Mari Manfaatkan Waktu Dengan Baik

Mari Manfaatkan Waktu Dengan Sebaik-Baiknya
Mari Manfaatkan Waktu Dengan Sebaik-Baiknya

Apakah yang paling jauh di dunia ini? Maka jawabnya masa lalu. Sebab dia tak akan pernah kembali lagi. Waktu tak akan pernah kembali menghampiri hidup kita. Dia terus berputar seirama jarum jam berdetak, dan kita sebagai manusia mau tidak mau, suka atau tidak suka wajib bergerak mengikuti irama jarum jam yang terus bergerak maju.

Continue reading Mari Manfaatkan Waktu Dengan Baik

Amprokan Blogger Dalam Foto: Menikmati Presentasi Dari Para Pakar

Nara Sumber Amprokan Blogger 2011
Nara Sumber Amprokan Blogger 2011

Mengikuti Presentasi para pakar di Amprokan Bloger 2011 tidak harus dengan mengerenyitkan kening sambil terkantuk-kantuk. Itu bisa terlihat sejak Menkominfo Tiffatul Sembiring berpidato sebagai Pembicara Kunci. Tiffatul bisa mengajak audiens mengembara kemana-mana dan tak jarang juga diselingi dengan pantun-pantun yang merupakan ciri khas Tiffatul Sembiring bila tampil didepan massa. Tidak seperti bossnya yang masih suka berpidato dari teks buatanan anak buahnya dengan anggaran bisa buat ngasih makan orang sekampung.

Continue reading Amprokan Blogger Dalam Foto: Menikmati Presentasi Dari Para Pakar

Busyet Dah! 373 Blogger Muda Indonesia Menyerang Blog Pribadiku

Omjay di Sekolah Guru Ekselensia Bogor
Omjay di Sekolah Guru Ekselensia Bogor

Saya serasa tak percaya melihat blog pribadi saya diserbu para blogger muda Indonesia. Mereka berlomba-lomba memberikan komentar di blog pribadi saya yang beralamat di http://wijayalabs.com. Ini bukan bermaksud iklan loh, tapi sebuah kisah nyata yang saya lihat sendiri dengan mata dan kepala sendiri. Suwer!!! Saya tidak bohong!

Continue reading Busyet Dah! 373 Blogger Muda Indonesia Menyerang Blog Pribadiku

TAMAN WISATA KENONG MUARA NAWAN BABELAN KABUPATEN BEKASI

Kenong apaan tuh, makluk apa nih. Ya mungkin kita jarang mendengar kata Kenong, tapi tidak bagi warga Pesisir Muara Nawan, Babelan kabupaten Bekasi, kata kata itu terasa akrab di telinga meraka , Kenong adalah kata lain dari Bakau, masyarakat di Muara Nawan menamakan bakau dengan Kenong bahasa lokal mereka. Kata Kenong tersebut kalau kita ulang ulang lama kelamaan enak dan terasa akrab juga dikuping kita. Luar biasa.

Kenong atau Bakau (Rhizophora spp.), merupakan salah satu jenis tumbuhan yang hidup dan tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Kenong tumbuh di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Kenong atau bakau bukan merupakan satu satunya tumbuhan yang dapat hidup diatas rawa-rawa berair payau maupun di sekitar muara sungai, masih ada lagi diantaranya, Jenis Api api ( Avicennia sp ). Jenis Tancang ( Bruguiera sp ) Jenis Pedada/Bogem ( Sonneratia sp ) dan masih banyak lagi. Nah keragaman inilah yang disebut dengan mangrove, jadi si Kenong merupakan salah satu dari bahagian mangrove.

Hampir sama dengan sebahagian daerah pesisir lain Diindonesia, Kenong di daerah inipun banyak ditebangi untuk kepentingan sesaat sebagai tambak, diambil kayunya untuk berbagai keperluan dan lain sebagainya, yang tentu aja Kenong semakin hari semakin menipis menghilang. Itu tampak pada pertemuan laut dan sungai dimuara nawan yang dulunya merupakan hutan Kenong berubah menjadi daratan tambak-tambak dan kini terbukti tambak-tambak itu hilang karena abrasi. Kanapa bisa hilang oleh abrasi, karena tidak ada lagi yang dapat menghalangi gempuran ombak laut menuju daratan kecuali Sang Kenong yang telah ditebangi itu. Hasilnya kini dimuara Nawan adalah Kenong hilang karena ditebang untuk tambak dan Tambakpun menghilang.kena abrasi. Luar biasa.

Kabar bagusnya. Diantara Kenong kenong yang telah menghilang didaerah Muara Nawan ini, ternyata masih ada Kenong yang tertinggal tumbuh subur dan masih dapat kita nikmati dan kita pertahankan keberadaannya bahkan masih mungkin pula kita perbanyak dengan menanamnya, serta dapat pula kita jadikan Icon wisata baru di Kabupaten Bekasi. Sebagai Tempat Wisata, Pendidikan, penelitan dan penanaman Kenong.

Jalan menuju Taman Wisata Kenong Muara Nawan Babelan kab Bekasi, sangatlah mudah dan dapat dilakukan dengan kendaraan pribadi maupun model angkutan yang ada, seperti angkot dan ojek, dengan kondisi jalan yang sangat mulus lus lus dari beton.

Apabila kita mempergunakan kendaraan Pribadi baik dengan mempergunakan sepeda motor maupun mobil dapat dimulai dari Stasiun Kereta Api Bekasi menuju kebelakang stasiun melewati jalan samping melalu pelintasan rel kereta api menuju Babelan, Ikuti jalan tersebut tanpa belo belok lagi, mulai dari pelintasan rel kereta api sampai tujuan jalannya sangat mulus lus terbuat dari beton hingga sampai tujuan di daerah PGN persis pinggir sungai. Kurang lebih perjalanan mulai dari pelntasan rel kereta api sampai PGN dapat ditempuh 1 ( satu ) sampai satu setengah Jam. Dan Bila anda naik angkot kesananya, anda dapat menuju terminal kecil di belakan stasiun Bekasi menuju ke PGN.

