Blogger Bekasi mencatatkan Mie Sehati sebagai Nominator Apresiasi Blog oleh Acer

Setahun lalu, Wakil ketua Blogger Bekasi mencatatkan nama blognya sebagai salah satu dari tiga besar dalam ajang Blog Award PB 2010, tahun ini blog Mie Sehati kembali masuk Nominasi Apresiasi Blog oleh Acer OnOff 2011.

Bila diputuskan sebagai pemenang dalam ajang Apresiasi Blog dari Acer  ini, maka aku akan mendapat sebuah Tablet Iconia A101-3G dari ACER. Pengumuman Pemenang Utama & Pengambilan Hadiah rencananya akan dilaksanakan pada acara ON|OFF #byAcer, pada hari Sabtu 3 Desember 2011, di Epicentrum Rasuna, Jakarta.

Pelaksanaan acara On Off ini bertepatan dengan hari Bakti PU, dimana aku juga diharapkan hadir untuk menyaksikan teman-teman mendapat penghargaan sebagai pemenang lomba Metode Konstruksi pembuatan terowongan di Jati Gede Sumedang Bandung. Sebagai Manajer Penelitian dan Pengembangan di kantor, aku memang ikut aktif mengelola metode konstruksi yang dijalankan di perusahaan. Tentu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagiku bisa memenangkan award ini, meskipun yang paling berjasa adalah tim proyek yang punya ide briliyan.

Tahun lalu aku punya nazar, bila memenangkan hadiah Blog Award, maka hadiahnya akan kusumbangkan ke panitia korban bencana alam dan ternyata aku tidak menang sehingga akupun gagal memberikan sumbangan ke korban bencana alam tersebut.

Tahun ini aku tidak mau sesumbar lagi. Takutnya malah jadi riya dan sia-sia, sehingga kuputuskan untuk menerima hadiah itu kalau menang dan akan kupakai sendiri selama aku masih menyukainya.  Tablet Iconia A101-3G dari ACER rasanya pantas kupegang tuh.

Sebenarnya ada dua blogku yang terdaftar di ajang itu. Yang satu adalah blog personal (pribadi) yang isinya berita seputar Gadget, mulai dari Ipad, Samsung Android, Blackberry dan hal-hal yang berhubungan dengan gadget. Alamat blognya di http://ekoshp.com dengan trafik sekitar lima kali lipat dibanding trafik blog http://miesehati.com

Ternyata dengan trafik yang hanya seperlimanya, blog http://miesehati.com malah menjadi nominasi Apresiasi Blog dari Acer ini. Dari satu hal ini, kusimpulkan secara kasar bahwa blog yang menjadi nominasi Apresiasi Blog Acer ini adalah blog yang harus unik dan punya sesuatu yang lebih bermakna dibanding hanya sekedar trafik.

nominasi blog terbaik

 

Konsep blog mie sehati memang dibuat untuk memudahkan para pencari kerja ataupun wirausahawan baru/pemula agar segera dapat memulai usahanya tanpa banyak berpikir. Cukup dengan uang 100 ribu, sudah didapat ilmu membuat mie sehati dan ilmu menjual mie sehati termasuk merasakan kelezatan mie sehati. Inilah mie buatan sendiri tanpa pengawet, penyedap maupun pewarna kimiawi.

Akibatnya, mie ini tidak tahan lama, hanya sekitar 8 jam sudah disarankan untuk tidak dijual lagi, meskipun masih aman dan enak untuk dimakan. Angka 8 jam itu sudah menjadi komitment kita berdasar pengalaman yang sudah dilakuakn bertahun-tahun oleh master Mie Sehati.

Mie ini dibuat dari tepung dengan kadar protein sedang, sehingga harganya tetap terjangkau dan kualitasnya juga bagus. Mie jadi terasa enak karena langsung dibuat hari itu juga dan dimakan pada hari itu juga.

“Kalau tidak laku apa yang harus dilakukan? Apakah mienya dibuang?”, begitu biasanya para peserta pelatihan bertanya.

“Kita harus merubah mindset kita dengan bertanya hal yang kurang lebih sama actionnya tapi dari sudut pandang yang lain”

“Bagaimana pertanyaannya?”

“Kalau hampir tutup dan mie sudah habis, apakah perlu menggiling mie baru atau bagaimana?”

“Hehehehe…ternyata keputusannya giling mie baru dan ternyata tidak habis, lalu apa yang dilakukan?”

“Gampang mas. Waktu giling terakhir, jangan banyak-banyak gilingnya, misalnya cukup setengah kilo sajaatau setara 9 porsi. B isa juga kita lakukan action yang ekstrem, kita tutup warungnya pada jam mienya habis, kemudian buat tulisan besar di pintu warung MIE HABIS !”

“Hahahaha….”

“Orang yang tidak kebagian mie, biasanya besok akan datang lagi karena penasaran…”

Mie Sehati juga tidak memakai penyedap dan warna mie yang berwarna warni diambil dari pewarna alami. Misalnya warna hijau diambil dari daun Sawi yang diblender dan disaring (dibuang ampasnya). Dengan demikian disamping ;ezat, mie ini juga bergizi tinggi karena ada campuran daun Sawi yang kaya gizi.

Akui siap untuk menang dalam Ajang Apresiasi Blog dari Acer ini seperti aku juga siap untuktidak menang lagi seperti tahun lalu. Yang penting blog ini terus dapat eksis dan menolong teman-teman yang membutuhkan ilmu jualan secara cepat dan penuh berkah. Amin.

Terima kasih buat siapa saja yang telah membuat hal ini terjadi. Semoga yang terbaik untuk anda semua. Amin.

Salam sehati.

Logo Mie Sehati

MAKNA LELUHUR/KARUHUN

Lama tidak ada dorongan untuk menulis kembali, sampai suatu saat dorongan itu muncul kembali.

Dari banyaknya perbincangan dan diskusi dengan seorang teman yang cukup pancasila-is dan memberikan tulisannya kepada saya. Maaf kali ini saya tidak menulis tetapi saya hanya mempostingkan kembali tulisan yang cukup baik untuk kita mengkaji kembali nilai-nilai ke Indonesia-an kita berikut budaya-budaya yang memang bersumber dan mengakar dalam kehidupan kita di tanah air yang kita cintai ini —-> Indonesia.

Mungkin sebagian besar kita sudah tahu kata leluhur atau mungkin juga sedikit yang mengetahui kata karuhun. Semoga tulisan ini cukup bisa membawa untuk memahami dua kata tersebut tentang makna sesungguhnya yang mungkin saat ini banyak generasi muda yang kurang mengerti/memahaminya.

semoga tulisan ini bermanfaat buat kita dan bangsa ini…..

Terima kasih untuk temanku Semar Samiaji……

————————————————————————————————-

MAKNA  KATA  KARUHUN/LELUHUR

Di tengah kesibukan dalam keseharian, tiba-tiba terlintas kata karuhun atau leluhur…tergambarkan dengan jelas konteks yang ditampilkan dan disajikan dalam kilasan hati…ijinkan berbagi kepada rekan-rekan sebagai bagian warna dalam mengisi relung kehidupan perjalanan hidup manusia….

Bahasa Sunda menyebut para pendahulu dengan kata “karuhun” dan dalam bahasa Indonesia diberi nama dengan “leluhur”. Sering sudah kata ini terdengar dan terucapkan, yang menarik untuk dikaji apakah konteks karuhun atau leluhur….

Secara sederhana, makna kata karuhun atau leluhur adalah pada pendahulu kehidupan manusia yang masih hadir di muka bumi ini…semua manusia yang sudah mengalami proses kepulangan, disebut dengan kata karuhun atau leluhur…tidak ada yang membantah bahwa setiap manusia yang hadir PASTI melalui mereka sebagai pendahulu….dan dengan perantara kejadian tersebut, maka manusia satu akan menyebut dengan nama “ayah” atau “ibu” untuk tunjukkan jenis kelamin bagi manusia yang hadir di muka bumi ini….

Konteks kata karuhun atau leluhur akan semakin jelas terkaji saat di sisi lain kata keturunan pun dilahirkan….Sehingga ada benang merah yang dikenal dengan “regenerasi”….secara sederhana bisa dipahami adalah “penerus” satu mata rantai hidup dalam kehidupan berkesinambungan….Semakin menarik lagi kajian saat kata-kata tersebut ditambah kajiannya dengan “apa sejatinya yang diregenerasikan’…

Merujuk kepada fakta kehidupan manusia yang secara lahiriah dan batiniah memerlukan sarana dan prasarana dalam mengarungi kehidupannya, ternyata tidak ada manusia di muka bumi ini, yang tidak memerlukan apa yang disebut dengan pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan…siapa pun manusia itu…berwarna kulit apa pun manusia itu….berbahasa apa pun manusia itu….beragama atau berkeyakinan apa pun manusia itu….Jika hal-hal di atas dibayangkan untuk dimasukkan dalam diagram venn, maka semua yang diperlukan manusia itu adalah potongan yang akan diarsir oleh semua manusia……

Lalu menjadi kajian, apa sesungguhnya hanya hal-hal demikian, maka kata ayah, ibu, keturunan, dan regenerasi dihadirkan di muka bumi ini? Jika “hanya” hal itu saja yang menjadi kebutuhan manusia dan sudah ada disediakan oleh alam ini, mengapa manusia satu dengan lainnya menjadi saling hisap….saling berebut untuk memenuhi itu semua…saling bersemangat untuk angkat-angkat dan jatuhkan….Dengan segala kepintaran, baik dalam tataran berpikir dan bertindak, manusia bisa menguasai sumber-sumber kebutuhan hidupnya….

Dengan memperhatikan bentuk kehidupan alam lainnya, seperti hewan dan alam semesta, ternyata manusia berupaya menata bentuk kehidupan antar sesamanya…dan ada bentuk atau pola yang senada atau pun berwarna….sehingga, manusia bisa menjalani kehidupan yang lebih mudah…lebih praktis…dan lebih-lebih lainnya….semua fakta kehidupan menunjukkan hal-hal ini….Maka, mulailah manusia “saling” mempengaruhi dalam warna-warna tatanan tadi….Ujud atau fakta demikianlah menjadikan manusia menyusun dan membentuk tatanan kehidupan….atau dalam bahasa disebut sebagai budaya….

Jika kata budaya digandeng dengan kata ayah, ibu, regenerasi, dan keturunan, maka lengkaplah manusia menjadi “penggerak” kehidupan itu sendiri….lho, ternyata hidup itu adalah demikian ya?

