Guru TIK di Persimpangan Jalan

Ketika bertemu pak Jokowi di sebuah hotel di Jakarta, saya katakan kepada beliau untuk mengembalikan mata pelajaran TIK di kurikulum sekolah. Jokowi tampak tertegun sejenak, dan kemudian memberikan senyuman kepada saya, dan bahasa tubuhnya mengatakan akan mengabulkan permintaan guru TIK dan KKPI se-Indonesia.

Perlu diketahui, guru Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) di SD, SMP, dan SMA serta sederajat dengannya di lingkungan kementrian pendidikan agama sangat galau akhir-akhir ini. Guru Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) di SMK juga mengalami nasib yang sama. Perasaan senasib dan sepenanggungan itu, akhirnya membuat kami para guru TIK dan KKPI berembug di UPI Bandung pada 23 Januari 2014. Terbentuklah organisasi guru TIK dan KKPI yang bernama Asosiasi Guru TIK dan KKPI Nasional yang disingkat AGTIKKNAS.

Dalam perjalanannya, organisasi ini mulai mencari celah agar mata pelajaran TIK dan KKPI dikembalikan dalam struktur kurikulum sekolah kita. Perlu diketahui, dalam struktur kurikulum 2013, ada mata pelajaran baru yang bernama prakarya. Mata pelajaran ini menggusur mata pelajaran TIK, dan ribuan guru TIK dan KKPI diminta mengampu bidang studi atau mata pelajaran ini. Banyak guru TIK dan KKPI dialihkan menjadi guru prakarya. Bahkan banyak juga yang diminta menjadi instruktur prakarya.

Melihat kenyataan itu, tentu saja banyak guru TIK dan KKPI protes, dan mereka melakukan dialog dengan pejabat kemendikbud dengan cara melaksanakan atau menggelar kegiatan seminar nasional guru TIK dan KKPI di Gedung A Kemendikbud Senayan Jakarta pada 26 April 2014. Saat itu, agtikknas mengundang pak Nuh, dan pejabat kemendikbud lainnya. Sayangnya, mendikbud di pemerintahan SBY ini tidak bisa hadir, dan membuat guru TIK dan KKPI yang hadir bertambah kecewa.

Kekecewaan mereka kemudian dilimpahkan saat dialog dengan kepala pusat kurikulum kemendikbud, pak Ramon Mahondas. Terjadilah dialog yang berat sebelah, dimana kepala pusat kurikulum “dibantai” dalam berbagai pertanyaan dan pernyataan teman-teman guru TIK-KKPI yang hadir. Mereka tidak puas, karena TIK hanya dijadikan sebagai tools dan bukan sebagai sebuah keilmuan atau sains yang wajib diajarkan kepada peserta didik. Dasar-dasar TIK harus diberikan sejak dini kepada peserta didik kita agar mereka tidak menjadi konsumen di bidang TIK. Anda bisa melihat videonya di sini.

 

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xaf1/v/t1.0-9/10527503_600901746694760_7569788799672100152_n.jpg?oh=0d30be41c767af3fa969d2b7978c6b6a&oe=545BB9B4&__gda__=1415651077_b4535fd107ac4614272bcaebe64f74d3
karikatur agtikknas

Sebagai salah seorang guru TIK yang diberi amanah sebagai sekjen Agtikknas, saya berusa keras agar aspirasi kawan-kawan guru TIK dan KKPI dapat didengar oleh orang nomor satu di Kemendikbud. Pada Jumat, 2 Mei 2014, Agtikknas melakukan demo besar bersama para mahasiswa untuk menentang kebijakan pemerintah yang tidak adil kepada kami guru TIK dan KKPI. Kami memberikan 10 pernyataan sikap yang dapat anda lihat di sini. Guru TIK yang baik hati itu mendapat balasan seperti air susu dibalas dengan air tuba. Tujuh tahun lalu, ketika Kementerian Pendidikan menerapkan kurikulum KBK ada hal yang mencapai kemajuan. Dalam struktur kurikulum berbasis kompetensi itu terdapat mata pelajaran baru yang bernama Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).Dikatakan maju karena ketika itu pelajaran TIK adalah hasil “pencomotan” ekstrakurikuler keterampilan komputer kemudian diganti baju menjadi mata pelajaran wajib, bernama TIK.

14096367722027662974
Rembuknas guru TIK dan KKPI 2 di UPI Bandung

Saat sore hari, perwakilan Agtikknas yang berdemo di depan kantor Kemendikbud diterima pak Nuh di ruang kerjanya. Beliau meminta kepada kami menyampaikan unek-uneknya. Namun sayang, waktu pak nuh singkat sekali sehingga pertemuan kami dengan pak Nuh tidak berlangsung lama. Pak Nuh mengatakan bahwa mata pelajaran TIK tetap dihapus dalam kurikulum 2013. Anda bisa melihat videonya di sini.

Setelah bertemu dengan pak Nuh, agtikknas terus melakukan konsolidasi dan memperkuat organisasi. Dalam rapat kerja nasional atau rakernas guru TIK dan KKPI se-Indonesia di Wisma Handayani, Jakarta selatan, disepakati Agtikknas terus mengajukan usulan agar mata pelajaran TIK dan KKPI dikembalikan dalam kurikulum sekolah. Tentu saja kami juga menyiapkan naskah akademiknya dan kemudian disampaikan kepada Kemendikbud. Anda bisa melihat foto kegiatan rakernas di sini.

Saat malam hari, perwakilan pengurus Agtikknas mengunjungi gedung DPR untuk menyaksikan langsung dengar pendapat atau rapat menteri pendidikan dan kebudayaan, Mohammad Nuh dengan komisi X DPR. Kami langsung melihat rapat itu dari atas balkon gedung dan melihat langsung laporan Kemendikbud kepada DPR. Pada saat dialog, beberapa anggota DPR, khususnya bang Miing dari PDIP, dan ibu Popong dari Golkar menanyakan nasib guru TIK dan KKPI kepada pak Nuh. Kami pun bersorak riang karena anggota DPR mengapresiasi apa yang kami sampaikan.

https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xfp1/v/t1.0-9/p417x417/10393873_10204201436984231_3958704340081451382_n.jpg?oh=3723cf8b27ea877966d6881d49492a75&oe=54720074&__gda__=1416092301_258d78eb01da91ade8b43133f45ee8c2
foto bersama dengan pak Nuh usai rapat dengar pendapat di gedung DPR

Usai rakernas pada 26-27 Mei 2014, perwakilan Agtikknas diundang oleh direktorat pendidikan SMA membuat draft Juknis dari permen guru TIK dan KKPI. Kami pun menyelesaikannya di hotel Preanger Bandung selama 5 hari non stop siang malam. Kami berusaha keras agar draft yang dihasilkan dapat membahagiakan semua guru TIK dan KKPI di tanah air.

