Nulis Puisi dan Cetak Puisimu di Tshirt Keren

Suka menulis puisi? Sajak atau Pantun atau Cerpen?

Nah, sekarang situs portal menulis puisi – sajak – pantun dan cerpen sudah ada. Disitu kita bisa menuliskan puisi sebanyak-banyaknya, sajak sebanyak-banyaknya, pantun sebanyak-banyaknya dan cerpen sebanyak mungkin. Dan yang menarik, ada free gift buat para penulis yang aktif. Dengan syarat mencapai 5000 poin, maka kita berhak 1 buah Tshirt dengan desain keren plus kita boleh memasukkan tulisan atau puisi atau penggalan kalimat yang disukai untuk ikut di cetak di Tshirt-nya.

Di masa datang, pengelola Berbagi Puisi juga akan menyelenggarakan program Antologi Buku bersama dan pemilihannya akan dilakukan dengan voting oleh pembacanya masing-masing. Kegiatan-kegiatan seperti ini, akan diselenggarakan rutin dalam setiap tahunnya.

Kaos Puisi
Tshirt Puisi

Sekilas Sejarah;

Situs ini dinamakan Berbagi Puisi dot com dan dikelola oleh beberapa teman termasuk saya, yang kebetulan semuanya adalah blogger (KikaAddiehfSigit – Fath). Karena kami memiliki kegemaran yang sama yaitu menulis puisi. Namun disamping karena kegemaran, saya juga memiliki konsentrasi untuk terus memenuhi kebutuhan konten positif di dunia internet ini.

Tentu kita semua tahu, betapa konten-konten syarat pornografi dan sentimen keagamaan hingga SARA secara lengkap, begitu memenuhi browser-browser internet. Bagi kita yang memahami apa yang ingin dibuka dan dibaca, tentu saja bisa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun bagi yang tidak mengetahuinya, sungguh mudah buat mereka tersesat ke situs-situs yang tidak penting. Dan hasilnya?

Untuk itu, meski saya yakin situs berbagi puisi ini tidak bisa menutupi itu semua, namun setidaknya bisa menjadi wadah berkarya bagi anak-anak muda penuh bakat yang berada di setiap sudut Indonesia. Dan semoga, situs berbagi puisi ini bisa menjadi sumbangsih yang benar bagi dunia blogging dan juga bangsa. Amin :)

Selamat berkarya dan menghidupkan dunia.

Salam Puisi.

Buku “Celotehan Linda” : Catatan Humanis dan Memori Kehidupan Yang Memikat

Judul Buku : Celotehan Linda (Jurnalis, Penulis, Humanis)
Penerbit : Kaki Langit Kencana, 2012
Penulis : Linda Djalil
Kata Pengantar : Bondan Winarno
Halaman : xvii + 426 Halaman
Cetakan : Pertama, Juni 2012
ISBN : 978-602-8556-30-9

Linda Djalil memang benar-benar sudah membuktikan dirinya, tidak betul-betul pensiun jadi wartawan. Buku ini adalah salah satu wujudnya. Seperti disampaikan oleh Bondan Winarno dalam kata pengantar buku yang baru terbit akhir Juni 2012 tersebut, “Wartawan tetap akan menulis sampai akhir hayat”. Dan begitulah, rangkaian tulisan mantan jurnalis majalah TEMPO dan GATRA itu dalam buku ini tidak sekedar menunjukkan eksistensi seorang Linda Djalil dalam dunia penulisan namun lebih dari itu, era jurnalisme warga yang berkembang via internet sekarang menjadi sebuah media menuangkan opini dan ekspresi tentang banyak hal seputar kehidupan, dan disini, gelegak nyali dan naluri kewartawanannya mendapat tempat “penyaluran”-nya.

Sudah lama saya mengenal sosok wartawan senior ini, terlebih sejak orang tua saya berlangganan majalah Tempo, tempat bekerja wartawati yang bertugas di Istana Presiden selama 9 tahun ini . Sepak terjang Linda Djalil, perempuan kelahiran 23 Juni 1958 dalam kiprahnya sebagai wartawan majalah Tempo cukup fenomenal. Tulisan-tulisan yang memikat di media tersebut menjadi salah satu daya tarik saya untuk membacanya. Kegesitannya “menembus” pertahanan narasumber yang sulit ditemui serta jaringan persahabatannya yang luas terlebih sejak menjadi wartawati istana, membuat tulisan-tulisan karya wartawati yang tahun silam menghasilkan buku kumpulan puisi “Cintaku Lewat Kripik Balado” ini seakan “hidup” dan mengesankan. Tak salah bila dalam kata pengantar buku tersebut, Putu Wijaya menyampaikan: Linda tidak memamerkan keterampilan pertukangan kata. Ia tidak “memainkan”kata dan kalimatnya. Ia memilin yang diceritakannya. Ia menaburinya dengan rasa. Itulah yang membuat “reportase”-nya menjadi unik. Dan karenanya puitis.

Tulisan dalam buku “Celotehan Linda” ini tidak hanya menuangkan sejumlah pengalamannya juga pengamatan kritisnya pada fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.  Sebagian besar isi buku ini merupakan tulisan-tulisan Linda Djalil di blog Kompasiana dan juga di blog pribadinya. Penyampaiannya lugas dan sistematis. Gaya bahasa ala ibu satu anak dalam tulisannya begitu nikmat dicerna. Kita seakan diajak duduk berdua bersamanya, bercengkrama, bercakap dengan nyaman sembari menikmati teh manis panas serta biskuit, melihatnya bercerita dengan ekspresi beragam, sembari menyaksikan senja yang luruh di batas cakrawala. Mulai dari kisah seram angkernya Istana Presiden, Anas Urbaningrum yang pinjam mobil teman, bagaimana ketika mantan Pangkopkamtib alm.Sudomo marah, sampai kenangan masa kecilnya yang indah, tersaji apik pada buku ini. Saya sungguh beruntung mengenal sosok beliau melalui interaksi diblog Kompasiana bahkan kemudian bisa hadir pada peluncuran buku ini minggu lalu.

