu disisimu… hanya itu pintaku…