Jerapah

Adi naik ke tempat tidurnya jam sebelas malam setelah menuntaskan pekerjaan rumahnya, berdo’a sebentar, mematikan lampu dan berusaha tidur secepatnya. Angin AC bergerak tipis di rambutnya, lampu indikatornya berwarna hijau menjadi satu-satunya cahaya dalam gelap. Malam yang sepi, di luar terdengar suara penjual nasi goreng dan penjual sekoteng yang lewat bergantian sebelum sepi kembali. Dia membalikkan badannya, melipat bantalnya atau menumpuknya dengan bantal lain, tapi tidak ada posisi yang bagus bisa mempercepat tidurnya. Dia menguap dua kali, melihat jam di selulernya. Sudah lewat jam dua belas dan masih terjaga. Dia harus bangun sebelum subuh, sarapan jam lima tiga puluh dan berangkat ke sekolah tepat jam enam bersama ayahnya. Rutinitas yang membosankan, dengan kata “bosan” ditulis di buku catatannya saat guru akuntansi-nya menerangkan pelajaran. Mengapa tidak sekolah bukan merupakan sebuah pilihan, pikirnya. Mungkin membaca akan membuatnya cepat tertidur.

Dia bangkit dan menyalakan lampu, memicingkan matanya sampai jelas terlihat deretan buku-buku di dalam rak. Dia mendekatkan matanya pada buku-buku, membaca judulnya satu per satu dan mengingat-ingat isinya sebelum terbentur pada salah satu buku; sebuah novel karya Agatha Christie yang belum selesai dibacanya, dimana ia teringat kembali pernah meletakkan sebuah surat diantara halaman-halamannya, sebuah surat yang mengingatkannya pada urutan-urutan kejadian saat meninggalkan rumah.

Hanya sembilan ribu lima ratus rupiah yang mereka belanjakan untuk makan siang sebelum pergi mengamen dan mendapat tambahan uang untuk membeli makan malam. Mereka terbiasa dengan itu, atau membeli nasi di warung nasi langganan agar mendapat tambahan nasi, sayur dan air minum untuk berempat. Dengan rutinitas yang hampir sama tiap harinya, jika tidak dikejar-kejar petugas, mereka bangun di jam enam, mengamen di bis-bis dan warung-warung makan kemudian berkumpul di jam dua sebelum pergi mengamen lagi di jam empat dan kembali berkumpul sebelum jam delapan malam. Mereka punya semangat untuk hidup, saling mendukung dan menjaga, dan tanpa cita-cita, mereka punya alasan sendiri-sendiri untuk terjun ke jalanan. Aku perkenalkan mereka sebagai Adi, Johan, Toto dan Dodi.

Toto yang tertua, datang dari Purwokerto sebagai pelarian karena selalu membuat keributan di kampungnya. Dia, dengan uang yang sedikit, menggelandang ke Jakarta di usia delapan belas, pernah menjadi kuli bangunan, buruh bangunan di Bekasi dan penjual rokok. Saat mengetahui penghasilan mengamen lebih besar dari seorang buruh, dia mulai meminjam ukulele dari teman pengamennya dan belajar memainkannya. Tiga bulan kemudian dia membayar ukulele pinjamannya itu seharga lima belas ribu rupiah ketika temannya itu  sangat membutuhkan uang.

Pada bulan April 2000, dia bertemu Johan di stasiun Pasar Senen setelah sama-sama menangkap dan menghajar seorang pencopet. Johan membelikannya makan siang, ngobrol sedikit dan menemukan sedikit persamaan diantara mereka. Johan juga seorang pelarian, kabur dari rumah neneknya di Serpong. Ketika kedua orang tuanya bercerai, dia memutuskan tidak bergantung kepada salah satunya. Keputusannya menjadi seorang pengamen di Jakarta dimodali sebuah gitar Gibsonbeserta uang tabungannya yang lumayan banyak. Dia ngekos di sebuah rumah di Pademangan selama empat bulan sebelum seluruh uang yang disimpannya di lemari dibobol teman kos-annya. Toto dan Johan seperti kolaborasi pengamen yang tidak kompak. Toto lebih senang lagu-lagu Jawa, sedangkan Johan lagu-lagu barat dan pada akhirnya mereka menyanyi bergantian dengan Johan lebih banyak belajar instrumen lagu-lagu Jawa.

