Stop Musyrikisasi Gedung Juang Tambun

gedung juang mistisGedung Juang 1945 atau Gedung Tinggi Tambun merupakan salah satu gedung bersejarah di Kabupaten Bekasi. Gedung yang menjulang tinggi dan terletak tidak jauh dari perbatasan kecamatan Bekasi Timur di kota Bekasi dengan kecamatan Tambun Kabupaten Bekasi ini pernah menjadi tempat pertahanan pada masa perjuangan kemerdekaan di wilayah Bekasi.

Setelah difungsikan untuk berbagai kegiatan, mulai dari kantor pemerintahan tempat persidangan DPRD, hingga tempat perkuliahan mahasiswa Unisma, gedung ini sekarang tampaknya tidak terurus lagi dan tidak berjalan sesuai fungsinya sebagai peninggalan bersejarah. Banyak kotoran di setiap sudut luar gedung ini dan bau yang tak sedap. Ini membuat siapapun yang datang enggan berlama-lama berkunjung. Bahkan cerita keangkeran yang beredar di masyarakat membuat bulu kuduk merinding ketika berjalan di lokasi ini.

Di tengah kondisi gedung juang yang memprihatinkan dan cerita keangkeran yang beredar di masyarakat, Stasiun Televisi Trans TV memanfaatkannya untuk tayangan program entertainment mistis Rafi Ahmad dkk.  Pada gambar screen shoot yang ditampilkan tampak Rafi Ahmad Dkk sedang live streaming di depan Gedung Juang. Langkah ini kemudian dikomentari oleh sejarawan Bekasi Ali Anwar melalui statusnya di Facebook tertanggal 2 Maret 2015:

“Gedung Joang atau Gedung Tinggi Tambun, Kabupaten Bekasi, sedang diperjuangkan oleh sejarawan dan budayawan untuk difungsikan kembali sebagai gedung yang syarat sejarah perjuangan, mengedukasi generasi muda yang berpikir rasional dan religius, memberi tempat bagi bocah-bocah kreatif.

Namun, harapan itu tercabik oleh entertain mistis norak rafi ahmad cs lewat TransTV.
Bukannya memberikan dukungan moril dan materil untuk menyempurnakan tauhid da akhlak, malah ikut melestarikan kemusyrikan.

Siapa juga peminta izin dan pemberi izin?”

Kontan status Ali Anwar tersebut mendapat tanggapan dari netizen Bekasi. Beberapa komentar yang mungkin bisa mewakili diantaranya adalah komentar dari Raden Agah Handoko yang mengatakan: Saya yakin ga minta ijin,karena mau minta ijin sama siapa ?,gedung itu kosong kaga ada yang jaga.saya masuk ngubek2 tuh gedung kaga ada yang nanya atau nglarang seorang pun,malahan banyak anak jalanan yang pada maen kucing2an dalam gedung.mengenai wacana tim cagar budaya akan berkantor di disitu saya sudah dengar sejak dua bulanan yang lalu,pertanyaan saya “akan” nya itu kapan bang ali ??

Komentar ini kemudian dijawab oleh Komarudin Ibnu Mikam “semalem ktemu bg Lepay dn temen2 Wajah, Paku Besi dn Gado2 Betawi..eh, msh ada kwan2 dr TransTV. Trus kita tanya acara ini sudah izin, kata mereka sudah izin bang. ke siapa? mereka jawab ke Jonly dan Pak Bambang…trus juga dah ke kanit…

Komentar Komarudin tersebut kemudian dijawab oleh Raden Agah Handoko “Jonly sama bambang sapa sih bang??,emang gedung juang punya mereka,maen kasih ijin aja tanpa konsultasi sama tim pelestari cagar budaya.”

Berbeda dengan dialog antara Raden Ageh dan Komarudin yang mempersoalkan ijin, dari sisi yang berbeda Agus Kabul Ardiwinata justru berkata “Kenapa melihat sesuatu cuma dari sisi negatifnya saja…padahal secara tdk langsung itu promosi gratis …sehingga diketahui bahwa di Bekasi ada gedung bersejarah dilain sisi itu menjadi koreksi untuk para penguasa Bekasi mengapa Gedung bersejarah itu dibiarkan terbengkalai…maaf kalau ada yg tdk berkenan…”

Dari beberapa percakapan di status facebook Ali Anwar terlihat Gedung Juang memang sudah tidak terurus, sehingga tidak jelas siapa yang berwenang memberikan ijin. Gedung Juang tak lebih sebagai bangunan tua yang telah terlupakan sejarahnya. Bangunan yang lebih layak dibilang gudang penyimpanan barang-barang. Pemerintah Kabupaten Bekasi pun melupakan sejarahnya sendiri. Pemerintah seakan-akan tutup mata untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Padahal sebagai gedung bersejarah, Gedung Juang dapat dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan untuk memperkenalkan sejarah Bekasi kepada masyarakat luas. Idealnya gedung ini bisa digunakan sebagai museum sejarah dan pembangunan Bekasi yang memuat berbagai macam informasi sejarah dari jaman pra kemerdekaan hingga rencana pembangunan masa depan Bekasi (Kabupaten dan kota).

