Pelatihan Manajemen Sekolah Unggul dan Modern

13807041461150601143

Sekolah unggul dan modern tentu menjadi impian kita semua. Di dalamnya ada orang tua, guru dan murid yang saling berkolaborasi. Semua itu tentu dipicu oleh budaya sekolah yang eksis dan tetap dipertahankan. Jadi bukan karena banyaknya fasilitas dan kekayaan yang dimiliki sekolah tersebut.

Sekolah unggul dan modern memerlukan manajemen yang handal. Di bawah kepemimpinan manajer yang kuat keteladanannya, sekolah itu terus melahirkan prestasi dan menjadi buah bibir di mata masyarakat.

Dengan menyadari hal di atas, kami akan mengadakan acara:

 

Workshop Manejemen Sekolah Unggul dan Modern

 

Praktik mengajar di kurikulum 2013

IGI BEKASI BEKERJASAMA DENGAN GURU BLOGGER INDONESIA MENGADAKAN KEGIATAN WORKSHOP “MANAJEMEN SEKOLAH UNGGUL DAN MODERN” PADA:
HARI/TANGGAL: MINGGU, 27 OKTOBER 2013WAKTU: PUKUL 08.00 – 16.00 WIB

 

Pembicara:

Dr. Sony Teguh Trilaksono (Kabid Pendidikan KOI)

 

13807039661501129632
Sony Teguh Trilaksono

 

Drs. Dedi Dwitagama, M.Si (Pemenang Guraru Award 2012)

 

13807040081026553637
Dedi Dwitagama

 

Agus Sampurno (Pemenang Guraru Award 2011)

 

13807040391634536326
Agus Sampurno

 

TEMPAT :

KEDIAMAN PAK SONY TEGUH TRILAKSONO,

JL. RAYA KODAU V NO. 4 Jatimakmur, Pondok Gede, KOTA BEKASI

BIAYA : Rp. 50.000,- (Lima puluh ribu rupiah) untuk konsumsi, spanduk, kesekretariatan, dan sertifikat

Peserta: Terbatas hanya untuk 50 orang guru dan pemerhati pendidikan

PENDAFTARAN:

Omjay hp. 08159155515, atau Dahli Ahmad hp. 08128884773

 

Walikota Tak Hadir Dapat Obrolan Hangat Bersama Kadisdik Kota Bekasi

Minggu pagi (27-01-2013) saya sudah menyibukkan diri dengan handphone. Bukan untuk sibuk dengan internetan dan sebagainya seperti biasa, melainkan menyibukkan diri untuk kontak-kontakan dengan (ajudan) Walikota Bekasi. Sehubungan dengan adanya kegiatan IGI Bekasi (Ikatan Guru Indonesia) yang mengadakan seminar “Pendidikan Karakter Dengan Metode Sentra” di ruang rapat Pemkot Bekasi bersama Yudhistira ANM Massardi dan Siska Massardi (pendiri dan kepala sekolah Batutis Al-‘Ilmi Kota Bekasi). Acara seminar ini akan dibuka oleh Walikota Bekasi sekaligus memberikan sambutan. Untuk hal mengundang walikota lebih sering saya yang menjadi mediator karena secara emosional dan kultural punya kedekatan sejak Bang Pepen sapaan akrab Dr.H. Rahmat Effendi, M.Si masih menjadabat ketua DPRD Kota Bekasi dan saya mengundangnya datang ke Jogjakarta bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa Bekasi di Jogja.

Dari Kiri ke Kanan: Dahli Ahmad, M.Pd (Ketum IGI Bekasi), Yudhistira Massardi,Siska Massardi, Abdul Munif (pengurus IGI Bekasi), Bhayu Sulistiawan (panitia)

Namun karena timing terlalu singkat saya pun baru bisa mengirimkan suratnya melalui staf di ruang walikota pada H-5. Sebetulnya bisa saja saya potong kompas langsung SMS ke pak Wali. Tapi saya tidak ingin menyalahi prosedur birokrasi karenanya tetap surat permohonan saya kirimkan melalui stafnya di Pemkot Bekasi. Dalam hal ini, banyak orang yang tak mengerti dan selalu memaksakan pejabat untuk hadir ketika mengundang. Padahal kita pasti tahu yang namanya pejabat mana pun pasti setiap harinya banyak undangan menghadiri acara, bisa jadi pas kita mengundang tidak sempat hadir atau suratnya terlalu mepet untuk diagendakan. Maka jangan kesal dahulu, lebih baik berbaik sangka. Begitu juga saya waktu itu mencoba memahami. Sejak H-2 acara saya sudah SMS-an dengan staf walikota perihal jadwal tersebut dan menurut info sudah diagendakan, kabar itu pun saya teruskan ke pak Yudhis selaku narasumber seminar dan disambut doa agar pak Wali bisa hadir tidak ada halangan.

