Jika Pengelola Kompleks Jadi Pengelola Kota

banjir-jualanBeton-beton “pasak bumi” berukuran raksasa tersebut dengan pelan tapi pasti dihujamkan ke dalam tanah di sepanjang sungai yang dikenal oleh warga dengan nama Kali Bekasi. Setelah beton-beton tersebut berjajar rapi masuk belasan meter di bawah tanah, bagian atasnya diurug dengan tanah dan kembali ditanami rumput, sehingga tidak terlihat jika sebenarnya terdapat barisan beton yang angkuh yang bertugas menahan derasnya aliran air Kali Bekasi itu. Bahkan sekarang ini di sekitar beton tersebut dilepas kijang tutul jinak yang setiap sore menjadi hiburan gratis penduduk sekitar.

Kejadian di atas itu berlangsung sudah sekitar dua tahun silam. Meski “penanaman” beton tersebut menciptakan suara berisik sepanjang hari, namun ketika semua sudah tertanam menimbulkan ketenangan hati bagi warga yang tinggal di sepanjang aliran kali yang sudah dibeton itu tadi. Mengingat banjir yang lumayan merepotkan pernah terjadi di tahun 2004 akibat jebolnya tanggul penahan aliran kali tersebut.

Rupanya pada awal tahun 2013 ini banjir kembali menggenangi perumahan tersebut meskipun bukan disebabkan oleh jebolnya tanggul yang sudah diperkuat itu tadi, tapi dari tanggul di kompleks lain yang sepertinya memang belum dibuat dari beton “pasak bumi” seperti itu. Hari Jumat tanggal 18 Januari 2013 lalu adalah puncak dari meluapnya air Kali Bekasi yang kali ini memakan waktu yang cukup lama untuk kembali surut, lebih lama dari kejadian tahun 2004.

Limpahan air Kali Bekasi yang sempat menggenangi sebagian jalan utama di kompleks tersebut ternyata membuat beberapa bagian jalan yang dibangun dari conblock tersebut mengalami kerusakan. Meski kerusakan tidak parah, namun pihak pengembang kompleks tersebut sepertinya tidak ingin mengecewakan para pengendara yang sering melewati jalan di situ. Sehari setelah peristiwa tersebut, sudah terlihat beberapa pekerja mulai membongkar susunan conblock untuk kembali dipasang dengan rapi sehingga tidak turun naik.

Meskipun jalan tersebut sudah dihibahkan dari pengembang kepada Pemkot Bekasi, tapi pihak pengembang tidak tinggal diam begitu saja menunggu jalan jadi semakin rusak. Memang tindakan seperti inilah yang diperlukan warga. Tindakan cepat pengelola kompleks itu memang sudah dilakukannya sejak dahulu terutama yang berhubungan dengan kepentingan umum, dan hal ini patut diberi apresiasi.

Memang tidak bisa membandingkan pengelolaan sebuah kota dengan pengelolaan sebuah kompleks perumahan. Tapi mungkin jika pengelolaan kota kita serahkan kepada para pengelola kompleks perumahan yang tanggap seperti contoh di atas, bisa jadi warga kota akan merasa lebih nyaman ketimbang dikelola oleh para politisi.

Dia Yang Tangguh

Pagi menjelang siang itu jam dinding menunjukkan pukul 10:30, waktu dimana seharusnya dia bersiap-siap melakukan rutinitas hariannya menjemput anak keduanya yang masih duduk di bangku sekolah tingkat TK.

Namun hatinya gundah gulana disebabkan cuaca kurang bersahabat, langit begitu gelap dan memuntahkan berton-ton air ke bumi yang mengakibatkan genangan air dijalan-jalan utama di kompleks perumahan dimana dia tinggal bersama ketiga anak dan suaminya tercinta.

Dan ternyata genangan-genangan air itu bukan genangan seperti biasanya.

Banjir di Jalan Utama Kompleks Perumahan
Banjir di Jalan Utama Kompleks Perumahan

Ya….

Genangan air itu berubah seketika menjadi BANJIR….
Genangan air itu seakan mengamuk dan merangkak naik sampai nyaris menyentuh batas lutut orang dewasa dan terus merangkak naik entah sampai batas mana lagi…

Tambah kalut dan bingunglah pikirannya…

Kalut karena hujan yg tidak kunjung reda dan bingung karena banjir serta tidak tahu apa yang musti diperbuatnya.

Sementara diujung sana si anak yang seolah tidak mengerti keadaan ibunya, sedang asyik bercanda hahahihi dengan sebayanya dan bersiap-siap untuk pulang mengakhiri aktivitas sekolahnya.