Sebagai warga Bekasi yang hanya bisa melihat dari kejauhan, saya hanya ingin memberi saran singkat kepada pihak-pihak terkait, khususnya pejabat Pemerintah Kabupaten dan Kota Bekasi agar kiranya bisa memanfaatkan gedung-gedung bersejarah untuk tempat belajar bagi masyarakat, belajar tentang sejarah dan berbagai hal terkait lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Para pihak terkait di Bekasi bisa belajar pada pemerintah-pemerintah daerah di Tiongkok yang membangun museum sejarah dan pembangunan di setiap kota sebagai ruang pamer ke publik tentang sejarah kota dan daerah serta rencana pembangunan di masa depan.

Untuk stasiun televisi seperti Trans TV hendaknya lebih bijaksana dalam membuat suatu program dan pintar-pintar memilih tempat, jangan hanya sekedar mengedepankan aspek komersial saja tapi melupakan unsur edukasi. Tayangan mistis yang menampilkan Gedung Juang sebagai subjek bukan mendidik masyarakat dan mendorong masyarakat mengetahui sejarah gedung tersebut, dan ujung-ujungnya sejarah Bekasi, tetapi justru membuat masyarakat takut dan menjauh. Karena itu stop kriminalisasi #eh musyrikisasi Gedung Juang. Jangan tiru Indosat yang ketanggor karena iklan “Lebih Baik ke Ausie daripada ke Bekasi”.

Berguru Pada Sri Sultan Hamengku Buwono IX

13648783611701526881

Sebuah pertemuan yang luar biasa ketika saya diberi kesempatan satu forum dengan tokoh media, penulis top Indonesia dan sekaligus aktivis sosial, Bapak Parni Hadi. Forum yang mempertemukan kami itu adalah bedah buku karya beliau dengan Pak Nasyith Majdi. Buku yang berjudul Sri Sultan Hamengku Buwono IX Inspiring Prophetic Leader.

Sebagai seorang wakil kepala daerah, saya sangat tersanjung diberi kesempatan oleh Pak Parni Hadi untuk membedah bukunya. Buku yang banyak memberikan pelajaran dan hikmah kepemimpinan bagi saya sebagai pengemban amanah rakyat.

Buku yang diprakarsai oleh Ikatan Relawan Sosial Indonesia yang juga dipimpin oleh Pak Parni Hadi itu membuka cakrawala kita tentang khasanah kepemimpinan nasional yang kaya dengan keteladanan.

Dalam banyak hal Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberikan keteladanan itu ketika beliau menjadi Raja Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat dan menjadi wakil presiden. Salah satu yang paling berkesan adalah kerelaan beliau berkorban untuk berdirinyanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, halangan dan rintangan masih menghadang. Belanda belum rela Indonesia merdeka, berbagai upaya terus dilakukan untuk menggagalkan tegaknya NKRI. selain mendirikan negara boneka, Belanda juga menahan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Ketika Presiden dan Wakil Presiden RI, Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan di Bangka oleh Belanda, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan kerelaannya membantu menanggung keuangan negara senilai 6 juta Gulden. Kita tahu, kondisi keuangan negara diawal-awal berdirinya belum bisa memenuhi segala kebutuhan pemerintahan yang dipimpin oleh dwi tunggal Soekarno-Hatta.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah seorang nasionalis sejati. Nasionalismenya tidak diragukan lagi. Meski beliau adalah raja dan bangsawan berpengaruh di Jawa, beliau memilih menjadi seorang nasionalis sejati. Ketika Republik ini diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, beliau dengan tegas mengatakan mendukung berdirinya NKRI. Padahal, kedaulatannya sebagai Raja Kesultanan Yogyakarta sangat kuat di mata rakyatnya.

Pada saat yang bersamaan, banyak raja-raja di nusantara meragukan dan belum mengakui kelahiran NKRI, Sri Sultan Hamengku Buwono menyatakan secara tegas bahwa wilayahnya menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Membaca sosok Ngarso Dalem Hamengku Buwono IX lewat karya Pak Parni Hadi dan Pak Nasyith Majdi memiliki arti tersendiri bagi saya. Tertuma belajar tentang kepemimpinan dari aristokrat yang berjiwa nasionalis. Ada banyak keteladanan yang patut kita petik dari sosok beliau. Buku ini wajib dibaca setiap pemimpin. Buku ini menjadi petunjuk yang baik untuk menjadi pemimpin yang bernilai dan sekaligus dicintai rakyat. Karena beliau telah membuktikan itu, menjadi pemimpin yang bernilai dan sekaligus sangat dicintai rakyatnya.

Mengenal K.H. Noer Ali, Singa Kerawang-Bekasi

Sebagai warga pendatang yang menetap di Bekasi, hampir setiap hari saya melintasi jalan Raya Kali Malang atau yang sekarang diberi nama Jalan K.H. Noer Ali. Jalan ini menjadi salah satu urat nadi utama yang menghubungkan Bekasi dengan Jakarta. Saking pentingnya jalan ini, ratusan ribu penduduk Bekasi yang mencari nafkah di Jakarta setiap harinya melintasi jalan ini dengan menggunakan beragam kendaraan bermotor.

Dari ratusan ribu penduduk Bekasi yang melintasi jalan ini, mungkin banyak yang bertanya-tanya siapa sich K.H. Noer Ali itu? Saya yakin tidak banyak yang mengenal nama beliau. Paling hanya menebak-nebak bahwa nama K.H. Noer Ali adalah nama yang diambil dari nama seorang tokoh masyarakat di Bekasi, Nama tersebut diabadikan sebagai nama jalan untuk menghormati dan menghargai jasa dan perjuangannya semasa hidup.

