Ibu, Engkaulah Harta Terindahku

Membaca buku Ibu, Engkaulah Harta Terindahku membuat saya terharu. Karya tulis yang disusun oleh Ibnu Al-Jauzi membuat saya teringat kembali akan kenangan bersama almarhumah ibu. Terima kasih telah menjadi ibu terbaik untukku. Kalau saja tak memiliki ibu sepertimu, mungkin saya belum menjadi apa-apa. Mungkin saya masih menjadi hamba yang hina dina. Ibulah yang menuntunku agar selalu berbuat kebaikan dan kebajikan.

1374328821801179189

Buku yang terdiri dari dua bagian penting ini dimulai dari sebuah puisi indah:

 

Bunda,

Engakauah harta terindahku

kau telah melihat aku tertawa

Kau juga telah melihat aku menangis

Dan kau selalu ada bersamaku

Aku mungkin tidak selalu mengatakan ini

Tetapi terima kasih telah menjadi ibu terbaik untukku.

 

 

Terus terang, saya sangat tersentuh dengan puisi di atas. Puisi yang dibuat dari hati nan suci. Puisi yang dibuat dari ketulusan hati. Puisi yang ditulis dari seorang anak kepada ibundanya. Puisi yang terukir dari seorang anak yang sholeh dan ingin selalu berbakti kepada ibundanya.

 

Akal sehat mengatakan, siapa yang menyayangi ibundanya, maka dia akan melihat surga. Sebab akal yang sehat pastilah akan mengakui bahwa ibu adalah bagian terindah dari seorang anak. Tanpa ibu, manusia tak berdaya apa-apa ketika dilahirkan. Ibulah yang mengandung kita selama sembilan bulan lamanya. Bahkan ada yang kurang atau lebih dari itu. Itulah kuasa Allah yang tak terkira. Dalam badan ibu, kita sehat-sehat saja menuju hari dimana kita menangis di saat dilahirkan.

 

Kitab suci manapun di dunia ini selalu menganjurkan kepada siapa saja untuk berbakti kepada orang tua, khususnya ibu. Berbakti kepada orang tua lebih utama daripada berjihad. Sebab amalan yang paling dicintai Allah adalah bakti kepada orang tua. Hal terpenting inilah yang saya baca di halaman 18 pada buku ini.

 

Berbakti kepada orang tua akan memperpanjang usia, dan buku ini menjelaskan cara berbakti kepada orang tua di halaman 20. Kita pun menjadi lebih tahu mengapa kita lebih mengutamakan ibu setelah membaca buku yang sangat menginspirasi ini. Buku ini merupakan buku wajib bagi seluruh anak bangsa untuk sejenak memahami dan mengapresiasi eksistensi dan arti seorang ibu.

 

Ada kisah seribu himah dibagian kedua yang sangat menggugah hati. Cerita tentang pemuda yang berbakti sebagai teman nabi Musa di Surga merupakan salah satu kisah yang bisa dibaca di halaman 87 dalam buku itu. Tentu saja, kisah Abu Bakar Ash Shiddiq yang mendambakan ibunya masuk Islam di halaman 96 membuat pembaca akan tahu cerita sesungguhnya tentang ibundanya yang sangat luar biasa.

 

Saya merekomendasikan buku yang diterbitkan Pustaka Akhlak pada Juni 2013 ini untuk dibaca oleh anda yang ingin menjadi anak yang sholeh dan sholekhah. Komarudin Hidayat (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah) menuliskan di bagian belakang buku ini, “Sebuah potret kemuliaan ibu terekam dalam buku ini, dan jangan lewatkan untuk segera membacanya!”

