Ending Cerita Doraemon

Siapa yang tidak kenal Doraemon? film animasi asal negeri Sakura yang begitu populer di berbagai kalangan usia bahkan orang tua sekalipun mengenalinya. Memiliki kantong ajaib yang bisa membuat hal yang tidak nyata menjadi nyata, membawa temannya dalam berpetualang yang tidak mungkin menjadi mungkin selama kantong tersebut masih berfungsi. Yak cukup sekian penjelasannya!

Disini saya akan mencoba berbagi apa yang pernah saya temukan pada tahun 2011 dari mesin pencari google mengenai Ending Cerita Doraemon yang merupakan karya dari para fans Doraemon bukan dari sang penulis manga / animasi tersebut. Sebelumnya saya juga pernah memposting ini di blog pribadi saya juga, dan jangan lupa setelah membaca gambar-gambar dibawah ini jangan lupa untuk memberitahukan anak ataupun adik-adiknya. oke Selamat menikmati.

12345678910111213141516

Begitulah hasil karya para penggermar Doraemon, cukup mengharukan ya :)

 

Kembara hati diujung hari

 

gerimis-senja1Credit

Langit masih terang ketika aku memasuki mobil diparkiran dan meninggalkan gedung perkantoran sore itu. Jalanan mulai merayap dan suara klakson menjadi backsound  yang membosankan. Sedikit memaksa untuk meminta sahabatku pulang dan seorang teman ikut mobil kami menembus kemacetan Jakarta.

” Kamu yakin ingin menemui dia ? ingin kami temani atau hanya ingin menemuinya sendiri ? ” ucapan sahabatku bernada khawatir. Dan aku meyakinkan bahwa aku baik-baik saja, dan ingin menemuinya.

” Percayalah ini bukan tentang something, aku memenuhi keinginannya karena entahlah aku merasa saat ini tiba-tiba ingin memenuhi keinginannya meski pesannya hanya lewat sahabat kami. Menemui sahabat lama…itu saja ” aku yakin ucapanku tidak mampu menutupi sedikit keraguan yang sebenarnya aku rasakan. Langit berarak senja, sahabatku berkomentar betapa indahnya langit senja. Akh senja… aku akan menemui seseorang yang melabelkan nama Senja  setiap dia memanggilku.

Tanpa koneksi, tanpa interaksi, tanpa tersambung pada media socmed atau jaringan gadget, puisi atau diksinya selalu terkirim bertahun-tahun setiap aku berulang tahun meski lewat sahabat kami. Doa-doa nya untukku memenuhi ruangan khemotherapy dan ruangan RS meski hanya catatan-catatan yang dia titipkan. Dia ada meski dalam jarak tak terbaca, dia ada dalam diam, dia ada setiap aku terluka meski tanpa terkoneksi karena aku menutup rapat dan membangun dinding.

Jalanan masih merayap, tol dalam kota saat itu terasa begitu jauh dan lama. Celoteh sahabat dan temanku sesekali kutanggapi bergantian dengan konsentrasiku menyetir dan bayangan hilir mudik masa lalu. Membangun dinding adalah cara terbaik untuk berbahagia dengan hidup kami masing-masing, kami mungkin sudah menghabiskan stock cinta di masa lalu dan menyisakan sedikit kasih sayang sebagai teman tidak lebih. Tapi cinta yang tidak usai, kisah yang terpenggal, kekaguman yang tersimpan, cerita yang terhenti karena takdir adalah bab kehidupan yang harus ditutup serapat mungkin.

Tiba-tiba meminta sahabat kami dan menyampaikan pesan dia ingin menemuiku sebelum terbang kembali ketempat dia tinggal dan menetap adalah alasan mengapa kemacetan ini terasa mematikan rasa. Dua jam lebih dia sudah menunggu disebuah kedai coffee sebuah mall , dan kenyataan dia masih menunggu adalah kegelisahanku senja itu.

Tiba-tiba ingatanku kembali ke masa putih abu, tentang surat yang diam-diam slalu dia selipkan lewat pintu, tentang kebersamaan kami, kekonyolan dan segala bentuk rasa.Tentang tatapan matanya yang dalam, lalu tentang  kesia-siaan sebuah penantian dan kesendiriaannya hingga kini. Klakson panjang membuyarkan ingatanku yang mundur pada bertahun-tahun lalu.

Dan kini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku akan menemuinya…

Mobilku memasuki parkiran sebuah mall, sahabatku turun didepan lobby menuju pulang sedangkan aku memasuki mall dengan perasaan gamang. Sulit rasanya menggambarkan perasaanku, debaran itu memang tidak terasa tapi menemui seseorang yang pernah menjadi seseorang yang istimewa dalam hidup kita bukan sesuatu yang biasa. Sesaat langkahku terhenti dan memutuskan untuk pulang, saat hendak berbalik arah langkahku terhenti. Sosoknya berdiri diujung hall lurus menatap dan berjalan mengarah padaku.

Berperawakan tinggi, dengan tatapan mata yang tajam dan garis wajah tegas dan menawan, mungkin jadi alasan beberapa wanita dengan mudah datang dan mengelilinginya. Memakai celana jeans, tshirt putih dan sweater biru Don juan itu masih mempesona. Pria yang belagak kuat dihadapan semua orang tapi pernah begitu lemah dihadapanku. Dia berjalan perlahan mendekatiku, sesaat aku seolah melihatnya di waktu yang lalu. Ada yang berbeda, dia masih memiliki pesona tersendiri tapi wajahnya dan tatapannya…tampak lelah.

Kami duduk berhadapan disebuah kedai coffee yang menawarkan camilan donut dan sejenisnya, tempat kami sedikit terlindung dari pandangan umum. Mengarah pada jendela besar dengan pemandangan kota bekasi jelang malam.

” Apa kabar Senja ? ”  ucapnya memecah keheningan.

Aku tersenyum dan mencoba mencairkan suasana dengan bersikap santai meski dia tampak rikuh dan tidak nyaman.

” Aku baik, gimana keadaanmu EL…? ”

Pertanyaanku hanya dia jawab dengan senyuman samar.

” Oh ya, ada apa  ? Shinta bilang kamu keukeuh ingin ketemu aku ? ” tanyaku ringan. Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku, tatapannya beralih pada pemandangan malam diluar sana.

” Aku gak tahu kenapa aku ingin menyampaikan ini sama kamu Senja, aku harap ini tidak terlalu menyakitkan buatmu. Karena aku yakin , aku akan baik-baik saja… setidaknya aku akan baik-baik saja seperti kamu ”

Mungkinkah sesuatu yang buruk terjadi padanya ? jangan-jangan perasaan inilah yang membuatku mendadak menerima keinginannya untuk bertemu.

” Apa yang terjadi,..? ” ucapku tidak sabar.

” Aku mengetahuinya sejak 9 bulan lalu, baru 3 orang sahabatku yang sudah kuanggap sebagai kakak yang tahu kondisiku , keluargaku bahkan tidak tahu. kanker otak, Senja… pemeriksaan MRI meyakinkan diagnosa dokter. Akhir-akhir ini rasanya agak menyiksa, dan gak tahu kenapa aku ingin kamu tahu ” bisiknya pelan.

Entah apa lagi yang dia katakan, aku tidak lagi fokus menyimak ucapannya. Kanker Otak,… hanya itu yang terngiang ditelingaku. Ya Tuhan.. kanker otak. Benturan di kepala karena kecelakaan dan operasi yang membedah kepalanya dulu dokter bilang  jadi penyebab kanker tumbuh disana. Skenario apalagi yang Kau hadirkan dihadapanku Tuhan. Kenapa dia harus datang hanya untuk menyampaikan berita ini ? aku berharap dia datang untuk menyampaikan surat undangan pernikahannya atau apapun yang membahagiakan. Bukan ini, bukan vonis dokter yang pernah dua kali mematahkan hatiku.

Bukan Carcinoma yang ingin aku dengar EL, bukan… bukan kenyataan bahwa kamu pun harus menjadi survivor seperti ku. Sudah cukup kamu menjadi penyemangat tak kasat mata saat aku berada di ruang RS. Sudah cukup kamu membagi semangat untuk sahabat-sahabatmu yang sakit. Sudah cukup kamu diam-diam menuliskan bait-bait penghiburan untukku.

Kamu gak perlu berada disana, kamu gak perlu menjadi pesakitan juga. Udara malam itu menjadi semakin kelam. kami terdiam, dia menatapku dengan pandangan yang slalu sulit kuartikan bermakna apa. Dalam,..dan menikam.

” Kamu mau berjanji untuk kuat dan bertahankan ? untuk orang-orang yang kamu sayangi EL. Untuk keluargamu, adikmu ? ” bisikku pelan.

Perlahan kedua tangannya memegang kedua pipiku, matanya terus menatapku. ” Wajah inilah yang membuatku kuat, kamu yang membuat aku yakin aku akan kuat. Kamu saja begitu lemah tapi bisa bertahan, apalagi aku. Aku akan kuat…aku janji ”

Tidak banyak yang kami bicarakan, tidak banyak yang dia bagi selain kesendiriannya dan hiruk pikuk teman wanitanya yang meski segudang kenyataannya dia masih saja sendiri.

