Kenali Kondisi Mesin Kendaraan dari Kondisi Fisik Busi

Busi bisa dibilang nyawa dari suatu mesin kendaraan bermotor. Ni “mahluk” fungsinya buat ngehasilin percikan api yang digunain mesin untuk ngebakar campuran bahan bakar dan udara di dalam dapur pacu. Kebayang kan?? berarti busi juga punya peranan penting.

Nah di artikel ini gw bakal nginformasiin satu lagi kegunaan mahluk bernama busi. Yaitu buat mengetahui gimana kondisi mesin kita, sehat wal afiat kah? ato mungkin ada settingan yg gak pas? Ato bahkan ni mesin diambang kehancuran.

Caranya adalah dengan melihat kondisi fisik elektroda dari busi yg kita pakai di mesin. Beda kondisi mesin, beda pula kondisi elektroda nya.

Berikut beberapa contoh kondisi fisik elektroda, penyebab dan cara penyelesaiannya.

Continue reading Kenali Kondisi Mesin Kendaraan dari Kondisi Fisik Busi

Pondok Gede I’m in Love

Tinggal dikota metropolitan yang padat dan rame, bukan berarti saya melupakan akar budaya saya (halah apa sih bahasanya). Biarpun di Jakarta mal dan tempat-tempat shopping keren bejibun, tapi tetep ajah, tempat belanja favorit saya dan keluarga tak lain dan tak bukan adalah Plasa Pondok Gede alias Mol Pondok Gede!!!! Hihihi. Iya betul, mol pondok gede. Terletak di pondok gede lah, salah satu sudut kota bekasi yang padat.

Kenapa mol pondok gede?       pondok gede sekarang

Pertama, karena letaknya ga gitu jauh dari tempat tinggal saya, sekitar 3 kiloan, kedua harga barang yang ditawarkan masi terjangkau dengan kantong saya, dan ketiga saya ngerasa nyaman aja jalan-jalan di sana. Hampir setiap minggu saya berkunjung ke sana, ntah buat belanja, atau sekedar ngajak anak saya bermain. Betah aja berlama-lama disana. Jadi intinya sih pondok gede itu tempat hang out, tempat shopping, tempat main anak-anak, tempat kumpul sama keluarga dan teman, tempat pacaran juga pasti, hehehehheee. Iyaa, tempat pacaran, secara pertama kali saya jatuh cinta dan ngerasain deg-degan ya di mol pondok gede, tapi sayangnya tuh cinta sekarang udah ke laut..hehehehe…

Tempatnya sih biasa, ga keren, malah terkesan semerawut. Apa lagi kalo angkot udah pada ngetem di depan mol walah bikin spaneng deh mentok sana sini macet ga keru-keruan. Tapi ya tetep aja ga bikin saya kapok datang ke mol yang kata orang-orang ada penunggunya itu.

Ada penunggunya??? Iya loh katanya. Syerem juga kah??? Engga tuh… Alkisah di jaman dahulu kala, di sana terdapat pohon besar yang katanya ditungguin jin. Sampe akhirnya pemkot kota bekasi membangun mol disekitar situ. Sebenernya pasar pondok gede udah ada dari dulu, sedangkan mol pondok gede baru berdiri sekitar awal 90-an. Dalam proses pembangunan itu, katanya sih jin yang ada disana pada ga terima dan akhirnya jadi penunggu mol itu sampe sekarang. So, sejak dibangun sampe sekarang mol ini udah ngalamin beberapa kali kebakaran yang kata orang-orang karena si jin itu. Percaya ga percaya, namanya juga urban legend. Tapi hal itu ga membuat saya meninggalkan mol pondok gede. Tetap cinta mati sama mol pondok gede.

