The Devil Wears Prada

Film yang muncul sekitar tahun 2006 ini memiliki banyak hal positif yang harus kita ambil. “The Devil Wears Prada” mungkin ada beberapa orang yang hobi menonton film layar lebar telah melupakan dahsyatnya film yang memiliki durasi waktu sepanjang 1 jam 49 Menit atau mungkin ada banyak orang yang tidak mengetahui film tersebut. Termasuk saya yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang film ini. Sebelumnya rekan kerja saya menanyakan suatu hal kepada saya, apakah saya mempunyai ketertarikan pada film yang memiliki genre Drama? Saya jawab ya. Awalnya saya mengira bahwa ini adalah film memiliki genre Horror, ternyata tidak demikian (Maklum bahasa Inggris saya pas-pasan, intinya Devil itu setan… haaha).

imagesFilm yang menceritkan tentang pertikaian dalam sebuah majalah terkenal “RUNWAY” yang merupakan majalah fashion. Runway memiliki kepala editor yang namanya sangat melegenda dengan julukan Dragon Lady alias Miranda Priestly. Dibawah kendali Miranda, Runway menjadi sosok majalah fashion yang sangat exclusive. Nama Runway ini pun melambung tinggi dari negeri Paman Sam hingga ke penjuru belahan dunia bahkan ke negeri Ayam jago Prancis, dimana kiblat fashion dunia terletak di kota Paris, inilah hal yang membuat banyak orang mati-matian untuk bisa bergabung ke dalam majalah Runway. Dalam pekerjaannya Miranda memiliki peraturan-peraturan tersendiri jarang sekali ada bawahan yang mampu bertahan ketika menghadapinya, dan dia juga menjadi seorang wanita yang menyebalkan ketika asistennya bertanya kepadanya. Namun jika bawahannya mampu bekerja selama 1 tahun dalam mendukung majalah Runway, maka tidak segan-segan majalah lain akan mencari bawahan tersebut untuk mengajaknya bergabung. Miranda memiliki 2 Asisten pribadi, asisten pertamanya di promosikan oleh pihak HRD untuk menempati jabatan yang lainnya, sementara Asisten yang kedua  akhirnya menempati bangku Asisten pertama adalah Emily Charlton seorang wanita yang merasa sangat yakin akan berangkat ke Paris bersama Miranda. Miranda menginginkan kriteria untuk menempati bangku asisten keduanya adalah orang yang memiliki ke tidak tertarikannya kepada dunia Fashion. Maka munculah seorang wanita yang sangat cantik dan cerdas  namun sangat awam dengan dunia Fashion yaitu Andy kemudian selalu disapa oleh Miranda dengan sebutan Andrea.

Andrea, berpacaran dengan seorang koki restoran, sebut saja Nate. Semenjak Andrea bergabung dengan majalah Runway hubungan mereka menjadi tidak stabil di tambah lagi Andy (Andrea) belum genap 1 minggu bekerja sudah mulai merasakan yang namanya putus asa dalam bekerja, hal ini terjadi ketika atasannya Miranda kerap membuatnya memiliki banyak kesulitan, bahkan pada saat itu pula Miranda belum menganggap bahwa Andy adalah asisten ke duanya. Dalam keputus asaannya Andy menemui salah seorang rekan kerja Miranda yang bernama Nigel, disitu Andy mencurahkan isi hatinya kepada Nigel dan semenjak bertemu dengan Nigel itulah hari dimana Andy bangkit dari keterpurukannya dalam bekerja. Disitulah Andy mulai merubah cara penampilannya pada saat bekerja.

thedevilprada (14)Dalam menjalankan perintah dari Miranda, Andy memiliki  banyak kenalan orang-orang hebat, diantaranya adalah James Holt (salah seorang perancang desain terkenal) dan Christian Thompson (Seorang penulis terkenal yang tulisannya kerap beredar di setiap Koran dan Majalah). Andy sangat mengagumi Christian Thompson karena tulisannya dan Andy juga merupakan seorang penulis. Suatu ketika sebuah masalah baru datang dari 2 orang anak kembar Miranda, mereka memiliki banyak buku cerita Novel Harry Potter karya JK. Rowling, namun ingin sekali mengtahui cerita selanjutnya, hal ini tentu saja membuat seorang ibu untuk menuntut Andrea melakukan hal yang tidak mungkin terjadi, sebab cerita selanjutnya belum di publikasikan. Hal ini membuat Andy bekerja lebih ekstra untuk mendapatkan manuskrip yang belum di publikasikan tersebut, disitulah Andy merasa putus asa sampai akhirnya dia mengatakan kepada Nate (pacarnya) bahwa Andy akan segera berhenti bekerja. Namun kabar baik datang dari seorang kenalan Andy bernama Christian Thompson, bahwa Andy akan mendapatkan manuskrip Harry Potter yang belum di publikasikan tersebut. Hal ini membuat Andy senang dan kemudian Andy mulai diakui oleh Miranda sebagai Asisten keduanya.

Andy tidak begitu berminat untuk dapat pergi ke Paris, dia tahu bahwa temannya Emily sangat menginginkan untuk pergi bersama Miranda ke Paris. Suatu ketika Andy terjebak berkat kerja kerasnya dalam melayani dan mendukung tugas Miranda. Dia mendapatkan tugas dari Miranda untuk mengatakan kepada Emily bahwa yang akan berangkat menuju paris bukan dia melainkan Andy, hal itu membuat Andy merasa kebingungan. Namun harus tetap dijalani oleh Andy sebagai tugas.

images1Kepergian Andy menuju Paris membuat hubungannya dengan Nate memiliki masalah yang lumayan serius. Ditambah banyak sekali kejadian-kejadian yang tak terduga di Paris, diantaranya Andy melakukan hubungan Cinta satu malam bersama Christian Thompson serta Miranda diceraikan oleh sang suami dan Isu bahwa jabatan Miranda akan digantikan oleh orang lain, hal itu membuat Andy merasa sedikit shock. Namun Miranda sudah mengetahui akan berita yang mengatakan bahwa dirinya akan digantikan, hal ini membuat Miranda merubah strateginya. Miranda kemudian memuji kinerja Andy yang semakin meningkat, hal ini yang membuat Andy sadar bahwa ini bukanlah Andy yang sebenernya.