Pada saat menyusun draft itu, ada harapan besar bagi kami terakomodasinya peran guru TIK dari tingkat SD, SMP, SMA dan KKPI di SMK. Harapan itu tertuang dalam draft juknis dan permen guru TIK dan KKPI yang kami usulkan kepada pemerintah. Kami berharap, kemendikbud dapat mengabulkan apa yang kami usulkan.

Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ketua umum (Firman Oktora) dan Sekjen Agtikknas (Wijaya Kusumah), diundang secara mendadak ke hotel Falatehan Jakarta. Saat tiba di lokasi kami diminta mempresentasikan hasil usulan kami di hotel Preanger Bandung. Namun, pihak Direktorat P2TK Dikdas yang ternyata diberi wewenang Mendikbud menyusun Permendikbud peran guru TIK dan KKPI, rupanya sudah memiliki draft tersendiri. Mereka sudah ditunjuk menteri untuk menyelesaikannya.

Kami lalu memberikan masukan agar apa yang dirancang di Bandung dapat diakomodir dan diapresiasi. Sayangnya, posisi kami bukan pada bagian yang menentukan kebijakan. Kami hanya pada bagian mengusulkan. Ketika Permendikbud peran guru TIK dan KKPI diterbitkan atau keluar, tentu saja tidak menyenangkan semua guru TIK dan KKPI. Terutama buat guru TIK dan KKPI yang ijazah S1-nya tidak linier dengan bidang TIK yang diminta kemendikbud. Mereka menjadi sangat galau karena harus kuliah lagi, padahal mereka sudah memiliki sertifikasi guru TIK dan KKPI.

Permendikbud nomor 068 tahun 2014 itu akhirnya turun dan ditandatangani pak Nuh. Peran guru TIK dan KKPI dalam implementasi kurikulum 2013 tertulis jelas di sana. Ada 3 kewajiban guru TIK dan KKPI, yaitu membimbing siswa minimal 150 siswa, memfasilitasi guru, dan memfasilitasi TU di bidang TIK.

Tentu saja, Permendikbud yang baru ini bukan membuat guru TIK dan KKPI menjadi senang dan nyaman. Sebab dalam implementasi di lapangan tidak ada surat edaran ke kepala dinas pendidikan setempat, sehingga banyak sekolah yang belum menjalankannya. Ribuan guru TIK dan KKPI masih dialihkan menjadi tenaga pengajar mata pelajaran prakarya. Guru TIK menjadi bertambah bingung seperti apa yang dituliskan koran kompas cetak di sini.

14098760381797155874

Bersambung………….., sabar ya!

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Mari Bergabung di Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Halo teman-teman guru di Nusantara. Semoga teman-teman guru semua dalam keadaan sehat, dan sukses selalu. Semoga pula kebahagiaan selalu menyertai bapak dan ibu guru dalam menjalankan tugas sehari-hari.

 

 

1392770628683074477
Omjay, Pendiri Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

 

 

 

Alhamdulillah, saya dan teman-teman guru lainnya telah membentuk facebook group komunitas sejuta guru ngeblog. Respon dari para guru di Indonesia sungguh luar biasa, dan mereka telah memberikan alamat blognya di facebook group yang saya buat. Sudah hampir seribu anggota bergabung dalam facebook group ini hanya beberapa hari saja.

 

Harapan dibentuknya facebook group ini bukan ingin menandingi facebook group lainnya yang telah dibentuk guru lainnya, tetapi untuk melengkapi dan mengakomodasi teman-teman guru yang sudah ngeblog dan mempublikasikan tulisannya. Dengan begitu tulisannya akan semakin banyak dibaca teman-teman guru lainnya.

 

Kami para pengurus komunitas berharap akan ada sejuta blog guru yang terus diupdate setiap bulannya. Dengan demikian semakin banyak konten-konten edukasi menyebar di dunia maya. Kalau ada sejuta guru ngeblog setiap bulannya, tentu akan ada sejuta konten edukasi di internet.

 

Alamat facebook group ada di https://www.facebook.com/groups/gurublogger/

 

 

Pada hari pendidikan nasional di bulan Mei 2014 nanti kami akan mengadakan lomba blog secara serentak dengan total hadiah Rp.3.000.000,-. (Tiga Juta Rupiah). Bila dapat sponsor, total hadiah bisa kita tingkatkan. Kami berharap ada donatur dan sponsor yang mendukung kegiatan ini.

 

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog yang saya luncurkan bersama para pemenang guru era baru acer ini sepintas terlalu bombastis, dan tidak realistis.

 

 

Tidak mungkin dalam waktu sekejap dapat mengajak guru untuk ikutan ngeblog. Apalagi jumlahnya sampai1.000.000 (satu juta). Tapi saya yakin mimpi itu akan terwujud, dari 3 juta guru yang saat ini terdata menjadi guru, dari 220 juta penduduk Indonesia guru berada di dalamnya. Gerakan guru ngeblog harus terus disebarluaskan ke seluruh Indonesia. Kita sudah harus memulainya dari sekarang.

 

Pencapaian sejuta adalah target kita. Mungkin di saat itu saya dan pengurus lainnya sudah tiada. Saya optimis, bila ada sejuta guru ngeblog dan guru menulis di blognya sendiri tentang dunia pendidikan, maka akan ada sejuta konten edukasi tersebar luas di kalangan pendidik sehingga ketergantungan guru kepada media arus utama yang terkadang sudah dikuasai penguasa, dapat diperkecil. Guru dapat saling berbagi ilmu pengetahuan dan pengalamannya amsing-masing melalui tulisan di blog.

 

Guru punya kekuatan dahsyat bila menulis di blognya sendiri. Tulisannya dapat dibaca oleh banyak orang tanpa harus khawatir idenya dibelenggu oleh pemimpin redaksi, sebab mereka adalah pemimpin redaksi bagi blog mereka sendiri. Mereka adalah para penguasa di blognya masing-masing.

