Jerapah

Adi naik ke tempat tidurnya jam sebelas malam setelah menuntaskan pekerjaan rumahnya, berdo’a sebentar, mematikan lampu dan berusaha tidur secepatnya. Angin AC bergerak tipis di rambutnya, lampu indikatornya berwarna hijau menjadi satu-satunya cahaya dalam gelap. Malam yang sepi, di luar terdengar suara penjual nasi goreng dan penjual sekoteng yang lewat bergantian sebelum sepi kembali. Dia membalikkan badannya, melipat bantalnya atau menumpuknya dengan bantal lain, tapi tidak ada posisi yang bagus bisa mempercepat tidurnya. Dia menguap dua kali, melihat jam di selulernya. Sudah lewat jam dua belas dan masih terjaga. Dia harus bangun sebelum subuh, sarapan jam lima tiga puluh dan berangkat ke sekolah tepat jam enam bersama ayahnya. Rutinitas yang membosankan, dengan kata “bosan” ditulis di buku catatannya saat guru akuntansi-nya menerangkan pelajaran. Mengapa tidak sekolah bukan merupakan sebuah pilihan, pikirnya. Mungkin membaca akan membuatnya cepat tertidur.

Dia bangkit dan menyalakan lampu, memicingkan matanya sampai jelas terlihat deretan buku-buku di dalam rak. Dia mendekatkan matanya pada buku-buku, membaca judulnya satu per satu dan mengingat-ingat isinya sebelum terbentur pada salah satu buku; sebuah novel karya Agatha Christie yang belum selesai dibacanya, dimana ia teringat kembali pernah meletakkan sebuah surat diantara halaman-halamannya, sebuah surat yang mengingatkannya pada urutan-urutan kejadian saat meninggalkan rumah. Continue reading Jerapah