Sampai akhirnya Andy mengundurkan diri dari pekerjaannya dan meminta maaf kepada pacarnya. Andy mengaku salah, karena selama ini dia telah banyak mengabaikan orang yang berada di sekitarnya terutama teman dan keluarga. Andy mendapatkan pekerjaan baru akibat pengalaman kerja yang sangat baik. Andy menelpon Emily untuk memberikannya beberapa baju yang didapatkannya selama di Paris, tentunya hal ini membuat hati Emily senang dan tanpa sengaja Andy berpapasan dengan Miranda, mereka berdua saling bertatapan dan Miranda mengeluarkan senyuman manis kepada Andy yang telah merubah nasib hidupnya dengan sangat berani dan percaya diri.

Cerita diatas yang saya buat berdasarkan fimnya ini belum ada apa-apanya dibandingkan  menonton filmnya, karena ada banyak hal positif yang mesti kita ambil. Bagi teman-teman yang ingin memiliki film The Devil Wears Prada bisa langsung menghubungi ke ilhammi.gani@gmail.com atau mensyen twitter @gue_gani, saya akan memberikan film ini secara gratis :D

Pelajaran Menyikapi Impian dari Film “Cita-Citaku Setinggi Tanah”

Keharuan begitu menyentak dada saya saat menonton film ini. Betapa tidak? Adegan-adegan yang tersaji dihadapan mata saya seakan membawa kembali ke nostalgia 30 tahun silam, saat melewati masa kecil di kampung Bone-Bone.(pernah saya tuliskan kisahnya disini). Tipikal tokoh Agus Suryowidodo (M. Syihab Imam Muttaqin), karakter utama dalam film tersebut mengingatkan saya pada diri sendiri. Di XXI Plaza Senayan Studio 8, Sabtu (13/10) saat kami sekeluarga menonton film yang disutradarai oleh Eugene Pandji, saya menyaksikan kembali “kenangan” masa kecil yang indah itu dengan penuh suka cita.

Dengan alur kisah yang sangat bersahaja, film ini bercerita tentang sosok Agus, anak lelaki dari seorang pekerja di pabrik tahu (diperankan oleh Agus Kuncoro) dan ibu rumah tangga yang sangat mahir memasak tahu bacem (Nina Tamam),. Mereka berdomisili di Muntilan, dibawah kaki Gunung Merapi. Agus memiliki sahabat-sahabat baik yaitu Jono (Rizqullah Maulana Dafa), Puji (Iqbal Zuhda Irsyad) dan Sri (Dewi Wulandari Cahyaningrum).

Ketika masing-masing ditanyakan cita-citanya oleh guru di kelas, Jono menjawab ingin jadi Tentara, Puji yang hobi ngupil bermimpi untuk selalu membahagiakan orang lain dan Sri yang selalu modis terobsesi untuk menjadi artis. Impian Agus tidak muluk-muluk : Ingin makan di rumah makan padang. Teman-temannya memperolok Agus karena menganggap cita-citanya kurang “keren” di mata mereka. Agus tidak peduli. Baginya cita-cita sederhananya–yang tidak setinggi langit– itu merupakan keinginan luhur dari dasar sanubarinya paling dalam dan dengan semangat membara ingin segera mewujudkannya.

Berbagai langkah dilakukan Agus untuk berusaha mewujudkan mimpinya. Termasuk membuat celengan dari bambu untuk menyimpan hasil kerja kerasnya. Sementara kawan-kawannya yang lain masih “bermimpi” Agus dengan gigih merealisirnya oenuh semangat mulai dari mencari lalu menjual keong hingga jadi kurir pengantar ayam. Tingkah polos dan lucu Agus bersama kawan-kawannya membuat kami sekeluarga sangat terhibur. Beberapa kali kedua anak saya, Rizky dan Alya tertawa terpingkal-pingkal.

Keindahan alam kawasan Muntilan tereksplorasi dengan baik dan artistik. Saya teringat masa lalu saat tinggal di Bone-Bone, dibawah kaki pegunungan Velbeek, bersepeda menyusuri jalan-jalan kampung,  dan menikmati kesegaran pagi, bersama pepohonan yang sejuk dan hamparan sawah menghijau ketika menyaksikan film ini. Adegan ketika Agus berpacu mengantar ayam dengan sepeda, spontan melemparkan ingatan saya dulu ketika ngebut membawa hasil jahitan ibu saya–juga dengan sepeda–ke pelanggan-pelanggannya. Penata sinema, Arya Teja dan Aga Wahyudi benar-benar mampu menerjemahkan cerita ke dalam parade gambar yang menawan.

Akting para pemeran film “Cita-Citaku Setinggi Tanah (CCST)” terlihat begitu natural. Artis-artis cilik film ini mampu tampil apa adanya dan sangat berkesan. Fokus utama film CCST memang berada di sosok Agus, jadi tokoh-tokoh lainnya terkesan sebagai “tempelan” belaka. Sangat disayangkan memang, padahal di film yang berdurasi 82 menit ini interaksi lebih dalam anrara Agus bersama sahabat-sahabatnya, termasuk keluarganya bisa digali lebih intens.