 

Negara kita yang terdiri dari ribuan pulau perlu didukung dengan gerakan literasi yang tidak biasa. Internet menjadi alat pemersatu guru untuk menuliskan ide-idenya secara online dan dapat dibaca oleh orang lain di seluruh dunia. Oleh karena itu, berpikir sebelum memposting menjadi tanggung jawabnya sebelum mempublikasikan tulisan. Yuk Bergabung di Komunitas Sejuta Guru Ngeblog!

 

komunitas sejuta guru ngeblog
komunitas sejuta guru ngeblog

 

Salam Blogger Persahabatan

 

Omjay

 

Menjadi Guru di Zaman Edan

Semoga kita semua dalam keadaan sehat. Baik lahir maupun batin. Dengan begitu kita bisa menyehatkan orang lain. Apalagi bila anda berprofesi sebagai seorang guru. Anda perlu memiliki kesehatan tubuh yang prima. Di zaman edan seperti saat ini, kesehatan lahir maupun batin harus terjaga dengan baik.

 

13832734187474547
Menjadi Guru di Zaman Edan

 

Menjadi guru di zaman edan memang butuh perjuangan. Perjuangan dari dalam diri maupun perjuangan melawan orang lain. Marilah sekarang kita saling bergandengan tangan untuk mendidik murid atau siswa dengan sepenuh hati. Tak perlu lagi saling menyalahkan, dan mari kita mencari solusi yang terbaik.Tanggung jawab kita bersama-sama untuk menyelesaikannya. Mari, sudah saatnya kita kembalikan ruh pendidikan kepada rel yang benar. Pendidikan yang lebih mengutamakan pembentukan akhlak anak, dan bukan pendidikan yang hanya mengedepankan kognitif saja. Anak harus dididik bukan hanya cerdas otak, tetapi juga cerdas watak.

 

Mari kita simak berita dari detik.com dengan judul “Duh! Ada 10 Siswa SMP yang Terlibat Syuting Video Porno”. Sebagai seorang guru sekaligus pendidik, tentu saya sedih membaca berita ini. Miris rasanya melihat kenyataan itu. Tentu harus dicarikan solusi yang jitu agar murid atau anak didik kita tak menjadi seperti itu. Moral mereka sangat bejat dan nampak sekali pendidikan agama dan karakter tak tersentuh dalam hati mereka. Perlu kerja keras guru mengantarkan mereka menjadi orang yang bertakwa.

 

Lebih menyedihkan lagi ketika membaca berita di okezone.com dengan judul “Siswi SMP di Tasikmalaya Diperkosa Temannya Beramai-ramai”. Saya menangis dalam kesedihan yang mendalam. Sebagai seorang guru saya dan teman-teman guru lainnya harus berjuang agar peserta didik kami menjadi orang yang berilmu pengetahuan dan berkarakter. Mereka harus berprestasi tinggi. Keimanan dan ketakwaan (imtak) harus seiring sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

 

Mereka para generasi penerus bangsa tak boleh menjadi orang edan. Apa itu orang edan? Orang yang berkelakuan bejat dan menjadi laknat bagi semua. Seharusnya mereka harus menjadi rahmat dan sehat rohani serta jasmani. Di zaman global seperti ini, perlu guru yang siap jadi pemandu, dan mampu menjadi tauladan bagi mereka. Keteladanan jauh lebih berbekas ketimbang lisan atau ucapan. Negeri ini memerlukan banyak guru yang mampu memberikan keteladanan. Satu kata antara perkataan dan perbuatan.

 

 

Negara kita tak mungkin terlepas dari era global. Itu berarti Informasi dalam era global sangat terbuka , jiwa kita belum siap. Anak-anak kita belum siap menerimanya bila tak ada pemandunya. Perlu banyak orang tua dan guru yang mampu menjadi pemandu. Seorang teman memberikan komentar di facebook. “Kejadian seperti ini sebenarnya sudah sering terjadi dari jaman saya ketika sekolah di smp kira-kira 2004-2007″. Saya hanya bisa mengucapkan “Astaghfirullah”. Saya memohon ampun kepada Allah.

Seorang rekan guru berkomentar, “guru di zaman edan, murid edan, maka gurunya harus lebih “edan” (baca: Jangan jadi guru yang biasa-biasa seperti kebanyakan guru lainnya)”. Guru harus mampu kreatif dalam berkomunikasi dengan peserta didiknya. Guru harus mengenal karakter siswanya masing-masing.
Dalam diam saya mengaminkan. Jadilah guru yang tidak biasa. Jadilah guru yang luar biasa! Jadilah guru dengan melakukan hal-hal baru dalam berinteraksi dengan peserta didik kita. Jadilah guru yang tak bermental pengeluh, dan jadilah guru tangguh berhati cahaya. Jika semua sepakat bekerja dengan niat yang baik dan ikhlas, Insya Allloh selamatlah negeri ini.
Mari selamatkan pelajar dan remaja kita yang beragama Islam dengan Kitab Suci (Al-Qur’an). Dekatkan mereka pada kitab sucinya, dan bimbing mereka kembali ke jalan yang benar sesuai dengan ajaran nabinya. Begitu juga dengan penganut agama lainnya. Saya yakin mereka membutuhkan pemandu yang mampu memberikan keteladanan dan kepemimpinan. Guru sekarang harus mampu menjadi pemimpin, motivator, evaluator, dan konselor bagi peserta didiknya. Mari mendidik dengan hati. Mari mendidik dengan pikiran jernih, dan disertai zikir kepada Allah. Bila digabungkan dari hati+pikir+zikir, dan strategi pasti dalam kepastian tertuju ke arah kebenaran. Memang sulit banget implementasinya, tapi bisa!
Menurut Ahmad Jauhari, Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi hal di atas adalah:
Pertama, fakta di atas terjadi, salah satunya, ‘control sosial’ sudah mulai melemah.  Dari dulu, di kampung-kampung, control sosial masih kuat, oleh sebab jenis pekerjaan masih seragam. Hmm tampaknya kini tak mungkin lagi.

 

Kedua, Ujung pertama dan tombak utama anak adalah kedua orang tua. Sebetulnya, hal yang pertama patut untuk ditunjuk ‘hidung’ dalam problem di atas (sex bebas remaja) adalah melemahnya kasih-sayang orang tua terhadap anaknya. Pendidikan dalam keluarga mulai melemah.

Solusinya, tampaknya hal yang pertama adalah soal mendidik para calon orang tua, dan orang yang sudah menjadi orang tua, sebab masalah ini apa pada problem kebudayaan kita, yang terggelam oleh budaya hedonisme, materialisme, dan seterusnya. Hal yang persisnya budaya kedagingan dan materialistis. Hal ini yang dikejar orang sekarang. jadi memang pendidikan yang memungkinkan seorang individu yang bisa menjadi diri sendiri, yang harus terus menerus di upayakan.

