17 Tahun Titik Awal Menuju Kota Layak Huni

Stadion bekasiBila dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya, Kota Bekasi masih tergolong belia. Umumnya kota-kota besar di Indonesia sudah memasuki angka ratusan tahun. Usia 17 tahun masih tergolong relatif muda.

Bila dianalogikan dengan usia manusia, 17 tahun sering disebut Sweet Seventeen. Usia yang penuh keindahan, energik dan warna-warni impian-impian besar. Usia peralihan dari masa remaja menuju dewasa atau menuju kematangan.

Kota yang sedang dalam peralihan dari usia ‘remaja’ menuju ‘kedewasaan’ pasti menemui berbagai problematika perkotaan antara lain penanggulangan banjir, infrastruktur jalan, drainase dan sarana perkotaan lainnya.

Pemerintah Kota Bekasi tidak pernah menutup mata terhadap persoalan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan infrastruktur. Pemerintah Kota Bekasi melihat persoalan tersebut sebagai tantangan dalam memajukan kota ini.

Pemerintah Kota Bekasi tetap dalam semangat dan komitmen untuk membawa kota ini pada kemajuan, kesejahteraan dan kehidupan sosial yang harmonis.

15 tahun pertama Pemerintahan Kota Bekasi menjadi era konsolidasi tata kelola dan budaya pemerintahan. Sejak ditetapkan berdirinya Pemerintah Kota Bekasi maka butuh waktu untuk melakukan konsolidasi dalam penataan birokrasi dan pemerintahan.

15 tahun pertama merupakan babak penguatan pondasi Pemerintahan Kota Bekasi.
Usia 15 hingga 30 tahun adalah era pertumbuhan dan perkembangan. Pada era perkembangan ini Kota Bekasi diharapkan mampu mengatasi berbagai persoalan akibat dampak dari laju pembangunan. Efek pertumbuhan dan pembangunan bisa menjadi persoalan dari sisi tata kota, kenyamanan dan infrastruktur. Semua efek pembangunan tersebut harus menjadi bagian integral dalam pembangunan yang bersifat jangka panjang dan komprehensif. Jangan sampai terjadi pembangunan pada sektor tertentu namun mengakibatkan persoalan di sektor yang lain.

Jika dampak negatif pembangunan lebih besar daripada dampak positif maka ada persoalan serius dari pelaksanaan dan konsepsi pembangunan. Karena hakikat pembangunan perkotaan adalah untuk menciptakan kota yang nyaman untuk ditinggali. Apapun jenis dan di sektor apapun, pembangunan harus berorientasi pada kenyamanan kota untuk ditinggali.

Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) menyebutkan sembilan indikator kenyamanan sebuah kota. Setiap tahun IAP menggunakan 9 indikator dalam mengukur kenyamanan sebuah kota di Indonesia. Sembilan indikator tersebut adalah tata ruang, lingkungan, transportasi, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, infrastruktur, ekonomi, keamanan dan kondisi sosial. Tentu kita sudah bisa merasakan sejauh mana kenyamanan Kota Bekasi saat ini.

Saya berharap persepsi kenyamanan Kota Bekasi untuk ditinggali bisa kita perbaiki menjadi lebih baik. Apapun persepsi kita tentang kenyamanan Kota Bekasi untuk ditinggali menjadi pijakan bagi kita untuk meraih peredikat ‘The Most Liveable City’ atau Kota Layak Huni yang dikeluarkan IAP setiap tahunnya.

Tentu untuk mewujudkan Kota Layak Huni bukanlah perkara mudah. Namun naya berkeyakinan, dengan kerja keras semua pihak dan kebersamaan di antara elemen masyarakat Kota Bekasi, saya yakin suatu saat kita bisa meraih ‘Kota Layak.Huni’.

Hal dasar yang perlu dipertajam adalah semangat untuk menghadirkan Kota Layak Huni. Hal tersebut tak akan terwujud tanpa melibatkan semua komponen masyarakat Kota Bekasi. Masyarakat dan pemerintah kota harus berada pada frekuensi yang sama untuk menjadikan Kota Bekasi sebagai ‘Kota Layak Huni’. Hal ini harus menjadi cita-cita dan mimpi bersama semua komponen Kota Bekasi.

Usia sweet seventeen Kota Bekasi menjadi momentum yang indah menyemai mimpi-mimpi besar kita untuk mewujudkan ‘Kota Layak Huni’, Semoga bisa terwujud. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>