Contoh Foto Bokeh

Belajar Bokeh

Belajar Bokeh
Lensa 50 mm fix

Canon 60D
F-stop : f/1.8
Exposure time : 1/60 detik
ISO Speed : ISO-640
Focal length : 50 mm
Flash mode : no flash, compulsory

Bila fokus dipindahkan ke depan, maka hasilnya akan menjadi seperti ini :

Contoh Foto Bokeh
Contoh Foto Bokeh

Bila ingin dua-duanya fokus, maka F-stop diubah menjadi 20. Hasilnya seperti ini.

Manfaat lensa 50 mm fix
Manfaat lensa 50 mm fix

 

Artikel ini dimuat juga di Blog Kupoto Dunia.

Lancar Kaji Karena Diulang

Illustrasi / source : google.com

?????? ????? ????? ???? ??????

Sahabat pengunjung yang Insya Allah senantiasa mendapat curahan Rahmat Allah SWT.

Hari ini saya teringat dua kalimat pepatah yang dulu sering saya tulis dengan tulisan arab melayu. yaitu :

Lancar jalan karena ditempuh, lancar kaji karena diulang
“Berburu kepadang datar, dapat rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi”

Kalimat pertama sengaja saya tebalkan karena ini yang menjadi fokus saya dalam tulisan ini.
Yah… point pentingnya adalah “lancar kaji karena diulang“. inilah kata nasehat yang sering disampaikan oleh guru ngaji saya dulu ketika kecil. Nasehat yang disampaikan secara halus agar rajin belajar dengan mengulang-ulang pelajaran agar lancar dan lebih faham. Kehalusan bahasa orang-orang tua kita dulu dalam memberikan arahan dan nasehat kepada anak-anaknya begitu cepat dimengerti sehingga mengikutinya pun kita menjadi semangat bagai menerima sebuah inspirasi baru, bukan karena terpaksa. Saya tidak merasa didikte, tapi diminta untuk mencerna pesan dan manfaat yang terkandung.

Sayapun diminta oleh guru ngaji saya waktu itu untuk menuliskannya di buku catatan, waktu itu buku saya tipis sekali namanya buku leces dan Bintang Obor. wal hasil Alhamdulillah sampai sekarang saya masih ingat dan Insya Allah terus menjalankan nasehat beliau dengan senang hati karena sangat bermanfaat. Semoga Allah SWT mencurahkan banyak keberkahan sebagai amal jariyah kepada guru-guruku dulu.

Mari kita bandingkan dengan realita kondisi kekinian, banyak orang tua yang begitu “(apa kata yang tepat ya..?)” memberikan arahan kepada anaknya. Misalnya dalam hal belajar, “Udah, sana belajar. besok mau ujian” atau “Hey..Belajar, Belajar” atau mungkin bisa lebih to the point lagi.

Ternyata ada perbedaan bahkan pergeseran gaya budi bahasa orang dulu dengan zaman sekarang, terutama dalam hal nasehat-menasehati. Orang tua dulu sangat kental dengan budaya asli ketimuran berbicara dengan petatah-petitih, banyak yang hafal pepatah dan kata bijak lalu disampaikan dengan tutur kelembutan dan kasih sayang, orang tua terlihat berwibawa di hadapan anaknya, guru berwibawa di hadapan murid-muridnya, hasilnya luar biasa…. nasehat yang disampaikan melekat sepanjang hayat. Lembut dalam tutur, tegas dalam kata, kaya dalam makna. itulah istilah yang  saya sematkan untuk guru-guruku ketika itu.
Sekarang…? Zaman serba canggih ? adakah yang bisa memberikan pandangan..?

Mari, kita berpantun menutup jumpa kita hari ini : Kemumu di dalam semak, jatuh melayang selaranya. Meski ilmu setinggi tegak, tidak sembahyang apa gunanya. “Hafalkan pantun ini ya, ananda sekalian..” Ujar Guru.

???? ???? ?? ???? ??. ??? ??? ??????

Wassalam

*Artikel ini juga ditulis di blog pribadi yulef.blogspot.com

Belajar tidak ada batasan ilmu

Tidak tahu kenapa memakai judul seperti diatas, kelihatan sangat motivatif, tapi sebenarnya judul di atas sebagai pembelaan diri penulis .

Ceritanya diawali pengenalan internet,tahu cara buka google/searching sangat terlambat ketika di tempt bekerja baru nyambung internet .sekitar 3 tahun yang lalu ( sementara usia penulis saat itu sekitar 40-an ).

Penasaran lihat lihat dan coba coba ,padahal yang namanya komputer tidak punya dasar sama sekali, maklum pekerja lapangan sebagai operator produksi .