Mereka menyelamatkan Dodi dari kejaran preman yang ingin menghajarnya. Dodi berusia dua belas tahun, anak seorang pedagang sayur di pasar Palmerah, lari dari ayahnya yang sering memukulnya. Dodi sudah enam bulan menjadi pengamen pada saat mereka bertemu di bulan Juni. Pada bulan Juli ketika pertama kali bertemu Adi, Toto tidak percaya saat Adi memutuskan untuk bergabung. Adi terlihat tidak seperti anak jalanan pada awalnya, lumayan tampan dan keras kepala, lebih menginginkan kebebasan ketimbang prestasi akademik atas tuntutan ayahnya untuk bisa menjadi seorang sarjana ekonomi atau melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Tapi berada di jalanan satu-satunya yang ada di pikirannya saat itu.

“Ayahmu pasti mencarimu” tanya Toto

Adi tidak menjawab

“Kau pegang  apa?” tanya Johan “Gitar?”

Adi menggeleng kepala.

“Aku pinjamin kau stan drum. Kau bisa belajar nanti”

Mereka tinggal di sebuah ruko kosong hingga akhir Juli sebelum akhirnya terusir, menggelandang selama beberapa malam dan mencoba tinggal di sudut stasiun, di ujung gubuk-gubuk kecil yang hampir rubuh terkena terjangan angin dari laju kereta api. Selama dua bulan mereka mengamen di kereta rel listrik dengan sesekali menjadi penumpang gelap kereta Jawa, lolos dari kejaran kondektur dan polisi, dan tidak jarang berkelahi dengan pengamen dari daerah. Tempat tinggal terakhir mereka adalah sebuah gubuk di sudut jalan layang, berseberangan dengan proyek-proyek pembangunan apartemen.

Ketika pertama kali masuk musim hujan di tahun itu, hujan turun sepanjang pagi hingga sore dan semakin deras di malam hari, anginnya menggoyang-goyang gubuk, air menetes jatuh hampir di seluruh ruangan. Mereka menutup lubang-lubangnya dengan plastik, memindahkan gitar, ukulele dan pakaian-pakaian mereka ke bagian depan di bawah terpal.

“Kita perlu papan lagi. Kalau nggak, bakalan rubuh” Adi berkata, menggoyang gubuk yang tidak lebih tinggi dari dirinya.

Toto mengumpulkan kayu-kayu kecil, kertas koran, potongan papan dan triplek bekas, lalu menyulut api di atasnya. Beberapa kali angin meniup apinya sampai menghabiskan korek api. Johan melempar korek gas padanya dan dia kembali membakar kertas kering. Api menyala sebentar membakar ranting. Dia meniup baranya, melempar kertas kering di atanya sampai api perlahan-lahan membesar dan membakar potongan kayu. Adi menarik tali di atas api, menggantung pakaian-pakaian basah dan duduk di dekat api tanpa baju. Johan menangkap korek yang dilempar Toto, menyalakan rokoknya, kemudian mengambil gitarnya dan mengajari Dodi Stairways To Heaven.

