Suatu Hari di Februari

 

PISAH

Image by Google

Ingatkah kau tentang satu hari di Februari yang berpayung rinai hujan?

Hari dimana kita menyamakan lintasan waktu pada satu frekuensi.

Aku luluh pada caramu menatapku,

Tatapan yang hanya ada pada hening malam,

Pada kesunyian kala embun bertudung pagi.

Tatapan yang entah bermakna apa, tapi begitu kuat mengikat.

 

Teringat hari-hari beraroma biru yang tlah jauh berlalu,

tentang cerita yang tersimpan di langit berwarna tembaga.

Ketika aku lebur pada ketidak berdayaan rasa,

Ketika hatiku menujumu.

Entah jika bagimu hanya parody cinta dari sekian kisah yang kau miliki.

Bagiku tepat menghujam meninggalkan luka teramat dalam.

 

Aku masih bertanya disetiap musim yang terlewati,

Mengapa tatapan matamu masih memenjaraku ?

Serupa opium yang menghalusinasiku pada mimpi semu.

Mematikan hati sebelum mati itu sendiri.

 

Dear,…

Jika bagimu aku adalah senja,

Maka bagiku kamu adalah ingatan yang tak kunjung usai.

Aku akan berjalan seperti kau yang tlah melangkah

Meski hatimu dan hatiku tak bertemu dalam garis takdir,

Kenang aku,… seperti  kusimpan tatapan matamu dan kenangan yang menyertainya.

Kuabadikan pada rintik derai hujan, pada arah jalan pulang, pada langit yang temaram…

Love,… Berbahagialah, genapi bahagiaku.

 

Ode Buat Ibu

.

Ibu

Kakiku telah letih

Menapaki jalan-jalan yang telah kulewati saat mencarimu

Sejak engkau pergi malam itu

Masih begitu nyata dimataku

Tentara yang memegang senjata itu menodong dan menggiringmu pergi

Tanpa menghiraukan ratapan 6 anak-anak yang diantaranya masih balita

Serta perempuan-perempuan lain yang sudah renta

Sejak itu

Lelah kami menunggu ibu kembali dengan airmata yang membasahi pipi

Namun ibu tak kunjung pulang

Hilang tak tentu rimbanya, mati tak tahu kuburannya

Tak ada lagi pelukan hangatmu disaat tidurku yang dibalut dingin kampung kita

Tak ada lagi hari-hari penuh canda tawa diantara anakmu yang beranjak remaja

Kampung terasa begitu sepi

Waktu berjalan terasa begitu lambat

Hingga

Satu persatu  anak ibu menghilang

Pergi membawa nasib kerantau orang

Meninggalkan bocah kecil yang kehilangan kasih sayang

 

Ibu

Kini bocah kecil itu telah beranjak tua dan renta

Pecariannyapun telah berhenti

Karena

Kami telah ikhlaskan kepergian ibu

Kami tak akan menggugat takdir yang telah ditentukan buat ibu

Kami telah memaafkan orang-orang yang telah memfitnah ibu

Kami juga telah memaafkan tentara-tentara yang telah menghabisi ibu

Kami tak ingin dendam merusak hidup anak ibu

Kami ingin hidup damai dengan beribu cucu ibu

 

Catatan pada Pagi, tentang hidup, cinta dan harapan

 

Seperti bumi yang menerima dengan rela,

rintik hujan dan terik membakar dari sang surya.

Aku ingin dengan rela menerima segala,

tidak menangis ketika badai menerbangkan sukaku.

 

Seperti daun-daun kering ,

luruh jatuh ke tanah terinjak kaki-kaki

tapi tidak terluka dan marah pada angin,

yang menerbangkan dari ranting dan pohon.

 

Meski tak seteguh karang-karang,…

yang kukuh meski diterjang gelombang,

aku ingin menjadi aliran sungai kecil,

tenang,… sopan pada perahu-perahu

ramah pada ikan-ikan, tapi sampai ke lautan.

 

Pada perjalanan yang membawaku pada arus dan gelombang,

aku ingin menjadi diam,

diam menerima,

diam dengan ikhlas,

diam bersama senyuman,

karena kehidupan adalah menerima dan dipahami dengan indah

karena kehidupan tidak kutakuti,

hanya ingin ku jalani , kunikmati dan ku syukuri…

 

# Temanku bilang hidup itu seperti kepingan puzzle-puzzle, kita butuh orang-orang, kejadian dan hikmah untuk melengkapi susunan Puzle hidup kita.

* Hi, kamu melengkapi satu keping puzzle hidupku, terima kasih…*

Bekasi, pada pagi 22 oktober 2012

Coronary ? Cancer ? God’s Answer: Prevent It !
 