Di blog, Linda Djalil seperti mendapatkan ruang bebas untuk menyampaikan ekspresi dan fikirannya tanpa mesti melalui birokrasi penyuntingan redaksional sebagaimana yang pernah dirasakannya dulu saat masih jadi wartawan. Ia begitu lugas dan tegas menyampaikan apa yang terbit di hati lewat tulisan meskipun terkadang tidak selaras dengan “bahasa formal” di dunia jurnalistik. Linda Djalil “merayakan kebebasan” itu tentu bukan tanpa kendali, sentilan maupun ulasannya dalam tulisan terasa begitu gurih dan renyah dengan rujukan yang jeli dan gaya reportase yang tajam bahkan seringkali membuat pembaca tertawa karena lelucon yang disajikan.

Lihatlah tulisan berjudul : Sjafrie Sjamsoeddin : Dari Pramugari Sampai Nenek Jompo Naksir Dia Lho..!(halaman 12)

Sebelum saya bercerita panjang lebar ini, rasanya saya ingin menghabiskan gelak tawa dulu sepuas hati. Lucu bagi saya rasanya, punya pengalaman dengan ‘yang kata orang’  keren ini, Sjafrie Sjamsoeddin. Buktinya, kemarin dulu ada postingan di Kompasiana yang judulnya “Jenderal Ganteng”. Waduh, saya pikir masanya sudah lewat nih, Sjafrie hanya ‘digilai’ zaman sepuluh tahun lewat. Tapi ibarat kepala eh kelapa maksud saya, makin tua makin berminyak. Rupanya Sjafrie masih banyak ( atau makin banyak ? ) penggemarnya. Cihuy…!!

Postur tubuhnya memang tegap, jangkung dan jalannya pun trap-trap-trap.. he, kayak lagu Aku Seorang Kapiten.. kalau berjalan trap-trap trap…!! Saya nyaris bersama-sama dengannya tiap hari saat bertugas di Istana. Dia kan penjaga eh pengawal Suharto, sebagai Komandan Grup A  menggantikan pak kumis Subagyo HS yang amat ramah itu.  Semula saya pikir, ah kurang asyik nih pengganti mas Bagyo HS, kayaknya kok kaku  buanget. Tapi ternyata tidak. Kebetulan akhirnya saya tahu anak saya satu sekolah dengan anak Sjafrie di Sekolah Pelita Harapan Lippo Karawaci. Dan kami kalau sedang sedikit menganggur, mengobrollah tentang sekolah milik James Riyadi itu.

Enaknya dulu kerja di Istana, rasanya sih sesama wartawati yang ada di sana tidak ada deh yang kecentilan kepada para sumber, pejabat, atau tamu-tamu Istana. Kami bekerja secara korek, pas, profesional dan terukur sekali. Jadi, saya agak kaget juga kalau hampir saban hari teman-teman di luar bertanya, asyik dong lu ya tiap hari sama-sama orang keren tentara Sjarfie itu? Naksir nggak lo? – Waduh, sangking seringnya pertanyaan itu , lama-lama saya cerita kepadanya. Gue heran mas, apa kerennya elo, kok peyeum-peyeum pada banyak yang demen?  – Sjafrie hanya ngakak tertawa tanpa beban. Begitulah memang dia. Tidak gede rumongso, dan napak bumi banget. Kami para wartawati pun acapkali mengobrol dengannya seputar pekerjaan , sampai hal-hal remeh temeh dan  rencana acara Pak Harto seharian itu.

Atau di tulisan lain “Moerdiono Bicara Terbata-Bata Hanya Pura-Pura” (halaman 301) :

Menjadi wartawan yang ngepos di Istana, selain juga saya harus berkeliling ke Balai Kota DKI, Departemen Pertambangan dan Enerji serta Parpostel, tentu banyak kenangan yang masih lengket hingga kini. Saya masuk ke Istana/ Sekneg/ Bina Graha tahun 1989. Di situlah saya mulai berkenalan dengan menteri yang berkuasa di wilayah itu. Moerdiono baru setahun menjadi Mensesneg, dalam deretan Menteri Kabinet Pembangunan V. Saya juga masih menyaksikan selesainya tugas lelaki yang hobi main tenis ini pada tahun 1998 sebagai Menteri Kabinet Pembangunan VI. Artinya, nyaris 10 tahun saya hampir bertemu setiap hari dengannya.  Saya dan seorang sahabat saya yang juga wartawan di lingkungan Istana, Iin Retno, memanggil dia Mr M.  Juga salah satu staf Moerdiono yang selalu setia menemaninya main tenis sampai pukul satu malam, Rildo Ananda Anwar. Dialah yang juga membahasakan Moerdiono sebagai Mr M. Sebaliknya, ia juga memanggil saya ‘Lince’  dan memanggil Iin Retno ‘Ince’.  Kami memang sangat akrab tanpa mengurangi rasa hormat dan tetap saja tidak pernah ‘diplintir’  olehnya dalam pemberitaan. Pak Moer tahu persis saya tidak bisa diatur-atur dalam menulis berita. Dekat boleh, mengatur tidak bisa! Itulah yang selalu saya katakan kepadanya, dan disepakati.

Ia sangat hati-hati dalam menyampaikan pernyataan dan menjawab pertanyaan wartawan. Sehingga, cara berbicaranya yang terbata-bata itu hanyalah untuk konsumsi publik. Begitu kamera menyorotinya, alat perekam diletakkan di depan meja, langsung ‘aaaa…eeeee…..eeee…aaaaa….hhhhhhmmm..eeee..’ muncul dari bibirnya.  Sering kami hampir tergelak menghadapi situasi itu setiap saat. Begitu kamera dimatikan, bicaranya lancar bagai kereta api ekspress tanpa rem sedikitpun. Kadang kami protes kepadanya, mengapa selalu berbicara gagap begitu. “Nanti Bapak dikira orang memang begok lho!”, ujar saya.  Pak Moer tergelak, “Hahahaaa… masa bodoh, biar saja…!! Daripada ngomong kilat tapi isinya gebleg dan ngaco!”

Membaca buku ini menggiring kita para pembaca untuk mengetahui lebih dalam sejumlah memori kehidupan seorang Linda Djalil yang begitu “berwarna”. Sentuhan humanis dengan gaya celoteh yang “gue banget” lewat tulisan-tulisannya menjadikan pembaca bisa larut dalam pesonanya. Saya sendiri yang memang sudah menjadi pembaca tetap tulisan beliau di Kompasiana dan pada blog pribadinya, merasakan nuansa persahabatan yang begitu kental lewat kalimat-kalimatnya yang mengalir dan apa adanya.