Keesokan paginya banjir memasuki jalanan di depan gubuk mereka, airnya sudah memenuhi beberapa senti di atas trotoar. Matahari terlanjur meninggi, setidaknya tidak akan hujan hingga siang. Toto menepuk punggung Adi, “Coba lihat” Toto berkata, menunjuk sebuah truk tanggung terjebak banjir. Memang terlalu pagi untuk membantu mendorong truk itu, tapi ada duit di sana. Ketika Adi membangunkan dua lainnya, Toto sudah berada di sebelah pengemudi menawarkan bantuan mereka, dan tampaknya pengemudi mobil tersebut merasa senang. Toto memanggil mereka. Mereka datang dengan wajah lebih segar, lalu membentuk formasi mendorong dan dengan susah payah mendorong truk itu sampai ke tempat kering. Pengemudi itu memberi lima ribu rupiah kepada keempatnya. Toto minta tambahan uang karena mereka mendorong lumayan jauh. Pengemudi itu mengeluarkan lima ribu lainnya dari kantong celananya dan memberikannya kepada Toto. Toto mengucapkan terima kasih meski masih merasa kurang setelah melihat ketiga temannya terengah-engah dan keringatan.

“Dapet berapa?” tanya Johan, mengelap leher dan badannya dengan kaosnya

“Lima ribu” jawabnya, menyerahkan uang itu pada Adi “Simpan saja. Siapa tau butuh sewaktu-waktu”

Mereka nongkrong di pinggir jalan, menonton mobil yang nekat menerobos banjir, menebak-nebak mana yang akan mogok. Tidak perlu waktu lama untuk menunggu sebuah kendaraan mogok di tengah banjir. Tapi Dodi yang melihatnya duluan melihat sebuah sepeda motor mogok. Dia langsung bangkit, berlari melompat-lompat mendekatinya. Dia dan pengendara sepeda motor mendorongnya, melewati ketiga temannya yang bersorak padanya. Sebuah bis melaju cukup kencang di sampingnya, membentuk ombak hingga melewati trotoar, di belakangnya dua mobil mengikuti. Satu mobil berhasil lolos mengikuti jalur bis, tapi satu lainnya mendadak mati saat air mulai kembali menggenang. Toto mengikat bajunya di kepalanya, Adi dan Johan mengikuti, bersiap-siap mendorong mobil-mobil itu.

Hujan juga bisa berarti bebas mandi kapan saja, lebih sering dari hari-hari di musim kering dimana mereka kerap mencuri mandi di kamar mandi POM bensin. Suatu malam Dodi kena demam tinggi, Adi yang pertama kali tahu. Adi buru-buru membelikannya parasetamol dan antibiotik. Dodi bangkit dan membuka bungkus obat. Tapi dia tidak langsung meminumnya kecuali menatapnya lama. Adi memberi isyarat kepada Dodi agar memasukkan obatnya kedalam mulut. “Minum obatnya kalau mau sembuh”

Hari itu hujan berhenti sejak sore namun dinginnya lebih terasa di malam hari. Johan memakai kaos lengan panjang, menutup tubuhnya dengan sarung dan tidur lebih awal di sebelah Dodi. Adi membuat api unggun dan memasak air panas untuk kopi. Sesekali Toto atau Adi bergantian melongok kedalam gubuk menengok keadaan Dodi. Johan tidur nyenyak sekali sampai-sampai tidak mendengar Dodi mengigau. Toto merapatkan pintu gubuk, kembali duduk di dekat api unggun dan menggosok kedua telapak tangannya hingga terasa hangat. Toto memiliki wajah lebar dengan beberapa helai jenggot, bibir tebal kehitaman dan gigi sedikit terdorong keluar. Rambutnya gondrong sampai setengah leher. Telapak tangannya besar dan kasar, cukup untuk menjatuhkan seseorang yang setara dengannya atau sedikit lebih besar sekalipun dengan sekali pukul. Dodi paling dekat dengannya, bahkan namanya-lah yang sering disebut Dodi saat mengigau. Sedangkan Adi, di sisi lain Toto, lebih terbuka dan setiap hari menambah nyalinya, dan setelah setahun di jalanan, kulitnya lebih kecoklatan dan rambut kemerahan.

Toto melempar ranting basah ke dalam api unggun, kunang-kunang api berterbangan. Dodi pasti sembuh besok, katanya, yakin setelah melihat Dodi tidak sulit makan. Dia batuk beberapa kali, suaranya seperti suara knalpot rombeng. Adi sering melihatnya batuk lebih kencang di malam hari, sesuatu yang luput dari perhatian dua teman lainnya.