Semoga dengan adanya Icon Baru Taman Wisata Kenong Muara Nawan, Babelan Kabupaten Bekasi yang digagas temen temen Blogger Bekasi, yang belum terawat dengan sempurna ini, akan menambah keanekaragaman tempat wisata yang menarik disekitar kita.

Nyok kita jadikan daerah Muara Nawan Babelan kabupaten Bekasi sebagai Taman Kenong yang bagus dan hebat bermanfaat bagi semuanya, ya Masyarakatnya, nelayannya, penambaknya dan kita semua. Amien

Amprokan Blogger 2011 (7): Jelajah Situ Bekasi dan Taman Buaya Cibarusah

[M]atahari seakan “membakar” Cikarang dengan teriknya yang menyengat saat Rombongan peserta Amprokan Blogger 2011 bergerak menuju lokasi kunjungan berikutnya dari Jababeka Cikarang menuju Situ Bekasi yang berada di Kec.Serang Kabupaten Bekasi. Sebelum berangkat, DR. H.Munawar Fuad, tokoh intelektual asli Bekasi dan menjabat Direktur Eksekutif Forum Investor Bekasi (FIB) serta kini menjadi staf Ahli Kementerian Energi & Sumber Daya Mineral RI, yang akan memandu perjalanan memberikan gambaran sekilas mengenai tempat yang akan dikunjungi nanti.

“Kita akan melihat Situ Bekasi yang terbentuk dari penggalian dan penambangan pasir di daerah Serang, Cikarang Bagian Selatan. Tidak hanya itu, teman-teman blogger seluruh Indonesia ini akan kita ajak ke Taman Buaya di Cibarusah sembari menyaksikan atraksi kesenian tradisional Debus yang menghibur anda semua,” kata Pak Munawar yang juga anggota blogger Bekasi serta penulis aktif yang sudah menghasilkan lebih dari 20 buku ini.

Dengan kawalan mobil patroli Polisi Polres Cikarang, rombongan 3 bis peserta Amprokan Blogger berangkat menuju lokasi Situ Bekasi. Sebelumnya, kami sempat mampir sebentar di Restoran Sami Kuring menjemput satu bis lagi yang berisi 74 orang anak-anak yatim di pesantren Al-Salafiyah Tanjung Air Babelan yang merupakan asuhan dari salah satu anggota Blogger Bekasi asal Bekasi Utara Bang Komaruddin Ibnu Mikam alias Bang Kokom. Kehadiran mereka dalam acara ini merupakan wujud sebuah keinginan luhur Blogger Bekasi sebagai penyelenggara acara ini untuk turut berbagi bersama mereka.

Setelah menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan, kami akhirnya tiba disebuah tempat di kawasan Serang Cibarusah. Didepan kami terhampar sebuah pemandangan yang “menakjubkan”. Terlihat jelas sebuah cekungan bumi yang dalamnya sekitar 10-20 meter dan diameter mencapai 100 meter tengah digali oleh sebuah alat besar. Dalam hati saya bergumam, tampaknya inilah sebuah wujud kalimat yang diungkapkan pak Eka Budianta dalam presentasinya tadi pagi bahwa terkadang, kepentingan ekologis, dikalahkan oleh kepentingan ekonomi.

Lihatlah, tanah yang tergali dan menyisakan cekungan dalam di perut bumi akibat penambangan pasir –yang konon sebagian besar adalah ilegal — dibiarkan begitu saja setelah “isi”-nya dikeruk. Cekungan ini lambat laun akan membentuk danau kering dan ekosistem disekitarnya menjadi tak terawat. Beberapa diantaranya menjelma menjadi danau setelah terisi dengan air. Dari informasi pak Munawar ada sekitar 50-an “Situ” dikawasan ini. Dibiarkan begitu saja tanpa ada tindak lanjut apapun. Saya membayangkan bila eksploitasi ini terus berlanjut dan ketika semuanya selesai, tak ada lagi yang bisa digali, maka masyarakat sekitarnya akan kehilangan mata pencaharian. Kerusakan lingkungan disaat yang sama telah terjadi sementara pemerintah setempat sepertinya tidak terlalu memperdulikan hal ini.

Sebenarnya kondisi ini bukan tanpa solusi. Pemanfaatan Situ-Situ atau Danau-Danau sisa penambangan pasir ini sesungguhnya bisa dilakukan dengan menjadikan wilayah ini sebagai daerah tujuan wisata yang tentu berpotensi menghasilkan pendapatan secara ekonomis untuk masyarakat sekitar. Dibutuhkan komitmen, niat baik dan tentu saja kerja keras semua elemen masyarakat dan pemerintah untuk mewujudkan hal ini. Tidak sebatas wacana dan retorika belaka.

Dari Situ Bekasi, rombongan blogger bergerak menuju Taman Buaya Cibarusah. Hanya siperlukan waktu sekitar 15 menit untuk mencapai lokasi taman buaya tersebut dari tempat kami berangkat. “Taman Buaya Indonesia Jaya” Sukaragam – Serang – Bekasi, demikian sebuah prasasti besar dengan patung buaya sedang menganga diatasnya menyambut kehadiran kami disana. Hujan deras mengucur bagai tercurah dari langit ketika kami tiba. Rombongan Blogger plus anak-anak yatim dari pesantren kemudian masuk ke arena pertunjukan dibagian dalam. Kami lalu duduk di kursi beton yang berbentuk setengah lingkaran menghadap ke arena. Ada jeruji tinggi menghalangi, untuk keamanan antara penonton dan buaya yang ada didalamnya. Meski sudah 7 tahun tinggal di Cikarang, inilah kali pertama saya berkunjung di Taman Buaya ini.