Buku ini dibagi dalam 5 bab yang masing-masing berisi 24 tulisan yakni : Umum, Sosial Budaya, Sosok, Mainstream Media & Hiburan dan Politik.  Bab mengenai “Sosok” bagi saya merupakan bagian paling berkesan karena, wartawati yang menulis sejak masih SD untuk majalah Kuncung dan rubrik anak “Sinar Harapan” ini, begitu lincah, dramatis dan menyentuh mengangkat sisi-sisi humanis sosok yang akrab dalam kehidupannya. Lihat saja, bagaimana penulis biografi mini sejumlah tokoh terkenal ini menggambarkan sosok alm.Titie Said, pada tulisan “Titie Said: Saya Harus Meresensi Bukumu, Linda”(Halaman 311) :

Titie Said adalah aset Indonesia. Betapa tidak. Hidupnya senantiasa disumbangkan bagi kecerdasan bangsa. Berapa banyak sudah wanita Indonesia yang membaca majalah Kartini, hampir tiap penerbitannya membaca berbagai hasil karya Titie Said. Cerita bersambungnya, ”Jangan Ambil Nyawaku”  selalu ditunggu-tunggu kaum wanita, dan  membuat bulu kuduk merinding.  Saya ingat, sebelum karya itu dibukukan sebagai novel,  saya membacanya di Rumah Sakit Carolus sambil terbaring di tempat tidur.  Betapa cerita “Jangan Ambil Nyawaku” mengerikan, menyedihkan, tapi sekaligus memberikan semangat bagi orang-orang yang sedang menderita sakit.  Air mata saya bergulir di dalam kamar Rumah Sakit yang hening. Majalah Kartini itu saya simpan di samping bantal.  Saya juga ingat bagaimana seorang suster Rumah Sakit memergoki saya sedang menangis membaca cerita Titie Said itu, lalu saya katakan, “Iya suster…, yang ngarang cerita ini luar biasa sekali. Sepertinya cerita ini betulan. Padahal ini kan hanya fiksi”

Novel hasil karya  wanita yang nama aslinya Sitti Raya Kusumawardani ini memang sudah puluhan yang diterbitkan. Tahun ‘60 an juga sudah muncul kumpulan cerpennya.  Sebagian naskahnya sempat musnah bersama harta berharga, mangkok antik, dokumentasi pribadi, foto-foto kenangan, saat rumahnya yang luas di atas tanah 1200 m2 itu dilalap api beberapa tahun silam.  Sebagaimana penggambaran tokoh  hebat dalam novel “Jangan Ambil Nyawaku”,  Titie Said menghadang petaka itu dengan ketegaran yang mencengangkan.  Ya, ia memang wanita Indonesia yang luar biasa.  Janjinya kepada saya, untuk meresensi buku puisi saya, entah sudah sempat dibuat atau belum, buat saya tidak masalah. Yang penting,  makna terbesar adalah ia sempat memberikan apresiasi atas  hasil karya saya dengan tulus, dan menginginkan sebuah resensinya dari tangannya sendiri. Bahwa itikad itu tak tersampaikan, tentu semua karena ketentuan Allah semata-mata.

Selamat jalan, tante Titie Said…….. , peluklah dia ya Allah…. peluklah dia dengan segenap cinta….

Catatan-catatan kritisnya tentang kondisi sosial yang terjadi beberapa waktu terakhir dituliskan alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini, dengan cermat dan membumi. Saya sempat tersenyum dan kemudian termenung sendiri membaca tulisan “Harga Melambung, Bingung Tidak sih?” (halaman 27

Membaca halaman muka beberapa surat kabar hari ini, membuat kepala pagi-pagi ‘ngebul’ rasanya. Harga kebutuhan pokok membumbung melambung tinggi, tarif dasar listrik yang ditinggikan mulai berlaku, harga tabung gas yang semakin naik tapi makin seru juga tingkat bahayanya, dan sebagainya dan sebagainya.

Saya bukan ahli ekonomi, politikus apalagi. Saya hanyalah wanita biasa, ibu rumah tangga yang setiap saat bergaul dengan cabe keriting kol buntet dan bumbu dapur. Saya juga cukup paham harga minyak goreng kemasan bermerk yang dulu hanya di atas Rp 10 ribu rupiah tiap dua liter sekarang mencapai hampir dua kalinya. Juga minyak goreng curah yang semula Rp 6000 sekarang mencapai Rp 9500,- satu liternya. Belum lagi ayam potong yang harganya tak pernah dipotong lebih murah sedikitpun, telor yang dari Rp 8000,- makin hari makin membumbung dan hari ini mencapai Rp 14.500,- sekilogramnya. Bawang putih yang biasanya satu ons bisa dibeli dengan harga Rp 800,- sekarang hampir Rp 3000,- . Belum lagi bahan terpenting dalam masakan, bawang merah, yang harganya sungguh menyakitkan. Jagung? Dulu Rp 500,- sebatang sekarang lebih dari Rp 2000,-. Gula pasir rasanya kini pahit bagi orang yang betul-betul punya kondisi keuangan cekak. Dari Rp 8000,- kembali naik.. naik.. ke puncak gunung .. dan sekarang mencapai Rp 11 ribu. Mau tahu harga labusium? Biasanya Rp 400 per butir, sekarang bisa mencapai Rp 3500,-. Hebat kan? Bagaimana dengan cabe rawit yang biasanya seribu perak bisa dapat segepok? Kini jangan sebut kata seribu perak…, bisa-bisa kita dilempar oleh si penjual sayur di pasar.

Kadang saya tersenyum sendiri memandang para ibu yang masih mengejar penjualan obral tas baju sepatu bermerk  tengah  malam hari di beberapa pertokoan mewah. Kebutuhan primerkah semua itu? Mungkin bagi segelintir wanita, iya. Penampilan memang harus nomor satu, nyonyah ! Aha.., saya sendiri masih bergelut di bisnis salon kok. Para ibu merawat bukan hanya melulu untuk dilihat cantik, namun untuk yang sadar diri kebersihan, perawatan yang apik, tetap memang membutuhkan pengerjaan yang dibantu oleh yang ahlinya. Rambut rontok ada solusinya, pipi lebam bercak hitam ada cara mengatasinya. Semua butuh biaya memang, meski ada kadar mahal dan tidaknya. Bagaimana dengan pembelian shampo, sabun, krim untuk pijat rambut dan kulit tubuh? Semuapun bagai berlari naik ke puncak pohon cempaka.. trilili..trilili……. tralala..tralala….. naik..naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali…. duuuh, pusyiiiiiiiiing… !!