Banjir di Jalan Menuju Pemukiman Kompleks Perumahan
Banjir di Jalan Menuju Pemukiman Kompleks Perumahan

Selama kurun waktu 30 menit diantara pukul 10:30 sd pukul 11:00, dia berulangkali menelpon suaminya ditempat yang berbeda diruangan kantornya yang nyaman untuk meminta penguatan.

Ditengah keseriusan menelphon suaminya itu, dia dikagetkan oleh suara jam yang berdentang 11 kali, yang lantas menghentikan sebentar pembicaraan dengan suaminya dan melakukan sedikit longokan keluar rumah dengan handphone tetap tergantung ditelinganya…

“Ayah… hujannya mulai reda aku berangkat bersepeda saja, khawatir mogok kalo montoran…”

Katanya semangat penuh keyakinan.

“Lah.. Terus si bontot gimana??

Balas si suami diujung telephone, menguji semangat keyakinan istrinya.

“Biar kubawa pake boncengan anak, disangkut di depan sepeda…. disangkutkan distangnya….”

Jawabnya mantap.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Banjir di Jalan Menuju Sekolahan Si Anak
Banjir di Jalan Menuju Sekolahan Si Anak

Jam menunjukkan lewat pukul 12:00 siang ketika dia mulai memencet tuts qwerty hapenya dengan jari putihnya yg masih terlihat basah dan berkerut karena dingin.

“Halo sayang gimana tadi…??”

Getir terdengar diujung telphone suara suaminya yg tampak khawatir dan berharap akan sampainya berita baik kepadanya.

“Subhanallah Ayah…. Tadi itu airnya luar biasa tinggi…. Ban roda sepedaku hampir tenggelam seluruhnya…. Airnya itu hampir menyentuh kaki si bungsu di boncengan anak…. Kakiku sampai tenggelam Yah, jadinya aku menggowes dengan tenaga ekstra karena beban aku, si bungsu, si abang yang berada diboncengan belakang dan beban arus air banjir itu…. Alhamdulillahnya gak ujan tadi….”

Bak desingan peluru dia melaporkan kejadian heroik yang baru saja dilaluinya kepada suaminya diujung sana.

“Aku capek Yah….”

Dia menutup pembicaraan telephone dengan lirih dan sedikit gemetar yang ditahannya selama pembicaraan itu.

Sementara sang suami diujung telephone didalam ruangan kantornya yang hangat dan nyaman tampak diam terpaku.

Pikirannya berkelebat hebat terbang menuju lokasi banjir yang baru saja dilalui oleh istri dan dua anaknya dengan bersepeda.

Terbayang dipelupuk matanya seorang wanita berjilbab menggowes sepeda berpenumpang satu orang batita di boncengan anak didepan stang dan satu orang anak TK dibonceng dibelakangnya, berusaha mengarungi banjir menantang arus didepannya dan arus yang bergerak liar disekelilingnya, sepeda itu berikut ketiga penumpangnya bergetar dan bergoyang diterpa arus banjir….

Demikian Adanya
~TheEnd~

*BasedOnTrueStory*

Teruntuk Istriku tercinta dan para Istri2 yang turut mengalami perjuangan itu, InsyaAllah perjuanganmu tidak akan sia-sia….

Salam Hangat,
@ludwinardi | 313FE116
www.ludwinardi.com

Hikmah Dari banjir

Saya kira kita akan akan sampai pada konsesnsus bahwa hari-hari ini merupakan hari yang sangat merepotkan. Bagi pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, dan profesi lainnya yang terhalang aktivitasnya oleh banjir. Ya, banjir tahun ini (2013) disinyalir bahkan melebihi banjir 5 tahunan pada tahun 2002 dan 2007. Parahnya banjir kali ini ditambah dengan jebolnya Kanal Banjir Barat sehingga ada joke yang mengatakan ini sesuai dengan sila kelima dari butir pancasila yang berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Semua warga hampir terkena banjir bahkan pejabat (menteri), kantor pemda, kantor pemerintahan hingga istana presiden (termasuk pak presiden) tak luput dari kebanjiran.

Beberapa media meliput non stop dari mulai breaking news, headline news, sampai liputan live dari lokasi banjir komplit beserta para korban banjir. Hampir semua stasiun televisi memampang kalimat utama seperti “Jakarta Darurat Banjir”, “Banjir Kepung Jakarta”, “Ibu Kota Menjadi Kota Banjir”, dan yang lebih ekstrem adalah “Jakarta Tenggelam”. Dahsyatnya banjir yang juga menggenangi jantung ibu kota di bundaran Hotel Indonesia (HI) ini juga dirasakan di berbagai daerah sekitar (Jabodetabek).

