Desa Ku…

Desa ku yang ku cinta

puja’ah hati ku

tempat ayah dan bunda

dan handai tolanku

tak mudah ku lupakan

tak mudah bercerai

selalu ku rindukan

desa ku yang permai

Padi yang mulai kekuning -kuningan siap untuk di panen,sungai yang masih jernih airnya,terdengar suara seruling gembala yang bernada rindu menambah syahdunya alam desaku.Pagi-pagi sekali kulihat ibu-ibu yang bersiap-siap pergi ke sawah dengan penuh semangat empat lima di ikuti bapak-bapak yang tidak kalah semangatnya.kegiatan ini rutin mereka lakukan menjelang panen tiba.

lain lagi dengan anak-anak.mereka pun sibuk dengan dunia mereka ,ada yang lari kesana kemari,ada yang ketawa ketiwi ada pula yang mandi di sungai(ma’af)telanjang bulat maklum masih anak-anak gitu loh….dengan penuh riang canda tanpa beban apapun mereka selalu gembira.

Itulah sekilas tentang cerita desa ku dulu.Hari berganti hari,waktu berganti waktu,bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun desa ku pun mulai berubah sesuai perkembangan zaman salah satunya mulai di bangunnya pemukiman penduduk.aku pun masih ingat perumahan pertama di desaku adalah perumahan jati mulya jaya,akibat nya banyak warga yang menjual tanah mereka untuk pembangunan tersebut.bukan hanya perumahan ,perseroan terbatas(PT)pun mulai bermunculan ada PT Tong Yang,karuna,Tapak Tiara dan semakin lama semakin banyak.ada yang bangkrut dan ada pula yang bertahan sampai sekarang.

Hijaunya padi di sawah,jernihnya air di sungai,merdunya suara seruling gembala sudah tidak ada lagi yang ada sekarang adalah kemacetan kendara’an di sana sini.Rindu rasanya akan suasana desaku tempo dulu dan kenangan akan masa kecilku di desa tempat aku dilahirkan ,tumbuh dan berkembang.Manggrok di pohon jamlang sambil sesekali nibla ,gegemretan sampe di plantong katanya berisik……………….itulah desaku,desa jatimulya ,kab Bekasi………………………………………………………………………………………………

NB:

ma’af kalau ada kata-kata yang salah ,maklum baru belajar menulis.

kritik dan saran hubungi no telepon yang ada pada layar kaca anda.

Terima kasih.

APING

Nama lengkapnya Aprilia Maharani, tapi kami biasa memanggilnya APING. Ia berusia sekitar 8 tahun, anak ke 3 dari 5 bersaudara. Kakak petamanya duduk di kelas 5 sekolah dasar. Sedangkan aping sendiri sekarang menjalani pendidikan di kelas 2.

Saya mengenalnya lewat anak saya. Gadis kecil ini adalah teman bermain anak saya yang baru berusia 2 tahun. Sebenarnya saya sudah mengamati gadis kecil ini ketika tanpa sengaja melihatnya bermain busa sendirian didepan rumah neneknya. Dia gadis kecil yang unik dan mempesona.

Ibu dan ayah aping adalah teman bermain saya ketika kecil dulu. Ayahnya buruh serabutan, ibunya, ibu rumah tangga seperti saya. Dengan lima anak yang masih kecil-kecil, hidup mereka tentulah sangat memprihatinkan. Mereka tinggal di rumah neneknya, jadi satu dengan dua keluarga lain. Ayahnya terkadang tidak bekerja, tapi taukah apa yang membuat hidup mereka terlihat indah??? Mereka ga pernah mengeluh. Sesekali saya melihat ibu si aping mengaduk pasir dan semen, sementara ayah Aping memasang bata ketika mendapat pekerjaan sebagai kuli bangunan. Atau ayah dan ibu membuat ketupat dan anak-anak yang menjualnya. Soal makan? Anak-anak ini sungguh anak-anak yang luar biasa, mereka makan apapun yang dimasak ibunya. Mulai dari sayur asem, daun singkong, sampe jengkol, semua makan dengan lahap. Wow, itu pemandangan yang indah bagi saya.

Lewat Aping pula lah akhirnya saya kembali ke sana. Ketempat dimana saya mengabiskan sebagian masa kanak-kanak saya. Sekolah saya…

Seminggu lalu saya mengantar aping dan kakak-kakaknya ke sekolah. Sekalian ngajak jalan anak saya maksudnya. Pfyuhf…baru nyadar ternyata udah hampir 20 tahun saya tidak pernah ke sana. Dan sekolah saya pun sudah almarhum aliyas sudah berganti nama. Dulu SDN Pangkalan Jati II sekarang menjadi SDN Jatiwaringin IX. Berada di wilayah Bekasi Jawa Barat. Kami menyebutnya SD Ayeng. Malah beberapa temen SMP saya menyebutnya SD Areng karena dindingnya yang menghitam.

Aping atau saya bisa saja bersekolah di sekolah lain di wilayah Jakarta, karena wilayah tempat tinggal kami masih menjadi bagian dari wilayah Jakarta. Jika saat itu saya dihadapkan pada sedikitnya pilihan sekolah, di mana sekolah dasar yang terdekat dari tempat tinggal saya hanya SD Ayeng, sedangkan sekolah yang lain jauh. Sedangkan Aping dan saudara-saudaranya dihadapkan pada keterbatasan biaya. Emang sih, dimana-mana sekolah SD gratis, tapi setidaknya kalo sekolah di SD Ayeng mereka ga perlu ongkos untuk sampai ke sekolah.

Menginjakan kaki disana lagi, jadi terbayang rentetetan kenangan 20 tahun lalu. Inget Pak Momo, inget Bu Zubaedah, inget Mang Ndang, Lia Adistia, Prio Hadi, Wisnu Fajar, Netta, Mamay yang gak naek-naek kelas, juga Nanang Kosim yang sudah tiada. Huh kayak ga ada abis-abisnya. Banyak yang berubah dalam 20 tahun ini. Sekarang sekolahnya sudah bertingkat, nama sekolah juga udah berubah, guru-gurunya juga udah berubah. Yang ga berubah??? Tempat jajannya. Masih ditanah kosong depan sekolah yang kalau panas berdebu dan kalau ujan beceknya minta ampun.

