Hikmah Dari banjir

Saya kira kita akan akan sampai pada konsesnsus bahwa hari-hari ini merupakan hari yang sangat merepotkan. Bagi pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, dan profesi lainnya yang terhalang aktivitasnya oleh banjir. Ya, banjir tahun ini (2013) disinyalir bahkan melebihi banjir 5 tahunan pada tahun 2002 dan 2007. Parahnya banjir kali ini ditambah dengan jebolnya Kanal Banjir Barat sehingga ada joke yang mengatakan ini sesuai dengan sila kelima dari butir pancasila yang berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Semua warga hampir terkena banjir bahkan pejabat (menteri), kantor pemda, kantor pemerintahan hingga istana presiden (termasuk pak presiden) tak luput dari kebanjiran.

Beberapa media meliput non stop dari mulai breaking news, headline news, sampai liputan live dari lokasi banjir komplit beserta para korban banjir. Hampir semua stasiun televisi memampang kalimat utama seperti “Jakarta Darurat Banjir”, “Banjir Kepung Jakarta”, “Ibu Kota Menjadi Kota Banjir”, dan yang lebih ekstrem adalah “Jakarta Tenggelam”. Dahsyatnya banjir yang juga menggenangi jantung ibu kota di bundaran Hotel Indonesia (HI) ini juga dirasakan di berbagai daerah sekitar (Jabodetabek).

Sumber: www.merdeka.com
Sumber: www.merdeka.com

Namun di tengah bencana nasional (kalau boleh dikatakan seperti itu) tentunya banyak hikmah yang selalu bisa kita petik sebagai pelajaran. Bagaimanapun juga banjir merupakan fenomena alam yang seharusnya manusia sebagai bagian dari alam bersikap eksploratif bukan eksploitatif. Sifat rakus manusia ditudung-tuding banyak aktivis koservasi alam sebagai bagian dari penyebab banjir tersebut, diantaranya sistem perairan yang kurang memadai, sampah yang tidak teratur, hingga terkikisnya bantaran kali yang banyak sudah menjadi bangunan permanen.

Tak bisa dipungkiri memang, karena Al-Qur’an sendiri sudah mensinyalir dengan tegas dalam surah Ar-ruum ayat 41 yang artinya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Alam seolah begitu murka dengan keserakahan umat manusia yang dengan rakus mengeksploitasinya tanpa henti.  Setidaknya, peristiwa ini kita dapat memetik hikmah mengapa bencana (banjir) selalu saja menimpa kita. Mungkin kita akan menemukan banyak sekali pendapat mengapa ini terjadi. Para ahli geologi, barangkali akan mengatakan, “Ini hanya peristiwa alam biasa.” Mungkin para dukun juga akan mengatakan, “kejadian-kejadian tersebut adalah penanda pergantian zaman.” Namun yang demikian adalah pendapat, sah-sah saja jika kita percaya, namun tidak wajib kita imani.

Bencana menjadi teguran bagi mereka yang selamat, demikian pula bagi mereka yang berada jauh dari tempat kejadian. Orang-orang yang tidak terkena bencana, mendapatkan cobaan dari dampak bencana. Mereka yang berada berkewajiban menolong yang kurang mampu. Mereka yang hidup berkewajiban mengurus jenazah bagi yang meninggal. Mereka yang masih memiliki banyak harta, berkewajiban memberikan makanan dan pakaian serta menolong dengan segenap kemampuan kepada mereka yang kehilangan segalanya. Memberi makan kepada mereka yang kelaparan, memberi pakaian kepada mereka yang telanjang dan memfasilitasi mereka yang kehilangan tempat tinggal.

Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Perbuatan manusialah yang selama ini banyak merusak ekosistem dan lingkungan. Manusia yang serakah, selalu mengeksploitasi alam dan banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Peringatan dari Allah yang berupa bencana menunjukkan bahwa Allah masih sayang kepada hamba-hamba-Nya dan menghendaki mereka untuk kembali ke jalan yang diridhoi-Nya sesuai koridor alam. Karena, kerusakan alam selalu mengakibatkan kerugian bagi warga di sekelilingnya, terutama rakyat kecilnya. Karenanya, siapa yang lebih kuat harus melindungi yang lemah. Mestinya kita takut jika tidak menolong, padahal kita mampu, mestinya kita malu kepad Allah jika tidak membantu saudara-saudara yang sedang kesusahan, padahal kita sedang banyak memiliki kelonggaran. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda, “Tidaklah termasuk golongan kita, mereka yang tidak peduli dengan persoalan-persoalan umat Islam”.

Semoga dengan adanya bencana banjir (lagi) tahun ini bisa menjadi bahan kontemplasi (perenungan) kita dalam menyikapi alam ini. Sebagai khalifah yang ditunjuk Allah setelah seluruh isi alam menolaknya hendaknya kita mengeksplorasi alam ini untuk keberlangsungan hidup dan hajat manusia. Bukankah alam sudah mengalah tidak menerima ketika ditawari Allah untuk menjadi khalifah dan manusialah yang siap menerimanya, sudah sepatutnya kita menjaga alam ini. Kita doakan para saudara yang meninggal di tengah bencana banjir diterima di sisi Allah sebagai husnul khotimah dan yang masih diberi kesempatan hidup walau berada dalam kesusahan agar bisa kembali membangun semangat hidup untuk bersahabat dengan alam. Wallahu a’lam bis showaab…

Salam Hikmah,

 

Abu Abbad

 

 

Banjir Jakarta Bekasi

Gerakan Peduli Banjir Jakarta langsung terbentuk sore ini begitu melihat kondisi lapangan yang makin memprihatinkan. Berita perkembangan terbaru dari BMKG mengindikasikan hujan dan banjir akan terus berlangsung selama tiga hari ke depan. Diperkirakan keadaan banjir akan terus berlangsung esok hari dan mungkin akan lebih buruk dari hari ini. Joko Wi juga sudah mengumumkan kondisi Jakarta ada pada status kondisi tanggap darurat. Dari liputan 6 SCTV kita tahu apa yang diucapkan Joko Wi tentang Jakarta.

“Karena kondisi seperti ini, mulai hari ini sampai tanggal 27 Januari 2013, kami nyatakan posisinya tanggap darurat,” kata Joko Wi usai rapat gabungan dengan Menko Kesra, Agung Laksono, BNPB, BMKG, dan Kementerian PU.

Jakarta Darurat Banjir
Jakarta Darurat Banjir

Rekening untuk membantu penyaluran dana ke korban banjir segera ditentukan dan inilah keputusan dari panitia “KV Peduli Banjir Jakarta” :

Rekening Kagama Virtual (KV) Peduli Banjir Jakarta :
BCA An. Heni Hendriyati.
No. 8990369934. (konfirmasi pengiriman dana via SMS ke ponsel Heni 08158207176)
Rekn. Mandiri a.n AA Sagung Indriani Oka.
No. 1660.0002.07498. (konfirmasi pengiriman dana via SMS ke ponsel Indri 081804050864)

Selama proses pembentukan panitia, sudah masuk permintaan bantuan dari salah satu posko yang ada di Bekasi Utara. Info tersebut sampai ke ponselku dari Bang Komar Ibnu Mikam, aktifis masyarakat yang langsung terjun di posko pengungsian.

Bagi yang ingin memberikan dukungan, baik berupa dana atau apa saja ke Bekasi Utara bisa langsung kontak Bang Komar Ibnu Mikam hp 085693334441 untuk posko di wilayah desa buni bakti, desa muara bakti, desa hurip jaya, desa pantai hurip, desa pantai harapan jaya. Bisa juga langsung kirim dana segar ke rekening BCA atas nama Komar Ibnu Mikam no 2757 532 944

Teman-teman alumni UGM di Jakarta akan konsentrasi untuk penyaluran bantuan di Jakarta dengan tetap berkoordinasi pada posko Bekasi yang dipegang oleh Indri dan juga posko-posko lainnya yang bisa dijangkau oleh komunitas alumni UGM.