Sumber: www.merdeka.com
Sumber: www.merdeka.com

Namun di tengah bencana nasional (kalau boleh dikatakan seperti itu) tentunya banyak hikmah yang selalu bisa kita petik sebagai pelajaran. Bagaimanapun juga banjir merupakan fenomena alam yang seharusnya manusia sebagai bagian dari alam bersikap eksploratif bukan eksploitatif. Sifat rakus manusia ditudung-tuding banyak aktivis koservasi alam sebagai bagian dari penyebab banjir tersebut, diantaranya sistem perairan yang kurang memadai, sampah yang tidak teratur, hingga terkikisnya bantaran kali yang banyak sudah menjadi bangunan permanen.

Tak bisa dipungkiri memang, karena Al-Qur’an sendiri sudah mensinyalir dengan tegas dalam surah Ar-ruum ayat 41 yang artinya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Alam seolah begitu murka dengan keserakahan umat manusia yang dengan rakus mengeksploitasinya tanpa henti.  Setidaknya, peristiwa ini kita dapat memetik hikmah mengapa bencana (banjir) selalu saja menimpa kita. Mungkin kita akan menemukan banyak sekali pendapat mengapa ini terjadi. Para ahli geologi, barangkali akan mengatakan, “Ini hanya peristiwa alam biasa.” Mungkin para dukun juga akan mengatakan, “kejadian-kejadian tersebut adalah penanda pergantian zaman.” Namun yang demikian adalah pendapat, sah-sah saja jika kita percaya, namun tidak wajib kita imani.

Bencana menjadi teguran bagi mereka yang selamat, demikian pula bagi mereka yang berada jauh dari tempat kejadian. Orang-orang yang tidak terkena bencana, mendapatkan cobaan dari dampak bencana. Mereka yang berada berkewajiban menolong yang kurang mampu. Mereka yang hidup berkewajiban mengurus jenazah bagi yang meninggal. Mereka yang masih memiliki banyak harta, berkewajiban memberikan makanan dan pakaian serta menolong dengan segenap kemampuan kepada mereka yang kehilangan segalanya. Memberi makan kepada mereka yang kelaparan, memberi pakaian kepada mereka yang telanjang dan memfasilitasi mereka yang kehilangan tempat tinggal.

Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Perbuatan manusialah yang selama ini banyak merusak ekosistem dan lingkungan. Manusia yang serakah, selalu mengeksploitasi alam dan banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Peringatan dari Allah yang berupa bencana menunjukkan bahwa Allah masih sayang kepada hamba-hamba-Nya dan menghendaki mereka untuk kembali ke jalan yang diridhoi-Nya sesuai koridor alam. Karena, kerusakan alam selalu mengakibatkan kerugian bagi warga di sekelilingnya, terutama rakyat kecilnya. Karenanya, siapa yang lebih kuat harus melindungi yang lemah. Mestinya kita takut jika tidak menolong, padahal kita mampu, mestinya kita malu kepad Allah jika tidak membantu saudara-saudara yang sedang kesusahan, padahal kita sedang banyak memiliki kelonggaran. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda, “Tidaklah termasuk golongan kita, mereka yang tidak peduli dengan persoalan-persoalan umat Islam”.

Semoga dengan adanya bencana banjir (lagi) tahun ini bisa menjadi bahan kontemplasi (perenungan) kita dalam menyikapi alam ini. Sebagai khalifah yang ditunjuk Allah setelah seluruh isi alam menolaknya hendaknya kita mengeksplorasi alam ini untuk keberlangsungan hidup dan hajat manusia. Bukankah alam sudah mengalah tidak menerima ketika ditawari Allah untuk menjadi khalifah dan manusialah yang siap menerimanya, sudah sepatutnya kita menjaga alam ini. Kita doakan para saudara yang meninggal di tengah bencana banjir diterima di sisi Allah sebagai husnul khotimah dan yang masih diberi kesempatan hidup walau berada dalam kesusahan agar bisa kembali membangun semangat hidup untuk bersahabat dengan alam. Wallahu a’lam bis showaab…

Salam Hikmah,

 

Abu Abbad

 

 

Banjir Jakarta Bekasi

Gerakan Peduli Banjir Jakarta langsung terbentuk sore ini begitu melihat kondisi lapangan yang makin memprihatinkan. Berita perkembangan terbaru dari BMKG mengindikasikan hujan dan banjir akan terus berlangsung selama tiga hari ke depan. Diperkirakan keadaan banjir akan terus berlangsung esok hari dan mungkin akan lebih buruk dari hari ini. Joko Wi juga sudah mengumumkan kondisi Jakarta ada pada status kondisi tanggap darurat. Dari liputan 6 SCTV kita tahu apa yang diucapkan Joko Wi tentang Jakarta.