Dugaan tersebut tidak sepenuhnya keliru karena K.H. Noer Ali merupakan tokoh masyarakat di Bekasi dan seorang pahlawan nasional. Menurut tulisan Prof. Dr. Nina H. Lubis, M.S, yang dimuat dalam situs Bang Foke si ahli Jakarta, K.H. Noer Ali diangkat sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah pada tanggal 9 November 2006 dan dianugrahi Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.

Mengutip buku biografi yang ditulis Ali Anwar, Prof Nina Lubis menyebutkan bahwa Noer Ali lahir tahun 1914 di Kampung. Ujungmalang (sekarang menjadi Ujungharapan), Kewedanaan Bekasi, Kabupaten Meester Cornelis, Keresidenan Batavia. Ayahnya seorang petani bernama H. Anwar bin Layu, seorang petani dan ibunya bernama Hj. Maimunah binti Tarbin. Beliau wafat pada tanggal 3 Mei 1992, dalam usia 78 tahun.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang K.H. Noer Ali, berikut saya kutipkan tulisan Prof. Nina Lubis selanjutnya:

Meskipun ayahnya hanya sebagai petani, namun karena kemauan keras untuk menuntut ilmu, Noer Ali pergi ke Mekah dengan meminjam uang dari majikan ayahnya yang harus dibayar dicicil selama bertahun-tahun. Selama enam tahun (1934-1940) Noer Ali belajar di Mekah.

Saat di Mekah, semangat kebangsaannya tumbuh ketika ia merasa dihina oleh pelajar asing yang mencibir: “Mengapa Belanda yang negaranya kecil bisa menjajah Indonesia. Harusnya Belanda bisa diusir dengan gampang kalau ada kemauan!”. Noer Ali pun “marah” dan menghimpun para pelajar Indonesia khususnya dari Betawi untuk memikirkan nasib bangsanya yang dijajah. Ia diangkat teman-temannya menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Betawi di Mekah (1937).

Sekembalinya ke tanah air, Noer Ali mendirikan pesantren di Ujungmalang. Ketika Indonesia merdeka, ia terpilih sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Cabang Babelan. Tanggal 19 September 1945 ketika diselenggarakan Rapat Raksasa di Lapang Ikada Jakarta, Noer Ali mengerahkan massa untuk hadir. Dalam mempertahankan kemerdekaan, ia menjadi Ketua Lasykar Rakyat Bekasi, selanjutnya menjadi Komandan Batalyon III Hisbullah Bekasi. Bung Tomo saat itu dalam pidato-pidatonya dalam Radio Pemberontak menyebutnya sebagai Kiai Haji Noer Ali sehingga selanjutnya ia dikenal sebagai K.H. Noer Ali.

Peranan pentingnya muncul ketika terjadi Agresi Militer Juli 1947. K.H. Noer Ali menghadap Jenderal Oerip Soemohardjo di Yogyakarta. Ia diperintahkan untuk bergerilya di Jawa Barat dengan tidak menggunakan nama TNI. K.H. Noer Ali pun kembali ke Jawa Barat jalan kaki dan mendirikan serta menjadi Komandan Markas Pusat Hisbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya di Karawang. Saat itu, Belanda menganggap tentara Republik sudah tidak ada. Noer Ali meminta rakyat Rawagede untuk memasang ribuan bendera kecil-kecil dari kertas minyak ditempel di pepohonan. Tentara Belanda (NICA) melihat bendera-bendera itu terkejut karena ternyata RI masih eksis di wilayah kekuasaannya. Belanda mengira hal itu dilakukan pasukan TNI di bawah Komandan Lukas Kustaryo yang memang bergerilya di sana. Maka pasukan Lukas diburu dan karena tidak berhasil menemukan pasukan itu, Belanda mengumpulkan rakyat Rawagede sekitar 400 orang dan kemudian dibunuh. Peristiwa ini membangkitkan semangat rakyat sehingga banyak yang kemudian bergabung dengan MPHS. Kekuatan pasukan MPHS sekitar 600 orang, malang melintang antara Karawang dan Bekasi, berpindah dari satu kampung ke kampung lain, menyerang pos-pos Belanda secara gerilya. Di situlah K.H. Noer Ali digelari “Singa Karawang-Bekasi”. Ada juga yang menyebutnya sebagai “Belut Putih” karena sulit ditangkap musuh. Sebagai kiai yang memiliki karomah, Noer Ali menggunakan tarekat untuk memperkuat mental anak buahnya. Ada wirid-wirid yang harus diamalkan, namun kadang-kadang anak buahnya ini tidak taat. Tahun 1948 Residen Jakarta Raya mengangkat K.H. Noer Ali sebagai Koordinator Kabupaten Jatinegara.


Ketika terjadi Perjanjian Renville, semua pasukan Republik harus hijrah ke Yogyakarta atau ke Banten. Ia hijrah ke Banten melalui Leuwiliang, Bogor. Di Banten, MPHS diresmikan menjadi satu baltalyon TNI diPandeglang. Saat akan dilantik, tiba-tiba Belanda menyerbu. Noer Ali pun bersama pasukannya bertempur di Banten Utara sampai terjadinya Perjanjian Roem-Royen. Dalam Konferensi Meja Bundar yang mengakhiri Perang Kemerdekaan 1946-1949, Noer Ali diminta oleh Mohammad Natsir membantu delegasi Indonesia. Selain itu, ia pun masuk ke luar hutan untuk melakukan kontak-kontak dengan pasukan yang masih bertahan. Ketika pengakuan kedaulatan ditandatangani Belanda, MPHS pun dibubarkan. Jasa-jasanya selama masa perang kemerdekaan dihargai orang termasuk oleh A.H. Nasution, yang menjadi Komandan Divisi Siliwangi waktu itu. Kemudian dimulailah perjuangan K.H. Noer Ali dalam mengisi kemerdekaan melalui pendidikan maupun melalui jalur politik.