Yang membuat saya sedih sekaligus bangga??? Hm…
Hampir sebagian besar murid-murid di sekolah ini berasal dari keluarga yang tidak mampu, anak-anak dengan latar belakang keluarga seperti Aping. Jauh dari jemputan mobil-mobil mewah, jauh dari gaya anak-anak gaul. Mereka dekil-dekil, tapi terlihat semangat. Saya baru tersadar, anak-anak tetangga saya yang orang tuanya memiliki penghasilan lumayan menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah negeri maupun swasta di Jakarta, sedangkan mereka dengan penghasilan pas-pasan meyekolahkan anaknya di SD Ayeng.

SD Ayeng, sebuah sekolah di pinggir kota Bekasi yang becek, terkesan kumuh, semerawud, tapi bias bertahan lebih dari 20 tahun. Menampung ratusan murid dari keluarga biasa-biasa saja, Tanpa Aping, mungkin saya tidak akan pernah menyadari, betapa saya bangga pernah menjadi bagian dari sekolah ini, sekolah yang sudah membesarkan saya, mengajarkan saya membaca dan menulis, mengajarkan saya berteman, mengajarkan saya menjadi ibu yang baik saat ini.

Bravo ya SD Ayeng, maju terus ditengah gempuran globalisasi, Saya bangga pernah sekolah disana. That’s way kenapa saya cinta Bekasi, karena disanalah SD Ayeng berada…

Efek Teks Mengkilap dengan Photoshop / Slick Glossy Text Effect

Pada tutorial ini, kita akan coba memberikan Efek Lapisan Mengkilap atau Slick Glossy Effect pada teks dengan Photoshop. Hasilnya dapat dilihat pada gambar diatas. Anda dapat merubah tulisan ataupun warna dalam tutorial ini sesuka anda. Tapi, untuk mencoba tidak ada salahnya mengikuti apa yang saya dituliskan disini. Yuk, langsung buka program Adobe Photoshop anda dan ikuti tutorialnya.

Cara membuat teks dengan lapisan mengkilap / Slick Glossy Text Effect

Langkah 1 :

Buat dokument baru dengan background putih ukuran 800×200 pixels (Ctrl+N). Sekarang kita akan mengatur settingan untuk teks yang akan dipakai. Pada menu utama, klik Window > Character, lalu atur sesuai gambar dibawah ini:
Setelah diatur, klik Type Tool untuk membuat suatu teks, dan atur letak teks agar berada ditengah dengan Move Tool.


Hasil sementara seperti ini (pada tutorial ini saya memakai font Impact) :
Langkah 2 :

Buat layer baru (Ctrl+Shift+N), lalu beri nama ‘Lapisan’. Pada layer ini kita akan membuat sebuah lapisan menggunakan Elliptical Marque Tool.

Buat sebuah bentuk elips untuk membuat bagian yang mengkilap, caranya klik dan tahan kursor pada kanvas lalu tarik agar membentuk sebuah elips, seperti gambar dibawah ini:

Langkah 3 :
Pastikan layer ‘Lapisan’ masih aktif. Dan, ubah warna foreground menjadi putih (#ffffff).

Lalu, klik Paint Bucket Tool

Isi bagian elips yang tadi kita buat dengan mengklik pada bagian dalam elips. Lalu, arahkan mouse pada pada lambang T dan tekan Ctrl lalu klik dalam kotak lambang T, seperti gambar dibawah ini :

Hasilnya akan seperti ini :

Langkah 4 :

Pada menu utama, pilih Select > Inverse atau tekan Shift+Ctrl+I, lalu tekan Ctrl+X. Hasil sementara akan seperti ini :

Kita akan memberikan Layer Style di layer ‘Lapisan’. Caranya, klik kanan pada layer ‘Lapisan’ pilih Blending Options, lalu pilih Gradient Overlay, dan setting nilainya seperti dibawah ini, setelah selesai tekan OK.

Blend Mode = Normal
Opacity = 100%
Gradient = Foreground to Transparent (Pilih kotak kedua dari kiri atas)
Style = Linear
Angle = -90 (min 90)
Scale = 150%

Masih pada layer ‘Lapisan’ kita ubah Fill nya menjadi 30%.

Hasil sementara akan seperti ini :

Langkah 5 :
Untuk memperjelas efek glossy-nya kita tambahkan style Stroke. Caranya, klik kanan pada layer ‘Slick Glossy’ pilih Blending Options lalu pilih Stroke. Dan setting nilainya seperti ini :

Size = 2 px
Position = Center
Blend Mode = Normal
Opacity = 100%
Color = # fb999a
( Untuk merubah warna, klik pada kotak warna, lalu akan muncul Color Picker, ubah kode pada kotak yang ada symbol # ).

Dan hasil akhirnya akan seperti ini :

Anda dapat menambahkan style-style lainnya pada Blending Options, seperti Drop Shadow, Inner Shadow, Outer Glow, Inner Glow, Bevel and Emboss dll. Pokoknya pesan saya jangan berhenti mencoba yah. (source)

Selamat mencobanya, dan jangan lupa tulis komentarnya yah…Terima kasih…

Pengusaha zona nyaman….

Pernah denger yang namanya zona 80…?? di TV swasta ada acara zona 80 yang memutar lagu-lagu kenangan masa lalu. Acara zona 80 sangat menarik dan kita bisa bernostalgila sambil membayangkan masa “kejayaan” dulu, masa-masa yang sangat indah untuk dilupakan, masa yang penuh dengan kegilaan bahkan saking gilanya membuat kita enggan untuk beranjak “melangkah.” Zona 80 benar-benar membuat kita merasa nyaman….