“Karena kondisi seperti ini, mulai hari ini sampai tanggal 27 Januari 2013, kami nyatakan posisinya tanggap darurat,” kata Joko Wi usai rapat gabungan dengan Menko Kesra, Agung Laksono, BNPB, BMKG, dan Kementerian PU.

Jakarta Darurat Banjir
Jakarta Darurat Banjir

Rekening untuk membantu penyaluran dana ke korban banjir segera ditentukan dan inilah keputusan dari panitia “KV Peduli Banjir Jakarta” :

Rekening Kagama Virtual (KV) Peduli Banjir Jakarta :
BCA An. Heni Hendriyati.
No. 8990369934. (konfirmasi pengiriman dana via SMS ke ponsel Heni 08158207176)
Rekn. Mandiri a.n AA Sagung Indriani Oka.
No. 1660.0002.07498. (konfirmasi pengiriman dana via SMS ke ponsel Indri 081804050864)

Selama proses pembentukan panitia, sudah masuk permintaan bantuan dari salah satu posko yang ada di Bekasi Utara. Info tersebut sampai ke ponselku dari Bang Komar Ibnu Mikam, aktifis masyarakat yang langsung terjun di posko pengungsian.

Bagi yang ingin memberikan dukungan, baik berupa dana atau apa saja ke Bekasi Utara bisa langsung kontak Bang Komar Ibnu Mikam hp 085693334441 untuk posko di wilayah desa buni bakti, desa muara bakti, desa hurip jaya, desa pantai hurip, desa pantai harapan jaya. Bisa juga langsung kirim dana segar ke rekening BCA atas nama Komar Ibnu Mikam no 2757 532 944

Teman-teman alumni UGM di Jakarta akan konsentrasi untuk penyaluran bantuan di Jakarta dengan tetap berkoordinasi pada posko Bekasi yang dipegang oleh Indri dan juga posko-posko lainnya yang bisa dijangkau oleh komunitas alumni UGM.

Dari kalangan BUMN, akan digalang juga bantuan untuk para korban banjir baik yang tinggal di Jakarta maupun di kota sekitarnya, termasuk Bekasi.  Semoga gerakan moral dari teman-teman ini diberi kemudahan oleh Allah swt dan dapat meringankan beban para korban banjir. Amin.

Peduli banjir Jakarta
Peduli banjir Jakarta

Salut buat panitia gerakan “Peduli Banjir Jakarta”, mari kita bantu sekuat kemampuan kita. Semoga Allah swt memberikan kekuatan dan kemudahan buat para panitia yang bekerja tanpa kenal lelah. Salam sehati.

Banjir di Bekasi, Kenapa Bisa Terjadi?

Banjir lagi di bekasi
Banjir lagi di bekasi

Semenjak siang tadi, Bekasi masih terus diguyur hujan. Setelah hujan reda, terbitlah banjir. Banjir sudah terlihat dimana-mana. Hampir setiap komplek perumahan yang ada di kota bekasi pastilah banjir. Termasuk di daerah tempat tinggal saya di Komplek TNI-AL jatibening bekasi. Air terus meninggi sampai sepaha orang dewasa.

Continue reading Banjir di Bekasi, Kenapa Bisa Terjadi?

Habis Hujan Terbitlah Banjir

Minggu 3 Oktober 2010, Bekasi seharian diliputi awan berarak. Suasana kelabu membuat orang enggan keluar rumah. Puncaknya sekitar pukul 12 siang, air bagai ditumpahkan dari langit. Meski tidak berlangsung lama, cukup untuk membuat sebagian wilayah di Bekasi terendam banjir.  Belum lagi genangan air surut, hujan kembali tercurah dan air pun kembali menggenangi kawasan yang sudah terendam banjir.

Salah satu kawasan yang terpantau mengalami banjir adalah komplek perumahan Persada Kemala. Komplek perumahan yang berdampingan dengan perumahan Jaka Permai beberapa bagiannya langsung terendam banjir. Akibatnya warga yang tinggal di blok belakang kesulitan melewati jalan utama perumahan. Untung satpam bertindak sigap dengan menutup jalan yang terendam banjir dan membuka pintu gerbang tengah yang menuju jalan Gaharu di perumahan Jaka Permai.

Untuk sementara masalah akses masuk dan keluar perumahan Persada Kemala teratasi. Namun warga yang rumahnya berada di kawasan blok yang terendam banjir dapat dipastikan tidak bakal bisa tidur nyenyak jika hujan turun kembali. Mereka khawatir begitu hujan kembali menderas, airpun akan memasuki rumah mereka. Meski biasanya air yang masuk ke rumah tidak berlangsung lama, tapi sudah cukup untuk membuat badan pegal-pegal karena sesudahnya harus membersihkan kotoran yang terbawa air.