Aku hanya menatapnya malam itu, tidak banyak bicara,bibirku seolah beku. Hanya merekam semua ucapan dan keyakinannya dan rencana-rencana pengobatannya. Termasuk rencananya beberapa bulan kedepan untuk berangkat ke RS di negara tetangga. Setelah itu dia sibuk mengingatkanku tentang jam yang sudah diangka 8 malam.

Matanya sedikit cekung dan ada lingkaran hitam disana meski dia keukeuh tidak suka begadang, pantaslah tubuhnya juga kurus dan tampak gelisah. Sesakit itukah kamu EL ? tiba-tiba aku ingat sepucuk surat penghiburan lewat sahabatku yang dia tulis untukku. Saat itu aku membacanya di toilet RS dimana aku sedang menjalani perawatan, dan surat itu membuatku menangis tersedu disana.

EL… bertahanlah, aku mohon. Aku tidak akan ada disana saat kamu merasa kesakitan. Aku tidak akan ada disana saat kamu membutuhkan seseorang untuk berbagi dan mensuportmu setiap waktu saat kamu down dan putus asa. Aku tidak akan ada di sana EL. Tapi aku mohon, demi apapun yang kamu cintai… berjuanglah jangan berhenti. Aku berada diluar lingkaran hidupmu, sudah sangat jauh. Tapi ada doaku yang akan terus terbang ke angkasa sama seperti doa-doamu untukku selama ini.

Aku tahu, ini mungkin akan jadi pertemuan terakhir untuk EL dan seorang wanita yang dia sebut Senja. Entah apa yang akan terjadi pada mu kelak El. Tidak ada saling follow atau tukar no hp, bahkan aku hapus semua jejak yang tertinggal.  Ada nyeri yang perlahan merambati hati mengingat vonis dokter yang menghampirinya. Dia juga meneteskan air mata, matanya berkaca saat mengatakan terima kasih karena sudah menemuinya.

Aku marah karena dia mengatakan vonis hidupnya padaku. Untuk apa ?? untuk menyakiti aku atau entahlah… untuk membuatku bersedih tanpa tahu apa yang harus aku lakukan? itu konyol EL. Kamu datang menceritakan vonismu, lalu setelah itu kita akan berjalan di hidup kita masing-masing tanpa terkoneksi seolah tak terjadi apa-apa. Seolah aku tak mendengar apa-apa.

Kami berpisah, aku menatapnya dari balik jendela kaca mobilku yang terbuka. Mobilku melewatinya yang berjalan menuju parkiran dimana mobilnya terparkir.  Mata kami sekilas bertemu…meninggalkan rasa sakit yang entah bermakna apa.

Diary Cinta

Sebelumnya, dipublikasikan di blog :

 

 

======================

Dear Diary,

Aku sangat suka melihatnya. Dia begitu tampan tampak dari kamar. Rapih. Dia begitu mempesona dengan sedikit buliran air diwajahnya. Baju kokonya begitu putih bersih. Sangat matching dengan kain sarungnya yang bercorakkan garis-garis, yang membuat ia nampak lebih tinggi dan gagah.

Dia berjalan begitu tergesa-gesa subuh ini. Nampaknya dia agak telat pergi ke mushallah. Iyah, saat itu iqamah sudah terdengar. Wajar saja dia terburu-buru.

Ketika selesai shalat, ia kembali dari mushallah bersama ayah. Hatiku tergetar. Dia sempat mengobrol lama di depan rumahku. Hatiku pun semakin bergemuruh tak karuan. Baru kali ini aku melihatnya sangat lama. Tidak salah dugaanku, dia sangat dewasa. Terlihat dari caranya bicara dengan ayah. Ya allah, dia sedang bicara dengan ayahku.

Diary,

Aku sangat ingin bertanya kepada ayah. Tapi aku malu. Aku sangat malu. Lain kali mungkin.

Diary,

Siapakah pemuda itu?

 

18 Nopember 2008

Dear Diary,

Subuh ini dia memakai kemeja lengan panjang bermotif garis-garis. Warnanya biru muda. Baru kali ini saya meihatnya berkemeja dan bercelana panjang. Jalannya nampak begitu santun. Ia menuju mushallah ditemani dengan Ust. Rahman. Caranya bicara dengan Ust Rahman, sepertinya mencerminkan bahwa ia adalah seorang yang sangat dewasa, walau saya kira usianya mungkin tidak jauh dari saya, sekitar 23-24 tahun.

Diary,

Lama sekali aku menunggunya. Tidak seperti biasanya. Aku kira aku sudah telat melihat dari jendelaku akan kepulangannya dari mushallah. Aku akan sangat menyesal kiranya demikian. Tapi ternyata tidak. Saat kembali, dia bersama dengan para tetangga lainnya.

“Ya allah, dia masih terlihat sangat tampan.”

Diary,

Entah kenapa hati ini ingin selalu memandangnya setiap subuh datang.

 

20 Nopember 2008

Dear Diary,

Aku menunggunya lama subuh ini. Tapi dia tidak juga muncul. Satu per satu orang menuju mesjid. Tapi dia tidak ada. Kemana dia? Saya tidak tahu. Saat Ust Rahman lewat, saya ingin sekali membuka jendela kamar dan bertanya berteriak padanya tentang keberadaan pemuda itu.

Diary,

Subuh ini aku kecewa. Tapi, saya akan selalu menunggunya di jendela kamar ini tiap adzan subuh berkumandang.

 

21 Nopember 2008

Dear Diary,

Setelah kemarin aku kecewa, subuh ini aku sangat senang sekali. Dia ada subuh ini. Yang membuat aku semakin senang, dia sempat melihat jendela kamarku. Saat itu langsung saja aku tutup tirainya. Aku takut ketawan olehnya. Entah apa yang ada dipikirannya. Apakah dia tahu bahwa ada seorang wanita yang selalu memandangnya lewat jendela? Aku tak tahu pasti apa yang ada dipikirannya. Namun itu telah membuatku merasa tersanjung dan senang luar biasa. Paling tidak dia melihat jendela kamarkku.

Dia begitu gagah dengan setelan koko putih dan sarung hijau dengan corak garis yang mungkin kesukaannya. Kali ini pecinya lain, nampaknya baru. Tapi itu sangat membuatnya tambah manis.

“Ya allah, aku semakin suka melihatnya. Aku sangat ingin berada disampingnya saat itu untuk menemani ia pergi ke mushallah.”

Diary,

Subuh ini aku sangat senang sekali. Aku sangat senang.

 

22 Nopember 2008

Dear Diary,

Aku sangat kecewa hari ini. Aku telat bangun tidur. Aku sedih. Aku sangat menyesal. Andai saja waktu ini bisa kuputar. Tiada tenanga aku menulis ini. Semuanya habis seiring penyesalan. Seiring kekecewaan.

Diary,

Entah perasaaan apa ini??

 

25 Nopember 2008

Dear Diary,

Aku telat bangun. Tapi aku terus menuggunya. Karena aku yakin shalat shubuh belum berakhir di mushalah. Aku akan terus menunggu dia pulang. Dan betul saja. Dia ada. Dia bersama rombongan tetangga. Dan termasuk ayah. Dia tampak sangat dekat dengan ayah. Dia tampak memilih mengobrol dengan ayah dibanding dengan para tetangga lainnya.

“Ya Allah, apa yang mereka bicarakan. Apakah ayah membicarakan saya, putrinya. Ataukah yang lain?”

Diary,

Ia terlihat sangat dewasa.

“Ya Allah, dia membawa mushafMu, Alquran. Begitu dekatnya kah dia terhadap agamaMu dan terhadapMu? Ya Allah sudah cukup bukti itu. Dan sudah cukup kau buat aku sangat tergila-gila ingin selalu melihatnya.”

Diary,

Aku mulai aneh dengan perasaan ini…

 

28 Nopember 2008

Dear Diary,

Dia tak ada subuh ini. Aku sedih.

 

1 Desember 2008

Dear Diary,

Kemana dia??? Aku tak tahu. Haruskah aku bertanya pada ayah? Tapi aku masih malu.

 

3 Desember 2008

Dear Diary,

Aku sangat sedih. Aku sedih sekali. Entah kenapa hati ini ini terus mencarinya. Hatiku telah jatuh padanya. Tapi dimana dia??

 

6 Desember 2008

Dear Diary,

Walau kurasa sakit ini terasa semakin parah. Aku tak pernah berhenti menunggunya.

Wahai pemuda… dimana gerangan dirimu??

 

8 Desember 2008

Dear Diary,

Aku sudah merasa tidak kuat menahan sakit dan rindu ini. Kepalaku sangat sakit. Hatiku pun demikian.

Wahai pemuda pengobat hati. Dimanakah dirimu sekarang…??

Aku sadar, Aku telah jatuh cinta padamu…

———————————–

 

13 Nopember 2008,

Lagi-lagi, subuh ini, aku merasa ada seseorang yang telah melihatku di jendela rumah Pak Sarwo. Siapakah ia? Nanti suatu saat saya tanyakan ke Pak Sarwo.

 

15 Nopember 2008

Subuh ini aku beranikan diri untuk bertanya pada Pak Sarwo. Aku sengaja berlama-lama mengobrol didepan rumahnya. Karena aku sangat penasaran, siap gerangan yang selalu melihatku dibalik tirai jendela itu.