Acara pertunjukan dimulai dengan perkenalan oleh para pemain termasuk informasi bahwa ada 500 ekor buaya berada di Taman yang didirikan sejak tahun 1990 ini.Tak lama kemudian aksi yang memerlukan keterampilan dan kemampuan tinggi ditampilkan oleh 4 orang (satu diantaranya menjadi “Pawang” atau pemimpinnya).

Ada aksi bermain bersama ular Phyton , aksi Debus seperti mengupas kelapa dengan gigi atau atraksi kekebalan yang menggunakan benda-benda tajam hingga aksi bermain bersama buaya. Meski hujan mengucur deras, secara profesional mereka tetap beraksi mempertontonkan keahliannya penuh semangat. Sangat mengagumkan. Setiap hari Minggu atau hari libur nasional, Taman Buaya ini menggelar atraksi debus dan pertunjukan tradisional dua kali, masing-masing pukul 11.00 dan pukul 14.00.

Seusai acara, saya sempat berjalan-jalan dibelakang arena pertunjukan. Ternyata terdapat sejumlah “kandang” buaya berbentuk kolam besar disana. Tidak hanya buaya-buaya “normal” namun ada pula buaya cacat atau buntung dan buaya putih atau yang mengalami kelainan pigmen. Jenis buaya yang dipelihara disini berasal dari jenis Buaya Air Payau, Kondisi kolam dan tempat pemeliharaannya terlihat memprihatinkan. Seperti tak terawat, Tembok-tembok kusam berlumut seakan menjadi saksi bisu betapa Taman Buaya yang dikelola swasta ini benar-benar dalam keadaan “hidup segan, mati tak mau”.

Mas Dwiki Setiawan, Salah seorang peserta Amprokan Blogger 2011 menggambarkan suasana mengenaskan Taman Buaya ini pada artikelnya di Blog Blogger Bekasi sebagai berikut:

Taman Buaya Bekasi berdiri semenjak awal dekade 1990-an.  Kondisinya mengenaskan. Salah satu wahana rekreasi alternatif ini, pindahan dari Taman Buaya Pluit Jakarta Utara yang  kini berubah fungsi, dan di sana berdiri dengan megah Mal Pluit. Di Pluit, Taman Buaya telah menemani masyarakat sedari 1982 hingga 1990.

Terletak di Jalan Raya Cibarusah Kecamatan Serang Kabupaten Bekasi. Menempati lahan seluas 1 ¼ hektar, dengan jumlah koleksi satwa reptil kurang lebih 500 ekor. Kondisi Taman Buaya Bekasi sangat mengenaskan dan memprihatinkan. Eksistensi Taman Buaya, di satu sisi menjadi simbol ironi di tengah gencarnya proses industrialisasi di kawasan Bekasi.

Kurangnya pemberitaan dan minimnya biaya promosi menjadi salah satu sebab keberadaan Taman Buaya ini tidak dikenal masyarakat, bahkan oleh sebagian besar warga Bekasi sendiri. Akibatnya pengunjung obyek rekreasi sepi. Di hari Sabtu dan Minggu serta hari libur lainnya, hanya dikunjungi kurang lebih 150 orang. Sementara di hari biasa, tak lebih dari jumlah jari di tangan.

Tatkala peserta Amprokan Blogger 2011 mendatangi tempat rekreasi ini, saya berbicang dengan  Setu Utomo, salah seorang karyawan senior, yang telah bekerja sebagai orang kepercayaan Lukman Arifin, pemilik Taman Buaya, selama 36 tahun.   Menurutnya, diakui dengan harga karcis masuk Rp 20 ribu untuk orang dewasa, dan Rp 10 ribu untuk anak, tempat rekreasi ini kurang mampu bersaing dengan tempat rekreasi lainnya. “Harga karcis sebenarnya wajar. Tidak sebanding dengan biaya operasi. Untuk memberi makan 500 ekor buaya di 5 kolam besar yang ada, rata-rata per hari menghabiskan biaya Rp 300 ribu,” ujarnya.

Selanjutnya Setu Utomo menambahkan, kompoenen biaya operasional lainnya untuk menggaji karyawan yang ada, dan pemeliharaan fasilitas. Lantaran tidak sebanding antara pemasukan dengan pengeluaran, maka fasilitas mulai dari gedung utama, infrastruktur jalan, taman, dan kandang dan lain-lain di dalam kompleks rekreasi itu jarang direnovasi. Kondisi Taman Buaya Bekasi yang mengenaskan ini  tidak berubah dengan semenjak didirikan lebih dari 20 tahun silam.

Apa yang dikemukakan mas Dwiki nampaknya tersirat dari raut wajah sang pemilik Taman Buaya ini, Lukman Arifin (91 tahun) yang secara kebetulan datang ke lokasi yang dimilikinya itu. Saya dikenalkan oleh Pak Munawar Fuad kepada Pak Lukman yang duduk di kursi roda terkena penyakit stroke namun dari sorot matanya yang tajam terlihat semangatnya sebagai perintis taman reptil Carnivora ganas ini. Selain di Cikarang, pak Lukman yang sore itu didampingi oleh sang istri, juga memiliki Taman Buaya di Kalipasir Tangerang dengan jumlah buaya mencapai 1000 ekor dan di Denpasar Bali dengan buaya berjumlah 500 ekor.