Banjir di beberapa kawasan perumahan di Bekasi sepertinya sudah menjadi langganan, penyebabnya antara lain sistim pembuangan yang tidak memadai. Sungai-sungai yang melintasi perumahan sudah tidak bisa lagi menampung debit air yang melimpah. Selain terhambat sampah-sampah, yang seringkali lupa dibersihkan ketika kemarau, tidak ada lagi kawasan yang berfungsi sebagai tempat penampungan dan peresapan air. Kawasan yang dulunya menjadi tempat penampungan dan peresapan air kini sudah beralih fungsi menjadi kawasan perumahan baru yang sebagian arealnya ditutupi aspal.

Warga kini nampaknya hanya bisa bersikap pasrah dan berdoa semoga hujan tidak terlalu lebat sehingga habis hujan tidak menerbitkan banjir.

Kalau di Persada Kemala banjir setiap kali hujan deras dan agak lama, bagaimana dengan kawasan tempat tinggal anda?

Blogger Bekasi Peduli Karawang

Melanjuti kunjungan ke Kedung Waringin pada Hari Sabtu (27/03) bersama SEBUAI, Blogger Bekasi kembali mengirimkan bantuannya kepada korban banjir Karawang.Kembali ditemani teman-teman dari Blogger Karawang, kali ini kami berkunjung ke posko mereka di daerah Teluk Jambe. Kondisi saat kami kesana, rata-rata untuk di perumahan air sudah surut, tapi yang di bantaran sungai citarum masih terbenam dan agak sulit dijangkau.

Sudah agak sore ketika kami tiba di Teluk Jambe, sekitar pukul 16.00. Lokasi posko di Perumnas Teluk Jambe, tak begitu jauh dari pintu tol Karawang Barat. Bawaan 5 dus pakaian layak pakai langsung diangkut, menyusul kemudian beberapa dus makanan dan air mineral. Serah-terima dilakukan, walaupun posko kecil, registrasi barang tetap rapi.

Kami muter-muter sebentar, melihat kondisi sekitar pasca surutnya air sekalian beli makan buat para blogkar penjaga posko. Makan bersama di lesehan basecamp mereka, ditengah tower, diatas kolam ikan yang dilapisi bambu-bambu bekas rakit, makin mengakrabkan blogkar dengan beblog. Akang-akang BlogKar, Kang Badar, Kang Agung, Iyank, Bayu, Kang Faisal begitu hangat dan bersahabat layaknya saudara. Sayang, salah seorang BlogKar, Kang Tatang, tidak dapat hadir karena sedang dalam penawanan, dan kami tidak berhasil menebusnya. Jadilah makan bersama itu sekaligus menjadi waktu berunding perihal penebusan Kang Tatanng, walaupun pada akhirnya kami semua pasrah dan ikhlas dengan ketidakhadirannya.

Akhirnya, waktu Maghrib pun tiba, selesai sholat kami pamit pulang. Diakhiri dengan foto bersama di depan basecamp.

Terima kasih Akang-akang BlogKar atas suguhannya, semoga bantuan tadi bermanfaat untuk saudara-saudara disana. Semoga silaturahmi tetap terjaga.. ^^

Kolaborasi Apik SeBUAI, Beblog dan Blogkar

Di hari Sabtu (27/03), ada sebuah rencana aksi berdimensi amaliyah berkaitan dengan bencana banjir yang menimpa warga di wilayah Karawang dan Bekasi. Kegiatan yang berawal dari treadht Mbak Umi Kamilah di mailist-nya Beblog, telah mengelinding menjadi sebuah gerakan moral yang mirip bola bowling yang berdampak sistemik. Bola itu kemudian menjelma menjadi sebuah karya nyata sejalan dengan semangat Sila Kedua Pancasila “kemanusiaan dan kesetiakawanan sosial”.

Gerakan ini kemudian berkolaborasi dengan SeBUAI yang lantas menggerakan ide ini ke beberapa kenalan yang mempunyai semangat yang sama. Dari ibu-ibu MTI Baitul Jihad spontan terkumpul uang sebanyak Rp.3 juta yang langsung dibelikan beberapa barang. Di samping itu juga beberapa tetangga mulai mengirimkan pakaian layak pakai, kue dan makanan kering, kopi dan kebutuhan bayi seperti bedak, pempers, baby oil dll.

Agar barang-barang tidak menumpuk banyak di rumah,  SeBUAI mempunyai ide untuk menyimpan sebagian bantuan di Gedung Juang, sehingga proses distribusi ke lokasi bencana akan lebih gampang. Ide ini setidaknya memberi ruang yang agak lega di rumah saya yang memang bertipe RSS.