Dengan didasari rasa penasaran coba belajar computer lewat buku paket anak saya yang duduk di kelas 4 sd, kebetulan baru ambil kreditan computer bekas pentium 3 jadul.

Akhirnya dengan sedikit Bonek ( bondho nekat ) bisa mengoperasikan excel, word dan sedikit operasi lainnya yang dasar dasar. Lalu coba buka buka internet, ternyata saya merasa selama ini benar benar jauuuuh ketinggalan mengenai pengetahuan computer dan internet. Mulailah coba coba belajar buat blog gratisan di blogger, cuma tidak tahu mau gimana lagi, yang ada cuma trial dan error, ini berlangsung hampir satu tahun, belum sedikitpun mampu buat blog yang bagus, karena memang belajar otodidak.

Akhirnya di tahun ke dua ketemu blog cafebebisnis, punyanya mas lutvi avandi yang mengulas mengenai  bisnis online,belajar wordpres dan trik trik seo, lalu ikutlah saya jadi premium membernya, Alhamdulillah berkat bimbingan mas Lutvi akhirnya bisa buat blog yang berbayar yaitu : http://mardiyanto.info , http://map-of-indonesia.com dan http://best-laptop.in. Semua masih dalam taraf belajar , tapi paling tidak sekarang saya tahu apa itu blog, apa itu wordpress, hosting, domain, dll hal hal yang berkaitan dengan internet. Bahkan saat ini untuk http://best-laptop.in sudah menghasilkan dari program adsense.

Jadi saya berpikir sebenarnya hal hal yang baru dan awam sekalipun apabila kita ada kemauan untuk belajar semuanya bisa terlaksana. Apalagi untuk belajar internet dan pernak perniknya saya rasa tidak ada resiko yang fatal kalau gagal.

Bukan berarti ingin pamer tapi ini mudah-mudahan sangat berguna bagi kita semua, belajar….tidak mengenal batas usia, selama kita masih bisa dan apapun yang selama ini sulit asal ada kemauan pasti ada jalan dan akan terasa mudah.

Kagum dengan Dua Umar

Siapa yang tidak kenal dengan dua Umar ini, namanya melegenda dan menjadi generalisasi dari pemimpin yang adil. Mereka ialah Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Aziz. Dari dua sosok inilah kita akan belajar bagaimana seni memimpin dan bagaimana seharusnya pemimpin saat ini.

Kami mulai dari Umar bin khatab terlebih dahulu, khalifah kedua setelah Rasulullah SAW ini ialah sosok yang berperawakan tinggi besar, namun memiliki hati selembut sutera bahkan lebih lembut lagi.

Suatu ketika Umar terlihat oleh sahabatnya, Abdurahman bin Auf sedang sholat, namun nampak sajadahnya terlihat amat lapuk. Kemudian Aburahman ingin memberikan hadiah sajadah baru untuk khalifahnya, namun ia tahu betul jika ia yang memberikannya langsung maka Umar akan marah, karena Umar memiliki gaya hidup zuhud (sederhana) sehingga ia memberikan sajadah itu kepada istrinya umar, ketika diberikan kepada umar oleh istrinya, Umar berkata “dari siapa sajadah ini?”, istrinya menjawab “dari Abdurahman bin auf”, lantas Umar berucap “kembalikan”. Sebuah fragmen kesederhanaan dari seorang pemimpin kala itu.

Ada pula ketika Umar berkunjung ke suatu daerah kemudian beliau disuguhkan makanan yang amat enak lagi mewah. Kemudian Umar bertanya pada sang gubernur, “apakah makanan ini ,makanan yang dimakan oleh rakyatmu?”, sang raja menjawab,”tentu tidak, ini hanya untuk engkau”. Lantas Umar dengan tegas berucap, “aku tidak akan makan sebelum rakyatmu memakan makanan ini, dan biarlah aku makan paling akhir”.

Umar yang kedua ialah Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin fenomenal saat itu. Memang tidak lama beliau memimpin tetapi sungguh hasil kepemimpinannya hidup lebih lama dibanding masa memimpinnya. Kala itu sudah sudah malam tetapi sang Umar masih bekerja di ruang kerjanya dengan sebuah lilin, tak lama anaknya hendak masuk ke dalam ruangan. Ketika anaknya masuk untuk berbicara dengan ayahnya, lantas Sang Umar meniup lilinnya sekejap ruangan menjadi gelap gulita dan keduanya tidak dapat saling melihat. Sang anak keheranan, dan kemudian bertanya “ayah, kenapa lilinnya dimatkan??”. Kemudian Sang Umar menjawab,”tadi ayah sedang mengerjakan tugas negara dan lilin itu juga punya negara, oleh karenanya engkau datang ke sini untuk berbicara bukan tentang negara maka ayah matikan lilinnya, tunggulah sejenak pelayan sedang mengambilkan lilin yang ada dikamar”. Dan ketika pelayan tiba ,barulah ayah dan anak tadi berbicara.