Taman Buaya ini selain dijadikan wisata ekologi juga dijadikan sebagai tempat pembudidayaan dan penangkaran. Menurut istri Pak Lukman yang mengelola Taman Buaya di Cikarang hasil pembudidayaan ini berupa bahan industri kerajinan tas, sepatu dan accesories dari kulit buaya. Juga sebagai bahan makanan dan obat dari daging buaya. Pada kesempatan itu Pak Lukman sempat memperlihatkan obat kuat Tangkur Buaya yang konon membuat lelaki lebih perkasa :)

Potensi wisata di Bekasi ini memang sangat sayang bila kemudian tidak dikembangkan dan dilestarikan. Peran serta Pemda Kab.Bekasi yang diharapkan melakukan kerjasama operasional yang konstruktif dengan pihak pengelola agar ajang wisata ekologis yang melestarikan satwa buaya serta memiliki nilai edukasi tinggi ini dapat terus hidup. Dengan badan hukum yang dimiliki pengelola yakni Yayasan Taman Buaya Indonesia Jaya bukan tidak mungkin akan terbuka peluang mengembangkannya menjadi lebih baik dan profesional, termasuk uluran bantuan dari Pemda setempat.

Pukul 17.00 WIB kunjungan ke Taman Buaya Cibarusah berakhir. Sangat berkesan dan membuka mata kami semua, para peserta Amprokan Blogger Bekasi untuk membangkitkan kesadaran memelihara serta melestarikan satwa buaya melalui sarana rekreasi ekologis di Taman ini. Kami sangat berterimakasih atas “traktiran” Pak Munawar Fuad, tokoh intelektual Bekasi yang juga lahir dan bermukim di Cibarusah tak jauh dari Taman Buaya ini untuk menonton atraksi kesenian sekaligus melihat langsung kondisi penangkaran dan pembudidayaan buaya disana. Anak-anak yatim dari Pesantren di Babelan yang kami bawa juga sangat senang dan menikmati atraksi tersebut.

Acara ke Taman Buaya ini menjadi penutup rangkaian kegiatan Amprokan Blogger 2011 yang diadakan oleh Komunitas Blogger Bekasi. Rombongan blogger bergerak meninggalkan Cikarang dan kembali menuju Islamic Center Bekasi. Terimakasih sebesar-besarnya kami ucapkan kepada segenap sponsor pendukung mulai dari Indosat, Pemerintah Kota Bekasi, ICT Watch/Internet Sehat, Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI), Kota Jababeka, Rumah Makan Samikuring dan Air Mineral VIT serta sponsor pribadi Bapak DR.H.Munawar Fuad yang sudah menyokong acara Amprokan Blogger 2011 hingga berjalan lancar dan sukses.

Sampai jumpa di Amprokan Blogger 2012 !!

Selesai

Amprokan Blogger 2011 (6): Jababeka Movieland & Harapan Blogger Sebagai Hati Nurani Masyarakat Industri

[C]uaca begitu cerah menyongsong kedatangan rombongan peserta Amprokan Blogger 2011 yang terdiri atas 3 bis di Movieland Kota Jababeka, Minggu (18/9). Rombongan disambut dengan ramah oleh tim Marketing Kota Jababeka yang dipimpin oleh ibu Lilis Nuraeni serta Pak Eka Budianta, pengelola Jababeka Botanical Garden di Hollywood Plaza Movieland. Sekitar 180 orang peserta (yang mengenakan kaos biru) dan panitia (mengenakan kaos kuning) Amprokan Blogger langsung menempati area pertemuan yang disiapkan dalam gedung yang menjadi kantor pusat perusahaan property terkemuka di Cikarang, Kota Jababeka.

Setelah saya menyampaikan kata sambutan mewakili Blogger yang hadir, Pak Purbadi General Manager Kota Jababeka menyampaikan pengantar sebelum kami semua mengikuti perjalanan “Jababeka Amazing Tour 2011″ dalam rangka Amprokan Blogger 2011 ini. Dalam kata sambutannya, Pak Purbadi menyatakan rasa bangga dan senangnya, karena untuk kedua kalinya Jababeka menjadi sasaran kunjungan Amprokan Blogger 2011. “Saya berharap kunjungan kawan-kawan Blogger di Kota Jababeka ini akan semakin membuka wawasan tentang bagaimana kami mengelola serta mengembangkan lingkungan yang hijau dan harmonis disela-sela gemuruh pembangunan property dan pabrik di Kota Jababeka,”ujar pak Purbadi sembari tersenyum.

 

Setelah itu tampil Pak Eka Budianta, sosok yang dikenal sebagai budayawan dan sastrawan ini merupakan pengurus dari Botanical Garden serta Jababeka Multicultural Center memberikan pencerahan yang sangat berarti kepada para peserta tentang pohon, pelestarian lingkungan dan tentu saja tentang kecerdasan ekologis. Setidaknya, ada tujuh poin penting yang dikemukakan Pak Eka dalam pertemuan tersebut, yakni:

Pertama, pengertian industri. Kalau mendengar kata industri, yang terbayang adalah mesin, pabrik, polusi, pemogokan buruh, hidup sumpek dan berat. Padahal pengertian mendasar dari industrius adalah rajin, terampil, hidup yang produktif. Jadi para blogger perlu meluruskan pengertian yang benar dari industri sebagai cara hidup yang rajin, tekun dan produktif.  Industriwan artinya orang yang rajin, tekun, bekerja keras, dan selalu belajar untuk meningkatkan ketrampilan serta pengetahuannya.

Kedua, industri hijau punya dua macam pengertian. Pertama, hortikultura atau perniagaan tanaman, perkebunan, budi daya pohon dan rumput untuk taman. Kedua: industri yang hemat energi, efisien mengolah bahan baku, tidak mencemari alam. Kedua pengertian ini dilaksanakan di Jababeka.  Hal itu dapat dilihat pada pengembangan nurseri, lapangan golf, botanic gardens, tanaman hias dan sawah-sawah yang dilestarikan. Di saat yang sama ada 1500 pabrik yang berjuang menjadi industri bersih, dengan continuous improvement – peningkatan berkelanjutan.