Lewat tengah malam, dua cangkir kopi terlanjur dingin. Adi menghabiskan tiga batang rokok, tetapi Toto tidak menyentuh rokok sama sekali. Seorang pengamen lain menghampiri mereka, menyambar sisa rokok dalam bungkusan dan ikut duduk bersama mereka. Dia bercerita tentang kecelakaan di tol tadi siang dan pergi setelah menghabiskan rokoknya. Adi ngantukberat. Dia membaringkan tubuhnya di atas sebuah papan triplek berlapis kardus di luar gubuk. Matanya mengarah ke api unggun, terdengar suara retakan-retakan ranting di dalamnya. Dua ekor kucing mondar-mandir di sekitar kaki Toto. Toto melempar nasi sisa, lima kucing lain muncul dari kegelapan ikut menghabiskan makanan itu. Dia memerhatikan kucing itu beberapa lama, lalu mengeluarkan buku yang dilipat dari saku celananya. Dia menulis sesuatu, sebuah surat atau sebuah lagu, tetapi itulah yang dilihat Adi sebelum benar-benar tertidur.

Adzan subuh terdengar sayup-sayup, namun mereka sudah melupakan urusan agama. Toto bangun paling awal, Johan merebus air untuk kopinya. Jalanan mulai macet menjelang jam sembilan, pedagang asongan, pengamen dan pengemis menjadi bagian dari irama pagi yang akan berlangsung hingga malam hari. Adi mengeluarkan uang tabungan mereka dari dalam kaleng, menghitungnya dan memutuskan untuk menggunakan sebagian uangnya. Mereka membeli baju murah di pasar dan mengenakannya ketika jalan-jalan Blok M. Sepanjang hari itu mereka tidak ingin menjadi pengamen, kecuali menghabiskan waktu jalan-jalan di mal.

Mereka memanjakan diri malam itu, duduk di dekat api unggun, masing-masing memegang sekaleng Coca Cola, satu bungkus besar kacang diberikan bergilir, bungkus-bungkus makanan lain sudah dibuka diletakkan di atas triplek kecil. Dodi menunjukkan kemajuan, mulai merokok lagi dan sebentar saja habis tiga batang. Johan menceritakan teman-teman kampusnya yang menjijikkan dan alasan mengapa dia berganti-ganti cat rambut. Dia menyukai warna perak di sisi rambutnya karena tidak terlalu norak, di hari Senin mencat warna ungu dan merah di hari Rabu. Dia pernah beberapa kali memakai kartu kredit ayahnya hanya untuk bersenang-senang dan membeli aksesoris untuk gitar dan sepeda motornya. Jumlahnya menembus lebih lima belas juta. Ayahnya marah-marah dan hampir membunuhnya. Tapi sebulan kemudian dia mencuri semua kartu kredit ayahnya dan kabur dari rumah. Dodi terkesan dengan ceritanya, tapi tidak tahu kegunaan kartu kredit kecuali hapal harga cabai sesaat sebelum lebaran tahun kemarin. Johan mengisap rokoknya dalam-dalam, mengeluarkan asapnya, membuat lingkaran-lingkaran kecil di udara dan tersenyum pada Dodi. Mendengar itu, Adi yang sedang belajar ukulele pada Toto mengatakan jika bulan depan inflasi diatas tujuh persen maka ibunya tidak akan lagi jualan. Inflasi juga berpengaruh pada penghasilan mengamen. Tapi apa itu inflasi? tanya Dodi.

