Menakar Calon Bupati Bekasi 2012-2017

Bukan calon Bupati

Pemilu kepala daerah Kab. Bekasi, kira-kira 1,6 tahun lagi. Tahun 2012, DR. Sa’dudin, MM selesai masa bakti. Kasak-kusuk di bawah meja pun sudah terdengar. Satu dua orang diam-diam mulai menggalang kekuatan. Ada yang menggunakan jalur rresmi, partai. Ada yang menggunakan jalur pembentukan ormas. Ada juga yang menggunakan dua-duanya.

Ditinjai dari komunikasi politiknya. Ada yang sekadar bisik-bisik. Ada juga yang bicara sedikit terbuka.

Persoalannya kemudian, sikap tidak terang-terangan ini memunculkan sejumlah persoalan. Diantaranya, publik tidak unya waktu banyak untuk melakukan evaluasi. Uji publik. Sehingga yang muncul kemudian adalah sentimen emosional. Tidak rasional. maksudnya, bisa jadi milih karena memang sag calon ini berasal dari partainya. Milih karena sentimen ke daerahan dan lain sebagainya. Ujungnya, pemilukada yang didedikasikan sebagai proses kelahiran adanya hanya berdarah-darah doang. JUga ongkos yang mahal buat ‘bidannya’. Tapi, anak yang lahir cacat. Cacat politik, cacat sosial.

Padahal esensi dari Pemilukada itu lahir pemimpin-pemimpin yang punya kompetensi, profesional dan amanah. Uhhhh…, sejauh publik masih menyangsikan Pemilukada bisa menghasilkan pemimpin berkualitas.

Di Kab. Bekasi sendiri, beberapa nama disebut. Mulai dari incumbent baik Bupati Sa’dudin maupun wakil Bupati Darip Mulyana, Ketua DPRD, Anggota DPRD seperti Daeng Muhammad (Ketua DPD PAN) dan H. Ali bin H. Amin (Ketua DPC PKB) serta Jejen Sayuti (Ketua DPC PDIP). Bahkan, Eep Syaefullah Fatah, pengamat politik yang berasal dari Cibarusah, Bekasi juga disebut-sebut. Tapi, secara pribadi saya pernah bicara ke Kang Eef,kebetulan satu almamater, dia gak terlalu berminat. itu tiga tahun yang lalu. Entah sekarang. Saya pikir memang level kang Eep itu udah sekelas menteri. Bukan lagi Bupati. Dari jalur perseorangan belum nongol neh…

Bupati Bekasi pasti menggunakan instrumen PKS sebagai modal politik. Dan, kini Sa’dudin tengah membelai-belai ormas PASIBAN (Paguyuban Bekas Banten), diperkirakan akan dijadikan moda sosial untuk meraup elemen orang Bekasi dan Banten. Modal Financial, saya kira udah gak masalah. Cukuplah…..

Kans Sa’dudin mengulang kemenangan lumayan besar. Walau catatan-catatan merah masih menggelayut. Diantaranya secara signifikan kursi PKS di DPRD Kab. Bekasi tidak nambah. Tetap 8 kursi. Padahal yang periode sekarang jumlah anggota dewan 50 orang. Secara prosentase malah turun. Dari segi prestasi, publik sangat mengerti bahwa Bupati saat ini biasa-biasa saja. Sejumlah prestasi yang direbut, publik tahu bahwa itu lebih karena kinerja dari birokrat anak buahnya. Namun, soliditas PKS menjadi kelebihan yang tidak bisa disaingi partai lain. Konon, kalau calon lebih dari dua, PKS bisa kembali berkuasa…..

Wakil Bupati Darip Mulyana punya realitas yang khusus. DIa terpilih sebagai Ketua DPD Partai Golkar hasil Musda Tambun. Namun keputusan itu dianulir oleh DPW Jawa Barat yang kemudian mengeluarkan SK untuk Neneng Hasanah Yasin. Walhasil, Darip harus memenangkan pertarungan di internal. Baru keluar kandang untuk bertarung di Pemilukada. Nah, kalau Neneng Hasanah Yasin yang menang. Ada yang menyebut-nyebut, Neneng akan direkrut jadi B2 mendampingi Incumbent. Tapi, ini baru kabar angin lho….

Kans Darip masih fifty-fifty. Untuk maju saja mash fifty-fifty. Bergantung banyak hal. Diantara kondis internal tadi. Seandainya Darip lolos dari lubang jarum, ia akan menjadi kuda hitam yang patut diperhitungkan. Karakter berani melakukan terobosan secara praktis-pragmatis kerap membuatnya melaju. Darip pernah mencalonkan jadi wakil walikota Bekasi berpasangan dengan Toto Subekti. Tapi kalah. Terus, bermanuver ke PKS dan menang di Kabupaten. Prestasi ini setingkat kota dan kab. Bekas belum ada yang menandingi.

Daeng Muhammad. Walau namanya pake Daeng. Dia bukan orang Bugis. Daeng Muhammad asli Pebayuran. Mirip sama nama yang menggunakan nama Mas Aji Santosa atau Raden Pardede atau Franky Raden. Mas, Raden di sini bukan variabel budaya. DI pilkada yang lalu, Daeng pernah maju. Jadi B2 dari Pak Wikanda. Tapi, kalah oleh Pasangan SADAR (sebutan untuk Sa’dudin Darip).

Kans Daeng masih terbuka. Apalagi kalau ia pandai mengambil pasangannya. Pernah disebut-sebut, ia akan mengambil selebritis sebagai pendamping. Tapi isu itu kemudian meredup dan hilang.

Untuk H. Ali bin H. Amin. Publik Bekasi masih belum kenal kiprah dia. Sekarang anggota DPRD Kab. Bekasi. Sejauh ini, belum kelihatan ‘sesuatu yang menarik’ dari anak muda ini. Yang publik tahu, H. Amin, sang ayah. Ia terkenal sebagai pengusaha sukses. Pribumi yang tajir. Sekali lagi ini politik bung….yang muda yang belum kelihatan belum tentu kalah.

Bila H. Ali ditunjang Team Sukses profesional, ia akan tampil lebih elegan. Bagaimana pun PKB punya basis kuat di Kab. Bekasi. Apalagi dengan ketokohan ulamanya. KH Sopandih Nawawi, ulama kharismatis yang punya jamaah ribuan. Beliau Ketua Dewan syuro NU Kab. Bekasi. Kaum Nahdliyin biasanya kompak. Kata kiai putih, ya putih semua. Pertanyaannya kemudian, apakah H. Ali sudah mempersiapkan team suksesnya atau belum. Saya belum tahu. Kalau support financialnya bagus, team profesional bisa di-hire. Efektif dan efesien.

Secara personal saya dekat dengan Kiai Sopandih. Waaah..luar biasa. Kiai ini salah satu cucu dari Syekh Nawawi al Bantani. Tokoh ulama Banten. (cmiiiw). Dia kiai yang jawara. Jawara yang santri. Ilmu kebatinannya diakui jawara seantero Bekasi. Kalau ke Pasar CIbitung, ngaku neh Komar, anak muridnya Kiai Sopandih…wah, gak ada yang berai tuh….ha..ha.ha…eits, ngelantur…..

Kembali ke lap top…..

Bicara pemilukada dan pemimpin yang dicalonkan, sebagai warga Kab. Bekasi buat saya sederhana. Siapa keq Bupatinya kelak, yang penting dia berani bicara benar, bekerja profesional dan amanah. Punya konsep terpadu. Mengonsolidasikan daeah-daerah atau kecamatan yang punya karakteristik heterogen. Beda-beda. Mulain dari demografi, geografi hingga sosiologi psikologinya. Wuaahh…..repot dah bicara Bekasi.

Ibaratnya di Bekasi itu LUMAGADA. Lu mau apa gue ada. Bicara industri berkelanjutan ada di Selatan. Bicara lahan petanian abadi sesuai Keppres 54 ada di Pebayuran-Sukatani-Karang Bahagia-Sukawangi-Tambelang. Bicara pengeboran minyak dan gas bumi ada di Babelan-Cabang bungin-Muaragembong. Bicara pemukiman dari RS4 (rumah sederhana selonjor saja susah) sampai kelas VIP yang satunya seharga 1 Milyar ada. Soal Pelabuhan internasional akan dibangun di Tarumajaya.

Kontribusi wilayah ini ke pusat besar. Pajak PPH Badan aja 47 trilyun. Sokongan ke pusat untuk energi besar, PT BBWM mensuplai 56 % kebutuhan energi jabotabek. Kab. Bekasi bukan lagi daerah penyangga. Bukan, bukan itu, Bekasi bagian integral dari DKI Jakarta. Hampir 60 persen warga Bekasi, kerja di Jakarta. Kebutuhan air minum lewat kali malang melalui Kab. Bekasi. Walau aslinya dari Jatiluhur. Apa pun yang terjadi di Bekasi. Imbasnya Jakarta. Kalau Jakarta goyang, goyanglah Republik ini.

Kalau gak percaya retak saja tanah di perbatasan DKI Jakarta Bekasi. Tanahnya menganga gitu 1 meter….dijamin Jakarta sepi. Dan kehausan, lha wong suplai airnya lewat Bekas. belom lagi suplai kebutuhan sehari-hari. Ayam-bebek kan dari Bekasi besar.

Nah, saya juga menghimbau para pemangku kepentingan untuk mulai dari jauh-jauh hari. Dipersiapkan agar segalanya bisa berjalan. Buat yang mau nyalon, keluar kandang dong. Sosialisasikan ide dan konsep Anda. Kalau gak berani, hubungi jawara dah…..

Salam kebersamaan dari Bekasi Utara…..

Survey Online : Siapakah yang Layak Memimpin Kab. Bekasi….

Sejumlah sahabat berkumpul. Bicara tentang sosok pemimpin yang layak di masa yang akan datang. Pemimpin yang akan membawa daerah ini ke arah yang lebih baik.

Kab. Bekasi wilayahnya luas. 128.000 Ha. Karakteristiknya heterogen. Setiap kecamatan punya karakter-nya sendiri. Ada 23 kecamatan. 187 desa. Muara Gembong, Kecamatan paling luas (14.009 ha).

Di kawasan ini ada 3300 perusahaan dari 13 negara.

DI sebelah Utara ada garis pantai. 71 mil panjangnya. Di Kecamatan Babelan, Cabang Bungin, Sukawangi dan Muara Gembong menyimpan emas hitam. Minyak….

Sebentar lagi akan ada pelabuhan internasional di Tarumajaya. Tentu tak mudah. Tentu tak gampang pula mencari pemimpin yang mampu memimpin kami.

Nah, menurut anda…adakah person yang layak untuk menjadi pemimpin (jadi bupati) pada era 2012-1017….

Siapakah dia, Mengapa layak menurut anda….

Atas urun rembugnya saya ucapkan terimakasih…..

Seorang Pelacur dan Supir Taksi

Catatan Pengantar

Dibawah ini adalah Cerita Pendek saya yang dimuat di Harian Fajar Makassar 22 Mei 1994. Alhamdulillah, cerpen ini diangkat dan diadaptasi ke layar kaca dalam sinetron Pintu Hidayah RCTI 6 November 2006. Selamat membaca dan Mohon maaf jika judulnya kurang berkenan.

—————–

Apakah kau masih akan berkata

kudengar derap jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua

kecuali dalam cinta.

(“Sebuah Tanya”, Karya Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Selasa ,1 April 1969)

KEHIDUPAN berjalan seperti puisi.

Saya senantiasa berpendapat demikian-meski saya bukan seorang penyair tapi tak lebih hanya penikmat puisi-karena saya melewatkan hari demi hari kehidupan dengan beragam nuansa : terkadang sangat melodramatis, romantis, sentimentil, bahkan lucu.

Seperti Puisi.

Saya telah banyak menemui kejadian yang menegaskan fenomena itu. Kemarin, saya mengembalikan dompet seorang ibu yang ketinggalan di taksi saya. Sesungguhnya, saya tidak mengharapkan keuntungan apa-apa dari situ, sebab saya tahu, kejujuran dan kepolosan sudah menjadi bagian integral dari jiwa , tubuh dan segenap aktifitas keseharian saya. Kalaupun kemudian, ia dengan ekspresi wajah lega dan ucapan terimakasih tak terhingga, lalu memberikan uang sebagai penghargaan atas”jasa” saya, dan kemudian dengan halus saya menolaknya, itu semata-mata karena apa yang telah saya lakukan sudah menjadi tugas saya, komitmen saya untuk menjunjung tinggi “harkat ke-supir taksi-an” saya. Tak lebih. Lantas, dua minggu lalu, saya menolong seorang korban kecelakaan lalulintas di depan kampus sebuah perguruan tinggi. Saya segera membawanya ke unit gawat darurat Rumah Sakit terdekat, dengan tidak memperhitungkan lagi berapa tarif taksi yang saya dapat peroleh andai saya tetap mengabaikan kejadian itu.