 

Judul Buku: Ibu, Engkaulah Harta Terindahku

Penulis: Al-Jauzi

Penerjemah Ahmad Anis, judul asli Birrul Walidain

Penerbit: Pustaka akhlak

ISBN: 978-602-97537-5-2

Cetakan I: Juni 2013

IMG02434-20130720-1926

 

Bagaimana mengajak bayi Anda bermain…

Punya bayi? Siapa yang ga mau coba? Makhluk mungil itu memang selalu menggemaskan semua orang. Jangankan pasangan yang sudah menikah, yang masih single aja kadang gemas sama yang namanya bayi.

Ya, setiap pasangan menikah pasti akan sangat mendambakan kehadiran seorang bayi mungil di keluarga kecil mereka. Pasti dunia akan lebih indah dan menyenangkan dengan kehadiran makhluk kecil nan mungil itu. Suara tangisannya yang pertama menjadi suara paling indah yang ditunggu sang ayah bunda dan keluarga lainnya. Continue reading Bagaimana mengajak bayi Anda bermain…

IBU hanya memberi tak harap kembali, bagai Sang Surya menyinari Dunia

Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai Sang Surya menyinari Dunia

Waktu aku menyanyikan lagu itu, tidak ada perasaan apa-apa di dadaku. Itu adalah sebuah lagu yang sering kita nyanyikan tanpa pernah merasakan maknanya. Mungkin orang lain merasakannya, tapi aku tidak begitu merasakannya. Aku merasa kasih ibu memang harus seperti itu, jadi tidak ada yang istimewa. Nothing special !

Setelah Ibu tiada, maka aku seperti melihat kilas balik hidupku. Saat ada Ibu di sampingku ternyata adalah benar-benar saat yang sangat berarti, tetapi saat itu aku seperti seseorang yang sedang sehat dan lupa betapa berharganya kesehatan itu. Saat kita sakit barulah kita bisa memahami betapa nikmatnya kesehatan itu.

Ibu adalah sosok yang tak tergantikan. Betapapun hebatnya seorang Ayah, tetap saja Ibu adalah sosok sentral dalam sebuah rumah tangga. Melalui ibu semua mengalir. Apakah itu kasih sayang, kemarahan, atau apapun namanya. Semua difilter pada sosok seorang ibu.

Kalau kita punya Ibu yang hebat, maka bisa dipastikan akan melahirkan anak-anak yang hebat juga. Ibu seperti manusia super di hadapan anak-anak. Ia lakukan semua untuk keluarganya, untuk melindungi anak-anaknya dan mencintai suaminya. Sosok Ayah hanya jadi figur bermain bagi anak-anak, sedangkan sosok Ibu adalah sosok serius.

MORIYAMA Tsuru menuangkannya dalam sebuah komik yang sarat makna. Ini adalah bacaan komik pendek yang membuat air mata seperti tak bisa diatur lagi. Kutuliskan review tentang buku ini di blog pribadiku dan kutulis lagi di bawah ini.

+++

“Pak, BACA!”, kata Lilo padaku.

Aku membalasnya dengan pandangan cape meski tetap berusaha tersenyum. Lilopun maklum dan langsung memasukkan sebuah buku komik ke dalam tas kerjaku. Kubiarkan Lilo menutup tasku dan akupun menenteng tas itu menuju ke luar rumah.

Adegan itu kini terekam kembali dengan sangat  jelas. Pandangan mata Lilo dan semangatnya untuk membuatku membaca buku itu, persis dengan tokoh yang ada di Buku Komik berjudul “IBU”, Satu yang paling berharga karangan MORIYAMA Tsuru.

Yah, aku memang akhirnya membaca buku itu ketika membuka tas kerjaku. Sebuah buku yang tipis dan dibaca dari kanan ke kiri, seperti cara baca Al Quran. Kubaca halaman pertama dan ternyata itu adalah halaman terakhir. Ada gambar seorang ibu yang terlihat dari belakang dan tulisan pendek “selesai”.

Aku baru sadar kalau salah memulai baca buku ini. Akupun mengikuti cara baca Al Quran dan membuka buku ini dari kanan. Ada beberapa judul di daftar isi dan akupun berniat untuk membaca salah satu cerita saja, sekedar menyenangkan Lilo. Kalau nanti Lilo bertanya aku bisa menjawab dengan bekal satu cerita dalam rangkaian cerita ini.