 

Menjadi guru di zaman edan memang memerlukan kreativitas tersendiri. Gunakan cara-cara baru sebab anakmu hidup dalam alam mereka. Ajak dialog dan teruslah berkomunikasi seperti layaknya seorang sahabat yang curhat kepada temannya. Semoga kasus-kasus negatif tentang murid atau siswa tak banyak terdengar dan terbaca lagi di media arus utama. Mungkinkah?

13832739231919393570

Salam Blogger Persahabatan
Omjay

Ikutilah Teacher Writing Camp di Kampus UNJ Rawamangun, Sabtu-Minggu, 28-29 Desember 2013

Ikatan Guru Indonesia (IGI) akan kembali mengadakan kegiatan pelatihan guru menulis atau “Teacher Writing Camp” (TWC) untuk yang ke-3 kalinya. Acara yang berlangsung dua hari tersebut, Sabtu-Minggu 28-29 Desember 2013, digelar di Wisma Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Kampus A, Rawamangun, Jakarta Timur.

Flyer TWC #3

Ketua Panitia Penyelenggara TWC ke-3, Wijaya Kusumah, M. Pd mengatakan kegiatan ini digelar setelah sebelumnya sukses menyelenggarakan Pelatihan Guru Menulis untuk para guru di Hari Ulang Tahun Guru, 25 November 2012 dan Teacher Writing Camp ke 1 & 2, pada 8-9 Desember 2012, dan 6-7 Juli 2013.

“Kali ini para guru lebih diajak untuk mengembangkan kreativitas karya tulisnya dalam dunia internet, dunia perbukuan, dan pembelajaran,” kata Wijaya Kusumah yang akrab disapa Omjay ini. Saat memberikan keterangan kepada Harian Terbit, Omjay didampingi Sekretaris Panitia, Dahli Ahmad, M. Pd.

Menurut Wijaya Kusumah, acara TWC ini diadakan untuk merespon antusiasme, animo, dan sambutan positif dari para guru baik yang hadir maupun yang belum sempat hadir saat acara sebelumnya. Peserta diharapkan berasal dari guru-guru di Indonesia dan dibatasi hanya 40 peserta ditambah 10 panitia karena keterbatasan tempat.

“Kita berharap semakin banyak guru yang melek internet, suka menulis, dan gemar membaca. Gerakan Indonesia membaca dan menulis harus dimulai dari sekarang,” kata staf pengajar di Labs School Rawamangun, Jakarta Timur ini.

Selain itu, kata Wijayah Kusumah, tujuan kegiatan ini untuk memotivasi para guru untuk aktif menulis, membaca, dan berkreativitas sekaligus memanfaatkan dunia internet dan sosial media.

TWC3_Flyer

“Diharapkan guru berpartisipasi dalam kegiatan ini mempunyai wawasan lebih positif terhadap pemanfaatan internet, sehingga bermanfaat dalam peningkatan kualitas pendidikan. Juga diharapkan dapat menerbitan bukunya sendiri setelah mendapatkan materi teknik menerbitkan buku,” tambahnya.

NARASUMBER

TWC ini akan menghadirkan narasumber dari guru berprestasi, berpengalaman menulis di berbagai media. Juga berbagai komunitas yang fokus kepada penyebaran pemanfaatan internet secara sehat dalam dunia pendidikan. Tak ketinggalan bintang tamu dari penulis terkenal untuk memberikan motivasi menulis.

Pembicara tersebut antara lain Sukani, Pemenang 1 Guru Era Baru (Guraru Award) 2013. Siti Mugi Rahayu, pemenang 3 Guraru Award 2013. Dedi Dwitagama, pemenang Guraru Award 2012. Agus Sampurno, pemenang Guraru Award 2011. Acer Team, ACER Guraru, Dhitta Puti Sarasvati (IGI Pusat), Iskandar Zulkarnaen (admin Kompasiana), Thamrin Sonata (wartawan), Sutanto Windura dan Alpiyanto (trainer/penulis buku).

“Peserta juga akan dilatih menulis di blog http://guraru.org/. Tentu setiap peserta diharapkan membawa laptop, dan membawa modem untuk akses internet atau disiapkan oleh sponsor untuk akses internet dan laptopnya,” kata Omjay.

Sekretaris Panitia TWC-3, Dahli Ahmad, M. Pd menambahkan, panitia membuka diri untuk bekerja sama dan bersinergi dengan semua pihak dalam upaya mensukseskan kegiatan ini. Biaya peserta Rp200.000 ditransfer ke rekening IGI Bekasi di Bank BJB no. rek. 0026825938100.

“Pendaftaran sebelum hari H atau setelah kuota terpenuhi 40 orang, panitia tidak menerima pendaftaran di saat acara berlangsung,” kata Dahli Ahmad. Untuk info lengkapnya dan pendaftaran dapat menghubungi: Omjay melalui nomor kontak 08159155515 email: wijayalabs@gmail.com, Dahli 08128884773 atau email dahli_ahmad@ymail.com (aliem)

Apa Sih Manfaatnya Menulis dan Meneliti Bagi Guru?

omjay
omjay

Seorang guru bertanya kepada saya melalui email wijayalabs@gmail.com. Pertanyaannya panjang banget kayak kereta. Daripada disimpan di dalam email saja, lebih baik saya bagikan saja dalam blog kompasiana, hehehe. Semoga bermanfaat!

