Kurawat Istriku Dengan Penuh Cinta

Tidak pernah aku bercerita kepada siapapun. Tidak juga kepada engkau. Aku hanya menyimpan kisahku ini dalam hati. Sebuah kisah suami yang merawat istrinya dengan penuh cinta. Baginya, cinta adalah kekuatan. Cinta adalah daya pengungkit yang membuatnya bertahan merawat istrinya yang lumpuh dan tak bisa terbangun dari tempat tidurnya.

Tak terasa sudah 15 tahun lamanya. Sebuah penantian yang membutuhkan kesabaran. Ada banyak air mata menetes, namun ketegaran seorang suami diuji di sana. Ada keperkasaan yang pantang menyerah dengan keadaan. Aku harus menjadi superhero bagi keluargaku.

Kesetiaan teruji, dan pengorbanan yang tak sia-sia itu akhirnya menemukan kebahagian. Itulah buah dari kesabaran. Tak banyak orang yang mengalaminya. Mungkin hanya 1001 manusia saja yang mengalaminya dari 5 milyar penduduk di di dunia. Mungkin juga aku yang ke 1001 itu. Entahlah!

Ujian itu dimulai ketika istriku mengalami sebuah kecelakaan. Truk kontainer yang berisi muatan elektronik telah menabrak motornya. Kakinya patah, dan harus diamputasi. Namun bukan hanya itu saja masalahnya. Tangannya tak bisa digerakkan, jadilah ia manusia lumpuh yang tanpa daya. Aku harus melayaninya dengan sepenuh hati. Cinta kami yang menguatkan aku bertahan.

Segala upaya sudah aku lakukan. Mulai dari pengobatan modern sampai alternatif. Semua tabunganku sudah ludes, dan rumah yang aku tempati beserta anak-anakku terpaksa kujual. Biaya pengobatan yang besar harus membuatku kalah dengan keadaan. Tinggallah kami di rumah yang sangat sederhana.

Pekerjaanku memang agak sedikit terganggu.   Untunglah aku mempunyai teman-teman yang baik hati. Aku sering meninggalkan tempat kerja untuk merawat istriku. Mereka mengerti dan memahami keadaanku. Sampai suatu ketika surat itu datang kepadaku. Pimpinan tempat aku bekerja memanggilku. Aku dirumahkan dari tempat kerjaku.

Aku seperti orang gila kala itu. Tapi aku sadar bahwa aku tak boleh pasrah dengan keadaan. Pasrah berarti kalah, dan aku bukan lagi lelaki tangguh yang melindungi anak dan istriku. Mereka harus makan, dan mereka tidak boleh tahu apa yang aku alami.

Sampai suatu ketika, istriku tahu akan keadaanku.

“Mas Kukuh, kok kelihatan muram? Ada apa? Tak seperti biasanya Mas Seperti ini?”. Istriku menyapaku ketika aku pulang dari tempat kerjaku. Tempat yang terakhir kalinya aku singgahi. PHK memaksaku meninggalkan tempat kerja yang penuh kenangan. Disitulah cinta kami bersemi.

“Tidak ada apa-apa Surti! Mas Kukuh hanya capai saja. Pekerjaan di kantor cukup melelahkan hari ini”, itulah perkataanku yang berbohong kepada istriku sendiri. Rasanya, baru kali ini aku berbohong dengan istriku. Tapi dia tak boleh tahu apa yang sesungguhnya terjadi.


(Bersambung)

Aylin Korkmaz

Bertahan Hidup Demi Anak-Anak

Ketika Aylin Korkmaz meninggalkan suaminya, pria itu mencoba membunuh  dia diatas nama harga diri

Bagian 1

Oleh:ANATJE ALTHOFF
Ditulis Ulang oleh:Ferdi
Bercermin adalah hal yang biasa, tetapi bagi wanita, ini menatap cermin menjadi penyiksaan. Setiap pagi dan malam, Aylin Korkmaz berdiri dikamar tidurnya dan mematut bayangan dirinya.Pandangan matanya tertumbuk kepada wajah yang dipenuhi bekas luka yang dalam.”Pertama kali bercermin setelah kejadian itu, saya tidak bias mengenali diri sendiri,” ujarnya pelan.”Wajah saya tampak seperti tambalan perca yang dijahit menyatu denga mesin jahit saya tak mengenali wanita di cermin itu.”
 