Sungguh luar biasa pelajaran dari kedua Umar, kisah inilah yang seharusnya mengilhami para pemimpin kita saat ini. pemimpin yang di idamkan oleh rakyatnya. Semoga ada perbaikan akan kepemimpinaan bangsa ini, sepertinya tidak akan mudah terjadi tetapi perbaikan itu bisa kita mulai dari diri kita. Dan biarkan Umar itu hidup dalam hati kita dan menjadi penguat sendi kita dalam berkontribusi.

http://www.penaaksi.com/

Belajar SEO dari Mahadewi BeBlog

“Mbak Ajeng, kulihat tulisan mbak Ajeng tentang Telkomsel Flash Unlimited ada di halaman 25. Satu setrip di bawah tulisanku tentang Telkomsel juga”, tulisku di Blackberry.

“Aku baru nulis mas dan belum sempat kuapa-apain tuh”, jawab mbak Ajeng.

Belum lama waktu berlalu dan ketika aku kembali searching di Google, kulihat link mbak Ajeng malah melorot ke halaman 26, sementara link punyaku masih bertahan di halaman 25.

“Bagaimana mau narsis kalau link kita ada di halaman 25?”, begitu pikirku. Akupun mulai memperbaiki struktur tulisanku agar mudah dikenali oleh Mbah Google. Akibatnya situsku malah terlempar entah kemana dan mbak Ajeng malah masuk di urutan 4 halaman Google. Wouw …!

Sungguh lompatan yang sangat luar biasa. Bahkan kata mbak Ajeng situsnya pernah masuk ke halaman 1 dengan kata kunci “Telkomsel Flash”. Mas Amril kemudian menyusul di belakang mbak Ajeng. Seru juga perjalanan tulisan tentang Telkomsel Flash ini.

Kayaknya aku harus banyak belajar dengan mbak Ajeng nih. Sudah lama sih tidak belajar SEO lagi, padahal setiap minggu selalu ketemuan dengan mbak Ajeng.

Alhamdulillah, pagi ini kulihat situsku sudah masuk halaman 3 mbah Google. Tentu saja masih dibawah mbak Ajeng yang sudah masuk ke halaman 2.

Ayuk belajar SEO lagi sama mbak Ajeng atau mas Nu yang sudah menyandang gelar sebagai lulusan ilmu SEO dari luar negeri.

Kalau ada yang tertarik untuk diskusi SEO, silahkan usulkan hari dan tanggal, nanti kita siapkan semuanya.

Ajeng Mahadewi SEO BeBloG
Ajeng Mahadewi SEO BeBloG

+++
updated :
Siang ini, Rabu, 27 April 2011, iseng-iseng aku search ke Google dengan kata kunci “Telkomsel Flash Unlimited”, hasil yang didapat dari mbah Google menjadi seperti ini :

Tulisanku masuk di halaman 1 pencarian Google dan ada di atas mbak Ajeng. Pasti nasib baik sedang munaungiku nih. Pasti sebentar lagi mbak Ajeng akan kembali naik di atasku.

Silahkan coba juga kalau kata kuncinya “Telkomsel Flash”. Kayaknya aku masih tetap di halaman terdepan Google.

+++
artikel tidak terkait : Pilih Provider yang mana? Telkomsel, AXIS atau 3?

Belajar yang Menyenangkan Yuk!

1291408860916983228

Jum’at , 3 Desember 2010 saya diminta oleh bapak Abdul Hadi Wijaya (Presiden direktur PT.SAGA) untuk memberikan materi belajar yang menyenangkan di Aula Sucofindo Cibitung. Acara yang digagas oleh konsutan pendidikan PT. SAGA Visi Paripurna Bandung ini bekerjasama dengan dinas pendidikan kabupaten Bekasi. Ada sekitar 400 orang guru SD dan SMP Negeri di kabupaten Bekasi hadir dan mengikuti kegiatan ini.

Continue reading Belajar yang Menyenangkan Yuk!

Apa Pengikis Minat Belajar Siswa?

Apakah Pengikis Minat Belajar Siswa?
Apakah Pengikis Minat Belajar Siswa?

Apabila kita bertanya kepada para guru di sekolah tentang pelanggaran apakah yang sering dilakukan oleh para siswa, jawaban mereka di antaranya adalah banyak siswa yang tidak mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah), sebagian mengerjakan PR di sekolah dan sebagian lagi memang mengerjakan di rumah. Adapun mereka yang mengerjakan PR di rumah diantaranya ada yang merasa terpaksa karena takut dimarahi oleh orang tua atau takut akan sangsi yang dijatuhkan di sekolah nanti apabila mereka tidak mengerjakan PR.