Aku kaget. Ternyata jendela itu adalah kamar putrinya Pak Sarwo yang sedang sakit keras. Aku sangat bersimpati mendengarnya. Dia terkena kanker otak. Sekarang sudah tak berdaya untuk berjalan. Hanya berbaring dan duduk didipan kamarnya. Aku diberitahu puterinya bernama Layla Badriyah. Nama yang indah. Tapi apakah putrinya merasa demikian terhadap nasibnya. Aku harap dia mengerti arti hidup.

Aku dijanjikan akan ditunjukkan foto Layla oleh Pak Sarwo.

 

19 Nopember 2008

Aku masih meliatnya. Tirai jendela kamar layla sedikit terbuka subuh ini. Ingin sekali aku menyapanya. Karena kemarin saat di mushallah Pak Sarwo sempat menunjukkan fotonya. Dan Layla sangat cantik, secantik namanya. Hati ini sangat tertarik ketika melihat foto dirinya. Andai saja saya boleh menyapanya subuh ini dan berbagi simpati padanya. Tapi itu tidak mungkin. Dia wanita bukan muhrimku, apalagi ini subuh buta. Belum pantas bertamu.

 

20 Nopember 2008,

Duh aku tidak shalat shubuh berjamaah hari ini. Aku telat bangun. Kerjaan sangat mengganggu aku. Ya Allah, Apakah aku termasuk orang yang lebih mementingkan kehidupan duniawi?? Astagfirullah…

 

22 Nopember 2008

Aneh. Hari ini Jendela kamar Layla tertutup rapat. Tidak seperti biasanya. Kemanakah ia? Ataukah ia sakitnya mulai keras? Ah semoga saja Allah melindungi putri cantik itu.

Entah kenapa, hari ini sangat terasa aneh ketika tirai jendelanya tak terbuka sedikit. Aku merasa ada yang hilang hari ini. Aneh.

Subuh itu Pak Sarwo juga tak tampak di Mushallah.

 

23 Nopember 2008

Alhamdulillah, perasaanku mengatakan ia baik-baik saja. Subuh ini aku melihat tirainya jendela kamarnya terbuka. Aku sangat yakin ia tak apa-apa. Tapi apakah ia melihatku? Kenapa kemarin lusa, ketika saya coba menegaskan penglihatan saya ke jendela itu, tirainya langsung segera tertutup? Ah, ini perasaanku saja. Aku tarlampau geer kali…

 

25 Nopember 2008

Aku mengobrol banyak dengan ayahnya. Aku sangat penasaran tentang dirinya. Ternyata dia baru berumur 22 Tahun. Kasihan. Padahal usianya masih muda. Namun beban hidupnya sudah luar biasa. Kanker Otak. Dia Lulusan Pondok pesantren di jawa tengah.

Dia sangat pandai, cerita Pak Sarwo. Dia selalu juara kelas di sekolahnya. Sejak Sekolah Dasar hingga Lulus Madrasah Aliyah. Banyak sekali saat dia di Pondok Pesantren, ustad-ustadnya, berusaha melamarnya. Namun karena cita-citanya tinggi, jadi dia tidak ingin menikah muda. Dan akhirnya Pak Sarwo dengan perasaan tidak enak selalu menolak pinangan para ustad.

Sangat luar biasakah Layla Badriyah itu?

Lusa aku harus tugas ke Samarinda kurang lebih selama dua minggu. Aku harus persiapkan diri dan arsip-arsip untuk keperluan kerja di sana.

 

9 Desember 2008

Akhirnya aku sampai di rumah kontrakan yang belum lama aku tempati ini. Walau sangat kecil, tapi aku sangat rindu berada di sini. Lingkungannya sangat bersahabat. Sudah malam, besok harus jamaah subuh. Karena aku sudah rindu juga dengan suasana ketika layla melihatku lewat jendela kamarnya waktu subuh. Ah, lagi-lagi aku geer.

 

10 Desember 2008

Berita sangat besar aku terima pagi ini. Dan entah mengapa aku sangat terpukul. Aku sangat menyesal tidak berada di sini kemarin lusa.

Innalillahi wa inna ilaihi raajiun…..

Layla telah meninggal dunia kemarin lusa. Aku sangat terkejut. Dan entah mengapa ada perasaan kehilangan, padahal aku belum pernah melihat apalagi mengenalnya. Tapi entah mengapa berita itu membuat hatiku bagai terinjak-injak tronton. Aku kehilangan. Yah aku merasa kehilangan.

Apalagi saat ayahnya menyodorkan aku sebuah catatan harian layla. Aku sangat terkejut. Ternyata yang selama ini aku pikirkan benar adanya. Dia selalu melihatku. Dia selalu menunggu aku di jendela kamarnya saat subuh datang. Aku merinding. Aku bingung.

Dan ternyata dalam tulisan terakhirnya dia mengatakan bahwa ia jatuh cinta padaku. Bagaimana ini mungkin?? Dan aku adalah pengobat hatinya yang selalu merindu. Aku gemetar membacanya. Tak kuasa aku menangis. Andai saja aku tidak pergi kemarin. Mungkin ia masih tertawa memandang ke jendela saat subuh.

Ya Allah, aku kah penyebab semua ini…??

Ya Allah, engkau zat maha pencinta, Cintailah ia selalu disisimu… hanya itu pintaku…

Black Coffee and Green tea

Sebuah kedai kopi  ketika langit menanjak tua. Disudutnya tampak dua sosok wanita dewasa muda sedikit menyita perhatianku. Dua wanita ini tampak tak acuh pada beberapa pasang mata yang diam-diam sekilas memandang.

 

Tampak tegas perbedaan keduanya, meski terlihat menjadi harmoni di antara lampu kedai yang temaram. Pemilik rambut hitam sebahu dengan tatapan tajam dan wajah tegas namun ada kecantikan yang begitu kuat terpancar dari caranya bicara dan tersenyum, sesekali bibirnya pelan menghisap rokok putih. Wajahnya cantik dengan riasan pada pipi, mata dan bibir semakin menambah daya tariknya begitu jg pesona kulitnya yang tampak eksotis.

Sedangkan sosok wanita satunya tampak jauh lebih pendiam, dengan rambut panjang kecoklatan dengan mata bulat dan kulitnya yang putih menjadi lebih pucat diremang cahaya kedai kopi malam itu. Tatap matanya dalam, bahasa tubuhnya lebih tenang, sesekali dia mencodongkan tubuhnya menjauh dari asap rokok yang dihembuskan sahabatnya perlahan. Sesekali bibir yang tanpa pewarna itu mengembang menjadi seulas senyuman.
Kontras,…batinku berbisik memandang keduanya.

Secangkir coffee hitam dan green tea blended menemani perbincangan keduanya, diam-diam aku ikut menyimak pembicaraan mereka. Meja tempat ku duduk tepat bersebelahan, bahkan aroma parfum lembut mereka menggelitik penciumanku. Membangkitkan sensasi pada pria dewasa muda sepertiku.

” Aku memang menyukainya tapi ini bukan cinta,  aku yakin ini hanya kesenangan sesaat saja. Aku tidak akan melibatkan hatiku, bahkan dengan tegas sudah kusampaikan padanya…jangan pake hati, cukup dirasakan dan tidak ada komitmen, just for fun lalu Stop ” si rambut sebahu tersenyum tipis, meski dari sorot matanya ada kekhawatiran dan ketidakyakinan pada ucapannya sendiri.

Si rambut panjang menatapnya perlahan lalu berbisik seolah dia menyadari ada orang lain yang turut menyimak perbincangan keduanya.

” Hindari dia, bagaimana mungkin kamu bisa bilang tidak akan melibatkan perasaanmu? kaum wanita seperti kita lebih peka soal ini, aku tidak ingin kamu terluka… krn aku gak yakin hatimu tidak merasakan apapun. Jangan bermain api dan mari kita lihat , apa kamu bisa bilang stop dan hatimu tetap merdeka dan tidak jatuh cinta padanya ”

” tentu aku yakin, aku tahu pasti perasaanku untuknya bukan cinta begitu juga dia dengan kondisi kami seperti ini. Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi seperti mu,  bertahun-tahun patah hati untuk sesuatu yang seharusnya tidak membutuhkan penghayatan sebesar itu. lihat ? pria yang kamu kenang itu mungkin sudah melupakanmu begitu saja… ” si rambut pendek menatap sahabatnya dengan ekspresi kesal dan sebal.

Keduanya terdiam, aku turut berdebar… menunggu jawaban dari si rambut panjang.
” dulu aku jatuh cinta,… itu saja . Konyol memang karena berani jatuh cinta pada seseorang yang jelas-jelas terlahir bukan untukku. Tapi setiap orang pernah melakukan kesalahan dan akhirnya belajar dari kesalahan itu, meski sejujurnya aku tidak pernah menyesal jatuh cinta padanya ” Ucapannya lebih tepat seperti bisikan angin, pelan bahkan nyaris tak terdengar.

Si rambut sebahu menggenggam jemari si rambut panjang, tatap matanya melembut dan senyumnya seolah mengalirkan kekuatan yang ingin dia tularkan pada teman wanitanya ini.  ” kita akan baik-baik saja…. kau akan melupakannya segera, begitu jg aku. Lalu kita akan terus melangkah menjalani kehidupan kita dengan bahagia. Setuju ? ”

Sirambut panjang mengangguk dan tersenyum. Keduanya lalu mengangkat cangkirnya masing-masing, si rambut pendek dengan kopi hitamnya dan si rambut panjang dengan green tea blended-nya. Lalu pembicaraan lebih ringan mengalir, sesekali mereka tampak tertawa riang.