Hawa sejuk membawa penduduk kolong jembatan menghabiskan waktu lebih lama sebelum menggeliat ke jalanan. Asap bekas api unggun mengepul tipis, baranya masih ada, Adi menyiram air kopi ke atasnya. Pagi itu mereka memutuskan untuk pergi ke Bekasi menggunakan kereta, mengamen di sepanjang jalan, jalan-jalan sebentar dan mengamen lagi saat kembali. Di perjalanan mereka sama-sama menyanyikan lagu Iwan Fals. Mereka turun di stasiun Kranji, berjalan sebentar ke luar stasiun dan makan siang di warung bakso. Di belakang mereka ada pasar kecil yang ramai. Seorang penjual pisau berkoar-koar menjajakannya, memainkan sebuah pisau lipat kecil dan membelah kertas dengan pisau besar super tajam. Adi dan Johan mendekatinya dan jongkok diantara pengunjung yang mulai ramai. Bawa pisau satu disangka penjahat. Bawa pisau banyak disangka jualan, bisik Johan pada Adi. Tukangnya tidak mendengar, seorang pengunjung sedang menawar pisau bergagang kayu jati berukir. Tangan Johan menyelinap perlahan di sela-sela pengunjung, mengambil dengan cepat sebuah pisau lipat berukuran sedang dan memasukkannya kedalam kantong celana Adi. Mereka pulang menjelang jam empat sore naik kereta yang hampir kehabisan penumpang dan memilih tidak mengamen. Dodi bergantungan di pintu, angin menghempas rambutnya, terlihat sangat menikmatinya.

“Dod, aku punya hadiah untukmu” Johan berkata, memberi isyarat pada Adi supaya mengeluarkan pisau itu dari kantong celananya.

“Apa?” kata Adi terkejut

“Kantongmu”

“Sial! Kau mencurinya?”

Johan tersenyum, “Berikan padaku”

Johan melemparnya pada Dodi. Dodi kagum dengan pisau dan terlihat senang. “Terima kasih” dia tersenyum

***

Mereka merayakan malam tahun baru 2001 di pantai karnaval Ancol. Johan menyimpan ganjanya untuk saat-saat itu dan itulah pertama kalinya Adi menikmati ganja. Mereka teler hingga pagi hari, diusir petugas kebersihan dan terlunta-lunta di sekitar jalan Thamrin. Terik matahari sepertinya akan membunuh mereka. Mereka kehabisan uang, minum air keran di belakang gedung dan mengamen di bis yang sepi. Johan tersenyum, masih memiliki sisa ganja untuk dirinya.

“Seminggu lagi, aku ulang tahun” kata Dodi, “Aku nggak pernah lupa itu. Gampang menghitungnya”

“Tanggal berapa sekarang?” tanya Johan

“Satu” jawab Adi

“Sampai lupa” Johan tertawa sendiri, “Tujuh Januari?”

“Bukan, tanggal enam” Dodi berkata

Sialan. Itu sih bukan seminggu” kata Johan, mendorong pelan dada Dodi

Toto mengeluarkan sebuah topi hitam dari dalam tasnya dan memberikannya pada Dodi. “Buat kamu. Kita mungkin lupa ulang tahunmu”

“Ya. Ulang tahunmu mudah ditebak karena dekat tahun baru. Tapi kita pasti bakalan lupa. Lagipula, dulu aku pernah memberikanmu pisau” kata Johan tertawa

***

Johan datang paling akhir di suatu malam, menyambar botol minuman di atas papan, menyantap makanan yang dibelinya dan setelah itu menyalakan rokok milik Adi.

“Satpol PP dimana-mana. Ada polisi juga. Semuanya pada kabur-kaburan gak keruan” katanya, melempar abu rokok dan menghisap rokoknya lagi. “Untungnya tampangku gak kayak pengamen. Jadi bisa seenaknya jalan di depan polisi.”

“Jadi kita harus pindah?” tanya Adi.

