17 Tahun Kota BEKASI yang makin SEXY!

bekasisexy

Pada 10 Maret 1997 resmi sudah wilayah sub-urban Bekasi yang letaknya menempel dengan ibukota metropolitan Jakarta ini menyandang gelar Kotamadya Bekasi, berpisah dengan Kabupaten Bekasi. Kini usia kota Bekasi (bukan lagi kotamadya) tanpa terasa sudah memasuki usia remaja 17 tahun. Jika kota Bekasi diibaratkan seorang wanita, usia 17 tahun sudah mulai terlihat matang dan sexy. Seorang perempuan sexy biasanya digemari para lelaki.

Sexy-nya kota Bekasi bagi saya yang tinggal di kota wilayah ini sejak tahun 1992 (masih kabupaten), memang sangat terasa dibandingkan 17 tahun lalu. Tidak hanya sekadar jalan Ahmad Yani saja yang menjadi lebih lebar, tetapi juga jumlah penduduk yang sangat terasa lebih banyak, dan juga udara yang terasa lebih pengap. Masalah kondisi jalan sudah jelas kemacetan saat ini berlipat kali lebih parah dibandingkan 17 tahun lalu.

Sexy-nya kota Bekasi menyebabkan saya yang tadinya sekadar “mencari angin” pun harus pergi ke Jakarta, mulai beralih jalan-jalan atau nongkrong di seputar kota Bekasi. Sudah pasti ini dipengaruhi oleh berdirinya beberapa pusat perbelanjaan atau mall besar di kota seluas 210.49 km2 ini. Beberapa kebutuhan hidup maupun pemenuhan gaya hidup yang tadinya harus diperoleh di Jakarta, saat ini apa pun sudah bisa didapat di kota Bekasi.

Sexy-nya kota Bekasi dengan jumlah penduduk sebanyak 2.447.930 jiwa sudah pasti membuat para investor meneteskan air liur. Berbagai produk & jasa dengan merek ternama sudah berani buka cabang di sini, mulai dari sekolah, restoran cepat saji, dealer mobil, hingga perhotelan. Bahkan sebuah grup pengembang (developer) besar sampai berani membuat fly-over yang kini merupakan salah satu ikon penanda kota (landmark) yang menjadi kebanggaan warga.

Sexy-nya kota Bekasi tak hanya menarik minat pemodal besar tetapi juga para kriminal. Sebelum berdirinya dua mal besar yang sekarang disebut Bekasi Cyber Park (dulu mal Hero) dan MM (Metropolitan Mall), lampu lalu lintas di pertigaan keluar tol Bekasi Barat merupakan daerah rawan penodongan. Kini para penjahat lebih banyak melakukan aksinya di daerah perumahan. Mengambil motor atau bahkan mobil dengan merusak gembok pagar menggunakan cairan kimia.

Sexy-nya kota Bekasi juga perlahan menghilangkan beberapa hal unik yang khas negeri ini. Saya sudah jarang melihat orang yang nanggap ‘layar tancep’ di pinggir jalan ketika punya hajatan, karena tanah kosong di sepanjang jalan kini penuh dengan ruko. Tiada lagi bisa berharap akan sering mendengar bunyi “ting ting” mangkuk pedagang sekuteng, atau “teng teng” bunyi wajan pedagang nasi goreng yang biasa melintas di depan rumah ketika lapar melanda di malam buta.

Sexy-nya kota Bekasi jika diibaratkan manusia, usia 17 tahun memang masa yang paling indah, namun juga bisa menjadi masa yang paling kelam jika sang remaja tidak hati-hati dalam melangkah, serta tidak pandai mengendalikan emosi dan nafsu birahi. Begitu pula dengan kota ini, jika tidak hati-hati dikelola dengan baik & benar, hanya menuruti nafsu serakah dan emosi sesat, maka kehancuran akan segera datang tanpa diundang.

Dirgahayu Kota Bekasi, semoga semakin sexy! :D