Diam-diam aku menatap keduanya…tampak tidak senada, dengan tampilan yang satu cantik dengan make up meski tidak berlebihan dan rokok putih di bibirnya yang sensual, yang satu  dengan wajah yang nyaris tanpa make up sama sekali bahkan cenderung pucat . Si rambut pendek tampak dinamis dan penuh percaya diri tapi si rambut panjang terlihat tertutup dan lebih pendiam.

Sekilas semua orang bisa menilai, keduanya seperti singa dan kupu-kupu. Tapi ada kehangatan yang kutangkap, perbedaan mereka menjadi pemandangan yang saling melengkapi satu sama lain hingga tercipta harmoni yang sulit kutepiskan malam ini. Dua wanita dalam memaknai cinta yang berbeda, disudut kedai coffee ketika langit menuju gelap mengintip dari balik jendela, dan aku pria dewasa muda yang diam-diam terpesona pada keduanya.

Aku menoleh dan kulihat mereka melangkah keluar kedai dengan senyum mengembang, mata bersinar, dan langkah ringan… sesekali tergelak, bahagia.

Ketukan High heels keduanya menjadi irama yang beradu dengan lantai tertinggal di sudut kedai kopi  dan catatanku ini.

 

Image From Google

Pengkhianatan Kucing di malam minggu

Seperti biasa setiap malam minggu, Kosasih selalu menyambangi rumahku sekedar bercerita berbagai hal mulai dari cerita asmara, karir, main tebak-tebakan, sampai cerita masa kecilnya. Malam minggu kali ini ia kembali bercerita, sementara aku menjadi pendengar yang baik karena tak mempunyai stok cerita yang banyak. Ia langsung teringat kakeknya yang selalu bercerita tentang asal-usul hewan dan tanaman di kampungnya. Sang kakek menjadi teman berceritanya saat masih kecil. Ia pun teringat pada satu cerita kakeknya tentang asal-usul kucing dan anjing yang tak pernah akur. Kosasih bertanya padaku, “sudah mendengar belum ceritanya” tanyanya. Aku mencoba mengingat-ingat memori masa kecil, “rasa-rasasnya sudah, tapi tidak sampai selesai” ucapku.
“begini cerita kakeku” ungkapnya. Alkisah pada dahulu kala saat hewan-hewan menguasai bumi, sebelum manusia ada. Di tanah ada Jawa sebuah kerajaan hewan yang dipimpin Singa. Kucing dan Anjing adalah tentara kerajaan, mereka merupakan sahabat sejati. Saling membantu sesama menghadapi musuh. Namun si kucing tak memiliki senjata lengkap, hanya bermodalkan taring sebaliknya Anjing memiliki kuku sakti, dan jurus seribu bayangan. Karena senjatanya itu Anjing dipercaya Singa sebagai jenderal besar.
Sejak naik Jabatan Anjing tak berpisah dengan sahabatnya itu. Hingga suatu saat datang surat yang ditujukan kepadanya.“sahabat kita sudah lama berjuang, susah senang bersama. Kini kau sudah meraih cita-citamu. aku ingin bertemu denganmu. Aku tunggu di pasar” kata kucing dalam sebuah suratnya. Usai membaca surat itu, si Anjing teringat sahabat lamanya, segera ingin menemuinya.
Sampailah di hari H, Anjing bersiap-siap dengan mengenakan baju kebesarannya menemui sahabat lamanya. “mungkin ia ingin bernostalgia denganku” pikirnya dalam hati. Setelah melewati perjalanan 5 mil, tibalah Anjing di pasar dekat ibu kota kerajaan.
Di kedai kopi, kucing duduk dengan kopi di hadapannya. “sepertinya itu kucing” kata Anjing. Ia mendekat kesana dan ternyata memang benar itu sahabatnya. “hai kawan sudah lama kita tak bertemu. Kau sudah terlihat beda dengan dulu yang masih dekil” sambungnya. “ah bisa saja kau Cing, sama saja” merendah Anjing.
“hebat ya sekarang kau sudah menjadi jenderal besar” puji si kucing sembari menepuk badan Anjing. “aku juga tak menyangka bisa seperti ini, kamu juga tak menutup kemungkinan untuk berprestasi” kata Anjing. Mereka sangat menikmat obrolan sore itu, sehingga tak terasa kopinya sudah tiris. Sesekali diselingi tawa terbahak-bahak dari mulut mereka berdua yang menyita perhatian orang yang kebetulan lewat.
Tiba-tiba di pertengahan obrolan Kucing berkata “sebenarnya aku ingin minta bantuanmu, itu pun jika tak keberatan” pintanya. Anjing merasa terdiam sejenak, “ada apa, kalau bisa aku bantu ya aku bantu” tawarnya. Diam sebentar si kucing melanjutkan pembicarannya, “aku ingin meminjam senjatamu itu”. “untuk apa “ anjing bertanya. “aku ingin menggunakannya untuk menghadapi perang yang akan terjadi di tahun-tahun ini, sebab kamu sudah tak turun ke lapangan lagi, sayang jika tak digunakan” papar kucing.
“benar juga, tapi gimana ya, aku sangat menyayanginya, sebab dengan itu aku menempati posisi seperti saat ini” kata Anjing. “baiklah karena kita sahabat, dan aku ingin melihat sahabatku berprestasi pula” lanjutnya. “jadi aku boleh meminjam senjata itu” kata kucing. Anjing mengangguk petanda boleh. “terima kasih sahabat, aku tak akan melupakan jasamu ini”. “pesanku setelah perang usai, senjata itu kembalikan padaku” kata Ajing. “tenang jangan khawatir” kata kucing seraya tersenyum lebar.
Anjing menyuruh menemuinya besok untuk mengambil senjatanya itu. Percakapan mereka pun berakhir bersamaan dengan gelapnya malam, bergegas kembali ke rumahnya masing-masing. Anjing pulang dengan perasaan sedikit khawatir tentang niatan si kucing. Tapi ia tak mau berburuk sangka dengan sahabat karibnya itu. sementara si kucing terus tersenyum setelah si Anjing membolehkan meminjam senajatanya itu.
Keesokan harinya Kucing tiba di rumah sahabatnya yang luas dan megah itu. Terkagum-kagum matanya berpindah –pindah arah menatap setiap sudut yang ada. Bila dibandingkan dengan rumahnya sendiri sangat berpindah, ia tinggal di pekampungan yang dikelilingi sawah. Kucing masih berdiri di halaman rumah sahabatnya itu. dari dalam rumah si Anjing melihat ke jendela dan mendapati temannya sudah ada di luar. Segera ia menemui temannya.
“kenapa tidak mengetuk-ngetuk pintu” tanya si Anjing. “aku kagum dengan rumahmu yang besar ini berbeda dengan rumahku” kata si kucing. “cepat masuk sini” ajaknya masuk ke dalam rumah. Seperti seorang tamu pada umumnya, si kucing disediakan makanan ringan, dan segelas kopi. Di dalam rumah ia pun menengok-nengok ke berbagai perabotan yang ada. Sementara si Anjing sedang bersiap mengeluarkan senjata yang akan dipinjamkannya.
Anjing keluar dari kamarnya dengan membawa kotak persegi empat, terbuat dari kayu jati dihiasi dengan ukiran-ukiran Jepara, di kotak itulah senjatanya disimpan. Semenjak menjabat jenderal besar senjatanya tak dipakai lagi, lebih banyak bertugas di keraton. “inilah senjataku” ucap Anjing. “kamu sangat hati-hati menyimpannya” tanya kucing. “ya aku sangat menjaganya seperti menjaga diriku” katanya. “sebenarnya aku tak mengijinkan kepada siapapun, namun karena kau sahabat seperjugananganku, aku pinjamkan ini” sergahnya. “aku selalu berpikir positif dan ingin melihat temanku berprestasi” lanjutnya. Kucing hanya terdiam mendengar ucapan temannya itu. “pesanku sekali lagi, setelah kau berhasil memenangi pertempuran itu, tolong kembalikan senjata itu” kata Anjing. “terima kasih kawan, aku akan menjaga senjata ini seperti kau menjaganya, dan aku segera akan mengembalikannya” kata kucing.
Senjata itu pun berpindah tangan, setelah menerimanya Kucing lantas berpamit. Anjing mempersilahkan sahabatnya pergi, sementar hatinya masih tak tenang. ia segera menghapus kekhawatirannya dengan beraktifitas kembali, bersiap-bersiap menuju keraton menghadap sang raja.
——–
Keadaan perbatasan semakin genting, pasukan musuh mulai mendekat. Raja segera memerintahkan Anjing menyiapkan pasukan untuk dikirim kesana. Setelah mendengar berita itu, ia memerintahkan Kerbau menjadi panglima memimpin pasukan tempur kerajaan. Kucing sendiri ada di dalam kesatuan itu.
Berbagai persenjataan dikeluarkan mulai dari pelontar api, sampai meriam besar. Ribuan pasukan sudah berkumpul di alun-alun depan keraton, menunggu komando. Usai mendapat komando pasukan bergerak menuju wilayah konflik yang terletak di perbatasan timur, daerah pegunungan dan hutan lebat Kerbau sendiri cukup berpengalaman, karena berhasil menumpas pemberontakan di wilayah selatan.