“Mau pindah kemana? tanya Dodi sambil menyetem gitar

“Kita besok sama-sama cari tempat. Temanku pernah ketangkap polisi. Habis dihajar” kata Toto

Keesokan harinya mereka berpencar mencari tempat, Adi dan Johan pergi ke arah selatan sedangkan Toto dan Adi ke Timur. Jika tidak dapat tempat tinggal hari itu, kemungkinan mereka akan menggelandang dan tidur di emperan toko. Meski pada akhirnya mereka tidak menemukan tempat baru nantinya, mereka merayakan malam terakhir mereka di tempat itu. Malamnya mereka minum dua botol bir yang dibeli Johan tadi siang. Dodi muntah dua kali, ambruk dan langsung tertidur lelap. Johan metertawainya, bernyanyi dengan gitarnya. Adi menghabiskan tegukan terakhir dari botol, sedangkan Toto duduk tidak jauh darinya sedang menulis sesuatu seperti malam-malam lalu. Satu jam kemudian tidak lagi terdengar suara Johan. Toto batuk berat, minum segelas air untuk meredakan batuknya. Adi datang menghampirinya dan duduk di sampingnya.

“Aku pernah hampir mati karena rokok” Toto berkata, melipat buku tulisnya dan memasukkannya kedalam kantong celananya.

“Kelihatannya asma” Adi berkata sambil mendorong-dorong bara kedalam api unggun dengan ranting,

“Nggak kangen keluarga?”

“Nggak tau. Tapi mau lihat mereka lagi”

Toto batuk dua kali, menarik dahaknya dan melemparnya ke samping kanan. Dia berkata, “Aku juga. Suatu hari aku akan pulang dan minta maaf sama bapak. Aku punya adik laki-laki, usianya sebelas tahun, aku kirimi surat tiap bulan sekedar kasih berita kalau aku baik-baik saja”

Adi memandang kedalam api unggun, menyipitkan matanya yang hampir mengantuk dan mengingat-ingat wajah kedua orang tuanya dan pada saat itu ia hampir menangis. Api unggun perlahan-lahan mengecil, Toto tidur sebelum api unggun itu mati, Adi masih dalam lamunannya.

Inilah yang terjadi di pagi harinya ketika para penghuni kolong jembatan terbangun oleh panggilan megaphone petugas ketertiban. Rombongan petugas merubuhkan tenda-tenda dan gubuk-gubuk, namun hanya sedikit yang dapat melarikan diri. Adi menarik Dodi jauh ke dalam proyek dan melihat kejadian itu dari balik bedeng. Johan berpura-pura jadi pejalan kaki, duduk di sebuah warteg sambil melihat petugas menghancurkan gitarnya. Toto, di bagian lain, melawan tiga orang petugas dan membuat ketiganya kewalahan. Seorang polisi datang mencoba menghentikan amukan Toto, menghantam kepalanya hingga terjengkang. Dodi melompat keluar, tapi Adi menahan tangannya.

“Jangan bodoh. Kita bisa tertangkap”

Dodi mencoba melepaskan pegangannya, menatapnya seperti meminta untuk membiarkannya pergi. Adi balas menatap, melepas pegangannya perlahan dan mengatakan sekali lagi untuk tidak bertindak bodoh. Dodi mengangguk, berlari diantara antrian kendaraan, bersembunyi di samping bis sebentar dan melihat beberapa petugas melempar Toto ke atas truk. Polisi yang menghajar Toto masih berdiri angkuh disana dengan tongkatnya. Dia berwajah bulat, sedikit gemuk dengan berkumis tebal dan hidung pesek, dan seperti itulah Dodi mengingatnya.

Kejadian itu berlangsung satu jam, entah sebuah hitungan waktu yang cepat  atau lambat, tetapi tempat itu sudah menjadi sampah puing-puing. Johan melangkah dengan hati-hati mendekati bekas gubuk mereka, Adi dan Dodi mengikutinya dari belakang. Gitar dan ukulele mereka rusak berat, hanya stan drum yang masih bisa diperbaiki. Johan marah-marah, membanting gitarnya berulang-ulang dan menangis. Dodi mengibas-ibaskan pakaiannya, debu-debu berterbangan dan memasukkannya kedalam kantong plastik. Adi menemukan tas milik Toto dibawah terpal, di dalamnya ada beberapa pakaian lusuh, sebuah buku tulis dan pulpen. Dia mengeluarkan buku tulis itu, membuka halamannya dan menemukan sebuah surat di bagian tengahnya.