Pemikiran Noer Ali untuk memajukan pendidikan di negeri ini, sebenarnya sudah dimulai sejak ia mendirikan pesantren sepulang dari Mekah. Setelah merdeka, peluang lebih terbuka. Tahun 1949, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Islam di Jakarta. Selanjutnya
Januari 1950 mendirikan Madrasah Diniyah di Ujungmalang dan selanjutnya mendirikan Sekolah Rakyat Indonesia (SRI) di berbagai tempat di Bekasi, kemudian juga di tempat lain, hingga ke luar Jawa.


Di lapangan politik, peran Noer Ali memang menonjol. Saat Negara RIS kembali ke negara kesatuan, ia menjadi Ketua Panitia Amanat Rakyat Bekasi untuk bergabung ke dalam NKRI. Tahun 1950, Noer Ali diangkat sebagai Ketua Masyumi Cabang Jatinegara.


Tahun 1956, ia diangkat menjadi anggota Dewan Konstituante dan tahun 1957 menjadi anggota Pimpinan Harian/Majelis Syuro Masyumi Pusat. Tahun 1958 menjadi Ketua Tim Perumus Konferensi Alim Ulama-Umaro se-Jawa Barat di Lembang Bandung, yang kemudian melahirkan Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat.

Tahun 1971-1975 menjadi Ketua MUI Jawa Barat. Di samping itu, sejak 1972 menjadi Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat. Dalam perkembangan selanjutnya, ia bersikap sebagai pendamai, tidak pro satu aliran. Dengan para kiai Muhammadiyah, NU, maupun Persis, ia bersikap baik

Catatan: Prof. Dr. Nina H. Lubis, M.S adalah Guru Besar Ilmu Sejarah Fak. Sastra Unpad/Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.

Selamatkanlah Warisan Bangsaku Ini

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya dan peninggalan nenek moyangnya yang begitu besar artinya. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berbudaya luhur, banyak peninggalan sejarahnya maupun tokoh terkenalnya yang terkenal di dunia. Peradaban nenek moyang adiluhung yang hingga kini peninggalannya masih bisa di nikmati hingga zaman sekarang yang zaman budaya sudah tidak begitu di kenal. Peninggalan sejarah peradaban bangsa yang luhur perlu di lestarikan untuk pelajaran bagi generasi muda seperti saya, betapa besar dan mulia upaya leluhur bangsa kita untuk generasinya.

Pelestarian karya nenek moyang yang bernilai luhur merupakan penghargaan luar biasa dari generasi penerusnya, sekaligus mengahargai jasa-jasanya yang tak dapat tergantikan dengan apapun. Oleh karena itu, pemerintah dan seluruh elemen masyarakat bangsa Indonesia, harus perlu memelihara dan melestarikan peninggalan bersejarah para pahlawan dan nenek moyang bangsa kita yang sudah berjasa dan berkarya dalam hidupnya, termasuk peninggalan sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia Ir.Soekarno, di Blitar Jawa Timur.

Rumah keluarga Presiden pertama Republik Indonesia itu, di Blitar Jawa Timur rencananya akan di jual. Bangunan ikon Kota Blitar tempat sang proklamator menghabiskan masa kecil dan belajar itu di tawarkan ke pihak swasta dan pemerintah. Sungguh sangatlah memprihatinkan kalau warisan bangsa itu jatuh ke pihak yang tidak bertanggung jawab dan di hancurkan. Bagaimanapun juga seharusnya pemerintah dan generasi muda yang peduli akan jasa pahlawannya haruslah perlu menyelamatkan warisan bangsa tersebut dari pihak yang kurang begitu bertanggung jawab atas aset bangsa yang besar artinya dan nilainya.

Kendati sudah tidak di tempati oleh pemiliknya Istana Gebang yang sudah biasa di sebut oleh warga sekitar masih terawat. Halamannya yang luas dan tertata rapi itu masih tampak terus di bersihkan dan di jaga oleh warga sekitar yang sadar pentingnya peninggalam nenek moyangnya. kondisi tersebut membuktikan bahwa rumah yang di tempati oleh ibunda Bung Karno sampai akhir hayatnya itu selalu terawat. Maklum rumah tersebut juga masih sering di kunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatawna mancanegara dan masyarakat umum yang hendak melihat Istana Gebang.

Warisan Bangsa tersebut harus di selamatkan, pemerintah daerah harus selalu aktif dan terus memantau aset dari daerah tersebut dan dapat membeli agar tidak jatuh ke tangan yang kurang begitu bertanggung jawab. Ayo selamatkan Karya leluhur bangsa Indonesia yang adiluhung dan pula penuh sejarah dan kekayaan sejarah perjalanan bangsa.

Terima kasih atas waktunya untuk membaca tulisan saya yang sedikit kurang bagus :D maklumkan saja karena masih awam dalam hal tulis dan masih baru di Blogger

Mengapa Saya Suka Bergabung di Komunitas Blogger Bekasi?