Subhanallah, komik Jepang ini Islami banget. Tidak bisa hanya membaca satu cerita saja, semuanya mengalir begitu saja, tahu-tahu semua isi buku tipis ini sudah selesai kubaca. Tahu-tahu juga airmata sudah berlelehan di pipiku, tanpa bisa tertahan lagi.

Aku terisak-isak sendiri membaca buku ini. Kenangan pada Ibu memang salah satu pemicu air mata panas ini membasahi pipiku, tapi buku ini memang sangat layak baca untuk siapa saja.

Komik ibu di goodreads

Sebuah kisah single parent, orang tua tunggal, yang sangat manusiawi. Sosok Ibu digambarkan sebagai orang yang tak kenal lelah, tapi tetap digambarkan apa adanya. Ibu memang mempunyai sifat manusiawi yang tidak selalu seperti nabi. Ibu bisa salah, ibu bisa mabuk karena minuman keras (sake), tapi Ibu tetap Ibu yang sangat mencintai anaknya.

Sang anak juga digambarkan sebagai anak yang apa adanya, bukan anak yang superior, tapi anak yang sangat menggembirakan orang tuanya. Dia hanya anak biasa, yang takut dengan preman di lingkungannya. Seorang anak yang terpaksa mencuri mainan karena dipaksa oleh anak-anak bengal yang kurang kerjaan.

Seorang Ibu yang sangat memahami anaknya dan seorang anak yang sangat memahami ibunya. Sebuah kombinasi yang sangat pas tetapi ditampilkan apa adanya. Sesuatu yang sangat bisa terjadi di antara kita dan sangat berbeda dengan kisah di dunia sinetron yang lebih sering bicara tentang mimpi, kebetulan ataupun amnesia.

Sebagai anak yang mendambakan sarung tangan kulit tentu sangat kecewa ketika hanya mendapat sarung tangan bukan kulit buatan ibunya sendiri. Ibu mana yang tidak sakit hati ketika hadiahnya dilecehkan oleh anak satu-satunya yang dia sayangi.

“Sesungguhnya orang yang paling bisa menyakiti hatimu adalah orang yang paling kamu cintai”

Bisa dibayangkan betapa sakit hati sang Ibu, dan sikap kasarnyapun muncul. Kemarahannya membuat anaknya dibentak. Ini sungguh adegan yang  manusiawi. Bagiku, adegan ini termasuk salah satu adegan yang sangat menyentuh. Ibu juga manusia yang bisa marah ketika capek dan hasil karyanya tidak dihargai oleh orang yang paling dia cintai.

Selesai membaca buku ini aku langsung berkicau di twitter. Air mata masih membasahi pipi dan hidung masih seperti pilek sehabis terisak-isak sendirian. Terima kasih mas Lilo sudah membuatku membaca buku tentang Ibu ini.

+++

Selamat hari Ibu, 22 Desember 2011. Seharusnya memang tidak ada hari Ibu. Tidak perlu, karena sesungguhnya semua hari adalah milik Ibu. IBU memang hanya memberi tak harap kembali, bagai Sang Surya menyinari Dunia

+++

ibu-moriyama-tsuru
ibu-moriyama-tsuru

+++

Belajar dari ibu

30 puluh tahun yang lalu saya bisa merasakan pedasnya cabe karena ibu yang memaksa saya makan cabe karena saya mengucap kata-kata persahabatan khas surabaya “JANCOK” untuk memanggil seorang kawan dan sehabis itu saya tahu bahwa kata-kata itu tidak boleh di ucapkan sembarangan

30 puluh tahun yang lalu tangan saya pernah dipukul karena “mengambil” uang untuk sewa komik di toko buku langganan dan sehabis itu saya tahu bahwa itu yang dinamakan mencuri