Pas hari H saya menelpon staf walikota namun tidak aktif (mungkin sedang ada acara) kemudian saya beralih menelpon salah seorang dari ajudan walikota yang masih tersimpan nomornya di Hp saya, tapi sama tidak aktif juga. SMS saya kirimkan ke staf dan ajudan, setelah menunggu beberapa lama juga tidak ada konfirmasi. Akhirnya kami putuskan untuk memulai acara dan berkoordinasi dengan panitia bahwa pak Wali kemungkinan tidak hadir. Seminar pun dimulai oleh panitia dan pak Yudhis memberikan materi pertama dengan tema pentingnya metode sentra. Di tengah acara saya sempat terpikir untuk langsung kirim SMS ke pak Wali; “Aslmkm.. Bang hari ini ada undangan membuka acara seminar IGI Bekasi di Ruang rapat pemkot Bekasi. Sdh diagendakan? Saya sudah kirim suratnya lewat mba Ajeng (nama staf kantor Walikota)”, ketik saya di kotak pesan. Saya terbiasa menyapanya dengan sebutan Bang / Abang dari pertama bertemu sampai sekarang jadi walikota, dan alhamdulillah beliau tidak keberatan malah senang biar lebih akrab. Teman-teman mahasiswa di Jogja juga banyak yang menyapanya dengan sapaan bang Pepen.

SMS ke pak Wali itu pun tak ada balasan. Saya lanjut di ruang seminar dengan memperhatikan paparan narasumber sambil sesekali blusukan buat jeprat-jepret dengan Canon EOS 1000 D-nya bu Betti (ketua panitia). Tak lama kemudian panitia seksi konsumsi yang di-mayoritasi oleh ibu-ibu meminta bantuan saya mencari tempat makan dan membeli untuk makan siang panitia. Saya pun langsung tancap gas ke warung masakan padang yang ada di belakang komplek Pemkot langganan saya dulu waktu sering berkunjung ke Pemkot. Setibanya saya kembali ke ruang seminar dengan puluhan bungkus nasi padang saya diberitahu oleh panitia bahwa Pak Encu (Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi) hadir dan sudah duduk di dalam. Dalam hati saya langsung berkata, ooo… ternyata pak Wali merespon SMS saya dengan mengirimkan langsung utusan (perwakilan) meski tidak membalas SMS saya (mungkin karena tidak sempat). Saya pun langsung menghampiri pak Kadisdik, Dr. H. Encu Hermana, MM di dalam untuk berjabat tangan menyampaikan salam dan terima kasih. Dalam sambutannya pak Encu menyampaikan pesan mewakili walikota dan memberikan dukungan kepada IGI Bekasi atas kiprahnya serta beberapa pesan dan saran untuk ke depannya.

Kadisdik Kota Bekasi, Drs. H. Encu Hermana, MM, saat memberikan sambutan

Setelah sambutan selesai pak Encu pun langsung pamit karena harus menghadiri acara di Pondok Gede. Saya yang mendampingi sampai loby kantor Walikota saat menuju mobil memanfaatkan untuk berdiskusi (ngobrol lepas non formal) seputar masalah pendidikan di Kota Bekasi. Dari mulai kesiapan menyambut kurikulum 2013, tunjangan guru, sertifikasi, sampai yang paling lama bahasannya adalah kelanjutan nasib eks. RSBI di Kota Bekasi. “Kami menaruh harapan besar kepada Dinas Pendidikan untuk bisa melahirkan kualitas pendidikan Kota Bekasi yang unggul meski tak menggunakan label RSBI/SBI”, ujar saya kepada pria yang memulai karirnya dari guru olahraga ini. Beliau pun menyampaikan terima kasih dan supportnya untuk sama-sama membenahi pendidikan Kota Bekasi, next time kita bicara lagi lebih intens (sharing) dengan IGI Bekasi, ucapnya menutup perbincangan. Wah, dapat sambutan hangat langsung dari pak Kadisdik cukup mengesankan dalam obrolan kami. Oya, beliau juga membeli buku “Pendidikan Karakter Dengan Metode Sentra” yang ditulis oleh pak Yudhis dan isterinya, Bu Siska Massardi sebanyak 10 buku. Namun bukan untuk dirinya melainkan untuk dibagikan kepada peserta sebagai doorprice. Kontan peserta pun semua gembira menyambut donasi dari pak Encu ini. Maklum bukunya tersebut harganya cukup mahal untuk ukuran guru, yaitu 300.000 satu buku.