Semua terasa seperti tindakan”bawah sadar” yang telah terbentuk sedemikian rupa selama bertahun-tahun, sejak ayah almarhum menanamkan nilai-nilai kependekaran pesilat kampung dan kearifan petani penggarap. Kejadian-kejadian tadi seperti mengguratkan puisi-puisi indah dalam hidup saya.

* * *

KINI saya kembali menjalani rutinitas saya. Bukan rutinitas yang lazim memang, karena setiap petang tiba, saya menjemput Susan-seorang wanita panggilan “kelas kakap”-yang tinggal disebuah rumah mewah di sebuah kompleks pemukiman real estate, untuk kemudian membawanya kesuatu tempat, dimana saja, yang telah disepakati sebelumnya oleh pelanggan setia saya itu.

Ia sudah menyewa taksi saya selama 6 bulan. Jadi pada jam-jam tertentu-biasanya petang hari-saya menjemputnya di rumah, membawanya ke suatu tempat yang senantiasa berbeda-beda, lantas mengantarnya kembali pulang setelah “bisnis”nya usai pada jam-jam tertentu pula.

Susan membayar cukup mahal untuk tugas tersebut. Dan saya menerima itu sebagai bagian tak terpisahkan dari harkat “kesupir taksi-an” saya. Saya tidak menganggap itu sebagai kerja yang hina lantaran menerima bayaran dari hasil desah dan keringat maksiat Susan. Ini bagian dari tugas, demikian saya mencari alasan pembenarannya.. Persetan dengan semua anggapan sinis tentang saya. Bagi saya, saya tetap memiliki hak untuk menentukan sikap dan melakukan apa yang terbaik untuk saya. Prinsip sederhana tapi logis.

Sudah empat bulan saya melakukan”tugas rutin” ini. Saya sudah berusaha menghilangkan beban psikologis apapun termasuk perasaan cinta. Saya memang tidak dapat mengingkari kata hati bahwa Susan memang cantik dan saya telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan rambut sebahu, wajah oval proporsional, hidung bangir, kulit putih dan postur tubuh ramping semampai, Susan tampil mempesona mata setiap pria yang melihatnya. Termasuk saya. Sebagai lelaki bujangan dan normal, saya tidak dapat menepis getar-getar aneh saat wangi parfumnya yang khas menyerbu hidung ketika ia masuk ke taksi saya.

Tapi saya berusaha menekan perasaan itu sekuat-kuatnya. Terlebih, ketika muncul rasa cemburu, saat ia digandeng om-om kaya yang lebih pantas menjadi ayahnya. Saya seyogyanya harus menempatkan diri pada posisi yang benar : ia adalah pelanggan dan saya hanya supir taksi. Saya mematuhi “rambu-rambu” itu secara konsisten.

Percakapan kamipun, baik ketika pergi maupun pulang, biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Bahkan nyaris bersifat rutin. Saya berusaha menjaga jarak dengan Susan agar tidak terlibat lebih jauh ke masalah yang sifatnya terlalu pribadi. Namun belakangan ini sudah ada sedikit”peningkatan kualitas pembicaraan”. Tidak hanya sekedar, “Mau kemana ?” atau “Jam berapa mau dijemput ?”, dan sebagainya.

Susan mulai menanyakan latar belakang pribadi saya hingga menanyakan ada berapa jumlah penumpang di taksi saya untuk hari ini. Saya gembira pada perkembangan menarik ini. Mulanya saya agak rikuh tapi perlahan saya mulai dapat menyesuaikan diri dan menjadi pembicara ataupun pendengar yang baik.

Hubungan emosional kamipun berlangsung hangat. Susan pun tak canggung-canggung mengungkap riwayat hidupnya pada saya. Ia ternyata produk keluarga broken home. Ketika ayah dan ibunya bercerai, ia minggat. Ia tidak tahan dan prihatin dengan kondisi seperti itu. Iapun tidak peduli pada siapapun, termasuk kakak maupun adiknya. Saya harus terus hidup dan berjuang, kata Susan menetapkan hati.Tanpa disadarinya, ia terjerumus ke lembah nista. Kehidupan malam dan hingar bingar pesta, sepertinya memberikan keleluasaan baru dan ia bagai memperoleh jati diri disana. Susan akhirnya jadi primadona di sebuah Diskotek ternama yang tak lain sebagai kedok ajang prostitusi kelas atas. Nama Susan melambung tinggi sejak itu. Hampir semua lelaki yang mampir di diskotek itu siap melakukan apapun asal Susan mau berkencan dengan mereka. Pada akhirnya, Susan kemudian menjadi “istri peliharaan” seorang direktur di kota ini,dengan tip dan bayaran yang sangat besar plus rumah mewah komplit segala isinya. .

Sang Direktur hanya datang pada waktu-waktu tertentu saja untuk menemui Susan. Meskipun begitu, profesinya tak juga ditinggalkan. Ia menjadi wanita panggilan untuk “kalangan elit”.

“Saya menyukai pekerjaan ini”, katanya suatu ketika. Suaranya terdengar serak, terkesan dipaksakan. Saya melirik melalui kaca spion, ia duduk santai dibelakang, menyelonjorkan kaki dan menyalakan rokok.. Saya tersenyum dan kembali mengalihkan pandangan ke depan. Ia tak menjelaskan lebih jauh pernyataan yag telah dikeluarkan. Hanya kepalanya terangguk-angguk pelan menikmati lagu melankolis “When A Man Loves A Woman”nya Michael Bolton yang mengalun dari tape recorder taksi saya..

“Hey , Hamzah. Kamu sudah punya pacar belum ?” tanyanya tiba-tiba. Saya gelagapan dan agak kehilangan konsentrasi mengemudi.

“Belum”, saya menjawab tersipu. Sebuah jawaban yang jujur. Saya akui, saya bukan type lelaki yang dapat dengan mudah membina hubungan cinta dengan wanita. Saya memiliki selera perfeksionis, tapi tak pernah punya cukup keberanian untuk menerapkannya lebih jauh.

Susan terkekeh. Ia menghirup rokoknya dalam-dalam. Rimbun asapnya mengepul-ngepul, memenuhi kabin taksi. Saya menelan ludah.

“Kalau Susan sendiri bagaimana ?”, saya balik bertanya.

“Kamu tahu sendiri kan’ ?. Banyak. Banyak sekali,” sahut Susan. Suaranya terdengar hambar. Kedengarannya ia seperti melontarkan sebuah lelucon. Atau apologi ?. Saya tak tahu.

“Banyak memang. Tapi hampa”, saya menanggapi dengan getir.

Untuk beberapa saat Susan terdiam. Ia mematikan rokoknya, lalu merenung. Lama. Hanya deru mesin mobil dan getar alat air conditioner (AC) taksi terdengar. Lalu lintas di larut malam itu memang telah sepi. Sebagian lampu jalan telah dipadamkan. Saya tiba-tiba menyadari kecerobohan dan kelancangan saya.

“Maafkan saya, Susan. Saya….”

“Tidak apa-apa, Hamzah. Kamu benar. Mereka hampa. Cuma punya tubuh dan nafsu. Bukan jiwa dan cinta,” tutur Susan lirih. Saya menghela nafas panjang. Dada saya terasa sesak.

“Hidup menawarkan banyak pilihan, Susan”

“Tapi saya tak punya pilihan !”, sangkal Susan. Nada suaranya meninggi. Saya berusaha menenangkan diri.

“Kearifan menyikapi dengan landasan moral, itu kunci untuk memilih. Kita memang tak akan pernah tahu apakah pilihan hidup kita sudah tepat. Tapi setidaknya, kita mesti punya pegangan yang kokoh untuk menentukan kemana kita mesti melangkah ,” saya berkata lembut. Terdengar nafas berat Susan dibelakang. Suasana terkesan kering dan kaku.

Kami tak bercakap-cakap lagi hingga saya mengantarnya ke gerbang depan rumahnya. Ia hanya mengucapkan “Selamat malam. Sampai jumpa besok sore”. Saya pulang ke rumah dengan rasa bersalah yang bertumpuk.

Sekarang, saya kembali menjemputnya seperti biasa pada waktu dan tempat yang sama. Kekakuan komunikasi akibat “insiden” tempo hari telah lenyap. Sayapun berusaha untuk lebih hati-hati. menjaga perasaannya.

“Apa kamu tidak bosan dengan rutinitas seperti ini, Susan ?”, saya membuka percakapan, pada hari terakhir kontrak sewa saya dengan Susan.

“Apa kamu punya ide yang baik ?”, ia balas bertanya.

“Yaa..misalnya menempuh rutinitas yang baru. Kawin dengan lelaki yang mampu memberi nafkah cukup lahir batin-tidak sekedar limpahan materi yang semu belaka, hidup bahagia, punya anak dan menikmati kehidupan”, saya mengucapkan kalimat tersebut sesantai mungkin. Tanpa beban. Saya ingin mendengar pendapatnya mengenai hal ini.

Sejenak Susan terdiam. Saya kembali melirik kebelakang lewat kaca spion mobil. Susan terlihat sangat cantik. Parasnya yang memukau seperti bercahaya. Ia melepas pandang ke luar melalui kaca jendela taksi yang buram. Seperti memikirkan sesuatu.

“Itu angan-angan yang terlalu ideal, Hamzah” jawabnya, akhirnya.

“Jangan melihat ini sebagai sesuatu yang naif, Susan. Saya rasa pendapat saya cukup realistis. Tidak mengada-ada. Setiap orang, baik lelaki maupun wanita, pasti pernah berfikir mengenai hal itu : Kebahagiaan hidup berkeluarga. Semuanya akan kembali pada prinsip dan keinginan orang yang bersangkutan, sepanjang ia sadar dan yakin hal itu bakal memberikan ketentraman bagi jiwanya, hatinya dan segenap aktifitas kesehariannya”, saya mencoba melontarkan argumen.

“Kita punya takaran penilaian yang berbeda, Hamzah. Tak akan bisa bertemu. Jangan terlalu banyak bermimpi. Kita hidup berada dalam kemungkinan-kemungkinan. Apa yang bakal terjadi kemudian, kita tak bisa menebak. Dan itu sering tidak persis sama seperti yang kita bayangkan,”ujar Susan lirih dengan bibir bergetar. Saya menarik nafas. Putus asa.

“Apakah Susan menganggap bahwa lakon hidup yang Susan lakukan selama ini sama persis seperti yang Susan bayangkan sebelumnya ?”

“Memang tidak sama, Hamzah. Bahkan sangat jauh berbeda. Saya tidak pernah mengimpikan menjalani kehidupan seperti ini. Tapi, bukankah ini bagian dari kemungkinan-kemungkinan hidup ?. Tidak berarti saya mengatakan bahwa saya menolak kehidupan berkeluarga. Saya bukan orang yang munafik, Hamzah. Saya tetap mendambakan seorang suami yang dapat menyayangi dan memanjakan saya serta anak sebagai tambatan hati. Namun, kalau saya telah menemukan ketenangan pada profesi yang saya lakoni saat ini , bagi saya bukanlah suatu pilihan yang keliru. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk memaknai hidupnya”.

“Apa Susan merasa bahagia dengan memaknai hidup dengan jalan ini ?”

“Saya tak bisa menjawabnya, Hamzah. Kamu tidak akan pernah tahu ukuran dan nilai kebahagiaan bagi saya seperti apa. Begitu pula sebaliknya. Kita punya “nilai rasa” yang berbeda dalam menakar kebahagiaan”, Susan bertutur pelan dengan tidak mengalihkan pandangan kearah luar taksi.

Saya terdiam. Saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Saya sadar, Susan cukup konsisten memegang prinsipnya.

Mendadak, kesedihan merambah dalam hati saya. Hari ini adalah hari terakhir saya bersama Susan. Besok, Susan akan berangkat berlibur ke Singapura dan Australia mendampingi sang Direktur selama sebulan.