Walaupun sudah dicicil, namun saya masih kebingungan dengan sisa barang yang harus diangkut. Saya belum sempat beli Toyota Lexus atau minimal Fortuner  yang bisa  mengangkut banyak barang. Di tengah kebingungan yang sudah mengarah ke putus asa, tepat jam 10.00 malam HP berbunyi tanda ada SMS masuk. Ternyata pesannya adalah solusi dari kebingungan saya. Mas Rawi menawarkan bantuan untuk mengangkut sampai ke lokasi.

Ini lah pertolongan Allah, entah dari mana Mas Rawi tahu saya lagi kebingungan. Allah SWT telah menggerakkan tangan hambanya untuk mengirimkan SMS yang langsung saya reply “wokeh, mas” (sambil jingkrak-jingkrakan). Tentu saja saya sangat senang plus bahagia, setidaknya ini mengurangi beban karena hari sabtu begitu banyak agenda

Mobil Mas Rawi hanya menyisakan untuk 2 penumpang

yang jarus saya jalani, mulai dari family gathering sekolah yang wajib diikuti oleh orang tua sampai menghadiri pembukaan taman bacaan anak jalan yang digagas SeBUAI. Bahkan, jauh-jauh hari anak saya sudah meminta konfirmasi kehadiran saya di acara sekolah (halah…pake konfirmasi kayak pejabat tinggi saja).

Esok harinya, setelah acara family gathering, saya dan istri  langsung ngacir ke Gedung Juang. SeBUAI dan Beblog ditambah kawan-kawan dari Ibote sudah menunggu sejak jam 11.00. Hari itu SeBUAI punya hajatan besar, yaitu mendirikan Taman Bacaan untuk Anak Jalanan yang pertama kalinya.

Setibanya di Gedung Juang langsung koordinasi dengan SeBUAI dan Mbak Ajeng yang sudah menunggu begitu lama. Setelah itu, Mbak Ajeng langsung konfirmasi ke Kang Tatang tentang meeting point droping bantuan untuk Karawang. Setelah memisahkan barang-barang yang akan diberikan, timbul masalah baru tentang alat transportasi. Setelah urun rembug sedikit, diputuskan sewa angkot untuk mengangkut para seniman jalanan yang rencananya akan menghibur warga. Karena gak bawa uang banyak, terpaksa saya ngutang uang dapur dulu ke istri. Alhamdulillah, istriku ini solehah dan ikhlas uangnya dipakai dulu, cuman untuk urusan lain istriku belum ikhlas (kumat lagi penyakit Om Puspo Wong Solo).

Saya mengajak beberapa orang pengamen jalanan, karena mereka berpengalaman mengurusi bantuan untuk korban bencana alam, seperti di Yogyakarta dan Padang. Bahkan, ketika bencana menimpa Padang, mereka mampu mengumpulkan uang sebanyak Rp. 10 juta yang langsung dibawa ke lokasi bencana. Uang sebesar itu berasal dari hasil ngamen, ditambah bantuan dari berbagai pihak.

Jam 15.00 rombongan tiba di Kedungwaringin. Teman-teman Bloger Karawang sudah menunggu dari jam 13.00 (punten pisan Kang Tatang tos ngantosan sakitu lamina). Rombongan diantar oleh salah seorang pegawai Kecamatan Kedungwaringin yang langsung menemui RT/RW dan anggota Badan Perwakilan Desa (BPD).

Setelah tiba di tempat, saya memperoleh  informasi, bahwa limpasan air Citarum sedikitnya telah meredam rumah 4.261 kepala keluarga, yang tersebar di kecamatan Muaragembong, Cabangbungin dan Cikarang Timur ditambah dengan Kecamatan Kedungwaringin. Wilayah Kedungwaringin, termasuk yang paling parah terkena dampak bencana banjir. Sedangkan untuk daerah Karawang saat ini sudah tercatat 9.000-an rumah di 27 desa/kelurahan terendam air. Banjir juga telah menggenangi ratusan hektar kebun dan lahan pesawahan.