Pantulan dirinya di cermin menjadi pengingat akan hari terburuk dalam hidup Aylin. Waktu itu 21 November 2007,dan dia sedang menjalani giliran malam di SPBU. Baden-Baden, tempat dia telah Delapan Tahun bekerja sebagai kasir.Waktu itu menunjukan nyaris pukul 15:00 ketika dia masuk kemobilnya.Giliran tugasnya dimulai pada pukul 15:00 dan dia telambat. Makan siang bersama anak-anak telah membuat dia menghabiskan waktu lebih lama.dia menyukai pekerjaanya sebagai kasir. Pekerjaan itu menyenangkan dan dia punya pelanggan maupun rekan kerja yang baik namun hari itu bisnis maupun waktu sedang terasa lambat Karen itu, Aylin merasa senang ketika seoran rekan kerja menyuruh dia beristiraat pada pukul 18.45. Aylin pergi keruang ganti dan mulai membolak-balik lembaran majalah,”Mendadak saya mendengar bunyi pintu terbuka,Ssaya menengadah dan langsung bertatapan dengan mata itu, sepasang mata yang dingin dan marah hanya itu yang saya ingat.”Pendidikan Aylin cukup baik.dia menuntaskan pendidikan dasar dan berharap untuk melanjutkan dengan mempelajari hukum.tetapi ibunya punya rencana lain untu dia. “Menurut ibu dia seorang gadis harus punya suami untuk menompang hidupnya,” katanya. Maka, dengan bantuan kerabat, sang Ibu mengatur pertungangan bagi putrid bilianya yang cantik. Pria yang beruntuk itu adalah Mehmet Korkmaz, keponakan lelaki dari seseoran kenalan keluara.saya bertemu dia haya sekali sebelu diputuskan bahwa saya akan menikahi dia. ”Saya tidak punya hak bicara dalam persoalan itu,” ujar aylin, blak-blakan. Tampaknya perjodoan itu masih lumrah,diturki. Anda diberitahu siapa suami anda.kelak, tidak peduli dia apakah dia orang baik atau jahat. Itu adalah bagian anda.dia akan menjadi ayah dari anak-anak anda. Jika dia ternyata pria yang baik.baguslah”. jika tidak sayang sekali.tetapi tidak ada kesempatan kedua, tambahnya. Mehmet berusiah 13 Tahun lebih tua dari Aylin dan dia adalah orang kurdi dia tinggal di jerman, tidak punya pekerjaan tetap dan tidak terlalu lancer berbahasa jerman. Setelah menikah pada 1991 pasangan tersebut pindah ke Baden-Baden. Sang pengantin wanita baru berusia 19 tahun awalnya saya masih berharap bias sekolah disisi tetapi saya segera menyadari bahwa itu tak akan terjadi lagi, kata aylin mehmez tidak dapat menghadapi kenyataan bahwa istrinya yang atraktif dengan lues menyesuaikan diri dengan masyarakat, setempat dan bias langsung bias bicara bahasa jerma n, lebih baik dari dia.bahkan kelahiran 3 anak mereka. 2 puteri dan seoran putra gagal memngubah keadaan , pernikahan meraka tidak bahagia . “Setiap kali saya menganjak sesuatu segagai gagasa yang bagus , dia akan menentang” kenangan Aylin. “Misalnya saya suka membaca. Tetapi begitu saya mengambil buku ,ia akan mulai menggerutu.atau ketika saya menyalakan TV,dia akan mengeluh bahwa saya sering menonton tv .diabegitu cemburuan dan dia hanya mengingin kan saya untuk diri nya sendiri”. 

Disalin dari majalah Readers Digest Indonesia Edisi April 2011

Bersambung…

 

 

 

 

 

Emang Ingin Naik Gaji

Bajaj berkokok. pagi akan dimulai. Nuansa kota sudah kental dengan segala hiruk-pikuknya. Pedagang berbondong-bondong ke pasar. Murid sekolah menyerbu angkot. Dan para pekerja sudah siap menghajar tugas kantor. Tidak mau ketinggalan, pemulung pun dengan gancu dan karung gedenya mengembara entah kemana juntrungannya. Pagi. Pembagian waktu yang paling berpengaruh bagi kelangsungan nasib khalayak banyak. Terkecuali spesies yang satu ini.

Rumah kontrakan tipe 5X2 itu bertetangga dengan pinggiran kali. Tempat Mang Saat hidup dengan bini semata wayang dan tiga anak belianya. Dengan menggelagar, bininya membangunkan. Dia masih asyik tidur berpelukan dengan kentongan lapuk yang sudah pension di poskamling. Baginya, lebih enak daripada body bininya yang sudah menggelembung bak bola bekel dicemplungin minyak tanah. Melar. Tak elastik lagi. Dia masih khusuk dengan pejamannya. Bininya makin kesal. Dengan ilmu silat dasar yang pernah diperoleh dari engkong Marupi, satu pukulan keras menimpa manusia malang itu.