Terlepas dari itu, di film yang beralur cerita bersahaja ini, sungguh membawa pesan moral yang berarti. Khususnya buat kedua anak saya. Tentang bagaimana kita belajar menyikapi impian, usaha-usaha untuk mencapainya dengan tanpa mengabaikan harmoni keakraban persahabatan dan kemesraan keluarga. Film yang dihiasi lagu-lagu mempesona  Endah n’ Rhesa  ini membuat saya tak hanya kembali mengenang masa lalu di kampung namun lebih dari itu, mengantarkan kita pada sebuah pemahaman bahwa “impian tak cukup hanya dibayangkan, tapi juga untuk diwujudkan dan diperjuangkan”.

Film “Ambilkan Bulan” : Membangkitkan Nostalgia Lagu Masa Kecil

Sejak pertama kali iklan film “Ambilkan Bulan” tayang di televisi, kedua anak saya, Rizky dan Alya sudah mematok tanggal kapan waktu menontonnya (film ini ditayangkan perdana di bioskop Indonesia, tanggal 28 Juni 2012).

Dan begitulah, Sabtu (30/6) seusai mengunjungi Jakarta Book Fair 2012, kami sekeluarga bergegas menuju Hollywood XXI di Jalan Gatot Subroto untuk menonton pada pertunjukan jam 14.00 siang.

Kisah diawali oleh sebuah sajian animasi visual yang ciamik. Sosok tokoh utama film ini, Amelia (Lana Nitibaskara), gadis kecil berusia 10 tahun ditampilkan sedang asyik chatting di facebook dengan sepupunya Ambar (Berlianda Adelianan Naafi) yang tinggal di desa, berburu kupu-kupu biru dalam kehijauan bukit penuh pesona.

Kesepian  Amelia sejak ditinggal sang ayah (Agus Kuncoro) yang wafat karena kecelakaan serta sang ibu, Ratna (Astri Nurdin) yang sibuk dengan karirnya mendapatkan solusi sejak ia menjalin komunikasi dengan Ambar. Amelia makin tertarik mengunjungi tempat tinggal Ambar sejak menyaksikan gambar-gambar indah yang diunggah ke Facebook. Amelia penasaran dan mengungkapkan keinginan kepada sang ibu untuk mengisi liburannya di desa tempat Ambar bermukim.

 

Semula sang ibu menolak keinginan Amelia, namun akhirnya menyerah dan mengizinkan sang putri tercinta berlibur ke tempat sang paman dan bibi (Manu dan Harbani Setyowati Wibowo)  di Solo. Untuk pertama kalinya, Amelia bertemu dengan keluarga besar almarhum ayahnya, termasuk sang kakek dan nenek (diperankan Adrian Simon dan Titi Dibyo). Amelia sangat senang apalagi bertemu dengan teman-teman baru yang seru dan menyenangkan seperti Pandu, Kuncung, dan Hendra. Mereka berkelana hingga masuk hutan yang terkenal angker dimana bermukim Mbah Gondrong (Landung Simatupang) yang konon katanya  suka memangsa anak-anak dan berkawan akrab dengan jin. Amelia sama sekali tak menyangka mengalami petualangan seru selama berada di desa.

Dibawah arahan sutradara Ifa Ifansyah yang tahun silam mendapat berbagai penghargaan dan pujian atas filmnya “Sang Penari”, film Ambilkan Bulan menyajikan parade keindahan alam pegunungan yang indah, akting pemain yang begitu natural, tampilan animasi visual yang menakjubkan serta lagu-lagu masa kecil karya musisi almarhum AT Mahmud yang fenomenal.

Film fantasi musikal yang naskah ceritanya ditulis oleh Jujur Prananto ini berhasil membetot perhatian. Meski memang alur ceritanya terkesan “klise” namun kemasannya terasa benar-benar pas dengan pesan moral yang mudah diterjemahkan dalam imajinasi anak-anak (terbukti Rizky dan Alya menikmati film ini serta menceritakan kembali dengan antusias), sederhana, menghibur dan paduan keindahan panorama pegunungan serta lagu-lagu kenangan masa kecil AT Mahmud yang proporsional.

Bagi saya pemeran yang paling mencuri perhatian selain Lana Nitibaskara yang berperan sebagai Amelia adalah pemeran si Kuncung, Bramantyo Suryo Kusumo yang begitu lucu dan kocak memainkan karakter bocah desa polos serta lugu. Beberapa kali penonton tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan ulahnya yang menggemaskan plus logat Jawa yang kental.

Secara keseluruhan, film Ambilkan Bulan sangat menghibur dan memberikan makna yang begitu menyentuh terutama pada memaknai ikatan kekeluargaan serta persahabatan. Bagi saya, yang paling penting saya bisa bernostalgia kembali dengan lagu-lagu indah dari masa kecil (seperti : Ambilkan Bulan, Amelia, Paman Datang, Libur Telah Tiba, dll)  dengan aransemen ulang dan dinyanyikan kembali oleh penyanyi terkenal masa kini. Bahkan, bersama anak-anak saya tercinta, bisa menyanyikannya ulang pada perjalanan pulang ke rumah. Saya merekomendasikan film ini ditonton bersama anak-anak anda mengisi waktu liburan sekolah..

Life Starts Here: Kehidupan Berawal dari Sini

Iklan di televisi merupakan bagian tidak terpisahkan dari program-program acara televisi, karena keberadaan iklan itulah yang membuat stasiun televisi tetap bisa hidup dan menyelenggarakan program-program acara untuk pemirsanya.

Bagi sebagian orang, kehadiran iklan di layar televisi bisa dirasakan mengganggu. Ini terutama buat Ibu-ibu yang sedang asyik-asyiknya menikmati serunya jalinan cerita film atau sinetron sampai emosi terbawa-bawa, …eh…tiba-tiba dipotong iklan-iklan yang kadang secara keseluruhan durasinya lebih lama daripada tayangan film/sinetronnya sendiri. Dari emosi terhanyut isi cerita sinetron…berubah menjadi emosi karena gangguan iklan itu!