Ketiga, para bloggers diharapkan menjadi hati nurani dari masyarakat industri.  Hati nurani berfungsi menjaga kesadaran untuk selalu di jalan yang benar, meningkatkan mutu kehidupan dari waktu ke waktu. Setiap industriwan bekerja keras, berpikir keras, dan memiliki semangat mengabdi. Sering kali melebihi kewajiban atau kebiasaan sehari-hari.  Ketika masyarakat pada umumnya (yang konsumtif itu) tidur nyenyak, para bloggers sebagai industriwan justru berpikir.  Mereka bekerja sebagaimana para arsitek, sastrawan dan peneliti berkutat di laboratorium tanpa mengenal waktu.

Keempat, dalam industri hijau kita mengutamakan ekologi di atas ekonomi, karena sadar bahwa hidup memerlukan lingkungan yang sehat.  Kita memperhatikan dan melindungi flora dan fauna, keaneka-ragaman hayati, kesehatan lingkungan. Para bloggers dapat membantu masyarakat untuk selalu meningkatkan kecintaan pada lingkungan.

Kelima, cinta pada sesuatu berarti: memahami, mengelola, dan mempromosikan dengan benar.  Kalau kita cinta pohon artinya kita mengenal dan paham betul nama pohon itu, apa manfaatnya, dari mana berasal.  Kita juga terampil merawatnya, mulai dari menanam sampai panen. Kita paham penyakitnya, keistimewaannya dan bagaimana pengembangannya.  Tentu yang tak kurang pentinya: kita berhasil mengajak orang lain ikut mencintai tanaman yang kita cintai.

Keenam, sebagai kelanjutan menanam pohon, memperbaiki habitat, tentu adalah melengkapinya.  Karena itu pada kunjungan kedua para bloggers di Jababeka ini, kita tidak menanam pohon tapi melepaskan burung.  Kita mengisi lingkungan yang sudah mulai bagus dengan fauna.  Burung dilepas pada bulan Agustus sampai Oktober.  Ikan dilepas pada bulan Maret sampai Mei.  Dan agenda tanam yang paling ideal adalah November sampai Februari.  Hari menanam nasional adalah 1 Desember.

Ketujuh, kita berusaha meneruskan tradisi dan setia pada pelestarian bumi.  Untuk melakukan tugas ini kita perlu bimbingan Khalik Pencipta Alam semesta.  Kita lakukan yang terbaik sesuai dengan kekuatan, bakat dan kesempatan yang kita miliki.  Tetapi kita serahkan hasilnya, dan kita mohon bimbingan Tuhan dalam melakukan tugas kewajiban ini.  Maka, seorang blogger yang juga pengurus rumah yatim piatu di Bekasi, memimpin doa pelepasan burung dengan indah sekali.   Mohon blogger yang memimpin doa itu dihubungi untuk membagikan doanya kepada semua bloggers di Indonesia.

Setelah pemaparan yang inspiratif dari Pak Eka tampil Pak Alan Yee, Business Development Manager Indonesia Movieland Jababeka. Beliau menerangkan konsep dan pengembangan kawasan Movieland di Jababeka sebagai “Hollywood”-nya Indonesia. Silakan simak presentasi beliau dibawah ini:

Indonesia movieland

Impian Jababeka akan menjadi masa depan bagi industri film dan televisi di Indonesia dipaparkan secara visioner oleh Pak Alan .

Setelah foto bersama didepan Hollywood Plaza, rombongan blogger bergerak menuju acara tour keliling di Kota Jababeka yang dipimpin oleh Ibu Lilis yang menjadi penanggung jawab kegiatan Kota Jababeka Amazing Tour (KJAT) ini. Dengan dikawal mobil Security PT Jababeka, 3 bis yang membawa para blogger diajak berkeliling mulai dari melihat kawasan Movieland kemudian Presiden University, Sekolah Islam Al Azhar, Korean ICT Training Center, Jababeka Medical Center, Jababeka Golf & Country Club, Kawasan Perumahan Tropikana dan kemudian berhenti di Botanical Garden dimana tahun lalu para Blogger pernah melakukan penanaman pohon disini.

“Tujuan kami melaksanakan KJAT Tour ini selain mengenalkan fasilitas yang dimiliki sekarang oleh Kota Jababeka kepada para blogger juga ingin memberikan wawasan yang lebih luas mengenai pengembangan kedepan kawasan ini sebagai kawasan kota Mandiri, Terpadu, dan tentu saja tetap mempertahankan kelestarian lingkungan,” demikian ungkap ibu Lilis Nuraeni kepada kami sebelum melaksanakan tour. Rombongan Blogger sangat menikmati rindangnya pepohonan dan keasrian alam di Botanical Garden Jababeka.

“Lihatlah ini pohon yang ditanam Ketua Blogger Bekasi, Pak Aris masih tumbuh dengan subur setelah setahun ditanam,” kata Pak Eka sambil menunjuk sebuah pohon disebelahnya. Anhie, anggota Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri, juga terpekik riang saat melihat pohon yang ditanamnya tahun lalu dalam Amprokan Blogger 2010 tumbuh semakin tinggi.

Seperti yang dikemukakan Pak Eka pada presentasinya, kali ini para blogger tidak menanam pohon namun melepaskan burung. Pihak Jababeka sudah menyiapkan burung merpati dan tekukur untuk dilepaskan dari sangkarnya oleh para Blogger. “Pelepasan burung ini sekali lagi menunjukkan bahwa kita ingin melengkapi kawasan flora yang sudah dibangun dengan baik di Botanical Garden ini dengan fauna, sebuah upaya membangun harmoni ekosistem di lingkungan kita,” demikian kata Pak Eka sebelum prosesi pelepasan burung dilaksanakan.