Ketika saya menuliskan ini, pikiran saya menerawang jauh. Mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi.

Sedikit demi sedikit ingatan saya muncul dan terlihatlah dengan jelas suasana keakraban di rumah makan Padang di km 19 Tol Jakarta-Cikampek.

Continue reading Mengapa Saya Suka Bergabung di Komunitas Blogger Bekasi?

Monumen Patriot Bekasi

Monumen Patriot yang terdapat di Bumi Perkemahan Pramuka Bekasi, Jalan Achmad Yani, merupakan monumen yang dibangun untuk menghormati perjuangan rakyat Bekasi dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Meski letaknya di ujung jalan utama Bekasi, ternyata banyak anggota masyarakat Bekasi yang tidak mengetahui keberadaan monumen ini. Ketika foto ini saya tampilkan di Facebook misalnya, banyak teman-teman yang justru mempertanyakan keberadaan monumen ini. “Dimana nich? Kok saya tidak pernah lihat? Continue reading Monumen Patriot Bekasi

Gedung Tinggi : Riwayatmu Kini

Gedung Tinggi, juga dikenal sebagai Gedung Juang adalah salah satu bangunan bersajarah yang dimiliki Bekasi. Bangunan yang menjulang megah ini, –menurut informasi dari internet– ternyata merupakan bukti dan saksi perjuangan rakyat Bekasi dalam menghadapi penjajah Belanda. Demi mendapatkan informasi, jejak-jejak yang ditinggalkan, serta mendapatkan bayangan tentang kejadian-kejadian dimasa lalu, maka saya memasuki pelataran Gedung Juang.


Gedung Juang, terlihat sangat megah dari jalan raya.


Ada beberapa anak bermain di halaman gedung. Ternyata Gedung ini kosong. Karena pintu depan tertutup, saya memutar, memasuki gedung dari pintu belakang yang ternyata tidak terkunci.


Kondisi ruangan lantai atas, kotor dengan kotoran kelelawar dan tentu saja menimbulkan bau tak sedap.


Lantai atas, memasuki lorong menuju bagian depan.


Kondisi lantai atas, bagian depan.


Replika patung


Kondisi atap yang berlubang, dan dihuni oleh ratusan bahkan ribuan kelelawar.


Para pelajar sekolah memengah pertama, yang sebelumnya ikut memasuki gedung, hendak mencari perpustakaan, hanya menemukan ruangan kosong, kini memperhatikan relief yang ada di halaman, yang menggambarkan pertempuran rakyat Bekasi melawan Belanda.


Anak-anak sekolah menengah pertama yang tinggal di sekitar stasiun tambun, sedang mencoba belajar tentang sejarah Bekasi.


Memperhatikan relief perjuangan jaman dulu dengan background kereta api.

Disini, anak-anak hanya bisa menerka-nerka dengan bantuan relief tentang apa yang terjadi pada jaman dulu. Mereka bingung, mesti bertanya kepada siapa?


Tak terasa, waktu berkelebat begitu cepat, hari sudah menjelang petang.
Saatnya pulang, seperti kambing-kambing itu.

Sejarah Panjang Bekasi (II)

  

 

 Awal Perkembangan Islam di Bekasi

 

Perkembangan islam di Bekasi dapat dilacak dari salah satu keberadaan mesjid yang berlokasi di jalan Pekayon

 

Tidak banyak disangkal kalau dikatakan bahwa Bekasi adalah sub dari budaya Betawi. Salah satu ciri dominan dari budaya Betawi selain kehidupan jawara adalah ketaatan terhadap ajaran Islam. Pertanyaannya kemudian adalah, kapan Islam mulai berkembang di Bekasi ? 

Pengaruh Islam di Bekasi terjadi seiring dengan direbutnya benteng pertahanan Sunda Kelapa dari tangan Kerajaan Pajajaran oleh pasukan yang dipimpin oleh pangeran  Fatahilah, sekitar tahun 1527. Kemenangan pasukan Fatahilah membuka ruang bagi perkembangan agama Islam di bekas wilayah Kerajaan Pajajaran, termasuk ke wilayah Bekasi. 

Penyebaran agama Islam dilakukan oleh para pengikut Fatahillah yang berasal dari  keturunan Sultan Abdul Fatah dari Banten. Karena itu, kehidupan agama memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap seluruh aspek kehidupan orang Bekasi tempo dulu. 

Menurut penuturan para orang tua, sampai tahun 70-an, pendidikan anak-anak muda sangat dominan di mesjid-mesjid atau surau. Perubahan yang drastis mulai terjadi ketika Bekasi dicanangkan sebagai daerah industri sekitar tahun 80-an. Mulai saat itu, kehidupan agama tidak lagi mendominasi siklus kehidupan sehari-hari orang Bekasi. Siklus itu digantikan oleh hiruk pikuk mesin-mesin pabrik sampai sekarang ini. Budaya urban dan industri menjadi ciri khas Bekasi saat ini. 

Mataram, VOC dan Tuan Tanah 

Sejak kapan budaya Jawa atau budaya mataraman muncul dalam masyarakat Bekasi ? Apa bukti-bukti yang menguatkan adanya budaya Mataram terhadap kehidupan masyarakat Bekasi ? 

Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi basis perkembangan VOC (www.flickr.com)

 

Pengaruh  Mataram muncul seiring dengan menguatnya VOC (Verenigde Oost-indische Compagnie), sebuah kongsi perdagangan Belanda, di wilayah Batavia. Cengkraman kekuasaan VOC yang licik dan keji mendorong pasukan Mataram benteng pertahanan VOC di Batavia yang dijadikan sebagai pusat perluasan kekuasaan VOC ke berbagai daerah di Indonesia. 

Upaya menguasai kedudukan VOC mulai dijalankan dengan mengepung  Kota Batavia dari berbagai penjuru (sebelah Timur, Selatan dan Barat), sehingga menutup pintu keluar bagi VOC. Walaupun mendapat serangan yang bertubi-tubi, ternyata VOC berhasil mempertahankan daerah  Batavia dan memukul mundur pasukan Mataram.  

Akan tetapi, karena adanya ultimatum dari  Sultan Agung yang mengancam “akan membunuh seluruh pasukan yang gagal melakukan penyerangan bila kembali ke Mataram”, sisa pasukan Mataram memilih untuk tidak kembali dan menetap di sekitar wilayah Bekasi dan Karawang. Mereka  membangun perkampungan baru dan berbaur dengan masyarakat asli, terutama di sekitar daerah pantai dan di pedalaman seperti di Pekopen, Pondok Rangon, Tambun dan lain-lain (Kartodirdjo, 1987: 138). 

Ada cerita yang menarik dari keberadaan pasukan Mataram di Bekasi, yaitu keberadaan daerah yang bernama Babelan. Ada dua versi cerita. Pertama, merujuk pada seorang tuan tanah yang bersala dari etnis Cina, yang bernama Babe Lan. Kedua, nama Babelan juga dapat ditemukan di daerah Karawang, Cirebon, Tegal dll. Daerah-faerah tersebut menjadi jalur distribusi pasukan Mataram. Nama Babelan adalah semacam base camp  sementara pasukan Mataram. Saya cenderung memilih versi kedua yang memiliki keterkaitan sangat kuat dengan pasukan Mataram. Inilah salah satu peninggalan Mataram di Bekasi. 

Walaupun berhasil memukul mundur pasukan Mataram, kekuatan VOC di daerah pedalaman justru semakin lemah, karena   sering diganggu oleh sisa pasukan Mataram dan Banten yang melakukan strategi perang gerilya. Untuk mempertahankan wilayahnya, VOC mendekati para tokoh dan jagoan (jawara) dengan memberikan hadiah berupa tanah atau menjualnya dengan harga yang sangat murah. Namun dalam praktek, penguasaan tanah lebih didominasi oleh orang Eropa dan etnis Cina. 

Sejak itu mulai dikenal istilah “tanah partikelir”, di mana para tuan tanah memiliki kekuasaan mutlak atas tanah yang dikuasainya, bahkan memiliki kekuasaan seperti pemerintahan. Konon  luasan tanah yang dikuasai hampir sama dengan luas satu kecamatan atau beberapa desa seperti sekarang ini. 

Mungkin seperti ini lah gambaran demang atau mandor tempo dulu (www.flickr.com)

 

Dampak penguasaan tanah oleh segelintir  orang terhadap rakyat Bekasi sangat lah besar, apalagi rata-rata mata pencaharian mereka adalah petani. Penderitaan besar harus ditanggung oleh rakyat Bekasi dengan terpaksa menjadi buruh tani, karena tanahnya dipaksa atau dijual dengan harga murah kepada para tuan tanah. Untuk mengontrol kekuasaan atas tanahnya, kemudian diangkat mandor dan demang yang bekerja untuk mengawasi rakyat yang menjadi buruh tani di lahan milik para tuan tanah. 

Peninggalan sejarah penguasaan tanah bisa dilacak dari keberadaan gedung yang sekarang ini dikenal dengan Gedung Juang Bekasi. Pemilik awal gedung ini adalah Kouw Oen Huy  (digelari Kapitaen), yang menguasai tanah-tanah  di daerah Tambun, Teluk Pucung dan Cakung, juga memiliki perkebunan karet yang sangat luas. Konon, Bekasi dulu adalah areal perkebunan yang sangat luas dan subur. Sampai tahun 1970-an areal perkebunan tersebar mulai dari Pondok Gede. Cerita tentang Gedung Juang akan saya sambung secara lengkap dalam tulisan berikutnya. 

Ketika perang kemerdekaan, gedung bekas tuan tanah Huy menjadi basis perjuangan rakyat Bekasi dalam melawan penindasan penjajah Belanda. Karena itu kemudian dinamakan Gedung Juang. Kondisinya saat ini, sama seperti gedung-gedung di berbagai daerah yang tidak lagi diperdulikan keberadaannya oleh pemerintah. Naas benerrrrr ! 

Betulkah tanah-tanah di Bekasi dikuasai oleh para tuan tanah ? Keberadaan para tuan tanah dapat dilacak sampai sekarang ini. Bedanya dengan tuan tanah tempo dulu, para tuan tanah era 80-an menguasainya untuk dijual kembali ke para kapitalis melayu. Sejak saat itu, mulai lah Bekasi dikenal sebagai daerah industri terluas di Asia Tenggara. 

Banyak cerita memilukan dalam proses alih kepemilikan tanah ini dari rakyat ke para juragan tanah. Kisahnya mirip dengan para tuan tanah zaman VOC dulu. Membeli dengan harga sangat murah dan menjualnya dengan harga berlipat-lipat. Tahun 80-an Bekasi dikenal dengan kedidjayaan para calo tanah yang berkeliaran sampai pelosok daernya yang bertebaran di mana-mana.   