Menghindari protes dan kecaman pemirsa pula, yang menjadi penyebab, mengapa tidak pernah ada iklan di tengah-tengah tayangan pertandingan permainan sepakbola yang sedang berlangsung. Coba kalau ada stasiun televisi yang menyiarkan iklan di tengah seru-serunya pertandingan sepakbola, niscaya stasiun televisi tersebut akan menuai protes bertubi-tubi dari ribuan bahkan jutaan pemirsanya.

Bagi sebagian penonton televisi yang lain, iklan merupakan acara selingan yang menghibur dan kadang-kadang ditunggu kehadirannya. Terutama iklan yang menarik, lucu, kreatif, berwawasan dan menghibur…juga baru ditayangkannya. Siapa yang tidak gemas melihat kelucuan dan keimutan Afika dalam iklan Oreo…atau siapa yang tidak terkekeh-kekeh melihat seseorang yang menemukan lampu wasiat diledek jin yang baru dibebaskannya karena mengajukan permintaan ingin menjadi ganteng…juga siapa yang tidak geli menyaksikan seorang perempuan dari desa yang punya ‘friends’ banyak di kota, mengalahkan temannya yang sudah lama tinggal di kota gara-gara facebook? Like This Yoo!

Itu adalah pertanda bahwa iklan dapat dirancang dan dikemas sedemikan rupa hingga tampil menarik, mengesankan dan selalu diingat masyarakat.

Ada yang perlu diperhatikan oleh pembuat produk yang beriklan. Selucu dan semenarik apapun iklan, tetap dia ada masa laku tayangnya. Pemirsa tentunya akan merasa bosan setelah beberapa lama iklan tersebut tayang. Jadi agar masyarakat tidak bosan dan tetap menunggu, iklan untuk produk tersebut butuh penyegaran melalui title-titel baru dengan ide-ide lain, tidak melulu titel yang sama yang ditayangkan.

Nah, berbicara iklan baru di televisi, belum lama ini saya mendapatkan satu tayangan iklan yang bagus dan menarik, serta patut anda sempatkan untuk menyaksikannya.

Iklan apakah itu?

Iklan ini benar-benar berkelas, artistik, keren, dan layak diacungi jempol.
(Iya, tapi iklan apa?)

Iklan yang berdurasi sekitar satu setengah menit ini berupa rangkaian scene demi scene yang satu sama lain tidak berhubungan langsung, dengan objek berupa anak-anak dalam aktivitas kesehariannya. Ada anak yang sedang memperhatikan keong merayap di kaca pintu, ada anak yang sedang bermain boneka, lalu anak yang tertidur di dalam mobil yang sedang berjalan, juga ada yang terjun berenang di sungai, dan lain-lain dengan beragam tingkah laku serta suasananya.

ceppi prihadi

Letak kekuatan iklan ini adalah, meskipun pengadegannya sederhana, anak-anak yang tampil di setiap scene terlihat sangat natural dan tidak dibuat-buat, serta ekspresi yang terpancar dari wajah-wajah mereka benar-benar tertangkap. Gambar-gambar yang terambil terlihat sangat apik dengan pencahayaan alami, dan sudut pengambilan gambar yang pas, sehingga secara keseluruhan rangkaian scene tersebut bercerita bak jutaan kata.

Nilai lebih yang membuat klip ini benar-benar hidup, adalah narasi yang lebih merupakan puisi sederhana namun bermakna mendalam dan filosofis. Dan ditambah lagi, backsound berupa alunan musik berirama Celtic yang bunyinya amat sangat khas dan benar-benar menyatu dengan rangkaian gambar. Musik dari tiupan sebuah bagpipe, alat musik tradisional Skotlandia. Alunan musik yang ditimbulkannya seolah-olah memiliki daya magis yang membenam ke dalam dasar kalbu kita. (Kalau anda pemerhati film, anda akan ingat kalau alunan musik ini mirip seperti backsound dalam film peraih piala Oscar sekian tahun silam yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet…film apakah itu?)

Perasaan kita benar-benar terlena dan terbuai dalam bayangan tanpa batas tentang anak-anak, dan imajinasi kita bergerak-gerak selama satu setengah menit ini. Teringat masa kecil kita, dan terbayang kehidupan anak-anak kita sekarang. Seperti yang digambarkankah kita dan mereka?

Secara keseluruhan, tayangan iklan ini lebih terlihat sebagai sebuah karya seni sinematografi daripada sebuah iklan, yang menawarkan dan mempromosikan produk.

Dunia anak-anak yang tergambarkan dalam iklan produk Nutrilon Royal ini, benar-benar terlihat riil, dengan kepolosan, keceriaan, emosi, dan imajinasi-imajinasi yang terpancar dari raut wajah mereka. Betapa bahagianya mereka anak-anak, tanpa beban pikiran yang menggelayut, yang ada hanyalah bermain, berinteraksi dengan sekitarnya, menikmati kebebasan dan keceriaan dalam menghadapi hari-hari mereka. Dunia mereka hanya sebatas yang mereka lihat. Tidak ada dalam benak mereka bagaimana sulitnya tantangan kehidupan yang akan mereka hadapi yang jauh dari mereka, apalagi jauh di masa mendatang mereka.

Kitalah sebagai orang tua yang berkewajiban menyiapkan mereka perlahan-lahan bisa menghadapi dunia di luar dunia sekarang. Melangkah menuju dunia baru, menghadapi berbagai tantangan kehidupan
Namun, tetap bahwa kita harus memberikan yang terbaik kepada mereka saat ini, memastikan bahwa anak-anak kita bisa menikmati dunia kanak-kanaknya, seperti yang terlukis dalam scene demi scene dalam tayangan klip iklan tersebut.