“Aduuuuuuuuuuuh, Tikkkkkkkkkkkkk!”, teriaknya dengan Tutik, bini kesayangannya. Dia balik sembunyikan tubuhnya disarung.

“abang, ini apaan?”. Bukan seperti lagu ‘bang, sms siapa ini bang’, Tutik menemukan satu kartu AS waru dibawah sarung lakinya.

“abang judi lagi?”, pertayaan retoris. Mungkin dalam hati Mang Saat, masih untung gua mabuk judi, dari pada mabuk janda!

Sudah bisa ditebak. Lakinya kumat lagi, judi. Ditambah main curang, hobinya ngumpetin kartu biar menang.

“abang enak-enakan tidur. Aye tuh bang, dah nyuci baju Bu Tirto dari jam empat!”, curhat bininya, tak malu didenger tetangga.

Tak bergeming. Penjelasan singkat, padat, terikat bininya tak menggeser posisinya.

“Bang, abang narik gak?”

“elu dah kayak jualan obat gak laku aja! Gua gak narik!”. Kali ini dia sudah bangun. Bersandar di tembok, mengumpulkan nyawa.

“elu mau kemana?”

“aye mau nganter Asan ke sekolah!”. Tutik menarik diesel bajaj.

“emang lue bisa?”

Suara bajaj meledak. Dengan tarikan gas lima kali sudah membunuh puluhan nyamuk dan serangga lainnya di poskamling, tak luput juga rumahnya yang hanya berjarak dua meter.

“elu gak narik, kite mau makan apa, Saadi!”. Bininya tak sopan. Ditinggalkannya dengan mata masih lengket.

*****

“gua dah gak mau narik, Tik. Gua mau cari kerjaan laen.”, dengan muka pas dia berdiri dicermin almari.

“kerja apaan bang. Paling jadi tukang nguras WC kantor, kayak Junet. Iya kan?”, bininya tenang. Karena saking seringnya lakinya bilang gitu.

“gua beneran, Tik!”. Mungkin jika seperti sinetron made in local, mereka akan saling bertatapan, diiringi musik yang semakin membuat penasaran. Atau gak malah nyanyi dangdut yang cuma modal komat-kamit, karena udah dinyanyiian sama penyanyinya.

( to be continue………)

:astig:

Serial Madun : SEMUR JENGKOL CINTA MADE IN BELANDA (2)

DUA

Pagi hari. Rumah bergaya Betawi lumayan besar dan banyak ditumbuhi tanaman pada halamannya. Sejumlah tanaman ada disitu, pohon mahkota dewa, brontowali, sirih, kembang sore pagi, guribang, kacapiring, lidah mertua, dan beberapa pohon liar ngeroyot seperti belukar. Biar begitu tetap rapi. Pemilik rumah itu Ki Kasep dan Tinul yang sedang sarapan di beranda pagi hari itu. Ki Kasep terlihat lahap menyantap nasi uduk dengan semur jengkol, sementara Tinul biasa-biasa saja. Sarapan pagi dengan nasi uduk semur jengkol bagi kebanyakan orang Betawi maupun daerah sekitarnya. Makanan favorite, seperti favorite burger bagi orang Eropa.

Ki Kasep menyantap dengan lahap. Suapannya munjung dengan tangan nyeketem.

“Enak banget nih nasi uduk, lu beli dimana Nul?”, tanyanya agak berat karena mulutnya kejejel nasi.

“Gak sari-sarinya abang nyarap ampe abis. Biasa…diwarungnya Jenong, emangnya kenapa?”, sahut Tinul tidak selera.

“Kok tumben nasinya pas, semur jengkolnya sedep…”, timpal Ki Kasep lagi.

“Biasanya juga begitu bang. Abang aja kali yang lagi lapar..”,

“Oya , hari ini gue mau ke kota, ke Pasar Pondok, biasa beli keperluan buat gue, luh tahu sendiri dah. Kalo sempet gue mampir ke warung Jenong..”, kata Ki Kasep lagi sambil mengabisin suapan terakhir.

“Mau ngapain mampir kewarung Jenong?”, Tinul mulai curiga.

“Ya…beli nasi uduk! Emang lu pikir gue mau nginep apa? Jenongkan punya laki. Dah..gue mau mandi dulu!’, Ki Kasep pergi sambil kesal.

Tinul menatap kepergian suaminya dengan tatapan gelisah, kawatir. Kemudian dia menyusul setelah bereskan bungkusan nasi uduk tersebut.

***

Tampak suasana yang lebih ramai dari biasanya. Terlihat ada beberapa lelaki dengan umur bervariasi tengah makan nasi uduk sambil ngopi. Sementara Jenong dan Betty kelihatan sangat sibuk melayani. Suasana sedikit hiruk pikuk.