Ketika tiba di lokasi posko bantuan, saya melihat hamparan air yang mirip danau besar dan banyak sekali warga yang terpaksa membuat tenda darurat di jalanan. Ada hal yang membuat bathin saya terenyuh ketika melihat ada mobil yang diperkirakan mengangkut bantuan langsung diserbu oleh para pengungsi tanpa mengindahkan keselamatan dirinya sendiri. Saling dorong dan sikut adalah hal yang biasa. Istri saya bilang, seperti rimba yang yang tak memiliki norma aturan. Siapa kuat dialah yang menang. Kelihatan sekali prinsip itu yang sekarang ini dipegang oleh para pengungsi. Tapi untung rombongan membawa para pengamen yang dengan iklas menjaga setiap kendaraan dari serbuan warga yang tampaknya sudah tidak terorganisasi dengan baik.

banyak warga yang sudah kehilangan kesabarannya. Mungkin karena sudah cukup lama mereka hidup di tenda-tenda pengungsian

Mungkin warga ketakutan juga ketika melihat tampang para seniman jalanan ini yang sangar dan badan penuh tato. Keberadaan para pengamen jalanan itu memberikan andil besar dalam  proses pengangkutan barang ke posko bantuan.  Begitu juga bantuan untuk Karawang dapat diserahkan langsung ke Kang Tatang yang mewakili Gerakan Bloger Karawang Peduli Banjir.

Ternyata tato ada gunanya juga untuk mengatur warga yang sudah tidak sabar. Mas Rawi dengan Bang Min salah satu koordinator anak jalanan

Awalnya saya ragu terhadap sosok Kang Tatang. Karena waktu ketemu di acara Amprokan Bloger terlihat bersih, apik dan  tentu saja ganteng. Namun, hari itu berbeda sekali. Dengan celama pendek, jaket dan topi serta wajah yang kecapean, terlihat kusut dan sulit dikenali (ini namanya lebay…hehehe punten kang biar lebih mendramatisir). Menurut yang punya cerita, hampir sebagian besar Bloger Karawang tidak sempat mandi gara-gara mengurus korban banjir. Kalau gak percaya coba saja tengok di facebook bloger Karawang.

Kolaborasi Beblog dan Bloger Karawang. Kang Tatang lagi nyamar jadi buruh angkut

Jam 16.30, kami memutuskan kembali ke Gedung Juang, karena ada beberapa kendaraan motor, termasuk SEO kesayangan Mbak ajeng dititip di sana. Sebelum pulang, saya lihat Mbak Umi bisik-bisik tetangga dengan Kang Tatang. Saya dengar sekilas, insya allah bantuan dari Beblog akan menyusul setelah kunjungan ini. Mudah-mudahan bisa cepat karena memang warga sangat membutuhkannya, apalagi saya lihat tidak banyak aparat pemerintah yang turun mengatur bantuan atau hanya sekedar menenangkan warga yang mirip anak ayam kehilangan induknya. Rakyat semakin gelisah ketika beredar isu, banjir kemungkinan tidak akan surut selama satu minggu ke depan.

Tiba di rumah jam 19.00, saya langsung tidur karena besoknya, Hari Minggu (28/03), ada acara fun bike Radio Dakta di BCP dan Jalan Santai Harian Radar di GOR Bekasi. Sebelum tidur saya check dulu  kupon door prize. Panitia sudah mewanti-wanti agar membawa kupon tersebut yang akan ditukarkan dengan banyak hadiah. Saatnya untuk berdoa, semoga saya bisa memenangkan hadiah utama.

Sabtu yang melelahkan membuat tulang saya terasa remuk. namun karena terikat janji dg SeBUAI terpaksa ikut mendampingi kegiatan Minggu. Umur ternyata tidak bisa dibohongin

Dan, benar saja, esok harinya saya memenangkan door prize umroh yang diberikan secara spontan oleh Pa Walikota. Tapi sayang sekali, karena saya menjadi bagian dari kepanitiaan dan menghindarkan tuduhan main mata dengan Pa Wali, terpaksa hadiah door prize diberikan dengan penuh keikhlasan kepada  seorang guru yang sudah lama bercita-cita menjadi tamu Allah.

Alhamdulillah, hari yang penuh berkah bagi kami semua. Kolaborasi apik antara  SeBUAI, Beblog dan Bloger Karawang serta para pengamen jalanan telah terjalin dengan baik. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan ini menjadi bagian dari solusi yang mampu meringankan sedikit beban warga yang terkena bencana banjir.

Ketika saya ingin menyelesaikan tulisan ini, TVONE menayangkan running text yang berbunyi: ribuan rumah masih terendam di wilayah Bekasi; ada sekitar 29 ribu warga karawang belum bisa kembali ke rumah; ketinggian air di daerah bencana Bekasi masih sekitar 1,5 meter; luberan air bendungan Jatiluhur belum berhenti; Rumah Gayus di Kelapa Gading bernilai milyaran rupiah.

Nah, yang terakhir tidak ada hubungannya dengan bencana banjir, tapi itu berkaitan dengan bencana moralitas bangsa ini. Sekian dulu saatnya untuk tidur, “Bu ! Bukain pintunya dong !”.

