Hikmah Dari banjir

Saya kira kita akan akan sampai pada konsesnsus bahwa hari-hari ini merupakan hari yang sangat merepotkan. Bagi pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, dan profesi lainnya yang terhalang aktivitasnya oleh banjir. Ya, banjir tahun ini (2013) disinyalir bahkan melebihi banjir 5 tahunan pada tahun 2002 dan 2007. Parahnya banjir kali ini ditambah dengan jebolnya Kanal Banjir Barat sehingga ada joke yang mengatakan ini sesuai dengan sila kelima dari butir pancasila yang berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Semua warga hampir terkena banjir bahkan pejabat (menteri), kantor pemda, kantor pemerintahan hingga istana presiden (termasuk pak presiden) tak luput dari kebanjiran.

Beberapa media meliput non stop dari mulai breaking news, headline news, sampai liputan live dari lokasi banjir komplit beserta para korban banjir. Hampir semua stasiun televisi memampang kalimat utama seperti “Jakarta Darurat Banjir”, “Banjir Kepung Jakarta”, “Ibu Kota Menjadi Kota Banjir”, dan yang lebih ekstrem adalah “Jakarta Tenggelam”. Dahsyatnya banjir yang juga menggenangi jantung ibu kota di bundaran Hotel Indonesia (HI) ini juga dirasakan di berbagai daerah sekitar (Jabodetabek).

Sumber: www.merdeka.com
Sumber: www.merdeka.com

Namun di tengah bencana nasional (kalau boleh dikatakan seperti itu) tentunya banyak hikmah yang selalu bisa kita petik sebagai pelajaran. Bagaimanapun juga banjir merupakan fenomena alam yang seharusnya manusia sebagai bagian dari alam bersikap eksploratif bukan eksploitatif. Sifat rakus manusia ditudung-tuding banyak aktivis koservasi alam sebagai bagian dari penyebab banjir tersebut, diantaranya sistem perairan yang kurang memadai, sampah yang tidak teratur, hingga terkikisnya bantaran kali yang banyak sudah menjadi bangunan permanen.

Tak bisa dipungkiri memang, karena Al-Qur’an sendiri sudah mensinyalir dengan tegas dalam surah Ar-ruum ayat 41 yang artinya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Alam seolah begitu murka dengan keserakahan umat manusia yang dengan rakus mengeksploitasinya tanpa henti.  Setidaknya, peristiwa ini kita dapat memetik hikmah mengapa bencana (banjir) selalu saja menimpa kita. Mungkin kita akan menemukan banyak sekali pendapat mengapa ini terjadi. Para ahli geologi, barangkali akan mengatakan, “Ini hanya peristiwa alam biasa.” Mungkin para dukun juga akan mengatakan, “kejadian-kejadian tersebut adalah penanda pergantian zaman.” Namun yang demikian adalah pendapat, sah-sah saja jika kita percaya, namun tidak wajib kita imani.

Bencana menjadi teguran bagi mereka yang selamat, demikian pula bagi mereka yang berada jauh dari tempat kejadian. Orang-orang yang tidak terkena bencana, mendapatkan cobaan dari dampak bencana. Mereka yang berada berkewajiban menolong yang kurang mampu. Mereka yang hidup berkewajiban mengurus jenazah bagi yang meninggal. Mereka yang masih memiliki banyak harta, berkewajiban memberikan makanan dan pakaian serta menolong dengan segenap kemampuan kepada mereka yang kehilangan segalanya. Memberi makan kepada mereka yang kelaparan, memberi pakaian kepada mereka yang telanjang dan memfasilitasi mereka yang kehilangan tempat tinggal.

Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Perbuatan manusialah yang selama ini banyak merusak ekosistem dan lingkungan. Manusia yang serakah, selalu mengeksploitasi alam dan banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Peringatan dari Allah yang berupa bencana menunjukkan bahwa Allah masih sayang kepada hamba-hamba-Nya dan menghendaki mereka untuk kembali ke jalan yang diridhoi-Nya sesuai koridor alam. Karena, kerusakan alam selalu mengakibatkan kerugian bagi warga di sekelilingnya, terutama rakyat kecilnya. Karenanya, siapa yang lebih kuat harus melindungi yang lemah. Mestinya kita takut jika tidak menolong, padahal kita mampu, mestinya kita malu kepad Allah jika tidak membantu saudara-saudara yang sedang kesusahan, padahal kita sedang banyak memiliki kelonggaran. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda, “Tidaklah termasuk golongan kita, mereka yang tidak peduli dengan persoalan-persoalan umat Islam”.