Saya tidak tahu apakah Susan akan menyewa “jasa” saya lagi kelak. Bagi saya itu tidak penting. Kebersamaan dengan Susan selama ini, tanpa sadar membangkitkan rasa cinta dan keinginan melindungi dalam hati saya. Saya merindukan dia. Melalui kaca spion mobil, saya melirik Susan. Ia begitu cantik, sangat cantik., saya membatin sekaligus nelangsa.

Kami telah sampai ke tujuan. Saya segera mematikan mesin mobil dan mengumpulkan segenap keberanian yang ada. Susan baru saja hendak membuka handle pintu belakang ketika saya berseru.

“Susan, tunggu !”

Ia mengurungkan niatnya dan memandang saya. Matanya bertanya. Dada saya berdegup kencang.

“Saya mencintai kamu, Susan,” saya mengungkapkannya dengan tenggorokan tercekat. Susan menatap tak percaya. Saya segera meraih tangannya. Meraba jemarinya yang halus. Mengalirkan keyakinan.

“Hentikan semua ini, Susan. Kamu seharusnya hidup lebih layak, terhormat dan bernilai. Apa yang kamu lakuan selama ini hanya akan membuat hidupmu didera kesalahan dan dosa. Hiduplah dengan saya. Kita menikah. Saya berjanji akan membahagiakan kamu”.

Susan menggigit bibir. Ia tampaknya memikirkan sesuatu. Saya merasa cemas. Saya sudah menabah-nabahkan hati untuk siap menerima kemungkinan terburuk. Saya memandang Susan dengan tajam. Penuh harap.

Susan tersenyum. Ia mempererat genggaman tangan saya. Tatapan matanya seperti menyiratkan sesuatu. Sangat misterius.

“Saya memang harus menentukan pilihan, pada akhirnya. Tapi kita hidup dalam dunia yang berbeda, Hamzah. Kamu tak akan bisa memahami saya, seperti sayapun tak bisa memahami kamu. Terimakasih atas ketulusan tawaranmu. Saya menghargainya . Biarkan saya memilih dan melewati jalan yang menurut saya terbaik. Ma’afkan saya. Selamat tinggal”, Susan mengucapkannya dengan bibir bergetar. Pelupuk matanya basah. Disekanya cepat-cepat, lalu membuka handle pintu tergesa-gesa dan pergi.

Saya tak bisa mencegahnya lagi. Saya hanya sempat memandangi punggungnya serta gaunnya yang berkibar ditiup angin senja, untuk terakhir kali, dengan pandangan kosong. Terasa ada yang hilang dalam diri saya, sesuatu yang tak dapat saya ungkapkan bagaimana adanya. Yang pasti, saya seperti telah mencipta “Puisi” baru dalam lakon hidup saya.

Samar-samar saya mengingat sebait syair bagus :

Lihatlah gadis yang berjalan sendiri di pinggir sungai

Lihatlah rambutnya yang panjang

dan gaunnya yang kuning bernyanyi bersama angin

Cerah matanya seperti matahari

seperti pohon-pohon trembesi

Wahai, cobalah tebak kemana langkahnya pergi

(“Gadis dan Sungai”, karya Emha Ainun Nadjib dari buku “Sesobek Buku Harian Indonesia)

Pelajar Pengguna Narkoba di Bekasi Meningkat

Bekasi, 29/4 (ANTARA) – Jumlah pelajar di Kota Bekasi yang menjadi pengguna narkoba dan tertangkap tangan saat ada razia ataupun penggerebekan terus meningkat dari 60 orang pada 2008 menjadi 72 orang pada 2009.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Kota Bekasi Encu Hermana di sela kegiatan sosialisasi pencegahan narkoba bagi siswa dan mahasiswa di Bekasi, Kamis, mengatakan, peningkatan jumlah pelajar yang tertangkap sebagai pengguna mengindikasikan telah terjadi peningkatan penggunaan narkoba pada siswa SMU dan SMK.

Kasus narkoba secara umum pada 2008 sebanyak 417 kasus dengan tersangka 461 orang dan 2009 menjadi 560 kasus dengan 645 tersangka.
Sedangkan barang bukti yang dimusnahkan mencapai ribuan kilogram ganja, puluhan ribu pil ekstasi, ratusan bong sabu-sabu, serta beberapa gram heroin.

Jenis narkoba yang banyak digunakan oleh siswa berupa ganja sementara jenis lain seperti ekstasi, sabu dan heroin sangat sedikit.

Dalam menekan penggunaan narkoba dan menumbuhkan kesadaran akan bahaya narkoba, pihaknya pada 2010 lebih menekankan pada pencegahan dengan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah.

Kegiatan sosialisasi itu dilaksanakan bahkan mulai tingkat sekolah dasar dengan pertimbangan mereka telah dijadikan target melalui permen mengandung narkoba.

“Dari sosialisasi itu siswa jadi tahu bahaya menggunakan narkoba begitu juga modus yang dilakukan pengedar dalam membujuk siswa mengkonsumsi narkoba. Narkoba telah diingatkan nikmatnya sesaat dan sejenak sementara akibatnya sangat luar biasa dan bahkan kematian,” ujarnya.

Dalam kegiatan “road show” ke sekolah-sekolah terlihat tumbuhnya kesadaran untuk menghindari dari penggunaan narkoba serta kesadaran mengisi waktu luang dengan kegiatan positif seperti berolahraga ataupun kegiatan lain yang bermanfaat.

“Pada setiap kegiatan di kecamatan, kita juga sudah meminta agar diselipkan bahaya narkoba termasuk kepada orang tua dalam mengenali anak yang mulai menjadi pengguna narkoba serta kiatnya agar anak terhindar dari narkoba,” ujar Encu.

Kepala Seksi Penindakan BNK Kota Bekasi Agustin menyatakan setiap tiga bulan sekali diadakan razia di sekolah-sekolah untuk mencegah dan menangkap pengguna narkoba.

Sumber: Antara

Salju di Kyoto

KYOTO masih seperti dulu, saya bergumam dalam hati ketika menapak tilas perjalanan saya kembali ke kota kebudayaan di negeri Matahari Terbit.

Gedung kuno dengan ornamen yang sarat imaji kontemporer seperti kuil Higashi Honganji, Sanjusangendo, Kiyomizu, dan Ryoanji, berpadu dengan bangunan berarsitektur modern berlatar belakang perbukitan yang indah, terbentang di hadapan saya.
Bau sake kelezatan tempura, sukiyaki, dan yakitori yang khas seperti menusuk hidung saya. Melempar saya kembali pada kenangan lima tahun silam….

*****

Saat salju turun bagai gumpalan kapas menyelimuti kota itu. Saya memandanginya penuh takjub dari jendela kamar di salah satu suite apartemen di pusat kota Kyoto. Salju dimana-mana, di puncak bukit, di bubungan rumah hingga jalan, dan trotoar. Suatu pemandangan yang sangat langka terjadi di Indonesia. Disamping saya duduk Asako, gadis Jepang lulusan Harvard University yang jadi penerjemah dan pemandu saya selama mengikuti pelatihan di Jepang. Ia memandang saya dengan tatapan heran.

“ Asako, salju itu indah!” saya bergumam pelan tanpa melepaskan pandangan ke luar.

Asako tertawa geli. Dengan penuh ingin tahu dia juga mengarahkan pandangan ke luar. Wangi parfum Shisuedonya memenuhi udara.

“ Anda lucu , Taufiq-san. Bagi saya turunya salju bukan sesuatu yang luar biasa,” katanya. Ia membalikkan badan dan berjalan mengambil minuman.

Saya tidak menanggapi kata-katanya.

“ Anda mau sake, Taufiq-san ?” Asako menawarkan.

Saya mengangguk perlahan. Dengan langkah ringan Asako lalu datang membawa dua cangkir sake. Ia mengangsurkan sebuah cangkir berisi sake kepada saya.

Dozo , Taufiq-san. Anda ingin kita kampai untuk siapa, atau…. Apa?” Asako bertanya, memamerkan senyumnya yang menawan.

Arigato Gozaimas , Asako-san. Begini saja, kita kampai untuk keindahan salju dan keindahan….. senyummu. Oke?” Saya menyarankan.

Pipi Asako memerah. Ia belum sempat menjawab ketika saya mengangkat cangkir sake sambil berseru, “ Kampai! Untuk salju yang indah dan Asako-san!”

Asako mengikuti dengan gugup. Kami meneguk sake bersama. Hanya sekali tegukan. Sesudah itu kami saling pandang, lama.

Paras Asako berbeda dengan wanita Jepang kebanyakan. Ia memiliki mata yang jernih, tidak terlalu sipit, dan kulit yang cenderung kecoklatan. Tapi, disitulah daya tariknya!

Saya belum terlalu lama mengenalnya. Selama 6 bulan waktu pelatihan keteknikan dan manajemen yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat saya bekerja, Asako dan dua orang temannya ditugaskan sebagai penerjemah bahasa Jepang.

Berhubung diantara kami yang berjumlah 15 orang, tak seorangpun bisa berbahasa Jepang, sebaliknya tak seluruh pengajar kami dapat berbahsa inggris, apalagi bahasa Indonesia.

Asako bertugas dua kali seminggu, bergantian dengan dua rekannya. Mereka menjadi ‘jembatan budaya’ kami dengan Jepang. Asako, yang juga bejerja pada bagian pemasaran perusahaan periklanan di Kyoto, termasuk gadis yang lincah dan supel. Dia berbeda dengan dua rekannya yang kaku. Dalam waktu sebulan saja, ia sudah akrab bersama kami, terutama pada saya. Kedekatan saya dengan Asako lebih dari sekedar hubungan antara guru dan murid.

Hubungan kami berkembang menjadi saling pengertian yang lebih jauh. Saya tidak tahu, apakah itu cinta atau tidak. Yang jelas Asako tidak menginginkan itu. Katanya suatu ketika, Taufq-san, mohon anda paham. Saya berharap hubungan kita adalah persahabatan, tidak lebih. Saya tak ingin terluka. Anda bisa mengerti, bukan?

Waktu itu saya tak bisa berkata apa-apa. Saya hanya mengangguk. Saya berusaha mengerti, bahwa ada tirai tipis yang menghalangi hubungan kami. Asako sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk tersebut lebih awal.

Kini, Asako ada dihadapan saya. Kami saling pandang. Ada getar-getar misterius mengalir dari kedua mata kami.

“Anda membuat saya jengah, Taufiq-san,” Asako tersipu,lalu menunduk malu

Saya tertawa. “ Sudahlah, mari kita cerita yang lain. Tentang salju, misalnya,” ujar saya mencairkan suasana. Asako tersenyum. Ia menawarkan sake lagi. Dan, kami minum bersama sambil duduk diatas tatami.

“Oh, ya! Tentang salju…. saya punya cerita tentang itu,” Asako memulai kisahnya. Matanya yang jernih berpijar. “ Saya lahir dikota Nagaokakyo, Tepat pada saat salju pertama turun setelah musim gugur 1970. Orang tua saya karyawan perusahaan elektronik terkemuka di Jepang. Saya anak perempuan pertama di keluarga saya. Kedua kakak saya lelaki. Saya mendapat perhatian dan kasih sayang yang lebih dibanding mereka.”

“ Waktu kecil , setiap kali salju turun, Ayah selalu mengendong saya. Kami berdua memandang dari balik jendela yang buram, salju berjatuhan dari langit. Ayah selalu terpesona dengan pemandangan itu. Kadang ia duduk di kursi, memangku saya dan menatap kagum butir-butir salju tersebut sambil membelai kepala saya. ‘ Asako,Indah sekali salju itu. katanya. Kalimat itu senantiasa tergiang di telinga saya setiap kali saya melihat salju turun.” Asako terdiam sejenak lalu menerawang, mencoba menyeret kembali segala kenangan masa lalu.

“Beberapa tahun kemudian”, lanjut Asako, “setelah saya berhasil menamatkan kuliah di Harverd University, saya mendampingi ayah terbaring di rumah sakit. Pada saat itu, salju baru turun di depan rumah sakit tempat Ayah dirawat. Dengan penuh harap ia meminta saya membuka tirai jendela rumah sakit untuk melihat butiran salju turun dari balik kaca. Saya memenuhi keinginannya. Dan, malam itu dia meninggal dengan senyum menghias bibirnya,” tutur Asako mengakhiri kisahnya. Matanya berkaca-kaca.

“ Cerita yang sangat menarik, Asako! Ternyata kau memiliki pengalaman dan kenangan mendalam tentang salju,” saya memandangnya terharu.