Zona nyaman biasanya identik dengan titel seorang karyawan, tetapi jangan salah, pengusaha juga banyak yang berada di zona nyaman. Kelihatannya saja “bertitel” pengusaha tetapi sebetulnya semangat dan jiwanya masih seperti karyawan yang berada di zona nyaman.

Kalau karyawan yang di zona nyaman biasanya mereka sangat susah untuk diajak berubah menjadi seorang pengusaha, kenapa..?? karena mereka sudah merasa “aman dan nyaman” di posisi sekarang ini. Mereka takut jika berubah maka segala kenyamanan dan fasilitas sebagai seorang karyawan akan hilang dan mereka akan berada di zona yang tidak nyaman lagi.

Di dunia wirausaha-pun juga banyak para pengusaha yang merasa aman dan nyaman di zona aman. Mereka merasa bahwa dengan cara seperti inipun mereka masih bisa hidup jalan lalu buat apa dirubah nanti malah menambah pusing, biasanya begitu alasan yang sering saya terima.

Kalau pengusaha berpikir seperti itu berarti mereka menyalahi kodratnya sebagai seseorang yang HARUS menciptakan lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan akan bisa tercipta jika ada seorang wirausaha yang banyak membuka usaha.

Lagipula apa asyiknya jika seorang pengusaha harus berlama-lama di suatu tempat tanpa menciptakan tantangan baru, jangan sampai tantangan itu muncul dari luar tetapi ciptakan tantangan sendiri biar kita juga bisa mengontrol tantangan itu.

Buka toko dan warung dimana-mana, ramai-kan tempat sepi dengan menciptakan pasar, perluas pangsa pasar sampai ke luar negeri, niatkan membuka usaha untuk mengangkat kesejahteraan orang lain selain untuk diri sendiri dan yang terpenting adalaha perbanyak sedekah dari semua hasil usaha kita.

Salam sukses dunia akherat,

Bekasi-ku, Terang lah…Insya Allah

PJU1
Jl. Ahmad Yani akan menjadi muka kota utama. Di sepanjang jalan ini tengah dibangun PJU

PADA pertengahan Agustus 2009, saya diminta untuk memimpin sebuah Tim Kajian Survei Potensi dan Kondisi Penerangan Jalan Umum (PJU) di Kota Bekasi. Salah satu tugas tim adalah mengevaluasi kinerja PJU dan hasilnya akan menjadi rujukan bagi Pemerintah Kota dalam mendesain lampu PJU.

Tentunya, tawaran ini tidak saya tolak. Kata pa ustadz yang sering ceramah di mesjid, menolak rezeki adalah perbuatan yang tidak baik. Lagi pula, honornya bisa untuk beli buku dan menambah biaya kuliah semester depan. Lumayan bisa sedikit bernafas lega selama 6 bulan.

Dengan bermodalkan GPS, kemudian Tim yang terdiri lima orang mulai melakukan pemetaan titik PJU di seluruh pelosok kota. Ada sekitar 16.000 titik PJU yang harus disurvei. Sebagian besar tiang PJU tersebar di berbagai jalan raya. Sedangkan bagi warga perumahan atau perkampungan, harus sedikit bersabar karena tidak semua perumahan dapat menikmati PJU di malam hari.

Mungkin masih banyak warga yang tidak tahu, siapa yang bertanggungjawab dalam mengelola PJU. Apakah PLN atau Pemerintah Kota ?  Berdasarkan peraturan, penanggungjawab utama adalah pemerintah setempat.   Pemerintah berkewajiban membangun PJU, mulai dari konstruksi tiang, pemasangan lampu (SON), membangun jaringan kabel sampai lampu tersebut berfungsi dengan baik. Setelah itu, pemerintah berkewajiban untuk memelihara seluruh perlengkapan PJU dan memastikan keamanan tiang dan listrik bagi masyarakat. Kedua, berkoordinasi dengan PLN untuk penyambungan tenaga listrik dan membayar seluruh rekening listrik yang terpakai.

Sedangkan sumber pembiayaannya berasal dari PPJ (Pajak Penerangan Jalan) yang biasanya kita bayar sekaligus ketika melunasi rekening listrik. Besaran prosentasenya ditetapkan oleh pemerintah (Pemkot dan DPRD). Pajak yang terkumpul dari rakyat ini lah yang dijadikan sumber pembiayaan dalam mengelola PJU.

Pertanyaannya adalah seberapa besar amanah Pemkot Bekasi dalam mengelola uang rakyat yang berasal dari PPJ ? Memang, kalau dibandingkan antara jumlah titik PJU dengan jumlah dan sebaran penduduk serta luasan wilayah, masih belum cukup untuk memberikan kenyamanan kepada warga kota.  Ini sangat terasa, apabila kita jalan-jalan di malam hari atau kemalaman pulang kantor, sebagian jalan terlihat gelap karena belum ada penerangan dari PJU. Kalau toh ada, sorot lampunya sudah lemah atau mati. Kondisi ini memang mengasyikkan bagi yang sedang dirasuk asmara tapi juga sekaligus membahayakan bagi pengguna jalan.

Pemasangan PJU di sepanjang jl. Cut Meutia akan membuat terang benderang di malam hari...wow keren
Pemasangan PJU di sepanjang jl. Cut Meutia akan membuat terang benderang di malam hari...wow keren

Apa upaya Pemkot Bekasi ? Pemkot sendiri menyadari bahwa upaya yang telah dilakukannya belum maksimal. Dalam arti, belum seluruh pelosok kota secara merata menikmati terangnya PJU di malam hari.

Dalam satu kesempatan bertemu dengan nomuro uno-nya Kota Bekasi, beliau mengatakan bahwa Pemkot pada tahun 2009 baru memfokuskan pembangunan PJU di ruas jalan utama yang menjadi muka kota dan beberapa perempatan jalan yang padat lalu lintasnya, seperti pertigaan Tol Barat dan Tol Timur, dll. Sedangkan ruas jalan utama antara lain, Jalan Ahmad Yani, Jalan Cut Meutia dan Terminal Kota Bekasi.