Sekarang udah banyak perkembangan. Malah sejak tahun lalu bangunan mol diperluas dan space kita buat belanja jadi makin lebar. Udah gitu ada juga playground dan bioskop (yang dulu sempet ilang karena kebakaran). Jadi anak saya juga betah berlama-lama disana, malah sering ga mo pulang kalo belom tutup.   Sayangnya pasar yang dulu ada disampng mol dipindah agak jauh dari mol. Jadi kalo mo belanja ke pasar tradisional jalannya agak jauh. Bangunan pasar lama yang di robohkan karena emang udah gak layak, saat ini sedang dibangun. Kayaknya semacam pasar modern yang jauh dari becek dan bau. Mudah-mudahan pembangunan pasar ini berjalan lancar dan cepet selesai dan pondok gede jadi pusat belaja yng uhuy buat warga bekasi dan pastinya warga Jakarta yang agak minggir ke bekasi seperti saya dan keluarga. Ciao ya pondok gede ku tercinta….

Menulis Artikel itu Gampang !

Sewaktu diundang ON AIR di radio 99,1 Delta FM bersama mas iskandar, salah seorang admin kompasiana, saya sempat sedikit merenung ketika mas iskandar mengatakan bahwa menulis adalah pekerjaan semua orang. Cukup lama juga saya menyimak pernyataan mas iskandar itu. Benarkah menulis adalah pekerjaan semua orang?

Continue reading Menulis Artikel itu Gampang !

20 Tahun Setia Menjaga Tradisi Kuliner Bekasi

Sudah menjadi hukum alam, setiap perkembangan suatu kota, termasuk Bekasi, tentu akan diiringi dengan semakin bergairahnya aktifitas ekonomi masyarakat di kota tersebut. Salah satunya adalah kegiatan ekonomi masyarakat di bidang kuliner. Bahkan kuliner seringkali menjadi bagian khas dari kota yang membedakannya dengan kota-kota lain. Namun sayangnya, seiring perkembangan jaman tidak selamanya pusat kuliner dapat dipertahankan dari waktu ke waktu. Hanya sedikit yang mungkin masih tetap bisa eksis mengikuti geliat perkembangan kota.
Read more…

Me-rebranding Kota Bekasi Sebagai Kota Patriot

Makna kata “Patriot” adalah pecinta/pembela tanah air, sedangkan makna kata “Patriotisme” adalah sikap seseorang yang bersedia mengorban segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya.


Di kehidupan modern saat ini tentunya kita tidaklah asing dengan istilah branding. Kita bisa melihat bagaimana branding yang kuat pada sebuah produk bisa begitu mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Branding merupakan suatu pencitraan yang dibuat untuk menegaskan keunggulan suatu produk. Sedangkan rebranding adalah suatu upaya yang dilakukan untuk memperbaiki citra buruk yang timbul karena faktor penyebab internal dan eksternal.

Kini strategi branding juga dapat diterapkan dalam membangun citra positif sebuah negara maupun kota untuk menarik minat wisatawan dan investor asing. Beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Gorontalo sudah menerapkan strategi branding a city. Sebagai contoh adalah kota Yogyakarta yang mendapat sebutan kota budaya. Kita bisa memastikan bahwa branding image atau citra yang ingin dimunculkan dari kota Yogyakarta adalah betapa kayanya kota ini akan budaya.  Jika kita berkunjung ke Yogyakarta akan jelas terlihat aktifitas budaya masyarakatnya yang mampu menghasilkan seniman-seniman kelas dunia. Selain itu kita juga dapat melihat bukti nyata adanya peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi semasa Kerajaan Mataram,maupun kesultanan Yogyakarta yang dirawat dengan baik hingga menjadi obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Bagaimana dengan kota Bekasi yang mendapat sebutan sebagai kota Patriot? Apakah keberadaan jiwa patriotisme itu terlihat jelas dalam keseharian masyarakatnya? Lalu, apakah bukti peninggalan-peninggalan bersejarah perjuangan rakyat Bekasi masih terawat dengan baik? Dan, apakah generasi muda di Bekasi tahu akan sejarah kota tercintanya? Jika ketiga pertanyaan tadi jawabnya adalah tidak, maka sebutan kota Bekasi sebagai kota Patriot menjadi tak bermakna. Ironisnya lagi, di media massa seringkali nama kota Bekasi kerap muncul dalam pemberitaan kasus-kasus kriminal mulai dari berita premanisme, pembunuhan, penculikan, narkoba sampai kasus korupsi. Menurut kutipan berita dari BekasiNews dikatakan bahwa jumlah kasus tindak kriminalitas di wilayah Bekasi masuk dalam kategori kuning atau waspada. Melihat munculnya berbagai citra negatif inilah dirasakan perlu adanya strategi me-rebranding Kota Bekasi sebagai Kota Patriot.