“ Terutama kenangan pahit, Taufiq-san. Masuda, kekasih saya, menyatakan perpisahan kami pada saat musim salju pertama turun, bulan Desember tahun silam,” Asako tiba-tiba terisak. “Dengan ringannya Masuda berkata, ‘Asako, masih selalu ada salju yang turun setiap tahun.’ Kemudian dia pergi begitu saja, tanpa kabar apapun. Hingga kini….” Kata Asako lirih. Air matanya mulai berlinang.

Saya tidak tahan untuk tidak memeluknya. Saya lalu mengambil sapu tangan dan menyeka air matanya.

“Apakah saya terlalu cengeng dan sentimental, Taufiq-san?” Asako bertanya dengan bibir bergetar.

Saya tersenyum dan menjawab seraya menepuk pundaknya,”Asako, mengekspresikan kesedihan itu alamiah. Setiap orang, termasuk saya, pasti memiliki masa lalu yang pahit. Oke, kita tak usah bercerita tentang salju. Gantian, saya yang akan bercerita tentang kampung halaman saya.”

Asako mengangguk, matanya yang redup mulai berbinar. Sayapun bercerita tentang Indonesia, kampung halaman saya. Tentang keindahan masa kecil saya bermain bola di atas petak sawah yang mongering dengan telapak kaki telanjang. Mandi beramai – ramai di sungai, dan… sapi peliharaan saya, Panjul, yang akhirnya dijual Ayah ke Pak Paimin untuk membiayai sekolah saya ke kota.

Saya mengisahkan kesedihan saya ditinggalkan Panjul. Saya membayangkan dia dipotong, dicincang, dibuat soto daging dan satai. Asako tertawa geli melihat ekspresi wajah saya ketika memamerkan gaya tukang daging dengan wajah dingin sedang mencicang si Panjul.

Saya mengakhiri kisah saya sambil memandang Asako yang tersenyum. Dalam keredupan lampu, saya melihat wajahnya bersinar cantik sekali. Malam semakin larut. Saya pamit pulang ke hotel saya yang letaknya tidak jauh dari suite apartemen Asako dengan berjalan kaki.

Saat mengenakan jaket, Asako tiba-tiba berdiri di hadapan saya, dekat sekali. Tatapannya misterius. “Taufiq-san, Arigato. Terima kasih,” katanya pelan. Ia lalu mencium pipi saya. Saya terperangah oleh kejutan yang tidak terduga itu .

Oyasuminasai, Asako-san. See you tomorrow,” saya berkata kemudian berbalik pergi meninggalkan Asako yang masih berdiri terpaku di depan pintu apartemennya.

Sejak saat itu, hubungan saya dan Asako makin dekat. Asako selalu menemani saya mengunjungi daerah – daerah pariwisata terkenal di Kyoto. Kami pergi ke villa Kerajaan Katsura yang memiliki tata arsitektur etnik yang menarik. Termasuk perkampungan film Toei Uzumasa yang ditata apik bersuasana zaman feudal yang kental. Saya berusaha menjaga jarak dengan Asako .

Saya menghormati komitmen yang sudah ia berikan. Meskipun untuk itu saya harus memendam ketertarikan saya kepadanya dari hari ke hari. Pada saat saya terakhir berada di negara Sakura itu, kami berjalan berdua menyelusuri daerah Kawaramachi, salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Kyoto. Kami lalu duduk di salah satu sudut restoran sembari menyantap tempura dan minum bir.

Kami memandangi orang yang lalu lalang dihadapan kami. Mereka seolah tak perduli musim dingin dengan timbunan salju yang menggumpal dimana-mana.

“Taufiq-san, rasanya….saya sudah jatuh cinta pada anda!” Asako tiba-tiba menyentak kesunyian di antara kami. Bibirnya bergetar mengucapkan kalimat itu.

“Asako, kau menganggap hal itu suatu kekeliruan?” Saya memandangnya tak berkedip, dan meletakkan kembali yakitori yang sudah saya ambil ke piring. Asako menghela nafas panjang.

“ Bukan kekeliruan, Taufiq-san. Saya tak bisa mengingkari kata hati saya. Hubungan yang selama ini kita bangun telah menjelma menjadi suatu ikatan yang kuat, yang bagi saya telah memberikan nuansa tersendiri. Anda seorang pria yang memiliki kepribadian menarik, jujur, dan penuh semangat hidup.

Mungkin hal itu yang membuat saya tak kuasa menahan perasaan saya, “ ucap Asako lirih, nyaris tak terdengar.

Saya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Saya lalu melemparkan pandangan kepada orang-orang yang berseliweran di depan jendela restoran tempat kami berada.

“ Anda tak perlu merasa bersalah, Taufiq-san. Saya sudah mengetahui bahwa inilah resiko hubungan kita. Saya tak menuntut apa-apa. Lagi pula, sejak awal pertemuan kita. Saya, sudah menandaskan bahwa saya tidak mau hubungan kita berkembang terlalu jauh. We’re just friend, Taufiq-san. Bila kemudian perasaan cinta semakin berkembang, anggaplah itu suatu intermezzo belaka, “ Asako berkata dengan suara serak. Ia seolah memendam beban berat. Ditekurinya lantai restoran dengan menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Saya segera meraih tanganya dan menggenggamnya erat-erat. “Asako, saya sama sekali tidak mau menganggap hal itu suatu intermezzo atau lelucon. Walau kita dipisahkan oleh perbedaan, bagi saya cinta itu adalah bahasa yang universal. Saya tidak akan merasa bersalah jika memendam perasaan yang sama terhadapmu. Ini sesuatu yang wajar dan manusiawi. Apakah….. kita harus meninjau ulang komitmen kita, Asako?” saya bertanya penuh harap, dan menatap mata Asako yang jernih seperti jernihnya Danau Kurobe di Tomaya.

“ Taufiq-san, Taufiq-san. Besok anda harus kembali ke Indonesia. Meninjau ulang komitmen yang telah kita sepakati rasanya sudah terlambat sekarang. Mengenal sosok anda , meski dalam waktu yang singkat, bagi saya merupakan suatu anugrah yang sangat berharga. Biarlah apa yang telah kita lalui bersama menjadi kenangan manis. Kita jalani saja hidup ini. Bukankah pada akhir musim gugur mendatang salju akan turun lagi?” ujar Asako ringan. Ia lalu tersenyum paling manis yang pernah saya lihat.

*****

Hari ini, awal Desember, ketika salju pertama kali turun, saya kembali ke Kyoto. Setelah 5 tahun meninggalkannya, masa lalu yang indah bersama Asako kembali membayang. Di manakah dia sekarang? Apakah ia telah menemukan salju baru-nya?.

Sejak saya kembali ke Indonesia, kami sering berkorespondensi lewat surat. Dalam suratnya ia sama sekali tidak menyinggung tentang hubungannya dengan pria lain. Asako sangat tertutup untuk hal itu. Tapi, hubungan kami hanya sempat berjalan dua tahun. Sejak saya menikah, hubungan kami terputus. Saya pernah mencoba menghubunginya beberapa kali, baik lewat surat maupun telepon, tetapi selalu tak ada jawaban.

Pada saat tiba di Kyoto, saya langsung mendatangi apartement di mana Asako dulu tinggal. Termasuk perusahaan periklanan tempat dia bekarja untuk mencari tahu di mana dia berada sekarang. Tapi, tak seorangpun memberi keterangan, membuat saya putus asa. Saya tidak tahu di mana Asako berada sekarang!

Saat ini saya berada di Kawaramachi. Saya berdiri di depan restoran di mana kami dulu makan siang, sehari sebelum kepulangan saya ke Indonesia. Saya tidak tahu, kekuatan magis apa yang telah menarik saya kemari. Meja dan kursi tempat kami duduk dulu tidak berubah. Suasana hiruk pikuk tempat perbelanjaan terlihat, meski udara agak dingin dan salju menyelimuti hampir seluruh pelosok kota.

Tiba-tiba saya merasa pundak saya di tepuk dari belakang.

“Taufiq-san, kapan datang?”

Saya berbalik. Suara itu….Suara yang amat saya kenal. Seperti bergema dari jarak yang teramat jauh. Tapi, tidak! Asako berdiri di depan saya dengan wajah dan senyum yang nyaris tak berubah. Wangi parfumnya menyerbu akrab ke hidung saya.

Kami saling berpelukan melepas rindu. Setelah itu kami masuk ke restoran dan menempati meja dan kursi yang kami duduki dulu. Kami saling bertukar cerita. Saya menuturkan kegiatan saya, termasuk kelucuan putra saya, Rahmat. Si kecil itu hasil pernikahan saya dengan Sri, 3 tahun lalu. Asako lebih banyak diam dan memberi kepada saya kesempatan berbicara lebih banyak. Mata Asako terlihat lebih cekung, seolah menanggung beban kesedihan yang berat.

Keindahan dan kejernihan Danau Kurobe tak terlihat lagi di matanya. Saya merasa telah ada sesuatu yang tragis terjadi pada dirinya.

“Berbahagialah anda, Taufiq-san. Kehidupan perkawinan anda harmonis. Sayang, saya tak seberuntung anda,” kata Asako pelan. Ia seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang sulit diutarakan.

“Ada apa, Asako-san? Katakana apa yang telah terjadi?”

“Saya berkenalan dan menikah dengan Tamura, salah seorang karyawan perusahaan sekuritas di Tokyo, 3 tahun silam. Setelah itu semuanya berubah. Saya ikut suami saya ke Tokyo. Ruang gerak saya mulai dibatasi. Saya hanya diberikan otoritas mendidik anak kami, Kimiko. Saya diminta berhenti dari pekerjaan saya dan hanya bekerja di rumah saja. Semua itu saya lakukan semata-mata untuk bakti saya kepada suami.”

“ Tapi, yang terjadi kemudian sangat menyedihkan. Tamura menyeleweng dengan seorang gadis Geisha di kedai minum langganannya. Ia mulai jarang pulang ke rumah. Dan, yang paling menyakitkan, Tamura sering mabuk, bahkan memukuli saya tanpa sebab. Saya tidak tahan dan minta cerai. Saya lalu kembali ke Kyoto, membawa serta Kimiko. Saya beru tiba disini, 3 hari yang lalu. Sekarang, Saya tinggal di rumah kakak lelaki saya. Saya tidak tahu, mengapa nasib saya seburuk ini, Taufiq-san,” tutur Asako terbata-bata. Anehnya, ia tidak mengeluarkan air mata. Hanya wajahnya terlihat lebih tua dan layu. Ia kelihatan begitu menderita.

“Taufiq-san, saya tidak menyangka dapat bertemu dengan Anda kenbali di sini. Anda masih ingat cerita saya tentang salju?” Asako memandang saya lekat-lekat.

“Ya, Asako, Bagaimana saya dapat melupakannya? Saat itu, di tempat kita berada sekarang, kau berkata, bukankah pada akhir musim gugur mendatang, salju baru akan turun lagi? Apakah bagimu kalimat itu berarti?”

“Sangat berarti, Taufiq-san. Kalimat itu saya ucapkan sebagai ekspresi kasih sayang saya kepadamu. Ketika saya berkenalan dan menikah dengan Tamura, saya menyangka telah menemukan ‘salju baru’ yang indah. Tapi ternyata, saya salah menafsirkan cinta Tamura. Dalam banyak hal, Anda memiliki kepribadian yang saya dambakan. Saya telah melewatkan kesempatan menikmati keindahan salju cinta anda. Itu suatu kekeliruan besar!” Ujar Asako sambil menundukkan wajahnya, menekuri lantai restoran.

“ Asako-san,” saya mencoba menghibur hatinya, “ kehidupan berjalan begitu saja. Apa yang telah terjadi pada dirimu, pada saya, dan siapa pun juga, semua sudah di atur oleh-Nya. Kita hanya punya kehendak dan usaha. Selebuihnya, Tuhan menentukan. Kamu tak perlu menyesalinyanya berlarut-larut. Hal itu justru membuat kau tenggelam pada kesedihan yang berkepanjangan. Pada saat ini, yang penting menata hati dan hari depan yang lebih baik. Jangan bermuram durja, Asako. Masih banyak orang yang m,engasihimu. Ada Kimiko, saudara lelakimu, dan juga saya. Tak ada yang lebih berharga dari semua itu, bukan?”

Asako menatap saya lekat-lekat. Lalu, berlahan-lahan senyum manis terukir di wajahnya. Senyum yang begitu saya kenal. Dengan hangat ia kemudian mencium pipi saya.