Kondisinya ruas-ruas jalan tersebut saat ini, memang masih gelap gulita, karena masih dalam tahap pelebaran jalan dan pemasangan konstruksi PJU. Namun, paling lambat awal tahun 2010 warga kota akan menikmati cahaya yang terang benderang dari lampu PJU. Mendengar penjelasan Pak Nomuro Uno, saya membayangkan selepas penat pulang kerja dan macet yang tak terhindarkan, saya akan menikmati keindahan kemilau cahaya PJU. Semoga itu menjadi obat penyejuk hati, setelah seharian menguras tenaga mencari nafkah untuk keluarga.

Sebagai warga Kota Bekasi yang senantiasa taat membayar PPJ dan patuh menyetorkan pajak setiap tahun (kecuali lagi lupa), tentunya saya berharap banyak langkah Pemkot, kemudian diteruskan ke berbagai pelosok kelurahan dan pemukiman warga. Ada beberapa ruas jalan, seperti jalan Pekayon yang menjadi jalur “mudik” saya setiap hari kerja,  terlihat masih belum terang benderang. Apalagi kalau ditambah dengan kondisi jalan yang bolong-bolong sangat membahayakan bagi kendaraan, terutama motor.

Mengapa pembangunan PJU menjadi penting ? Karena pembangunan PJU  menggambarkan perkembangan kota itu sendiri. Pada dasarnya, PJU mempunyai tiga fungsi yaitu keamanan, ekonomi dan keindahan. Fungsi keamanan berkaitan dengan arus transportasi jalan  terutama di waktu malam di mana pengguna jalan membutuhkan penerangan untuk menghindarkan terjadinya kecelakaan di jalan.Selain itu juga dapat mencegah tindak kriminal.

Fungsi ekonomi jalan berkaitan dengan keberadaan penerangan listrik yang akan membantu pada kelancaran distribusi barang pada malam hari. Fungsi keindahan akan mendorong munculnya kebanggaan warga kota dan kenyamanan di malam hari. Karena fungsinya yang sangat bermanfaat bagi warga, maka PJU menjadi faktor penting bagi pembangunan kota.

Terang terus Bekasi-ku. Berikan kami cahaya yang terang benderang ketika malam tiba. Dan, kami akan membayar pajak dengan ikhlas setiap tahun demi Bekasi-ku.

Salam Blogger Bekasi

Antara Semangat Korut, Selandia Baru, Honduras dan Revolusi Olahraga Soekarno !

“Revolusi olahraga demi mengharumkan nama bangsa. Olahraga adalah bagian dari revolusi multikompleks bangsa ini,” Ir. Soekarno

Pesta hajat bagi pemain bola dunia sudah memasuki fase babak kedua dimana terdapat beberapa kejutan di antara tersingkirnya Juara Dunia 1998 dan Eropa 2000 Perancis secara tragis dan juga kejutan besar dari Portugal yang mencetak 7 gol tanpa balas ke gawang Korea Utara dan masih banyak kejutan lainnya.

Penulis tidak akan menceritakan detail pesta hajat ini karena semua orang pun sudah menyaksikannya bahkan ada yang sudah mengira-ngira kira-kira siapa yang membawa pulang piala emas itu tetapi ada yang membuat penulis miris dengan hajatan ini dengan kondisi sepakbola kita.

Kita semua tahu bahwa Piala Dunia kali ini ada yang beda dimana negara-negara yang tidak pernah kita prediksi bisa bermain di ajang Piala Dunia seperti Selandia Baru, Korea Utara, Honduras dan masih banyak lagi. Negara seperti Selandia Baru, Korea Utara dan Honduras ini kalau kita bandingan dengan luas teritorial Republik Indonesia masih lebih besar negara kita tetapi kenapa tiga negara ini bisa main di Piala Dunia sedangkan kita masih saja bermimpi dan bermimpi.

Korea Utara, siapa yang tidak kenal dengan negara ini luasnya yang kecil mungkin masih lebih besar Pulau Jawa ini terkenal dengan arogansinya terhadap dunia dengan adanya instalasi rektor nuklir yang menurut AS berbahaya belum lagi adanya rencana untuk meluncurkan roket jarak jauh dan masih banyak lagi permasalahan yang membuat dunia ketakutan, belum lagi dari internalnya yang selalu tertutup.

Itu baru soal politiknya, bagaimana dengan olahraganya ternyata tidak jauh beda karena terisolirnya mereka dari dunia terbukti dengan minimnya sponsor, kemudian ada isunya beberapa pemain yang hilang selama pagelaran dunia ini tetapi keterbatasan itu bisa menutupi mereka untuk tampil menyakinkan walaupun kalah dari Brazil dan Portugal tetapi spirit tetap ada bahkan membuat repot pertahanan Brazil hingga menit ke-50 dan mencuri satu gol.

Selandia Baru, negara kecil ini menurut penulis pun sukses mengukirkan namanya dalam sejarah Piala Dunia dimana untuk pertama kalinya mengikuti pesta hajat sepakbola dunia menggantikan Australia yang hengkang ke benua Asia ini, kita bisa lihat prestasi mereka dimana mereka berhasil mencetak gol duluan ke gawang Italia yang nota bene adalah juara bertahan 2006 walaupun akhirnya di tahan imbang 1-1 kemudian menahan imbang negara Eropa Timur padahal materi pemain mereka rata-rata adalah pemain semi pro atau bermain di kasta terendah di liga Eropa seperti Liga Championship Inggris (Divisi I dan II).