Strategi me-rebranding Kota Bekasi disini tentu bukan berarti mengganti sebutan kota Bekasi sebagai kota Patriot. Tetapi membuat perbaikan citra yang lebih positif dan lebih menegaskan keberadaan kota Bekasi sebagai kota Patriot. Bagaimana caranya? Sebelum membahas lebih lanjut, kita perlu tahu dahulu  apa makna kata dari “Patriot”. Menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia makna kata “Patriot” adalah pecinta/pembela tanah air, sedangkan makna kata “Patriotisme” adalah sikap seseorang yang bersedia mengorban segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya.

Berdasarkan pengertian tadi berarti sikap yang seharusnya ada dalam diri masyarakat Bekasi adalah sikap semangat cinta tanah air yang bisa diwujudkan dalam banyak hal. Contohnya bila ia seorang ibu maka sang ibu akan mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai kesantunan dan nilai-nilai cinta tanah air. Bila ia seorang pelajar maka ia akan senantiasa berprestasi dan menyumbangkan karya terbaiknya bagi kemajuan negri ini. Jika ia seorang pengusaha maka ia akan bekerja keras dan cerdas untuk memajukan usahanya serta mensejahterakan seluruh karyawannya. Dan bila ia seorang abdi negara maka ia akan bekerja profesional, bersungguh-sungguh melayani masyarakat dengan baik dan tidak melakukan tindakan KKN (Korupsi,Kolusi & Nepotisme).

Jejak peninggalan-peninggalan bersejarah masa perjuangan kemerdekaan yang ada di Bekasi pun seharusnya dirawat dengan baik sebagai wujud jiwa patriotisme. Karena sangatlah penting bagi cucu-cucu kita kelak mengetahui keberadaan sejarah perjuangan rakyat Bekasi. Untuk itulah Kota Bekasi sebagai kota Patriot perlu membangun sebuah musium sejarah kota Bekasi. Karena rasanya aneh sekali jika kota Bekasi diberi sebutan Kota Patriot tapi tidak ada musium sejarah yang dapat menyampaikan secara visual  seperti apa perjuangan rakyat Bekasi di kala itu. Diharapkan dengan adanya musium sejarah kota Bekasi dapat semakin memperbesar semangat cinta tanah air khususnya di kalangan generasi muda.

Pada saat ini generasi muda masih kurang begitu tertarik dengan kisah sejarah kotanya dan kisah pejuang-pejuang kemerdekaan dikotanya. Mereka lebih tertarik dengan kisah petualangan jagoan made in Hollywood seperti Spiderman atau jagoan made in Japan seperti Naruto. Padahal jika saja kita bisa mengemas kisah sejarah kota Bekasi dan kisah pejuang-pejuang Bekasi dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka pastilah mereka tertarik. Misalnya, kita bisa mencoba menuangkan kisah sejarah kota Bekasi dan kisah pejuang-pejuang kemerdekaan di Bekasi dalam bentuk media komik atau film animasi.

Dengan me-rebranding kota Bekasi sebagai kota Patriot maka kota Bekasi akan tampil sebagai Kota Patriot sesungguhnya. Sehingga aura jiwa patriotisme pun terlihat jelas dari keseharian masyarakat Bekasi dan dapat dirasakan oleh orang-orang luar Bekasi yang datang ke kota Bekasi.  Daya tarik unik inilah yang akan membawa lebih banyak orang dari dalam dan luar negri untuk mengenal lebih dekat kota Bekasi sebagai kota Patriot. (fit)

Jalan Lain Menuju Puncak

Klo biasanya ke Puncak naik mobil pribadi lewat jalan tol Jagorawi, sesekali coba deh ke Puncak dengan motor.