Untuk bisa melangkah ke depan, bekalnya terbentuk dari kehidupan mereka sekarang. Kehidupan berawal dari sini.

Bravo Nutricia!

Let’s call on the interested
the wide-eyed
the hopeful
the princesses and? the princes
there are believers
let’s summon the generals
the queens
the kings
and the knights start ride the adventurous trails
let’s call on the leaders
the lover
the big ones
the small ones
the boundaries the attendants
the discoverers
the conductor
the scientist
the CEOs
let’s call on the skywalkers
the movers
the seekers
let’s call on the curious
and bring on the hope.

life starts here…

ceppi prihadi

Salam,
Ceppi Prihadi
http://www.ceppi-prihadi.com

Catatan: Tulisan ini bukan iklan, hanya merupakan ulasan dari sebuah iklan.

NoBar BeBlog : Negeri 5 Menara

Salah satu kegiatan komunitas Blogger Bekasi adalah kopdar dan minggu ini kita pilih menu kopdar adalah NoBar film “Negara 5 Menara”. Minggu sebelumnya aku sudah ikutan nobar film “Sampai ke Ujung Dunia“, hari ini anggota komunitas BeBlog(Blogger Bekasi) rame-rame nonton film Lima Menara. Sebelum nonton lebih dulu asyik ngobrol tentang film yang diangkat dari sebuah novel.

“Kalau kita belum baca novelnya dan nonton filmnya, maka bisa dipastikan mereka akan mengacungkan jempolnya”

“Sebaliknya, bila sudah baca novelnya dan kemudian lihat filmnya, maka biasanya akan banyak protes keluar dari mereka”

“Begitulah sunatullahnya. Saat ada seribu pembaca novel Lima Menara, maka akan tercipta seribu wajah Alif, seribu sekolah Madani dan seribu suasana kamar para santri, namun saat semuanya itu dijadikan sebuah film, maka hanya ada satu wajah Alif, satu sekolah Madani dan satu suasana kamar para santri”

“Sutradara telah memaksa semua pembaca novel untuk melihat perwujudan dari apa yang ada di semua imajinasi para pembaca novelnya”

Perbincangan seru itu akhirnya berhenti ketika waktu sudah menunjukkan jam tayang film. Setelah berebut masuk toilet, mulailah sajian film Lima Menara muncul.

http://negeri5menara.com/

Penonton langsung disuguhi keindahan pemandangan di Sumatera Barat. Kualitas camera, sudut ambil camera dan obyek yang indah membuat pemnonton seperti tersihir masuk dalam alam Minangkabau. Bahasa awal film yang menggunakan dialek Minang membuat suasana terbangkit segera.

Adegan penjualan kerbau sangat menarik, baik dari proses pengambnuilan gambarnya, pesan yang disampaikan dan akting Alif yang begitu pas.

Perjalanan Alif terus bergulir sampai ke tanah Jawa dan film terus mengalir pelan, memberikan detil-detil pesantren, semua nafas kehidupan yang ada dalam pesantren. Yang belum pernah melihat pesantren jadi bisa sedikit membayangkan seperti apa yang disebut pesantren itu.

“Guru di pesantren ini tidak dibayar? Lalu darimana mereka menghidupi dirinya sendiri?”

Pertanyaan Alif itu tetap menjadi pertanyaan sampai di ujung cerita dan sutradara memang membuat pertanyaan itu menggantung dengan melakukan editing yang sangat bagus antara pulangnya ustadz favorit Salman dan jawaban pertanyaan itu.

Adegan sederhana yang cukup menyentuh adalah saat Sang Kiai pimpinan pondok pesantren tidak mau disebut hutang barang, demi memenuhi tuntutan para santrinya. Sebuah contoh risiko demokrasi yang harus dipikul penuh tanggung jawab. Sayang para wakil rakyat kita mungkin kurang tertarik dengan adegan ini (semoga prasangkaku yang salah, astaghfirullah).

Alif memang menjadi tokoh sentral film ini dan aktingnya sungguh patut diacungi jempol, meskipun Alif masih perlu peran lain untuk menunjukkan kemampuan aktingnya. Proses dari sebuah kebencian terhadap sebuah pesantren sampai akhirnya kecintaan akan sebuah pesantren diperankan dengan sangat pas oleh Alif.

adegan film lima menara

Sisipan adegan gadis berjilbab main badminton sebenarnya bagus, demikian juga adegan kekalahan Lim Swie King sangat pas. Adegan lain yang cukup menarik adalah adegan Alif foto bertiga dengan dua gadis cantik. Adegan yang sangat natural dan manusiawi serta membuat penonton terkekeh-kekeh.

Meski begitu, kalau saja sutradara mau mengorbankan adegan bagus itu untuk mengisi pra ending mungkin film ini akan menjadi lebih bagus lagi. Ada gap yang sangat terasa menjelang ending cerita. Penonton belum siap untuk menyaksikan Alif ketika menjadi seorang wartawan sukses.

Ending cerita Lima Menara ini malah kalah menarik dibanding ending film “Sampai ke Ujung Dunia” yang secara keseluruhan masih kalah kelas. Sama-sama ending yang bisa ditebak, tetapi Lima Menara terasa sangat Hollywood banget endingnya. Harus berakhir bahagia !:-)

Meski demikian, film ini masih sangat layak tonton sebagai film keluarga. Kecintaan seorang Ibu dan Ayah pada keluarganya patut untuk ditonton bersama oleh sebuah keluarga yang menginginkan pencerahan dalam keluarganya. Pencerahan tentang pesantren juga diucapkan oleh sang Kiai dengan jelas dan gamblang.