Honduras, lagi-lagi negara (boleh penulis bilang ) kecil mampu bermain di Piala Dunia, padahal negara ini adalah negara dengan pengangguran terbesar di kawasan Amerika tengah dan juga beberapa waktu lalu sempat terjadi semacam pergulatan politik dimana sang Presiden terguling “bertempat tinggal” di Kantor Kedutaan Besar Brazil dan membuat Honduras seperti layaknya arena peperangan, tetapi mereka bisa bermain di Piala Dunia walaupun sampai saat ini belum ada gol yang tercipta tetapi suatu kebanggaan bisa bermain di Piala Dunia dan itu akan di kenang oleh penduduk Honduras.

Itulah ketiga negara yang menurut penulis sangat berpengaruh di Piala Dunia walaupun mereka kekurangan seperti geografis yang kecil, faktor politik dunia apalagi Korea Utara yang terisolasi bahkan mencari sponsor untuk membuatkan mereka perlengkapan bermain seperti kaos tim dan lainnya harus mencari sendiri tetapi apa TEKAD untuk menunjukkan dunia kalau Korea Utara, Selandia Baru, Honduras itu ADA dan BISA bersaing dengan negara-negara lain dan itu sudah terbukti !!

Bagaimana dengan Indonesia ? sudah kah PSSI bermain di Piala Dunia ? jujur penulis miris, malu dan selalu bermimpi kalau ajang ini selalu datang apalagi sampai tropy Piala Dunia ini selalu datang ke Jakarta setiap ajang dunia ini akan dimainkan, karena sampai sekarang pun Tim Nasional Indonesia belum bisa berbicara banyak di Piala Dunia padahal usia negara ini adalah 65 tahun dan 70 tahun usia PSSI, sedangkan negara pecahan Yugoslavia yaitu Kroasia yang PSSI-nya berdiri tahun 1992 dalam waktu 6 TAHUN sudah bisa mempersembahkan gelar JUARA KETIGA Piala Dunia 1998, Perancis dengan mengalahkan Oranje-Belanda !!!

Apa yang salah dari sepak bola kita, kompetisi kita sukses walaupun sering terjadi keributan antar suporter atau antar pemain, penonton yang datang ke stadion penuh bahkan sampai jebol pintu setiap ada pertandingan, sponsor kita banyak yang menyumbang, gaji pemain kita melebihi atau setara dengan gaji direktur dan jajaran direksi BUMN, stadion kita banyak yang standar FIFA, SDM banyak dan berpotensi terus kenapa kita tidak bisa main di Piala Dunia, sedangkan Korea Utara, Selandia Baru, Honduras seperti yang penulis utarakan di atas bisa main di Piala Dunia ?

Andai Bung Karno masih hidup dan sehat bugar mungkin dia akan marah besar terhadap para pengurus PSSI karena tidak becus membawa sepak bola ke pentas internasional seperti yang ia harapkan ! lantas apa hubungannya sepakbola dengan Bung Karno.

Awal tahun 60-an boleh di bilang adalah era keemasan dan kebangkitan negara ini ditangan Bung Karno sebelum dihancurkan oleh tangan besi dan otak diktaktor serta otoriter dari Cendana, kita bisa lihat Indonesia dipandang sebagai pelopor inspirasi perjuangan bangsa-bangsa di Asia dan juga Afrika, kepemimpinan Indonesia di dalam politik luar negeri pun di akui bahkan Amerika Serikat, Uni Sovyet, China dan India sampai angkat topi dan acungkan dua jempol !

Jepang dan China pun ketika itu belum jaya seperti sekarang yang merajai perdagangan dunia. Kita tahu Jepang porak-porandan karena “hadiah” dari Amerika Serikat sebelum berakhirnya perang dunia kedua, kemudian negara India yang masih belia dan masih mencari jati diri negara pasca merdeka hal yang sama juga oleh China yang sedang sibuk dengan agenda besarnya yaitu revolusi budayanya.

Ditangan Soekarno, posisi Indonesia dalam hal geografis cukup strategis karena menjadi penengah dalam perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Sovyet, setelah Soekarno berhasil melahirkan Konfrensi Asia Afrika yang kemudian menjadi sebuah gerakan yang dinamankan Gerakan Non Blok pada tahun 1955

Itu baru urusan perpolitikan luar negeri yang dirancang oleh Soekarno, lalu bagaimana dengan olahraga, ternyata tidak jauh berbeda dengan pemikiran politik internasionalnya, Soekarno bahkan membuat langkah berani dengan membuat sebuah pagelaran olahraga internasional yang diberi nama Games of The New Emerging Forces (GANEFO). GANEFO adalah ajang olahraga tandingan daripada Olimpiade yang kita kenal pada medio akhir 1962, alasan beliau membentuk GANEFO adalah bahwa olahraga tidak bisa dipisah dengan politik, karena pada pelaksanaan Asian Games’62, Indonesia melarang Israel dan Taiwan untuk mengikuti kegiatan Asian Games dengan alasan solidaritas dan simpati kepada Republik Rakyat China dan negara-negara jazirah Arab.

Aksi ini di protes oleh KOI-Komite Olimpiade Internasional yang mempertanyakan legalitas dan legimitasi Asian Games di Jakarta. Akibat aksi ini Federasi Asian Games (FAG) menskors Indonesia untuk ikut dalam ajang ini karena Taiwan dan Israel adalah anggota resmi PBB. Indonesia juga di skors untuk tidak boleh mengikuti Olimpiade Tokyo’64, karena tidak boleh ikut serta Olimpiade membuat Soekarno marah besar sehingga Indonesia keluar dari KOI, Soekarno menuduh KOI merupakan antek imperalisme, setahun kemudian GANEFO akhirnya lahir di Jakarta.

GANEFO berikutnya di Kairo, Mesir pada tahun 1967 terpaksa di batalkan karena masalah politik, GANEFO sendiri memiliki semboyan Maju Terus Jangan Mundur-Onward No Retreat. Dalam GANEFO ini Indonesia mengundang negara RRC dan negara-negara dunia ketiga. Menurut catatan yang penulis baca, GANEFO diikuti lebih dari 2200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dengan diliput sekitar 500 jurnalis dari berbagai negara walaupun GANEFO ini di boikot oleh negara barat tetap saja berjalan dengan sukses.