Mereka membeli dua bungkus nasi setelah mengumpulkan barang-barang mereka,  menggelarnya di atas terpal dan hanya memandangnya. Tidak ada yang mulai bicara. Yang tidak ada hanya Toto dan makanan itu terasa hambar. Mereka tidak tahu tujuan mereka selanjutnya; berpisah atau tetap bersama? Johan melempar batu ke lempengan seng di depannya. Dodi mengeluarkan air mata tapi mereka sama-sama ingin menangis.

Satu minggu sejak kehilangan Toto dan mereka belum mendapatkan informasi keberadaannya. Mereka menelusuri jalanan tanpa tanpa tujuan, tidur dimana mereka bisa merebahkan tubuh dan makan dimana mereka mendapatkan nasi lebih banyak.

“Kita pisah disini” kata Johan di sebuah halte bis setelah mengamen “Aku pergi ke tempat kawan, paling-paling tiga-empat hari. Pinjam duit disana, setelah itu balik lagi pada kalian”

Adi menepuk bahu Johan. Tentunya empat hari tidak terlalu lama, tapi Dodi-lah yang terlihat paling sedih. Sejak kehilangan Toto, anak itu menjadi sentimentil.

“Kau masih menyimpan pisaunya?” kata Johan

Dodi mengeluarkan pisaunya dari kantong celananya, menunjukkannya pada Johan sebentar dan memasukkannya kembali.

“Bagus” kata Johan, mengacak-acak rambut Dodi “Aku akan kembali dan membelikanmu gitar.”

Sore itu panas, awan-awan bergerak menutupi matahari sebentar saja, tidak ada angin yang cukup untuk menghilangkan keringat. Sebuah bis berhenti di hadapan mereka, Johan melompat kedalamnya dan memandang dua temannya lewat kaca belakang.

***

Kemacetan mulai datang sebelum jam delapan pagi, panjangnya semakin bertambah tiap detiknya sampai kendaraan-kendaraan di jalanan itu benar-benar tidak bisa bergerak. Klakson bersahutan, orang-orang datang dari belakang berkumpul di perempatan jalan. Kata seorang pedagang rokok, ada kecelakaan di depan sana; bis metromini menabrak pengendara sepeda motor. Pengendara sepeda motor mati di tempat, tubuhnya sekarang ditutupi koran. Massa melempari  Metromini itu dengan batu sampai membuat sang supir berdarah-darah. Pedagang itu buru-buru pergi, ikut tenggalam dalam kemacetan, menawarkan rokoknya pada supir angkot.

“Kita istirahat dulu. Aku capek banget” Dodi berkata, duduk di atas trotoar tidak jauh dari tempat kecelakaan.

Seorang gadis kecil pengamen menyelinap diantara barisan kendaraan, berhenti di satu mobil ke mobil lainnya. Gadis kecil itu memainkan kecrekan dan lagu yang tidak begitu jelas, sedangkan satu-satunya kejelasan hanya berada wajah mungilnya yang tertutup debu dan asap, mewakili kehidupan anak-anak miskin di perempatan jalanan di Jakarta. Di tempat lain yang lebih teduh, wanita-wanita dewasa duduk di atas rumput, saling bercanda dengan sesekali mengawasi anak-anak mereka yang sedang mengemis atau mengamen.

“Kamu sekolah sampai kelas berapa?” tanya Adi pada Dodi, mematahkan lidi yang baru dipungut di hadapannya.

“Tiga SD”

“Bisa perkalian?”

“Nggak”

“Nggak mau bisa?”

Dodi tidak menjawab, terlalu serius memerhatikan polisi-polisi mengamankan keadaan. Salah seorang polisi menarik seorang pemuda yang ingin menyulut api di atas metromini setelah pemuda lain menyiramkan bensin. Tapi polisi itu bukanlah yang membunuh Toto.

