Tulisan di Blog Masuk Jurnal Ilmiah

“Mas, dua buah tulisanmu dimuat di Jurnal Luar Negeri Kementerian Luar Negeri Kementerian Luar Negeri yah”, tanya seorang rekan saya sambil menunjukkan dua buah jurnal yang terbit setiap 4 bulan sekali, dimana di kedua jurnal tersebut terdapat tulisan saya.

“Iya, benar. Tahun 2010 lalu saya memang mengirimkan dua buah tulisan ke redaksi Jurnal Luar Negeri, tapi tidak dalam waktu yang bersamaan” ujar saya. “Alhamdullilah kedua tulisan yang berjudul “Kualitas Kepemimpinan Indonesia di ASEAN” dan “Resensi 60 tahun hubungan Indonesia-Rusia”, dimuat dalam jurnal edisi Januari-April 2010 dan Mei-Agustus 2010, sementara untuk edisi September-Desember 2010 saya tidak mengirimkan”, tambah saya kemudian.

“Wah asyik dong, berarti dari 3 edisi Jurnal luar Negeri yang terbit pada tahun 2010, dua diantaranya memuat tulisanmu” tanya teman saya lebih lanjut.

“Benar sekali, dua buah tulisan saya tersebut memang berasal dari blog http://arisheruutomo.com dan http://arishu.blogspot.com. Hanya saja, sebelum mengirimkan ke redaksi Jurnal Luar Negeri, tulisan tersebut saya perbaiki sedikit agar lebih sesuai dengan bahasa jurnal” jawab saya segera.

“Terus terang saya tidak menduga kalau kedua tulisan saya dilirik oleh Redaksi Jurnal Luar Negeri. Sepengetahuan saya. jurnal yang diterbitkan oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kemlu tersebut merupakan jurnal serius yang mengupas perkembangan politik dan hubungan luar negeri RI. Biasanya pula, tulisan yang dimuat di jurnal tersebut merupakan tulisan para pakar yang sudah dipresentasikan di forum-forum seminar atau diskusi dengan audiens kelompok tertentu. Sedangkan tulisan saya di blog ringan-ringan saja dengan audiens (yaitu pengunjung blog) yang beragam”, saya mencoba memberikan penjelasan tambahan.

“Tulisan ringan saya seputar politik dan hubungan luar negeri memang sengaja dibuat ringan agar informasi yang disampaikan mudah dicerna para pembaca. Selain itu, dengan menempatkan tulisan kita di blog, kita bisa memperoleh masukan dan pertanyaan dari pengunjung, dimana semua itu bisa digunakan untuk memperkaya konten tulisan. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa blog merupakan suatu inkubator, tempat kita mengendapkan pemikiran-pemikiran dalam suatu tulisan sebelum nantinya disempurnakan menjadi sebuah tulisan yang lebih baik langit” tambah saya lagi.

“O begitu, baru tahu kalau blog bisa jadi inkubator tulisan dan bisa menjadi semacam show room pemikiran kita. Dan saya juga baru tahu, kalau tulisan yang dipajang di blog bisa dilirik penerbit atau redaktur media. Keren banget mas” samber teman saya tersebut.

“Iya mas, banyak kok tulisan para blogger yang dilirik para penerbit dan redaktur media. Teman-teman saya malah ada yang sudah menerbitkan buku dari tulisan-tulisannya di blog. Ada yang menerbitkan buku cerita pendek, ada pula yang menerbitkan buku pendidikan, ya macam-macam lah”, sahut saya

“Wow makin keren donk. Kalau gitu saya mau ngeblog juga, siapa tahu bisa ngikuti jejak sampeyan dan teman-teman sampeyan yang blogger kondang itu”,

“Oke sip kalau gitu, selamat ngeblog ya dan jangan jadikan kegiatan ngeblog sebagai trend sesaat saja. Jadikan kegiatan rutin untuk mengasah pemikiran dan berlatih menulis. Saya pamit dulu ya, mau ambil honor tulisan di kantor Jurnal Luar Negeri” kata saya mengakhiri perbincangan.

“oke mas, terima kasih ya sudah berbagi pengalaman”

“sama-sama”

Perkenalan dengan Be-Blog

Perkenalan pertama saya dengan Komunitas Blogger Bekasi adalah waktu diadakannya Amprogan Blogger 2010. Saat itu saya ikut sebagai bagian dari peserta yang tergabung dalam Kompasiana. Dan bergabungnya saya dengan Kompasiana tidak terlepas dari setelah saya membaca postingannya OmJay pertengahan November 2009.

Setelah bertemu di Amprogan Blogger 2010, kami sempat beberapa kali lagi bertemu dalam acara yang di adakan oleh Kompasiana, dan dalam pertemuan itu saya diajak OmJay untuk bergabung di Be-Blog, panggilan akrabnya Komunitas Blogger Bekasi terhadap blog mereka. Saat di tawari oleh OmJay itu saya memang belum tertarik dan masih pikir-pikir. Masalahnya saya masih baru di Kompasiana dan belum begitu akrab dengan dunia blog.

Ketika Kompasiana mengadakan diskusi bulanan atau Modis tanggal 24 April 2010, yang saat itu diadakan Pisa Cafe Blok M, Jakarta Selatan, dengan nara sumber Nurul Arifin. Saya berjumpa dengan bung Aris Heru Utomo. Ini adalah perjumpaan yang kedua setelah di acara Amprogan Blogger.

Perjumpaan kali ini lebih akrab, karena kami juga di temani oleh OmJay yang saat itu juga hadir sebagai peserta Modis. Dalam perjalanan kami pulang setelah selesai acara, saya dan OmJay ikut menumpang mobil bung Aris yang saat itu didampingi oleh istri dan anak-anaknya. Saya dan OmJay menumpang sampai ke Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru untuk menunaikan shalat Ashar.

Dalam perjalanan kami yang singkat itu, bung Aris mengajak saya untuk bergabung di Be-Blog. Saat itu saya menjawab, “ya!”. Tapi begitu sampai di rumah dan bergelut dengan kesibukan saya sehari-hari, apa yang saya katakan kepada bung Aris itu terlupakan.

Dua hari yang lalu, pas diadakannya iB Kompasiana Blogging Day, saya membaca postingan bung Aris yang mengundang para Kompasianers untuk ikut dalam Kopdar Kemenlu dengan Be-Blog, yang akan diadakan di Bekasi, tanggal 7 Agustus mendatang.

Saat membaca undangan itulah saya teringat kembali janji saya dengan bung Aris dan OmJay untuk bergabung di Be-Blog. Saat itulah saya langsung mendaftar sebagai anggota Be-Blog. Namun setelah mendaftar saya belum meninggalkan jejak apapun, baik komen apalagi postingan di Be-Blog. Karena saat itu saya sedang berkonsentrasi mengikuti iB Kompasiana Blogging Day, yang menghebohkan sekaligus mengundang banyak kekecewaan itu.

Hari ini, saya mengucapkan salam perkenalan kepada rekan-rekan anggota Be-Blog, dan tentu saja khusus untuk bung Aris dan OmJay, terima kasih atas undangannya.

Salam,

Dian Kelana