Ironi sosial yang terjadi dipaparkan secara gamblang dan blak-blakan. Ekspresi kejujuran dan kepedulian disajikan secara bernas, cerdas, juga menggemaskan. Saya sepakat dengan testimoni wartawan senior Kompas Budiarto Shambazy  dihalaman belakang buku ini yang menyatakan: “Linda Djalil adalah wartawati senior selama sekitar 30 tahun terakhir produktif meliput dan menulis semua aspek kehidupan: politik, sosial dan budaya. Ia jeli memilih topik dan membuatnya menjadi karya jurnalistik yang menarik dan mendalam. Karya-karyanya paripurna karena rasa ingin tahunya tak pernah surut. Jaringannya luas serta kepeduliannya terhadap bangsa dan negara sungguh besar. Di atas segala-galanya, karya-karyanya bisa dinikmati siapa pun karena senantiasa kritis dan dikerjakan dengan mengedepankan akal sehat serta hati nurani”.

Sukses selalu untuk buku “Celotehan Linda” !

Lakon Fragmentaris: Catatan Kontemplatif Sang Bunda Blogger

Saya sangat gembira ketika mendapatkan email dari penulis buku ini, Mugniar Marakarma, untuk membuatkan testimoni atas sejumlah tulisan-tulisannya di blog yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul “Lakon Fragmentaris”. Saya sebenarnya sudah lama mengenal Mugniar karena menjadi adik angkatan saya di Fakultas Teknik UNHAS Makassar.  Setelah lama tak bersua, akhirnya tahun silam saya bertemu lagi dengannya yang ketika itu diantar oleh sang suami tercinta, Solihin (dan juga kawan seangkatan di Fakultas Teknik UNHAS)untuk mengikuti acara Blogilicious Makassar 2011.

Setelah mengikuti even tersebut, Niar ternyata tidak berhenti darisekedar mengungkapkan rasa takjub. Tekadnya untuk konsisten menulis dan mencatat hal-hal menarik dalam kehidupannya melalui blog dibuktikan secara nyata. Lewat blognya,  Niar tidak hanya menuangkan opini dan aspirasinya, namun juga berbagi banyak hal seputar aktifitas kesehariannya sebagai ibu dari 3 orang anak. Dan hasilnya, selain buku ini, tulisan Niar juga berhasil masuk dalam 3 buku antologi yaitu “Wanita Era Digital”, Bunga Rampai  Selingkuh-Seringkuh”, dan “Catatan Heroik Perempuan”-Girls Power.

Di Buku “Lakon Fragmentaris” ini saya melihat eksplorasi kontemplatif Niar begitu dalam tidak hanya dalam hal-hal seputar pendidikan anak, namun juga pada persoalan-persoalan kehidupan yang lebih luas. Dengan gaya bahasa yang “lincah”, mudah dicerna dan jenaka, Niar–yang menjadi salah satu pemenang kontes Srikandi Keluarga yang diselenggarakan oleh Indosat–menyajikan tulisannya secara gurih dan bermakna. Para pembaca seakan dibawa dalam perasaan galau atau ekspresi senang sang penulis. Lihat saja misalnya, pada tulisannya “Masih Tujuh Tahun Lagi” :

Saking maunya punya akun fesbuk, Affiq masih selalu bertanya kepada mama dan memohon agar secepat mungkin bisa punya akun fesbuk. Entah apa yang menarik baginya memiliki akun ini, teman sekolahnya saja baru seorang yang memiliki akun fesbuk, yang lainnya tak ada.

Saat seorang pembaca blog berkomentar bahwa pada usia 17 tahun orang baru bisa memiliki akun fesbuk (bukannya 13 tahun seperti yang papanya bilang), mama mengetes dengan mencoba mendaftarkan sebuah nama fiktif yang berusia 13 tahun untuk menjadi anggota. Ternyata eh ternyata ‘tidak bisa’.

Maka mama pun mengabari kepada Affiq tentang ‘kabar buruk’ ini, bahwa ia baru bisa memiliki akun fesbuk 7 tahun lagi. Kelihatannya Affiq cukup shock mendengar berita ini. Ia berkata, “Kenapa lama sekali. Bosan!” Bosan menunggu selama itu maksudnya. Lalu ia pun ngambek.

Nuansa tulisan bermakna renungan juga disajikan Niar dengan olah kata yang apik, misalnya pada artikel Ketika Maaf Harus Terucap, Maka Runtuhlah Dinding Superioritas Itu

Pembaca yang budiman, menundukkan kemarahan, mengakui kesalahan, dan meminta maaf kepada anak adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Tetapi jika saya menginginkan anak-anak saya mampu melakukan hal-hal ini maka sayalah orang yang pertama kali harus mereka saksikan mampu melakukannya. Dan tahukah Anda, hal ini adalah momentum yang sangat berharga dalam pembentukan jalinan hati – ikatan batin antara saya dan Affiq. Momentum yang hanya datang pada saat itu saja, bukan pada saat-saat lain. Terimakasih Allah, saya ada di dekatnya saat momentum itu datang. Terimakasih, Engkau gerakkan hati saya untuk bersikap seperti ini saat ia butuh menyaksikan saya berbesar hati mengakui kesalahan dan meminta maaf padanya.

Terus terang, saat membaca tulisan ini saya sempat tercenung. Betapa sebagai orang tua saya kadang melupakan hal ini dan terbelenggu dalam “tahta superioritas”. Makna kebesaran jiwa dalam meminta maaf kepada anak kelak menjadi teladan buatnya kelak dalam berbuat serupa. Niar telah memberikan contoh yang baik dengan tulisan yang bernas tanpa terkesan menggurui.

Coba lihat di tulisan Niar yang lain “Ibu Tradisional vs Ibu Modern” yang merupakan akumulasi pengamatan kritisnya tentang sosok ibu atau tulisan tentang Duhai, Belajar IPA Sekarang Seperti Inikah? yang menguraikan kegelisahannya ketika melihat buku pelajaran anaknya di SD yang kian sulit bahkan nyaris sama dengan mata pelajaran SMP yang pernah dipelajarinya dulu. ”Kelihatannya, orangtua yang harus mengusahakannya sebisa mungkin karena guru belum tentu mampu memahamkan mereka”, demikian tulis Niar yang pernah menjadi juara 2 pada lomba Catatan Harian Ibu yang diadakan Tabloid “Ibu dan Anak” tahun 2004 ini dalam bukunya.

