Rekan Seperjuangan

Beberapa hari yang lalu, salah satu sahabat wanita saya menyapa di bbm. Singkat cerita kami janjian untuk bertemu sekalian menjenguk suami salah satu teman kami yang sedang di rawat di salah satu RS di Bekasi. Saat melihatnya pertama kali, saya tahu kalau sahabat saya ini perasaannya sedang tidak begitu nyaman. Wajahnya sedikit pucat, matanya sembab dan kelelahan terbayang jelas di wajahnya yang ramah.

Akhirnya sepanjang jalan lalu disambung makan siang bareng, dia bercerita. Sudah lama saya tahu kalau ibu tercinta dari sahabat saya ini sedang sakit, beliau sedang berjuang melawan kanker payudara yang sudah bermetastasis ke paru-parunya.

Meski sahabat saya menceritakannya dengan tampak ringan, saya tahu pasti dan matanya yang sembab menjadi bukti bahwa dia sangat terpukul dan khawatir. Kelelahan jiwa dan raga, bukan hanya emosi yang terkuras, ketakutan akan kehilangan, bahkan finansial yang tidak sedikit untuk terus mengupayakan kesembuhan bagi ibu tercinta. Posisinya saat ini jelas tidak mudah, bahkan bagi keluarga pasien penyakit ini mengubah banyak hal. Jika seorang pasien berjuang melawan sakit dan gejolak emosi, kesedihan yang tidak kurang juga menyertai para pendukung atau keluarga pasien.

Dibalik ketabahan seorang pasien ada pasukan lain yang berperan besar bagi kesembuhannya, yaitu keluarga dan orang-orang yang menyayanginya. Ada beberapa tips yang ingin saya bagi sebagai seorang penyintas untuk mereka yang sedang mendampingi orang-orang terkasih, kerabat atau sahabat yang sedang berjuang melawan Kanker.

Keluarga 
Menjadi orang-orang terdekat bagi pasien kanker jelas bukanlah hal yang mudah, seperti yang pernah saya tulis vonis kanker bukan hanya mengubah hidup seseorang 360 derajat tapi juga mereka yang mencintainya. Sikap hati dan tanggung jawab keluarga sangat memiliki dampak besar dalam menghadapi peperangan si pasien. Kita tahu bahwa stress kronik, kegelisahan, ketakutan, putus asa dan suasana hati tidak nyaman akan memperparah pertumbuhan sel kanker itu sendiri. Ciptakan suasana nyaman dalam keluarga, perlihatkan bentuk suport dengan sama-sama mengubah hal-hal mendasar seperti gaya hidup, pola makan untuk mendukungnya. Ikut mencari informasi mengenai penyakit kanker dan pengobatan supaya tahu apa yang sedang dihadapi, dampingi setiap proses yang akan dilalui dalam upaya penyembuhan. Jaga semangat dan emosinya, dukung usaha-usahanya dengan memberinya keyakinan bahwa ini bukan hanya perangnya seorang diri tapi perang bagi seluruh keluarga yang menyayanginya. Pahami perubahan emosinya yang kadang tidak stabil dan kadang sulit kita pahami. Hindari menunjukan emosi berlebihan dan kelelahan mendampinginya, itu akan membuat si pasien merasa sudah menjadi beban, dan mengikis semangatnya untuk bertahan. Lengkapi dengan humor, dan jangan perlakukan dia seperti pesakitan yang harus dicereweti setiap waktu. Percayalah hari-harinya sudah cukup berat.

Teman-teman/Sahabat
Menjadi seorang pasien Kanker mungkin akan membuat seseorang kehilangan banyak waktu untuk bertemu dan bercengkrama dengan teman-teman dan sahabat. Tapi bukan berarti dia tidak membutuhkan keberadaan lingkungan sosialnya. Seorang pasien Kanker membutuhkan dukungan semangat berupa harapan. Membuatnya terkucil dan merasa seorang diri akan memadamkan api semangat dan harapan hidupnya. Akan membuatnya merasa menjadi seseorang yang ‘ akan pergi ‘
Tetap terlibat dan terus menjadi bagian dari hubungan pertemanan akan membangkitkan semangatnya. Berada dilingkungan mereka yang sehat akan membuatnya terus berupaya untuk menjadi sehat. Tanyakan kabarnya, ajak bicara untuk memberinya kesempatan mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan. Tapi pahami jika ternyata dia memilih sedang ingin sendiri, beri waktu.
Doakan bagi kesembuhannya, dengan mengetahui kita mendoakan akan memberinya harapan hidup lebih baik. Mintakan untuknya…percayalah mungkin saja doa tulus dari beberapa orang yang perduli itu yang akan didengar oleh Tuhan.
Menjadi Pasien kanker tidak lantas membuatnya kehilangan kewajibannya terhadap kehidupan, seperti tugas-tugasnya terhadap pekerjaan atau kewajibannya di rumah. Ambil bebannya, dengan menawarkan pertolongan dan jangan menunggu untuk di minta.
Pastikan kita ada dan terus mensuportnya meski tidak berada dalam lingkar terdekat hidupnya, kirimkan kartu atau catatan pribadi untuk memberinya semangat. Saat saya didiagnosa mengidap kanker, saya kehilangan begitu banyak harapan. Saya mencari informasi dan pengalaman orang-orang yang berjuang dan tersembuhkan dari berbagai buku. Maka kirimkan buku-buku yang membantunya menemukan harapan kembali. Pesan positif yang di baca akan sampai dengan mudah ke dalam hatinya, percayalah.
Penyakit kanker bukan hanya penyakit yang mematikan, tapi juga penyakit mahal yang membutuhkan kecukupan finansial. Sangat memprihatinkan jika ada seseorang yang harus mengalami penyakit ini dan tidak memiliki perlindungan asuransi kesehatan yang baik. Kirimkan bantuan uang sesuai kemampuan untuk membantu sedikit beban pengobatannya. Dan suport yang tidak akan pernah saya lupakan saat menjalani peperangan saya adalah pesan non verbal yang diberikan mereka yang mengasihi saya. Genggaman tangan yang hangat, sentuhan halus, rangkulan, dan pelukan erat. Lakukan itu dengan sepenuh hati, maka pesan itu akan sampai ke hatinya dan membantunya melewati banyak proses menyakitkan dan penantiannya dalam mencapai kemenangan.

Kondisi mental penderita dan kerjasam psikologi dari keluarga serta lingkungan memainkan
peran penting dlm restorasi tubuh. Setiap pasien membutuhkan kesetiaan,
kasih,harapan, dan semangat.
- Max Gerson, M.D РA Cancer Theraphy 
Untuk Sahabat saya terkasih dan siapapun yang sedang menjadi rekan seperjuangan seorang pasien, untuk kalian catatan ini dituliskan. 
~ Irma Senja ~

7 thoughts on “Rekan Seperjuangan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>