Ditempat lain tak jauh dari warung itu terlihat tiga perempuan sedang ngobrol sambil mengawasi susana warung. Perempuan-perempuan itu yang semuanya sudah punya laki, dan ada juga yang janda mulai curiga dan ngiri melihat kemajuan warung Mpok Jenong. Bahkan mulai beredar gosip kalau Jenong sengaja ngajak adik iparnya si Betty buat jadi kembang warung supaya orang kampung pada kesemsem dan getol belanja diwarungnya. Bahkan kabar lain beredar lebih parah lagi menuduh Jenong menggunakan penglaris buat warungnya. Padahal orang kampung semua pada tahu bahwa perbuatan itu termasuk syirik dan musyrik. Apa iya Mpok Jenong melakukan hal sehina itu. Semoga saja kaga bener.

“Wah…wah…wah…makin hari makin rame aja warungnya Jenong”, Sanem membuka pembicaraan.

“Iyalah…sejak kedatangan adik iparnya, Si Betty bule dari Belanda ntuh, Mpok”, sahut Nimah dengan suara keki. Nimah memang paling cemburu sama si Jenong karena warung nasi uduknya sepi dan bangkrut gara-gara pembelinya pindah haluan kepada Jenong.

“Biasanya kan nasi uduknya nggak laku. Dasar pinter Si Jenong, dia bawa adiknya yang cakep buat jadi pelayan. Pada dateng dah laler ijo…”, suara Junih nimpalin.

“Jelas aja Mpok, Betty kan botoh. Orangnya tinggi langsing, kulitnya aja putih. Siapa sih yang kagak suka lihat cewek botoh. Tuh coba liat sono,…bapak-bapak pada betah berlama-lama ngopi!” tukas Sanem makin manasin hati rekannya.

“Lho kok lu kedengerannya sewot banget? Emang ngapah? Cemburu?”, sahut Junih lagi dengan nada yang mulai tenor.

“Ini bisa jadi bencana kalo dibiarin, Mpok. Bisa-bisa laki kita pada kecantol!”, sahut Nimah semakin emosi.

Dasar perempuan. Belon-belon sudah tanpa rasa. Belon tentu yang mereka kira itu benar. Nah, kalo salah? Kan bisa berabe dan jadi fitnah. Kita semua pan tahu, bahwa fitnah itu lebih kejam daripada tidak memfitnah. Perempuan bertiga itu terus mereleng matanya ngamatin warung Jenong.

Mendadak mereka mendengar suara mendehem Ki Kasep yang datang dari samping. Ketiga ibu tersebut memberi hormat santun dan segera terdiam sambil pergi menjauh. Ki Kasep tidak memarahi dan berjalan menuju warung. Di sana dia disambut Jenong dengan hormat. Beberapa lelaki yang sedang jajan mendadak minder.

“Eh..Ki Kasep…tumben mau mampir kewarung aye. Ada yang mau dicari Ki?” tanya Jenong dengan nada rendah.

Ki Kasep tersenyum dingin. Matanya jelalatan mencari sesuatu dan tertuju pada wajah Betty yang segar. Benar-benar segar. Muka Betty yang mulus putih seperti kapuk randu baru dikupas. Bibirnya merah sedikit tipis kaya kue talam buatan kampung Asem. Belum lagi matanya, duh…bening rada biru seperti padasan kolam renang. Gek, hati siapa yang takkan runtuh bila melihat durian jatuh. Begitu hati ki Kasep kesemsem asmara.

“Gue pesan nasi uduk. Buat sore. Tapi tolong anterin kerumah ya. Soalnya gue ada urusan dikit. Nih duitnya”, katanya sambil keluarin duit pada Jenong.

“Nanti aja Ki, dirumah aja bayarnya”, kata Jenong nimpalin.

“Ya udah kalo gitu. Gue pergi ya…”, ujar ki Kasep kemudian.

Jenong Mengangguk hormat, begitupun lelaki yang sedang jajan itu. Sementara Betty terdiam. Betty takut. Yang dirasakan gadis Belanda itu tidak lain adalah, ngeri, begidik, scream, horror, seperti mendapatkan nightmare on sleeping. Tatapannya itu tuh, pandangan mata ki Kasep, meskipun dengan mata yang tua tetap saja tajam seolah menelanjangi sekujur tubuh mulusnya. Amit-amit dah! Bathin Betty.

***

Suasana terang cerah. Seperti biasanya aktifitas Jali ngupil dan Bokir cabutin jenggot. Madun berdiri menatap ke arah warung Jenong. Siang itu ada satu rencana yang mengganjal dikepala mereka: ingin bertemu Betty.