Saya sangat terkesan bagaimana dengan lugas Niar menuliskan celoteh-celoteh lucu sang anak dalam rangkaian tulisannya. Saya sempat tertawa terpingkal-pingkal membaca beberapa artikelnya yang menyuguhkan ungkapan-ungkapan spontan sang anak — terutama si Athifah– menanggapi sesuatu dengan lugu dan kocak . Buku ini seakan menjadi refleksi keseharian pergaulan penuh cinta seorang ibu bersama anak-anak yang dicintainya.

Akhirnya, membaca buku setebal 127 halaman ini benar-benar menyajikan pengalaman berbeda. Pembaca larut dalam romantika keluarga dan kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salut buat Niar, semoga tetap konsisten dalam berkarya lewat tulisan dan mengabarkan kisah-kisah kontemplatif, baik lewat blog maupun buku.

Catatan:

Dibawah ini adalah kutipan endorsment/testimoni saya yang dimuat pada halaman 3 buku Lakon Fragmentaris:

Buku ini menampilkan curhat reflektif dan wacana kontemplatif seorang ibu. Dituturkan dalam rangkaian bahasa yang lancar dan mudah dicerna, buku ini tidak saja menyajikan pengalaman dalam soal romantika mendidik anak serta interaksi dalam rumah tangga dan lingkungan, namun juga memaparkan solusi-solusi sederhana namun efektif untuk menyelesaikan problem keseharian yang kerap terjadi.Buku ini layak menjadi rujukan terbaik bagi semua pihak untuk mendapatkan gambaran lebih jernih dengan ulasan yang membumi dalam soal edukasi, aktualisasi diri, upaya membangun akhlak serta karakter, bahkan disertai celoteh-celoteh anak yang lucu, segar dan menghibur dikemas dalam perspektif bersahaja seorang ibu, dan juga seorang blogger. Salut !
– Amril Taufik Gobel, Blogger (www.daengbattala.com)

Jangan terlalu percaya BAKAT. Percaya saja pada NIAT. Bukan niat yang biasa, tetapi NIAT KUAT untuk menulis

Kang Pepih dan Omjay
Kang Pepih dan Omjay

Membaca tulisan tips menulis dari kang pepih Nugraha di facebook membuat saya menjadi semakin bersemangat menulis. Isi pesannya sebagai berikut:


Dalam menulis, jangan terlalu percaya BAKAT. Percaya saja pada NIAT. Bukan niat yang biasa, tetapi NIAT KUAT untuk menulis. Sekali berpikir menulis itu bakat, maka tidak akan pernah ada satu paragraf pun yang kita hasilkan. Bagi yang punya niat kuat menulis, anggaplah menulis itu BERENANG. Orang yang belum pernah berenang sekalipun, asalkan ada niat kuat untuk belajar berenang, pasti memilih kolam atau laut yang dangkal, tidak langsung air dalam. Kita bisa belajar mengapung sambil lihat-lihat orang yang sudah pandai berenang. Belajar menyelam untuk mengukur kedalaman. Setelah bisa mengapung, selanjutnya kita bisa memilih gaya apapun dalam berenang. Sangat penting dicatat adalah: mulailah MENCEBURKAN diri ke air untuk belajar berenang. Jangan takut tenggelam dalam menulis!

Apa yang disampaikan oleh kang pepih dalam alinea di atas benar adanya. Saya sendiri adalah orang  yag awalnya tak biasa menulis. Dulu saya percaya kalau menulis itu adalah karena bakat. Tetapi sekarang, setelah lama menulis di kompasiana, saya besetuju dengan kang pepih bahwa niat yang kuat adalah modal kita untuk menulis. Tanpa niat yang kuat mustahil kita bisa menulis.

Selain niat yang kuat, kita harus menikmati proses menulis. Dengan begitu ada perasaan dalam diri bahwa menulis itu sebuah kebutuhan. Kalau sehari saja tak menulis, akan membuat kita merasa haus dan lapar. Oleh karena itu, alam bawah sadar kita harus digiring untuk menyenangi dunia tulis menulis dan merasakan keajaiban kata. Siapa yang mampu membuat kata-kata bermakna, maka dia akan mendapatkan manfaatnya. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain yang membaca tulisannya.

Keajaiban kata telah menghantarkan saya mampu merajutnya menjadi sebuah buku. Sebuah buku yang disusun dari cara-cara alamiah karena mampu menulis setiap hari. Keajaiban kata telah menghantarkan saya mengerjakan sesuatu yang awalnya alamiah menjadi ilmiah. Itulah makanya saya tak menyangka, keajaiban kata telah membawa saya kepada dunia tulis menulis dan menjadikan saya sebagai guru yang juga berprofesi sebagai penulis. Guru-penulis. Keren khan?

Belum banyak guru yang merangkap penulis. Apalagi mampu membuat buku dari materi yang diampunya. Saya bersyukur, dengan memiliki niat yang kuat akhirnya buku-buku itu lahir satu demi satu. Ikut memenuhi toko buku dan menjadi khasanah ilmu yang semoga terus menerus mengalir bagai air. Semoga disukai oleh pembaca.

Menulis itu bukan bakat. Menulis itu adalah kekuatan niat dari seseorang yang ingin berbagi ilmu dari yang dikuasai, dan disukainya. “Ikatlah lmu dengan cara menuliskannya”, demikian pesan Sayidina Ali. Saya pun bersyukur kepada Allah, karena mampu berbagi pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki. Semoga berkenan di hati para pembaca.

1326753330576795515Pemesanan Buku Karya Omjay hubungi Wiranto di hp 081398916712

 

Saam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Filosofi Asap dan Api

Allah Subhanahu Wataala menciptakan alam seisinya meiliki banyak faedah untuk kita amati, kita cermati, dan dijadikan pelajaran dalam mengambil keputusan hidup. Di antaranya yang akan saya kemukakan di sini adalah sebuah filosofi tentang asap dan api, meskipun hanya cerita fiksi semata, namun memiliki nilai untuk kita contoh.

Tulisan ini memuat “dialog asap dan api” yang saling membanggakan diri dengan kemampun dan keberanian masing-masing. Mungkin bagi sebagian orang kurang bermanfaat, tapi tidak ada salahnya celotehan ini diangkat ke permukaan.