Suasana menjadi sangat meriah saat burung dilepaskan udara. Para perwakilan komunitas blogger daerah dengan sangat antusias melepas burung dengan sorak-sorai penuh semangat. Prosesi pelepasan burung dan ziarah pohon di Botanical Garden ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Mas Yulef.

Dari Botanical Garden, rombongan blogger bergerak menuju sarana WTP (Water Treatmeant Plant) yang dikelola oleh PT Jababeka dan melayani khususnya kawasan perumahan. Di fasilitas ini, dijelaskan bagaimana air bersih dihasilkan dari pengolahan air yang diambil dari Kalimalang Bekasi kemudian didistribusikan kepada pelanggan perumahan.

Makan siang yang nikmat sudah menunggu saat rombongan kembali ke Hollywood Plaza. Pada kesempatan tersebut diumumkan pula Juara lomba “Live Tweet” dengan tagar #JababekaMovieland dengan mentioned ke akun twitter @kjat01 untuk 3 orang pemenang yang beruntung. Hadiah menarik berupa souvenir dan merchandise dari Kota Jababeka Amazing Tour dianugerahkan kepada para pemenang.

(bersambung)

 

Amprokan Blogger 2011 (5): Diskusi Santai Tentang Kebebasan Berekspresi & Peran Netizen

Malam minggu (17/9) di aula Asrama Haji terlihat begitu romantis. Ada bulan menggantung dan sembunyi malu-malu di balik awan. Saya menyaksikan pemandangan itu dari lantai 2 tempat penyelenggaraan Amprokan Blogger 2011 sembari menikmati santapan makan malam. Seusai sholat maghrib dan membersihkan diri, saya sudah siap memasuki babak berikutnya acara perhelatan akbar blogger Indonesia itu berupa Sarasehan Blogger.

Sebelum acara digelar, sang tuan rumah Blogger Bekasi memberikan hiburan “Live Music” kepada para peserta yang datang satu-satu sambil menikmati hidangan makan malam. Diiringi petikan gitar mas Sheed, beberapa penyanyi dadakan naik ke atas panggung menyumbangkan suaranya. Biar Fals yang penting nekad. Tak ayal, selain saya, tampil pula Pak Dian Kelana menyanyikan lagu-lagu tempo doeloe. “Seperti menyaksikan tembang kenangan ya?”, ujar seorang peserta nyeletuk sambil tertawa.

Acara Sarasehan dalam format informal dan lebih santai ini dimulai pikul 08.30 malam. Dipandu oleh Blogger senior dari Solo, Blontankpoer, sesi ini menghadirkan kembali aktifis Internet Sehat Donny BU dengan pembahasan tentang kebebasan berekspresi di internet serta pemaparan lebih komprehensif tentang “Dokumen Tebet” sebagaimana yang dibahas dalam acara pagi harinya.

“Sama seperti pergaulan nyata pada umumnya, interaksi di internet memerlukan etika yang mesti senantiasa kita–sebagai penggiat online–pertimbangkan. Menggunakan media internet secara bijak dan kreatif akan membuat kita tidak hanya eksis didunia maya namun juga membuat kita lebih yakin pada apa yang kita lakukan,” demikian ujar Donny BU membuka diskusi santai malam itu sambil duduk lesehan diatas panggung..Aktifis Internet Sehat ini juga memaparkan bagaimana peran Netizen dalam era sosial media sebagai penyeimbang berita serta informasi dari Media Mainstream.

Yang menarik adalah diskusi ini menghadirkan pula Akhmad Nasir, aktifis Jalin Merapi yang menguraikan bagaimana mereka menggalang bantuan untuk musibah meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta dengan memanfaatkan teknologi internet dan sosial media. “Kunci kesuksesan kami adalah konsistensi dan kredibilitas. Informasi yang kami sajikan dapat dipertanggungjawabkan serta memiliki akuntabilitas tinggi dan Bantuan yang disalurkan kami laporkan secara transparan. Tak ada yang ditutup-tutupi. Informasi yang kami sajikan berasal langsung  dari lapangan, dengan sumber masyarakat setempat dan jaringan relawan. Masyarakat jadi tahu persis apa yang kami lakukan meski itu melalui update lewat jaringan sosial media,” kata Nasir dengan antusias.

Pada kesempatan yang sama hadir pula ikut sharing Bung Almascatie yang menceritakan bagaimana peran blogger dan netizen sebagai media penyeimbang atas media mainstream. Blogger asal Ambon ini menguraikan pengalamannya ketika terjadi kericuhan Ambon  yang terjadi tak lama sebelum ia berangkat ke Jakarta. Banyak hal-hal yang diberitakan di media secara bombastis ternyata sesungguhnya dilapangan tidak “seseram” yang terjadi di lapangan.

Almas, bersama teman-temannya di Komunitas Blogger Ambon Arumbai, melakukan “live report” dari lokasi kejadian melalui jaringan sosial media dan menjelaskan kejadian sesungguhnya di Ambon. Langsung. Tanpa rekayasa. Masyarakat akhirnya menjadi tahu dan tidak terpancing pada provokasi media yang terkesan melebih-lebihkan suasana. “Apa yang kami sampaikan bisa dipertanggungjawabkan karena kami berada disana, jadi saksi atas kejadian itu. Syukurlah, laporan kami ini mendapat apresiasi karena sedikit banyak telah mencegah timbulnya aksi anarkis yang lebih luas,” katanya bersemangat.

Acara Sarasehan yang berlangsung penuh nuansa kekeluargaan, interaktif dan santai ini berakhir pukul 22.30 malam.