Perjalanan sangat jauh, melewati perkampungan, hutan belantara, dan perbukitan. Dengan semangat tinggi pasukan terus merangsek medan yang susah itu. Tak jarang saat melintasi perkampungan, warga memberi bantuan kepada mereka berupa air minum, nasi, dan sekedar tempat mengasoh. Perjalanan menuju kesana memakan tiga haru waktu perjalanan. Di hari keempat mereka sudah dekat dengan wilayah perbatasan, hanya beberapa jam lagi mereka sudah sampai.
Sampai lah di wilayah perbatasan di tandai dengan tiang perbatasan. Mereka beristirahat sembari mendirikan tenda mempersiapkan amunisi meriam, anak panah, dan perisai. Di depan berjarak 5 kilo meter tenda-tenda pasukan musuh sudah berdiri dilengkapi dengan meriam-meriam. Kerbau menulis surat kepada tentara kerajaan Harimau yang dipimpin Badak. Surat itu berisi ajakan menyelesaikan masalah melalui jaur dialog, guna menghindari pertempuran yang menumpahkan banyak darah, dan memboroskan anggaran negara.
Kerbau mengutus Kambing utusan untuk mengantarkan surat itu ke tenda pasukan Badak. Siap tidak siap, kambing menerima perintah atasan dengan berat hati ia melaksanakannya. “ini demi tugas negara, segala sesuatunya demi negara” Kerbau menguatkan hati bawahannya itu. “baik panglima” kata Kambing. Sampailah di tenda tentara lawan, ia segera dihadang. “ada apa” tanya prajurit itu. Kambing menjelaskan kedatangannya, ingin menemui panglima Badak, menyampaikan surat dari panglima Kerbau. Diijinkanlah kambing menemui panglima.
Badak membaca dengan seksama isi surat itu. Tak lama lalu menyobeknya, dan menyuruh ajudan untuk membunuh Kambing. “surat macam apa ini, tidak bisa seperti itu, ini harus diselesaikan dengan perang” kata badak. “bunuh dia” perintahnya. Kambing tak bisa melarikan diri, karena sudah dikelilingi tentara dengan pedang siap menghujamnya, dan akhirnya tusukan pedang membunuhnya. Perang dimulai tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Badak memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Esok hari saat pagi menyingsing pasukan Badak bergerak menuju perbatasan, kearah pasukan Kerbau berada. Saat menunggu utusannya kembali, Kerbau dikejutkan oleh serangan mendadak. Dengan persiapan seadanya ia menyuruh pasukannya bersiap-siap dengan perlatan yang ada.
Perang tak terhindarkan, hujan panah dari kedua pihak saling berganti. Keadaan semakin terjepit, panglima kerbau mengambil inisiatif untuk tidak bertahan melainkan menyerang. Mengerahkan pasukan cadangan menuju kearah pasukan badak. Kerbau memaksakan kehendak dengan bermodalkan pasukan yang sedikit, hasilnya dapat dipatahkan pasukan badak, dan terbunuh lah kerbau.
Pasca serangan itu, Badak segera menarik pasukannya mundur, mengambil waktu istirahat di malam hari. Ia merasa yakin memengangkan pertempuran ini, karena sudah terbunuhya Kerbau. Mengetahui panglimanya terbunuh, para tentara yang tersisa membawa kembali mayatnya ke kamp. Kini mereka tak memiliki panglima yang mempiminnya, wajah-wajah mereka masam khawatir akan mengalami kekaalahan. Sapi, Banteng, dan Owa Jawa berdiskusi menentukan siapa pengganti panglima kerbau. Mereka adalah hewan kepercayaan panglima kerbau.
Usai panjang lebar berdiskusi akhirnya mereka sepakat menunjuk Kucing menggantikan posisi Kerbau. Kucing yang sedang ngobrol bersama teman-temannya dipanggil oleh Owa Jawa. “sini ikut, ada hal penting yang ingin dibicarakan” kata Owa. Kucing terheran dengan ajakan owa itu, ia pun segera mengikuti perintahnya. “setelah berdiskusi kami sepakat menunjuk kamu sebagai pengganti panglima” kata Banteng, diikuti dengan anggukan kepala Sapi, dan owa Jawa.
“Aku tak siap dengan perintah ini” kata kucing. Mereka melihat Kucing adalah teman seperjuangan Jenderal Anjing, memiliki lumayan banyak pengalaman mengikuti perang bersamanya. “kami melihat kamu sebagai teman seperjuangan Jenderal Besar” papar Banteng. Kucing berpikir lama, lantaran bingung perihal putusan ini dan merasa dirinya belum siap. Ia teringat senjata yang dibawanya saat ini. Senjata yang dipinjamkan temannya waktu itu. Hatinya pun kini menjadi yakin, segera ia mengiyakan tawarannya itu. “baiklah aku terima tawaran ini”.
Tibalah di hari berikutnya, melanjutkan pertempuran. Kali ini kucing yang memimpin pasukan mengahadapi gempuran bala tentara kerajaan Harimau. Pertempuran berlangsung alot, kedua pihak mulai kehabisan suplai baik persenjataan maupun tentara. Kucing membiarkan pasukan badak terus menyerang, ia sendiri memilih bertahan sekuat tenaga menunggu kekuatan lawannya habis. Prediksinya terbukti, pasukan Badak mulai kehabisan tenaga, dan kucing segera menyerang balik. Menggunakan senjata andalannya berupa Kuku Sakti, dan Jurus Seribu Bayangan. Tak dinyana pasukan badak dapat dikalahkan, sekaligus membayar nyawa Kerbau dengan kemenangan. Badak pun terbunuh dalam pertempuran itu dengan sayatan kuku saktinya Kucing, menjadikan tawanan pasukan yang tersisa.
Berita kemenangan tersiar di seluruh kota, Raja beserta rakyat menyambut rombongan tentara. Kucing mendapatkan penghargaan dari raja berupa medali, serta menaikan posisi jabatannya menjadi panglima tertinggi. Para pejabat keraton memberikan selamat, pesta pun digelar guna merayakan kemenangan ini. Anjing turut bergembira dengan prestasi temannya itu dan memberikan ucapan selamat. Sekaligus gembira karena senjatanya akan kembali ke tangannya selepas kucing mengikuti pertempuran itu.
———–///
Anjing gundah sebab sudah lima bulan Kucing tak memenuhi janjinya mengembalikan senjatanya. Sudah berkali-kali ia menyurati namun tak dibalas, hingga akhirnya kesabarannya sirna. Anjing segera memerintahkan pasukannya untuk membawa Kucing ke hadapannya. Pasukannya pun menemui Kucing di kediamannya, dan mereka dihadang oleh pasukan kucing sehingga tak bisa masuk.
Pasukan anjing memaksa masuk namun tak diperbolehkan, maka mereka terus menerobos. Kucing memberikan komando ke anak buahnya untuk menghabisi utusan Anjing, sehingga terjadilah bentrokan. Pasukan Anjing kalah jumlah dengan pasukan kucing yang berjumlah lebih banyak, dalam bentrokan itu pasukan anjing terbunuh semua.
Setelah insiden itu, kucing segera melapor kepada Raja, bahwa pasukan Anjing telah menyerang kediamannya, dengan membeberkan serta merekayasa bukti-bukti yanga ada seperti senjata tajam. Menerima laporan itu Singa berang dan segera mengutus bawahannya untuk segera membuat keputusan pemberhentian Anjing sebagai seorang menteri.
Sudah sehari semalam Anjing menuggu tak ada kabar dari utusannya. Dari kejauhan terlihat ada yang datang, mereka adalah utusan raja membawa surat keputusan pemberhentiannya. “ada apa kalian datang” tanyanya. “kami datang atas perintah raja untuk memberikan surat ini kepada mu”. Anjing membaca suratnya itu, tak lama kemudian wajahnya memerah dan giginya mengancing. “maksudnya apa ini, saya tidak berbuat seperti ini”. “saya tidak tahu hanya diperintah oleh raja”.
Anjing kesal dengan pemberhentiannya secara sepihak oleh raja, ia menuduh kucing ada di balik ini semua. Ia merasa Kucing telah menghasut raja untuk segera menggulingkannya. perkara ini ia tak ingin menghadap ke Raja sebab pikirnya semuanya sia-sia, lebih memilih menerimanya. Segara bersumpah tak akan melupakan pengalaman ini, dan mewariskan dendam ini kepada cucunya. “aku akan menuntut dendam sampai anak cucuku”.
“Begitulah ceritanya, kenapa Kucing dan Anjing selalu ribut” kosasih mengkahiri cerita malam itu. Setelah mendengar itu kami tertawa. Obrolan kami pun malam itu berakhir, karena sudah tak ada bahan cerita lagi dari kosasih. “nanti cerita lagi ya” kataku.

Aspirasi

“Baiklah, saya tampung semua aspirasi saudara-saudara. Nanti akan kami bahas dalam rapat komisi dewan mendatang”, begitu disampaikan Badrun kepada ketua dan anggota kelompok tani harapan sejahtera yang menemui di kantornya sore ini.