“Kok mpok Jenong belon lewat juga. Atau jangan-jangan mereka kaga pergi kepasar?” gerutu Jali dengan nada sember becek.

“Sabar dikit ngapah. Orang sabar itu disayang Tuhan, tahu gak?”, Bokir coba sahutin.

“Sabar…lama-lama bisa jadi lebar kaya jidat lu itu..”, Jali kehabisan sabar.

“Hus…betengkar aja kaya anjing sama kucing. Diem ngapah”, Madun coba tengahin

Bokir berdiri hampiri Madun.

“Lu serius, mau macarin Betty anak kompeni itu? Nah rencana kuliah lu gimana?”, Bokir mengorek keseriusan sahabatnya.

“Kuliahkan bisa sambil pacaran. Bahkan kata Majen, orang yang sudah menikah aja masih boleh kok kuliah. Jadi itu bukan halangan buat gua kan?”, sahut Madun pasti.

Padahal yang dia lakukan cuma menenangkan hatinya sendiri. Dibalik hatinya yang paling dalam ada rasa cemas bercokol. Sebenarnya Madun sangat takut kalau semua rencananya bakal kecium sama Enyak dan baba Jiung. Semua orang kampung tahu bahwa ambeknya baba Jiung sampe keubun-ubun. Kalo dia sudah ngambek, apa aja digabres, dijabanin, ditantangin. Tahu sendirilah, baba Jiung itu mantan Jawara kampung. Bahkan kalo ngeliat silsilah keturuannya dia masih keturuan Bang Pitung. Entah benar entah kaga.

“Pinter juga lu ngeles. Kalo begitu,…”, suara Jali keselek.

“Semakin sempit peluang kita buat rebutin Betty dong…”, sambung Bokir sedih.

Madun tertawa. Jali dan Bokir melongo.

Dari ujung gang Betty dan Jenong datang dengan belanjaannya. Buru-buru Jali dan Bokir sambut mereka dan gantikan membawa belanjaan. Semanya pada nyari perhatian. Pedekate. Akal-akalan, biasa kalo ada maunya. Namanya juga kucing garong, pasti dia sedang ngincer ikan botoh bernama Betty.

“Kok tumben elu pada baik sama gue?” tukas Jenong mulai curiga.

Bokir buru-buru nyahut, “Tenang Mpok,…ngarti dah!”.

Jenong diam dan lanjutkan jalan bersama dengan Jali dan Bokir. Sementara dibelakang Madun dan Betty jalan berdua. Bagi Jenong ini adalah pucuk dicinta ulampun tiba. Artinya rencana yang dari semula suda diprogram bakal berjalan mulus. Jenong merasa kaga perlu repot-repot atur strategi lagi, buktinya buruan sudah masuk perangkap. Tinggal garuk doang, beres!

Di sebelah mereka Madun berjalan dampingan dengan Betty. Jantung Madun dag dig dug der. Sementara itu Betty pun merasakan hal serupa. Jantungnya kenceng kendor. Darah mudanya sar sir ser. Betty rada gugup, apalagi ketika madun mencoba tatap mata indah bola pingpong miliknya.

“Dari pasar ya? Supermarket?”, tanya Madun memancing.

“Iya Bang. Abang kok ada di pos ronda?” Betty balas komentar.

“Iya, abangkan lagi ronda”, sahut Madun.

Ih jayus banget tuh jawaban. Garing, tahu kali! Madun kutuk dirinya yang bego.

“What, Ronda ? Masa ronda siang hari? Mana ada maling siang hari, lagian apa juga yang mau dicuri?”, Betty merasa aneh.

Uh, kena batunya dah gue!

Madun malu-malu menjawab, “ Rondain kamu Bet, dan abang takut ada maling yang curi hati kamu”, seulas senyum ditawarkan.

Betty tersipu. Wajahnya merah.

“Bolehkan kalo abang deket sama Betty, be your best friend gitu?”.

“Boleh aja. Betty bebas kok berteman sama siapa saja. Mpok Jenong juga nggak larang”, sahut Betty dengan bahasanya yang makin bagus.

“Yes….yes…”.

“Why, what wrong….Kenapa bang?”.

Madun gelagapan dan segera ajak Betty menyusul Jenong dan kedua temannya didepan. Madun merasakan sangat bahagia siang itu. Begitupun Betty.