Akhirnya, selamat menonton.

nobar by dian 1

Foto sebagian peserta NoBar, diambil oleh spesialis fotografer kawakan dari Kompasiana pak Dian Kelana

+++

Gambar diambil dari sini dan dari sini.

Film N5M: Ampuhnya Mantra “man jadda wajada”

Beruntung sekali rasanya saya mendapatkan undangan untuk nobar Film Negeri 5 Menara (N5M) yang diangkat dari novel N5M karya Ahmad Fuadi di Platinum XXI Senayan fx, Selasa 21/02/2012. Bersama penulis novel N5M yang merupakan alumnus Pondok Modern Darussalam (Gontor) Ponorogo Jawa Timur, nobar N5M ini atas undangan dari kru film yaitu Milion Picture melalui Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pusat untuk 50 guru se-Jabodetabek. Undangan nobar yang saya terima melalui group IGI ini juga dihadiri oleh beberapa guru dari sekolah di sekitar Jakarta. Hadir juga beberapa tokoh nasional, diantaranya: Taufiq Ismail, Kak Seto, Rhenald Kasali, Ph.D, dan juga ibu (isteri) Mendikbud. Selain itu juga hadir para pemain film N5M, diantaranya Lulu Tobing (pemeran amak/ibunda Alif), Ahmad Fuadi, dan para pemeran shahibul menara (6 orang tokoh pemeran Alif, Said, Dulmajid, Raja, Baso, Atang).

Film yang bergenre pendidikan ini sangat bagus dan cocok untuk kita tonton, karena banyak nilai, inspirasi serta motivasi yang bisa didapat dari film ini. Apalagi bagi yang pernah merasakan belajar di pondok (seperti saya) pasti sekaligus me-remind pengalaman waktu belajar di pondok. Cerita seputar Novel dan filmnya pun pastinya berlatar kehidupan dunia pesantren yang penuh dinamika. Dari mulai penanaman kedisiplinan, kemandirian belajar, kesungguhan dalam meraih cita-cita, hingga interaksi santri dan ustadz. Ada adegan menarik dimana Alif cs (shahibul menara) terkena hukuman kedisiplinan saat terlambat datang ke masjid, humor ala Baso (santri asal Gowa) yang selalu menjadi inspirator bagi kawan-kawannya dan selalu semangat untuk menghafal Al-Qur’an serta bercita-cita menjelajah dunia seperti Ibnu Batutah. Continue reading Film N5M: Ampuhnya Mantra “man jadda wajada”

IBU hanya memberi tak harap kembali, bagai Sang Surya menyinari Dunia

Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai Sang Surya menyinari Dunia

Waktu aku menyanyikan lagu itu, tidak ada perasaan apa-apa di dadaku. Itu adalah sebuah lagu yang sering kita nyanyikan tanpa pernah merasakan maknanya. Mungkin orang lain merasakannya, tapi aku tidak begitu merasakannya. Aku merasa kasih ibu memang harus seperti itu, jadi tidak ada yang istimewa. Nothing special !

Setelah Ibu tiada, maka aku seperti melihat kilas balik hidupku. Saat ada Ibu di sampingku ternyata adalah benar-benar saat yang sangat berarti, tetapi saat itu aku seperti seseorang yang sedang sehat dan lupa betapa berharganya kesehatan itu. Saat kita sakit barulah kita bisa memahami betapa nikmatnya kesehatan itu.

Ibu adalah sosok yang tak tergantikan. Betapapun hebatnya seorang Ayah, tetap saja Ibu adalah sosok sentral dalam sebuah rumah tangga. Melalui ibu semua mengalir. Apakah itu kasih sayang, kemarahan, atau apapun namanya. Semua difilter pada sosok seorang ibu.

Kalau kita punya Ibu yang hebat, maka bisa dipastikan akan melahirkan anak-anak yang hebat juga. Ibu seperti manusia super di hadapan anak-anak. Ia lakukan semua untuk keluarganya, untuk melindungi anak-anaknya dan mencintai suaminya. Sosok Ayah hanya jadi figur bermain bagi anak-anak, sedangkan sosok Ibu adalah sosok serius.

MORIYAMA Tsuru menuangkannya dalam sebuah komik yang sarat makna. Ini adalah bacaan komik pendek yang membuat air mata seperti tak bisa diatur lagi. Kutuliskan review tentang buku ini di blog pribadiku dan kutulis lagi di bawah ini.

+++

“Pak, BACA!”, kata Lilo padaku.

Aku membalasnya dengan pandangan cape meski tetap berusaha tersenyum. Lilopun maklum dan langsung memasukkan sebuah buku komik ke dalam tas kerjaku. Kubiarkan Lilo menutup tasku dan akupun menenteng tas itu menuju ke luar rumah.

Adegan itu kini terekam kembali dengan sangat  jelas. Pandangan mata Lilo dan semangatnya untuk membuatku membaca buku itu, persis dengan tokoh yang ada di Buku Komik berjudul “IBU”, Satu yang paling berharga karangan MORIYAMA Tsuru.

Yah, aku memang akhirnya membaca buku itu ketika membuka tas kerjaku. Sebuah buku yang tipis dan dibaca dari kanan ke kiri, seperti cara baca Al Quran. Kubaca halaman pertama dan ternyata itu adalah halaman terakhir. Ada gambar seorang ibu yang terlihat dari belakang dan tulisan pendek “selesai”.

Aku baru sadar kalau salah memulai baca buku ini. Akupun mengikuti cara baca Al Quran dan membuka buku ini dari kanan. Ada beberapa judul di daftar isi dan akupun berniat untuk membaca salah satu cerita saja, sekedar menyenangkan Lilo. Kalau nanti Lilo bertanya aku bisa menjawab dengan bekal satu cerita dalam rangkaian cerita ini.