Image From Here

 

Puisi : Desau Angin dan Perempuan Yang Merindu

Agaknya, urat sejarah dan gurat kenangan yang membeku dalam ingatanmu

telah membuat semuanya menjadi tak sama, seperti dulu..

laksana sebatang pohon kesunyian yang tumbuh enggan dari perih luka atau

mata air pegunungan yang kehilangan kesejukan bahkan saat tetes pertamanya tercurah

“Aku telah menadah rinduku padamu di telapak waktu, lalu membiarkannya berada disana,

basah, hingga tercecer satu-satu lewat sela-sela jemari, menjelma embun, dan merangkak ke langit

bersama terik mentari, menjumpaimu, entah dimana,” kata perempuan itu, dengan nada pilu

Sebaris sajak sejatinya, telah rampung ditiupkan sang lelaki bersama desau angin di beranda

dan harapan yang menggema dalam benak, serupa derap kuda pasukan penyerbu bergerak riuh

dengan gumpalan debu, melerai angkara, menebar asa hingga ke angkasa

Segalanya menjadi tak penting, katanya lirih

karena tunas cinta yang telah kita semai menghadirkan ngilu pada tiap helai kangen didahannya

dan kita kemudian sadar bahwa pada akhirnya, tak ada yang kekal pada setiap keindahan

seperti kita yang menjadi tiada, dalam keheningan senjakala

Cikarang,22 Juni 2012

Catatan:

– Foto diambil dari koleksi foto mas Eko Eshape di Facebook, Terimakasih ya mas

– Nikmati koleksi puisi-puisi cinta romantis saya dengan membeli buku Kumpulan Puisi “Menyesap Senyap”, lihat cara ordernya disini

10 menit 43 detik

Tak lama aku memandangmu,…

Hanya dari sekumandang isya hingga iqomahnya

Memaknai tatapan dari sudut yang kusebut kekaguman

Selendang merah jambu yang kau kenakan,

menutupi aura lelah penantianku.

Ya,…aku jatuh hati pada caramu menatapku

Tatapan yang hanya ada pada bunga yg jatuh pada belaian embun

Harusnya aku menahanmu disudut itu lebih dari jengah waktu

Sudut dimana kau tak dapat berucap,

” aku harus pergi “

Untuk datangmu menemui mimpiku

untuk senyum yang kau lepas tuk dahagaku

10 menit 43 detik itu,

disudut kedai teh di kota suci arafah

” Aku mencintaimu,sungguh…”

*Image from google*

Kita

Aku tidak punya redaksi jawaban yang tepat untuk setiap tatapan tanda tanyamu.

Sulitku menjelaskan sikap introvert dan ‘ diam ‘ ku pada sikapmu.
Terlepas dari adanya aku dan kamu di jalan yg sama,
kita adalah dua kutub yang berbeda,
dan aku,…begini adanya.

Tentang segala macam kerikil dan angin pada rel mu dan aku,
tentang segala macam cuaca yang terlewati,
kau tetap disana sejak awal, di duniaku.
Tak melulu berwarna terang,
tak selalu berwajah senang,
yakin saja disegala alasan kau menjadi tempatku tuk pulang.

Aku takkan berhenti mengingat meski bentang waktu jauh berjalan.
Tentang saat kau menjadi pemapah terbaikku,
ketika kakiku bahkan tak mampu menopang ringkih tubuhku.
Tentang saat kau menjadi sapu tangan hebatku,
ketika vonis yang satu beriringan vonis kesakitan yang lain.

Aku takkan pernah menjadi bidadari sempurnamu,
tapi aku kan slalu ada menjadi pelengkap kekuranganmu.
Menjadi penyejuk amarah tumpahmu,
dan mungkin teman debat sepanjang hidupmu.
Usah mengikatku terlalu erat hingga paru-paruku berat bernafas.
Jangan risau karena aku disini,
tak ada tempat lain yang kutuju selain berjalan bersamamu….

 

 

 

7 Februari 2012   ” happy b’day for partner of my life ”

 

 

 

 

 

 

 

# Image from Google

 

 

 

Puisi Tahun Baru Untuk Anakku

Tidurlah yang pulas anakku
Saat kuganti kalender penanda waktu
pada pagi pertama ditahun baru
ditingkah gerimis yang tak jua usai
dan kerlip kembang api dilangit malam
serta gemuruh petir menggetarkan sukma
Seperti degup jantungku yang mencoba memadamkan gusar
menghadapi hari-hari yang bakal tersingkap satu-satu dari kalender baru

Mimpilah yang indah anakku
Tentang hari-hari berwarna sepanjang tahun
Tentang pelangi yang selalu bertengger anggun di Cakrawala
Tentang bidadari yang menari riang diatas awan
karena ayah, juga ibumu, akan menjagamu, mengawalmu,
membelaimu dan memelihara mimpimu menjadi nyata
Seperti kemarin, kini dan juga nanti
lalu menyimpan rapi setiap iris kenangan yang menyertainya
dipalung hati paling dalam
dan bukan pada lembar-lembar kalender tua yang teronggok sepi disudut ruang
Selamat Tahun Baru, Anakku..