***

Sebilah golok sedang diasah hingga mengkilap. Jiung sedang jongkok mengasah golok hingga besi baja itu mengkilap. Leha sedang nampih beras menggunakan tampah lebar. Beras ketan item hasil panen sawah petakan kidul di ujung kampung. Lumayan buat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Baba Jiung hingga saat ini masih memiliki sawah beberapa petak. Sementara tetangga lainnya sudah pada dijual sama proyek lantaran mau dibangun real estate. Padahal, semua orang tahu bahwa padi ketan item hasil ditumbuk dilumpang menggunakan alu, kalo dimasak baunya wangi. Sangat berbeda dengan beras gilingan heuler. Baunya ilang. Leha menoleh pada Jiung yang sedang asyik menggerus besi baja melawan batu asahan.

“Kayaknya ada yang gak beres sama Madun, Bang. Denger-denger sih dia kecantol sama iparnya Jenong. Si Betty yang baru dateng dari Belanda. Baru gosipnya sih. Lagian saya juga belum lihat kaya siapa tampangnya tuh anak yang bikin Madun kleyengan kayak ayam nelen karet”, Leha memulai obrolan.

“Luh percaya aja sama gosip. Gosipkan artinya makin digosok makin sip”, Jiung berkelakar dan kurang merespon.

“Ah…abang serius dikit ngapah. Kalo bener, rencana kita kuliahin dia bisa batal. Itu nggak boleh kejadian kan, bang?”, suara Leha mulai memohon perhatian.

“Lu kaga liat apa yang sedang gue asah ini?”, tukas Jiung mulai naik.

“Bendo. Golok, bang. Emangnya buat apa tuh golok abang asah ampe tajem?”.

“Buat motong anaklu kalo coba-coba dia mainin orang tua. Tahu? Ngarti lu? Asal lu tahu Leha…nih golok dulunya pernah di pake same leluhur kita Si Pitung waktu dia ngelawan kompeni Scot Marhaene musuhnya orang Betawi. Eh masa sekarang Madun mau bedemenan ama cucunya tuh kompeni? Busyet dah…kagak tai-tainya gue sudi!”.

Jiung bergegas masuk rumah. Leha melongo dan gusar.

“Aduh….bisa gawat ini kalo ampe bang Jiung marah?”, Leha gelisah.

Perempuan itu sudahin nampih berasnya. Dia bergesa susul Jiung ke dalam.

***

Jenong duduk dibale warung sambil siapin bungkusan pesanan nasi uduk Ki Kasep. Sementara Betty masih sibuk benahin piring didalam warung.

“Udah, Bet. Biarin , nanti mpok yang beresin. Mendingan gih sono lu anterin nasi kerumah Ki Kasep!”, seloroh Jenong.

“No. Nggak ah mpok, serem. Lagi pula Betty kan belum tahu persis dimana rumahnya. Bagaimana kalo mpok aja?”, sahut Betty rada gusar.

Jenong berfikir, “Ya udah dah, biarin gue aja. Lagian gue juga kawatir, gue selempang sama elu. Ki Kasep kan…”, Jenong nggak lanjutin ucapannya dan buru-buru ambil bungkusan nasi yang sudah ditaruh dalam kantong plastik, “ Lu jaga warubg ye!”, sambungnya lagi.

“Ada apa dengan Ki Kasep mpok? Dia itu dukun peletkan?”, tanya Betty penasaran.

“Kok lu tahu? Dari mana lu tahu heh?”, Jenong kaget seperti diantup tawon balu.

“Bang Madun yang cerita”, sahut Betty jujur.

Jenong bergegas, “Bagus kalo gitu. Gue berangkat dulu ya. Nanti kalo nyang tanyain gue, bilang aja gue pergi bentar. Lu ati –ati jaga warung ya . Dan jangan ampe lupa lu liat-liat tuh semur jengkolnya!”, pesan Jenong sambil pergi.

Betty melihat Jenong pergi.

***

Ki Kasep ada di halaman depan rumah sedang petik bunga. Wajahnya terlihat sumbringah. Bibirnya yang mulai kisut tersenyum. Kadang-kadang dia ngelolang nyanyi lagu cinta. Sebentar tersenyum, sebentar tertawa ketika dia memandang kembang ros yang dipetiknya. Pasti tuh tua bangka lagi kasmaran. Memang saat ini dia sedang membayangkan kalau betty – iparnya Mpok Jenong sedang berada dihadapannya. Seolah Betty ngejogrok didepan matanya. Jenong berjalan pelan. Ngingset dikit. Kemudian dia mendehem pelan takut kalau kedatangannya ngagetin Ki Kasep. Jenong sangat takut kalau ulahnya membuat lelaki tua itu kaget. Ki Kasep baru nyadar kalo dari tadi jenong ngeliatin tingkahnya. Jenong memberi senyum, sambil Jenong segera menemuinya dan memberi hormat.

“Kok elu yang ngater ,Nong? Emangnya ipar lu kemana?”, selidik Ki Kasep rada kurang suka melihat kehadiran Jenong.