Obrolan hangat dengan pak Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi

Keesokan harinya, Senin (28-01-2013) pagi sekitar jam 05.30 SMS masuk di Hp saya. Setelah saya buka ternyata dari pak Wali yang mengabarkan bahwa kemarin tidak sempat hadir. Benarkan, pasti agendanya banyak sehingga tak sempat hadir. Bayangkan, hari minggu saja masih harus keliling menghadiri banyak undangan dari masyarakat. Saya pun membalasnya dengan ucapan terima kasih karena sudah mensupport dan mendelegasikan Kepala Dinas Pendidikan, serta menginfokan rencana kegiatan jelang 2 tahun IGI Bekasi.

Salam Guru Blogger,

Abu Abbad

Pemkot Bekasi Gelar Seminar Nasional “Internet Sehat” Bagi Guru dan PNS

Ibu Sri Sunarwati, Kabag Telematika Pemkot Bekasi (tengah) didampingi stafnya saat memberikan materi pada acara seminar nasional (Foto: Nur Aliem Halvaima).

BAGIAN Telematika Pemerintah Kota Bekasi menggelar Seminar Nasional “Pendidikan dan Internet Sehat” bagi guru dan PNS, 14-15 Juni 2012, di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, diikuti  100 orang terdiri guru TK-SLTA dan pegawai Pemkot dan Kabupaten Bekasi, DKI, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah.

“Seminar ini digelar sebagai upaya Pemerintah Kota Bekasi mengasah talenta teknologi informasi dan akhlak mulia bagi insan pendidikan dan aparaturnya. Anggarannya diambil dari APBD Kota Bekasi TA 2012.,” kata Sri Sunarwati, Kabag Telematika Pemkot Bekasi.

Menurut Sri, seminar nasional bertujuan membantu mengkampanyekan sebagai media pendidikan dan hiburan yang positif bagi institusi keluarga dan institusi pendidikan.

Membantu memberikan informasi dan materi acuan yang memadai bagi orang tua dan guru dalam menyikapi perkembangan internet dan dampaknya.

“Selain membantu mengupayakan peningkatan penetrasi internet di Indonesia dari keluarga dan dari komunitas pendidikan secara aman dan bertanggung jawab, juga mendukung edukasi sejak dini tentang internet sehat kepada anak, keluarga dan pengguna internet pemula. Melalui seminar ini pula, salah satu upaya mewujudkan visi-misi Kota Bekasi yaitu, Bekasi Cerdas, Sehat dan Ihsan,” kata Sri.

Seminar diikuti  100 guru TK-SLTA dan pegawai Pemkot/Kabupaten Bekasi, DKI, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah. Sementara narasumber adalah Walikota Bekasi Rachmat Effendi, Komisi D DPRD Kota Bekasi, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komuinfo,  Ono W Purbo, pakar internet, Donny B.U penggiat internet, Wijaya Kusumah pakar pendidikan dan penulis aktif di berbagai komunitas online. Acara dipandu oleh ibu MS Julie dari IGI Bekasi.

Wijaya Kusumah (Omjay) misalnya, membawakan materi dengan lugas, lancar dan sedikit humor tentang pengalamannnya menggunakan internet secara sehat. Omjay awalnya berbagi pengalaman dengan orang dekatnya di lingkungan keluarga, seperti kedua anaknya Intan dan Berlian. “Saya banyak belajar dari kedua anak saya, keduanya lebih duluan menguasai terutama berkaitan dengan smartphone, seperti tablet dan fasilitasnya…hahaha,” kata penulis buku “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa Yang Terjadi” ini. Sejumlah buku sudah Omjay terbitkan yang berangkat dari menulis di blog, termasuk rajin mengisi blog keroyokan di Kompasiana.com.

Pengalaman Donny B.U sebagai penggiat internet, juga tak kalah menariknya. Mantan wartawan detik.com ini menceritakan pengalaman lain keluarganya yang memanfaatkan kecanggihan internit untuk pengembangan usaha busana muslimah. “Ada Mpok saya, buka usaha busana Muslimah melalui internet, sekarang pemasarannya sudah merambah sampai ke negeri Jiran, Malaysia, luar biasa kan?,” kata Donny.