Kasihmu, Ibu ….

Ibu,…
Seringkali aku merasakan perlahan kau mengendap kekamarku,
merapikan letak selimutku yang tersingkap,
Aku merasakan kau datang tapi kubiarkan mataku terpejam,
lalu duduk disisi pembaringan, perlahan…
aku suka ketika kau kecup keningku dan menatapku dalam.

Kerap kali kau membelaku dari amarah ayah,
memberiku semua hal yang terbaik.
Dan semua pagi ketika kau begitu bergegas mengejar waktu untuk bekerja,
tak berkurang waktumu untuk slalu ada,
melengkapi setiap puzzle hidupku.

Kau yang tidak pernah lalai,
mengajarkanku makna mengasihi dan memberi.
Pada ketaatan  kepadaNYA,
pada keikhlasan menjalani kehidupan ini.

Bukan air mata pertama ketika kulihat kau menangis disatu malam,
bersimpuh dan mendo’a.
Ada namaku,….ada semua kebaikan yang kau mohonkan kepadaNYA untukku.

Kini ketika aku telah menjadi sepertimu, menjadi seorang ibu…
kau masih memanjaku seperti gadis kecilmu dulu.

Ibu… dibahumu tidak pernah ada lelah ,
juga amarah yang tumpah.
Kasihmu adalah keharuman dan muara segala cinta.
Ibu tempat berlabuhnya harapan,
Curahan ketulusan yang tak pernah kering,
meski berjuta tahun kemarau panjang.
Do’a dan cinta untukmu….  ibu.

”  Selamat hari ibu  … ”

* ini untukmu, Ibu… segenap cinta dan doa *

Tentang Senja, Detik Yang Berguguran & Alunan Musim

 

Langit dan senja, katamu, adalah paduan cerita tentang harapan dan rindu

yang terserak antara tepian cakrawala hingga batas dimana mentari meredupkan cahayanya

Kita menyaksikan detik-detik berguguran bersama alunan musim yang berlalu dengan perih

Seperti sayatan biola kidung melankolis seorang violis, menyanyikan bait demi bait sajak

tentang asmara yang mengapung pada sebatas pandang

tentang gigil kangen yang kerap membeku pada lidah kelu

tentang asa yang luluh dan jatuh satu-satu disepanjang perjalanan

juga tentang sekeping hati yang rapuh dan sendiri di pucuk malam

Mendung dan hujan, katamu, adalah sebuah lanskap kesunyian

yang menjelma lirih dalam setiap rintik air menerpa kaca jendela

bersama airmata yang merebak bening di tebing pipimu

sementara semesta seakan bersekutu untuk tak peduli

seperti langkahmu, langkah kita,  yang juga mencoba abai

pada desir angin yang menghempas deras dan gemuruh ombak yang menghadang

karena pada senja, hujan, detik yang berguguran bersama alunan musim

kita mendendangkan lagu, bersama, melalui selasar waktu tanpa berpaling

Cikarang,111011

Puisi: Saat Senja, Ketika Ramadhan Pergi

Saat senja, ketika Ramadhan pergi

Keharuan menyentak dikalbu, menyentuh nurani

Seiring semburat merah jingga bertahta di rangka langit

Bulan Suci beranjak perlahan, menapak dalam keheningan

meninggalkan jejak-jejak cahaya hingga batas cakrawala

Dan aku luruh dalam kesedihan tak terungkapkan

 

Saat Senja, Ketika Ramadhan Pergi

Bersama segenap doa yang terangkum pada setiap sujud,

pada lembar demi lembar Tadarrus Al Qur’an,

pada tiap untai khusyuk Tarawih

pada ikhlas sedekah dan zakat

pada takjub kehadiran Lailatul Qadr

pada gema Takbir, Tahlil dan Tahmid

mengagungkan kebesaranMU ya Allah..

Rindu ini mengapung bersama airmata yang menitik perlahan

Akankah Ramadhan menemuiku lagi tahun depan?

 

Saat Senja, Ketika Ramadhan Pergi

Aku terkulai dalam sunyi mendekap kalbu

Diatas sajadah yang terbentang hingga kaki langit

bersama harapan menemuimu kembali, Ramadhan..

dengan segala gigil kangen yang senantiasa berdetak

di setiap nadiku

bersama lirih Zikir yang kulantunkan dengan bibir bergetar

menyebut namaMU ya Allah

menyebut KemuliaanMu ya Allah..

 

Cikarang, akhir Ramadhan 1432 H

Catatan:

Foto adalah karya Pak Firman Alamsyah di Citography