“Maaf Ki, dia lagi saya suruh nyuci sama jagain warung..”.

“Elu nih, Jenong. Warung aja kudu dijagain, emangnya lu takut warung lu pegih, pan warung kaga punya kaki. Mana mungkin dia pegih..”, suara Ki Kasep masih tetap ketus. Sepertinya dia marah berat.

“ Iya sih, Ki. Tapi aye kan selempang juga, soalnya pan diwarung banyak dagangan aye. Ada nasi uduk, semur jengkol di baskom, nanti kalo nggak ada nyang nungguin bisa-bisa digares kucing garong..”, sahut Jenong membuat alasan.

Ki Kasep menarik nafas berat. Dadanya masih terasa masgul. Sebel melihat Jenong. Jenong serahin bungkusan dan Ki Kasep menerima kecewa sambil kemudian kasih duit sama Jenong. Jenong bergegas tinggalin tempat itu dengan takut karena Ki Kasep nampak gusar.

Ki Kasep memilin kumis. Pandangan matanya jauh, “Belum tahu dia hebatnya pelet gue kali?” bathinnya sambil pergi ke teras. Nasi uduk yang dibawanya tidak langsung dimakan. Dikecloin aja di atas bangku semata. Selera makan Ki Kasep jadi hilang lantaran rasa ngebetnya ingin melihat muka Betty yang bening dan putih diganti dengan melihat muka Jenong yang item dan demek.

***
Baru saja adzan lohor dari Langgar Haji Kosim berkumandang. Madun masih menunggu kedatangan Jenong sambil gelisah. Tak lama Jenong datang sambil sedikit terburu-buru. Suara nafas Jenong masih ngas nges ngos karena kecapekan datang menemui Madun setengah berlari.

“Maafin Mpok, Dun. Mpok telat..”.

“Ya udah. Gini, Mpok. Mpok mau kaga nolong aye?”, langsung Madun nembak cespleng.

“Nolong apa? Mpok jadi ga paham? Pan kalo soal duit, duit lu lebih banyak dari gue. Kalo urusan elmu, elmu lu lebih banyak juga, elu lebih pinter daripada mpok…”.

“Husss, bukannya masalah duit atau elmu, Mpok. Tapi ini lebih penting lagi. Mpok mau tolong aye, sampein sama Betty saya tunggu ditempat ini, ngarti?”.

“ Oooo, Itu sih cemen, Dun. Lagian ngapain lu kudu ngumpet kalo mau pacaran aja. Kunci Betty ada ditangan Mpok. Tapi, biasa….doku”, Jenong pilin telunjuk dan jempol sebagai simbol minta duit.

Madun sudah tahu maksud Jenong, pasti ujung-ujungnya duit juga. Dasar dunia edan, kaga ada nyang gratis pisan. Paling cuman kentut kali nyang gratis!

“Duit? Nih, segini, goban, cukup kan?”, Madun sodorin duit lembaran.

Jenong girang sekali menerima duit itu. Dengan gayanya yang norak dia ciumin tuh duit bekali-kali. Cup…cup…cup…lumayan. Dalam hatinya Jenong ketawa, “Madun…Madun…padahal lu ganteng, tajir, pinter….masih aja pake cara lama buat dapatin cewek”.

“ Pan ada cara nyang ekpress”.

“Bukan begitu mpok. Di warung atawa dirumah mpok kan rame, bisa keganggu kita. Pan disini sepi, bisa sedikit romantis…”, cerita Madun sambil cengengesan.

“Ya udah kalo gitu. Lu tungguin disini, biar gue atur”, kata Jenong lagi.

Jenong pergi sambil cium duit yang didapatnya. Seperginya Jenong Madun baru nyadar akan kebodohan dirinya.

“Kenapa gue jadi bego? Tapi nggak apa bego dikit asalkan dapetin cintanya si Betty. Kan pepatah mengatakan, cinta memerlukan pengorbanan. Bukan begitu Coy?”.

Madun tersenyum sendiri.

***

Madun dan Betty terlihat duduk saling berhadapan tetapi tidak berani saling pandang. Suasana ditempat itu tampak sepi. Disepanjang mata memandang hanya terlihat hamparan sawah yang padinya mulai menguning. Barangkali tidak lama lagi akan tiba musim panen, dimana penduduk kampung siap untuk motong padi menggunakan alat tradisional ani-ani atau dibabat pake parang. Dikejauhan juga terlihat meskipun agak samar, beberapa orang sedang asyik menghalau burung agar menjauh dari padi mereka. Umumnya burung emprit atau burung peking bondol sangat suka makan padi. Maka dengan menggunakan orang-orangan sawah yang ditarik tali dari sebuah gubuk burung-burung itu ditakut-takutin supaya pergi. Sebagian lagi menggunakan alat berupa koplakan bambu yang kalau digerakan akan mengeluarkan suara: koplak – koplak cukup nyaring. Tapi Madun dan Betty tidak terusik dengan keadan sekitar mereka. Mereka berdua sedang pedekate alias penjajagan cinta. Sementara itu Jali dan Bokir mengintip dari balik pohon Jamblang yang lumayan besar. Mereka mau nguping. Dasar curut! Ngupingkan dosa.