“ Terima kasih, Taufiq-san,”bisiknya lirih di telinga saya. Matanya berbinar cerah.

Di luar salju mulai menebal. Gumpalannya bertebaran di mana-mana. Warnanay putih menyiratkan misteri yang tak terpecahkan. Sungguh suatu keindahan yang menakjubkan. Saya pun tahu pasti, saya telah memiliki keindahan yang sama. Nun jauh disana…di kampung halaman saya, pada mata teduh Sri, istri saya, dan binar ceria mata Rahmat, putra kesayangan saya.

Keterangan:

Dozo = Silahkan

Kampai = Bersulang

Arigato Gazaimas = Terimakasih banyak

Oyasuminasai = Selamat Malam

Catatan :

Cerpen ini Dimuat di Majalah Femina Edisi 33/1998, tanggal 20-26 Agustus 1998

Sumber Gambar diambil dari sini



Puisi : Mentari Merah Jambu di Matamu

Pelangi yang menjemputmu pulang
seperti gadis mungil berpita jingga
yang berlari kecil menggandeng tanganmu
dengan senyum riang
dan tak henti memandang mentari merah jambu
yang berpijar dari lembut matamu

Namun saat kau menganggap
setiap larik warnanya tak jua bisa menyentuh hatimu
sang gadis mungil sontak menjelma
menjadi barisan mendung hitam
yang menyamarkan pesona mata merah jambu itu
bahkan pada noktah terkecil sekalipun

Seperti dia, lelaki tepi danau
yang tekun menyulam angan menunggumu
bersama benang kangen bergulung-gulung,
kau masih tetap termangu diam
pada titik tertinggi puncak bianglala
dengan rindu menikam
sambil menyaksikan setangkai asa
yang kau titipkan pada hujan senjakala
luruh bersama bisu
juga pilu
pada mentari di merah jambu matamu

Adakah lelaki tepi danau
menangkap cahaya mata indah itu
walau hanya dari pantulan jernih air
lalu menangkap setiap desir asa yang jatuh bersamanya
dan menjadikannya
bingkai lukisan sulaman kangennya?

Apabila Presiden Meninggal Dunia…

Sedih dan tersentuh rasa iba saya membaca berita meninggalnya Presiden Polandia Lech Kaczynski dan istri dalam suatu kecelakan pesawat terbang di Rusia Barat beberapa waktu yang lalu, saat dalam perjalanan kunjungan negara ke Rusia. Bayangkan, presiden dan istrinya yang disertai staf kepresidenan, pejabat-pejabat negara yang jumlahnya tidak sedikit, serta seluruh rombongan penumpang pesawat kepresidenan yang ditumpanginya, tidak ada satu pun yang selamat. Benar-benar peristiwa tragis yang membuat kita yang mendengar beritanya turut berduka. Sebuah negara kehilangan banyak pemimpinnya dalam satu waktu! Karena kecelakaan pesawat terbang!


Presiden Polandia dan pesawat kepresidenan yang ditumpanginya

Meskipun dari penyelidikan sementara, disimpulkan bahwa kecelakaan pesawat tersebut disebabkan oleh human error, kesalahan pilot dalam mengambil keputusan, pesawat kepresidenan tersebut memang sudah berusia 20 tahun, umur yang bisa dibilang sudah tua untuk sebuah pesawat terbang kepresidenan, pesawat yang membawa orang nomor satu suatu negara. Satu hal lain yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa pesawat jenis Tupolev Tu-154 dikabarkan sudah banyak yang mengalami kecelakaan di berbagai negara, namun Polandia tetap menggunakannya dalam penerbangan dan bahkan salah satunya dijadikan pesawat kepresidenan. (Jadi ingat beberapa waktu yang lalu saat di Indonesia banyak pesawat yang mengalami kecelakaan, karena banyaknya pesawat yang sudah uzur yang digunakan dalam penerbangan biaya murah).

Apakah memang negara Polandia terlalu berhemat menggunakan pesawat yang terhitung tua untuk pesawat kepresidenan, ataukah terlalu miskin negara tersebut untuk membeli pesawat baru atau paling tidak menyewa pesawat yang agak mudaan (Jadi ingat rencana pembelian pesawat kepresidenan RI yang sempat tercuat dan menjadi kontroversi belum lama ini), pertanyaan itu timbul dalam benak kita. Yang jelas, harga dari satu keputusan ini sangat mahal, dengan hilangnya jiwa pemimpin-pemimpin negara Polandia.
Karena kejadian kecelakaan ini, seluruh rakyat negara yang warna benderanya putih merah ini, berkabung selama sekian waktu. Sementara itu pihak parlemen dan pemerintah merencanakan dalam dua bulan mereka akan menyelenggarakan pemilihan umum di negara mereka untuk memilih presiden yang baru. Selama menunggu pemilu itu, jabatan presiden dipegang sementara oleh ketua parlemen.

Mana wakil presidennya ya? Kalau di negara kita, seperti halnya di beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, konstitusi mengatur jika presiden mangkat atau berhalangan tetap, otomatis yang menggantikannya adalah wakil presiden. Kemungkinan presiden Polandia ini tidak punya wakil, sehingga sepeninggal beliau, harus diadakan lagi pemilu untuk memilih presiden baru.

Saya jadi membayangkan negara kita. Maaf bukan mengharapkan, hanya mengukur seberapa kesiapan pemerintah dan rakyat kita jika menghadapi masalah seperti ini. Apakah kita siap menghadapi keadaan jika terjadi sesuatu pada presiden kita di tengah-tengah masa jabatannya? (Sekali lagi maaf, bukan mengharapkan). Konstitusi kita sudah mengaturnya, bahwa jika presiden meninggal dunia atau berhalangan tetap (sakit atau kehilangan kesadaran, atau apalah yang menyebabkan kehilangan kemampuan dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang presiden), maka tugas dan wewenangnya beralih kepada wakil presiden.
Apakah konstitusi akan dijalankan, dan wakil presiden memegang jabatan sebagai presiden untuk periode jabatan mereka yang lima tahun? Semua pihak akan menerima ketentuan yang diatur konstitusi itu? Atau malah ricuh dan ada pihak-pihak yang menuntut diadakannya pemilu karena misalnya, kurang cocok dengan wakil presiden yang ada? Entahlah, karena belum terjadi. Namun kejadian pengunduran diri Pak Harto sebagai presiden RI saat itu lebih dari 10 tahun yang lalu, lalu diserahkannya jabatan presiden kepada Pak Habibie, ternyata tidak diterima oleh banyak kalangan, yang akhirnya menuntut diadakannya pemilu sesegera mungkin yang artinya wakil presiden yang diserahi jabatan presiden hanyalah bersifat sementara. Jadi tidak berlaku wakil presiden menggantikan presiden yang mengundurkan diri mendapat kesempatan penuh sisa masa jabatannya. Hanya sementara, dan segera harus menyelenggarakan pemilu untuk mendapatkan presiden dan wakil presiden baru.

Beda lagi sewaktu presiden kita Gusdur dilengserkan secara paksa lewat sidang istimewa MPR. Jabatan presiden diserahkan kepada wakilnya saat itu Ibu Megawati Sukarnoputeri, dengan lama masa jabatan sisa dari Gusdur yang dilengserkan. Tiga tahun saja! Karena Gusdur sudah memakai jatah waktu periode jabatan presiden dan wakil presiden selama 2 tahun, sehingga jatah Ibu Mega hanya 3 tahun. Yakh, begitulah konstitusi dan begitu pula politik!

Selain itu, yang saya tahu, jika wapres yang menjabat sebagai presiden pengganti itu juga mangkat atau berhalangan tetap, maka penggantinya adalah triumvirat yang terdiri dari Menlu, Mendagri dan Menhankam. Apakah aturan ini masih berlaku sekarang? Terus terang saya pribadi tidak tahu.
Sejak memasuki masa reformasi dan adanya amandemen terhadap UUD 1945, saya tidak tahu apakah aturan itu masih berlaku. Saya dengar ada aturan baru, yang menggantikannya adalah triumvirat Ketua MPR, Ketua DPR dan Ketua MA. Anda tahu aturan yang baru?

Presiden maupun wakil presiden bukanlah sekedar pimpinan, namun lebih dari itu. Mereka adalah orang yang terpilih yang ditugaskan oleh negara secara 24 jam sehari 365 hari dalam setahun bekerja sebagai presiden. Tidak ada waktu mereka untuk menanggalkan pekerjaannya, terlebih bagi Presiden. Bahkan pada saat mereka tidur pun, mereka tetap bekerja sebagai presiden. Bayangkan jika presiden sedang tidur, lalu datang kabar negaranya diserang oleh pihak asing, akankah si presiden tetap melanjutkan mimpinya dan hanya bilang, “Besok pagi saja deh! Saya sedang tidur.”
Wah, bisa hancur tuh negara!
Iya, presiden kapanpun, di mana pun, dalam kondisi apapun harus bisa membuat keputusan, termasuk mengambil keputusan yang amat sangat penting, misalnya menyatakan perang  atau pun juga menyerang negara musuhnya (Konon, presiden AS kemana-mana selalu membawa kopor berisi tombol dan kunci peluncuran rudal nuklir AS).
Jadi, tidak ada kata istirahat dari pekerjaan sebagai presiden. Juga, presiden tidak boleh kehilangan kesadaran karena pingsan misalnya, atau karena dibius. George Bush pada tahun 2007 pernah menyerahkan jabatannya sebagai Presiden AS saat itu kepada wakilnya Dick Cheney, karena harus menjalani pemeriksaan kanker di Camp David, selama 48 jam.

Contoh lain adalah saat presiden Rusia Boris Yeltzin berkuasa, lebih dari 20 tahun yang lalu, dia pernah mengalami operasi jantung yang mengakibatkan kesadarannya hilang karena dibius. Wewenang atas pengendalian senjata nuklir Rusia, langsung diserahkan kepada Chernomyrdin, yang saat itu kalau tidak salah menjabat sebagai perdana menteri.
Secara fiktif pun, ada gambaran di sebuah film Hollywood ber-title Air Force One. Satu keadaan di mana wapres AS bisa mengambil alih kekuasaan karena presidennya dalam keadaan disandera, atau kalaupun tidak disandera seperti diceritakan dalam film itu, sang presiden berada dalam keadaan penuh tekanan, padahal kebijakan abadi AS adalah tidak berkompromi dengan teroris. Namun, wapres tidak mengambil alih kekuasaan dan menunggu perkembangan di pesawat, yang ternyata presiden veteran perang Vietnam berjuang seorang diri membebaskan pesawat kepresidenannya dari cengkraman para teroris. Dasaaarrrr film Holywood!
Tapi pelajaran yang bisa diambil, bahwa konstitusi memungkinkan seorang wapres menggantikan kedudukan presiden dalam kondisi seperti itu.


Presiden RI dan wakilnya

Begitulah, betapa pentingnya jabatan presiden bagi suatu negara. Termasuk Indonesia.
Mari kita berdoa kepada Allah SWT. Semoga presiden kita, dan pimpinan-pimpinan negara kita yang lain selalu diberikan kesehatan sehingga beliau-beliau bisa menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Juga apapun yang terjadi pada pimpinan negara kita, tetap rakyat dan elemen bangsa kita harus berjiwa besar mengikuti aturan yang sudah disepakati bersama.
Untuk kepentingan kita semua.
CP, April 2010
http://ceppi-prihadi.blogspot.com/

Sumber gambar: http://www.dw-world.de & http://www.kompas.com

Tidak Perlu Menunggu Sukses Bagi Seorang Pengusaha Untuk Beramal

“Tidak perlu menunggu sukses bagi seorang pengusaha untuk beramal.” Itu kalimat yang saya ingat betul dari seorang Pak Polisi, yang mewakili pribadi Kapolres Kabupaten Bekasi dalam sambutannya pada acara Konser Amal/Music for Charity yang diselenggarakan oleh JM Music School bekerja sama dengan OMS Bikers ini. Saya setuju dengan kalimat beliau, dan saya bisa langsung melihat buktinya pada sosok Pak Ruwiyono Hadi, atau yang sering akrab dipanggil dengan nama Pak Rui, teman dekat saya, pemilik sekaligus direktur sekolah musik JM Music School. Aspek yang amat patut dicontoh oleh kita dari diri beliau yang merupakan seorang wirausahawan tangguh ini adalah kepedulian sosialnya yang amat tinggi dan perhatiannya yang amat besar terhadap kaum tidak mampu.