Itu dimulai dari industri rumah (home industri). Mula-mula karena rajin nonton sinetron lokal maupun telenovela di televisi, akhirnya terinspirasi melihat busana pemainnya. Dari jilbab Manohara hingga busana tokoh-tokoh sinetron “Ayat-Ayat Cinta”. Dari tontonan televisi ini, kemudian menjadi acuan mencari contoh busana di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Contoh busana Muslimah versi Tanah Abang itulah, kemudian  ia posting via blog  di internet.

Yang menarik, di setiap sesi penyajian materi, ada kuis dari isi makalah yang disampaikan dengan berbagai hadiah yang menarik, di antaranya buku-buku yang diberikan langsung oleh penulisnya sendiri. “Alhamdulillah, saya kebagian hadiah karena berhasil menjawab pertanyaan si pembawa makalah,” kata Ibu Nunung, guru anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI) Bekasi. (aliem)

salam blogger,

Nur Aliem Halvaima

Wijaya Kusumah (Omjay) sedang membawakan materi dipandu moderator ibu MS Julie pada Seminar Nasional Pendidikan dan Internet Sehat di Hotel Grand Cempaka Jakarta (Foto: Nur Aliem Halvaima)


Guru Bekasi Utara Sampaikan Keluhan Langsung Kepada Walikota

Peningkatan mutu guru tidak bisa terlepas dari aspek kesejahteraan. Di samping mutu ajar yang harus selalu dibangun untuk membuat proses belajar mengajar kondusif para guru juga merupakan jembatan anak untuk meraih masa depan. Dengan demikian sudah sepatutnya pemerintah mengapresiasi guru dengan berbagai kebijakan. Salah satunya aspek kesejahteraan. Namun seringkali aspek ini pun berjalan tidak lancar sesuai dengan instruksi sehingga membuat sebagian guru resah. Itulah sedikit keluhan tentang guru di Kota Bekasi yang berkesempatan menyampaikan langsung kepada Walikota Bekasi, Dr. H. Rahmat Effendi (RE) atau yang akrab disapa “Bang Pepen” dalam acara seminar workshop “Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara” yang juga mendatangi pakar multiple intelligences Munif Chatib di Islamic Center Kota Bekasi 27 Mei 2012.

Guru menyampaikan keluhan dan harapannya kepada walikota

Ada yang menarik di dalam acara seminar workshop kali ini, dimana saat walikota menyampaikan materi dan info tentang beberapa kebijakan pemerintah terhadap peningkatan mutu guru diantaranya program tunjangan pemerintah untuk guru bahwa memang terkadang terlambat, salah seorang guru salah satu SD negeri di Kota Bekasi berkata Tufung (tunjangan fungsional) yang telat. Dengan seketika walikota meminta sang guru tersebut maju ke depan podium untuk menyampaikan langsung. “jarang-jarang kan bisa ketemu dan ngomong langsung di depan walikota”, ucap walikota yang merupakan putera daerah asli Bekasi ini.

Dua orang guru masing-masing guru SD Negeri dan SD Swasta di Bekasi Utara Kota Bekasi yang menjadi peserta seminar workshop berkesempatan berbicara langsung dihadapan Walikota Bekasi. Kesempatan tersebut diberikan langsung oleh walikota yang menjadi keynote speaker pada acara yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) Bekasi dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2012 tersebut.

Saat menyampaikan materinya walikota menanyakan sejumlah hambatan dari program pemerintah yang belum berjalan dengan lancar. Pertama, guru SDN Kaliabang Tengah VII dipersilahkan maju ke hadapan podium untuk menyampaikan keluhannya kepada  walikota. Ibu guru tersebut mengeluhkan tentang tufung (tunjangan fungsional) yang belum cair selama 4 bulan pada tahun 2011 dan di 2012 juga ada yang belum cair. Mendengar keluhan tersebut walikota langsung menunjuk Sekdis (Sekertaris Dinas) Pendidikan Kota Bekasi yang mewakili kepala dinas saat itu untuk menindak lanjuti hal tersebut. “Jangan membiarkan guru menjadi resah karena haknya tertunda”, ucap walikota yang baru saja dilantik 3 Mei 2012 lalu.

menyambut dan mendampingi walikota Bekasi

Setelah diberikan info dari sekdis bahwa ketertundaan tersebut disebabkan karena pemprov Jawa Barat belum mentransfer ke kas daerah, selanjutnya walikota juga menanyakan kepada guru-guru swasta tentang harapan para guru dan apakah yang diberikan oleh pemkot sudah cukup. Guru kedua yang berkesempatan dipersilahkan maju dan menyampaikan harapannya dari SDIT Mentari Indonesia mengatakan bahwa untuk ukuran cukup memang relatif, dan jadi guru itu bukannya banyak tapi cukup. Ketika ditanyakan apa harapannya kepada pemerintah, guru tersebut menyampaikan apresiasinya kepada walikota sebatas kesanggupan pemerintah saja. Namun kalau ditanya apakah mau ditambah, ya syukur alhamdulillah kalau bisa ditambah.