Seperti ucapannya yang terkenal Satunya Kata dan Perbuatan, dalam meracang olahraga dan sepakbola sebagai jati diri bangsa, Soekarno menunjuk R. Maladi sebagai Ketua Gerakan Olahraga-KOGOR, organisasi ini sendiri ditugaskan oleh Soekarno untuk menyiapkan Asian Games IV di Jakarta, dibawah perintah Soekarno dari kredit lunak Uni Sovyet terbangun lah Komplek olah raga (yang sekarang dikenal dengan Komplek Olahraga Bung Karno).

Pemancangan tiang pertama komplek tersebut di lakukan oleh Soekarno pada tanggal 8 Februari 1960, selanjutnya satu demi satu sarana olahraga yang di impikan Soekarno terwujud. Istana Olah Raga-Istora selesai pada tanggal 21 Mei 1961, Stadion Madya (khusus lari), Stadion Renang, Stadion Tennis pada Desember 1961, Gedung Basket pada Juni 1962, dan yang paling utama Stadion Utama sekarang kita sebut Stadion Gelora Bung Karno pada tanggal 21 Juli 1962.

Setelah sukses dengan capaian Indonesia pada Asian Games’62, Soekarno lantas mengeluarkan sebuah Keputusan Presiden berregister 263/`1963 yang isinya tentang misi Indonesia masuk dalam 10 besar olahraga di dunia, alasan Keppres ini di buat berharap SEPERTIGA penduduk Indonesia aktif dalam bidang olahraga sejak bangku SD, maka impian dari bangku SD itu dapat tercapai

Keppres itu akhirnya tinggal kenangan karena masalah politik sebuah dinasti dari Jalan Cendana dan sampai sekarang Indonesia khususnya sepak bola masih dan masih menjadi penonton baik di depan tivi atau tribun penonton stadion karena menang undian berhadiah dari perusahaan yang menjadi sponsor Piala Dunia, ataupun jurnalis yang di kirim serta bola yang di rebutkan oleh 22 orang dalam satu lapangan..

Coba engkau masih hidup bung…mungkin sepak bola kita bisa juara bahkan melebihi perolehan Brazil huuufffttt..

GBK Std, 230610 10:20

Rhesza
Pendapat Pribadi

FIFA Harus Segera Menerapkan Pemakaian Video

Fair play senantiasa menjadi semboyan yang ditekankan kepada para pemain sepakbola. Bila mereka melakukan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip tersebut, mereka bisa mendapat hukuman kartu kuning atau bahkan kartu merah. Seorang pemain yang mengganggu pemain lawan yang berpeluang mencetak gol di kotak penalti misalnya  bisa diganjar kartu merah sekaligus hukuman tendangan  pinalti. Dalam piala Dunia di Afsel saat ini beberapa kali terjadi kejadian serupa.

Namun prinsip yang sama tampaknya belum berlaku bagi para wasit. Beberapa kali wasit melakukan kesalahan dalam menilai terjadinya pelanggaran sehingga keputusan yang diambil terasa merugikan salah satu pihak. Kaka ,misalnya menerima kartu kuning kedua karena dianggap menyikut pemain lawan. Padahal dari tayangan televisi terlihat jelas justru pemain lawan yang menabrak dia, meskipun mungkin terlihat dia mengangkat tangan untuk menghindari tabrakan lawan. Kartu kuning kedua ,diikuti kartu merah telah mengurangi kesempatan Kaka untuk tampil membela  Brazil.

Puncak kesalahan wasit yang saya lihat adalah apa yang terjadi malam ini pada pertandingan antara Jerman melawan Inggeris di Free State Stadium, dalam perdelapan final. Saat kedudukan  2-1 untuk Jerman, tendangan Frank Lampard dari luar kotak finalti jelas terlihat telah melewati garis gawang sebelum kemudian memantul ke tiang atas dan kemudian turun menyentuh garis gawang. Seolah-olah bola belum masuk, penjaga gawang Jerman, Manuel Neuer, segera merebut dan melempar bola kembali ke tengah lapangan. Tragisnya, wasit dan hakim garis tidak melihat bahwa bola sudah masuk dan  tidak mengesahkannya. Frank Lampard dan seluruh pendukung  Inggeris hanya bisa menelan kekecewaan.

Keterbatasan jarak pandang wasit mungkin saja mengurangi keakuratan keputusan yang mereka ambil. Namun kondisi tersebut semestinya disikapi dengan mengadopsi penggunaan perangkat teknologi untuk membantu wasit mengambil keputusan terbaik yang tidak merugikan salah satu pihak yang telah berjuang keras selama pertandingan. Dalam kondisi keragu-raguan untuk mengambil keputusan apakah bola telah melewati garis gawang, wasit semestinya bisa meminta bantuan hakim  keempat untuk memutar ulang video pertandingan. Dengan demikian, wasit dan hakim garis bisa secara jernih memutuskan bahwa gol sah atau tidak.

Persoalannya adalah, FIFA sebagai induk organisasi dunia ternyata tidak menyetujui  penggunaan teknologi video untuk membantu wasit dalam memonitor pertandingan.Terlalu dini menyatakan FIFA anti tenologi karena kenyataannya mereka telah mengadopsi penggunaan telepon wireless untuk memudahkan komunikasi antara wasit dan hakim garis. Lantas, mengapa untuk penggunaan video yang senyatanya mampu mengatasi kekurangan  pengamatan wasit akibat jarak dan sudut pandang ditolak?