Jalur yang biasanya dipilih kalau naik motor adalah Jalan Raya Bogor, karena jalannya gampang, tinggal luruuuuuuuuuuuus aja sampe Baranang Siang langsung lanjut ke arah Ciawi-Gadog, bablas Puncak. Tapi kali ini, saya penasaran dengan “jalur motor” lain menuju Puncak, yaitu lewat Sentul-Gunung Geulis. Hmmmh, mumpung ada sisa libur sampe Minggu, gak ada salahnya kita coba rute itu.

Ditemenin sama sesama “gila jalan” Eko Setiawati, dari semalem udah nyiapin si Kanzen buat perjalanan ini. Malem dicuciin snow wash, pagi ganti oli dan nyetel rem yang udah mulai tipis kanvas nya. jam 11.15 kurang lebih waktu kita berdua memulai perjalanan. Start dari rumah Eko di Pd. Ranggon, Cibubur, lewatin rumah saya di Kranggan (penting banget disebut), trus Cikeas. Tadinya mo motong jalan lewat Nagrak tapi karena luping alias lupa-lupa inget sama jalurnya akhirnya kita mutusin lewat Cileungsi aja. Jalan alternatif Cibubur-Cileungsi padat sangat, libur panjang orang pada mo kemana sih (hehe, gak terima.com), motor aja sampe mepet di jalur kiri saking itu mobil dah bejubel. Sampe Cileungsi ambil arah Gunung Putri, macet dikit di perempatan (biasa deh, ada pasar berarti ada angkot ngetem).

Lewatin pasar, jalan lancaaaaaaarrrrrrr…selancar-lancarnya. Huumh, enak juga lewat sini. Sampe Citeureup ambil ke arah Sentul, kalo dari pertigaan pasar Citeureup ambil lurus (klo ke kanan arah Cibinong). Disepanjang jalan itu juga lancar banget. Berasa banget bedanya sama klo lewat Raya Bogor yang penuh asep angkot dan truk-truk gede. Lewat jalan ini hawa dinginnya udah berasa. Nyari masjid dulu buat solat Zuhur, liat jam baru jam 12.14 brarti cuma 1 jam 14 menit dari Cibubur ke Pintu tol Sentul (pintu tolnya gak jauh dari masjid soalnya). Selesai solat dan istirahat jam 12.30, lanjut perjalanan lagi. Ambil lurus aja ke arah Madang (ini hasil liat papan jalan sama nanya tukang ojeg) lumayan jauh, tapi jalannya sepi dan adem.

Kita bener-bener nikmatin perjalanan. Jalan aja terus nelusurin jalan itu (lha wong jalanan cuma itu doank). Tiba-tiba inget kalo di Sentul ada pemandian Gunung Pancar. Coba-coba nanya (pas banget di pertigaan) katanya Gunung Pancar masih lurus aja kira-kira 7 kilo (gubrag!!!), klo ke Gadog belok kanan. Bablas ambil kanan (dalem ati, jauh banget ni jalan). Jalan terus sampe puyeng, ada pertigaan lagi, nanya lagi suru belok kiri lewat Rainbow Hill.. duuuuh jalanan nya enaaaaaaaaaaaaaaak banget. Adem, dingin, sepi, liku-liku serasa dah di puncak.. nggak umpel-umpelan ama angkot, sampe kita sempet-sempetnya berenti n foto-foto (dasar narsis) eh tapi bukan kita doank lho, banyak juga motor yang pada berenti cuma buat foto, saking enaknya tu jalanan, brasa dah di Puncak.

Lanjut lagi jalan kebablasan saking menikmati pemandangan.. Sampe Rainbow Hill lebih maknyus lagi suasananya..indah nian buat sebuah perjalanan panjang. Gak bikin stres (sempet foto-foto lagi). Lama-lama kita baru sadar kalo ternyata banyak yang pada piknik di sepanjang jalan Rainbow Hill. Gak taunya, disitu ada danau yang lumayan gede yang emang enak banget buat dijadiin tempat piknik atau sekedar duduk ngobrol. Kita pun nggak mau ketinggalan, gak mo nyia-nyiain kesempatan yang baru pertama kali ini, Langsung aja markir motor, nyari tempat n buka bekel.. (hahhahah, niat banget kan bawa makan dari rumah). Gak lupa foto-foto pastinya.. =p bekel nasi, ayam goreng, sayur sawi abis udah sebungkus (sisain satu bungkus lagi buat nanti) eit, gak lupa rambutan sekantong juga udah disiapin buat cuci mulut. Danaunya bagus banget, tapi sayang manusianya pada nggak ngerawat, sampah berserakan bekas pada piknik. Klo saya tinggal disitu udah saya tulisin tuh gede-gede “JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN, DEMI MENJAGA INDAHNYA DANAU INI”.