Beribu-ribu tahun manusia dengan segala konsepnya “menurunkan” kepada generasi manusia berikutnya, berupa tatanan kehidupan, baik dalam bentuk yang sudah ujud atau pun konsep….agar manusia itu sendiri bisa “survive” dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini….Menjadi kodratnya manusia yang sudah dari sononya diberikan pikiran dan hati untuk membangun dan memelihara tatanan kehadiran satu budaya…..Dan sungguh satu kehormatan kodrat manusia, mampu mengejawantahkan itu semua dalam tataran yang demikian luas jangkauan dan pengaruhnya bagi kehidupan manusia satu dengan lainnya…bahkan antar benua sekali pun….Dalam tatanan kehidupan demikian, manusia tinggal di dalamnya….berbuat, berpikir, dan menjalani bentuk-bentuk kehidupan lainnya…bersama-sama dengan makhluk lainnya….

Merujuk perjalanan kehidupan manusia yang melandasi kepada ujud-ujud budaya, maka manusia memberi nama dari satu kurun waktu tertentu beralih kepada tatanan berikutnya…semua itu diberikan agar manusia menjadi bergairah…memberikan nuansa yang tidak melulu sajikan “lelakon” kemanusiaan dalam tataran kehidupan tertentu saja….dalam jiwa kegairahan, ada pula “nafas” yang mengisinya….ternyata nafas inilah yang mampu memilah, mana tatanan yang selaras dan mana tatanan yang sebaliknya…Dalam kesederhanaan ujud nafas inilah bisa terbaca dan terasa ujud tatanan kehidupan manusia dalam kebudayaannya….Dari sini pulalah awal manusia menjadi terpecah….manusia menjadi terbelah dalam hembusan nafas budaya….dalam ujudnya yang bermacam-macam…Seakan-akan manusia lupa bahwa dalam keberbedaan cara pandang dan aspek budaya, ujung dari setiap tatanan tersebut adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan yang sama-sama diarsir dalam diagram venn-nya….

Merujuk gambaran singkat di atas, semakin jelas rangkaian kata karuhun atau leluhur, ayah, ibu, regenerasi, keturunan, dan budaya menjadi satu kebulatan TINDAKAN NYATA perbuatan manusia yang bernafaskan pilihan keyakinan diri menata hidup dalam kehidupannya….Kata keyakinan dimunculkan secara “tidak langsung” karena setiap manusia saat ini adalah penerus dari sekian banyak pilihan tatanan kebudayaan yang pernah hadir sebelumnya….dan dengan itu semua, manusia mulai menjalani dan mencapai kesujatian keyakinannya dari jalan kehidupan yang dilaluinya….

Dan muara dari itu semua adalah KESELAMATAN HIDUP….pemaknaan keselamatan hidup di sini adalah bentuk atau ujud kehidupan yang pernah memberikan kenyataan bahwa hidup dalam meyakini dan melakoni adalah memang membawa selamat setelah setiap diri melalui proses kehidupan itu sendiri saat ini dan ke depan….Maka, manusia pun akan selalu berupaya melalui bentuk pintu apa pun menemukan dan membuktikan bagi dirinya.

Hidup sejatinya dalam kesendirian, di dalamnya ada kebersamaan…bersama dalam tatanan merujuk suri tauladan para pendahulu yang sungguh-sungguh ujudkan amanah yang berkepribadian budaya di mana manusia itu dilahirkan, tumbuh dan berkembang, dewasa, tua, dan akhirnya kembali….

Selamat datang para leluhur / karuhun bangsa…selamat datang di tanah nyawanya dunia…beri kami anak-anak keturunan yang mampu menjaga dan memelihara keselamatan dalam hidup dan berkehidupan bagi tanah pusaka ini, merujuk tatanan yang para karuhun / leluhur pernah ujudkan dalam budaya indah bangsa ini – musyawarah dalam kewelasasihan -saling asah, saling asih, dan saling asuh….

Keberkahan Bangun Pagi

By  | NOV 19, 2011

 mentari pagi cerah bangnasBagi orang islam, kata “bangun pagi” seharusnya bukan hal baru dan aneh lagi, sebab Islam mengajarkan para pengikutnya untuk selalu bangun pagi. Pagi di sini berarti dimulai dengan sholat Shubuh, karena salah satu kewajiban ummat Islam adalah mengerjakan sholat lima waktu, diantaranya sholat Shubuh, dan sholat yang dikerjakan pagi hari sebelum matahari terbit adalah Shubuh. Kenapa dan ada apa dengan waktu Shubuh (pagi) tersebut ?

Di antara waktu-waktu istimewa dan doa yang dikabul (diterima) bagi seorang Muslim adalah waktu Shu­buh, karena di dalamnya terkandung banyak keberkahan. Begitu mulianya waktu Shubuh sehingga Rasulullah SAW  berdoa. “Ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun Shubuh.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam pepatah masyarakat  Jawa Barat khususnya Bekasi, masih ada yang mengatakan “Bangunlah pagi-pagi sebelum ayam berkokok agar rejeki kita tidak di patok ayam, karena ayam bangunya sebelum matahari terbit. Mungkin banyak orangyang menganggap itu hanya guyonan orang zaman dahulu saja, padahal makna yang terkandung di dalamnya teramat berharga.

Lalu apa maksud peptah tersebut ? Adakah hubungannya antara rejeki dengan ayam?.

Secara logika mungkin mungkin sederhana, “Apakah tidak malu manusia yang derajatnya lebih mulya dan memilki akal,  harus ketinggalan dan kalah cepat dengan ayam ? Ayam saja bangun tidur sudah berusaha untuk menghidupi diri dan anak2nya, kenapa manusia masih bermalas-malasan?

Secara Ilmiyah bermakna bahwa jika kita bangun di pagi hari dan melakukan sebuah kegiatan atau aktivitas, maka kita akan mendapatkan lebih banyak dari pada kita berkerja mulai dari siang hari. Pagi hari udara masih segar, matahari belum panas membuat kerjaan kita menjadi lebih semangat.

Ahmadie Thaha pernah menuliskan dalam karyanya (1983: 141) faedah bangun pagi di antaranya :

  • Pada waktu Shubuh, gas ozon (O3­­) memenuhi sebgian besar udara kita. Jumlah gas itu semakin berkurang dengan munculnya matahari. Kita merasakan nikmat apabila menghirup udara pagi, disebabkan udara yang mengandung ozon dalam jumlah yang banyak. Dan gas ozon sangat berguna bagi organ syaraf, menumbuhkan semangat kerja, pikiran maupun anggota tubuh yang lain. Tak ada waktu yang lain, kita dapat menikmati udara yang nyaman selain waktu pagi.
  • sinar matahari pagi, mengandung warna merah dan warna ungu memberikan pengaruh tersendiri bagi semangat kerja urat syaraf, sedangkan sinar ultra violet amat bermanfaat bagi kulit di dalam proses penciptaan vitamin D.
  • bangun pagi, dapat mengurangi waktu tidur. Orang yang tidur berlama-lama dalam satu waktu, akan ditimpa penyakit hati, khususnya penyakit atherosclerosis, sesak napas.
  • di waktu pagi hari, jumlah kortozon yang terdapat dalam darah mencapai puncaknya, sekitar 7-22 mikrogram/100 ml plasma. Sedangkan pada sore hari hanya kurang dari 7 mikrogram/100 plasma. Kortozon merupakan zat yang mempergiat proses metabolisme.

Orang yang bangun pagi, dapat berangkat ke tempat kerjanya lebih awal, tidak terlambat, dan tidak terjebak macet. Hati  lebih tenang karena tidak dimarahi atasan, tenaga lebih vit dan fikiran lebih fresh. Dengan Bismillah dan doa tentunya, insya Allah.. Wallahu a’lam bis-showab.

bangnas.

www.syukurnikmat.com

Detik – Detik Pertama Ku Menuju Kawasan ASEAN Community – Bali

Pertama kalinya aku menapakan kaki di atas pulau Dewata ini, aku hanya mempunyai perasaan bangga karena masih dapat di berikan kesempatan untuk melihat keadaan pulau Bali dalam rangka mensukseskan ASEAN Blogger Conference pada tanggal 16-17 November 2011 yang lalu. Keberangkatan ku yang dimulai dari Bandara Soekarno – Hatta itu sangat menyenangkan karena harus menikmati keterlambatan dari salah satu maskapai penerbangan yaitunya Lion Air selama 1 jam, saat itu saya tidak pergi sendirian selalu saja ada yg menjadi hiburan di saat menantikan keterlambatan tersebut, saya bersama mas Bahtiar selaku ketua panitia, kak Sheed dan mas Aan dari BUBU yang kemudian menjadi teman baru ku. Keberangkatan ini merupakan kloter pertama dari pihak Committee ASEAN Blogger Community (ABC) pada tanggal 14 November 2011.

Didalam pesawat saya selalu tersenyum melihat tingkah dari kak Sheed dan mas Bahtiar yang selalu meredakan suasana yang hampa. Disamping itu kami melakukan lomba foto dalam menangkap gambar yang kami peroleh dari Allah Sang Pencipta alam semesta.

Tiba saatnya pesawat yang kami tumpangi di sebuah Bandar udara yang kami nanti-nantikan, yaitu Ngurah rai. Dengan perasaan senang aku melangkahkan kaki pertamaku di pulau Dewata, dalam hati aku mengatakan “wow gue nggak percaya bisa datang kesini secara gratis!!!”. Sumpeh deh saking senangnya gw mencari tulisan Ngurah Rai yang tercantum dalam bandara tersebut! Tapi kenapa kagak ketemu? (Efek dari foto mas Yulyanto di BBG haahaha..) Gue gak peduli mau di bilang norak atau katrok pada saat itu! Karena ini kesempatan emas sebelum segudang pekerjaan (Ups Lebay) datang yang sudah membayangi dalam benakku ini, demi membawa nama Indonesia dan suksesnya sebuah event bergengsi ini yaitu “ASEAN Blogger Community”. Bagaimanapun sebisa mungkin kami sebagai panitia ingin membuat para peserta nyaman :)

Tak lama berselang saya menaiki sebuah kendaran beroda empat yaitunya Taxi, yang sudah disediakan oleh mas Aan selaku pihak EO, namun dalam perjalanan menuju Hotel perjalanan kami mulai tersendat akibat macet yang katanya orang Bali sangat parah! Padahal macet seperti ini bukan apa-apa bagi ku, hanya saja supir taksi tersebut selalu mengeluh… Aku ceritakan kepada supir taxi tersebut bahwa macet seperti ini masih sangat menyenangkan dibandingkan macet yg pernah saya alami di Bekasi dan Jakarta…

Tak lama berselang, tibalah kami di depan sebuah hotel yang bernama “Pop Harris” jarak Hotel dengan Bandara hanya menempuh waktu sekitar 45-60 menit dengan harga 100 ribu yang menurutku itu tidak begitu mahal :) but di hotel tersebut saya memiliki seorang teman baru yang bernama mas Robby dari Sub EO pihak BUBU. Dan pada saat itu pulalah kami mulai memasuki kamar masing-masing, saya dengan kak Sheed memilih kamar paling pojok. Alhamdulillah kamar yg saya tempati memiliki kelebihan sedikit dalam segi luas kamar.