  • Manfaat dari menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk apa om?
Wah banyak banget, diantaranya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

  • Ada prospek ndak untuk menambah pemasukan saku, misal ada gak event lomba2 tentang PTK ?
Kalau kita menulis laporan ptk dan anak didik merasa puas dengan pelayanan kita sebagai guru, tentu rezeki dengan sendirinya akan mengalir. Jadi niatnya bukan karena duit, tetapi dalam rangka refleksi diri. Enak gak cara ngajar kita dan disukai oleh peserta didik. Kalau begitu terus, kita akan berusaha untuk emmperbaiki cara mengajar kita menjadi lebih baik.
  • Mengapa omjay suka sekali dengan PTK?
Wow, sebab dengan melakukan ptk saya menjadi tahu kekurangan saya dalam mengajar dan menemukan metode baru dalam pembelajaran. PTK itu dimulai dengan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang menantang, pengamatan yang cemerlang, dan refleksi diri yg gemilang. Itulah mengapa saya suka sekali melakukan PTK.
  • Omjay, saya sangat berminat dengan dunia kepenulisan..godaan terbesar adalah tidak istiqomah, banyak faktor penyebabnya….misal keluarga, masalah pekerjaan, dan urusan lain yang menyita..minta kiatnya, agar istiqomah..
Kiatnya cuma satu. konsisten dan komitmen. Bila berjanji pada diri sendiri ya ditepati. Jangan seperti lagu dangsut eh dangdut, “Kau yang berjanji kau yang mengingkari”, hehehe, Jadi godaan itu lebih besar kepada melawan kemalasan diri.
  • Saya ikut lomba sayembara pengayaan puskurbuk 2 kali, tapi tidak lolos…mengharap bansos pun juga tidak dapat…..sebabnya kira2 apa ya om?apa karena saking banyaknya peserta?
Berkali kita gagal, lekas bangkit dan cari akal. Berkali kita jatuh lekas berdiri, jangan mengeluh. Jadi kalau baru 2 kali mah itu masih kalah dengan saya, saya sudah 10 kali gak menang dan terus saja mengirimkannya dan akhirnya jadi juara pertama, alhamdulillah. Jadi kalau kita kalah jangan lantas terus menyerah. Perbaiki dan pelajari kembali kekurangannya.
  • Om punya jadwal lomba kepenulisan tahunan ndak om?minta share nya om, coba2 saya ikuti..
Wah banyak banget di internet. Tinggal googling aja. Setiap tahun pemerintah selalu membuat lomba karya tulis untuk guru. ketik saja di google lomba karya tulis guru.
  • Omjay bisa ke berbagai kota di Indonesia dalam rangka apa om? undangan dari sana atau delegasi dari lembaga tertentu ?

Dalam rangka menyebarkan ilmu menulis, dan undangan saya dapatkan dari mereka yang belum saya kenal sebelumnya. Mereka banyak membaca tulisan saya di internet, dan kemudian mengundang saya menjadi pembicara. Saya bergabung dalam komunitas Ikatan Guru Indonesia (IGI).

  • Punya link dengan perusahaan penerbitan buku om? Barang kali mereka masih butuh penulis…
Penerbit jelas sangat butuh penulis. Hanya saja, mereka harus selektif dalam memilih penulisnya. Ya  jangan sampai buku yang diterbitkan tidak layak jual dan akhirnya hanya tersimpan di gudang, hehehepenerbit jelas tak mau rugi.
  • Tentang tema menulis, biasanya penerbit menyerahkan pada penulis , atau kita mengikuti penerbit ?
Hmm, bisa tergantung penulis, dan bisa juga tergantung pesanan penerbit. Prinsipnya layak jual dan laku dijual kepada pembaca. Penerbit itu urusannya bisnis, jadi bila tak menguntungkan mereka tak mau menerbitkan, kecuali mereka punya misi sosial.
  • Minta nasehat dan motivasi terus, om…,
Nasehat saya teruslah menulis, dan jangan takut tulisan kita tak dibaca oleh orang lain. Ingatlah motto ajaib omjay, Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
  • Terima kasih, om..
sama-sama

1382947680191799105

spanduk ptk

 

 

Salam Blogger Persahabatan
Omjay

Belajar dan Berbagi Pengalaman Implementasi Kurikulum 2013

Senin-Jumat, 7 s.d. 11 Oktober 2013 saya ditugaskan oleh sekolah untuk berbagi pengalaman mengajar prakarya dalam pelatihan implementasi kurikulum 2013 bagi guru sasaran tambahan tahun 2013.

Pelatihan ini dilaksanakan di Ciloto Indah Hotel Puncak, Bogor, Jawa Barat oleh pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan bahasa kementrian pendidikan dan kebudayaan. Peserta yang diharapkan hadir berjumlah 559 orang guru SMP yang ada di DKI Jakarta.

1381160350658341561

Peserta Diklat Implementasi Kurikulum 2013

 

Kaget juga diminta berbagi pengalaman mengajar prakarya di SMP, dan menjadi fasilitatornya. Saya langsung mempersiapkan peralatan alat peraga yang saya bawa. Dengan alat peraga yang merupakan hasil prakarya siswa SMP Labschool Jakarta, saya berharap lebih memperjelas pengalaman nyata saya dalam mengajar prakarya dengan aspek rekayasa, dan materi membuat alat penjernih air sederhana.

Tahap yang dilakukan saat ini adalah pelatihan implementasi kurikulum 2013 bagi guru sasaran tambahan tahun 2013. Guru sasaran pelatihan ini adalah guru mata pelajaran IPA, IPS, Matematika, Prakarya, PKN, Seni Budaya, PJOK, Bahasa Indonesia, Bahasa Indonesia SMP.

Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman guru di Jakarta. Ada beberapa diantaranya saya sudah kenal lama. Kami seperti berada dalam kegiatan reuni alumni IKIP Jakarta/UNJ. Ketika sesi foto dilakukan setelah acara pembukaan, guru-guru yang hadir nampak ceria dan bersemangat.

Usai acara pembukaan, teman-teman guru mengikuti tes awal atau pretest di ruangan yang sudah disiapkan oleh panitia. Sedangkan para fasilitator dikumpulkan di ruang khusus panitia untuk mendapatkan pengarahan dari penanggung jawab akademis.

Ada pengalaman baru saya dapatkan. Saya bertemu dengan orang-orang hebat yang menguasai ilmunya masing-masing. Saya menjadi tahu bagaimana teman-teman fasilitator berbagi tugas. Di pertemuan itu, kami saling melengkapi dan memberikan masukan agar para peserta terlayani dengan baik.

Setelah berkumpul di ruang panitia, teman-teman fasilitator langsung ke ruang kelasnya masing-masing. Saya diajak menuju ruang belajar prakarya. Di tempat itu, teman-teman guru sedang asyik melakukan tes awal atau pre test. Saya ditemani oleh ibu Elita Burhanudin dan Pak Sigit Purnomo.