Sebagian para guru yang hadir mengamini apa yang disampaikan kepada walikota agar peningkatan mutu guru sejalan dengan peningkatan kesejahteraan guru tanpa adanya hambatan dan kendala. Usai memberikan materi dan diserahkan cindera mata dari panitia, walikota pun langsung pamit karena harus menghadiri acara lainnya. Saat diwawancara oleh wartawan dan didampingi oleh saya selaku sekertaris panitia walikota menyampaikan apresiasinya terhadap masukan dari guru-guru karena bagaimanapun juga pemerintah berkewajiban meningkatkan mutu guru sebagaimana visi Bekasi Cerdas dan pesan beliau juga agar para guru senantiasa semangat dalam menjalankan profesinya dengan baik.

Pelafalan yang Salah

Belajar bahasa adalah belajar tentang skill atau keahlian. Bahasa tidak untuk dipahami atau diingat saja seperti mempelajari matematika atau pelajaran praktis lainnya. Bahasa harus digunakan, diucapkan dan dituliskan dalam setiap hembusan nafas kita. Jika tidak digunakan, fungsi pembelajaran bahasa menjadi sia-sia karena bahasa itu sendiri adalah alat komunikasi.

Sebagai guru bahasa Inggris, saya pun sangat aware akan perkembangan pembelajaran bahasa Inggris di masyarakat kita. Entah salah siapa, tak tahu berakar darimana. Yang pasti saya sering menemukan pengucapan kata-kata bahasa Inggris yang totally wrong, tidak ada dalam kamus pronunciation manapun. Continue reading Pelafalan yang Salah

Keprihatinan akan Kamus Berlabel “1 milyar”

Anda tentunya sering menjumpai kamus-kamus bahasa Inggris yang di jual di toko-toko buku. Dengan label jumlah kata yang dicakup oleh kamus tersebut, si penulis berusaha untuk menjaring pangsa pasar anak-anak sekolah tentunya dan orang tua mereka. Ada yang kamus 500.000 kata, kamus dengan 1 juta kata, hingga kamus 1 milyar kata. Semuanyaa disajikan dengan sangat apa adanya.

Namun, ada keprihatinan di diri saya melihat kamus-kamus tersebut. Jika anda membuka dan menelusuri isi kamus-kamus tersebut, maka akan banyak dijumpai kesalahan-kesalahan yang mungkin bagi orang awam tidak akan disadari. Justru karena orang awam itulah, mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka baca itu salah. Sehingga akan banyak kemungkinan bahwa kita telah menyesatkan banyak orang dengan mengeluarkan kamus-kamus yang tidak benar isinya. Continue reading Keprihatinan akan Kamus Berlabel “1 milyar”

Social Media dalam TOT ICT Purwakarta

Wah, ilmu baru nih! Ketika mba Ajeng, yang nama aslinya adalah RA Nunuk P, mengungkapkan tentang social media, saya mulai sedikit terbuka dengan istilah social media. Walaupun benar-benar asing di telinga saya, namun saya mencoba untuk memahami apa sih social media itu?

Social media, atau yang biasa disingkat dengan SocMed, adalah sekelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun berdasarkan pada fondasi teknologi dan ideologi web 2.0 yang memungkinkan adanya penciptaan dan pertukaran isi oleh si pengguna social media tersebut. Fungsi social media ini sendiri adalah sebagai jaringan komunikasi sosial melalui internet. Continue reading Social Media dalam TOT ICT Purwakarta

Mengunjungi Parabola Raksasa di Pusat Kontrol Satelit Palapa, Jatiluhur

13255524031534369988
Antena Parabola berbagai ukuran ini berbaris menyambut kedatangan rombongan guru peserta TOT ICT

 

Setelah seharian dihari pertama di gojlok dari siang hingga malam, pagi hari kedua saya bangun dengan tubuh segar. Selesai shalat subuh saya berjalan keluar kamar dan menikmati sejuknya udara pagi di puncak bukit Jatiluhur. Embun pagi menyelimuti alam sekitar, saya keluar kamar membawa kamera untuk mengabadikan keindahan dan keasrian alam disekitar komplek Indosat tersebut. Namun pagi itu saya agak kesulitan melakukan pemotretan dan mendapatkan sudut pengambilan yang bagus. Karena embun begitu cepat menempel di lensa kamera, sehingga saya harus sering-sering mengelap lensa kamera yang saya pakai.