Subhanallah, komik Jepang ini Islami banget. Tidak bisa hanya membaca satu cerita saja, semuanya mengalir begitu saja, tahu-tahu semua isi buku tipis ini sudah selesai kubaca. Tahu-tahu juga airmata sudah berlelehan di pipiku, tanpa bisa tertahan lagi.

Aku terisak-isak sendiri membaca buku ini. Kenangan pada Ibu memang salah satu pemicu air mata panas ini membasahi pipiku, tapi buku ini memang sangat layak baca untuk siapa saja.

Komik ibu di goodreads

Sebuah kisah single parent, orang tua tunggal, yang sangat manusiawi. Sosok Ibu digambarkan sebagai orang yang tak kenal lelah, tapi tetap digambarkan apa adanya. Ibu memang mempunyai sifat manusiawi yang tidak selalu seperti nabi. Ibu bisa salah, ibu bisa mabuk karena minuman keras (sake), tapi Ibu tetap Ibu yang sangat mencintai anaknya.

Sang anak juga digambarkan sebagai anak yang apa adanya, bukan anak yang superior, tapi anak yang sangat menggembirakan orang tuanya. Dia hanya anak biasa, yang takut dengan preman di lingkungannya. Seorang anak yang terpaksa mencuri mainan karena dipaksa oleh anak-anak bengal yang kurang kerjaan.

Seorang Ibu yang sangat memahami anaknya dan seorang anak yang sangat memahami ibunya. Sebuah kombinasi yang sangat pas tetapi ditampilkan apa adanya. Sesuatu yang sangat bisa terjadi di antara kita dan sangat berbeda dengan kisah di dunia sinetron yang lebih sering bicara tentang mimpi, kebetulan ataupun amnesia.

Sebagai anak yang mendambakan sarung tangan kulit tentu sangat kecewa ketika hanya mendapat sarung tangan bukan kulit buatan ibunya sendiri. Ibu mana yang tidak sakit hati ketika hadiahnya dilecehkan oleh anak satu-satunya yang dia sayangi.

“Sesungguhnya orang yang paling bisa menyakiti hatimu adalah orang yang paling kamu cintai”

Bisa dibayangkan betapa sakit hati sang Ibu, dan sikap kasarnyapun muncul. Kemarahannya membuat anaknya dibentak. Ini sungguh adegan yang  manusiawi. Bagiku, adegan ini termasuk salah satu adegan yang sangat menyentuh. Ibu juga manusia yang bisa marah ketika capek dan hasil karyanya tidak dihargai oleh orang yang paling dia cintai.

Selesai membaca buku ini aku langsung berkicau di twitter. Air mata masih membasahi pipi dan hidung masih seperti pilek sehabis terisak-isak sendirian. Terima kasih mas Lilo sudah membuatku membaca buku tentang Ibu ini.

+++

Selamat hari Ibu, 22 Desember 2011. Seharusnya memang tidak ada hari Ibu. Tidak perlu, karena sesungguhnya semua hari adalah milik Ibu. IBU memang hanya memberi tak harap kembali, bagai Sang Surya menyinari Dunia

+++

ibu-moriyama-tsuru
ibu-moriyama-tsuru

+++

Real Madrid – Real Mataram – Real Masjid

“Hahahaha….lucu bener judulnya, memang ada hubungan dengan Real Mataram atau Real Madrid?”, kataku melihat sebuah buku berjudul Real Masjid.

“Pegang ya, aku ambil fotonya..”, kataku pada anakku.

real-masjid

Rupanya anakku juga tertarik dengan buku itu dan langsung memboyongnya ke rumah bersama dengan buku lain yang dijual di sebuah toko buku langganan kita.

Malamnya buku itu tidak sempat habis dibacanya, tapi tetap di pelukannya ketik atidur dan baru paginya diserahkan padaku.

“Ini pak”, kata anakku

“Baguskah nak?”

Anakku mengangguk sambil tersenyum dan akupun membawa buku ini ke ruang depan untuk membacanya. Ada sepatah dua patah kata dari penulis di halaman depan tapi aku tidak begitu perhatian. Aku langsung saja membuka halaman dalam.

“Ini dari depan ke belakang kan membacanya? Bukan kayak komik Jepang kemarin?”, kataku memastikan. Soalnya minggu lalu aku membaca buku komik terbitan komikus Jepang dan salah membaca. Dasar orang Jepang, aneh-aneh saja mengurutkan halaman komik.

“Ya ampun, ini komik ya? Tak pikir tadi kumpulan cerpen rohani atau apa gitu”, kataku kaget melihat ternyata buku Real Masjid adalah buku komik.

“Memang bapak nggak lihat, kan ada tulisan komik di buku itu?”, kata anakku

Dalam minggu akhir ini dua kali jadinya aku membaca buku komik nih. Pertama berjudul Ibu dan ini yang ke dua berjudul Real Masjid.

Pada halaman pertama aku langsung menangkap esensi buku ini. Cocok sekali bagi anak-anak untuk mendidik karakter mereka tanpa harus menggurui. Cocok juga untuk orang dewasa agar kupingnya merasa dipelintir oleh gambar-gambar kartun sederhana ala garuda boy.

Penulisnya memang membuat komik ini untuk menasehati dirinya sendiri, tapi para pembaca pasti akan ikut ternasehati oleh komik ini.

Semua dibawakan secara ringkas dalam empat gambar atau dalam beberapa seri dengan setiap seri rata-rata 4 gambar.

Nasehat tentang tidur di Masjid disampaikan dengan gambar yang sederhana saja. Ada seseorang yang sendirian di masjid dan kemudian merasa senang ketika ada orang lain ikut masuk ke masjid. Ternyata yang datang belakangan bukan datang untuk sholat tapi datang untuk numpang tidur.

Demikian juga nasehat tentang adab mendengarkan kutbah Jumat, disampaikan dengan gambar yang sangat sederhana, tapi mudah dipahami.