Mungkin seperti ini gambaran perkebunan karet Bekasi tempo dulu (www.flickr.com)

 

Apa benar Bekasi daerah perkebunan ? Mungkin itulah pertanyaan kebanyakan warga urban Bekasi yang terheran-heran karena melihat tidak ada bekas perkebunan di Bekasi secuil pun. Masih ingat dengan film “G-30-SPKI” yang dulu sering diputar TVRI setiap bulan september ? Pelem ini menceritakan kekejian PKI terhadap para jenderal yang dikubur di perkebunan karet sekitar daerah Pondok Gede (tepatnya di daerah Lubang Buaya). Gambaran seperti dalam pelem itu lah Bekasi Tempo Dulu, yang masih rimbun dengan berbagai pohon. 

Kondisi seperti zaman dulu itu lah yang ingin dikembalikan lagi oleh pasangan M2R dengan rajin menanam pohon di berbagai kesempatan. Semoga cita-cita mulia seperti ini dapat diwujudkan dalam waktu dekat. Bekasi hijau, itu lah angan-angan sebagai warga yang selalu gerah dan panas kalau jalan-jalan di kota Bekasi. Semoga !

Sejarah Panjang Bekasi (I)

Salah satu koleksi buku yang mengupas sejarah Bekasi

BANYAK orang bertanya-tanya dari mana asal kata “bekasi”. Saya dan anda juga mungkin punya rasa penasaran yang sama tentang bagaimana asal muasal Kota Bekasi yang sudah kita jadikan rumah tinggal selama bertahun-tahun. Bahkan ada tetangga saya yang ingin mati dan dikubur di Bekasi (saking cintanya sama Bekasi). Sebagai bagian dari masyarakat urban yang sudah memutuskan untuk menetap dan tinggal di Kota Bekasi, kiranya penting (atau sekedar untuk pengetahuan) mengetahui sekilas sejarah Bekasi.

Tulisan yang menyangkut sejarah Bekasi saya ambil dari buku yang pernah saya tulis dengan beberapa kawan yang diberi judul ”Kabupaten Bekasi dari Masa ke Masa”.  Kebetulan saya dipercaya sebagai editor oleh kawan-kawan. Saya tidak tahu apa alasan mereka memilih saya. Mungkin juga karena tampang saya yang sedikit jadul atau karena memakai kacamata sehingga dianggap agak pinteran dikit. Saya bukan seorang sejarawan, tantangan menulis sejarah Bekasi lebih banyak karena modal nekad saja dan yang pasti honornya lumayan.

Walaupun buku ini dikategorikan sebagai buku sejarah, namun metode penulisannya tidak hanya bersandarkan pada metode historis yang lazim digunakan oleh para sejarawan. Metode deskriptif dan eksploratif  juga digunakan dalam menelusuri sejarah Bekasi yang dimulai dari abad ke 5 masehi sampai abad 21.

Tulisan tentang sejarah Bekasi diawali dengan mengutif pendapat Poerbatjaraka (seorang ahli bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno). Menurut penelusuran Poerbatjaraka, kata “Bekasi “ secara filologis, berasal dari kata Candrabhaga; Candra berarti  “bulan” (sama dengan kata sasi, dalam bahasa Jawa Kuno) dan Bhaga berarti bagian. Jadi, secara etimologis kata Candrabhaga berarti bagian dari bulan.

Entah bagaimana, perkembangan selanjutnya pelafalan kata  Candrabhaga berubah menjadi Sasibhaga dan kemudian Bhagasasi.  Pengucapan kedua kata tersebut sering disingkat menjadi Bhagasi. Pemerintah kolonial Belanda sering menulis  kata Bhagasi dengan Baccasie. Seiring dengan perkembangan Bahasa Indonesia, kata Baccasie  berubah menjadi Bekasi sampai sekarang ini (1988: 38). Karena itu, dalam suatu kopdar dengan Komunitas Bloger Bekasi, saya mengusulkan panggilan untuk para Bloger Bekasi dengan kata “bekaccier”.

Penelusuran Poerbatjaraka ini memang banyak diragukan validitasnya oleh kalangan ahli sejarah dan bahasa, karena tidak berdasarkan penelitian geomorfologi, melainkan hanya bersandar pada kerangka filologi semata. Namun, setidaknya hasil penelusuran Poerbatjaraka dapat dijadikan sebagai petunjuk awal asal muasal munculnya kata “bekasi”. Setidaknya, penelusuran ini dapat mengurangi sedikit kepenasaran warga terhadap asal muasal kata “bekasi”.

 Awal Keberadaan Bekasi

Walaupun tidak ada bukti sejarah yang sangat kuat berupa peninggalan artefak atau prasasti, diyakini keberadaan Bekasi dimulai pada zaman kejayaan Kerajaan Tarumanegara, sekitar abad ke-5 Masehi.  Letak Kerajaan Tarumanegara diduga kuat berada di sepanjang sungai Tarum atau yang lebih dikenal dengan sebutan sungai Citarum. Luas wilayahnya meliputi Jakarta sekarang, daerah Bogor dan Banten Selatan.