Setelah selesai dalam urusan ngamar mengamar kami melanjutkan perjalanan untuk mencari makanan dan tepat sekali tidak begitu jauh di depan hotel kami tampak sebuah rumah makan bernama soto betawi, kepleset sedikit juga udah nyampe. Dan  disitulah kami melakukan aktivitas makan pada malam hari. Usai makan kami kembali menuju hotel dan melakukan meeting di halaman depan hotel. Topik kali ini adalah untuk membahas masalah hari esok! Dimana kita akan kedatangan beberapa peserta termasuk para pembicara. Saya, mas Bahtiar, kak Sheed Bientang, mas Aan,  mas Robi dari pihak sub EO dan mas Aji dari pihak Kementrian Luar Negri sudah menemukan langkah teknis untuk strategi pada hari esok… Bahwasannya kita mungkin dpt meminta bantuan kepada beberapa blogger Bali untuk esok harinya. Tugas saya adalah menjemput godiebag di hotel mas Aji tersebut

Sekitar pukul 00.00 tibalah kloter ke 2 yang berisikan para panitia ABC yaitu mbak Indah Juli, Eny, Wiwik dan Chici… Tepat pukul 1.30  dilanjutkan dengan istirahat di kamar masing-masing :) semua sudah tampak teler, hanya aku yang masih terlihat segar bugar… Ini semua karena sebelumnya aku meminum minuman vitamin penambah tenaga seperti yang disarankan oleh sang ketua Committee mas Bahtiar. Ceritanya masih berlanjut yaa… pantengin terus nih di BloggerBekasi.com yaa!

Selamat Hari Guru! Jadilah Guru Tangguh Berhati Cahaya

Semoga di saat anda membaca artikel saya ini, anda dalam keadaan bahagia. Sebab hari ini adalah hari guru. Hari dimana para guru dan peserta didiknya merayakan hari guru. Sebuah hari yang digunakan untuk mengenang para pahlawan insan cendekia yang telah tiada. Mereka berkorban tanpa mengharapkan imbalan, dan terus berjuang dalam menjalankan amanah undang-undang dasar yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Hari guru ditetapkan oleh pemerintah setiap tanggal 25 Nopember, sebuah tanggal di mana organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dilahirkan. Kita berharap organisasi guru seperti PGRI lebih baik lagi dalam melayani para anggotanya. Hal yang terpenting jangan jadikan PGRI sebagai kendaraan politik, dan mereka yang menjadi dosen sebaiknya membentuk organisasi sendiri. Sebab guru dan dosen memiliki tempat mengajar yang berbeda. Guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi.

Begitu banyak organisasi guru. kalau dihitung jumlahnya bisa lebih dari 20 organisasi. Sebagai guru sekolah swasta, saya lebih memilih organisasi Ikatan Guru Indonesia (IGI)  sebagai ladang amal saya dalam berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman. Hal ini dikarenakan program kerja IGI sangat jelas yaitu melakukan gerakan guru melek internet dan menjadikan guru mampu menulis.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, begitulah pesan sayidina Ali bin Abi Thalib. Dengan menulis, ada pesan yang disampaikan, dan dengan menulis ada tabungan kata-kata hikmah yang dapat disimpan menuju keabadian. Apalagi dengan cepatnya perkembangan teknologi saat ini, khususnya internet harus membuat guru mampu merubah cara belajarnya. Dari cara belajar yang hanya di dalam kelas, menjadi cara belajar di luar kelas. Para guru diharapkan mampu memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran. Dengan begitu mutu atau kualitas pembelajaran menjadi lebih baik dan tersebar dengan cepat informasinya kepada rekan-rekan guru lainnya.

Guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Mulai dari merencanakan, melaksanakan, dan menilai hasil proses pembelajaran. Pasal 4 UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menegaskan bahwa, guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, guru wajib untuk memiliki syarat tertentu, salah satu di antaranya adalah kompetensi.

Kompetensi diartikan oleh Cowell (1988) sebagai suatu kemahiran yang bersifat aktif. Kompetensi merupakan satu kesatuan utuh yang menggambarkan potensi, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dinilai, yang terkait dengan profesi guru.

Selain kompetensi, harus ada komitmen dan dedikasi yang tinggi dalam menjaga sekolah agar tetap unggul. Komitmen dan dedikasi itu terlihat dari perilaku guru yang senantiasa meningkatkan kemampuannya untuk terus belajar sepanjang hayat. Konsisten dan tak pernah berhenti untuk belajar dalam rangka mengembangkan potensinya menjadi guru profesional.

Guru sekarang harus saling bekerjasama, dan jangan hanya asyik dengan pelajaran yang diampunya. Setiap ilmu akan saling terhubung dan saling melengkapi sehingga tak ada lagi pelajaran primadona seperti mata pelajaran Ujian Nasional (UN) yang terkadang melupakan unsur seni dan kreativitas.

Peserta didik terlihat seperti robot yang hanya mampu mengerjakan soal-soal ujian tanpa tahu maknanya. Mereka tak mengerti dan memahami untuk apa mereka belajar. Mereka hanya berharap nilai  yang tinggi, tanpa budi pekerti yang luhur dan pada akhirnya membuat peserta didik kehilangan karakter unggul menjadi pemimpin masa depan.

Di hari guru, mari semua guru bersatu untuk maju. Tak perlu saling tuding dan menyalahkan. Mari kita benahi lubang-lubang menganga dalam dunia pendidikan kita. Kegotong royongan harus senantiasa dijaga, dan pengamalan pancasila harus benar-benar nyata terimplementasikan dalam diri seorang guru. Penerapan pendidikan karakter haruslah mengikuti ajaran agama.

Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Hilangkan keluh kesah, dan mulailah introspeksi diri. Bila penghasilan guru belum memadai, teruslah belajar secara mandiri, dan teruslah memperbaiki diri dengan berbagai pelatihan-pelatihan yang membuat guru akhirnya memiliki keterampilan penting di abad 21. Salah satu keterampilan itu adalah para guru mampu menciptakan informasi di internet.

Mind set para guru sudah harus berubah. Dari pencari informasi menjadi produsen informasi. Oleh karena itu, gerakan guru menulis sangat tepat agar para guru mampu mengikat ilmunya dan membagikannya kepada khalayak ramai.

Peserta didik kita sangat haus akan informasi, namun sayangnya belum banyak konten-konten edukasi yang dibuat oleh para guru. Kinilah saatnya kita belajar dan memanfaatkan ICT atau TIK dalam pembelajaran.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada guru yang sempurna. Kita menyadari kekurangan kita masing-masing sebagai guru. Salah satu kekurangan itu adalah guru pelit beli buku dan sangat jarang mengupdate diri dengan banyak membaca. Banyak rekan-rekan guru yang kurang membaca dan membeli buku-buku terbaru untuk meningkatkan wawasan berpikirnya. Membeli buku seolah-olah menjadi urusan sekolah, dan kita sebagai guru kurang menyadari akanpentingnya buku sebagai cahaya ilmu.

Bapak dan ibu guru yang saya sayangi dan banggakan. Di hari guru yang berbahagia ini, mari kita tingkatkan kualitas diri. Terus belajar sepanjang hayat, dan memperbaiki cara-cara lama dalam pembelajaran dari guru konvensional menuju guru profesional.

Guru profesional adalah guru yang mampu memahami tugas dan fungsinya sebagai guru. Guru harus mampu mendidik, merencanakan pembelajaran, menilai dengan cermat, dan mengenal potensi unik peserta didik.

Selamat hari guru! Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Guru yang mampu menyinari dunia dengan cahaya hatinya. Guru yang senantiasa memperbaiki diri dan melayani peserta didiknya dengan keikhlasan hati. Kasih sayang dan rasa mencintai harus ada dalam dunia pendidikan kita. Peserta didik harus merasakan bahwa sekolah itu menyenangkan dan dapat menjadi rumah kedua bagi mereka. Sekolahku adalah rumah keduaku.

Rapat Pengurus IGI Bekasi. Sumber: Koleksi Pribadi

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Wawancara Bersama Luigi Pralangga: “Blogger Adalah Elemen Strategis Yang Harus Diperhitungkan Dalam Dialog Pembangunan!”

Sosok blogger satu ini mungkin tak asing bagi kita semua. Luigi Pralangga yang kini bertugas sebagai Procurement Officer, United Nations Assistance Mission for Iraq (UNAMI), Iraq sejak Agustus 2010, merupakan salah satu blogger yang cukup populer di Indonesia dengan sajian tulisannya yang renyah, lucu dan bersahaja tentang pengalaman-pengalaman penugasannya di luar negeri sebagai salah satu bagian dari jajaran“Indonesian Peacekeepers” di United Nations melalui blognya. Kemampuan handalnya mengolah kata-kata membuat blog alumni Teknik Sipil ISTN ini menuai banyak kunjungan dan komentar dari banyak pembaca. Tak heran bila bulan Februari 2010 silam, Luigi pernah diundang dalam acara talkshow populer di Metro TV “Kick Andy” pada episode “Kasih untuk Dunia”.

Saat ini bertugas di Kuwait dan sudah memboyong istri tercinta bersama ketiga buah hatinya kesana, Pria kelahiran Jakarta 29 April 1974 baru saja meluncurkan buku perdananya berjudul “Ondel-Ondel Nekat Keliling Dunia” yang diangkat dari blognya. Disela-sela kesibukannya Kang Luigi, berkesempatan menjawab sejumlah pertanyaan saya via email. Berikut petikannya:

Bisa Kang Luigi menceritakan bagaimana pertama kali ngeblog dan siapa gerangan yg jadi “inspirator”-nya?.