Awal mulanya perdebatan antara anak dengan bapak yaitu ” api” dan “asap” yang saling mengklaim kekuatan masing-masing. Api berkata kepada asap ;  hai anaku, kamu harusnya meniru bapak yang gagah berani, merah membara penuh semangat, dan ditakuti oleh semua penghuni bumi bila bapak marah, karena bapak punya wibawa yang besar.

Kekuatan bapak bisa membakar seluruh jagat raya hingga habis tak bersisa, dan semua manusia pasti membutuhkan bapak untuk semua kebutuhan hidup mereka, bahkan ada pula yang mendewakan bapak sebagai tuhan sembahan mereka.

Asap menjawab ;  bapak jangan sombong dulu dong, biarpun aku anak bapak, tapi kedudukanku jauh lebih tinggi dari bapak. Aku selalu berada di atas melebihi ketinggian gunung sekalipun, sedangkan bapak cuma bisa ada di bawah saja. Berarti derajatku  lebih tinggi dari bapak kan?.

Bapaknya berkata lagi ; biar bapak cuma ada di bawah tapi bapak bisa membuat orang takut dan panik,  julukan bapak adalah  ”si jago merah”, sampai-sampai bukan hanya di dunia ini makhluk takut sama bapak, tapi sampai ke akhirat pun bapak ditakuti, karena Alloh mengancam hamba-Nya yang tidak beriman akan dimasukan ke dalam neraka jahannam yang panas membara.  Kalo kamu bisa apa? cuma tinggi doang, ga ada pamor yang kau miliki.

Anaknya menjawab ;  jangan menganggap remeh aku pak, seluruh manusia di dunia sekarang ini sedang sibuk mengadakan pertemuan untuk membahas kerusakan ozon yang disebabkan oleh polusi, mereka sebut sebagai global warming, itu semua karena aku pak,..

coba bapak lihat di rumah sakit, banyak pasien yang menderita penyakit karena asap, bandara akan ditutup kalau saya turun menutupinya, pesawat banyak yang jatuh karena aku, kapal banyak tenggelam karena aku, yang jelas aku lebih mematikan daripada bapak.

bapaknya cuma manggut-manggut walau sebenarnya dia kesal karena gak mungkin ada asap kalo ga ada api, mungkin si anak lupa asalnya dari mana. kacang lupa kulitnya..

dari cerita di atas dapat diambil sebuah hikmah yang teramat penting,  jangan pernah merasa sombong dengan dirinya, karena kesombongan tidak membawa kebaikan melainkan hanya kerusakan, perbedaan pendapat hanya menambah kerusakan semakin parah, apalagi saling tuding dan saling manjatuhkan.

Tatkala kita berada di ambang kematian, apa yang bisa kita perbuat? hanya diam dan pasrah menunggu hisab dari Sang Kholiqul Alam. Kesombongan hanya sebuah petaka seperti halnya cerita di atas.

Untuk itulah jangan kita berbangga dengan kesombongan, jangan pula kita sedih dengan ketidak beradaan, karena sombong hanya punya Yang Mencipta, dan ketiadaan adalah mutlak sifat makhluk yang dicipta dalam kelemahan. Sebagaimana dilansir dalam sebuah ayat Al-Quran :  Khuliqol Insaanu Dho’iifa “Diciptakan manusia dalam keadaan lemah”.

Sehebat dan setinggi apapun kesombongan, sifatnya tidak lebih hanya sebagai perusak dan pembawa petaka saja.

Semoga bermanfaat… wallahu a’lam.

bangnas.

Saya Bermimpi Jadi Milyader

 

Omjay Bermimpi Jadi Milyader
Omjay Bermimpi Jadi Milyader

Semalam saya bermimpi. Mimpi yang sangat indah sekali. Saya bermimpi menjadi seorang milyader. Ya benar. Seorang milyader. Seorang guru yang tiba-tiba memiliki uang banyak karena dapat undian. Sebuah undian yang saya sendiri sudah tak ingat kapan mengirimkannya.Tapi seingat saya, undian itu saya peroleh ketika membeli sebuah sepatu baru. Sebuah sepatu yang hanya dipakai oleh mereka yang berduit tebal. Harganya jelas lebih mahal dari sebuah buku.

Continue reading Saya Bermimpi Jadi Milyader

Jangan Bertanya Bagaimana Bahasanya Terpapar

Jangan bertanya bagaimana bahasanya terpapar karena banyak yang luput, meskipun aku duduk di sofa empuk yang kulitnya sudah bolong-bolong dan busanya serintilan keluar. Aku paku penglihatan pada kolam ikan, pada daun-daun hijau, kuning, coklat, kering, pada kucuran air keran yang suaranya krucuk..krucuk..krucuk.

Batu itu sudah begitu posisinya sejak lama dan tetap begitu karena ia berat dan semua orang segan memindahkannya. Batu itu semedi di pinggiran kolam dan menjadi habitat sendiri buat apa-apa yang mau hidup di tubuhnya. Saat air hujan rajin mengguyur tak pernah aku hiraukan perubahan batu. Warnanya dan permukaannya. Saat ada orang yang berbisik, “air hujan tanda kehidupan”, aku pantek kali ini seluruh perhatian. Memang aku lihat tumbuhan yang memagar itu daunnya meninggi berantakan, lalu rumput-rumput jadi liar, bunga-bunga rontok karena kebanyakan air, ikan-ikan menggemuk karena banyak binatang-binatang kecil di kolam. Ku lihat batu kering yang sekarang menghijau. Aah…lumut cuma lumut. Seperti di tembok-tembok lembab, ada lumut.

Yang membisiki aku pergi. Mungkin tak suka aku meremehkan penemuannya tentang air hujan tanda kehidupan. Aku panggil ia dan bertanya, “memang apa yang mau kau tunjukkan?”. Ia duduk sebentar lalu pergi lagi. Mulutnya bergumam, “ya itu tadi yang tidak kelihatan oleh matamu. Yang kelihatan tapi tak kau lihat.” Tidak kembali.

Aku turun dari sofa dan jongkok di depan batu. Aku sembah, tampaknya. Aku nungging meneliti apa-apa yang bisa dilihat oleh mataku tapi tidak aku lihat. Aku sentuh dengan inderaku, ku raba, dan batu yang tadinya keras itu melunak permukaannya, berbulu empuk dan agak basah. Iya ini lumut. Lalu apa?