Sebagai seorang guru hal ini memang menjadi suatu pertanyaan dan permasalahan yang memerlukan solusi yang baik, selain guru bertugas mentransfer ilmu mereka juga mengemban amanat untuk membimbing dan mendidik akhlak dan kebiasaan siswa karena menurut agama menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap manusia. Mulai dari mereka masih di ayunan sampai kelak ke liang lahat. Disamping itu bila sebagian besar nilai hasil belajar siswa tidak sesuai dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka dapat dikatakan bahwa guru tersebut Belum Berhasil dalam menunaikan tugasnya sebagai guru.

Apabila hal ini berlarut-larut terjadi, kemungkinan Indonesia yang berencana mengentaskan kemiskinan melalui Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun dan peningkatan mutu pendidikan agar sejajar dengan Negara-negara berkembang lainnya tidak akan berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan. Andaipun hal ini terlaksana kemungkinan mereka adalah anak-anak yang terpaksa tuntas dalam program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun karena minat belajar siswa di sekolah yang mulai melemah.

Mengapa minat belajar siswa mulai menurun ? Apa yang menyebabkan mereka tidak bersemangat ? Apakah Belajar hanyalah sebagai formalitas ? Pertanyaan-pertanyan itulah yang mengganjal hati saya untuk menuliskan ini.

Berdasarkan pengamatan saya, beberapa hal yang menjadi penyebab diantaranya adalah :

  1. Banyak dari mereka Hidup di bawah garis kemiskinan
  2. Biaya sekolah yang mahal saat ini
  3. Banyaknya pengangguran berpendidikan tinggi, bahwa sekarang ini banyak para Sarjana atau orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi namun kenyataan di lapangan pekerjaan mereka tidak produktif, tidak bekerja atau sebagai pengangguran dan bahkan menjadi beban anggota keluarga lainnya. Melihat kenyataan ini sebagian orang akan beranggapan bahwa buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang. Toh banyak orang-orang sukses tanpa ijazah.
  4. Tidak ada dorongan dari orang tua yang terus menerus
  5. Program acara TV yang menarik dan menyita waktu anak
  6. Pengaruh asupan makanan yang tak sesuai pola makan yang baik

Melihat banyaknya hal-hal yang mempengaruhi menurunnya minat belajar siswa di sekolah, di sini akan diadakan skala prioritas, hal manakah yang paling berpengaruh terhadap menurunnya minat belajar siswa di sekolah.

Oleh karena itu penulis mengadakan survey/wawancara dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada beberapa siswa dan setelah diadakan pengumpulan data maka kebanyakan mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi atau bermain PS daripada di meja belajar sambil mengerjakan PR atau mengulang pelajaran yang telah diterangkan oleh para guru mereka pada siang harinya. Data yang penulis dapatkan ini sungguh mengejutkan dan membuat penulis berpikir keras untuk mencarikan solusinya.

Hal ini menandakan bahwa di satu sisi kemajuan teknologi tidak dapat dipungkiri perkembangannya, namun di sisi lain kemajuan teknologi secara perlahan namun pasti selain mengikis minat belajar siswa di sekolah juga telah merubah pola hidup dan akhlak ketimuran mereka menjadi lebih “berani” dan vulgar.

Menyikapi hal sedemikian ini tentu para guru dan perangkat pendidikan harus menggali potensi untuk mencari solusi dan metode-metode pembelajaran yang dapat membangkitkan kembali minat belajar siswa di sekolah. Lalu pertanyaannya adalah, apa kiat-kiat dan upaya para pendidik dan personal pendidikan untuk menyelamatkan anak didik mereka agar tidak terlarut dalam program TV semata?

Beberapa guru dan pakar pendidikan berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini diantaranya adalah dengan memberikan variasi cara penyampaian materi bahan ajar atau disebut juga dengan metode pembelajaran, lalu dengan mengubah kurikulum dan bahan ajar serta perubahan beberapa bidang studi baik topik maupun durasinya.

Sampai saat ini hal tersebut masih terus dikembangkan dan dicarikan suatu metode yang sesuai dengan kondisi siswa agar materi yang disampaikan benar-benar dapat diterima dengan baik oleh para siswa. Dalam kesempatan ini, mungkin ada saran dari pembaca kompasiana untuk mencarikan solusi yang tepat dari permasalan ini.

Salam Blogger Persahabatan

omjay

http://wijayalabs.com