Pintu ruangan kerjanya segera ditutup begitu anggota rombongan terakhir meninggalkan ruang kerjanya di lantai 4. Rombongan tersebut adalah rombongan ketiga hari ini yang diterima di ruang kerjanya. Pagi hari ia menerima rombongan kelompok pemuda sadar narkoba dan siangnya menerima roombongan pengerajin batik tulis. Meski berbeda bendera, masing-masing rombongan tersebut memiliki tujuan yang sama, “menyampaikan aspirasi atas nama kelompoknya”.

Segera Badrun menyelonjorkan kedua kakinya di atas meja tamu, menarik nafas panjang, dan berharap tidak ada lagi tamu yang akan menemuinya sore ini. Bukannya ia tidak lagi mau menerima mereka, tapi ia mulai merasa lelah menerima tamu yang datang dengan alasan menyampaikan aspirasi. Yang membuatnya semakin lelah, tepatnya menjengkelkan, adalah setiap usai menerima rombongan tersebut. Ia mesti memberikan sangu ke tamunya.

Sekali dua kali ia dapat memberikan sangu kepada tamu-tamunya, tapi jika dalam seminggu ada sekitar 10 rombongan tamu atau berarti 40 rombongan tamu dalam sebulan, maka sudah dapat diperkirakan berapa dana yang yang mesti dikeluarkannya. Dapat dipastikan gaji dan segala honor bulanan yang diterimanya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat akan habis untuk menyangui tamu-tamunya.

Padahal sebagai anggota Dewan, banyak pengeluaran rutin yang mesti dilakukan, baik untuk kepentingan keluarga ataupun dinas. Kemana ia mesti mendapatkan uang untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut. Masyarakat yang memilihnya tidak tahu dari mana ia mesti mendapatkan penghasilan besar agar bisa memberikan sangu bagi setiap rombongan tamu yang datang menemuinya. Masyarakat hanya tahu bahwa sebagai anggota Dewan pendapatannya pasti sangat besar.

“Ach inilah resikonya menjadi wakil rakyat, Saya mestinya tidak boleh mengeluh karena semua ini resiko dari pilihan yang diambilnya. Maju ke pemilihan anggota Dewan dan mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk kampanye. Dan sebagai anggota dewan ia mesti siap menerima segara aspirasi dari masyarakat”.  desahnya perlahan.

Ia pun kemudian  teringat kata aspirasi yang sering diucapkan temannya beberapa tahun lalu saat memutuskan untuk terjun ke dunia politik dan maju sebagai anggota Dewan. Seorang temannya yang biasa dipanggil dengan sebutan Om Haji menasihatinya begini, “Drun, kalau elo nanti jadi anggota Dewan, elo mesti siap menerima semua aspirasi masyarakat. Jangan diabaikan, karena merekalah yang memilih elo”

Temannya yang dipanggil Om Haji tersebut usia sebenarnya masih lebih muda dibanding dirinya, tapi karena tampangnya yang jauh lebih tua dan selalu memakai kopiah haji sebagai ciri khasnya, maka orang-orang memanggilnya dengan sebutan Om Haji. Dan karena penampilannya tersebut, maka sang teman tersebut selalu didaulat sebagai penasihat dalam organisasi ataupun kegiatan apapun, meski kata-kata yang disampaikan tidak sedikit yang asal cuap.

Lamunannya pun kemudian melayang ke pengalaman pertamanya saat menjadi Ketua Kelompok Pemuda Sadar Menulis  Kecamatan (Pokdarlismat). Sebagai Ketua Pokdarlismat dia mesti sering-sering mendengar aspirasi, tepatnya keluhan, anggotanya yang memiliki beragam latar belakang. Ada anggota yang orang tuanya seorang petani singkong sehingga teman-temannya sering menyebut dirinya sebagai anak singkong. Ada anggota yang orang tuanya seorang pemilik bengkel sukses di kampungnya. Ada juga anggota yang memiliki profesi sebagai pedagang sayur, bidan, ataupun guru ngaji seperti om Haji. O ya … ada juga yang anggotanya masih pengangguran atau masih cari-cari identitas diri. Pokoknya beragam.

Pada awal pendirian Pokdarlismat, ia masih dapat dengan mudah mendengarkan aspirasi anggotanya karena masih relatif sejalan dengan tujuan awal pendirian Pokdarlismat yaitu membiasakan masyarakat di kampungnya untuk menulis dan berbagi lewat media koran dinding yang dipasang di setiap balai desa di kecamatan tempat tinggalnya.

Ia pun masih bisa mendengarkan semua aspirasi yang disampaikan karena masih tinggal di kecamatan yang sama, bahkan ketika ia diterima bekerja sebagai pegawai di kota ia masih bisa mendengarkan karena kebetulan kotanya masih nempel dengan wilayah kecamatannya. Persoalan menjadi agak sedikit berbeda ketika akhirnya Badrun terpilih sebagai anggota Dewan dan mesti jauh-jauh meninggalkan kecamatan dan kelompok Pokdarlismat yang didirikan bersama teman-temannya tersebut.

Sejalan dengan kepergiannya ke ibu kota negara sebagai anggota Dewan, ternyata teman-temannya di Pokdarlismat pun banyak yang meninggalkan kecamatan dengan beragam alasan.

Demi merubah nasib, si anak singkong misalnya, lebih memilih fokus pada bisnis orangtuanya dan sering bepergian ke luar kota untuk menjajakan singkongnya dan meninggalkan tugasnya sebagai pengatur tulisan di majalah dinding. Beruntung ada anggota lain yang bisa mengambil alih tugas tersebut.

Sementara anggotanya yang menjadi bidan, karena kesibukannya sebagai tenaga pengajar dan sukarelawan di sekolah perawat, jarang lagi nongol di pertemuan Pokdarlismat. Adapun on Haji sendiri, walau masih sering kirim tulisan ke majalah dinding, jarang bisa hadir ke pertemuan karena sudah semakin sibuk mengajar ngaji hingga ke berbagai kota. Jadi, sama seperti latar belakang anggotanya, alasan meninggalkan Pokdarlismat pun ternyata beragam.

Sebetulnya ketika pertama kali mendirikan Pokdarlismat, kondisi seperti seperti di atas sudah diperkirakan. Makanya sejak awal pula diupayakan untuk mengajak anak-anak muda lainnya di kecamatan untuk aktif di Pokdarlismat agar proses regenerasi berjalan mulus. Sayangnya ketika proses tersebut belum berjalan mulus, ia mesti cepat-cepat ke ibu kota begitu terpilih sebagai anggota Dewan. Sementara anak-anak muda tersebut belum siap baik mental ataupun ekonomi.

Tok tok tok … tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya.  Sekejap lamunannya pun buyar. Buru-buru ia menurunkan kedua kakinya dari atas meja dan segera membuka pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat Mirna, sekretarisnya yang seksi sudah berdiri di depan pintu.

Belum lagi ditanya, Mirna sudah berkata “pak ada dua rombongan lagi ingin menemui bapak, apakah diterima?’

“Dari mana mereka?”

“yang satu katanya dari kelompok penulis dan yang satunya dari kelompok pengajar kecamatan. Dan kedua kelompok tersebut katanya kenal dengan bapak sejak dari kecamatan dulu. Terlebih bapak-bapak yang pakai topi katanya dulu pernah jadi penasihat bapak waktu di kecamatan”

“Ada maksud apa sore-sore begini menemui saya? Ini kan sudah lewat Magrib”

“katanya mau (menyampaikan) aspirasi pak …”

“aspirasi?”

“iya pak, katanya aspirasi …, mau diterima pak”

Sebetulnya Badrun sudah enggan menerima tamu lagi sore ini. Selain sudah cukup lelah seharian menerima tamu, ia sudah berjanji untuk mengajak makan malam anaknya yang hari itu berulang tahun ke-14. Tapi demi teringat pesan temannya yang bernama Om Haji agar jangan mengabaikan aspirasi pemilihnya, maka dengan berat hati ia pun menerimanya. 

“Ok lah, tapi saya mau Magriban dulu … saya juga mau menyampaikan aspirasi”

 

Kopi Cinte

Cerita ini pernah posting di Note Facebook saya, dengan tulisan dialek Bekasi (Betawi), saya coba share juga di BeBlog (maaf kalau ceritanya kurang bagus :-D ).

Sebelum ngantor, nemenin si aa yg lagi bantu2 bebenah rumah ngobrol2, sambil ngudut & nyuruput, dan akhirnye ngomongin kopi. Ini cuman ngarang, maaf klo ada nama tokoh & peristiwa yg sama, begini ceritenya:

Ceritenye Midin dan Leha udah 4 taun jalan berumah tangge. Pagi itu cerah, daun masih berembun, ditambah titik2 air di rerumputan akibat ujan ringan semalam, membuat pagi terlalu sejuk untuk dilewati. Seperti biasa, sebelum ngantor, midin menggenggam tablet sambil ngebaca berita online. Karena pagi yg sejuk, tidak seperti biasenye Midin duduk di teras rumah. Dia tidak ingin ngelewatin udara pagi yg sejuk.

Leha menghampiri lakinye sambil membawa secangkir kopi, “Bang, ennih kupi pesenan abang dah aye siapin,” sambil naro kopi di atas meja. Tak seperti biasanya, Leha pun duduk di bangku yang satu lagi. Biasanye sehabis nyuguhin kopi buat lakinye, Leha ngelonin anak mereka.