Konser amal bertajuk “PENGGALANGAN DANA KEMANUSIAAN UNTUK ANGGUN DAN DHUAFA” ini diselenggarakan pada saat pembukaan cabang baru JM Music School yang berlokasi di sebuah ruko di bilangan Jalan Tarum Barat II Cikarang Baru. Tujuan utamanya memang untuk mengumpulkan dana bagi biaya operasi operasi Anggun Sari, seorang anak berusisa 6,5 tahun yang tinggal dengan kedua orang tuanya di Cikarang, yang memilik kelainan tidak punya anus sejak lahir. Dengan diadakannya konser, diharapkan penggalangan dana bisa lebih efektif, lewat kehadiran para undangan dan dermawan warga Cikarang Baru, yang diharapkan memberikan sumbangan dananya dalam acara ini.

Benar-benar luar biasa Pak Rui ini! Seorang seniman, seorang pengusaha yang merasa dirinya masih jauh dari kata sukses, namun memiliki keberanian dan niat yang tulus bagi penggalangan dana sosial. Satu niat yang harus didukung oleh semua pihak, yaitu kita semua.
Partner gandengan JM Music School dalam penyelenggaraan kegiatan amal ini adalah sebuah klub pengendara motor OMS Bikers, suatu hal yang tidak lumrah bagi kebanyakan orang. Hal yang meruntuhkan persepsi kita tentang perilaku negatif klub motor, atau yang sering diistilahkan secara negatif oleh kita “geng motor”, berubah menjadi rasa salut setinggi-tingginya terhadap mereka para bikers anggota klub tersebut. Bravo JM Music School dan OMS Bikers!

Acara yang semula akan dihadiri oleh Bapak Bupati Bekasi ini, namun sayang entah kenapa beliau tidak bisa hadir, dibuka secara resmi oleh Pak Emir Sadikin yang mewakili Jababeka. Dalam sambutannya, beliau menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap kegiatan konser amal tersebut. Juga kehadiran Pak Kapolres Kabupaten Bekasi yang sangat diharapkan, rupanya hanya diwakili oleh stafnya (maaf, saya tidak sempat tahu nama dan juga pangkat beliau) yang tadi pertama kali ucapan dalam sambutannya saya kutip. Beliau pun menyambut baik dan mengharapkan kegiatan penggalangan dana amal seperti ini bisa lebih banyak lagi diadakan di Cikarang dan kabupaten Bekasi ini. Sedikit himbauan sekaligus sindiran dilontarkan oleh beliau:
“Seharusnya kegiatan seperti ini bisa dihadiri oleh lebih banyak lagi para pimpinan, para pejabat, para pengusaha besar, serta orang-orang berkecukupan lainnya. Untuk menggalang dana, agar dana yang terkumpul cukup, dibutuhkan jumlah orang yang banyak dan kekuatan dana yang cukup pula. Kepedulian beliau-beliau diharapkan bisa lebih dicurahkan untuk kehidupan masyarakat bawah dan segala kesulitan yang dialami saudara-saudara kita itu.”

pakpolPak Polisi yang mewakili Kapolres Kabupaten Bekasi

Hmm…memang betul sih! Tapi barangkali beliau-beliau sedang ada urusan lain yang lebih penting.

Para undangan dan masyarakat umum yang datang ke lokasi sudah memenuhi tempat duduk yang disediakan, sementara di depan di bawah panggung Pak Eko dan Mbak Ima, pasangan emsi serasi dua generasi (he.he.he…nggak salah kan Pak Eko?) memandu acara demi acara. Terlihat sangat kompak, dengan semangatnya keduanya bisa membawa suasana selalu segar dan para hadirin dengan antusias menyaksikan pertunjukan demi pertunjukan.

emsiPak Eko dan Mbak Ima, pasangan emsi serasi dua generasi. Mas Ginanjarnya belum kelihatan tuh!

Panas matahari yang terik dan hawa udara yang panas yang kita rasakan beberapa hari ini di wilayah Cikarang, menjadi tidak terasa pada saat para pengisi acara hadir di atas panggung. Mulai dari sajian marawis secara manis oleh anak-anak pesantren dan panti asuhan Darun Najwah, lalu tampilnya orkestra mini yang menggugah perasaan dipersembahkan oleh kelompok Serenada Orchestra dari kampung halamannya Pak Eshape Jokja. Ada juga ceramah agama dalam 3 bahasa, Indonesia, Inggris dan Arab, oleh beberapa santri Darun Najwah tadi. Sungguh membanggakan dan memang benar-benar luar biasa santri-santri muda itu!

Suasana makin meriah tatkala hadir Tatang Gepeng yang ngetop lewat “Coffee Bean Show” di televisi, disertai oleh temannya yang gundul pula (aduh, saya tidak sempat mendengar namanya). Berdua mereka melontarkan banyolan-banyolan segar yang menghibur para penonton. Tatang yang baru wajahnya saja sudah membuat orang tertawa, memang sangat cocok dihadirkan dihadirkan di acara ini. Gaya bicaranya yang polos dan lucu, ditambah lagi pancingan-pancingan guyonan dari teman gundulnya, membuat hadirin ger-geran tiada henti.

tatangTatang “Gepeng” dan rekannya, membuat hadirin terpingkal-pingkal

Ada lagi pertunjukan yang sangat menarik, yang membuat hampir semua yang hadir terpukau, yaitu peragaan anak didik JM Music School dalam memainkan alat musik. Seorang drummer cilik menggebuk-gebuk drum dengan sangat terampilnya, mengiringi bunyi rekaman musik dari grup band terkenal. Benar-benar mengagumkan! Drummer cilik tersebut tidak kalah kemampuannya dibandingkan dengan drummer dewasa. Kalau diasah terus bakatnya dan diarahkan, anak yang baru belajar bermain drum selama setahun tersebut tentunya akan menjadi drummer handal dan bisa terkenal. Ini juga membuktikan bagaimana kualitas pendidikan di JM Music School. (Anda yang ingin bakat seni anaknya berkembang, silakan bisa mendaftar di sekolah musik ini. Nggak nyesel deh! Anda berinvestasi di sini untuk anak-anak anda.)

drummerPenampilan drummer cilik yang memukau penonton

Acara pokoknya adalah penyerahan bantuan kepada Anggun Sari. Rumah Zakat Indonesia yang mempunyai cabang di Cikarang Baru memberikan beasiswa ceria, berupa bantuan biaya pendidikan bagi Anggun hingga dewasa, juga bantuan bagi terlaksananya operasi yang dibutuhkan olehnya. Kedua orang tua Anggun yang turut serta naik ke atas panggung, terlihat rasa harunya pada saat menyaksikan Anggun menerima secara simbolis bantuan beasiswa dari perwakilan Rumah Zakat. Hadirin pun ikut terharu dan terbangkitkan perasaan empati, untuk bisa membantu dan meringankan penderitaan Anggun selama ini.

anggunAnggun dan bantuan beasiswa yang diterimanya

pakruiSesaat setelah penyerahan bantuan sembako dari JM kepada Darun Najwah

Suasana menjadi lebih riuh dan meriah, pada saat tampil beberapa artis pendukung film yang baru naik tayang di bioskop-bioskop di Indonesia “Love & Edelweiss” yaitu Sarah Shafitri, Mike Lucock dan Aldo Bamar. Mereka memang sedang mempromosikan film terbarunya itu, namun juga mereka mau hadir di Cikarang ini karena hati mereka terketuk untuk turut membantu suksesnya acara amal ini. Konon, artis-artis ini datang jauh-jauh dari Jakarta ke Cikarang tanpa dibayar sepeserpun! Bahkan, mereka turut memasukkan amplop berisi sumbangan ke dalam kotak amal yang sengaja dibawa ke atas panggung. Alhamdulillah! Mudah-mudahan lebih banyak lagi artis seperti mereka.

Penampilan si cantik Marsya, eh Sarah Shafitri, kontan menjadi magnet yang ampuh yang menarik kuat arah lensa kamera-kamera para fotografer baik yang prof maupun yang amat. Termasuk lensa kamera saya! ..he..he..he..saya kan hobi motret!
Ini beberapa hasil shot-nya!

sarahSarah Shafitri, artis pendukung film “Love & Edelweiss”

Selain itu pula, panitia berinisiatif akan melelang kaos panitia bertanda tangan ketiga artis layar lebar tersebut. Jadi disediakanlah beberapa kaos panitia di atas panggung untuk ditandatangan. Eh, ternyata, salah seorang emsi yang blogger suka bikin geger, yang terkenal narsis namun berhati manis, nyelonong ke depan para artis menyodorkan belakang badannya (punggungnya maksudnya) untuk ditandatangani mereka. Enak bener nih, punggungnya dielus, eh…ditulisi oleh gadis muda!

punggungPak Eko dan punggungnya yang sedang ditulisi oleh Mike Lucock

Alhamdulillah acara ini berlangsung lancar dan sukses. Meskipun hari itu dana yang terkumpul masih belum mencukupi untuk terlaksananya operasi bagi Anggun, yang katanya butuh biaya sekitar 50 juta ini, sehari sesudahnya datang berita menggembirakan bahwa semua biaya sudah tertutupi dari dana yang terkumpul ditambah sumbangan dari Rumah Zakat dan Dompet Dhuafa. Semoga Allah meridhoi niat dan kegiatan baik ini, juga Anggun dilancarkan dalam menjalani operasinya nanti.

Seperti diungkapkan Pak Rui pagi tadi di milis Cikarang Baru, yang paling membahagiakan beliau adalah bukan ramainya dan suksesnya pelaksanaan acara tersebut, namun karena kepedulian para instansi/lembaga perusahaan, pengusaha dan masyarakat umum yang mau menyisihkan sebagian rezekinya, serta para panitia yang dengan tulus dan sukarela bekerja menyisihkan waktu dan tenaga untuk membantu kaum dhuafa dan yatim seperti Anggun Sari dan PA Darun Nazwah. Harapan beliau, semoga amal baik semua yang terlibat dalam event ini akan diberikan balasan yang setimpal dengan rejeki yang berlimpah dan kesehatan dari Allah SWT.
Kita percaya bahwa konser amal ini ini Insya Allah hanyalah merupakan titik awal dari niatan Pak Rui dan tentu juga kita semua untuk selalu peduli dengan lingkungan sekitar yang memerlukan perhatian kita bersama di waktu mendatang.

Acara ini terselenggara berkat partisipasi para sponsor (daripada disebutin satu persatu!..he.he.he..):

sponsorPara sponsor kegiatan ini

Oh ya! Bagi anda yang tidak sempat hadir dalam acara Minggu itu, anda masih berkesempatan untuk menyalurkan bantuan anda. Silakan transfer ke Rekening BCA:

an.: Darmawan Saefullah – No. Rek: 8730065885
an.: Chairunas – No.Rek: 8730109548

Semoga Allah SWT membalas amal kebaikan anda semua. Amin.

CP, April 2010
http://ceppi-prihadi.blogspot.com/

Serial Madun : SEMUR JENGKOL CINTA MADE IN BELANDA (2)

DUA

Pagi hari. Rumah bergaya Betawi lumayan besar dan banyak ditumbuhi tanaman pada halamannya. Sejumlah tanaman ada disitu, pohon mahkota dewa, brontowali, sirih, kembang sore pagi, guribang, kacapiring, lidah mertua, dan beberapa pohon liar ngeroyot seperti belukar. Biar begitu tetap rapi. Pemilik rumah itu Ki Kasep dan Tinul yang sedang sarapan di beranda pagi hari itu. Ki Kasep terlihat lahap menyantap nasi uduk dengan semur jengkol, sementara Tinul biasa-biasa saja. Sarapan pagi dengan nasi uduk semur jengkol bagi kebanyakan orang Betawi maupun daerah sekitarnya. Makanan favorite, seperti favorite burger bagi orang Eropa.

Ki Kasep menyantap dengan lahap. Suapannya munjung dengan tangan nyeketem.

“Enak banget nih nasi uduk, lu beli dimana Nul?”, tanyanya agak berat karena mulutnya kejejel nasi.

“Gak sari-sarinya abang nyarap ampe abis. Biasa…diwarungnya Jenong, emangnya kenapa?”, sahut Tinul tidak selera.

“Kok tumben nasinya pas, semur jengkolnya sedep…”, timpal Ki Kasep lagi.