Tiba-tiba gerimis, duh makin asoy aja nih jalan.. hehe.. kita jalan pelan-pelan sambil nikmatin udara sejuk disitu (sambil bersyukur gak lewat Raya Bogor, hahahah, sentimen banget ma angkot), karena ujan mulai dateng reramean, akhirnya kita ngalah juga neduh di warung. Disitu liat jam udah jam 14.18 berarti dari masjid di sentul sampe sejauh ini cuma 1 jam??? padahal jalannya berasa jauuuuh banget, mungkin karena liku-liku kali ya.. eit, ngomong-ngomong kita gak tau tuh kita udah nyampe mana, gak ada papan alamat sih secara kanan kiri cuma pemandangan indah gitu. Nanya juga sama ibu-ibu warung katanya kita di Gunung Geulis. Seinget saya, Gunung Geulis itu dah daerah Gadog. Eh bener juga, gak lama dari warung itu, kurang lebih 10 menit kita udah keluar di Gadog, jalan raya Cisarua.. duuh senengnyaaaaaaa.. Paaaaas banget tuh jalan udah ditutup satu jalur untuk turun, tapi buat motor, pak Polisi nya ngebolehin kita lawan arah asal hati-hati. Sampe Cisarua jam 15.18 kurang lebih. Berarti Gunung Geulis-Cisarua 1 jam juga. Di total perjalanan kita makan waktu 3 jam, enaknya udah termasuk solat, makan, dan foto-foto. Bonusnya perjalanan gak pake stress dan asep, sebaliknya malah dapetin udara seger dari mulai Sentul dan seterusnya.

Buat yang sering hang out ke Puncak, rute ini bisa dicoba. Nggak buat motor aja, mobil juga boleh. Pokoknya recommended track deh.. Selamat mencoba, jangan lupa di sharing ceritanya..

Prestasi Indonesia pada Tingkat Internasional di Tahun 2009

Tahun ini indonesia banyak didera bencana [peristiwa-peristiwa tahun 2009], lalu isu-isu politik baik pra pemilu maupun pasca pemilu, sehingga prestasi anak bangsa seakan tak bergaung. Pada Tulisan ini saya hendak merangkum prestasi yang ditorehkan anak bangsa pada tahun 2009 yang diakui oleh masyarakat dunia. Yaitu :

Mei

‘Lapangan Hijau’ Juarai YMDA (Yahoo Mobile Developer Award 2009) – 16


Akhirnya Yahoo memilih Rafeequl sebagai pemenang ‘Best Show’ dalam ajang kompetisi developer aplikasi mobile Yahoo Mobile Developer Award (YMDA) 2009 Indonesia.

“Kami berdiskusi dengan sangat alot untuk menentukan pemenang Best Show,” ujar Mathias Kunze, Managing Director Yahoo Mobile Asia PAcific pada acara grand final YMDA di Plaza Senayan Jakarta Sabtu 16 Mei 2009. Continue reading Prestasi Indonesia pada Tingkat Internasional di Tahun 2009

Jangan Panggil Aku “si Padang”

saluang – Dendang malapeh anak

Sungguh….
Saya tak habis mengerti, dari mana kisah bermula ketika pada akhirnya ‘Orang Minang ‘ justru disebut sebagai ‘Orang Padang’…?
berbilang masa, kerancuan itu mengalir begitu saja…
sepertinya… kita anak negeri penghuni Ranah Minang sendiri… tenang-tenang saja ..
sepertinya pula… kita Orang Minang sudah membenarkan begitu saja ketika kita yang terlahir di Bukittinggi…ketika kita yang terlahir di daerah Sumatra Barat lainnya, justru kita dipanggil sebagai “Orang Padang”

Sebutan ‘Orang Padang’ agaknya memang lebih lekat di benak banyak orang ketimbang menyebut “Orang Minang”..
Padahal sesungguhnya, bukankah Padang itu sendiri hanyalah setumpak kecil wilayah dalam sebentang hamparan luas Ranah Minang nan rancak bana?