Kami saling berkenalan dengan para peserta. Cair sekali suasananya, sebab beberapa orang guru sudah saya kenal dengan baik. Benar-benar terasa reuni suasananya. Kami saling berbagi tugas, dan membagi kelompok kerja. Alhamdulillah, terbentuk 4 kelompok yang terdiri dari kelompok kerajinan, budidaya, rekayasa, dan pengolahan. Ada 32 orang guru hadir dan siap menerima materi pelatihan implementasi kurikulum 2013.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Arti Kemerdekaan di Mata Seorang Guru

Hari ini, Sabtu 17 Agustus 2013 adalah hari bersejarah buat bangsa Indonesia. Kita sedang merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 tahun. Tak terasa kita sudah menjadi bangsa yang merdeka selama 68 tahun. Bagi manusia, usia 68 tahun adalah usia yang mulai menua dan melupa. Selama 68 tahun itu, benarkah kita sudah merdeka? Benarkah kita sudah menjadi orang yang merdeka? Siapakah orang yang merdeka menurut anda?

1376738641791717139
Ollie dan Omjay

Bagi saya secara pribadi, kemerdekaan adalah orang yang tidak terjajah oleh dirinya sendiri. Orang yang dapat mengalahkan dan menaklukan dirinya sendiri. Dia mampu memimpin dirinya sendiri untuk menjadi orang yang bermanfaat buat orang lain. Dia tak merasa terjajah, sebab dirinya mampu memerdekakan dirinya sendiri. Orang yang mampu memerdekan dirinya sendiri itulah orang yang merdeka menurut saya. Dia mampu memimpin dirinya dengan baik sebelum dipimpin dan memimpin orang lain.

Kalau melihat sekeliling kita, maka akan didapatkan begitu banyak orang yang belum merdeka. Mereka masih terjajah oleh dirinya sendiri. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana mereka mengelola waktu dengan baik. Mereka kurang disiplin masalah waktu dan berakibat banyak waktu yang terbuang dalam kesehariannya. Padahal waktu yang diberikan Allah selama 24 jam itu semestinya sudah mampu membuatnya menjadi orang yang merdeka.

Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan bangsa lain. Kemedekaan bukan hanya terbebas dari pengaruh bangsa asing yang begitu gencar. Kemerdekaanyang hakiki  itu sebenarnya terbebas dari keinginan diri yang hanya mementingkan diri sendiri. Bila hati dan pikiran kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka kita harus memulainya dari kecerdasan personal terlebih dahulu. Hal itu tentu saja harus dimulai dari diri kita masing-masing.

Sebagai seorang guru saya menyadari bahwa masih banyak guru yang belum merdeka. Pada akhirnya banyak pula murid yang belum merdeka. Bila gurunya merdeka, maka muridpun akan merdeka. Mengapa? karena guru merdeka akan membuat muridnya merdeka pula. Merdeka dari dirinya sendiri untuk displin soal watu dan mampu mengelola waktu dengan baik. Ketika waktu sudah mampu terkelola dengan baik, maka dia akan menjadi orang yang MERDEKA. Itulah salah satu contoh orang yang merdeka.

Dalam buku karya Irfan Hamka yang berjudul AYAH (kisah Buya Hamka) dan menjadi buku best seller d Indonesia, dikisahkan bagaimana buya hamka mengisi hari-harinya. Kisah Buya Hamka di masa muda, dewasa, menjadi ulama, satrawan, politisi, kepala rumah tangga, sampai ajal menjemputnya tercatat dengan cermat dalam buku ini. Inilah sebuah kisah nyata orang yang merdeka. Penjajah bangsa lain boleh saja memenjarakannya, tetapi dirinya tetaplah orang yang merdeka. “Buya Hamka adalah seorang ayah bagi negeri ini. Ayah bukan hanya dilihat secara biologis, tapi dia juga ayah bagi anak-anak didiknya, ayah spiritualitas”, begitulah Prof. Dr. Komarudin Hidayat berkomentar dalam buku best seller ini.

Kemerdekaan menurut saya adalah terbebasnya seseorang dari penjajahan dirinya sendiri. Bangsa ini memang masih dijajah oleh bangsa asing dalam bentuk lainnya. Namun yang paling penting diri ini tak boleh terjajah oleh dirinya sendiri. Bila kita masih terjajah oleh diri sendiri, sampai kapanpun kita tak akan merasakan kemerdekaan.  Sampai kapanpun negeri ini tak akan pernah merdeka. Kemerdekaan harus dimulai dari kemerdekaan diri sendiri. Kemerdekaan negeri harus dimulai dari pribadi yang merdeka.

Semoga di hari kemerdekaan republik Indonesia ini, kita semua mampu untuk melakukan introspeksi diri dan menilai diri sendiri apakah sudah menjadi orang yang merdeka atau masih terjajah oleh dirinya sendiri. Bila anda sudah merdeka, maka saya ucapkan selamat menjadi orang yang merdeka. Tetapi, bila anda masih terjajah oleh diri sendiri, maka segeralah lawan dirimu dengan terus menerus memperbaiki diri. Pepatah bijak mengatakan, “Menaklukan ribuan orang belum tentu disebut sebagai pemenang, tetapi mampu mengalahkan dirinya sendiri, itulah yang disebuat penaluk gemilang.

Ollie  dan Omjay
Ollie dan Omjay

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Dukung Omjay! Tolak Kurikulum 2013!

Semangat Pagi friends,

 

Pagi ini saya baru saja membaca sebuah artikel luar biasa dari Omjay tentang pendapatnya serta kompentensi-nya sebagai seorang guru, berikut ini adalah link tulisannya:

 

http://wijayalabs.com/2013/03/20/bismillah-saya-menolak-kurikulum-2013/

 

download (1)Secara pribadi, jauh sebelum isu perubahan kurikulum dilontarkan oleh pemerintah dan rencananya akan di implementasikan pada tahun ajaran ini, sebenarnya saya sudah gregetan kepingin komentar, hanya saja saya merasa tidak memiliki kompetensi untuk itu, mungkin pandangannya juga akan sangat minim sekali dan tidak seperti pandangan omjay yg cukup komprehensif dalam tulisannya tersebut.

 

Syukurlah tulisan omjay serasa mewakili kepentingan sebagian masyarakat pendidik maupun masyarakat umum seperti saya ini, usul saya sebaiknya artikel penolakan tersebut disampaikan secara resmi (namun dengan mengkaji kembali beberapa kalimat yang terkesan menuduh dan memojokkan pihak ataupun oknum tertentu), melalui organisasi Ikatan Guru Indonesia (IGI) dimana Omjay sebagai pengurusnya, kepada pemerintah, agar bisa dipertimbangkan kembali.

 

Continue reading Dukung Omjay! Tolak Kurikulum 2013!