Trend blogging ditanah air memang sudah dimulai pada awal 2003-an, namun cukup lama saya mulai mengadopsinya lantaran kurangnya wawasan teknis perihal web-authoring yang saya fahami waktu itu, dan melalui ‘Friendster’ dan jejaring kerabat yang saya fahami mulai menuliskan ‘daily life stories’ dan menggunakan beberapa platform blogging yang marak ditawarkan oleh Blogger, WordPress, LiveJournal dan lain sebagainya. Diantara sederet platform itu dan setelah melalui beberapa konsultasi dengan Adhitya Mulya dan Ninit Yunita, pasangan penulis yang juga saat itu mulai bertugas di Cote D’Ivoire (Republik Pantai Gading), dan saya waktu itu dalam persiapan bertugas ke Liberia (Negara tetangga Cote D’Ivoire), maka bulatlah tekad saya untuk menjadikan blog dan ngeblog sebagai salah satu medium komunikasi di dunia maya ini.

Dalam banyak kesempatan, keduanya sangat responsive dalam memberikan ‘pemberdayaan’ kepada komunitas penulis amatir yang dengan antusias mendukung dari sisi advokasi dan dukungan moral dalam sosialisasinya pad beberapa milis. Adhitya Mulya, dengan gaya penulisan santainya dan terkenal sekali dengan ciri penyampaian straight forward (ceplas-ceplos) memberikan sebuah sinyalemen kepastian bahwa karakter apa adanya bisa bebas dicurahkan dalam ruang blog, dan karakter seperti itu memang pas dengan gaya penulisan blog saya, sebuah contoh nyata dan tulisan pada blog-nya mendapat response pembaca yang beragam dan mendalam. Itulah yang membuat saya juga yakin bahwa prinsip ‘be yourself’ in blogging helps you create your own-unique online identity as well as readership-base..

Apa pengalaman menarik dan mengesankan yang Kang Luigi dapatkan selama ngeblog ?.

Menulis Blog, atau Blogging dan kini dikenal dengan istilah beken” “Ngeblog” bisa diibaratkan seperti perpaduan seorang pemimpin redaksi sebuah media majalah, juragan sebuah warung sayur, montir kendaraan, duta besar, perawat atau dokter dan juru kampanye” – nah kesemua fungsi tadi bercampur menjadi satu pada layaknya pencitraan seorang blogger. Semua tinggal dikembalikan kepada ‘visi dan misi’ si blogger yang bersangkutan. Nah, berawal dari situ, tulisan pada blog yang awalnya diniati sebagai ‘experience sharing’ kemudian berkembang meluas menjadi ‘knowledge sharing’.

Situasi diatas tadi memberikan banyak kesempatan dan pengalaman interaksi lintas sektoral yang luas dan mendalam. Interaksi disini adalah komunikasi baik melalui medium on-line communications baik via email, dan blog comments, blog-commenting pada sederet kategori group bloggers, dan komunitas online seperti mailing list (Yahoogroups, Googlegroups) dan terus sampai masuk pada jejaring media sosial.

Interaksi lintas sektoral itu mulai menjadi intensif seiring dengan mendalamnya tulisan (Blog posting) yang mengedepankan ‘readers benefit’ yaitu manfaat bagi pembaca, perihal apa yang penting untuk diketahui oleh bloggers dan pembaca blog, maka itulah yang saya kemudian mulai sajikan dengan dikemas secara santai dengan berbagai pengalaman unik dan menarik, serta konyol sebagai bagian dari strategi komunikasi berbasis human-interest dan personal.

Nah, mulai dari situlah berbagai pengalaman unik mulai bermunculan, dimana acapkali saya diminta menjadi ‘career coach’ bagi mereka (pembaca blog) yang mulai serius menjadikan pilihan karirnya berkecimpung pada bidang humanitarian professionals, adalagi beberapa kalangan mahasiswa dengan studi political science dan studi perdamaian yang memintakan pendapat, ulasan dan mentoring dalam upayanya menyusun bahan skripsi dengan dukungan data dari sederet referensi yang bisa diakses melaui online library pada situs web publikasi PBB serta dukungan informasi serupa dimana sebagai staff PBB, yang pernah bertugas di New York cukup faham akan dimana mencari dokumen ini dan itu atau kepada kantor bagian apa di markas besar dan siapa di mission mana atau website misi PBB apa yang bisa menjadikan referensi paten guna mendukung perampungan si skripsi mahasiswa tadi. Satu hal yang saya pikir cukup unik adalah ramai-nya pertanyaan dari pembaca blog yang notabene suami, kakak, atau adiknya dan kerabat familinya akan ditugaskan oleh perusahaan tempatnya bekerja pada daerah konflik dan pada benua afrika yang berkisar tentang perihal keamanan setempat, perilaku sosial, informasi ‘lokalisasi’, hubungan asmara jarak jauh’, Pengalaman ditipu oleh online scam khas Nigeria, bahaya HIV/AIDS dan bagaimana praktek sihir setempat dan sebagainya sampai kepada informasi perihal minta dicarikan ‘obat kuat’ khas negara afrika setempat. Aneh-aneh, bukan?.

Perihal yang mengesankan adalah sebuah kemampuan untuk memberikan pemberdayaan melalui information sharing kepada komunitas dalam skala lebih besar, yaitu pada kesempatan yang diberikan oleh beberapa media cetak dan elektronik tentang aspek ‘kesempatan & tantangan karir pada penugasan pasca-konflik & peranan anak bangsa pada operasi pemulihan perdamaian PBB” serta beberapa kesempatan kopi-darat, bertatap muka dengan pembaca setia blog, komunitas pemerhati peacekeeping dan berbagi secara langsung sekaligus menjalin silaturahim secara aktif. Kesemuanya itu memberikan pengalaman yang luar biasa akan upaya membangun komunitas dan kekerabatan yang kuat dan menjadikan knowledge sharing & empowerment cukup efektif.. dan memberikan kesempatan pada generasi muda akan pemahaman yang lebih baik akan bagaimana mereka bisa ‘well-informed’ dan merencanakan masa depan-nya dalam memilih bidang pilihan karir, terutama pada pilihan karir pada forum multi-lateral seperti PBB dan peacekeeping operations PBB.

Kang Luigi membuat blog pribadi pralangga.blogspot.com dan juga menggagas hadirnya pralangga.org yg mengundang beberapa kontributor artikel, apa perbedaan yang mendasar antara kedua blog ini dan apa yang ingin Kang Luigi capai dengan membuatnya dalam dua blog ?.

Keduanya hanya dibedakan pada segmentasi topik tulisan saja. Blog pribadi, memang diniati sedari tahap awal hanya untuk memberikan khabar kepada sanak famili dan kerabat bahwa anak, keponakan, sepupunya yang satu ini sehat walafiat selama bertugas di daerah konflik sembari bercerita sedikit tentang keseharian selama bertugas. Seiring dengan meluasnya response dari pembaca blog dan mereka pada jejaring relasi, dan pertimbangan bahwa “PBB dan Misi operasi peacekeeping PBB” tidaklah hanya melibatkan personil berseragam/bersenjata saja, melainkan seluruh elemen profesi dan kompetensi, maka bersama dengan rekan perwira penerangan Kontingen Garuda pada misi UNIFIL di Lebanon itulah kemudian digagas situs web bersama ‘Indonesian Peacekeepers” pada alamat http://pralangga.org dan tidaklama setelah itu juga dibuatkan Group Komunitas Indonesian Peacekeepers pada Facebook: https://www.facebook.com/groups/5057875788/ sebagai wadah forum komunikasi informal dan ajang kekerabatan dimana peacekeepers, baik itu mereka dari kalangan TNI, Polri, dan staff sipil PBB serta International NGO dan sanak-famili mereka, serta pemerhati peacekeepers bisa terakomdasi kebutuhan informasi dan lintas komunikasi aktifnya yang selama ini belum tersambungkan secara integral. Saat ini komunitas pada facebook group tersebut sudah mencapai 6,948 Members dan terus bertambah.

Dalam upaya memperluas ragam informasi tulisan, kita selalu mengundang setiap perwira penerangan dari tiap Kontingen Garuda baik dari TNI, dan Polri untuk ikut aktif berbagi informasi melalui siaran pers-nya, serta tulisan/artikel lepas yang mengangkat issue human interest dari sudut pandang pribadi sebagai prajurit garuda Indonesia pada penugasan misi perdamaian dibawah naungan PBB.

Pada awalnya, situs Indonesian Peacekeepers (IP) didukung oleh wed designer kondang, Viking Karwur dan Thomas Arie Setiawan serta Kusaeni, dengan koresponden awal yaitu perwira penerangan dari Satuan Tugas Kontingen Garuda XXIII-A, Letkol. Muhammad Irawadi. Sejak itu, seiring dengan meluasnya readership dan sosialisasi keberadaan situs IP, rekomendasi dan undangan menjadi koresponden situs meluas terutama dari rekans Kontingen Garuda serta staff PBB asal Indonesia yang mulai banyak bergabung dengan misi operasi PBB.

Selain itu kita juga mengundang rekans yang bertugas pada LSM Internasional, serta humanitarian profesional lainnya yang kesemuanya melengkapi ragam dan warna tulisan yang menyuguhkan gambaran selengkap mungkin akan wacana “Inilah tantangan dan kesempatan bertugas untuk perdamaian dan kemanusiaan” dan mengedepankan kefahaman bahwa ‘perdamaian dan nurani kemanusiaan’ dalam diri masing-masing individu harus terus dijaga dan ditumbuh-kembangkan kepada sesama dan kedalam generasi penerus, serta upaya mengedepankan pengertian bahwa menjadi PBB, Operasi Pemulihan Perdamaian PBB, dan menjadi sosok peacekeepers dan humanitarian professional adalah bukan monopoli orang barat dan/atau rekans yang berseragam/bersenjata saja.

Bisa diceritakan awalnya Kang Luigi akhirnya bisa meniti karir dan penugasan luar negeri di UN seperti saat ini?.