Midin yg lagi anteng sama tabletnya pun begeming karena aroma kopi, “hhmmm, roman2nye mantep nih kopi”

“Iye dong, pan aye bikinnye pake cinte, bang!” bales Leha menggoda.

“Emang deh, lo bini abang yg paling mantep dah,” kata Midin sambil memegang gagang cangkir lalu meminumnya.

“Burrrr,” Midin nyemburin kopinya. Wajah Midin berubah 180 derajat.

“Abang kenape, koq pake acara nyembur segale?” Tanya Leha.

“Kopi macem paan ni, pait gini!” Nada Midin agak tinggi.

“Pan dulu waktu blon nikeh abang pernah bilang aye entuh manis, minum kopinye sambil liat aye aje bang, biar manis.” Bales Leha dengan nada tidak membalas nada tinggi Midin.

“Lu bener2 deh, Leha! Buat laki diri bikin kopi kaga lu gulain,” masih dengan nada tinggi.

“Mending bang, klo aye kasih garem buat gantiin gule”

“Apa lo kate? kaga ada gula maksudnye?”

“Hooh bang”

“Beli lah”

“Beli pake paan bang? Pake daon?” Leha masih tidak sedikitpun nimpalin nada tinggi Midin.

“Duit blanje abis maksud lu? Lah pan baru maren neng, abang kasih uang blanje!” Midin makin jadi tempramennye.

“Jangan kenceng2 bang, bocah masih merem noh.”

“Maren apenye? Terakhir ngasih duit ke aye tiga ari nyang lalu, bang! Itu ge ude aye irit2in buat ngebulin dapur, dari pade buat gule abang doang, mending buat ngisi perut kite, bang!” Lanjut Leha.

“Neng kaga ngomong,” Midin sedikit mereda.

“Abang kebanyakan ngelus2 bande abang nyang entuh, klo diminta bilangnye entar dulu, entar dulu,” sambil cemberut.

Midin geleng2 kepala, meletakkan tabletnya sambil ngerogoh dompet. Daripada terjadi “Perang Bharatayuda”, Midin menghentikan pertikaian dan memberikan uang blanje ama Leha.

“Ya ude nih, uang blanjenye sekalian buat minggu depan, kebetulan abang baru dapet bonus dari si bos,” sambil ngasih duit ke Leha.

“Iye, bang! Aye langsung beliin gule, nanti aye langsung ganti kopi abang,” Leha berdiri sambil tersenyum.

“Kaga manyun kaga senyum, sama bae,” Midin nggrutu pelan.

“Sama2 manis kan, bang!” Leha mendengar grutuan Midin, ngebales sambil ngeledek.

“Ude sono, beli gula, sebelum selera ngopi aye ilang, neng!”

“Iye abang! Jagain bocah dulu bentar ye!” Bales Leha lembut.

Rekonsiliasi dengan Nyamuk

Rasanya lelah sekali setelah beraktifitas seharian mulai dari kuliah, nongkrong, ngopi, dan lain-lain. Sore hari aku pulang ke kos, waktunya untuk beristirahat, makan, mandi, shalat, mandi, kemudian tidur. Sesampainya di kos aku tak membuang waktu, segera melaksanakan aktifitas tadi. Selesailah semunya,  tiba saat bersantai istirahat. Nonton tivi sambil berbaring di atas matras, ditemani segelas kopi panas, sory gak punya kasur.

Dalam hati berkata “waktu santaiku,  jangan ada yang mengganggu”. Remote di tangan tombol program terus kutekan, mencari acara tivi yang seru. Acara di tivi malam ini gak ada yang seru, sinetron di RCTI ceritanya paling-paling tentang percintaan atau rumah tangga berantakan, sudah kebaca. Didukung gambarnya renyek*. Berhenti di Indosiar lebih gak jelas lagi acaranya, jangan tanyak gak jelas apanya. Dari pada sepi lumayan nonton OVJ bikin tawa sedikit, sebenarnya kurang senang dengan acara itu, membosankan. Mungkin yang lain tidak.

Ketemu lah acara yang sesuai. Berita olah raga. Seru menyaksikan cuplikan pertandingan sepak bola, dan berita transfer pemain. “mending berita olahraga ada cuplikan pertandingan piala eropa” ucap dalam hati.

Waktu menunjukan tengah malam, saat asik menyaksikan berita olahraga. Aku mulai terganggu dengan kawanan serangga terbang penghisap darah dengan nama Nyamuk. Dalam wikipedia dijelaskan, nyamuk adalah serangga tergolong dalam order Diptera; genera termasuk Anopheles, Culex, Psorophora, Ochlerotatus, Aedes, Sabethes, Wyeomyia, Culiseta, dan Haemagoggus untuk jumlah keseluruhan sekitar 35 genera yang merangkum 2700 spesies. Nyamuk mempunyai dua sayap bersisik, tubuh yang langsing, dan enam kaki panjang; antarspesies berbeda-beda tetapi jarang sekali melebihi 15 mm.

Awalnya aku biarkan mereka berterbangan sebab jumlah tak terlalu banyak cuma satu sampai tiga ekor saja. Tapi semakin malam jumlah mereka kian bertambah, dan menyerang secara membabi buta. “sialan tidak lihat orang lagi aktivitas main gigit aja” menggerutu sendiri.

Persetan, aku terus bertahan sembari memberikan perlawanan dengan menepoknya. Yang menjadi sasaran adalah Nyamuk-nyamuk yang berterbangan lambat setelah perutnya gendut penuh dengan darah, dan mereka yang sedang ribut sesamanya. Tapi sebagian lagi sangat gesit, berterbangan sebelum tangan menghampirinya.

Terlihat seekor nyamuk tengah asik menghisap darah di pipi, sepertinya memanfaatkan kelengahanku. Tanganku bersiap-siap dari atas menepoknya, “satu, dua, tiga, alah sialan kabur duluan, Sama saja menampar diri sendiri, bodoh duh panas pipi” ucap dalam hati.

Ini sudah tak bisa ditolerir kesabaranku sudah habis. Di lain pihak Nyamuk semakin banyak membawa personelnya mengepung tubuhku. Seperti sedang menyerang raksasa. Waktu pun semakin malam, konsentrasi nonton tv akhirnya teralihkan menangkis agresi nyamuk yang kian parah.

Sementara kelopak mata mulai terasa berat, tanda ngantuk mulai mendera.  Aku terus berjuang melawan kantuk, sambil terus menyerang nyamu dengan menepok-nepoknya. Beberapa nyamuk mati tergeletak mayatnya berserakan di lantai. Ternyata, itu semakin membuat mereka bersemangat melakukan agresi. Kucari sisa-sisa lotion anti nyamuk, barangkali masih ada. Ah, sudah habis semua yang tersisa hanya bungkusnya.

Ngueng-ngueng-ngueng, terdengar suara nyamuk yang berterbangan di sekitar telingaku. “brisik coy” teriaku. Mereka tak mempedulikan himbauanku terus bersuara. Rasanya aku tak bisa melawan lagi mengingat keterbatasan alutista, dan kelelahan. Harus cari jalan lain untuk mengakhiri gejolak ini.  Berpikir sejenak, ‘ting’ akhirnya muncul ide mengadakan “Kesepakatan damai”. Ya, harus diakhiri dengan dialog antara aku dan Nyamuk. Dengan cara ini aku bisa menyuruh nyamuk untuk pergi dari kosku tanpa korban berjatuhan dari pihaknya.

Waktu menujukan pukul 02:00 dini hari. Saat yang tepat untuk mengadakan pertemuan dengan nyamuk. Dialog pun di mulai

“wahai nyamuk, aku ingin berbicara dengan pemimpin kalian terkait permasalahan antara kita” seruku.
“baik kalau mau mu begitu” sahut salah satu di antara mereka yang berterbangan kemudian turun ke lantai, dengan perut yang penuh dengan darah.
“oh rupanya kau pemimpinnya” tanyaku
“iya, aku pemimpin Nyamuk di wilayah ini mulai dari kosan ujung sana sampai sini” seru si pemimpin Nyamuk.
“begini pintaku muk, tolong kau jangan mengusik malamku ini untuk berisitirahat, sebab waktunya istirahat cuma malam ini saja” paparku.
“ya hampir semua orang yang pernah kuserang berkata begitu, tapi kau juga harus tau kami butuh hidup seperti kalian manusia, butuh makan” pekiknya.

Percakapan hening sebentar. Aku lanjutkan percakapan “gak gitu juga muk, secara gak langsung usaha kalian merugikan yang lain, kan masih banyak binatang lain kayak sapi, kerbau, kambing, dan lain-lain darahnya bisa dihisap, cobalah” tawarku

“sekarepnya kalau bicara, hei kamu pikir segampang itu, ini kota bung. Gak ada hewan ternak seperti itu. Satu-satunya yang bisa dimanfaatkan hanyalah manusia. Sekalipun ada hewan ternak itu kurus-kurus badannya akibat kurang makan, karena lahan mencari rumput sedikit. Darahnya pun pasti sedikit dan  tak layak untuk dikonsumsi. Kami sendiri tak tega menyakiti mahluk yang sudah sakit. Pikir itu” kata Nyamuk, satu persatu kawanan mereka turun ke lantai mendengarakan mediasi kami berdua.