Mencari Guru Kreatif dan Produktif di Kurikulum 2013

Saat ini masih banyak guru yang belum kreatif dan produktif.  Mereka hanya menjadi guru yang sebatas mengajar saja. Padahal banyak sekali yang bisa dikembangkan dari mata pelajaran yang diampunya. Bahkan guru bisa menjadi seorang entrepreneurship yang handal di bidang pendidikan. Mereka tak perlu berdagang, tetapi cukup menjadi guru yang kreatif dan produktif. Salah satu cirinya adalah mereka mampu merancang kegiatan pembelajaran yang efektif, dan berkualitas.

Ikutan Yuk!

Ikutan Yuk!

Apa sih guru yang kreatif itu? Lalu apa pula guru produktif? Mari kita jawab pertanyaan ini dengan sebuah senyuman yang manis terlebih dahulu di bibirmu yang memerah. Siapa tahu anda dapat menjadi seorang edupreneurship yang mampu membuat model desain sistem pembelajaran yang menyenangkan sekaligus membahagiakan.

Guru kreatif adalah guru yang tak pernah puas dengan apa yang disampaikannya kepada peserta didik. Dia berusaha menemukan cara-cara baru untuk menemukan potensi atau bakat unik siswa. Baginya, setiap tahun harus ada kreativitas yang dikembangkan dalam dirinya. Sehingga materi yang disampaikannya tak melulu itu-itu saja setiap tahunnya. Bila dia mengajar sudah 10 tahun, maka 10 tahun itulah dia mengulang materi yang itu-itu saja tanpa ada kreativitas di dalamnya. Padahal setiap tahun tentu kita akan mengalami peserta didik yang tidak sama dengan tahun sebelumnya. Di situlah guru dituntut harus kreatif dalam menyampaikan bahan ajarnya sehinggsa sampai ke otak siswa dengan cara-cara menyenangkan.

Hanya guru-guru kreatiflah yang bisa melakukan itu. Dia akan berusaha untuk berani mencoba cara-cara baru melalui penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan begitu guru diharapkan rajin untuk membaca buku dalam menemukan metode pembelajaran terbaru, dan tidak hanya ceramah melulu. Peserta didik benar-benar terlibat aktif dan terjadi inreraksi dua arah di dalamnya. Murid senang, dan guru pun senang. Terjadi pembelajaran yang mengasyikkan.

Guru produktif adalah guru kreatif yang tidak pernah puas dengan pembelajaran yang dilaksanakannya. Dia selalu melakukan refleksi diri melalui penelitian Tindakan Kelas (PTK) di kelasnya sendiri. Melalui kolaborasi dengan teman sejawat, dia akan memperbaiki kekurangannya dalam pembelajaran, dan segera dituliskannya. Hal itulah yang membuatnya menjadi produktif. Apa yang dikerjakannya selalu dituliskan.

Guru produktif akan menuliskan apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang dituliskan. Konsisten dan komitmen dalam menjaga diri untuk menulis membuatnya menjadi guru yang produktif. Salah satu contoh yang paling mudah adalah buku pelajaran yang diampunya sudah dibuatnya sendiri dengan perbaikan terus menerus. Diapun belajar dari penulis buku lainnya. Dengan begitu terjadi edupreneurship dimana guru dilatih dan berlatih untuk membuat buku yang berkualitas.

Edupreneurship akan menumbuhkan kebiasaan guru untuk menulis. Menghasilkan tulisan yang kreatif, menarik, dan memiliki nilai komersial dengan dukungan sarana TIK. Selain itu guru akan mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan untuk dapat ditularkan kepada anak didik melalui metode pembelajaran. Pada akhirnya akan merubah guru dari sekedar user (pengguna) buku pelajaran menjadi writer/producer (penghasil/penulis) buku dan materi pelajaran yang dikuasainya.

Pembelajaran merupakan sebuah upaya yang dilakukan untuk memperoleh kompetensi atau berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan. Upaya untuk meningkatkan efektifitas proses pembelajaran selalu dilakukan tanpa henti. Proses pembelajaran dapat dipandang sebagai sebuah sistem dengan komponen-komponen yang berinterfungsi satu sama lain. Dalam sebuah sistem, komponen yang satu akan menjadi masukan bagi komponen-komponen yang lain dalam mencapai tujuan.

Guru kreatif akan dapat menangkap peluang itu dan membuatnya menjadi guru produktif. Selalu saja ada ide-ide segar yang membuatnya menemukan sistem pembelajaran dengan berbagai model. Bahkan, dia mampu membuat media pembelajarannya sendiri untuk membantu para peserta didiknya menerima materi pelajaran dengan baik. Tak salah, bila guru seperti itu menjadi guru yang kaya. Guru yang tak pernah kehabisan ide kreatifnya, dan membuatnya menjadi semakin produktif dalam menjadi guru di era baru.

Guru di era baru adalah guru yang mampu melihat perubahan yang terus terjadi. Dia menempatkan siswa sebagai komponen penting dalam sitem pembelajaran di sekolah, karena siswa merupakan subyek dari proses dan aktivitas pembelajaran. Pembelajaran harus menjadi sebuah aktivitas yang berfokus pada siswa, dan bukan pada guru yang terlalu dominan di kelas.

“Saat ini masih banyak guru yang belum kreatif dan produktif. Mereka hanya menjadi guru yang sebatas mengajar saja.” dan jika kurikulum 2013 diterapkan, fungsi guru nantinya hanya memang sekedar mengajar saja, karena kekreativitasan mereka dalam membuat silabus, RPP dan lain-lain akan diputus karena semuanya sudah dibuatkan pemerintah.

Setiap siswa  merupakan individu yang unik dengan potensi kemampuan yang berbeda-beda. Howard Gardner-psikolog dan ilmuwan dari Harvard Universitymengemukakan sebuah dimensi baru tentang kecerdasan manusia.Kecerdasan itu adalah matematis-Logis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan musikal ritmis, kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalistik.

Guru kreatif akan mampu menemukan kecerdasan setiap peserta didiknya. Diapun menjadi produktif karena apa yang ditemukannya menjadi bahan pembelajaran yang menarik. Kalau sudah begitu, edupreneurship atau pendidikan kewirausahaan tinggal disisipkan saja sebagai bumbu yang membuat peserta didik akhirnya mampu mandiri dan bermental pengusaha. Mental pengusaha akan membuatnya tak akan pernah menyerah dalam kondisi apapun. Dia akan terus berjuang secara mandiri dan mampu memotivasi dirinya sendiri.