Salam Beblog dari kemangpratama

SeBUAI Punya Hajat

Gedung Juang yang biasanya sepi & cuma rame sama kelelawar aja,hari Sabtu 27 Maret kemaren kembali ‘bergejolak’. Setelah ‘numpang2’ sama para ‘penunggu’,hajatannya SeBUAI pun di mulai. Jam 11 kurang sedikit,acara pun dimulai walaupun sebenernya masih kurang ‘menggigit’. Seperti biasa,tamu yang confirm lebih dari 50,tapi Alhamdulilah,yang confirm dateng malah ngga ada sama sekali. Malah ada tamu dadakan,anak-anak SMKN 2 yang hari Jumat selepas UN,dateng ke gedung juang & liat kita lagi pasang spanduk & mau dateng di acara hari Sabtu plus nyumbang buku.

Jam 11,acara dibuka oleh MC kita hari itu, Mas Wahid. Terus dilanjutin doa oleh Ka Joko. Dan karena Bapa Kepala Suku kita ngga hadir,sambutan pun saya ambil alih (bukan kudeta loh ya). Kemudian ada sambutan dari perwakilan KSGJ yang diwakilin sama Om Day (Dayak-red). Setelah itu, diputarlah profil & video SeBUAI. Temen-temen KSGJ yang fotonya mejeng di profilnya SeBUAI pun rame saling ledek. Waktu video di puter (video ini pernah di puter waktu Amprokan Blogger,masih inget ngga?), temen-temen KSGJ & temen-temen dari SMKN 2 sempet hening (terharu kali ya?hehehehe).

Acara dilanjutin sama sesi diskusi & Tanya jawab antara audience, Team SeBUAI, & temen-temen KSGJ. Tadinya acara diskusi ini mau diisi Tanya jawab antara Pa Harun,Bang Ane (Kepala Sukunya temen-temen KSGJ), dan Ibu Bupati yang tadinya berkenan hadir tentang Pendidikan untuk anak-anak jalanan. Tapi karena ketiganya ngga ada,diganti sama ngobrol-ngobrol santai & acara perkenalan SeBUAI,temen-temen yang dateng & temen-temen KSGJ. Terus ngga lupa, temen-temen KSGJ performance 3 lagu yang disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Kata Mba Mila sih,rada sedikit ngaco,tapi yang penting kan having fun lah…hehehehe

Di penghujung acara,datanglah para gerombolan Ibote yang membawa sumbangan buku,meja baca kecil, dan alat tulis. Langsung deh,dengan kegilaan mereka,waaahhh meriah deh jadinya. Team SeBUAI pun bergerak mundur untuk beres-beres ruangan perpustakaan & mendata buku-buku yang dibawa oleh gerombolan Ibote. Saya sendiri di wawancarai 2 orang wartawan, Mas Chandra  dari Pikiran Rakyat & Rianna dari Republika.

Jam 1 lebih, rombongan Pa Harun datang & kami pun di briefing oleh Bang Ane untuk koordinasi membawa bantuan korban banjir Kedung Waringin. Acara Pembukaan Perpustakaan SeBUAI pun di closing. Rombongan bergerak ke Kedung Waringin. Total ada 4 mobil yang berangkat kesana. Kami turun langsung ke lokasi banjir & sempet juga keliling dengan perahu karet. Sambil tetep narsis ya.

Total buku yang kami dapat hari itu ada 412 buku, yang merupakan sumbangan dari temen-temen SMKN 2, Mba Mila, Asyaroh, temen-temen Ibote, dan Ka Ghera yang ada di bogor & nitip sama temennya yang kebetulan pulang ke Bekasi.

Terima kasih buat semua yang sudah mendukung SeBUAI sampai akhirnya Pembukaan Perpustakaan Anak Jalanan bisa terlaksana. Terima kasih sebesar-besarnya untuk Allah SWT atas berkah & rahmatNya,buat orang tua kami yang mendukung & mendoakan, buat Pa Harun yang ngga pernah bosen membimbing & selalu di repotkan oleh SeBUAi, buat media Radar Bekasi yang udah menjadi ‘teman dekat’ SeBUAI, Ibu Ajeng , Mba Mila, Asyaroh, Bang Adit dan Maryadi Aris Munandar yang menyempatkan hadir di acara Pembukaan Perpustakaan Anak Jalanan ini.

Ini baru langkah awal,masih banyak cita-cita & misi yang akhirnya terukir dari perjodohan SeBUAI & temen-temen KSGJ. Semoga bisa terlaksana dalam waktu dekat. Dan ngga bosen-bosennya kami minta dukungan & doa kepada temen-temen semua, agar kami selalu bisa ‘membakar’ semangat membantu temen-temen yang kurang beruntung untuk bisa melihat dunia.