Rencana untuk berolahraga bersama pagi itu juga terpaksa batal, karena hujan mulai turun. Walau tak begitu lebat, namun cukup menurunkan minat berolahraga pagi itu. Tapi setelah hujan reda, sebagian dari peserta perempuan sempat mengadakan senam pagi di halaman depan gedung ITCC. Saya sendiri untuk menghangatkan badan kembali ke ruang bilyard dan bermain sendiri sekitar 20 menit, setelah itu sarapan pagi bersama para peserta lain di ruang cafetaria yang berada disamping ruang bilyard.

Selesai sarapan saya kembali ke kamar dan mandi. Mandi pagi dengan air hangat yang menyembur melalui shower, membuat badan dan pikiran pagi itu semakin segar untuk kembali mengikuti pelatihan berikutnya.

Jam 08.00 pelatihan kembali di lanjutkan. Sesi pertama diisi oleh Raden Ajeng, dokter yang juga sekaligus Dosen UI. Ajeng menyampaikan presentasi Pemanfaatan sosial media.  Sesi berikutnya disambung dengan presentasi dengan thema Domain berbayar oleh Masim “Vavai” Sugianto.

Sesi penutup adalah saatnya para peserta harus berkutat dengan laptopnya, karena materi yang disampaikan oleh Irfan adalah praktek lanjutan membuat blog dengan WordPress. Walau telah melewati masa pelatihan pertama di Bekasi, masih banyak terlihat para guru yang belum menguasai bagaimana membuat blog ini, sehingga masih ada guru-guru ini tidak begitu sukses serta mengalami kesulitan membuat blog pribadi mereka. Tapi nampaknya hal ini cukup di mengerti, untuk membuat dan mengelola sebuah blog bukanlah pekerjaan yang mudah bagi sebagian orang, apalagi yang memang sebelumnya tidak pernah berkenalan dengan blog ini.

Melihat situasi ini, di akhir presentasi sebelum penutupan, saya minta waktu 5 menit kepada Mira Ayank yang bertindak sebagai pembawa acara. Setelah acara tanya jawab selesai, Mira memanggil saya untuk tampil sharing dengan para peserta pelatihan.

Berdiri di depan peserta yang jumlahnya sekitar seratus orang itu, pertama saya mencoba membangkitkan rasa percaya diri para peserta dengan menyebutkan bahwa mayoritas dari mereka adalah sarjana.  Lalu kemudian saya mencoba membangkitkan motivasi para guru ini dengan memprovokasi mereka, agar jangan sampai kalah oleh seseorang  yang hanya tamat Sekolah Dasar dan yang mencari ilmu hanya dengan cara otodidak. Saya bersyukur, apa yang saya sampaikan itu cukup mendapat sambutan hangat dari para peserta, itu saya lihat dari tepukan tangan yang meriah di akhir sharing saya.

Sesi pelatihan TOT ICT hari itu diakhiri dengan pembagian sertifikat kepada seluruh peserta, juga pembagian hadiah bagi pemenang ngetwit di Twitter dengan hastag #Indosat4Indonesia, serta foto bersama di teras gedung utama ITCC dan makan siang terakhir di cafetaria lantai bawah.

Acara terakhir seluruh peserta siang itu sebelum pulang kembali ke Bekasi  adalah mengunjungi pusat kontrol satelit Palapa D yang lokasinya berhadapan dengan kawasan Indosat Training and Converence Center.

Memasuki kawasan pusat kontrol Satelit Palapa di Jatiluhur tersebut, kami disongsong oleh Parabola berbagai jenis ukuran, hingga yang terbesar berukuran 27 meter. Besarnya ukuran Parabola ini berkaitan dengan zaman diluncurkannya satelit Palapa C di tahun 1969, dimana saat itu tehnologi nano belum di temukan. Sehingga semua peralatan system yang ada di pusat kontrol satelit Palapa tersebut berukuran besar.

Di pusat Kontrol tersebut kami juga di beri penjelasan mengenai sejarah Satelit Palapa dan perkembangannya hingga kini, dimana satelit yang beroperasi saat ini adalah Satelit Palapa D yang kapasitasnya lebih besar dari satelit Palapa C. Disamping untuk keperluan komunikasi telepon, satelit ini juga di pakai oleh stasiun TV nasional maupun negara tetangga lain yang masuk dalam coverage Satelit Palapa D ini.