Sudahkah kita sebagai guru merubah mind set mereka dari bermental pegawai menjadi bermental pengusaha? Bila jawabannya sudah, maka sekolah tak akan melahirkan lulusan yang menjadi pengangguran terdidik. Buat apa sekolah kalau para guru tidak mampu melahirkan peserta didik yang bermental enterpreneurship.Oleh karenanya para guru harus memiliki ilmu edupreneurship yang membuatnya terlatih menjadi guru yang kreatif, dan produktif.

Kreatif bukan ilmu yang bisa dipelajari tapi sesuatu yang bisa dilatih dengan mulai dari yang sederhana. Bagi siswa, peran guru atau pengajar mempunyai andil yang besar untuk keberhasilan masa depan siswanya. Semoga banyak Guru di Indonesia semakin kreatif, produktif, dan para edukator kita mempunyai “entrepreneurship mind set” untuk anak didiknya, Insya Allah … amin.

 11398_4552174043326_1097605753_n

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Guru, Dosen, Buku, dan Kurikulum Baru

Guru dan Dosen
Guru dan Dosen

Begitu banyak tulisan tentang guru di berbagai media. Seolah-olah hanya guru yang disalahkan dalam lemahnya ranah pendidikan di negeri ini. Para dosen di perguruan tinggi tak mau disalahkan, sebab kunci kuatnya pendidikan terletak pada guru. Padahal kita melihat, kualitas guru kita menjadi kurang baik lantaran rendahnya mutu dosen di tingkat perguruan tinggi . Terutama dosen-dosen di lembaga pencetak para guru. Silahkan anda lakukan penelitian, pastilah anda akan mendapatkan kenyataan itu. Tak usah marah, mari kita sikapi dengan cara yang bijaksana.

Guru di sekolah, dan dosen di perguruan tinggi seharusnya berjalan seia sekata sesuai dengan harapan undang-undang guru dan dosen. Mereka harus memperbaiki cara mengajarnya, dan mampu berkomunikasi dengan baik kepada peserta didiknya. Interaksi menjadi indikator nyata bahwa terjadi komunikasi yang harmonis antara pendidik dengan peserta didiknya. Pembelajaran yang menyenangkan terjadi di antara keduanya. Guru dan dosen harus terus belajar dan mengupdate dirinya.

Guru adalah sosok professional dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya. Oleh karena itu guru harus banyak membaca buku. Rajin mencari informasi baru di internet dan menciptakan konten-konten edukasi. Guru harus mengupdate pengetahuan baru dari buku dan sumber-sumber lainnya.

Dari banyak membaca itulah akan terasa betapa luas ilmu pengetahuan, dan betapa sedikitnya ilmu yang kita kuasai. Bila guru banyak membaca, maka dia tak akan pernah kehilangan ide dalam mengajar dan melakukan inovasi baru dalam pembelajaran. Guru akan seperti mata air yang tak akan habis airnya dan terus mengalir dari atas hingga ke bawah

Dosen adalah guru yang mengajar di perguruan tinggi. Negeri ini membutuhkan banyak dosen yang berkualitas untuk mencetak para guru. Dosen yang berkualitas akan melahirkan mahasiswa yang berkualitas pula. Oleh karena itu sudah sepatutnya dosen-dosen kita berpendidikan minimal S3 dan lulus dari perguruan tinggi terpercaya dan terakreditasi. Sehingga gelar doktor yang disandangnya bukan hanya sekedar gelar, namun bermanfaat buat orang banyak keilmuannya.

Kita melihat sedikit sekali doktor-doktor bergelar S3 yang mau turun gunung berbagi ilmu pengetahuannya. Kita mungkin mengenal Pak Onno W Purbo, dan Pak Romi Satria Wahono. Kedua doktor ini sangat banyak memberikan ilmunya kepada orang lain. Mereka mau turun gunung dan memberikan ilmunya. Kita membutuhkan doktor-doktor seperti itu, dan bukan doktor yang hanya duduk tenang di ruangan ber-AC.

Kita kehilangan dosen-dosen yang memiliki idealism tinggi dan senang berbagi ilmunya. Mereka pun senang membuat dan menyusun buku. Mereka mengikat ilmunya dengan buku-buku yang sangat menginspirasi pembaca.

Buku adalah jendela dunia. Tanpa buku kita mungkin belum tahu apa-apa. Banyak buku terlahir setiap harinya. Anda bisa mencarinya di google books, dan anda akan takjub dengan banyaknya buku yang terbit setiap harinya.

Sayangnya, budaya membaca atau literasi masyarakat kita masih lemah. Terutama dikalangan guru dan dosen. Akibatnya, banyak guru dan dosen yang harus diupdate keilmuwannya. Mereka harus banyak membaca dan belajar secara mandiri. Bila mereka terus belajar, maka kurikulum baru yang dibuat sendiri oleh mereka akan terasa inovasinya, dan bermanfaat buat para peserta didiknya.

Dosen sebaiknya menghindari proyek dan fokus dengan keilmuannya. Sebab sering ditemukan, ada dosen yang hanya datang dalam 3 pertemuan saja dengan mahasiswanya dalam satu semester. Untuk hal ini sudah menjadi buah bibir bagi mahasiswa yang sering ditinggalkannya.

Kurikulum Baru sebentar lagi akan diluncurkan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan. Terutama kurikulum untuk di tingkat sekolah (SD/SMP/SMA/SMK, dan sederajat). Semoga diikuti pula dengan kurikulum di tingkat perguruan tinggi. Kalau hanya di sekolah saja kurikulum berganti, sementara di perguruan tinggi tidak diperbaiki, maka jangan salahkan guru bila kita tak mendapatkan guru-guru yang cerdas dan berkualitas. Sebab sumbernya ada dalam lembaga pencetak para guru.

Mari sama-sama kita kuliti kelemahan dan kelebihan kurikulum baru. Teruslah memberi masukan kepada pemerintah, dan teruslah menulis bila anda merasa tidak puas dengan kurikulum baru. Biasakan berpendapat dengan tulisan, itulah salah satu cara kita sebagai masyarakat intelektual agar dapat didengar.

Bila ternyata tulisan kita juga tak didengar, maka segeralah membangun kekuatan social media. Cari orang yang sevisi dengan anda, maka revolusi pendidikan pun akan segera terjadi. Persoalannya sekarang, siapakah di antara kita yang siap menjadi pelopor dan bukan pengekor? Harus ada pemimpin yang berani dan terus mengkritisi kurikulum baru. Bukankah kurikulum dibuat untuk kebaikan kita semua?

Salam Blogger Persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com/