Ku tinggalkan teras. Ku tinggalkan kolam ikan. Dan kakiku tersangkut pot bambu Jepang. Daun-daun kuningnya rontok tergantikan oleh daun-daun segar baru, hijau dan lebat. Ku sapu daun kuning berantakan. Ku kumpulkan di pojokan. Aku masuk kamar.

Mati. Mati rasa. Pagi ini matahari mengguyur tanah lembab bekas hujan semalam. Kucing-kucing bangunnya lebih pagi dari aku. Sekarang mereka menempati ruang-ruang di tengah jalan atau di atas genteng, di atas pagar. Kucing mandi, menjilat tubuhnya dan berjemur sambil garuk-garuk.
Aku garuk-garuk dan duduk di bangku kecil yang sengaja aku bawa keluar. Berjemur seperti kucing. Tapi aku pakai kaca mata hitam. Aku mau menikmati matahari, bukan hanya panasnya, tapi parasnya. Matahari bakar tubuhku, bakar lensa hitamku. Keringat dan kacaku retak.

Orang yang kemarin datang. Masih berbisik sinis, “apa yang kau lihat?” “Matahari,” jawabku. Dahinya yang berkerut keheranan seakan-akan menderaku dengan pertanyaan, “hanya itu?” Masih dengan kaca mata hitam ku tatap matahari segar yang melumatkan lemak-lemak di perutku. “Benarkah itu matahari yang kau lihat?” Jawabku, iya. “Itu matahari 8 menit yang lalu, kau tahu?” Di balik punggungnya yang kecil, bayang-bayang kurusnya menjatuhi aku. Dengan prihatin ia bilang, “Sekarang mataharinya ada di situ,” sambil jarinya menunjuk satu sudut di kiri matahari 8 menit yang lalu.

Orang gila, pikirku. Dia pernah bilang ada asbak di meja, padahal tidak ada apa-apa di atasnya. Begitu manusia, katanya, tidak percaya sampai benar ada asbak di atasnya. Dia ambil asbak dan diletakkannya di meja. “Itu asbak,” katanya. “Iya, memang itu asbak. Lalu apa?” Senyum simpulnya masih ada. Masih sabar ia. Matanya yang menatapku kasihan memaksaku untuk menyimpulkan tentang asbak. Iya, tentang asbak.

Sekarang ia tunjuk-tunjuk langit kosong sambil omong kosong tentang matahari. Aku bilang padanya, “Sekarang tidak ada matahari di situ. Tapi tetaplah di situ 8 menit lagi. Nanti aku baru percaya ada matahari di situ.” Pergi orang itu karena kecewa.

Menikmati Sensasi Cerita Estafet

Akhirnya, Cerita Estafet (Cerfet) “SELEBRITKU PULANGLAH!” (selanjutnya disebut SP) yang pernah ditayangkan di komunitas Blogger Blogfam telah terbit dan mengorbit di situs Evolitera, menyusul e-book Kumpulan Cerpen dan Puisi saya yang sudah terbit lebih dulu disana.

Saya masih ingat betul bagaimana pertama kali menggagas hadirnya cerfet ini 5 tahun silam. Tema yang saya angkat diilhami dari posting salah satu anggota blogfam yang mengisahkan problematika sahabatnya yang berpacaran dengan selebriti. Tema ini saya anggap menarik karena selain mengusung trend aktual pacaran/pernikahan selebriti dan orang biasa. Tema ini juga menawarkan begitu banyak potensi konflik dan celah untuk dikembangkan menjadi cerfet. Saya merasa, fondasi ini sudah cukup kuat sebagai dasar membangun cerfet SP. Dengan empat penulis (saya, Tuteh, Bondan dan Liza) dan empat isi kepala yang berbeda, merupakan tantangan tersendiri untuk cerfet SP. Ada satu episode sempat diisi oleh Devishanty namun kemudian mundur dan akhirnya diganti oleh Tuteh.

Latar belakang usia dan pengalaman masing-masing penulis sedikit banyak memberikan pengaruh signifikan pada gaya penulisan. Tuteh misalnya, yang baru saja dinobatkan sebagai aktifis cerfet blogfam 2005 karena produktifitasnya dalam menulis cerfet, memiliki gaya bertutur yang khas ala remaja: ceria dan blak-blakan. Tentu jauh berbeda dengan gaya penulisan Bondan yang mengalir tenang dan terkesan hati-hati. Tak dapat dipungkiri, gaya penulisan yang berbeda ini menjadi tantangan bagi tiap penulis untuk menyuguhkan rangkaian kisah yang nyaman dibaca oleh khalayak pembaca. Team Penulis cerfet SP menyadari betul hal tersebut. Meski justru letak keunikan cerfet berada pada gaya penulisan masing-masing penulis di tiap episode berbeda, tetap diupayakan untuk mengakomodir gaya penulisan sebelumnya agar kesinambungan dan konsistensi bertutur tetap terjaga.

Ada pengalaman menarik yang dapat diungkap yakni, pada episode pertama SP, saya menggambarkan karakter si bencong Donna relatif terkesan agak maskulin dan konyol. Pada perkembangan selanjutnya ditangan penulis berikut, sosok ini bermetamorforsis menjadi sosok bencong yang norak, lucu dan genit. Saya senang dan melihat ini bukanlah sebentuk inkonsistensi namun sebagai pengembangan dan pengayaan karakter Donna secara lebih kreatif dari penulis berikutnya sejauh masih berada pada jalur logika cerita. Salah satu letak keunggulan lain membuat cerfet yakni belajar menerima, menghormati dan menyiasati perbedaan.

Pada episode 6-10 di cerfet SP, saya sempat gregetan pada arah cerita yang berkembang tak terduga. Dalam benak saya sudah ada skenario bayangan kira-kira arahnya akan seperti ini. Dengan perkembangan cerita yang berubah demikian cepat, mau tidak mau, saya, yang akan menerima amanah selanjutnya meneruskan kisah tersebut dengan menyesuaikan alur yang ada dan apa boleh buat, mengesampingkan ego pribadi saya sendiri.

Awalnya memang sulit, tapi pada gilirannya, saya menemukan kesejukan di sana. Bahwa cerfet, pada akhirnya membingkai perbedaan, gagasan dan ekspresi yang ada dalam sebuah harmoni yang indah. Ibarat menyusun “puzzle” , masing-masing keping episode yang ditayangkan oleh tiap menulis, pada akhirnya akan membentuk satu kesatuan cerita yang utuh.

