Adakah Pengaruh Pilkada DKI Jakarta bagi Kota Bekasi?

Hasil hitung cepat Pilkada DKI Jakarta memperlihatkan pasangan Jokowi-Basuki yang diusung PDIP dan Gerindra memimpin di tempat pertama dengan perolehan 42,59 %. Jumlah tersebut mengungguli pasangan incumbent Foke-Nara dari Partai Demokrat yang memperoleh 34,32 %. Sementara pasangan Nur Hidayat-Didik yang diajukan PKS dan PAN hanya memperoleh suara 11,40 %.   

Perolehan tersebut, meski masih sementara disambut suka cita, bukan saja oleh warga pemilih di Jakarta tetapi juga masyarakat di luar Jakarta, termasuk di kota Bekasi. Tidak lama setelah hasil hitung cepat diumumkan, seorang rekan saya yang sudah mendeklarasikan diri sebagai calon wali kota Bekasi 2013 langsung mengirimkan foto dirinya tengah mengenakan baju kotak-kotak ciri khas Jokowi ke group BBM seraya memberikan komentar “No. 3 baik untuk Jakarta baik juga untuk Bekasi”.

Tapi benarkah no. 3 baik untuk Jakarta baik juga untuk Bekasi?

Kalau teman saya yang calon walikota yang mengatakannya, wajar-wajar saja karena ia berasal dari partai yang sama dengan partai yang mengusung Jokowi-Ahok. Tentu saja ia berharap tuah partai pengusung akan berimbas pada dirinya saat pilkada kota Bekasi mendatang.  

Tapi kota Jakarta jelas berbeda dengan kota Bekasi. Dari segi luas wilayah dan jumlah penduduk saja, kota Bekasi hanya seperempat Jakarta. Dan seperti halnya kota-kota yang berbatasan langsung dengan Jakarta seperti Bogor dan Tangerang, maka kota Bekasi pun hanya merupakan kota penyanggah bagi Jakarta. Kota Bekasi bukanlah kota yang benar-benar mandiri yang tidak bergantung pada Jakarta. Lihat saja, mungkin separuh dari warga kota Bekasi mencari nafkah di Jakarta.  Dan mereka yang mendapatkan nafkahnya di Jakarta menjadikan kota Bekasi sebagai tempat singgah karena ketidakmampuan hidup di Jakarta.

Karena menjadikan kota Bekasi sebagai tempat singgah, menurut keterangan seorang rekan yang kandidat Doktor Komunikasi Massa, tidak heran jika warga Bekasi tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi di kotanya. Sejauh kebutuhan dasar yang terkait tempat tinggalnya terpenuhi, misalnya tersedia akses jalan ke perumahannya dan wilayahnya tidak terkena banjir, maka warga tdak akan banyak komentar.

Jarang terdengar komentar nyaring warga kota Bekasi yang mengeluhkan, misalnya mengenai tidak adanya transportasi umum dalam kota yang memadai dan nyaman. Padahal seperti halnya problematika perkotaan, trasnportasi umum jadi salah satu kunci mengurai permasalahan kota.  Kalau tidak ditata dari sekarang, kota Bekasi mungkin akan lebih semrawut dari Jakarta.

Selain masalah transportasi umum, masalah lain misalnya kurangnya infrastruktur jalan raya yang dapat menyebabkan kemacetan, banjir, fasilitas kesehatan, sekolah, taman umum dan sebagainya.

Dan persoalan-persoalan di atas menjadi isu sentral dalam kampanye setiap calon gubernur DKI Jakarta. Kekurangberhasilan Foke selama memimpin Jakarta, seperti menangani kemacetan dan banjir, menjadi amunisi  bagus untuk melengserkannya. Masyarakat pemilih tidak peduli dengan keberhasilan yang telah dicapai Foke, yang penting terjadi perubahan terlebih dahulu.

Didukung tim sukses yang piawai memainkan isu-isu populis di jejaring sosial dan menampilkan simbol-simbol yang mudah dicerna masyarakat seperti pemilihan baju kotak-kotak serta terjun langsung ke masyarakat, Jokowi bisa melenggang dengan jauh lebih percaya diri di pilkada DKI Jakarta.

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa keberhasilan Jokowi juga karena didukung dua partai yang solid yaitu PDIP dan Gerindra. Tanpa menapikkan peran partai, saya justru melihat bahwa peran partai saat ini tidak terlalu signifikan dalam mendukung keberhasilan seorang calon. Buktinya,  Hidayat Nur Wahid, meski didukung penuh PKS dan afiliasi PAN, jumlah suaranya justru jeblok, jauh dibawah perkiraan mereka. Sementara Alex Nordin yang didukung Golkar terpaksa mesti menyanyikan lagu “ke Palembang aku kan kembali … walau apapun yang kan terjadi”. Ironisnya, Alex justru kalah dari pasangan independen Faisal Basri-Biem Benyamin.

Dan kembali ke pertanyaan saya “Benarkah no. 3 baik untuk Jakarta baik juga untuk Bekasi?” atau seperti judul tulisan saya “Adakah Pengaruh Pilkada DKI Jakarta bagi Kota Bekasi?”, jawabannya bisa IYA, bisa juga TIDAK.

IYA, jika isu perubahan di Jakarta berhembus pula di kota Bekasi. Tapi isu perubahan tidak lah cukup jika tidak disertai perencanaan dan program yang baik serta visioner. Kalau sekedar perubahan, dalam rangka HUT ke-3 BeBlog, BeBlog pun mengusung semangat perubahan. Lihat saja tema yang bakal diusung Panitia HUT ke-3 Beblog “3 tahun BeBlog, Semangat Kebersamaan dalam Harmoni Perubahan“. Tapi apakah semangat perubahan tersebut kemudian diikuti dengan tindakan nyata, misalnya lebih semangat menuliskan gagasan dan berbagi informasi informasi lewat blog.  

Akhirnya, kalau saya disuruh memilih mengenai siapa yang mesti dipilih sebagai walikota Bekasi 5 tahun mendatang, maka saya akan memilih calon walikota yang memiliki program kerja pembangunan yang hasilnya bisa terlihat dan dirasakan langsung masyarakat. Tentu saja bukan sekedar program pembangunan di atas kertas, tapi program yang terencana dan terukur pencapaiannya serta akuntabel. Saya tidak akan melihat apakah si calon merupakan incumbent yang didukung Golkar atau calon yang didukung PDIP, PKS, PAN, Gerindra dan partai-partai lainnya.

Bagaimana menurut anda?

3 thoughts on “Adakah Pengaruh Pilkada DKI Jakarta bagi Kota Bekasi?”

  1. siapapun gubernurnya tetep saya dukung karena suara saya tidak berpengaruh kepada siapa-siapa

    apapun temanya beblog tetep saya dukung karena saya “lahir dan besar” disana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>