Semoga dengan adanya bencana banjir (lagi) tahun ini bisa menjadi bahan kontemplasi (perenungan) kita dalam menyikapi alam ini. Sebagai khalifah yang ditunjuk Allah setelah seluruh isi alam menolaknya hendaknya kita mengeksplorasi alam ini untuk keberlangsungan hidup dan hajat manusia. Bukankah alam sudah mengalah tidak menerima ketika ditawari Allah untuk menjadi khalifah dan manusialah yang siap menerimanya, sudah sepatutnya kita menjaga alam ini. Kita doakan para saudara yang meninggal di tengah bencana banjir diterima di sisi Allah sebagai husnul khotimah dan yang masih diberi kesempatan hidup walau berada dalam kesusahan agar bisa kembali membangun semangat hidup untuk bersahabat dengan alam. Wallahu a’lam bis showaab…

Salam Hikmah,

 

Abu Abbad

 

 

Pesta itu sudah usai, mari tengok yang tidak bisa pesta

Blogger Bekasi sudah menyandang predikat sebagai komunitas blogger yang layak dihargai. Sebuah award bergengsi telah disandangnya dari ajang pesta blogger 2010. Tahun depan, mungkin gantian Amprokan Blogger 2011 akan memberi penghargaan pada komunitas lain yang dianggap layak menyandang gelar sebagai komunitas blogger terbaik di Indonesia, tentu denga kriteria yang berbeda.

Gelar ini makin lengkap karena beberapa blogger yang ada di Bekasi juga mendapat nominasi sebagai blogger yang dianggap punya prestasi di bidangnya masing-masing. Belum lagi stand blogger bekasi yang selalu hiruk pikuk dengan tamu bahkan masih tetap hiruk pikuk saat tamunya sudah pergi.

Tahun ini memang adalah tahunnya BeBlog (blogger Bekasi). Setelah sukses menggelar acara Amprokan Blogger, lengkap dengan acara lomba menulis dengan hadiah yang terbesar sepanjang tahun ini (CMIIW), Beblog juga sukses menelorkan beberapa kegiatan yang mengundang decak kagum komunitas blogger lainnya.

Di luar segala kegiatan internal maupun eksternal yang dilakukan BeBlog, mereka juga sangat peduli dengan kegiatan komunitas blogger lainnya. Hampir selalu ada wakil yang dikirim beBlog jika komunitas blogger di kota lain mengadakan acara dan mengundang BeBlog. Entah itu di Surabaya (mas Irfan yang berangkat), atau di Solo (rombongan Ibote yang dikawal oleh pejabat teras BeBlog, mulai dari Ketua, Wakil Ketua lengkap dengan keluarganya dan Bendahara BeBlog) ataupun di Depok (dihadiri oleh rombongan Ibote, Srikandi BeBlog dan dikawal oleh Wakil Ketua serta Sekretaris Umum BeBlog).

Semua hal itu menjadikan BeBlog sebagai komunitas yang mudah akrab dan diakrabi oleh komunitas lainnya. Lihat saja ketika mesin beBlog digerakkan, maka Mas Amril yang dijagokan BeBlogpun tampil sebagai Blogger Favorit tingkat internasional.

Wajar kalau saat ini BeBlog merasa layak untuk berpesta. Wajar kalau wajah sumringah muncul dimana saja. Wajar juga kalau ada yang terkena euforia dan memakai kaos yang dipajang untuk tanda tangan sebagai kaos untuk mejeng di depan camera.

Seharian, selama pesta blogger berlangsung, para beBlogers berpesta dengan lagak ragam masing-masing. Sementara itu aku sendiri harap-harap cemas menunggu pengumuman pemenang blog wirausaha terbaik tahun ini. Blog Mie Sehati masuk nominasi 3 besar dalam kategori blog wirausaha dan aku punya harapan besar untuk memenangkan lomba ini.