Sekarang ini, nama Tarum digunakan untuk menamakan aliran sungai buatan yang dikenal warga dengan nama sungai Kalimalang. Sebenarnya nama sungai Kalimalang lebih tepat digunakan mulai dari aliran sekitar Mall Giant (Bekasi Barat) ke arah Jakarta. Sedangkan nama aliran sungai dari Giant ke arah Cikarang sampai ke Purwakarta namanya Aliran Sungai Tarum Barat. Begitu kata Pa Lanti yang pernah menjabat sebagai direktur Cipta Karya, Departemen PU.

Prasasti Tugu yang ditemukan di Cilincing Jakarta

Mungkin dari penamaan sungai ini muncul dugaan keterkaitan antara Kerajaan Tarumanegara dengan Bekasi. Saya tidak menggunakan metode historis yang lebih sahih secara ilmiah, namun lebih mendasarkan pada logika empiris untuk menyimpulkan awal keberadaan Bekasi di zaman Kerajaan Tarumanegara. Saya sendiri tidak menampik temuan para arkeolog yang menemukan  Prasasti Tugu di daerah Cilincing, Jakarta (entah tahun berapa ?). Salah satu isi tulisan dalam prasasti tersebut memiliki keterkaitan logika dengan penelusuran Poerbatjaraka, disebutkan dalam alinea pertama tertulis “Dahulu kali yang bernama Kali Candrabhaga digali oleh Maharaja Yang Mulia Purnawarman, yang mengalir hingga ke laut…..”. Selain itu, saya tidak menemukan bukti yang lebih kuat keberadaan Bekasi dengan Kerajaan Tarumanegara.

Setelah masa kejayaan Kerajaan Tarumanegara  mulai menurun, muncul dua kerajaan besar di sekitar wilayah Jawa Barat, yakni Kerajaan Galuh dan Kerajaan Pajajaran. Di antara kedua kerajaan tersebut, yang memiliki pengaruh yang cukup kuat hingga daerah Bekasi adalah Kerajaan Pajajaran (Rohaedi,1975:31).

Kerajaan Padjadjaran didirikan pada masa pemerintahan Sribaduga Maharaja pada tahun 1255 Caka atau 1333 Masehi. Tanda  pendirian pusat Kerajaan Pajajaran ini tertuang dalam situs sejarah Batu Tulis, yang ditemukan di daerah Bogor. Bekasi menjadi kota yang sangat penting bagi Kerajaan Pajajaran. Menurut  Sutarga, wilayah Kerajaan Pajajaran banyak dilalui aliran sungai besar yakni sungai Ciliwung dan Cisadane yang menjadi urat  nadi transportasi yang menghubungkan jalur antar kota seperti Bekasi, Karawang, Sunda  Kelapa, Tangerang dan Mahaten atau Banten Sorasoan (1965: 20).

Bekasi tempo dulu memang banyak dilalui oleh sungai-sungai besar dan rawa-rawa yang terhampar luas.  Bahkan sekitar tahun 1940 an – 1960 an, di Bekasi sering diadakan perlombaan perahu naga di sungai-sungai atau rawa-rawa. Sekarang ini banyak rawa yang hilang digantikan oleh perumahan dan mall-mall. Salah satu rawa tersebut berada di sekitar Jalan Cut Meutia yang sekarang menjadi bangunan mall dan apartment Blue Ocean atau lebih dikenal dengan Carefour. Saya tidak tahu persis berapa banyak rawa yang sudah dialihfungsikan menjadi bangunan. Risiko alih fungsi menjadikan Kota Bekasi rawan banjir karena penampungan alam sudah tidak ada lagi.

Dalam kenangan para sepuh Bekasi, sungai dan rawa juga menjadi habitat ikan gabus. Karena itu, Bekasi sangat terkenal dengan masakan ikan gabusnya yang sangat lezat. Sekarang ini warung yang mengkhususkan masakan ikan gabus dapat ditemukan di sekitar perempatan Gedung Perkantoran Pemerintah Kota Bekasi, sekitar 200 meter dari stasiun BBM (dekat Chevest), di jalan Pekayon pas belokan yang mau ke perumahan Century II atau di sekitar jalan Narogong Raya  dekat pintu masuk Kemang Pratama III. Lokasi warung lainnya tidak saya ketahui secara persis.

Konon masakan ikan gabus sekarang ini tidak selezat tempo dulu. Hampir semua pasokan ikan gabus diperoleh dari kolam buatan bukan dari habitat aslinya. Karena itu dagingnya tidak lagi serenyah ikan yang diambil dari rawa-rawa. Namun bagi saya yang asli urban, tidak mengurangi kenikmatan menyantap sop ikan gabus. Mak nyuzzz, kalau kata Bondan. Coba lah, saya jamin anda pun akan ketagihan seperti saya.

 Next time…….to be countinued

SD-ku Malang, SD-ku Hilang

Assalamu’alaikum wr. wb.

Bekasi, 19 Oktober 2009, 22:12

Termenung. Tadi siang anak saya yang kedua bertanya ‘Aku besok masuk SD yah ? Aku udah gede ya ? Ayah sekarang umurnya berapa ?’. Waks, kenapa ujungnya harus nanya umur sih ? Yang mengingatkan bahwa sekian detik berlalu maka berkurang pula umur ini.

Ngomongin tentang SD adalah tentang masa kecil yang penuh canda dan tanpa rasa takut, dimana kalimat ‘nothing is imposible’ yang kini gencar disuarakan para motivator benar2 memiliki makna yang sebenarnya dan menjadi praktik sehari-hari bocah2 kecil.

anak-sd
Ilustrasi Anak SD

Continue reading SD-ku Malang, SD-ku Hilang