Sejarah Panjang Bekasi (II)

  

 

 Awal Perkembangan Islam di Bekasi

 

Perkembangan islam di Bekasi dapat dilacak dari salah satu keberadaan mesjid yang berlokasi di jalan Pekayon

 

Tidak banyak disangkal kalau dikatakan bahwa Bekasi adalah sub dari budaya Betawi. Salah satu ciri dominan dari budaya Betawi selain kehidupan jawara adalah ketaatan terhadap ajaran Islam. Pertanyaannya kemudian adalah, kapan Islam mulai berkembang di Bekasi ? 

Pengaruh Islam di Bekasi terjadi seiring dengan direbutnya benteng pertahanan Sunda Kelapa dari tangan Kerajaan Pajajaran oleh pasukan yang dipimpin oleh pangeran  Fatahilah, sekitar tahun 1527. Kemenangan pasukan Fatahilah membuka ruang bagi perkembangan agama Islam di bekas wilayah Kerajaan Pajajaran, termasuk ke wilayah Bekasi. 

Penyebaran agama Islam dilakukan oleh para pengikut Fatahillah yang berasal dari  keturunan Sultan Abdul Fatah dari Banten. Karena itu, kehidupan agama memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap seluruh aspek kehidupan orang Bekasi tempo dulu. 

Menurut penuturan para orang tua, sampai tahun 70-an, pendidikan anak-anak muda sangat dominan di mesjid-mesjid atau surau. Perubahan yang drastis mulai terjadi ketika Bekasi dicanangkan sebagai daerah industri sekitar tahun 80-an. Mulai saat itu, kehidupan agama tidak lagi mendominasi siklus kehidupan sehari-hari orang Bekasi. Siklus itu digantikan oleh hiruk pikuk mesin-mesin pabrik sampai sekarang ini. Budaya urban dan industri menjadi ciri khas Bekasi saat ini. 

Mataram, VOC dan Tuan Tanah 

Sejak kapan budaya Jawa atau budaya mataraman muncul dalam masyarakat Bekasi ? Apa bukti-bukti yang menguatkan adanya budaya Mataram terhadap kehidupan masyarakat Bekasi ? 

Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi basis perkembangan VOC (www.flickr.com)

 

Pengaruh  Mataram muncul seiring dengan menguatnya VOC (Verenigde Oost-indische Compagnie), sebuah kongsi perdagangan Belanda, di wilayah Batavia. Cengkraman kekuasaan VOC yang licik dan keji mendorong pasukan Mataram benteng pertahanan VOC di Batavia yang dijadikan sebagai pusat perluasan kekuasaan VOC ke berbagai daerah di Indonesia. 

Upaya menguasai kedudukan VOC mulai dijalankan dengan mengepung  Kota Batavia dari berbagai penjuru (sebelah Timur, Selatan dan Barat), sehingga menutup pintu keluar bagi VOC. Walaupun mendapat serangan yang bertubi-tubi, ternyata VOC berhasil mempertahankan daerah  Batavia dan memukul mundur pasukan Mataram.  

Akan tetapi, karena adanya ultimatum dari  Sultan Agung yang mengancam “akan membunuh seluruh pasukan yang gagal melakukan penyerangan bila kembali ke Mataram”, sisa pasukan Mataram memilih untuk tidak kembali dan menetap di sekitar wilayah Bekasi dan Karawang. Mereka  membangun perkampungan baru dan berbaur dengan masyarakat asli, terutama di sekitar daerah pantai dan di pedalaman seperti di Pekopen, Pondok Rangon, Tambun dan lain-lain (Kartodirdjo, 1987: 138). 

Ada cerita yang menarik dari keberadaan pasukan Mataram di Bekasi, yaitu keberadaan daerah yang bernama Babelan. Ada dua versi cerita. Pertama, merujuk pada seorang tuan tanah yang bersala dari etnis Cina, yang bernama Babe Lan. Kedua, nama Babelan juga dapat ditemukan di daerah Karawang, Cirebon, Tegal dll. Daerah-faerah tersebut menjadi jalur distribusi pasukan Mataram. Nama Babelan adalah semacam base camp  sementara pasukan Mataram. Saya cenderung memilih versi kedua yang memiliki keterkaitan sangat kuat dengan pasukan Mataram. Inilah salah satu peninggalan Mataram di Bekasi. 