“Biasanya juga begitu bang. Abang aja kali yang lagi lapar..”,

“Oya , hari ini gue mau ke kota, ke Pasar Pondok, biasa beli keperluan buat gue, luh tahu sendiri dah. Kalo sempet gue mampir ke warung Jenong..”, kata Ki Kasep lagi sambil mengabisin suapan terakhir.

“Mau ngapain mampir kewarung Jenong?”, Tinul mulai curiga.

“Ya…beli nasi uduk! Emang lu pikir gue mau nginep apa? Jenongkan punya laki. Dah..gue mau mandi dulu!’, Ki Kasep pergi sambil kesal.

Tinul menatap kepergian suaminya dengan tatapan gelisah, kawatir. Kemudian dia menyusul setelah bereskan bungkusan nasi uduk tersebut.

***

Tampak suasana yang lebih ramai dari biasanya. Terlihat ada beberapa lelaki dengan umur bervariasi tengah makan nasi uduk sambil ngopi. Sementara Jenong dan Betty kelihatan sangat sibuk melayani. Suasana sedikit hiruk pikuk.

Ditempat lain tak jauh dari warung itu terlihat tiga perempuan sedang ngobrol sambil mengawasi susana warung. Perempuan-perempuan itu yang semuanya sudah punya laki, dan ada juga yang janda mulai curiga dan ngiri melihat kemajuan warung Mpok Jenong. Bahkan mulai beredar gosip kalau Jenong sengaja ngajak adik iparnya si Betty buat jadi kembang warung supaya orang kampung pada kesemsem dan getol belanja diwarungnya. Bahkan kabar lain beredar lebih parah lagi menuduh Jenong menggunakan penglaris buat warungnya. Padahal orang kampung semua pada tahu bahwa perbuatan itu termasuk syirik dan musyrik. Apa iya Mpok Jenong melakukan hal sehina itu. Semoga saja kaga bener.

“Wah…wah…wah…makin hari makin rame aja warungnya Jenong”, Sanem membuka pembicaraan.

“Iyalah…sejak kedatangan adik iparnya, Si Betty bule dari Belanda ntuh, Mpok”, sahut Nimah dengan suara keki. Nimah memang paling cemburu sama si Jenong karena warung nasi uduknya sepi dan bangkrut gara-gara pembelinya pindah haluan kepada Jenong.

“Biasanya kan nasi uduknya nggak laku. Dasar pinter Si Jenong, dia bawa adiknya yang cakep buat jadi pelayan. Pada dateng dah laler ijo…”, suara Junih nimpalin.

“Jelas aja Mpok, Betty kan botoh. Orangnya tinggi langsing, kulitnya aja putih. Siapa sih yang kagak suka lihat cewek botoh. Tuh coba liat sono,…bapak-bapak pada betah berlama-lama ngopi!” tukas Sanem makin manasin hati rekannya.

“Lho kok lu kedengerannya sewot banget? Emang ngapah? Cemburu?”, sahut Junih lagi dengan nada yang mulai tenor.

“Ini bisa jadi bencana kalo dibiarin, Mpok. Bisa-bisa laki kita pada kecantol!”, sahut Nimah semakin emosi.

Dasar perempuan. Belon-belon sudah tanpa rasa. Belon tentu yang mereka kira itu benar. Nah, kalo salah? Kan bisa berabe dan jadi fitnah. Kita semua pan tahu, bahwa fitnah itu lebih kejam daripada tidak memfitnah. Perempuan bertiga itu terus mereleng matanya ngamatin warung Jenong.

Mendadak mereka mendengar suara mendehem Ki Kasep yang datang dari samping. Ketiga ibu tersebut memberi hormat santun dan segera terdiam sambil pergi menjauh. Ki Kasep tidak memarahi dan berjalan menuju warung. Di sana dia disambut Jenong dengan hormat. Beberapa lelaki yang sedang jajan mendadak minder.

“Eh..Ki Kasep…tumben mau mampir kewarung aye. Ada yang mau dicari Ki?” tanya Jenong dengan nada rendah.

Ki Kasep tersenyum dingin. Matanya jelalatan mencari sesuatu dan tertuju pada wajah Betty yang segar. Benar-benar segar. Muka Betty yang mulus putih seperti kapuk randu baru dikupas. Bibirnya merah sedikit tipis kaya kue talam buatan kampung Asem. Belum lagi matanya, duh…bening rada biru seperti padasan kolam renang. Gek, hati siapa yang takkan runtuh bila melihat durian jatuh. Begitu hati ki Kasep kesemsem asmara.

“Gue pesan nasi uduk. Buat sore. Tapi tolong anterin kerumah ya. Soalnya gue ada urusan dikit. Nih duitnya”, katanya sambil keluarin duit pada Jenong.

“Nanti aja Ki, dirumah aja bayarnya”, kata Jenong nimpalin.

“Ya udah kalo gitu. Gue pergi ya…”, ujar ki Kasep kemudian.

Jenong Mengangguk hormat, begitupun lelaki yang sedang jajan itu. Sementara Betty terdiam. Betty takut. Yang dirasakan gadis Belanda itu tidak lain adalah, ngeri, begidik, scream, horror, seperti mendapatkan nightmare on sleeping. Tatapannya itu tuh, pandangan mata ki Kasep, meskipun dengan mata yang tua tetap saja tajam seolah menelanjangi sekujur tubuh mulusnya. Amit-amit dah! Bathin Betty.

***

Suasana terang cerah. Seperti biasanya aktifitas Jali ngupil dan Bokir cabutin jenggot. Madun berdiri menatap ke arah warung Jenong. Siang itu ada satu rencana yang mengganjal dikepala mereka: ingin bertemu Betty.

“Kok mpok Jenong belon lewat juga. Atau jangan-jangan mereka kaga pergi kepasar?” gerutu Jali dengan nada sember becek.

“Sabar dikit ngapah. Orang sabar itu disayang Tuhan, tahu gak?”, Bokir coba sahutin.

“Sabar…lama-lama bisa jadi lebar kaya jidat lu itu..”, Jali kehabisan sabar.

“Hus…betengkar aja kaya anjing sama kucing. Diem ngapah”, Madun coba tengahin

Bokir berdiri hampiri Madun.

“Lu serius, mau macarin Betty anak kompeni itu? Nah rencana kuliah lu gimana?”, Bokir mengorek keseriusan sahabatnya.

“Kuliahkan bisa sambil pacaran. Bahkan kata Majen, orang yang sudah menikah aja masih boleh kok kuliah. Jadi itu bukan halangan buat gua kan?”, sahut Madun pasti.

Padahal yang dia lakukan cuma menenangkan hatinya sendiri. Dibalik hatinya yang paling dalam ada rasa cemas bercokol. Sebenarnya Madun sangat takut kalau semua rencananya bakal kecium sama Enyak dan baba Jiung. Semua orang kampung tahu bahwa ambeknya baba Jiung sampe keubun-ubun. Kalo dia sudah ngambek, apa aja digabres, dijabanin, ditantangin. Tahu sendirilah, baba Jiung itu mantan Jawara kampung. Bahkan kalo ngeliat silsilah keturuannya dia masih keturuan Bang Pitung. Entah benar entah kaga.

“Pinter juga lu ngeles. Kalo begitu,…”, suara Jali keselek.

“Semakin sempit peluang kita buat rebutin Betty dong…”, sambung Bokir sedih.

Madun tertawa. Jali dan Bokir melongo.

Dari ujung gang Betty dan Jenong datang dengan belanjaannya. Buru-buru Jali dan Bokir sambut mereka dan gantikan membawa belanjaan. Semanya pada nyari perhatian. Pedekate. Akal-akalan, biasa kalo ada maunya. Namanya juga kucing garong, pasti dia sedang ngincer ikan botoh bernama Betty.

“Kok tumben elu pada baik sama gue?” tukas Jenong mulai curiga.

Bokir buru-buru nyahut, “Tenang Mpok,…ngarti dah!”.

Jenong diam dan lanjutkan jalan bersama dengan Jali dan Bokir. Sementara dibelakang Madun dan Betty jalan berdua. Bagi Jenong ini adalah pucuk dicinta ulampun tiba. Artinya rencana yang dari semula suda diprogram bakal berjalan mulus. Jenong merasa kaga perlu repot-repot atur strategi lagi, buktinya buruan sudah masuk perangkap. Tinggal garuk doang, beres!

Di sebelah mereka Madun berjalan dampingan dengan Betty. Jantung Madun dag dig dug der. Sementara itu Betty pun merasakan hal serupa. Jantungnya kenceng kendor. Darah mudanya sar sir ser. Betty rada gugup, apalagi ketika madun mencoba tatap mata indah bola pingpong miliknya.

“Dari pasar ya? Supermarket?”, tanya Madun memancing.

“Iya Bang. Abang kok ada di pos ronda?” Betty balas komentar.

“Iya, abangkan lagi ronda”, sahut Madun.

Ih jayus banget tuh jawaban. Garing, tahu kali! Madun kutuk dirinya yang bego.

“What, Ronda ? Masa ronda siang hari? Mana ada maling siang hari, lagian apa juga yang mau dicuri?”, Betty merasa aneh.

Uh, kena batunya dah gue!

Madun malu-malu menjawab, “ Rondain kamu Bet, dan abang takut ada maling yang curi hati kamu”, seulas senyum ditawarkan.

Betty tersipu. Wajahnya merah.

“Bolehkan kalo abang deket sama Betty, be your best friend gitu?”.

“Boleh aja. Betty bebas kok berteman sama siapa saja. Mpok Jenong juga nggak larang”, sahut Betty dengan bahasanya yang makin bagus.

“Yes….yes…”.

“Why, what wrong….Kenapa bang?”.

Madun gelagapan dan segera ajak Betty menyusul Jenong dan kedua temannya didepan. Madun merasakan sangat bahagia siang itu. Begitupun Betty.

***

Sebilah golok sedang diasah hingga mengkilap. Jiung sedang jongkok mengasah golok hingga besi baja itu mengkilap. Leha sedang nampih beras menggunakan tampah lebar. Beras ketan item hasil panen sawah petakan kidul di ujung kampung. Lumayan buat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Baba Jiung hingga saat ini masih memiliki sawah beberapa petak. Sementara tetangga lainnya sudah pada dijual sama proyek lantaran mau dibangun real estate. Padahal, semua orang tahu bahwa padi ketan item hasil ditumbuk dilumpang menggunakan alu, kalo dimasak baunya wangi. Sangat berbeda dengan beras gilingan heuler. Baunya ilang. Leha menoleh pada Jiung yang sedang asyik menggerus besi baja melawan batu asahan.

“Kayaknya ada yang gak beres sama Madun, Bang. Denger-denger sih dia kecantol sama iparnya Jenong. Si Betty yang baru dateng dari Belanda. Baru gosipnya sih. Lagian saya juga belum lihat kaya siapa tampangnya tuh anak yang bikin Madun kleyengan kayak ayam nelen karet”, Leha memulai obrolan.

“Luh percaya aja sama gosip. Gosipkan artinya makin digosok makin sip”, Jiung berkelakar dan kurang merespon.

“Ah…abang serius dikit ngapah. Kalo bener, rencana kita kuliahin dia bisa batal. Itu nggak boleh kejadian kan, bang?”, suara Leha mulai memohon perhatian.

“Lu kaga liat apa yang sedang gue asah ini?”, tukas Jiung mulai naik.

“Bendo. Golok, bang. Emangnya buat apa tuh golok abang asah ampe tajem?”.

“Buat motong anaklu kalo coba-coba dia mainin orang tua. Tahu? Ngarti lu? Asal lu tahu Leha…nih golok dulunya pernah di pake same leluhur kita Si Pitung waktu dia ngelawan kompeni Scot Marhaene musuhnya orang Betawi. Eh masa sekarang Madun mau bedemenan ama cucunya tuh kompeni? Busyet dah…kagak tai-tainya gue sudi!”.

Jiung bergegas masuk rumah. Leha melongo dan gusar.

“Aduh….bisa gawat ini kalo ampe bang Jiung marah?”, Leha gelisah.

Perempuan itu sudahin nampih berasnya. Dia bergesa susul Jiung ke dalam.

***

Jenong duduk dibale warung sambil siapin bungkusan pesanan nasi uduk Ki Kasep. Sementara Betty masih sibuk benahin piring didalam warung.

“Udah, Bet. Biarin , nanti mpok yang beresin. Mendingan gih sono lu anterin nasi kerumah Ki Kasep!”, seloroh Jenong.