(bersambung)

Amprokan Blogger 2011 (4) : Kecerdasan Ekologis Dalam Perspektif Kearifan Lokal

“Mari kita berkaca pada diri masing-masing, apakah kita semua sudah memiliki kecerdasan ekologis?”

Sebuah pertanyaan menohok datang dari Emmy Hafild seorang “pendekar” wanita di bidang pelestarian lingkungan hidup saat membawakan presentasi pamungkas dalam acara hari pertama Amprokan Blogger 2011 di aula asrama haji Bekasi. Wanita kelahiran Sumatra Barat tahun 1958 dan pernah dinobatkan sebagai “Pahlawan Bumi” oleh Majalah TIME tahun 1999 ini kemudian mengungkapkan berbagai fakta betapa kepentingan ekologis seringkali kalah oleh kepentingan ekonomi.

“Lihatlah, hutan kita hilang seluas lapangan bola hanya dalam hitungan 2 detik. Hanya 2 detik !!!”, tegas Emmy lantang. Kemudian hening. Para peserta Amprokan Blogger yang hadir bagaikan tersihir oleh kalimat dan retorika Emmy  Kalimantan saat ini sudah ditetapkan pemerintah sebagai kawasan wilayah pertambangan dan galian mineral. Dampaknya, kita akan kehilangan begitu besar kekayaan alam hayati berupa hutan hujan tropis disana. “Yang tinggal hanyalah berupa danau-danau bekas galian serta bukit gundul sebagai warisan untuk anak cucu kita kelak,” tutur Emmy yang pernah bekerja di Green Peace Indonesia itu dengan sorot mata tajam. Laju Deforestrasi terus berlanjut.dan lambat laun, “harta” berharga kita itu akan kian habis.

Tidak hanya bicara soal lingkungan, Emmy juga giat mengkampanyekan Komodo sebagai salah satu dari keajaiban dunia. “Saya tidak peduli bila saat ini pemerintah sudah memutuskan untuk menghentikan promosi ini akibat konflik dengan yayasan “New 7 Wonder penyelenggara acara tersebut”, katanya. “Yang paling penting adalah jika Komodo berhasil dikukuhkan sebagai 7 Keajaiban Dunia maka Nusa Tenggara Timur yang menjadi habitat Komodo, dan didominasi oleh padang Sabana kering serta relatif susah dikembangkan sebagai kawasan pertanian atau kehutanan yang bernilai ekonomis akan bisa menjadi primadona pariwisata dunia yang bisa meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat setempat,” kata Emmy yang juga memimpin kampanye Komodo tersebut. Dibawah ini video uraian Emmy Hafidl mengenai hal tersebut serta dukungan teguh peserta Amprokan Blogger 2011 :

Setelah sesi diskusi yang dibawakan oleh Emmy Hafidl dan dipandu oleh blogger senior Antyo Rentjoko yang akrab dipanggil oleh Paman Tyo ini, tampil Mas Amrul dari ElKail sebuah Yayasan Konservasi Lingkungan Hidup yang berkantor pusat di Cikarang. Mas Amrul menyajikan materi tentang gerakan yayasan mereka melakukan pemeliharaan dan penyelamatan hutan Mangrove di Bekasi Utara yang saat ini jumlahnya kian menyusut.

Amrul bersama kawan-kawannya di Elkais menggalang partisipasi masyarakat setempat untuk melakukan penanaman kembali hutan Mangrove disana. ” Ini,” katanya,”merupakan bagian dari upaya membangkitkan semangat kearifan lokal dalam memelihara lingkungan. Hutan Mangrove atau bakau tidak hanya menahan abrasi pantai namun juga mengendalikan intrusi air laut ke daratan, menjadi habitat ekosistem kawasan pesisir bahkan menjadi penahan gelombang tsunami yang efektif”.

Amrul juga mengungkapkan langkah-langkah yang mereka lakukan dengan melaksanakan pembibitan bakau hingga penanaman kembali tumbuhan khas pesisir tersebut bersama masyarakat sekitar. “Inilah salah satu wujud nyata dari kecerdasan ekologis itu dengan memberdayakan perspektif kearifan lokal masyarakat,”katanya sembari tersenyum.

 

(Bersambung)

 

 

Amprokan Blogger (3): Sosialisasi Kegiatan Blogger & Acuan Konsep Etika Online

Seusai makan siang sembari dihiburan ‘Angklung Orchestra” dari SMK Banisaleh, para peserta Amprokan Blogger 2011 kembali mengikuti sesi berikutnya yang kali ini diisi oleh sosialisasi kegiatan acara blogger antara lain dari Blogger ASEAN diwakili oleh Presidan ASEAN Blogger chapter Indonesia, Iman Brotoseno, Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) diwakili oleh sang ketua Indriyanto Banyumurti, Blogger Nusantara diwakili oleh salah seorang Steering Committee, Suryaden serta Donny BU aktifis ICT Watch yang getol menyuarakan internet sehat yang melakukan sosialisasi Dokumen Tebet tentang”Etika Online” yang digagas bersama sejumlah perwakilan komunitas internet (termasuk komunitas blogger) sehari sebelumnya.