Nyamuk melanjutkan pembicaraan, “kami tak mau senang di atas penderitaan mahluk lain. Kalian manusia harus berterima kasih pada kami nyamuk. Meski dianggap musuh namun kami memberikan kalian keuntungan dengan munculnya beberapa obat antinyamuk. Dari situ banyak manusia yang hidup dari berjualan obat nyamuk. Kami tercipta memang sebagai penghisap darah, seringkali dicap pembawa penyakit berbahaya. Tapi dibalik itu semua kami memberikan penghidupan bagi kalian manusia” papar pemimpin nyamuk “iya betul-betul”teriak kawanan yang lain.

“ooh pendapat kalian seperti itu, oke aku terima. Sekali lagi mohon aku ingin beristirahat, pergilah dari tempatku, jika tidak aku akan membongkar sarang kalian dan membasmi keturuanan kalian”  semoga mereka takut dengan ancamanku.

“tidak bisa seenaknya saja, kita juga butuh hidup” kata pemimpin nyamuk.
“oh begitu baiklah” lantas aku segera mengambil kain sarung, dan mengibaskannya ke kawanan nyamuk di lantai. Berhamburanlah mereka terbang, beberapa ada yang tewas terkena kibasan.

“dasar manusia, ingin menang sendiri. Kalian pikir kalian mahluk mulia di hadapan tuhan” teriak pemimpin nyamuk sembari terbang ke atas.

Sementara aku sudah tak bisa menahan emosi, “sudah diaaaam kalian mahluk penghisap darah” teriakku. kukibaskan kain sampai nyamuk-nyamuk itu keluar melalui sela-sela pentilasi udara. Mereka berjanji tak akan menyerah untuk terus melawan. “kami akan kembali besok malam, walau beribu nyawa mati kami butuh hidup” ngueg-ngueng-ngueng.

Jam sudah menunjukan pukul empat pagi, barulah aku bisa tidur setelah mengusir mereka. “besok aku akan membeli pembasmi nyamuk, dan lapor pak RT untuk segera difogging”.

Cinta Itu Memang Buta

Pernahkah kamu Jatuh Cinta? Pasti pernah. Boong kalau kamu gak pernah jatuh cinta. Bisa jadi ada kelainan dari dalam dirimu. Bisa jadi kamu perlu pergi ke psikolog karena belum mengalami jatuh cinta.

Setiap manusia pasti mengalami apa yang disebut jatuh cinta. Itulah yang kurasakan ketika masih sekolah di SMA. Sekolah anak baru gede yang biasa orang sebut ABEGE. Anak remaja yang menjenag dewasa.

Kata orang cinta itu buta. Seringkali mereka yang jatuh cinta tak peduli dengan omongan orang lain. Pokoknya, sang pujaan hati harus ikutan jatuh cinta pula. Padahal belum tentu. Bisa jati eh jadi cinta itu bertepuk sebelah tangan. Kitanya seneng, dianya kagak, hahaha. Kalau sudah begitu sedih banget ya?

Kamu pasti akan mengalami kegagalan cinta. Untaian lagu dangdut di bawah ini akan mendayu-dayu lucu menghiburmu.

Cukup sekali aku merasaaaaaaa…. kegagalan cinta……..

Tak ‘kan terulang kedua kaliiii…..di dalam hidupku…..

Orang sedih kok joget? Itulah lagu dangdut. Sedih, gembira tetap ceria sambil berjoget menghapus duka lara. Tapi tidak demikian dengan temanku. Sebut saja namanya Amir. Dia baru saja ditolak cintanya. Cewek yang dia taksir ternyata menolak cintanya. Amir pun sedih, dan akhirnya berkonsultasi denganku.

“Lay, gue sedih banget nih! Cinta gue ditolak sama si Wati. Padahal gue demen banget sama die. Lo bisa kasih solusi gak? Gue kayak patah hati nih!” begitulah Amir memulai curhatannya kepadaku yang dia biasa memanggilku “Lay”. Singkatan dari Alay, hehehe.

“Gimana ya Mir, cewek itu khan gak hanya Wati. Loh bisa cari wanita lain. Jangan cengeng kenapa kalau jadi lelaki. Loh harus terima penolakannya. Soalnya kalau die kagak cinta sama elo masak elo mau paksa?” Aku mencoba ngomong apa adanya dengan Amir sambil kebut-kebut baju batikku yang sudah mulai memudar warnanya. Maklumlah anak kost. Belum punya duit buat beli batik baru. Kiriman dari babe terkadang juga datangnya telat.

“Iye lay, tapi gue cinta mati sama wati. gue gak akan kawin kalau bukan sama wati. Titik. Pokoknya gue harus cari akal. Cinta ditolak, dukun bertindak! Lo setuju kan kalau gue pergi ke orang pinter?” Amir bicara dengan amarah yang begitu tinggi, Sambil menikmati nasi uduk mpok Minah yang dijual deket rumah kost kami. Buat kami yang masih sekolah, nasi uduk adalah pilihan terbaik buat mengisi perut kami di pagi hari.

“Lo kayak bukan orang beragama aja Mir. Tuhan itu sudah kasih jodoh pada saat kita lahir. Kalau sekarang lo ditolak sama si Wati, itu artinya Tuhan sayang sama elo. Tuhan mau kasih cewek yang lebih baik dari Wati. Jangan putus asa gitu Mir! Cewek bejibun sekarang. Lo bisa cari lagi yang lain. Kagak bakal kebagian stok. Lo kagak lihat Rina udah cinta mati sama elo? Kenapa lo gak tempel die aja?” Aku mencoba membuka pikirannya yang sempit, dan mencoba mencari solusi. Sebab ada cewek lain yang suka sama Amir.

“Gue bukan kagak seneng sama Rina. Cuma entah kenapa gue kagak punya perasaan apa-apa. Rina udah gue anggap adek gue sendiri. Beda banget sama Wati. Setiap kali ketemu sama die, jantung gue berdetak lebih kenceng. Loh tahu kan lagu Ahmad Dani?” Lalu Amir pun bernyanyi…., sementara bungkus nasi uduknya dijadikan mic.

Setiap ada kamu

jantung hatiku berdetak

berdetak lebih keras……..

” Hahaha” , aku tertawa lepas menyaksikannya. Baru kutahu kalau cinta itu buta. Sudah jelas ada cewek yang suka sama Amir. Tapi Amir lebih memilih wanita yang disukainya. Padahal sudah jelas bertepuk sebelah tangan. Akupun hanya bisa berjoget mengikuti gaya Ahmad Dani yang plontos. Botol aqua pun kuambil dan kujadikan microphone.

Setiap ada kamu

jantung hatiku berdetak

berdetak lebih keras………

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

(Lagi belajar bikin cerita fiksi, jangan diketawain ya, hehehe, dan mohon masukannya)

Ibuku bermata satu

Ibuku mempunyai satu mata. Dari semua hal yang dia punya ditubuhnya, hanya kurang itu. Pada awalnya di setiap pagi aku berangkat sekolah diantar olehnya, semua baik-baik saja. Hingga tiba-tiba salah satu orang di kelasku berteriak, “Ibumu punya satu Mata, hai anak dari bermata satu”.

Aku malu, dan semenjak itu, aku tidak (mau) menerima kehadirannya. Kemanapun dan dimanapun dia berada selalu aku tolak. Aku sangat malu. Bahkan sering aku merasa ingin agar Ibuku menghilang dari sekelilingku. Menghilang begitu saja dan hilang.

Beranjak dewasa, aku merantau. Hingga kemudian aku menikah, tak ada satupun keluarga yang aku kabari, karena aku takut ibuku akan datang menemuiku. Hingga dua anakku besar dan lucu-lucu. Tiba-tiba dia datang mengetuk pintu dan membuat kedua anakku kaget. Yang satu ketakutan dan yang satu mentertawakannya.

Aku berteriak kencang kepadanya, “kenapa kamu datang tanpa di undang??”. “Kamu telah membuat anakku ketakutan, pergi sana”. Teriakku. Dan dia pun segera menghilang dari pandanganku.

Sekian lama waktu berselang, aku mendapatkan undangan reuni dari Sekolah SMA. Entah kenapa, aku sangat ingin menghadirinya. Dan dengan membohongi istriku, aku berangkat mengikuti reuni. Bersenang-senanglah aku disana.

Dari tetanggaku aku mendengar bahwa ibuku sudah meninggal. Tiada airmata yang menetes dari mataku. Kemudian tetanggaku memberikan sebuah surat dari ibuku. Segera aku baca.

“Yang tercinta anak lelakiku,

Aku bangga dengan semua yang sekarang ini kamu peroleh. Aku senang menyaksikan perkembanganmu. Aku juga senang mendengar bahwa kamu menjadi orang yang sangat disegani.

Mengingat waktu kecil dulu. Kamu mengalami kecelakaan yang membuatmu harus kehilangan satu matamu. Sebagai ibu, aku tidak kuasa untuk menangisi kejadian itu. Membayangkan apa yang akan kamu terima dari ucapan, hinaan dan teriakan orang lain atau temanmu.

Oleh karenanya, aku berikan satu mataku kepadamu. Agar kamu tetap bisa seperti layaknya anak-anak normal lainnya. Dan sekarang, aku begitu bangga bisa melihat dunia yang begitu indah dengan mata yang ada padamu.

Selalu sayang.
Ibumu.

Cross posting di www.kika.web.id