Bila FIFA tetap dengan keputusannya untuk meniadakan penggunaan video, maka di masa depan kita akan menyaksikan kembali berulangnya kejadian yang merugikan salah satu kesebelasan akibat keputusan wasit yang tidak tepat. Akan ada gol “Tangan Tuhan” ala Maradona kembali, gol bantuan tangan ala Thiery Henry saat melawan Republik Irlandia di babak penyisihan, hukuman penalty karena diving seperti yang dilakukan Grosso dari Italia yang menyingkirkan Australia tahun 2006. Hari ini kita menyaksikan peristiwa yang persis sama 44 tahun yang lalu saat Inggeris melawan Jerman di Stadion Wembley.. Haruskah kita melihat peristiwa hari ini di Piala-piala Dunia yang akan datang hanya karena administrator sistem persepakbolaan sejagad ini tidak mau berubah ? Jika demikian, mungkin wasit dan FIFA juga perlu diberi kartu merah!! Masalahnya, siapa yang berwenang memberi mereka kartu merah?

The A Team (2010) : Mereka Beraksi Lagi!

“Murdock, ada paket film 3D untukmu, dari Annabele Smith!,” kata seorang perawat rumah sakit jiwa di Jerman pada seorang pasien bertopi baseball yang bertampang lugu.

Lelaki yang dipanggil itu mendadak terperangah, matanya yang jenaka dan cerdas terlihat berbinar terang. “Saatnya sudah tiba, saatnya beraksi,” mungkin itu yang terlintas difikirannya. Senyum kemenangan terlihat diwajahnya.

Dan demikianlah, selanjutnya, kita lantas disajikan adegan laga yang sungguh ciamik dan spektakuler khas ala The A Team, sebuah film serial fenomenal yang begitu beken di Indonesia di tahun 80-an.

Film ini memang merupakan “remake” dari film seri terkenal itu. Saya selalu ingat, senantiasa menunggu aksi menakjubkan dari Hannibal Smith bersama anakbuahnya yang penuh kejutan dan lucu. Pertikaian antara BA Baracus dan si sableng Murdock, gaya Playboy si tampan Face menggoda wanita atau cara Hannibal mengisap cerutu dengan senjata tersandang di bahu masih melekat dalam ingatan saya.

Ketika akhirnya saya berkesempatan menonton film ini minggu lalu ada begitu banyak ekspektasi merajai benak. Tentu saja saya berharap menemukan kembali “spirit” para pahlawan-pahlawan masa kecil saya tetap menyala dalam film yang dibintangi oleh pemain-pemain baru ini. Dan, syukurlah, saya menemukannya. Malah terasa “jauh lebih gila, dashyat dan nekad” dibanding versi Televisi-nya dulu. Tentu saja karena semuanya didukung oleh teknologi film dan animasi yang telah maju demikian pesat saat ini, yang mampu menyajikan adegan spektakuler dan kerapkali tidak masuk akal. Karakter para tokoh juga terbangun dengan baik, paling tidak, saya kembali bisa bernostalgia menyaksikan bagaimana lucu dan nekadnya Murdock mengemudikan pesawat, kemampuan BA menghajar lawan-lawannya, cara Face merayu gadis yang diincarnya atau kehebatan tim ini membuat senjata dengan peralatan seadanya . Semua tersaji lengkap.

Aksi Liam Neeson, pemenang Oscar dalam film Schindler List, sebagai Kolonel Hannibal Smith sungguh memukau. Dengan cerdik ia merancang setiap aksi timnya secara teliti dan resiko minimal. Kepemimpinannya yang berwibawa dan juga jenaka, membuatnya sangat disegani oleh jajaran anak buahnya yang eksentrik : Templeton “Face” Peck (Bradley Cooper), Baracas BA (Quinton “Rampage” Jaquemin), dan HM “Howling Mad” Murdock (Sharlto Copley). Hadirnya Jessica Beihl yang memerankan agen Departemen Pertahanan AS Charisa Sosa yang juga mantan pacar Face, makin “mempermanis” kehadiran 4 jawara The A-Team. Di film ini, disajikan pula kisah mengapa sampai si kekar berambut ala Mohawk, BA Baracus, takut naik pesawat serta “sejarah” awal pembentukan tim pasukan khusus ex Ranger ini.

Dikisahkan dalam film yang diproduseri oleh Ridley Scott, Tony Scott, Stephen J. Cannell ini, Hannibal Smith dkk dijebak dan akhirnya dihukum atas aksi kejahatan yang tidak mereka lakukan. Setelah melalui aksi meloloskan diri yang tak terbayangkan, mereka lalu melaksanakan pengejaran pada orang yang telah mengelabui mereka sekaligus membersihkan nama baik yang sudah terlanjur tercoreng.

Di layar perak, adegan demi adegan berlalu cepat dengan ritme yang rapi. Saya sempat berdecak kagum pada beberapa adegan spektakuler seperti aksi mereka terjun dengan tank dari pesawat Hercules dengan dihujani tembakan dari pesawat jet robot, kejar-kejaran antar helikopter yang menegangkan dan akhirnya ditutup adegan kolosal di akhir film yang menghadirkan pertempuran dashyat di terminal peti kemas. Semua tersaji begitu mengesankan dan menegangkan. Luar biasa!.

Penasaran mau nonton? Coba saksikan dulu trailer filmnya:

Pekan Raya Jakarta 2010 yang “murah meriah”

Arena bermain untuk anak juga ada

Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair 2010 dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 10 Juni 2010, di Arena PRJ Kemayoran Jakarta Pusat. Event pameran, promosi bisnis, dan pagelaran seni budaya terbesar di Indonesia tersebut diikuti oleh 2.500 perusahaan, 27 propinsi, dan ratusan pengusaha kecil serta koperasi dari seluruh Indonesia.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Jakarta Fair diselenggarakan di Arena Pekan Raya Jakarta, yang berlokasi di kawasan eks Bandara Kemayoran Jakarta Pusat. Event ini akan menjadi ajang promosi bisnis, pameran, dan hiburan terbesar selama 32 hari atau dengan durasi waktu paling lama di Indonesia. Jakarta Fair diselenggarakan untuk ke 43 kalinya dalam rangka memperingati HUT Kota Jakarta Ke-483.