Semuanya berawal dari impian. Tidak pernah ada rencana yang sudah dipatok oleh saya waktu itu akan berkarir di PBB, dan hidup bekerja di Amerika Serikat yang akhirnya mendaratkan saya pada kesempatan karir di markas besar PBB di New York. Kota New York sebenernya bukanlah impian terbesar, masih ada yang lebih besar lagi: Kanada. Ya, sejak lepas SMA dan usai menjalani program pertukaran pelajar di Jepang, say abanyak mempelajari dari interaksi dengan para perwakilan pelajar Kanada itu dan sejak itulah saya menjadi ingin sekali pergi ke sana. Entah kenapa. Namun, berhubung belum kesampaian, New York, Amerika, nggak masalah, deh. Itung-itung “mendekatkan diri” secara geografis menuju Kanada. Sebuah program musim panas mendaratkan saya ke New York pada tahun 2000, dan usai program itu, saya diminta mendukung kegiatan pada kantor Penasehat Militer pada Perutusan Tetap RI (PTRI – New York) menjelang pelaksanaan sidang akbar majelis PBB (UN General Assembly) yang menghadirkan para kepala negara anggota PBB itu, hingga akhirnya berujung pada tawaran kerja secara tetap yang dengan sigap saya terima. Setahun berlalu, dan semenjak itulah saya banyak berkecimpung dalam urusan dukungan administrati kantor yang mengurus perihal pengiriman baik wakil pengamat militer (Military Observer) dan kontingen Garuda Indonesia pada misi peacekeeping PBB. Hal inilah yang kemudian menjadikan minat untuk mengetahui lebih baik, perihal substantif peacekeeping PBB (pemeliharaan perdamaian) dan peranan Indonesia disana, termasuk relasi dan jejaring yang kemudian terbangun dengan rekans yang bekerja di Markas Besar. Pada pertengahan tahun 2001, secara resmi saya bergabung pada kantor divisi pengadaan/pembelanjaan & kontrak PBB, dikenal sebagai United Nations Procurement Division (UNPD) yang sibuknya bukan main dalam urusan dukungan pembelanjaan dan logistik kebutuhan barang dan jasa tidak hanya untuk lingkup operasional PBB di Markas Besar New York, namun juga misi pemulihan perdamaian di berbagai daerah konflik.

Tidak sedikit kolega sekantor yang datang dan pergi dari penugasan misi yang bertugas sebagai pejabat pengadaan, itulah yang kemudian membuahkan kesempatan untuk terjun ke lapangan langsung, mengingat sejak akhir tahun 2002, saya mulai menangani pembelanjaan dan urusan logistik misi pemeriksaan senjata PBB ke Iraq. Mendarat di Baghdad, Irak kisaran February 2003 membuat mata ini terbuka luas akan apa yang selama ini saya kerjakan dibelakang meja komputer dengan setumpuk berkas tender dan koordinasi telepon dengan supplier dan kolega dilapangan, sejak itu gambaran dua dunia (headquarters & field missions) menyatu dalam benak ini akan bagaimana pesat dinamika dan sisi ekspose multi-dimensional serta peranan signifikan elemen pembelanjaan dan Supply Chain Management (SCM) bagi operasional misi PBB. Penugasan pertama ke Irak dibawah UNMOVIC merupakan wahana luncur saya untuk kemudian meniti dan melaksanakan manuver karir dibidang peacekeeping ini, hingga berbalas dengan permintaan tugas ke Liberia dibawah UNMIL selama 6,5 tahun dan kini di Kuwait dibawah naungan misi politik PBB untuk Irak (UNAMI).

Setelah sharing pengalaman di blog tentang pengalaman selama menjalankan tugas sebagai Procurement Staf UN di berbagai negara, apa saja manfaat yang Kang Luigi sudah peroleh dan kendala apa yang pernah dialami?.

Manfaat yang pertama adalah pemberdayaan kapabilitas, sebuah proses pembelajaran dan pembangunan kompetensi profesional dibidang Supply chain management pada sebuah organisasi besar/internasional dengan wilayah operasional global dimana lingkungan kolega yang sangat beragam dari kewarganegaraan, kultur dan latarbelakang. Tentunya sebuah adaptasi dan penggemblengan tersendiri dalam upaya mencapai hingga saat ini. Dari sisi SCM, tentunya banyak memahami pentingnya dukungan integral guna memastikan kelancara operasional, ditambah lagi kemampuan memimpin serta kerja team yang terpadu dimana membawahi kolega yang sangat beragam dari sisi latarbelakang kultur, kebangsaan, tabiat/karakter dan nilai kearifan/kepekaan atas norma lokal yang serta-merta harus masuk dalam elemen kepemimpinan tadi. Dengan ekspose terhadap berbagai situasi sulit dan darurat, kapabilitas dan keandalan kompetensi psikis individu juga teruji, dimana bekerja didaerah konflik, pasca-konflik, pasca-bencana dan lain sebagainya adalah sama sekali bukan “Business as usual”. Dalam setiap humanitarian professional, apakah itu civilian atau uniformed staffs, sederet prasyarat harus mampu dipenuhi agar sukses dalam mengemban mandat bertugas pada sebuah peacekeeping mission, selain kompetisi teknis, profesionalisme, integritas, sensitivitas terhadap kearifan/budaya setempat dan peka terhadap perihal kesetaraan gender, seorang humanitarian professional juga penting untuk memerankan peranannya sebagai duta besar perdamaian dalam setiap tindak-tanduk, tutur-kata khususnya selama berada di daerah penugasan mission agar apapun yang kita jalani dalam keseharian bertugas tidak bertolak belakang dan membahayakan kolega sesama, serta secara keseluruhan menciptakan dampak negatif terhadap mandat misi PBB atau organisasi/institusi yang menaunginya.

Bicara soal kendala, sudah pasti banyak dan menjulang. Mengapa begitu?. Pertama karena lokasi geografis penugasan adalah daerah yang baru saja usai atau masih dilanda konflik, sehingga stabilitas keamanan dan situasi politik negara setempat (host country) sangat rentan. faktor keamanan dan pengamanan menjadi pertimbangan besar yang mempengaruhi pendekatan operasional. Kondisi higenitas dan kesehatan umum serta fasilitasnya yang hancur porak-poranda akibat konflik atau peperangan, menjadikan daerah penugasan dilanda epidemi dari berbagai wabah penyakit, sehingga hanya mereka dengan kesehatan yang prima (sehat jasmani & rohani) saja yang diperbolehkan bertugas di daerah seperti ini. Isolasi dari kehidupan normal dan separasi dengan keluarga atau hubungan sosial, hambatan terhadap kemudahan akses komunikasi dan kesempatan rekreasi adalah sebagian kecil dari sederet tantangan tugas.

Baru-baru ini diselenggarakan 2 event pertemuan besar Blogger di Indonesia yaitu Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo & ASEAN Blogger Summit di Bali. Menurut Kang Luigi–dalam kapasitas sebagai seorang blogger — peran apa yang bisa dimainkan Blogger Indonesia dalam konteks Nasional maupun Regional?.

Blogger adalah layaknya seorang jurnalis tidak resmi dimana apa yang disuarakannya cukup efektif dalam menggalang opini, terutama pada daya jelajah dan ranah ‘social capital’nya masing-masing pada komunitas dimana ia berasosiasi, serta seberapa aktif kekerabatan yang telah berhasil ia bangun dalam kapabilitasnya menyebarkan informasi yang dilemparkannya ke forum-forum tersebut. Ibarat lentera yang punya ukuran daya terang, yang skalanya bisa berupa lilin, portable torch (lampu senter), sampai kepada kaliber ‘mercusuar’ seiring dengan posisinya serta statusnya dalam konteks strata + pergaulan sosial.

Mungkin dalam kesempatan ini, ijinkanlah saya mengulas sedikit tentang fungsi “Pemberdayaan Masyarakat” atau Society Empowerment dimana inilah yang akan menjadi daya tarik komunitas untuk turut berpartispasi, baik sebagai blogger dan sebagai pemerhati/pembaca atas topik/bahasan yang ditulisnya. Sudah seyogyanya kedepan ini, terutama pada era digital dimana arus informasi tidak mengenalbatas geografis dan sudah terbukti ampuh untuk menjadi ‘senjata’ perlawanan terhadap banyak issue substantif antara pihak penyelenggara negara dengan rakyatnya. Kita faham benar akan bagaimana ‘The Arab Spring’ diawali dari Tunisia, Mesir, Jordan, Bahrain, Syria, Libya, dan kini kembali ke Syria lagi – itulah daya/kapabilitas kekuatan penggalangan yang dimotori oleh blogger (via media jejaring sosial).

Nah, fahamilah keampuhan ‘senjata’ tadi – dalam hal ini kita ganti saja istilahnya menjadi ‘kapabilitas’ dan kita bisa merancang cetak-biru ‘kapabilitas’ ini agar bisa menjadi alat pemberdayaan komunitas. Sepanjang perjalanan blogging saya mulai tahun 2004, selang waktu 3-4 tahun setelah itu mulai bermunculan blogger-blogger yang baik tulisannya dan social capitalnya mulai meningkat baik mutu dan spektrumnya (Online followers beragam dari pelajar, mahasiswa sampai ke tingkat profesional) dan serta-merta diasah melalui interaksi personal, serta kegiatan bersama, seperti kopdar, gathering.

Dibentuknya komunitas blogger berdasarkan aspek geografis adalah langkah yang positif, sedemikian menjadikan wadah/forum komunikasi pada tingkat yang lebih kompak, dari tingkat kabupaten sampai terus ke propinsi. Mungkin kalau kita kilas balik ke jaman perjuangan kemerdekaan serupa dengan kelopmpok pemuda; Jong Java, Jong Ambonese dan lain sebagainya hanya saja kita saat ini sudah mempunyai kefahaman teknologi kominfo yang jauh lebih maju, tinggal bagaimana mempersatukan-nya secara konsisten dan mengakar terhadap agenda nasional yang ujung-ujungnya akan membeirkan manfaat bagi pembangunan kemakmuran kelas menengah yang mapan, yaitu kelas dimana banyak bloggerIndonesia kini berada.

Tanpa bermaksud (sama skeali) mengajari atau sok pinter, ijinkan saya sedikit mengulas mengakar terhadap apa?. Mengakar dari segi kefahaman akan 5 pilar pembangunan, yaitu:

Achieving Macroeconomic Stability

Creating A Better Business Environment

Establishing Good Governance And Strong Institution

Instituting Social Reforms to Improve Equity

Managing the Environment

Saya tidak akan mengulas saat ini akan ke-lima pilar diatas, namun kalau kita mau memahainya secara sekilas saja, masing-masing pilar pembangunan tadi bisa diaplikasikan, dan diambil peranan pemberdayaannya oleh komunitasblogger melalui program bersama terutama dari sisi ‘professional & capacity building programs’.