Madun berusaha menatap mata Betty.

“Sengaja abang ajak Betty kemari, soalnya abang mau ngomong empat mata aja. Orang lain nggak boleh denger..”.

Betty diam saja, belum berani berkata sepotongpun.

Tetapi ditempat lain Jali dan Bokir saling pandang.

“Empat mata..he..he..he…kayak acaranya Tukul”, Jali merasa geli.

“Itu artinya kita kudu merem dan tutup kuping, tahu?”, timpal Bokir.

Jali dan Bokir lakuin merem dan tutup kuping dengan bego, kemudian sadar akan ketololannya dan kembali ngintip Madun yang bersama Betty.

“ Gimana Bet?” tagih Madun kemudian.

“Kalo abang mau ngomong, ngomong aja. Betty siap kok jadi pendengar yang setia”, sahut Betty nyaris tak terdengar.

Kemudian Betty tertunduk. Rasa ragu, gemes, taku dikit dan ingin juga segera mendengar kalimat apa yang akan diutarakan oleh Madun membuatnya jadi seperti gimana gitu. Sulit diuraikan dengan kata-kata.

Madun juga rupanya merasakan hal yang sama. Ragu, gusar, deg – degan campur aduk mirip gado-gado Bang Cablik di Pasar Kecapi. Namun Madun harus berani jentel dan buktikan kalo dirinya adalah lelaki jantan. Sebagai pejantan tangguh harus berani melakukan suara hati dan tentunya harus pula berani menerima resiko apapun yang akan terjadi dibelakangnya.

“Sebenarnya abang mau bilang, itupun kalo Betty nggak keberatan, abang naksir Betty. I love you. Betty mau tidak terima cinta abang?”, keluar juga suara dari mulut Madun.

Betty mendadak terkejut, tersipu dan wajahnya merah, bahagia. Namun dia berusaha menenangkan hatinya. Sebaliknya berbeda dengan yang dipikirkan oleh Madun. Karena melihat Betty yang diam saja Madun mulai curiga dan gusar, jangan – jangan…ah tidak, Madun tidak sudi dipermainkan suara hati kecilnya. Pan tadi dia sudah bilang bahwa sebagai lelaki jentel dia harus siap menerima resiko apapun termasuk: ditolak cinta! Tapi tentu saja Madun tidak berharap untuk pertama kali ini ditolak cinta.

“Gimana Bet? Betty mau kan jadi pacar abang?”, kembali Madun mengorek jawaban.

“Boleh Betty minta sesuatu, bang?”, tanya Betty pelan.

“Minta apa, ngomong aja, please deh!”, sahut Madun sudah ga sabaran.

“Tapi abang jangan marah. Betty minta waktu untuk berfikir. Boleh bang?”, tawar Betty kemudian.

Suara Madun rada gugup, “ Ya… ya…boleh….ga papah”.

“Makasih bang. Sekarang Betty pulang ya…mpok Jenong pasti sudah nunggu”,

Betty pergi tinggalin senyuman terindahnya yang membuat Madun mabuk kepayang. Madun seperti linglung. Hatinya seperti dipermainkan teka –teki cinta. Diterima atau ditolak? Ditolak atau di terima? Atau diterima? Atau ditolak? Atau tidak diterima juga tidak ditolak? Atau tidak ditolak juga tidak diterima? Atau cuma atau?.

“ Bet…ati – ati dijalan”, seloroh madun tersedak sambil lambaikan tangan.

Betty menoleh dan tinggalin sebuah senyum manis buat Madun. Duh, Gusti! Tolonglah hambamu ini. Perasaan apakah yang sedang kulakoni ini? Tuhan tolonglah bukakan hati Betty supaya dia memberikan jawaban atas cintaku. Tolong ya Tuhan, please!.

Jali dan Bokir saling pelukan. Menangis campur bahagia.

“ Kasihan ya si Bos…”, Jali meringis.

“ Iya, Li…yang tabah ya Bos..”, sahut Bokir nimpalin.

Kemudian mereka pelukan lagi. Menangis lagi.

Madun masih terdiam.
Angin berhembus sepoi – sepoi dari pesawahan seperti mengusap –usap dadanya yang sesak.

***