“Juaranya bukan kita mas. Aku sudah dapat bocorannya”

“O…iya ya? Tak pikir yang menang kalau tidak Mie Sehati ya blognya pak Rawi”

Ternyata benar bocoran yang kuterima dari pak Rawi. Aku jadi sadar bahwa pagi tadi aku sudah disalami oleh sang pemenang. Rupanya itu adalah salaman sebagai pertanda kemenangan bukan di tanganku.

Aku tentu kecewa dengan hasil ini, karena aku punya angan-angan untuk menyumbangkan hasil kemenanganku ini ke ACT untuk diteruskan ke korban bencana alam di Indonesia yang beritanya setiap hari tambah memilukan saja.

Untung aku kemudian sadar bahwa ini adalah keputusan terbaik dari Tuhan. Kuyakinkan diriku bahwa ini adalah kondisi terbaik buat blog Mie Sehati, buat diriku dan buat lingkunganku. AKupun menyadari bahwa blog Mie Sehati masih memerlukan penanganan yang lebih serius, baik di bidang tampilannya, “content”-nya maupun kegiatan-kegiatannya.

Beberapa hari lalu aku juga sudah singgah ke blog sang pemenang dan di blog itu aku menulis kalau blog sang pemenang memang layak menang karea isinya memang bagus.

Tidak jadi menang lomba tidak menyurutkan niatku untuk mengajak teman-teman untuk berpaling sebentar ke Merapi, Wasior maupun Mentawai. Betapa sulitnya mereka di lokasi bencana. Kapal yang mau menuju ke Mentawai untuk membantu korban disana malah terbalik sebelum sampai tujuan. Beberapa helikopter juga tidak bisa maksimal melakukan bantuan ke Mentawai.

Kondisi di Wasior juga tidak kalah susahnya. Lokasi yang begitu jauh dari keramaian membuat bantuan sangat sulit masuk ke lokasi bencana. Bahkan di Merapi yang lokasinya sangat dekat juga masih banyak kendalanya. Masker maupun obat tetes mata langka di pasaran, meskipun ada beberapa penjual masker dadakan yang kemudian mendapat untung dadakan karena bencana ini, namun pada umumnya para korban bencana di Merapi sangat rawan sakit pernafasan dan penglihatan.

Semoga selepas pesta ini para blogger mau melanjutkan pestanya di lokasi bencana. Mau Pesta Blogger di Merapi? Silahkan. Mau di tempat lain juga silahkan. Semua itu adalah hak kita. Tinggal bagaimana kita bisa memilih tindakan etrbaik untuk lingkungan kita, itulah yang paling utama.

Mari peduli sesama.

Saat ini sudah banyak badan sosial yang masuk ke Merapi dan beberapa relawan “dadakan” sudah menghentikan aksi mereka agar proses pertolongan pada korban lebih tertata rapi dan terkoordinir dengan baik.

Salah satu status dari relawan yang langsung terjun ke lapangan terbaca seperti ini :

SAYA TIDAK MENYANGKA.. dgn hanya mengandalkan fesbuk, Twitter, Blackberry dan Nama Baik, kami tim KDCorp bisa mengumpulkan dana Rp. 84.512.400 dan beberapa bahan makanan untuk Merapi dalam waktu 4 hari. mungkin masih jauuuh dr kebutuhan, tapi paling tidak kami bisa melakukan langkah kecil untuk menyampaikan amanah rekan2 semua…

Kini saatnya tim berpengalaman masuk ke lokasi bencana. para korban tidak butuh isak tangis kita di depan mereka. Para korban lebih membutuhkan bantuan yang terkoordinir dan merata di semua lokasi dan di semua titik waktu.

Kubaca melalui beberapa kotak yang masuk ke ponselku, gerakan dari Tim DERU (Disaster Response Unit) yang sudah mulai aktif masuk ke semua lokasi bencana, baik di Mentawai, Wasior maupun di Merapi. Semoga mereka mampu membantu semua korban bencana dengan baik. Kepada para partai yang ada di lokasi bencana, sebaiknya jangan memasang bendera partai mereka, marilah kita lupakan partai apa yang kita anut. Kita lakukan saja semua kegiatan ini untuk saling memudahkan urusan orang lain.

Salam Sehati.

+++

Pesta itu sudah usai, mari tengok saudara kita yang tidak bisa pesta