Dari banyak kegiatan yang selama ini dilakukan oleh komunitas blogger sudah merefleksikan idealisme dan tepat sasaran dalam upaya pemberdayaan masyarakat, namun demikian perbaikan program dan kolaborasi dengan badan-badan pemerintah serta pembahasan issue substantive pembangunan perlu banyak ditingkatkan. Pemberdayaan dalam hal krusial seperti: Defence, Diplomacy and Development (3D) – masih dirasa kurang, baik dari sisi program, expose, sinergi bersama partner organization, dan kerangka pengembangannya.

Pada saat komunitas kita mulai diperkenalkan dengan issue 3 D tadi, maka paradigma dan mutu produksi para bloggers dan sikap/pandangan/opini masing-masing individu komunitas akan berada pada level awareness dan critical yang lebih baik, sehingga bisa menjalankan fungsi kontrol sosial alternative terhadap issue nasional atau perihal yang menjadi perhatian/concern masyarakat luas bilamana ‘mainstream media’ tidak cukup baik dalam mengangkatnya serta’bloggers kelak dianggap sebagai elemen/kelompok strategis yang HARUS diperhitungkan dan dilibatkan dalam dialog pembangunan’

Forum diskusi, dialog dan workshop apapun itu bentuknya oleh bloggers, dari Boggers dan untuk bloggers akan memberikan pengetahuan /wawasan perihal pendidikan perahanan, ketahanan, kesatuan dan pemeriharaan perdamaian khusus untuk anggota komunitas bloggers sehingga paradigma masing-masing bisa bergeser dari yang awam menjadi faham, dari yang ignorant bisa menjadi aware, dan seterusnya kelak bisa memainkan pada tingkat yang lebih baik peranan diplomasi P-to-P (Person to person Diplomacy). Ketahuilah bahwa masing-masing dari kita, apalagi seorang bloggers adalah “An ambassador of one, as well as an army of one”

Fahamilah bahwa kita semua – terutama Bloggers Indonesia adalah ‘Stake Holder’ yang mereka semua itu (institusi pemerintahan, organisasi internasional dan badan negara lainnya) memerlukan kita sebagai mitra dalam menjalankan program mereka. Kita mempunyai kepentingan yang sama besar jadi disinilah fakta yang perlu difahami bahwa dalam menjalin kerjasama dan koordinasi, tiadalah pihak yang jauh lebih penting melebihi satu sama lain.

Bloggers Indonesia – kita semua punya tanggungjawab bersama (a shared responsibility) untuk mendidik anak bangsa agar tidak menjadi rapuh/rentan dan mempunyai daya juang yang tinggi, faham akan tanggungjwab dan kewajibannya, fasih dalam kompetensinya, kuat dalam persatuan hingga mampu menjawab tantangan global kedepan, piawai memainkan peranan strategis-nya pada lingkup regional, dan internasional sehingga dihormati, disegani, juga dicintai oleh bangsa lainnya.

ASEAN Blogger Summit di Bali menghasilkan sejumlah poin deklarasi . Bagaimana pendapat Kang Luigi menanggapi isi deklarasi ini dan ditingkat global bagaimana strategi serta peran yang bisa dimainkan ASEAN Blogger dalam mewujudkan visinya?.

Satu kata kunci dalam menyiasati dan memastikan kontribusi positif Blogger Indonesia sebagai anggota komunitas Blogger ASEAN, yaitu “pemberdayaan” atau empowerment. Pemberdayaan yang sifatnya universal, terhadap diri, komunitas dan segenap anak bangsa. Pemberdayaan apa sajakah yang kita perlukan? dalam berbagai hal dan multi-dimensional sehingga upaya pemberdayaan ini mampu secara efektif meningkatkan kompetensi Indonesia, tidak hanya untuk kalangan blogger semata namun seluruh anak bangsa agar ia mampu bersaing dan berdiri sejajar dengan sesama warga ASEAN lainnya.

Dengan pemberdayaan tersebut, yang juga berarti pembangunan kompetensi Blogger Indonesia, dan segenap anak bangsa sehingga mengantarkan pada situasi dan kondisi dimana anak-bangsa ini dapat dan mampu produktif dalam karya-karya dibidangnya masing-masing, kreatif dalam inovasi substantifnya, aktif dalam menggelorakan perubahan positif yang berguna, bermanfaat bagi khalayak umum, sukses melaksanakan good governance, baik dalam kepemerintahannya serta organisasi korporatnya.

Kesemuanya diatas akan secara otomatis menjadikan Indonesia sebagai anggota ASEAN yang memberi nilai tambah dan menjadi referensi solusi, teladan (role model) bagi anggota dan warga ASEAN lainnya. Dari situslah posisi tawar Indonesia dan peranannya baik dalamlingkup ASEAN, dan regional ASIA PACIFIC dan Internasional akan benar-benar diperhitungkan, didengar himbauannya, disegani keberadaannya dalam forum apapun.

Bagaimana Kang Luigi melihat peran sosial media ini dalam mendukung aktifitas blogging?.

Saya melihat postensi jejaring sosial (Social Media) sebagai ‘conduit’ atau penyalur atau ruang penyebaran informasi dan wahana kolaborasi yang cukup efektif dengan catatan bahwa para blogger Indonesia faham untuk bagaimana terbaik memanfaatkannya secara benar dan menjadikannya (Jejaring Sosial) ini sebagai perangkat dalam strategi komunikasi individualnya.

Terlepas dari itu, sudah selayaknya aktivitas blogging/ngeblog ini juga didasari oleh karya-karya nyata pada lingkup dunia nyata dimana karya-karya tersebut kemudian layak untuk diangkat dalam sebuah blog dan disebarkan kisahnya kedalam ranah social media. Tanpa dibarengi dengan produksi karya nyata yang membawa manfaat bagi kepentingan umum, blog dan ngeblog bisa dikatakan hanya sibuk dan ramai dengan ‘pepesan kosong’.

Selain dari mutu tulisan, si konten tadi – seorang blogger dalam aktivitas PR (Personal Relations)nya hendaknya faham akan potensi dan resiko yang dimiliki oleh jejaring sosial, dan pertimbangan serta prinsip dasar Public Information Strategy selayaknya menjadi referensi dalam beraktivitas pada medium ini, hingga manfaat dan efektivitas kegitan kolaborasi menjadi positif, efisien dan efektif dan bukan sebaliknya.

Penting sekali agar blogger Indonesia bisa senantiasa memberdayakan anggota komunitasnya secara reguler sehingga produktivitas (termasuk menulis blog/ngeblog) dan pencitraan blogger Indonesia, dan Indonesia secara keseluruhan baik terhadap komunitas Blogger ASEAN dan lingkup yang lebih luas lagi senantiasa positif dan membawa manfaat.

Kang Luigi akan meluncurkan buku perdana yang diangkat dari kisah-kisah di Blog. Bisa diceritakan latar belakang penulisan buku ini?.

Seperti diulas pada jawaban pertanyaan sebelumnya, juga atas dorongan semangat para sahabat yang mengatakan bahwa kisah pengalaman ini sangat layak untuk dikemas dalam sebuah buku guna memberdayakan khalayak yang lebih luas. Dari pertimbangan itulah kemudian rangkuman kisah dari blog posting ini dikemas ulang sehingga menjadi pas untuk sebuah buku. Bagi saya pribadi, meluncurkan sebuah buku bukanlah tujuan utama namun lebih kepada ‘dampak manfaat’ apa saja bila kelak ringkasan kisah ini dikemas dalam format buku. Dengan berbagai masukan yang diterima dan didiskusikan, kemudian saya melangkah lebih lanjut dengan penyusunan materi hingga menjadi sebuah buku.

Disela-sela kesibukan bekerja bagaimana strategi Kang Luigi mengatur waktu ngeblog dan menulis?.

Menulis itu, bagi saya tidak bisa dipaksakan. Karena memang tulisan saya selama ini adalah bukan tulisan berita namun lebih kepada kisah, opini dan wacana meski berdasarkan pengalaman pribadi, saya memerlukan cukup waktu untuk mengkaji ulang dari sisi ketersediaan ide, elemen pendukung dan pertimbangan apakah topik tulisan ini memang pantas. Worth shared?. Seiring dengan bertambahnya umur dan meluasnya interaksi dengan berbagai kalangan lintas sektoral dan banyak pembelajaran yang saya terima, produksi penulisan blog posting menjadi fluktuatif dimana skala prioritas kehidupan dan berkeluarga juga berjuang untuk mendapatkan perhatian dan tindaklanjut dalam 24 jam rentang waktu yang saya miliki.

Sesekali saya menuliskannya dalam draft yang kemudian, esok, minggu depan, bulan depan saat longgar dan saat ‘mood’ ini memang sedang dalam kekuatan penuh, meneruskan draft yang sebelumnya ditinggal. Mengkaji ulang meski acapkali gaya penulisan ala sontoloyo masih mewarnai kental aroma penulisan, yang tidak dipungkir juga membuat saya heran – telah menjadi hiburan tersendiri bagi kalangan pembaca.

Saat ini, selain menulis blog, saya juga cukup disibukkan dengan berbagai kolaborasi via email dimana peran tambahan yang awalnya dilakoni sebagai blogger dan terus bertambah menjadi: Juragan sebuah warung sayur, montir kendaraan, duta besar, perawat atau dokter dan juru kampanye tadi. Peranan tambahan tadi adalah dalam artian, implementasi dukungan moril dan korespondensi aktif dengan beragam kalangan pembaca dalam bentuk one-on-one communications, interaksi tatap wajah saat memungkinkan dan lain sebaginya yang kesemuanya kembali dipindahkan ke dunia nyata sedemikian rupa bahwa bloggers adalah juga manusia yang bisa dan berkenan diajak turun dari dunia maya untuk membantu sesama, meski itu mungkin hanya sebatas konsultasi, pemberian saran/pandangan dan tepukan dipundak atau jabat erat kedua tangan ini.

Blogger turun langit (dari dunia maya) nampaknya kedepan akan menjadi sebuah prasyarat penting bilamana sang blogger yang bersangkutan ingin dan serius dalam membangun komunitasnya menjadi komunitas yang kuat, erat, solid dan terbedayakan.

Apa saran-saran Kang Luigi untuk blogger pemula dan baru pertama kali memasuki dunia blogging?