30 puluh tahun yang lalu saya sering diajak ibu jalan berdua ke pasar keputran hanya untuk membeli nasi rawon, soto, es teh dan seperti biasa saya selalu minta tambah nasi tanpa perduli kalau ibu memang juga menahan lapar dan haus setelah sama-sama menahan teriknya kota surabaya dan setelah itu saya tahu bahwa itu yang dinamakan berbagi

Kenakalan dan kenekatan berlanjut terus sampai masuk bangku kuliah

Sering sekali saya harus berbohong kepada ibu hanya demi keinginan mendaki gunung yang saya tahu jika saya bilang pasti tidak diijinkan, terlalu banyak kebohongan yang terucap hanya demi memuaskan nafsu belaka

Sering sekali ibu mengadakan selametan kecil dengan menu bubur merah putih hanya demi keselamatan saya selama pendakian berhari-hari di hutan yang kesemuanya itu tidak bermakna apapun bagi saya

Tidak pulang ke rumah dengan alasan belajar bersama di kampus bisa menjadi senjata utama walaupun di kampus saya hanya memuaskan hasrat bermain bersama teman-teman sampai pagi

Tahun 96 saat saya harus meninggalkan kota Surabaya untuk merantau ke Jakarta, ibu mengantar saya ke stasiun pasar turi

Saya tahu ibu menahan keharuan untuk berpisah sedangkan saya tidak merasakan apapun juga, semua terasa biasa saja tanpa makna apapun

Waktu berlalu begitu cepat dan hubungan dengan ibu berlangsung biasa seperti layaknya orang kebanyakan

Dan beberapa tahun ini saya baru menyadari bahwa kesukaan saya akan seni musik ternyata berasal dari ibu yang sering pentas menyanyikan lagu keroncong

Dari ibu pula saya bisa belajar menghabiskan uang untuk belanja yang sangat bertolak belakang dengan ayah yang seorang akuntan

Dari ibu pula saya banyak belajar melayani pembeli dengan baik walaupun saat itu dagangan gado-gado ibu yang rasanya enak habis laris terbeli tanpa tahu keuntungan berapa yang masuk ke dalam kantong

Tetapi sekarang ibu harus tergolek lemas diatas tempat tidur karena sakit stroke yang di derita selama bertahun-tahun

Sudah berbagai macam cara pengobatan dilakukan dan hasilnya masih tetap sama saja

Saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah memenuhi segala permintaan ibu walaupun ibu tidak pernah meminta

Saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah melakukan amalan-amalan yang terbaik dengan harapan semoga ibu bisa bahagia yang saya sendiri juga tidak tahu apakah hal ini bisa membahagiakan ibu

Hanya satu keinginan ibu yang belum bisa saya penuhi yaitu pergi ke tanah suci

Semoga keinginan ibu yang satu ini bisa segera saya wujudkan walaupun kondisi ibu saat ini tidak memungkinkan, amin….

Kulit Mangga Ibu

Siang itu, bersama adik, kami baru saja pulang dari sekolah di Sekolah Dasar Mutiara. Penuh senyum, ibu menuggu di depan pintu. “ayo cepat ganti pakaian dan makan, nanti ibu kupaskan mangga untuk kalian”, ujar ibu kemudian.

Kami berdua pun bergegas berganti pakaian dan segera ke meja makan. Di atas meja tampak sebakul nasi, beberapa potong tahu goreng, ikan asin dan oseng-oseng kangkung, serta tentu saja buah mangga seperti yang dikatakan ibu. Dua buah mangga yang cukup besar dan belum dikupas. Meski berkulit hijau, saya bisa menebak isinya pasti kuning dan manis.

Ibu tadi beli di pasar, ditempatnya bu Rah. Ibu beli dua untuk kamu dan adikmu”, tanpa ditanya ibu menjelaskan mengenai mangga di atas meja makan, seolah menjawab keheranan kami berdua. O ya bu Rah adalah tetangga kami yang berjualan sayur mayur dan buah di pasar kaget di daerah tempat kami tinggal.