Jakarta Fair yang merupakan ajang berbagai kegiatan marketing, promosi, pameran, promosi budaya, dan festival musik nonstop selama 32 hari penuh, akan dibuka setiap hari mulai pukul 15.30 hingga 22.00 pada hari biasa, dan mulai pukul 10.00 hingga 23.00 pada hari Sabtu dan Minggu. Harga tiket masuk Jakarta Fair tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni Rp 15 ribu pada hari Senin sampai Kamis dan Rp 20 ribu untuk Jumat sampai Minggu.

suasana malam di pelataran Pekan Raya Jakarta 2010

Artikel diatas saya ambil dari situs http://www.jakartafair.biz/. Berita diatas sebagai pelengkap saja karena memang di PRJ ada banyak kegembiraan.

Kita lihat kegembiraan keluarga besar yang berkunjung ke PRJ walaupun harue mengeluarkan uang lebih untuk bayar tiket. Kegembiraan pedagang “apalagi ownernya” yang melihat semua dagangannya dibeli oleh pengunjung. Kegembiraan pedagang kerak telor yang dapat rejeki nomplok, kegembiraan tukang parkir yang dapat limpahan mobil karena parkir tidak cukup dan bermacam kegembiraan lainnya.

Produk baru ada juga yang di launching di pameran ini tetapi banyak juga yang cukup mengeluarkan produk lamanya.

PRJ bisa dijadikan ajang untuk meraup untung yang banyak dengan catatan harus mendapat tempat yang strategis dan terkonsep jualannya.

Hanya saja masih ada yang menjadi ganjalan buat saya yaitu soal tiket masuk yang ber-tarif Rp. 20.000/orang di hari libur. Standar orang kita minimal 4 orang jadi mereka harus mengeluarkan Rp. 80.000 untuk tiket dan ioni belum termasuk jajanan untuk di dalam.

suasana di dalam hall juga tidak kalah menarik

Apa tidak bisa ya tiket dibuat sedemikian rupa biar menjadi lebih terjangkau buat masyarakat umum….?? Tiket segitu hanya bisa terjangkau oleh kalangan menengah ke atas sedangkan buat mereka yang berpenghasilan pas-pasan akan terasa berat sekali.

Apakah memang PRJ hanya khusus buat mereka yang mampu… ??

Salam sukses dunia akherat,

Narsis via 4Square

Kalau ada yang suka dengan Koprol, mungkin akan tertarik juga dengan layanan Social Network berbasis lokasi ini, FourSquare (4Sq). Bisa juga terjadi sebaliknya, bagi penggemar 4Sq dapat mencoba menjadi anggota komunitas Koprol. Layanan yang diajukan oleh 4Sq memang cukup menarik, apalagi kalau kita sudah merasa bosan dengan PLURK atau bila kita ingin mengembangkan “kicauan” twitter + “status” Fisbuk kita, maka 4Sq menjadi sesuatu yang pantas dicoba.

Layanan 4Sq ini memang seperti juga Social Network (SN) lainnya, dapat langsung terintegrasi dengan Twitter dan Facebook. Untuk menjadi pengguna 4Sq, maka bisa dilakukan via PC maupun langsung ke ponsel, namun saat pengisian “shout out” ataupun saat proses “check in”, maka hanya bisa dilakukan via ponsel.

Meskipun ponsel kita tidak dilengkapi dengan GPS, tetapi layanan 4Sq mampu mendeteksi tempat kita berada dengan memanfaatkan fasilitas GPS dari penyedia layanan ponsel kita. Hasilnya tentu tidak tepat benar, tetapi cukup mewakili posisi kita saat itu.

Yang membuat layanan ini menarik adalah fasilitas nilai/skor yang didapat setiap kita melakukan check in di suatu tempat. Makin sering kita melakukan check in di suatu tempat, maka makin besar kemungkinan untuk menjadi “MAYOR” atau boleh dibilang “PENGUASA” tempat kita check in tersebut.

Pengguna 4Sq yang menjadi Mayor di beberapa tempat akan mendapat sebuah badge “Super Mayor”, sedangkan bagi mereka yang sering bepergian naik kapal laut, maka 4Sq juga menyiapkan badge untuk para pelancong ini.

Sedangkan untuk mereka yang sering bepergian dengan pesawat terbang, disediakan juga badge yang lain.

Layanan ini makin menarik, karena skor yang kita capai dapat dibandingkan dengan nilai yang didapat oleh teman kita. Misalnya seperti yang ditampilkan dalam leaderboard di bawah ini.

Terlihat bahwa eko s melakukan 70 kali check in dan mempunyai nilai 861 poin, sedangkan eko e dengan jumlah check in yang sama hanya mendapat nilai 789 poin.

Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor, misalnya faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Ada nilai khusus untuk pembuat VENUE, yaitu sebesar 5 poin
  2. Ada nilai khusus untuk check in di suatu tempat yang belum pernah didatangi, yaitu sebesar 5 poin.
  3. Ada pertambahan nilai bagi yang sering check in, misalnya  check in yang pertama akan mendapat poin 1, sedangkan check in yang ke sepuluh akan mendapat nilai 10.

Sebagai contoh pada saat check in yang ke sepuluh kita membuat VENUE baru, misalnya SENISONO LAMA, maka kita akan mendapat nilai sebesar 10 + 5 + 5 atau 20 poin. Nilai 10 (sepuluh) didapat dari nilai check in yang ke sepuluh, nilai 5 ( lima) dari VENUE baru dan nilai 5 (lima) lagi dari pertama kali kita check in ke VENUE baru tersebut.

Layanan 4Sq akhirnya menarik minat juga bagi mereka yang mempunyai bisnis yang berdekatan dengan hobi para pelancong, misalnya bisnis resto, hotel atau tempat wisata. Kita bisa membuat VENUE tentang bisnis kita dan tunggu sampai ada yang check in di VENUE buatan kita tersebut.

Apakah layanan ini menarik atau tidak, semua terserah anda. Mari kita berbagi tips untuk layanan ini. Silahkan isi di kolom komentar dan berbagi amal dengan pembaca yang lain.