Pengarangnya berhasil membuat cerita yang sederhana dan ilustratornya membuat cerita tersebut menjadi lebih hidup.

Anakku yang masih SD terpingkal-pingkal membaca buku komik ini, sementara yang sudah SMA juga menganggap buku komik mini ini sangat menarik. Mudah dicerna tanpa harus menggurui.

Selamat membaca dan mari kita budayakan membaca di kalangan terdekat kita. Nanti pasti akan ketemu istilah yang aneh-aneh, misalnya Kucing yang tertukar sebagai parodi dari sinetron Putri yang tertukar.

Real Masjid? Kenapa Tidak!

Integrasi Islam dan Ekologi Manusia

Judul        :  Islam & Ekologi Manusia: Paradigma Baru, Komitmen dan Integritas Manusia dalam Ekosistemnya, Refleksi Jawaban atas Tantangan Pemanasan Global (Dimensi Intelektual, Emosional dan Spiritual)

Penulis     :  Drs. Sofyan Anwar Mufid, M.S

Penerbit    :  NUANSA, Bandung

Editor       :  Adib Musta’in el-Hasan

Cetakan    :  I, April 2010

Tebal        :  138 Halaman

ISBN       :  978-602-8394-10-09

 

Hukum alam yang sudah berjalan mulai tidak seimbang akibat tindakan manusia. Tindakan eksploitatif terhadap alam dan menggangu ekosistemnya akan menyebabakan alam menyesuaikan dirinya dengan cara dia. Sehingga, bencana alam pun menimpa Negara-Negara di muka bumi, tanpa kecuali Indonesia. Misalnya, Pemanasan global yang melanda bumi mengakibatkan cuaca tak menentu di belahan dunia.

Continue reading Integrasi Islam dan Ekologi Manusia

Khan di mataku

Fan photos from My Name Is Khan - Official Page

Kawanku harus nunggu 6 (enam) jam di mall untuk menyaksikan film My Name is Khan. Sebuah film yang diunggulkan untuk menyabet banyak gelar di berbagai ajang penghargaan insan perfilman.

Inilah film Cinta yang sangat mudah ditebak endingnya tetapi ternyata sangat menguras air mata saat mengikuti perjalanan Cinta Khan (Shahrukh) pada Mandira (Kajol). Di awali dengan plot cerita yang agak terasa lambat dan monoton, cerita terus bergulir dan makin lama makin asyik untuk diikuti.

Adalah Khan, seorang penderita sindrom Asperger yang dididik dengan sangat baik oleh Ibunda tercintanya. Begitu sayang sang ibunda pada Khan kecil, sehingga Zakir, adik Khan, jadi sedikit terabaikan. Kecerdasan yang luar biasa dari Khan membuat ia lebih diperhatikan dibanding adiknya. Untungnya plot cerita tidak membahas hal ini dengan lebih detil, karena bisa jadi cerita akan lari dari fokusnya.

Cerita selanjutnya lebih menitikberatkan pada kisah cinta Khan pada seorang janda beranak satu, Mandira. Penontonpun dibuat tersenyum-senyum melihat cara Khan memikat Mandira dan juga anak kecintaan Mandira, Sameer.

http://adigannys.files.wordpress.com/

Cerita berubah menjadi menegangkan ketika terjadi peristiwa tanggal 11 September 2001 atau lebh dikenal dengan peristiwa 9/11. Warga muslim India dianggap sama dengan etnis Afghanistan. Kecurigaan masyarakat Amerika terhadap kaum muslim begitu membabi-buta, sehingga kehidupan Khan dan keluarganya ikut terseret dalam suasana yang sangat tidak menguntungkan.

Puncaknya ketika Samer harus menerima perlakuan kejam dari para pembenci kaum muslim. Adegan ini meskipun digarap kurang begitu bagus, namun cukup menimbulkan kesan betapa sakitnya kaum muslim di Amerika pasca 9/11.

Mandira bahkan rela untuk berpisah dengan Khan yang muslim, karena gara-gara kemusliman Khan, maka Samer dianiaya oleh teman-teman Amerikanya. Betapa hancur hati Khan berpisah dengan Mandira, sehingga Khan perlu menanyakan kapan bisa kembali berkumpul dengan Mandira.

Disinilah film mulai makin memikat. Ucapan Mandira yang minta agar Khan pergi menemui presiden untuk menyatakan bahwa mereka -etnis India- bukan teroris, telah membuat Khan punya niat untuk melaksanakan permintaan Mandira itu.

Perjuangan yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh seorang rakyat etnis India muslim. Dari sudut pandang manapun rasanya tidak mungkin seorang etnis India muslim bisa bertemu dengan seorang presiden Amerika Serikat.

Ini memamg petualangan yang luar biasa dari seorang yang biasa-biasa saja untuk menemui presiden sebuah negara Adidaya yang sangat sulit untuk ditemui.

Tidak pelak lagi, akting Khan memang sangat memikat. Ia begitu ganteng dan begitu pas memerankan sosok penderita autis. Pasti diperlukan penghayatan yang luar biasa dari seorang Khan yang biasanya berperan sebagai orang yang normal.

Kekuatan Cinta terasa sangat mendominasi cerita ini. Inilah kisah Cinta yang digarap dengan seting yang sangat berbeda dibanding kisah cinta yang pernah ada di film lain.

Akankah film ini sehebat pendahulunya, Slumdog Millionaire? Ataukah justru lebih hebat lagi, kita tunggu saja saat ajang penghargaan pada para insan perfilman dilaksanakan.

Tidak rugi antri berjam-jam untuk nonton film ini. Semua jempol untuk “My Name is Khan”

+++
Fan photos from My Name Is Khan - Official Page

+++

Dimuat juga di Blog Pribadi