Cari dan dapatkan visi dan misi-mu sebelum terjun ke dunia blogging dan jadilah komunikator yang ulung dalam menyampaikan ide pada tulisanmu, sebab apa yang ditulis, kemudian naik on-line dan terbaca pihak umum, akan terus tersimpan disana (di dunia maya). Pastikan apapun yang ditulis memang membawa manfaat dan berguna, jika tidak jelas ia akan menjadi bom waktu pada 5, 10 tahun kemudian terhadap jabatan atau perjalanan karir sang blogger yang bersangkutan dan implikasinya pada kehidupan dunia nyata.

Peranan apa yang ingin dimainkan oleh seorang blogger dalam mindsetnya akan mempengaruhi isi, mutu blog posting, konsistensi atau kelangsungan umur blog dan komunitas dan perkembangan jumlah pembaca yang mengikutinya.

Biodata Luigi Pralangga:

Nama : Luigi Pralangga

Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 29 April 1974

Jabatan saat ini : Procurement Officer, United Nations Assistance Mission for Iraq (UNAMI), Iraq mulai Aug 2010 – saat ini

Pendidikan Terakhir : S1 Teknik Sipil, ISTN

Pengalaman Kerja sebelumnya :

Procurement Officer, United Nations Mission in Liberia (UNMIL), Liberia – West Africa mulai 2004 – Aug 2010

Procurement Liaison, United Nations Monitoring Verification Inspection Commission (UNMOVIC), Baghdad, Iraq mulai Nov 2002 – May 2003

Procurement Assistant, United Nations Procurement Division (UNPD), New York mulai 2001 – 2004

Alamat Blog : http://pralangga.blogspot.com & http://pralangga.org

Karya buku yang sudah dihasilkan : “Ondel-ondel Nekat..” 2011

Tempat Domisili : Kuwait City, State of Kuwait

Twitter: @pralangga

Foto-foto boleh ditengok di http://flickr.com/photos/pralangga dan dari Facebook

60 Orang Guru Demo di Ruang Rapat Balaikota Bekasi

60 orang guru terdiri dari beberapa lembaga pendidikan, mulai dari guru SD, Madrasah, SMP dan SMA Minggu kemarin melakukan demonstrasi di ruang rapat Balaikota Bekasi. Demo yang mereka lakukan adalah membuat blog pribadi berbasis WordPress.

Peserta Pelatihan Blog Guru Gelombang Kedua di di Pemkot Bekasi
Peserta Pelatihan Blog Guru Gelombang Kedua di di Pemkot Bekasi

Acara ini adalah bagian dari Pelatihan Blog Untuk Guru yang diadakan oleh Komunitas Blogger Bekasi (BeBlog) bersama Ikatan Guru Indonesia Cabang Bekasi yang kedua kalinya, setelah yang pertama kali sukses dilaksanakan di Islamic Centre 30 Oktober lalu. Pelatihan kedua ini juga bisa berlangsung setelah mendapat dukungan sponsor dari Indosat dan bagian Telematika Kodya Bekasi, yang memfasilitasi dengan ruang rapat di kantor Walikota Bekasi.

Seperti pada pelatihan pertama, materi yang diberikan pada pelatihan kedua ini tetap sama. Yaitu bagaimana guru-guru anggota atau calon anggota IGI bekasi ini bisa membuat Blog pribadi mereka dan kemudian menuangkan ide dan gagasan mereka disana. Sebagai bagian dari metode pendidikan yang dapat mereka terapkan di sekolah masing-masing terhadap para muridnya.

Sesi pertama pelatihan ini para guru diberi pelajaran bagaimana menulis, blogging dan pergaulan virtual, yang disampaikan oleh Amril Taufik Gobel dengan moderator Indah Juli. Sesi kedua dengan moderator Komaruddin Ibnu Mikam sang “Jawara” Bekasi Utara diisi oleh Masim “Vavai” Saugianto denga materi utama yaitu, Bagaimana membuat Blog dengan WordPress. Sesi yang benar-benar menguras konsentrasi para guru, karena hasil pembuatan blog ini nantinya diadakan penilaian siapa yang berhasil membuat blog terbaik dan mendapatkan hadiah yang disediakan oleh panitia.

Sesi ketiga adalah Mobil Blogging, yang disampaikan oleh Endy Junaedy Kurniawan dari Indosat. Satu kejutan yang cukup memberi inspirasi para peserta adalah hadirnya penulis buku Srondol Gayus ke Italy, Hazmi Srondol. Kehadiran Hazmi Srondol ini yang sempat di daulat untuk tampil ke depan memberikan kata sambutan ini, cukup mendapat applaus dari para peserta.

Sesi ke empat adalah Etika Blogging yang disampaikan Indah Juli, serta yang terakhir Wijayakusumah yang lebih dikenal dengan Omjay dengan materi Menggunakan Blog sebagai Media Pembelajaran.

Seperti pada pelatihan pertama, pelatihan gelombang kedua inipun mendapatkan perhatian yang besar dari para guru anggota IGI Bekasi. Hal ini terlihat dengan pendaftaran yang melebih kapasitas tempat yang tersedia, sehingga beberapa diantaranya terpaksa ditolak, dan dialokasikan untuk pelatihan berikutnya.

1321958136201509238
60 orang peserta Pelatihan Blog Untuk Guru, memenuhi ruang rapat kantor walikota Bekasi

13219582531430309378
Amril Taufik Gobel dengan moderator Indah Juli, tampil sebagai pembicara pertama

13219583601700681831
Gaya Komaruddin Ibnu Mikam sebagai moderator untuk Masim Vavai Sugianto.

1321958474217258422
Masim Vavai Sugianto tengah menerangkan bagaimana membuat Blog dengan WordPress

1321958638370696190
Sebelum sesi ketiga, penulis buku Srondol Gayus ke Italy, Hazmi Srondol. Sempat tampil dan berbagi ilmu di depan para peserta

13219587921844164146
Endy Junaedy Kurniawan dari Indosat, tengah menyampaikan materi Mobile Blogging

1321958878237758825
Dua petugas Indosat tengah mengadakan kuis untuk para peserta

13219589512124380983
Indah Juli tengah menyampaikan materi pelatihan Etika Blogging

1321959030837622461
Sebagi pemuncak pada pelatihan ini Omjay tampil dengan materi Menggunakan Blog sebagai Media Pembelajaran  Mereka yang beruntung mendapatkan doorprize dari Indosat

13219591952007490568
Foto bersama para peserta dan pelatih selesai acara pelatihan

Sukses, Penyelenggaraan Pelatihan Blog Guru Angkatan Kedua

Ruang Rapat Kantor Pemerintah Kota Bekasi, Minggu 20 November 2011 telah terlihat ramai, ketika saya tiba. Hari itu, saya akan menjadi pembawa materi dalam acara Pelatihan Blog Guru Angkatan Kedua yang diadakan oleh Komunitas Blogger Bekasi, Ikatan Guru Indonesia (IGI) Bekasi dengan didukung oleh salah satu provider telekomunikasi terkemuka di Indonesia, Indosat. Berbeda dengan Angkatan Pertama yang mengambil tempat di aula Islamic Center Bekasi, kali ini, berkat kerjasama yang baik antara Komunitas Blogger Bekasi dengan Pemerintah Kota Bekasi dalam hal ini bagian Telematika, akhirnya memperoleh tempat yang representatif di ruang rapat Pemkot Bekasi Jl.Ahmad Yani.

Tidak hanya itu, dengan belajar dari pengalaman sebelumnya, sponsor kegiatan, Indosat, melipat gandakan kapasitas akses poin hot-spot menjadi 5 buah. Dengan demikian para peserta akan lebih mudah melakukan praktek pembuatan blog lewat koneksi internet yang handal dan stabil. Bila di Islamic Center, para peserta sedikit kesulitan dalam mempergunakan laptopnya karena duduk di kursi kuliah yang memiliki ruang terbatas untuk menempatkan laptop, maka di ruang rapat Pemkot Bekasi ini, menjadi lebih leluasa karena disediakan meja dengan area penempatan laptop yang lebih luas.

Saya mengawali acara dengan materi tentang penulisan dan blogging yang dipandu oleh mbak Indah Juli sebagai moderator. Saya menyajikan materi yang sama seperti yang sudah saya sampaikan dalam Pelatihan Blog Guru Angkatan pertama lalu. Saya sangat terkesan pada antusiasme para peserta yang beberapa diantaranya justru sudah memiliki blog dan memberdayakan blog yang dimiliki sebagai sarana interaksi bersama murid-muridnya.

Setelah saya membawakan materi, dengan dipandu blogger “jawara” Bekasi Utara Bang Komaruddin Ibnu Mikam, Mas Masim”Vavai”Sugianto tampil membawakan materi “Pembuatan Blog dengan WordPress”. Kedua putra asli Bekasi ini benar-benar kompak dan padu menyajikan materi. Yang menarik, sebelum masuk ke materi utama Mas Vavai sempat berbagi pengalamannya ngeblog bahkan memutarkan sebuah film motivasi singkat untuk para guru untuk tidak takut untuk memulai dan belajar sesuatu yang baru. Lebih percaya diri dan tidak malu mengakui kekurangan serta terus bersemangat dalam menggapai impian.

Materi mas Vavai dibawakan secara ringkas dan selanjutnya, para peserta melakukan praktek pembuatan blog masing-masing dipandu oleh sejumlah co-tutor yang berasal dari Komunitas Blogger Bekasi. Memang alokasi materi yang bersifat praktek ini relatif lebih panjang dari materi lainnya karena memang dibutuhkan waktu lebih lama hingga benar-benar setiap peserta bisa membuat blog sendiri. Bila pada pelatihan angkatan pertama sebelumnya ada sesi pembuatan email, maka di angkatan kedua ini–demi efektivitas waktu — langsung masuk ke materi utama. Sempat terjadi masalah berupa pesan “error” saat mengaktivasi blog dan disinyalir masalah ini terjadi karena server WordPress mengidentifikasi ada banyak yang mengakses aplikasi pembuatan blog disaat yang sama. Kendala ini coba diatasi dengan melakukan pembuatan blog secara bergiliran dengan bimbingan satu persatu serta melakukan alternatif akses salah satunya melalui portable hotspot Samsung Galaxy Tab yang dimiliki mas Vavai.

Seusai makan siang dan istirahat, dilanjutkan dengan materi “Etika Blogging” yang dibawakan oleh mbak Indah Juli, kemudian materi “Mobile Blogging” oleh Endy Kurniawan dari Indosat (serta ada sharing tambahan dari mas Hazmi Srondol tentang blogging dan menulis buku), akhirnya materi pamungkas disajikan oleh Pak Wijayakusumah yang akrab dipanggil Om Jay dengan materi “Menggunakan Blog sebagai Media Pembelajaran”.  Acara ini ditutup pada pukul 16.30 diakhiri pemberian sertifikat.