Tapi kenapa orang luar Minang lidahnya justru lebih fasih menyebut istilah ‘Orang Padang’ ketimbang ‘Orang Minang’ ?
Mereka lebih terbiasa menyebut ‘Adat Padang’ ketimbang ‘Adat Minang’…?
Mereka terbiasa menyebut Bahasa Padang ketimbang Bahasa Minang…?
Dan kitapun sadar atau tidak, dimana-mana tanah perantauan terlalu sering melabeli diri dengan label “Padang” daripada ‘Minang’
Maka yang tersohor justru ‘Rumah Makan Padang’…bukan ‘Rumah Makan Minang’.
Padahal di kota Padang sendiri tidak pernah ada Rumah Makan Padang kan?

Meski kelezatan Sate Padang diperantauan menjadi buah sebut si orang banyak, namun bukankah di Ranah Minang sendiri (diderah Sumatera Barat) Sate Padang yang sesungguhnya justru kalah pamor ketimbang Sate Pariaman si ajo !!! hehehe…

Kita sendirikah yang telah membengkokkan sebuatan “Minang” menjadi “Padang”…?
Ataukah memang kita sepakat dan setuju-setuju begitu saja ketika darah Minang yang mengalir ini disebut sebagai darah Padang..?

Begitu pula agaknya, kenapa setiap kubuka-buka jendela Facebook-ku…
selalu saja, ada sahabat jauhku yang menyapa, lalu bertanya..;
“Bagaimana kabar Padang,?…Kami rindu Jam Gadang dan Ngarai Sianoknya…!”
Bahkan sahabatku di perantauan yang kampung kelahirannya di Suliki-pun justru ikut-ikutan juga juga menyebut ‘rindu mudik ke Padang’ Lebaran mendatang….
maka berkali-kali pula aku meluruskan pertanyaan dan pernyataan sahabat-sahabatku itu….bahwa; ..aku bukan di Padang….!..Ngarai Sianok dan Jam Gadang itupun bukanlah di Padang,.. tapi di Bukittinggi..!..Suliki itu 150 km lebih dari kota Padang…(baa kok sato lo manyabuik ‘mudik ke Padang’ Mpuang…?)

“Oh, bukannya Bukittinggi itu di Padang juga Pak..?” begitulah tragisnya sahabat-sahabatku sering rancu dalam membayangkan Ranah Minang.

Begitu makin populernya istilah ‘Orang Padang’ ketimbang Orang Minang, makanya; kalau ada yang mengatakan bahwa; Orang Padang itu pelit…saya jawab iya…!
Kalau ada yang bilang ; Orang Padang itu licik….saya jawab; iyaa juga…!
Kalau ada yang bilang Orang Padang itu doyan ngibul…gadang ota (besar cakap)…gadang suaro (gede suara) …gadang garegak (banyak tingkah) : yaaa…saya jawab iya…!

Lho..?
Kok iya…..iyaaa…. iyaaa aja…?

Habis,..saya bukan Orang Padang siiih…saya kan Orang Batusangkar..!, begitu slalu, kelakar ringan ini sering saya pelintir sekedar menghibur diri ketika ‘ke-MINANG-anku terasa begitu mengganjal saat aku dipanggil sebagai “Si Padang…” atau “Padang Bengkok”.

Tulisan ini sengaja saya Forward dari sebuah Note Erison J Kambari agar setelah membaca Tulisan ini, saya tidak akan pernah mendengar sebutan si Padang atau Padang bengkok… hehehehe,, tapi klo masih ada yang menyebut hal demikian juga tak apa-apa kok selama beloom ada Undang-Undang yang berlaku.. xixixixixi…

Salam Bersahabat.

anggota IBOTE – Bekasi.