Sesi Sosialisasi ini merupakan salah satu komitmen penyelenggara Amprokan Blogger untuk menggandeng “warna-warni” komunitas blogger dan aktifitas online yang bertujuan memberikan wawasan serta pemahaman lebih luas tentang kegiatan-kegiatan konstruktif berbasis blogger yang telah dan akan dilaksanakan dimasa datang. Blogger ASEAN misalnya berencana akan melaksanakan kegiatan Roadshow ke Bali bulan November nanti yang dikaitkan dengan KTT ASEAN disana, sementara itu Blogger Nusantara akan menggelar kegiatan akhir Oktober tepat saat peringatan Hari Blogger Nasional di Sidoarjo. Relawan TIK juga berusaha memperluas peran dan kiprahnya untuk memberikan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat di bidang TIK dengan menggalang kerjasama dengan berbagai aktifis online di seluruh daerah di Indonesia, seperti visi dan misinya. Dipandu oleh salah satu Srikandi Blogger handal dari Bekasi yang juga adalah seorang dokter, mbak Ajeng, sesi ini berjalan sangat memikat.,

Yang menarik adalah uraian Donny BU tentang sosialisasi “Dokumen Tebet” yang berisi konsep tentang acuan “Etika Online” yang digodok bersama-sama sejumlah aktifis online serta komunitas Blogger di hotel Harris Tebet sehari sebelumnya. Dokumen itu berisi:

ACUAN ETIKA ONLINE INDONESIA

Bahwa kegiatan penggunaan Internet dapat membantu mencari, mendapatkan, mengelola dan mendistribusikan banyak informasi yang positif dan bermanfaat bagi individu maupun masyarakat luas.

Bahwa kegiatan penggunaan Internet ternyata membuka peluang bagi diri sendiri terkena dampak negatif ataupun menghadapi perkara dari pihak lain yang dirugikan atau merasa dirugikan.

Bahwa dampak negatif ataupun perkara yang timbul akibat penggunaan Internet, dalam batas-batas tertentu dapat diselesaikan secara musyawarah, namun seseorang tetap dapat terkena konsekuensi hukum secara perdata dan/atau pidana.

Untuk itu maka kami, atas nama perwakilan organisasi/komunitas berjejaring (network society) dari berbagai kota di Indonesia bersepakat menyerukan kepada seluruh masyarakat luas pada umumnya dan pengguna Internet pada khususnya, agar bijak dalam pengunaan Internet.

Untuk itu pula maka kami secara bersama telah merumuskan acuan etika online(menggunakan Internet) yang bersifat konsep umum, tidak mengikat, bebas diadopsi siapapun dan diadaptasi sesuai kebutuhan masing-masing, yang berbunyi:

Siapapun tanpa terkecuali, ketika online (menggunakan Internet), harus menjunjung tinggi dan menghormati:

  • nilai kemanusiaan
  • kebebasan berekspresi
  • perbedaan dan keragaman
  • keterbukaan dan kejujuran,
  • hak individu atau lembaga
  • hasil karya pihak lain
  • norma masyarakat
  • tanggung-jawab

Konsep ini, ungkap Donny merupakan upaya untuk merangkum pendapat, dari, untuk dan oleh penggiat online mencakup bagaimana “ber-etika-online” di dunia maya: Selain dari blogger Bekasi (diwakili oleh mbak Ajeng) hadir pula dalam “Focus Group Discussion” tersebut perwakilan dari komunitas blogger Bertuah Palembang, Wongkito Pekanbaru,Sumut Medan, Beleter Pontianak, Arumbai Ambon, Ambon BergerakFlobamora Ende Flores, AnggingMammiri Makassar, Bali Blogger Denpasar, Plat-M Madura, TPCSurabaya, Angkringan Jogja, Joglo Abang Jogja, Bengawan SoloLoenpia Semarang,dotS Semarang, Ngalam Malang, CommonRoom BandungBlogVaganza Bandung,Blogor Bogor, dBlogger Depok, Blogger BekasiObrolan Langsat dan Akademi BerbagiJakarta.Selain itu akan ada pula perwakilan dari JalinMerapiKarya Tuna Netra,KasKusRelawan-TIKKomunitas Detik, Yayasan Air Putih, Yayasan Satu Dunia, Yayasan Wiki Indonesia, Komunitas Arus PelangiInternet SehatidBlogNetwork dan gerakan Jangan Bugil Depan Kamera (JBDK).

Acara berikutnya adalah Sosialisasi dan pengenalan produk dari sponsor utama kegiatan ini yaitu dari Indosat dan PANDI (Pengelola Nama Domain Indonesia). Pak Kristanto mewakili Indosat dengan wajah berbinar menyatakan bahwa Indosat–sebagai provider telekomunikasi terdepan di Indonesia–memiliki komitmen untuk terus mendukung kegiatan-kegiatan Blogger Indonesia. “Indosat adalah sahabat blogger Indonesia. Setelah mendukung kegiatan Amprokan Blogger Bekasi, Indosat akan menjadi mitra dalam acara Blogger Nusantara di Sidoarjo. Ini menunjukkan komitmen kuat kami memberikan kontribusi terbaik serta turut mendukung upaya-upaya konstruktif blogger Indonesia memberdayakan potensi internet di Indonesia”, demikian ungkap pak Kris yang juga menjabat Division Head online & Sosial Media di Indosat ini.

Pada kesempatan selanjutnya, Pak Sigit dari PANDI memberikan pencerahan kepada para blogger Indonesia mengenai penggunaan nama domain Indonesia. “Blogger bisa menggunakan domain “web.id” untuk memperkuat branding personalnya sekaligus mewujudkan rasa nasionalisme dengan menggunakan domain khas ala Indonesia,”ujar Pak Sigit. Sesi yang dipandu oleh Umi Kamillah dari Blogger Bekasi ini berlangsung seru dan menarik.

(bersambung)

Sebuah Nasehat Penting Untuk Para Guru

13168456802009139734

Sabtu, 24 September 2011, saya diundang untuk menyampaikan tausyiah oleh Badan Penyelenggara sekolah yayasan wanita kereta api (YWKA) yang berpusat di Bandung. Rencananya saya dijemput di tol Jatibening oleh salah satu panitia untuk sama-sama berangkat ke kota Bandung. Namun ternyata acaranya pindah di Jakarta, tepatnya di rumah makan  Handayani Matraman, Jakarta Timur.

  Continue reading Sebuah Nasehat Penting Untuk Para Guru