Selesai berkunjung ke pusat kontrol Satelit Palapa ini, rombongan langsung pulang ke Bekasi dengan singgah sebentar di Rest area disisi tol Jakarta-Cikampek untuk melaksanakan shalat ashar. Rencana kunjungan ke waduk Jatiluhur dibatalkan, mengingat waktu yang sudah semakin sore.

 

1325542319367252114
Embun pagi di Komplek Indosat

 

 

13255427742103417926
Komplek Indosat yang Asri

 

 

13255431841020472569
Sisi lain gedung utama Indosat Training and Converence Center

 

 

1325540914507683404
Sesi Pertama Raden Ajeng dengan presentasi Pemanfaatan Sosial Media

 

 

132554130885116441
Sesi kedua Blog berbayar oleh Vavai

 

 

1325541905540195246
Sesi ketiga pembuatan Blog lanjutan dengan WordPress

 

 

13255451571163233568
Ikut memotivasi guru-guru peserta pelatihan, jangan sampai kalah sama orang yang cuma tamat Sekolah Dasar.

 

 

1325544510294885035
Rombongan guru peserta TOT ICT mengunjungi Pusat Kontrol Satelit Palapa Indosat Jatiluhur

 

 

1325543961849528950
Parabola terbesar dengan diameter 27 meter, pengendali Satelit Palapa

Cara memasukkan badge di blog…

Begitu semangatnya ingin mengikuti “TOT ICT, Blog Writing Contest”, saya pun langsung menuliskan reportase kegiatan TOT ICT yang diadakan di Purwakarta. Namun, ada beberapa persyaratan lomba yang saya sendiri tidak paham bagaimana memenuhinya. Dua diantaranya adalah cara memasukkan badge/logo blog yang wajib ditampilkan pada blog kita dan cara memasukkan minimal satu link text atau link gambar yang url-nya mengarah ke website yang ditetapkan. Continue reading Cara memasukkan badge di blog…

Semoga Para Guru Ini Menjadi Penulis Hebat!

1325262009492483186
Ruang utama ITCC tempat diadakannya TOT, menjelang acara di mulai

Setelah melakukan registrasi ulang, para peserta TOT ICT ini di berikan kunci kamar yang penempatannya sudah diatur oleh pihak pengelola ITCC bersama panitia. Setiap kamar diisi rata-rata 3 orang. Saya mendapat kamar 211 bertiga dengan Ketua Penyelenggara TOT,  Yulef Dian dan Omjay.

Setelah diadakan pembukaan secara sederhana pukul 11.30 yang kemudian dilanjutkan dengan makan siang pada pukul 12.00 di lantai bawah ruang utama, selanjutnya kami dipersilakan istirahat maupun sholat zuhur. Sementara acara pelatihannya sendiri akan di mulai pukul 13.00.

Saya sendiri sehabis makan dan shalat zuhur, tadinya ingin istirahat di kamar. Tapi melihat ada meja bilyard nganggur di samping ruang makan, akhirnya singgah dan bermain bilyard dengan beberapa orang guru yang nampaknya memang masih awam tentang permainan bilyard. Saya sendiri bukanlah seorang pemain yang bagus dan lagi sudah tidak pernah lagi bermain sejak 15 tahun terakhir,  namun cukup menguasai teori maupun peraturan mainnya. Maka jadilah saat itu saya sebagai pelatih dadakan para guru yang ingin mencoba bermain.

Selesai bermain sekitar setengah jam saya berhenti, lalu naik ke lantai atas yang sebenarnya lantai dasar gedung utama ITCC ini. Begitu sampai di lantai dasar bagian luar gedung utama, saya melihat teman bermain tenis meja. Kembali keinginan untuk ikut bermain tenis meja ini menggoda saya. Beruntung salah seorang diantaranya menawari saya yang saya sambut dengan antusias. Maka jadilah saya bersama Bung Vavai sang pakar Linux, Komarudin jawara Bekasi serta bung Bintang bertarung kocak pletak-pletok memukul bola pingpong tanpa aturan yang jelas, yang penting rame….. hehehe.

Sesuai jadwal yang telah disusun, pada pukul 13.00 pelatihan TOT ICT inipun di mulai. Pembicara pertama yang tampil siang itu adalah Agus Sampurno, guru Sekolah Dasar Global Bintaro , sang juara Guraru Award 2011 yang disponsori oleh Acer pada acara pesta bloger On|Of bulan lalu, dimana Omjay kompasianer yang aktif menulis di Kompasiana berhasil meraih juara dua. Agus Sampurno memberi judul Pemanfaatan TIK Untuk Pembelajaran. Diantara pemaparan materinya Agus menyatakan, bahwa saat ini guru-guru tak boleh lagi gaptek dan kalah oleh para siswanya. Materi Tehnologi Informasi dan Komunikasi sudah harus menjadi bagian keseharian guru dalam memberikan pembelajaran.