Jangan terburu-buru makannya, nanti keselek”, kata ibu lagi

Enggak kok bu, cuma ingin cepat-cepat aja makan mangga”, ujarku

ah kamu itu Her, kayak enggak pernah makan mangga selama setahun aja”, timpal ibuku

Saya selalu tersenyum setiap kali mengingat percakapan-percakapan ringan seperti di atas. Percakapan ringan yang membuat hari-hari kami begitu indah dan ceria. Pulang sekolah rasanya plong tanpa beban pertanyaan dari ibu mengenai pelajaran di sekolah dan sebagainya.

Ibu saya bukannya tidak peduli dengan sekolah kami sehingga tidak mau bertanya tentang pelajaran di sekolah. Tapi saya yakin ibu justru tahu kalau setiap pulang sekolah kami pasti lelah, sehingga perlu makan dan istirahat sejenak tanpa harus dibebani kembali dengan urusan sekolah.

Selesai makan, sambil mengupas mangga yang isinya memang kuning, barulah ibu menanyakan keadaan kami waktu di sekolah. Kami pun kemudian bercerita tentang pelajaran di sekolah, tentang bagaimana kami ditegur guru karena lupa bawa buku pekerjaan rumah, tentang baju kami yang kotor karena terjatuh saat bermain bola di lapangan di dekat sekolah atau tentang teman kami yang ditegur guru karena ketahuan membolos.

Sambil mendengarkan semua cerita kami, ibu terus mengupas mangga dan membagikan potongan-potongan mangga kepada kami. Sesekali ibu menghentikan kupasannya dan menanggapi cerita kami. Yang menarik, setiap kali mengupas mangga, kulit mangga jarang sekali putus hingga panjang. Kupasan kulit mangga yang tidak terputus itu terkadang kami kalungkan di leher seperti mengalungkan pita.

Nach cerita soal mangga, harus diakui bahwa ibu saya memang pandai memilih mangga. Beliau tahu mana mangga yang manis dan asam, beliau juga tahu mana mangga yang banyak seratnya dan mana yang tidak. Karena itu setiap kali disuapi potongan mangga, kami tidak pernah protes karena kami tahu mangganya pasti manis. Kalaupun ada bagian yang sedikit busuk, ibu akan menyingkirkannya. Ibu juga selalu adil membagi biji mangga untuk kami grogoti. Karena kami berdua, ibu selalu membeli mangga setidaknya dua buah. Belakangan, ketika kedua adik saya yang lain lahir, ibu membeli mangga paling sedikit empat buah.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya kuliah dan mesti kost di Depok ataupun ketika sudah bekerja dan merantau ke luar negeri, saya masih sering teringat dengan kupasan kulit mangga ibu. Setiap kali melihat seorang wanita mengupas kulit mangga, apalagi tanpa putus, saya teringat ibu saya. Ingat senyumnya yang tulus, belaiannya yang hangat dan tutur katanya yang membuat saya bisa melangkah seperti sekarang ini.

Sekarang, ketika melihat saya tersenyum saat menyaksikan seorang wanita mengupas mangga, saya yakin ibu juga sedang tersenyum bahagia dari atas sana. Selamat beristirahat ibu, doa kami di setiap sholat senantiasa menyertaimu. Kami tahu, doa kami belum cukup membalas kebaikanmu. “Seperti udara … kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas ,,, ibu, Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu, Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu”, sayup-sayup suara Iwan Fals terdengar dari radio di ruang kerja seorang rekan saya.

Selamat hari ibu untuk para ibu di Indonesia dan dimanapun berada.

Beijing, 22 Desember 2011.

What’s not to smile when you are a mother

Oh Aniek dear,what’s not to smile when you are a mother?
The center of the universe?
Cheers to the incredible mom!