Malam itu untuk pertama kalinya mereka tidur di teras masjid. Adi membelikan segelas kopi untuk penjaga masjid, ngobrol hingga larut malam dan menghabiskan sisa rokok.

“Tidurnya di atas tikar” kata penjaga masjid, menaruh satu per satu gelas sisa kopi kepojokan. “Ada di atas rak sepatu.” Dia menyeret kasur tipisnya, menggelarnya tidak jauh dari mereka dan berbaring di atasnya. “Aku tidur duluan” katanya, menarik sarungnya dan tidak beberapa lama terdengar suara dengkurnya.

***

Berita itu datang di bulan Maret 2001 dari seorang pengamen lain. Dodi menyerang seorang polisi yang baru saja makan siang di warteg. Pisaunya merobek baju dan mengiris sisi kiri perut polisi itu. Polisi itu menembak Dodi dari belakang ketika mencoba Dodi melarikan diri, satu tembakan menembus paru-parunya.

“Kami nginap di masjid. Pertama kali aku dan Dodi sholat lagi” Adi berkata pada Johan, “Dodi berdo’a lama sekali. Tiba-tiba saja dia ngebet pulang, mau nengok ibunya.”

Johan mengisap rokoknya dalam-dalam, memandang Adi dan mengeluarkan asap dari hidung dan mulutnya. Dia berkata, “Ibu Dodi sudah lama meninggal.”

“Sial.”

Mereka terdiam sebentar. Johan mengeluarkan gitar barunya, mengalungkan talinya di leher dan mulai memetik senarnya. “Aku pernah janji mengajarinya lagu-lagunya Beatles” kata Johan sambil menyetem gitarnya

“Kau bisa ajari aku”

Dia tersenyum, lalu bertanya pada Adi apakah mereka ditakdirkan bersama untuk menyusuri jalan ini, menjadi anak-anak jalanan? Adi menjawab, “Aku hanya ingin pulang.”

***

 

Epilog

Saat itu bulan Juni 2002, jatuh pada liburan sekolah. Adi merencanakan untuk menyerahkan surat dan beberapa barang milik Toto pada keluarganya sekaligus memperkenalkan diri. Dia berangkat dari stasiun Gambir, membawa sedikit bekal dan beberapa oleh-oleh untuk keluarga Toto. Kereta berangkat pukul sembilan, bergerak perlahan dan tidak berapa lama berhenti di stasiun Jatinegara. Di jalur lain, sekelompok anak-anak pengamen berlompatan ke atas kereta rel listrik, berlarian ke arah jalanan. Mereka terlihat bahagia, tanpa beban pikiran, hanya bernyanyi dan bersenang-senang. Tapi, mereka hanya anak-anak.

Adi tiba di stasiun tujuan sebelum subuh. Tidur sebentar dan bangun jam enam ketika terdengar suara kereta. Dia membaca lagi alamat rumah Toto setelah turun dari kereta, bertanya pada seorang pedangang buah. Pedagang buah itu menunjukkan letak kampungnya dan menyarankan untuk bertanya lagi setibanya sana.

Dia melewati jalan menanjak, berhenti di sebuah pasar untuk membeli sarapan dan bertanya pada penjualnya. Penjual kue itu mengatakan bahwa rumah Toto tidak jauh lagi dan kenal dengan Toto. Adi menolak ketika penjual kue itu ingin mengantarnya.

Matahari semakin meninggi, orang-orang bergegas pergi ke tempat kerja, serombongan anak bersepeda tampak ceria menuju sekolahnya. Dia berhenti di depan mushola yang disebut penjual kue tadi, mengeluarkan botol minumannya dan minum beberapa teguk. Tiba-tiba seseorang menepuknya dari belakang, setengah mengejutkannya dan benar-benar membuatnya terkejut ketika melihat Toto yang melakukannya.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>