Menjadi Guru di Zaman Edan

Semoga kita semua dalam keadaan sehat. Baik lahir maupun batin. Dengan begitu kita bisa menyehatkan orang lain. Apalagi bila anda berprofesi sebagai seorang guru. Anda perlu memiliki kesehatan tubuh yang prima. Di zaman edan seperti saat ini, kesehatan lahir maupun batin harus terjaga dengan baik.

 

13832734187474547
Menjadi Guru di Zaman Edan

 

Menjadi guru di zaman edan memang butuh perjuangan. Perjuangan dari dalam diri maupun perjuangan melawan orang lain. Marilah sekarang kita saling bergandengan tangan untuk mendidik murid atau siswa dengan sepenuh hati. Tak perlu lagi saling menyalahkan, dan mari kita mencari solusi yang terbaik.Tanggung jawab kita bersama-sama untuk menyelesaikannya. Mari, sudah saatnya kita kembalikan ruh pendidikan kepada rel yang benar. Pendidikan yang lebih mengutamakan pembentukan akhlak anak, dan bukan pendidikan yang hanya mengedepankan kognitif saja. Anak harus dididik bukan hanya cerdas otak, tetapi juga cerdas watak.

 

Mari kita simak berita dari detik.com dengan judul “Duh! Ada 10 Siswa SMP yang Terlibat Syuting Video Porno”. Sebagai seorang guru sekaligus pendidik, tentu saya sedih membaca berita ini. Miris rasanya melihat kenyataan itu. Tentu harus dicarikan solusi yang jitu agar murid atau anak didik kita tak menjadi seperti itu. Moral mereka sangat bejat dan nampak sekali pendidikan agama dan karakter tak tersentuh dalam hati mereka. Perlu kerja keras guru mengantarkan mereka menjadi orang yang bertakwa.

 

Lebih menyedihkan lagi ketika membaca berita di okezone.com dengan judul “Siswi SMP di Tasikmalaya Diperkosa Temannya Beramai-ramai”. Saya menangis dalam kesedihan yang mendalam. Sebagai seorang guru saya dan teman-teman guru lainnya harus berjuang agar peserta didik kami menjadi orang yang berilmu pengetahuan dan berkarakter. Mereka harus berprestasi tinggi. Keimanan dan ketakwaan (imtak) harus seiring sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

 

Mereka para generasi penerus bangsa tak boleh menjadi orang edan. Apa itu orang edan? Orang yang berkelakuan bejat dan menjadi laknat bagi semua. Seharusnya mereka harus menjadi rahmat dan sehat rohani serta jasmani. Di zaman global seperti ini, perlu guru yang siap jadi pemandu, dan mampu menjadi tauladan bagi mereka. Keteladanan jauh lebih berbekas ketimbang lisan atau ucapan. Negeri ini memerlukan banyak guru yang mampu memberikan keteladanan. Satu kata antara perkataan dan perbuatan.

 

 

Negara kita tak mungkin terlepas dari era global. Itu berarti Informasi dalam era global sangat terbuka , jiwa kita belum siap. Anak-anak kita belum siap menerimanya bila tak ada pemandunya. Perlu banyak orang tua dan guru yang mampu menjadi pemandu. Seorang teman memberikan komentar di facebook. “Kejadian seperti ini sebenarnya sudah sering terjadi dari jaman saya ketika sekolah di smp kira-kira 2004-2007″. Saya hanya bisa mengucapkan “Astaghfirullah”. Saya memohon ampun kepada Allah.

Seorang rekan guru berkomentar, “guru di zaman edan, murid edan, maka gurunya harus lebih “edan” (baca: Jangan jadi guru yang biasa-biasa seperti kebanyakan guru lainnya)”. Guru harus mampu kreatif dalam berkomunikasi dengan peserta didiknya. Guru harus mengenal karakter siswanya masing-masing.
Dalam diam saya mengaminkan. Jadilah guru yang tidak biasa. Jadilah guru yang luar biasa! Jadilah guru dengan melakukan hal-hal baru dalam berinteraksi dengan peserta didik kita. Jadilah guru yang tak bermental pengeluh, dan jadilah guru tangguh berhati cahaya. Jika semua sepakat bekerja dengan niat yang baik dan ikhlas, Insya Allloh selamatlah negeri ini.
Mari selamatkan pelajar dan remaja kita yang beragama Islam dengan Kitab Suci (Al-Qur’an). Dekatkan mereka pada kitab sucinya, dan bimbing mereka kembali ke jalan yang benar sesuai dengan ajaran nabinya. Begitu juga dengan penganut agama lainnya. Saya yakin mereka membutuhkan pemandu yang mampu memberikan keteladanan dan kepemimpinan. Guru sekarang harus mampu menjadi pemimpin, motivator, evaluator, dan konselor bagi peserta didiknya. Mari mendidik dengan hati. Mari mendidik dengan pikiran jernih, dan disertai zikir kepada Allah. Bila digabungkan dari hati+pikir+zikir, dan strategi pasti dalam kepastian tertuju ke arah kebenaran. Memang sulit banget implementasinya, tapi bisa!
Menurut Ahmad Jauhari, Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi hal di atas adalah:
Pertama, fakta di atas terjadi, salah satunya, ‘control sosial’ sudah mulai melemah.  Dari dulu, di kampung-kampung, control sosial masih kuat, oleh sebab jenis pekerjaan masih seragam. Hmm tampaknya kini tak mungkin lagi.

 

Kedua, Ujung pertama dan tombak utama anak adalah kedua orang tua. Sebetulnya, hal yang pertama patut untuk ditunjuk ‘hidung’ dalam problem di atas (sex bebas remaja) adalah melemahnya kasih-sayang orang tua terhadap anaknya. Pendidikan dalam keluarga mulai melemah.

Solusinya, tampaknya hal yang pertama adalah soal mendidik para calon orang tua, dan orang yang sudah menjadi orang tua, sebab masalah ini apa pada problem kebudayaan kita, yang terggelam oleh budaya hedonisme, materialisme, dan seterusnya. Hal yang persisnya budaya kedagingan dan materialistis. Hal ini yang dikejar orang sekarang. jadi memang pendidikan yang memungkinkan seorang individu yang bisa menjadi diri sendiri, yang harus terus menerus di upayakan.

 

Menjadi guru di zaman edan memang memerlukan kreativitas tersendiri. Gunakan cara-cara baru sebab anakmu hidup dalam alam mereka. Ajak dialog dan teruslah berkomunikasi seperti layaknya seorang sahabat yang curhat kepada temannya. Semoga kasus-kasus negatif tentang murid atau siswa tak banyak terdengar dan terbaca lagi di media arus utama. Mungkinkah?

13832739231919393570

Salam Blogger Persahabatan
Omjay

9 thoughts on “Menjadi Guru di Zaman Edan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>