Dari kalangan BUMN, akan digalang juga bantuan untuk para korban banjir baik yang tinggal di Jakarta maupun di kota sekitarnya, termasuk Bekasi.  Semoga gerakan moral dari teman-teman ini diberi kemudahan oleh Allah swt dan dapat meringankan beban para korban banjir. Amin.

Peduli banjir Jakarta
Peduli banjir Jakarta

Salut buat panitia gerakan “Peduli Banjir Jakarta”, mari kita bantu sekuat kemampuan kita. Semoga Allah swt memberikan kekuatan dan kemudahan buat para panitia yang bekerja tanpa kenal lelah. Salam sehati.

Menyongsong RoadShow IdBlogNetwork

Saat pertemuan pemanasan menjelang Blogilicious 2011 di JHCC Senayan, ada satu blogger yang tidak mau dibilang ngetop walaupun ngetopnya sudah setengah mati. Dialah mas Anum, duduk di depan mbak Ajeng di sebelah kanannya ada mas Jonru dan di sebelah kirinya ada mas Maulana. Mas Anum ini baru saja sukse smengadakan kegiatan ultah blogger blog detik di Gandaria dan pengalamannya dibagikan dalam ajang pertemuan ramah tamah menyongsong acara Blogilicious 2011 di tujuh kota.

Ada lima orang wakil beblog yang datang di acara itu. Mulai dari Mas Amril, mas Maulana, Mbak Ajeng, mbak Isnuansa dan mas Eshape. Bahkan saat sesi foto bareng, mas Anum numpang masuk di kelompok BeBlog.

“Apa bedanya dengan Pesta Blogger? Bukankah mereka juga mengadakan hal yang sama?”, itu pertanyaan dari peserta ramah tamah ketika menyinggung acara roadshow di masing-masing kota.

Mas Amril dengan sigap ikut mengajukan masukannya.

“Acara ini akan dikemas lebih personal, lebih ke arah couching, sehingga model acaranyapun pasti tidak sama”

Mbak Rika, sang penggagas pertemuanpun dari IdBlognetwork langsung membuka laptopnya dan menunjukan persyaratan untuk mengikuti acara Blogilious 2011. Satu demi satu dibacakan persyaratannya dan para peserta terpaksa jadi senyum-senyum sendiri, bahkan sampai tertawa terbahak-bahak ketika sampai pada kriteria ke lima.

1. Blogger profesional –> semua  peserta langsung manggut-manggut (sambil merasa dirinya profesional)

2. Hanya suka / hobby nge-blog –> wah ini banyak yang ngaku suka (tapi gak update blognya!:-)

3. Gak suka ng-blog tapi suka baca blog–> yah..berarti siapapun bisa ikutan donk !:-)

4. Gak suka nge-blog tapi suka ama blogger-nya (lho???)–> dengan serius Mbak Rika bilang, bahwa kita lebih prefer pada blogger yang selebritis dibanding selebritis yang ngeblog (passion ngeblognya beda banget !:-)

5. Kepingin punya blog tapi ngga tau caranya—> meledaklah tertawa para peserta

6. Kepingin tau seluk-beluk blog—>ini makanya diperlukan adanya couching (nah yang ini mas Jonru ahlinya, kalau aku masih pemula di bidang ini)

7. Kepingin dapat uang dari nge-blog–> nah ini mata para blogger langsung hijau semua

Ramah tamah yang digelar mulai jam 16.00 s.d jam 17.00 ini akhirnya molor-molor karena peserta keasyikan ngobrol, mulai kelaparan dan harus ada acara makan malam. Panitia terlihat setengah memaksa karena peserta sok jaim waktu diminta pesan makanan (mungkin mikir, siapa yang mbayar ya?).

Selepas Maghrib, acara ramah tamah harus berkurang pesertanya, karena Andy Sjarif, Nirasha Darusman dan Sonny.S dari SITTI harus meninggalkan lokasi untuk acara selanjutnya. Sayang juga gak sempat ngobrol, padahal aku pasang link ke SITTI juga.