Pembicara kedua setelah Agus Sampurno adalah Dr. Sony Teguh Trilaksono, Presiden Direktur Kopindosat. Dr. Sony, trainer hebat yang sanggup memotivasi para peserta TOT hingga di akhir sesinya. Termasuk ketika dia memberikan questioner kepada seluruh peserta, hingga ada peserta yang merasa terjebak  dan tersipu malu diakhir acara.

Selesai Dr. Sony, pelatihan diistirahatkan sejenak, untuk memberikan kesempatan kepada para peserta untuk melaksanakan shalat asyar.

Setelah rehat dan shalat ashar, pukul 16.30 pelatihan dilanjutkan dengan Creative Blogging oleh Elga Yulwardian dari Indosat. Elga tak sendiri, dia didampingi seorang teman yang juga pakar di bidangnya, sehingga presentasi ini berjalan tanpa terasa hingga tuntas dan para peserta tetap bersemangat.

Selesai presentasi dari Indosat, kemudian tampil Dedi Dwitagama. Dengan gayanya yang khas kembali Dedi memukau para guru agar mahir memanfaatkan blog sebagai bagian dari pembelajaran. Dedi memotivasi para peserta untuk menulis di blog, tulis saja, tentang apa saja, terus menerus, maka sukses akan menghampiri anda! Mengapa bisa jadi? itu karena Anda mau! Agar kita tidak “menghitung hari” untuk kematian kita yang tak pernah jadi siapa-siapa.Maka jadilah seperti harimau mati meninggalkan belang, guru mati meninggalkan blog!

Selesainya Dedi memberikan presentasinya, azan magribpun bergema. Kembali pelatihan di istirahatkan untuk memberi kesempatan para peserta melaksanakan shalat magrib yang kemudian disambung dengan makan malam di cafetaria yang terletak di lantai bawah yang luas dan nyaman dengan makanan yang mengundang selera.

Sesi terakhir dari pelatihan TOT hari itu dimulai jam 20.00. Hasan Chabibie dari Pustekkom Kemdikbud yang mengelola situs rumah belajar, situsnya dapat dilihat di http://belajar.kemdiknas.go.id. Hasan memaparkan bagaimana memanfaatkan TIK di dalam pembelajaran dan memanfaatkannya bersama murid-murid di dalam kelas.

Sebagai penutup Omjay memberikan tugas kepada seluruh peserta, untuk merangkum semua yang telah mereka dapatkan hari itu. Mulai dari Agus Sampurno, Sony Teguh, Elga Yulwardian dari Indosat, Dedi Dwitagama, Hasan Chabibie dan Omjay. Para peserta diharapkan menulisnya di blog mereka masing-masing dan memberikan linknya ke wijayalabs.com

Tuntas sudah pelatihan hari pertama yang benar-benar padat dan penuh dengan ilmu dari para pakar yang berkompeten dibidangnya. Semoga para guru ini menjadi penulis yang hebat nantinya, menebarkan ilmu kepada para murid-murid mereka dengan memanfaatkan Tehnologi Informasi dan Komunikasi yang telah mereka kuasai. Sehingga mereka tak lagi disebut guru yang gaptek atau gagap teknologi dan kalah oleh murid-murid mereka.

 

13252536701061445790
Registrasi ulang

 

 

1325253727257596970
Mencari nomor kamar dan menerima kunci 

 

 

13252595711313075358
Peserta laki-laki di sayap kiri
13252598371624438341
Peserta perempuan di sayap kanan

 

 

1325253870284790507
Agus Sampurno guru pemenang Guraru Award sesi pertama pembuka pelatihan

 

 

13252539982082429959
Dr. Sony Teguh Trilaksono

 

 

1325254117819546627
Elga Yulwardian dari Indosat

 

 

13252541881675956835
Dedi Dwitagama

 

 

1325254267809867042
Hasan Chabibie dari Pustekkom Kemdikbud

 

 

13252601901513728666
Agus Sampurno di tengah para peserta

 

 

13252608881046785768
Foto bersama peserta wanita

 

 

13252612951710881184
Foto bersama peserta pria

 

 

13252584001158459169
Tempat peristirahatan kami