Cerfet merupakan rangkaian cerita fiksi bersambung yang ditulis oleh dua orang atau lebih dan menjadi suatu kesatuan cerita yang utuh. Istilah cerfet ini, menurut Maknyak/Labibah Zain (founder komunitas blogfam) seperti yang ditulis ulang oleh YNa dengan judul The Messenger, ‘Nakal’ dan penuh surprise, secara sederhana dijelaskan sebagai berikut: “Persis seperti adegan pertandingan lari di dunia olah raga. Penulis A akan menyerahkan tongkat estafet penulisan kepada penulis B dan penulis B setelah menulis akan menyerahkan tongkat kepenulisan kepada penulis C, begitu seterusnya sampai mencapai garis FINISH yang berupa ending cerita tersebut. Penulisan seperti ini memerlukan kerja team yang hebat dan kuat. Masing-masing penulis, sebagaimana dalam lomba lari estafet, harus saling mendukung cerita. Sekali saja penulis lengah, akan bubarlah keutuhan ceritanya.”

Penulisan Cerfet memiliki kaidah/aturan tersendiri yang mesti dipatuhi oleh tiap penulis. Jumlah kata, jumlah posting, tenggat waktu antara posting yang satu dan posting selanjutnya, urutan posting dari tiap penulis ditetapkan sedemikian rupa sesaat sebelum cerfet ditayangkan. Khusus untuk urutan posting dibagi dalam beberapa segmen (tergantung jumlah penulis) dan masing-masing penulis akan diberi jatah urutan berbeda di tiap segmen. Hal ini dimaksudkan tidak hanya untuk memberi porsi urutan berpindah dari tiap penulis tapi juga menghindari pola berulang yang monoton.

Tim Penulis mendiskusikan secara cermat aturan-aturan penulisan termasuk segala konsekuensinya. Namun demikian, aturan dimaksud, lebih kepada masalah teknis terutama menjaga kedisiplinan tiap penulis berada dalam koridor yang sudah ditetapkan dan tidak mengekang kebebasan berekspresi secara menyeluruh dari tiap penulis. Cerfet pertama di Blogfam dibuat oleh Tuteh dengan judul “Sketsa Hati Tuteh” (Agustus 2004) dan secara beruntun cerfet-cerfet berikutnya menyusul.

Pada tahun 2006, Cerfet “The Messenger” karya 4 anggota Blogfam (JaF, Sa, Tuteh dan Uyet) akhirnya berhasil dibukukan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Ini merupakan sebuah prestasi tersendiri yang cukup membanggakan. Uyet–mewakili para penulis–bahkan sempat diundang untuk sharing di acara Kick Andy Metro TV dan diminta membagi pengalamannya menulis cerfet.

Dan kini, e-book cerfet SELEBRITIKU, PULANGLAH seperti menandai kembali lahirnya era keemasan ber-cerfet ria di forum komunitas blogger tertua di Indonesia itu. Diharapkan, dalam waktu dekat, e-book cerfet-cerfet Blogfam juga akan segera ditayangkan di Evolitera yang telah mewadahi wahana produk hasil proses kreatif ini.

Silahkan klik link ini untuk membaca dan mengunduh Gratis e-book cerfet SP.

Terimakasih untuk anda semua para pembaca dan pengunduh, serta tentu saja Evolitera !

Penghargaan suami untuk istri

Pagi ini kau telah terbangun lebih awal dariku. Dan ketika aku terbangun secangkir kopi dan sepotong roti telah tersedia dimeja. Aku seduh dengan penuh semangat, rasanya makin enak saja, siapa dulu yang buat..pujiku. Apakah makna dari semua ini, ahh aku merasa tersanjung untuk berada disampingmu.. Aku merasa Allah telah menganugerahkan hadiah yang paling indah untuk hidupku. tak terasa dapur rumah kita semakin pekat hitam, itu bekas-bekas pengabdianmu untuk selalu membuatku merasakan masakanmu. Nasi liwet dan sayur tahu bacam itu kesukaanku, kau tak pernah lupa itu bila aku telah pulang dari bepergian jauh. Di bawah kelopak matamu aku lihat guritan kulitmu yang berkerut makin banyak, ah aku tak tega melihatmu. Kau selalu tegar mendengar apa yang menjadi keluhanku dan kaupun selalu saja tersenyum saat aku berangkat kerja, memang terkadang kau mengeluh, tapi tetap tegar menjalani hidup ini yang penuh liku. Setelah aku berangkat bekerja, kau selalu memberikanku keyakinan bahwa aku akan segera kembali,itu tergambar dari raut wajahmu..
Hemm..apa yang bisa aku kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu…
Aku hanya terus berusaha untuk selalu mencintaimu,menjagamu dan terus bersamamu…
Namun aku terus berusaha menjadi yang terbaik, walaupun dengan rumah sederhana ukuran 7 x 3 tapi itu tak membuatmu merasa sempit. Maafkan ya..jika aku sering pulang malam, tak tahu apa yang telah engkau berikan yang terbaik untuk keluarga ini.. Maafkan ya..jika kadang rasa kantuk membuatku malas terbangun sementara kau sibuk memberikan popok dan memberi susu pada bidadari kecil kita..
Terima kasih ya untuk apa yang telah kita jalani bersama…mari kita teruskan langkah ini membuat rumah ini semakin ceria..membuat tetangga kita semakin tersenyum dengan keberadaan kita…sekedar puisi untukmu
Ketika waktu telah terhanyut dengan keheningan…
Ketika kasih kita kita terhanyut dalam untain waktu…
Ketulusan dan keihkalasan yang akan terus menghiasi kita…
Kamu..sosok hebat yang aku kenal…

00′ tengah malam diujung do’a

Tahun-Tahun yang Hilang


Oleh Ali Reza

Tampaknya kedatangan Ina tadi malam mengejutkan Adi mengingat Adi tidak pernah mengunjunginya sejak tujuh tahun lalu. Ina datang bersama nenek dan putranya menjelang subuh, membangunkan seisi rumah kecuali Adi yang hanya mendengar percakapan dalam bahasa Jawa dari dalam kamarnya. Adi menangkap satu pertanyaan Ina dalam bahasa Indonesia sebagai pertanda sepupunya itu tidak melupakannya. “Sekarang Adi kuliah dimana?” Continue reading Tahun-Tahun yang Hilang