Sampai jumpa dalam Pelatihan Blog Guru Angkatan Ketiga bulan depan!

Mereka itu “Punk-ers” nya Indonesia

Anak Punk identik dengan tampilan urakan dengan rambut seperti Bulu Babi dilautan atau binatang landak, mereka selalu bertebaran dilokasi-lokasi yang strategis namun gelap minim penerangan lampu kota. Kehidupan siang hari mereka berada dijalan-jalan yang ramai akan para penduduk sedangkan pada malam hari mereka menyepi disudut kota untuk beristirahat sambil menikmati minuman kehidupan mereka. Saya sendiri merasakan kehadiran para anak punk sudah mulai marak beredar di wilayah Pekayon Jaya, setiap diatas jam 9 malam mereka berlalu lalang disekitaran Pekayon Jaya dengan berbagai macam tingkah laku.

Sebenarnya fenomena apa yang terjadi sehingga banyak anak-anak Punk remaja menetas dan bergerombol merayapi jalanan Bekasi?, saya sendiri juga heran, lebih herannya lagi ketika melihat tak sedikitnya kaum hawa yang berada di komunitas mereka. Tampilan nyentrik serba hitam, kemilau piercing ditelinga, tangan serta mulut mereka dan rambut berdiri yang melambangkan keteguhan hidup mereka dijalanan. Apakah mereka jahat?, bisa iya bisa tidak karena dalam situasi tertentu mereka bisa jadi jahat tapi ‘mungkin’ sekali-kali menjadi anak baik. Penghidupan mereka lebih banyak berasal dari mengamen, tidak bisa memainkan alat musik bukan sesuatu yang pantas disesalkan karena hanya bermodalkan telapak tangan, mereka bisa mengamen didalam angkutan umum dengan suara vokal nan Fales dan entah lagu apa yang mereka nyanyikan, pastinya bukan lagu punk.

Tak jarang sebuah kalimat pedas keluar dari mereka jika tidak seseorang pun yang memberikannya uang receh sebagai honor mereka menyanyi didalam angkot, biasanya yang keluar adalah isi kebun binatang atau sebuah kata kotor yang artinya sama dengan kawin. Di usia mereka yang muda-muda tersebut seharusnya melakukan hal yang produktif lebih dari sekedar bernyanyi pada tiap-tiap angkot dengan penghasilan tak lebih dari 50.000 Rupiah sehari. Selain mengamen, memalak juga merupakan kegiatan mereka, sasarannya adalah anak-anak sekolah lugu yang ditiap-tiap saku mereka terdapat uang dari orang tuanya untuk jajan gorengan. mereka juga jahil jika melihat cewek cakep sehabis pulang kuliah atau kerja lewat diantara mereka, siul-siul nakal berisikan kalimat menggoda dan colak colek ala cowok genit menjadikan fenomena yang lazim bagi mereka.

Apa yang ada dipikiran mereka hanyalah sebuah kebebasan hidup, padahal kalau saya lihat, kehidupan mereka seperti dikejar-kejar oleh kematian. Melakukan apapun untuk hidup dan menikmati kebaikan Tuhan yang masih memberikan mereka nafas. Sudah dipastikan jika mereka mencari uang dengan cara seperti itu hanya untuk membeli makanan dan minuman keras, anak Punk disini tidak bisa dipisahkan dari Minuman keras. Kalau bagi saya sendiri, kegiatan mereka lebih membosankan dari kehidupan yang saya jalanin, siang hari cari duit dengan ngamen, dikejar-kejar satpol PP, malak warung atau pelajar, malamnya menikmati hasil jerih payah sambil meneguk intisari. Begitu-begitu saja sampai mereka (mungkin) sadar atas apa yang mereka lakukan saat ini tidak berguna. Berbeda dengan manusia biasa lainnya, bekerja tiap senin-jumat, berwisata bersama keluarga dan menikmati jerih payah mereka dengan penuh suka cita dan halal.

Kemanakan orang tua para anak Punk ini?, sudah tiada kah atau memang ditiadakan karena merasa tidak peduli anak meraka akan menjadi apa nantinya. Apakah ini merupakan sebuah kegiatan yang biasa disebut “Gahoel” atau sebagai indetitas liar diri mereka terhadap dunia yang fana ini. Kita tidak bisa menghentikan diri mereka untuk berkeliaran, kita pun juga tidak bisa menghilangkan jejak mereka karena mereka juga sebagai manusia biasa juga yang butuh kehidupan. Kita hanya bisa selalu waspada atas apa yang akan terjadi nantinya, kita tidak akan tahu apa yang mereka akan perbuat nantinya. Sebenarnya lucu juga, mereka bergaya anak Punk tapi kesehariannya sendiri tidak mendengarkan musik Punk, hanya mendengarkan musik-musik layar kaca yang biasa manggung tiap pagi hari.

Mereka ingin menjadi Punkers di negara barat sana namun minim kreatifitas, anarkis nanggung, kenalakan yang kurang liar dan masih takut ketemu sama orang tua mereka. Ya kalau semuanya serba nanggung, kenapa jadi anak baik-baik saja, siapa tahu bisa jadi karyawan teladan nantinya dan menikmati kehidupan tercukupi daripada harus hidup dijalan dengan perasaan was-was, badan bau, mulut bau dan tidak jelas kedepannya bagaimana. Pukulan keras buat para orang tua yang selama ini cuek terhadap anaknya, tidak peduli akan kegiatan anak mereka seperti apa diluar sana, sing penting bocah’e masih urip.

Penggalian Pasir di Bekasi Telah Ditutup?

Kondisi penambangan pasir tanggal 18 September 2011 (Foto by; Amrilt)

Ketika melihat siaran Selamat Pagi Indonesia yang disiarkan oleh TV One pagi ini (17 November 2011) host Rifqi menyambut beberapa orang wakil dari penggali pasir di desa Ceper, Serang Baru Kabupaten Bekasi. Tentu berita itu mengejutkan bagi kami, peserta Amprokan Blogger Bekasi, yang pada tanggal 18 September 2011 kemarin berkunjung ke area penambangan dan menyaksikan proses penggalian dan  pengangkutan pasir itu.

Peserta demo berjumlah kira-kira ada 7-10 itu mewakili sekitar 600 atau 700 petani pasir. Mereka  meminta dukungan masyarakat untuk memaksa pemerintah kabupaten untuk membuka kembali area penambangan yang telah ditutup oleh pemerintah. Hingga saat ini, saya mencari infromasi tentang kabar penutupan itu, namun belum menemukan, tetapi dengan peristiwa demo itu bisa diambil kesimpulan bahwa pemerintah telah menutup proses penggalian pasir itu.

Menurut pendemo yang didampingi oleh salah satu LSM daerah, mereka kehilangan mata pencaharian setelah penambangan itu ditutup. Menurut beberapa informasi yang berhasil saya kumpulkan memang dalam masyarakat sendiri ada perpecahan pendapat menaggapi hal itu. Ada yang setuju atau ada yang tidak setuju diadakannya penggalian pasir di galian C itu.

Karena dari galian C itu, pengusaha bisa mengantongi uang mencapai puluan juta rupiah dalam satu hari. Jumlah itu tentu sangat besar untuk ukuran pengusaha pasir. Terdapatnya dualisme pendapat masyarakat itu adalah hal yang wajar. Bagi mereka yang mendapatkan keuntungan dari itu pasti akan menentang untuk ditutup. Dan bagi mereka yang berpikir jauh tentang dampak lingkungan akibat dari itu semua pasti akan sangat setuju bila ditutup.

Menurut kabar yang dilansir oleh Bekasi Terkini.com, jumlah truk yang mengangkut pasir di lokasi penambangan pasir situ Ceper ada sekitar 45 truk yang mengangkut dari lokasi pengepulan. “Satu truk pasir bisa mengangkut 7 kubik pasir. Harga pasir yang dijual di pengepul sekitar Rp140.000 per kubik, atau sekitar Rp980.000 per truk. Artinya dalam satu hari ”uang pasir” yang dihasilkan sekitar Rp44.100.000. Dalam satu bulan, uang yang bisa ditambang mencapai Rp1.323.300.000.000.” Kegiatan itu sudah berlangsung dari tahun 1990-an dan lebih menggila di era 2000an ke sini, dan dalam satu hari satu truk bisa mengankut sebanyak tiga kali.

Dari jumlah itu tentu dapat dibayangkan betapa empuknya kawasan itu untuk orang-orang tertentu saja. Jumlah retribusi daerah dari galian C jauh sekali dari kerusakan ekologis yang ditimbulkan. Misalnya untuk galian C pemerintah hanya menerima Rp. 70 juta dalam setahun. Bandingkan dengan uang yang masuk ke penambang dan dampak ekologis dan sosial yang ditimbulkan. Sungguh ironis.

Sedangkan menurut  Kepala Bidang Pertambangan dan Sumberdaya Mineral, Dinas Bina Marga dan pengairan, Hadiat S. , penambangan tersebut memang berizin. Namun demikian, dalam izin juga disertakan persyaratan-persyaratan tertentu. Keharusan untuk mereklamasi itu merupakan salah satunya, namun reklamasi itu tidak pernah terjadi. Penggali akan terus meninggalkan area yang sudah tidak menghasilkan itu dan mencari sasaran lain untuk melakukan perusakan kembali. Kondisi riil dari peninggalan itu terlantar dan tidak bisa dimanfaatkan sama sekali. Bukan tidak mungkin, kolam itu malah menjadi berbahaya untuk warga sekitarnya.

Sekali lagi, dengan alasan apapun perusakan alam harus tetap dihentikan. Anak cucu kita akan kebingungan menghadapi hidupnya apabila sumber daya alam dimatikan begitu saja. Pemerintah Kabupaten Bekasi harus menutup secara permanen dan melakukan reklamasi tanah yang telah rusak.

Setelah berhasil menutup perusakan alam, pekerjaan rumah untuk pemerintah yang lain adalah bagaimana menberdayakan para petani pasir yang kehilangan pekerjaan setelah area penambangan itu ditutup, agar kehidupan masyarakat setempat juga mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

Selamat buat Pak Bupati dan jajarannya atas penutupan itu dan penyelamatan ekologis di Bekasi.

Semoga.