Walaupun berhasil memukul mundur pasukan Mataram, kekuatan VOC di daerah pedalaman justru semakin lemah, karena   sering diganggu oleh sisa pasukan Mataram dan Banten yang melakukan strategi perang gerilya. Untuk mempertahankan wilayahnya, VOC mendekati para tokoh dan jagoan (jawara) dengan memberikan hadiah berupa tanah atau menjualnya dengan harga yang sangat murah. Namun dalam praktek, penguasaan tanah lebih didominasi oleh orang Eropa dan etnis Cina. 

Sejak itu mulai dikenal istilah “tanah partikelir”, di mana para tuan tanah memiliki kekuasaan mutlak atas tanah yang dikuasainya, bahkan memiliki kekuasaan seperti pemerintahan. Konon  luasan tanah yang dikuasai hampir sama dengan luas satu kecamatan atau beberapa desa seperti sekarang ini. 

Mungkin seperti ini lah gambaran demang atau mandor tempo dulu (www.flickr.com)

 

Dampak penguasaan tanah oleh segelintir  orang terhadap rakyat Bekasi sangat lah besar, apalagi rata-rata mata pencaharian mereka adalah petani. Penderitaan besar harus ditanggung oleh rakyat Bekasi dengan terpaksa menjadi buruh tani, karena tanahnya dipaksa atau dijual dengan harga murah kepada para tuan tanah. Untuk mengontrol kekuasaan atas tanahnya, kemudian diangkat mandor dan demang yang bekerja untuk mengawasi rakyat yang menjadi buruh tani di lahan milik para tuan tanah. 

Peninggalan sejarah penguasaan tanah bisa dilacak dari keberadaan gedung yang sekarang ini dikenal dengan Gedung Juang Bekasi. Pemilik awal gedung ini adalah Kouw Oen Huy  (digelari Kapitaen), yang menguasai tanah-tanah  di daerah Tambun, Teluk Pucung dan Cakung, juga memiliki perkebunan karet yang sangat luas. Konon, Bekasi dulu adalah areal perkebunan yang sangat luas dan subur. Sampai tahun 1970-an areal perkebunan tersebar mulai dari Pondok Gede. Cerita tentang Gedung Juang akan saya sambung secara lengkap dalam tulisan berikutnya. 

Ketika perang kemerdekaan, gedung bekas tuan tanah Huy menjadi basis perjuangan rakyat Bekasi dalam melawan penindasan penjajah Belanda. Karena itu kemudian dinamakan Gedung Juang. Kondisinya saat ini, sama seperti gedung-gedung di berbagai daerah yang tidak lagi diperdulikan keberadaannya oleh pemerintah. Naas benerrrrr ! 

Betulkah tanah-tanah di Bekasi dikuasai oleh para tuan tanah ? Keberadaan para tuan tanah dapat dilacak sampai sekarang ini. Bedanya dengan tuan tanah tempo dulu, para tuan tanah era 80-an menguasainya untuk dijual kembali ke para kapitalis melayu. Sejak saat itu, mulai lah Bekasi dikenal sebagai daerah industri terluas di Asia Tenggara. 

Banyak cerita memilukan dalam proses alih kepemilikan tanah ini dari rakyat ke para juragan tanah. Kisahnya mirip dengan para tuan tanah zaman VOC dulu. Membeli dengan harga sangat murah dan menjualnya dengan harga berlipat-lipat. Tahun 80-an Bekasi dikenal dengan kedidjayaan para calo tanah yang berkeliaran sampai pelosok daernya yang bertebaran di mana-mana.   

Mungkin seperti ini gambaran perkebunan karet Bekasi tempo dulu (www.flickr.com)

 

Apa benar Bekasi daerah perkebunan ? Mungkin itulah pertanyaan kebanyakan warga urban Bekasi yang terheran-heran karena melihat tidak ada bekas perkebunan di Bekasi secuil pun. Masih ingat dengan film “G-30-SPKI” yang dulu sering diputar TVRI setiap bulan september ? Pelem ini menceritakan kekejian PKI terhadap para jenderal yang dikubur di perkebunan karet sekitar daerah Pondok Gede (tepatnya di daerah Lubang Buaya). Gambaran seperti dalam pelem itu lah Bekasi Tempo Dulu, yang masih rimbun dengan berbagai pohon. 

Kondisi seperti zaman dulu itu lah yang ingin dikembalikan lagi oleh pasangan M2R dengan rajin menanam pohon di berbagai kesempatan. Semoga cita-cita mulia seperti ini dapat diwujudkan dalam waktu dekat. Bekasi hijau, itu lah angan-angan sebagai warga yang selalu gerah dan panas kalau jalan-jalan di kota Bekasi. Semoga !

4 thoughts on “Sejarah Panjang Bekasi (II)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>