[Yitzha Sheila Sarwono]

“What’s not to smile when you are a mother” bukan kalimat yang bisa dengan mudah saya ucapkan. Tentunya memiliki Maliq dan Aisha – anak-anak yang diciptakan Tuhan sambil tersenyum- sudah menjadikan saya seorang Ibu.

Bagian paling berat dari menjadi seorang Ibu adalah harus meninggalkan anak-anaknya untuk pergi bekerja. Bagian paling berat dari menjadi wanita dengan kemandirian finansial selama 7 tahun adalah berhenti bekerja.

Semua orang sungguh memperhatikan Ibu bekerja…
(bahkan ada yang menulis di be blog dengan judul ; Derita ibu Bekerja!!)
Dari diskusi milis, buku, artikel dan entah apalagi jenis komunikas yang digunakan banyak yang membahas masalah ibu bekerja. Berapa banyak sudut pandang sudah dijadikan bahan pembahasan mengenai Ibu bekerja.

What’s not to smile when you are a mother ..

Semua orang memperhatikan kesejahteraan Ibu. Surga di bawah telapak kaki Ibu, Rumah sakit ibu dan anak, angka kematian ibu saat melahirkan ..Gerakan Ibu-ibu pintar matematika…

Adalah sebuah anugerah ketika kita diberi kesempatan menjadi Ibu dan memastikan keluarganya sejahtera..

What’s not to smile when you are a mother ..

“Aku sayang Mami” yang diucapkan anak-anak dengan mata mengantuk seusai dibacakan cerita tidak akan mau ditukar oleh seorang Ibu dengan momen apapun.

What’s not to smile when you are a mother ..

Adalah ketika kita tidak mensyukuri anugerah yang diberikan Tuhan untuk menjadi seorang Ibu. Adalah ketika kita tidak menikmati peran sebagai Ibu. Adalah ketika kita kehilangan kesempatan menjadi Ibu…

To all mothers in the world, Let’s smile.

Derita Ibu Bekerja

Dari sebuah milis yang kuikuti, kubaca rangkaian posting yang menarik untuk disebarkan. Langsung saja kutulis di salah satu posting di topik itu permohonan ijin “share” tulisan ke blog.

Silahkan dinikmati.

+++

Assalamualaikum

Maafkan aku bapak..
Aku terpaksa memintamu datang untuk menemani anak2 ku karena aq harus bekerja pagi hingga sore..

Wassalam..

(Hiks..hiks..import ortu krn gapunya pengasuh..cutiku dh habis..)

+++

Mbak XXX,

Itu terjadi sama saya dari tgl 2 Oktober bulan ini, tiba2 saja si mbaknya hari minggu bilang mau pindah ke tangerang, dan hari seninnya
langsung tidak masuk kerja.

Bisa dibayangkan aku punya bayi usia 13 bulan hiks… untuk punya teman yang sudah seperti saudara di Jalan XXX, jadi deh anak dititip ke teman. Saya bilang ke suami, dalam 2 minggu tidak dapat pengasuh, aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga full sambil usaha kecil2an dirumah dan suami setuju. Tapi pas tepat di minggu ke dua hari minggu sore saya dapet pengasuh dan Alkhamdulillah anakku langsung mau, jadi seninnya sudah langsung bisa ditinggal kerja, positif think nya ya Alloh masih berkenan aku bekerja membantu kehidupan perekonomian keluarga…..