“No. Nggak ah mpok, serem. Lagi pula Betty kan belum tahu persis dimana rumahnya. Bagaimana kalo mpok aja?”, sahut Betty rada gusar.

Jenong berfikir, “Ya udah dah, biarin gue aja. Lagian gue juga kawatir, gue selempang sama elu. Ki Kasep kan…”, Jenong nggak lanjutin ucapannya dan buru-buru ambil bungkusan nasi yang sudah ditaruh dalam kantong plastik, “ Lu jaga warubg ye!”, sambungnya lagi.

“Ada apa dengan Ki Kasep mpok? Dia itu dukun peletkan?”, tanya Betty penasaran.

“Kok lu tahu? Dari mana lu tahu heh?”, Jenong kaget seperti diantup tawon balu.

“Bang Madun yang cerita”, sahut Betty jujur.

Jenong bergegas, “Bagus kalo gitu. Gue berangkat dulu ya. Nanti kalo nyang tanyain gue, bilang aja gue pergi bentar. Lu ati –ati jaga warung ya . Dan jangan ampe lupa lu liat-liat tuh semur jengkolnya!”, pesan Jenong sambil pergi.

Betty melihat Jenong pergi.

***

Ki Kasep ada di halaman depan rumah sedang petik bunga. Wajahnya terlihat sumbringah. Bibirnya yang mulai kisut tersenyum. Kadang-kadang dia ngelolang nyanyi lagu cinta. Sebentar tersenyum, sebentar tertawa ketika dia memandang kembang ros yang dipetiknya. Pasti tuh tua bangka lagi kasmaran. Memang saat ini dia sedang membayangkan kalau betty – iparnya Mpok Jenong sedang berada dihadapannya. Seolah Betty ngejogrok didepan matanya. Jenong berjalan pelan. Ngingset dikit. Kemudian dia mendehem pelan takut kalau kedatangannya ngagetin Ki Kasep. Jenong sangat takut kalau ulahnya membuat lelaki tua itu kaget. Ki Kasep baru nyadar kalo dari tadi jenong ngeliatin tingkahnya. Jenong memberi senyum, sambil Jenong segera menemuinya dan memberi hormat.

“Kok elu yang ngater ,Nong? Emangnya ipar lu kemana?”, selidik Ki Kasep rada kurang suka melihat kehadiran Jenong.

“Maaf Ki, dia lagi saya suruh nyuci sama jagain warung..”.

“Elu nih, Jenong. Warung aja kudu dijagain, emangnya lu takut warung lu pegih, pan warung kaga punya kaki. Mana mungkin dia pegih..”, suara Ki Kasep masih tetap ketus. Sepertinya dia marah berat.

“ Iya sih, Ki. Tapi aye kan selempang juga, soalnya pan diwarung banyak dagangan aye. Ada nasi uduk, semur jengkol di baskom, nanti kalo nggak ada nyang nungguin bisa-bisa digares kucing garong..”, sahut Jenong membuat alasan.

Ki Kasep menarik nafas berat. Dadanya masih terasa masgul. Sebel melihat Jenong. Jenong serahin bungkusan dan Ki Kasep menerima kecewa sambil kemudian kasih duit sama Jenong. Jenong bergegas tinggalin tempat itu dengan takut karena Ki Kasep nampak gusar.

Ki Kasep memilin kumis. Pandangan matanya jauh, “Belum tahu dia hebatnya pelet gue kali?” bathinnya sambil pergi ke teras. Nasi uduk yang dibawanya tidak langsung dimakan. Dikecloin aja di atas bangku semata. Selera makan Ki Kasep jadi hilang lantaran rasa ngebetnya ingin melihat muka Betty yang bening dan putih diganti dengan melihat muka Jenong yang item dan demek.

***
Baru saja adzan lohor dari Langgar Haji Kosim berkumandang. Madun masih menunggu kedatangan Jenong sambil gelisah. Tak lama Jenong datang sambil sedikit terburu-buru. Suara nafas Jenong masih ngas nges ngos karena kecapekan datang menemui Madun setengah berlari.

“Maafin Mpok, Dun. Mpok telat..”.

“Ya udah. Gini, Mpok. Mpok mau kaga nolong aye?”, langsung Madun nembak cespleng.

“Nolong apa? Mpok jadi ga paham? Pan kalo soal duit, duit lu lebih banyak dari gue. Kalo urusan elmu, elmu lu lebih banyak juga, elu lebih pinter daripada mpok…”.

“Husss, bukannya masalah duit atau elmu, Mpok. Tapi ini lebih penting lagi. Mpok mau tolong aye, sampein sama Betty saya tunggu ditempat ini, ngarti?”.

“ Oooo, Itu sih cemen, Dun. Lagian ngapain lu kudu ngumpet kalo mau pacaran aja. Kunci Betty ada ditangan Mpok. Tapi, biasa….doku”, Jenong pilin telunjuk dan jempol sebagai simbol minta duit.

Madun sudah tahu maksud Jenong, pasti ujung-ujungnya duit juga. Dasar dunia edan, kaga ada nyang gratis pisan. Paling cuman kentut kali nyang gratis!

“Duit? Nih, segini, goban, cukup kan?”, Madun sodorin duit lembaran.

Jenong girang sekali menerima duit itu. Dengan gayanya yang norak dia ciumin tuh duit bekali-kali. Cup…cup…cup…lumayan. Dalam hatinya Jenong ketawa, “Madun…Madun…padahal lu ganteng, tajir, pinter….masih aja pake cara lama buat dapatin cewek”.

“ Pan ada cara nyang ekpress”.

“Bukan begitu mpok. Di warung atawa dirumah mpok kan rame, bisa keganggu kita. Pan disini sepi, bisa sedikit romantis…”, cerita Madun sambil cengengesan.

“Ya udah kalo gitu. Lu tungguin disini, biar gue atur”, kata Jenong lagi.

Jenong pergi sambil cium duit yang didapatnya. Seperginya Jenong Madun baru nyadar akan kebodohan dirinya.

“Kenapa gue jadi bego? Tapi nggak apa bego dikit asalkan dapetin cintanya si Betty. Kan pepatah mengatakan, cinta memerlukan pengorbanan. Bukan begitu Coy?”.

Madun tersenyum sendiri.

***

Madun dan Betty terlihat duduk saling berhadapan tetapi tidak berani saling pandang. Suasana ditempat itu tampak sepi. Disepanjang mata memandang hanya terlihat hamparan sawah yang padinya mulai menguning. Barangkali tidak lama lagi akan tiba musim panen, dimana penduduk kampung siap untuk motong padi menggunakan alat tradisional ani-ani atau dibabat pake parang. Dikejauhan juga terlihat meskipun agak samar, beberapa orang sedang asyik menghalau burung agar menjauh dari padi mereka. Umumnya burung emprit atau burung peking bondol sangat suka makan padi. Maka dengan menggunakan orang-orangan sawah yang ditarik tali dari sebuah gubuk burung-burung itu ditakut-takutin supaya pergi. Sebagian lagi menggunakan alat berupa koplakan bambu yang kalau digerakan akan mengeluarkan suara: koplak – koplak cukup nyaring. Tapi Madun dan Betty tidak terusik dengan keadan sekitar mereka. Mereka berdua sedang pedekate alias penjajagan cinta. Sementara itu Jali dan Bokir mengintip dari balik pohon Jamblang yang lumayan besar. Mereka mau nguping. Dasar curut! Ngupingkan dosa.

Madun berusaha menatap mata Betty.

“Sengaja abang ajak Betty kemari, soalnya abang mau ngomong empat mata aja. Orang lain nggak boleh denger..”.

Betty diam saja, belum berani berkata sepotongpun.

Tetapi ditempat lain Jali dan Bokir saling pandang.

“Empat mata..he..he..he…kayak acaranya Tukul”, Jali merasa geli.

“Itu artinya kita kudu merem dan tutup kuping, tahu?”, timpal Bokir.

Jali dan Bokir lakuin merem dan tutup kuping dengan bego, kemudian sadar akan ketololannya dan kembali ngintip Madun yang bersama Betty.

“ Gimana Bet?” tagih Madun kemudian.

“Kalo abang mau ngomong, ngomong aja. Betty siap kok jadi pendengar yang setia”, sahut Betty nyaris tak terdengar.

Kemudian Betty tertunduk. Rasa ragu, gemes, taku dikit dan ingin juga segera mendengar kalimat apa yang akan diutarakan oleh Madun membuatnya jadi seperti gimana gitu. Sulit diuraikan dengan kata-kata.

Madun juga rupanya merasakan hal yang sama. Ragu, gusar, deg – degan campur aduk mirip gado-gado Bang Cablik di Pasar Kecapi. Namun Madun harus berani jentel dan buktikan kalo dirinya adalah lelaki jantan. Sebagai pejantan tangguh harus berani melakukan suara hati dan tentunya harus pula berani menerima resiko apapun yang akan terjadi dibelakangnya.

“Sebenarnya abang mau bilang, itupun kalo Betty nggak keberatan, abang naksir Betty. I love you. Betty mau tidak terima cinta abang?”, keluar juga suara dari mulut Madun.

Betty mendadak terkejut, tersipu dan wajahnya merah, bahagia. Namun dia berusaha menenangkan hatinya. Sebaliknya berbeda dengan yang dipikirkan oleh Madun. Karena melihat Betty yang diam saja Madun mulai curiga dan gusar, jangan – jangan…ah tidak, Madun tidak sudi dipermainkan suara hati kecilnya. Pan tadi dia sudah bilang bahwa sebagai lelaki jentel dia harus siap menerima resiko apapun termasuk: ditolak cinta! Tapi tentu saja Madun tidak berharap untuk pertama kali ini ditolak cinta.

“Gimana Bet? Betty mau kan jadi pacar abang?”, kembali Madun mengorek jawaban.

“Boleh Betty minta sesuatu, bang?”, tanya Betty pelan.

“Minta apa, ngomong aja, please deh!”, sahut Madun sudah ga sabaran.

“Tapi abang jangan marah. Betty minta waktu untuk berfikir. Boleh bang?”, tawar Betty kemudian.

Suara Madun rada gugup, “ Ya… ya…boleh….ga papah”.

“Makasih bang. Sekarang Betty pulang ya…mpok Jenong pasti sudah nunggu”,

Betty pergi tinggalin senyuman terindahnya yang membuat Madun mabuk kepayang. Madun seperti linglung. Hatinya seperti dipermainkan teka –teki cinta. Diterima atau ditolak? Ditolak atau di terima? Atau diterima? Atau ditolak? Atau tidak diterima juga tidak ditolak? Atau tidak ditolak juga tidak diterima? Atau cuma atau?.

“ Bet…ati – ati dijalan”, seloroh madun tersedak sambil lambaikan tangan.

Betty menoleh dan tinggalin sebuah senyum manis buat Madun. Duh, Gusti! Tolonglah hambamu ini. Perasaan apakah yang sedang kulakoni ini? Tuhan tolonglah bukakan hati Betty supaya dia memberikan jawaban atas cintaku. Tolong ya Tuhan, please!.

Jali dan Bokir saling pelukan. Menangis campur bahagia.

“ Kasihan ya si Bos…”, Jali meringis.

“ Iya, Li…yang tabah ya Bos..”, sahut Bokir nimpalin.

Kemudian mereka pelukan lagi. Menangis lagi.

Madun masih terdiam.
Angin berhembus sepoi – sepoi dari pesawahan seperti mengusap –usap dadanya yang sesak.

***

Puisi : Menyesap Senyap

Selalu, aku rasa,
kita akan bercakap dalam senyap
Dengan bahasa langit yang hanya kita yang tahu
serta menyemai setiap harap yang kerap datang mengendap
lalu meresapinya ke hati dengan getir

Selalu, aku rasa,
kamu tersenyum disana, ketika akupun tersenyum disini
dan kita, dengan bahasa langit yang kita punya itu,
secara bersahaja, menyapa larik-larik kenangan
dan meniti setiap selasar waktu
bersama desir rindu menoreh kalbu

Selalu, aku rasa,
kita tak dapat menafikan batas yang membentang
dimana jarak membingkainya lalu menjadikannya nyata
serta membuat kita sadar
bahwa pada akhirnya,
dalam pilu kita berkata:
Biarlah, kita menyesap setiap serpihan senyap
dan menikmatinya, tak henti, hingga lelap
tanpa tatap, tanpa ratap

Jkt,150109

Sumber Gambar