Salam

YYY

+++

Ibu-ibu yang baik

Menjadi ibu rumah tangga, dengan mengurus ketiga anak tidak kalah hebatnya… malahan, waktu yang tersedia selama 24 jam, terkadang serasa kurang… kaki jadi tangan, tangan jadi kaki…
Suatu pagi, sambil asyik mengucek cucian, saya perhatikan kesibukan istri saya…
Kompor dua tungku dinyalakan bersama… sebelah kanan untuk menghangatkan makanan, dan sebelah kiri untuk merebus air buat teh manis. sambil menunggu matang, istri memandikan anak kedua yang akan sekolah. di sela2 acara mandiin anak, konsentrasi terpecah dengan sesekali melongok, apakah masakan dan rebusa air di atas kompor sudah matang….
Masih belum cukup, tiba2 si dimas yg baru 3 bulan lebih dikit terbangun… anak kedua yg sedang mandi cepat2 segera diselesaikan dan disuruh mengeringkan dengan handuk sendiri… istri langusng bergegas ke kamar dan menggendong dimas sambil dinenenin….
kemudian kembali ke dapur untuk mengendalikan kembali kompor yg sedang menyala, sambil tetap memberikan ASI terbaiknya…
Setelah kompor dimatikan, memindahkan masakan ke piring, mengaduk teh (tentu saja sambil tetap meng-ASI), langsung dilanjutkan dengan membantu memakaikan baju seragam sekolah…
Cerita belum selesai, karena masih banyak kerjaan di jam 7, 8, 9, 10, dst.. sampai tidur kembali… tapi sudah terbayang bagaimana ribetnya…
bapaknya asyik dengan hanya 1 item pekerjaan mengucek baju… sementara istri sudah menyelesaikan bebarapa item pekerjaan sekaligus…
banggalah menjadi ibu rumah tangga…
salam hangat,
ZZZ
+++
Salam Salut buat para Ibu-ibu kita.
+++
artikel terkait : Untuk Ibuku tercinta

+++

sumber gambar disini, disini dan disini

Merindukanmu, Ibu (Sebuah Persembahan Cinta di Hari Ibu)

Picture 024Dalam perjalanan naik bis tadi pagi, batin saya mendadak disentak keharuan teramat dalam. Di hadapan saya, nampak seorang ibu muda berdiri sambil menggendong bayi di pelukan bersama seorang anak lelaki berusia sekitar 5 tahun ngamen didepan kami, para penumpang bis.

Ibu itu menggunakan daster lusuh berwarna ungu sementara sang bayi dalam gendongannya tertidur pulas dibuai mimpi. Dengan alat musik kincring-kincring yang terbuat dari tutup botol bekas yang dipakukan ke sebilah kayu, sang anak lelaki mengiringi sang ibu yang mendendangkan lagu “Masih Cinta”-nya Kotak. Suaranya terdengar pelan dan lirih. Seperti menyanyikan kepiluan dan kesedihan teramat sangat.

Tanpa terasa mata saya menghangat, tiba-tiba saya merindukan ibu.

Masih melekat rasanya ingatan itu, sekitar 30 tahun silam, di sebuah malam yang hening, di Bone-Bone–desa yang berada sekitar 500 km dari Makassar dan masuk dalam wilayah Kabupaten Luwu.Saya terbangun dan melihat dari balik pintu kamar, ibu saya masih disana. Didepan mesin jahit tua kami menyelesaikan pesanan pelanggan bersama lampu petromaks yang mulai redup.

Disamping beliau, ayah tertidur menemani di kursi rotan usang kami. Segelas kopi terlihat separuh isinya diatas meja didekat ayah tidur. Ibu nampak letih, beberapa kali beliau mengerjap-ngerjapkan mata menahan kantuk. Pesanan Jahitan memang sedang banyak ketika itu karena kebetulan disaat yang sama ada banyak acara pernikahan di desa tempat kami bermukim.

Continue reading Merindukanmu, Ibu (Sebuah Persembahan Cinta di Hari Ibu)

Selamat Hari Ibu!

Kasih sayang IbuSemoga di hari yang indah ini, teman-teman samua dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Semoga pula kebahagian keluarga senantiasa mengiringi aktivitas anda dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Tak lupa pula saya berdoa, semoga anda diberikan rezeki melimpah dari Allah, Tuhan penguasa langit dan bumi sehingga bisa berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan anda.

Continue reading Selamat Hari Ibu!