Pesertapun makin merapat dan semakin hangat ketika Ibu Ratna Suranti Wakil Direktur Bidang Promosi Media dan Elektronik Kemenbudpar mulai bercerita tentang Indonesia tercinta. Ada cerita tentang Komodo dan juga cerita tentang belum banyaknya penulis (blogger) yang mau menulis tentang Indonesia dan kekayaan alamnya ini.

“Boleh tidak sih kalau mengadakan lomba menulis dan tidak ada juaranya?”

Keprihatinan Bu Ratna ini sangat telak memukul para blogger, khususnya diriku. Langsung saja aku membuat category WISATA di blog ini. Tulisanku tentang wisata Air di Garut sangat laris dikunjungi, tapi aku justru tidak memasang kategori wisata di tulisan itu.

Jadi ingin menulis ulang kenangan di pantai Parai Bangka deh.

 

Malam Minggu, 2 April 2011, Yogyakarta akan menjadi saksi pertemuan ramah tamah semacam ini. Semoga hasilnya lebih baik dan selalu lebih baik, karena hari ini harus lebih baik dari kemarin.

Malampun berlalu dengan cepat, aku melaju kencang ke Bogor begitu sudah masuk tol Jagorawi, sementara dari ponsel kubaca status teman-teman sepulang dari acara ini. Ada yang sudah leyeh-leyeh di rumah dan ada yang masih harus berjuang di kemacetan Jakarta. Aku sendiri sedikit berjuang melawan pendukung kesebelasan Jakarta yang hari ini tidak menang melawan tamunya.

God Bless You All!

KA Parahyangan: keretaku sayang, keretaku malang

Tanggal 27 April lalu adalah hari kelabu bagi dunia perkereta-apian Indonesia. Pasalnya, sebuah trayek jalur kereta api yang menghubungkan Jakarta – Bandung yang hampir berumur 40 tahun, bernama KA Parahyangan mulai tanggal tersebut ditutup oleh manajemen PT KA Indonesia. Ditutup dengan alasan merugi terus, pemasukan dari hasil penjualan tiket penumpang tidak bisa menutupi biaya operasional. Semenjak dibukanya jalan tol yang menghubungkan Cikampek dengan Padalarang atau yang biasa disebut Cipularang (Cikampek – Purwakarta – Padalarang) di tahun 2005 yang memungkinkan perjalanan Jakarta-Bandung dengan menggunakan kendaraan mobil bisa ditempuh dalam waktu 2 jam, memang KA Parahyangan mendapat saingan amat berat. Dari tahun ke tahun berkurang terus penumpangnya, hingga kondisinya “megap-megap”, dan akhirnya terbukti di tanggal itu “vonis mati” pun diketukkan.


Kenangan dari KA Parahyangan (Sumber gambar: di sini)

Alasan yang masuk akal namun menjadi peristiwa yang benar-benar menyedihkan! Meskipun katanya penumpang untuk trayek itu akan dilayani oleh KA jenis lain, yaitu KA Argo Gede.
Bagaimana tidak menyedihkan, transportasi kereta api di Indonesia dari zaman kemerdekaan hingga sekarang tidak sekalipun menunjukkan peningkatan, baik kuantitas maupun kualitasnya. Jaringan lintasan rel kereta api warisan pemerintah kolonial Belanda sejak dipegang oleh pemerintah Indonesia tidak pernah bertambah, dari tahun ke tahun berkurang terus. Satu per satu jalur atau pun trayek kereta api mati, dengan alasan sama dengan di atas. Kurang peminat dan biaya operasional tidak tertutupi!
Begitu banyaknya jalur mati sehingga infrastruktur perkeretaapian yang dibangun sejak jaman Belanda ini terlantar dan akhirnya dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Tanah, rel, jembatan, terowongan, stasiun, dan lain-lain di jalur mati tersebut yang tadinya merupakan aset negara ini, terlantar tidak karuan dan entah jadi apa. Saya tidak tahu apakah PT KAI menjualnya ke pihak lain untuk menambah modal dan pembangunan infrastruktur di jalur yang masih hidup, atau membiarkannya habis dijarah atau dimanfaatkan masyarakat yang tinggal di sepanjang jalur tersebut.

Lintasan rel kereta api yang lebih banyak hanya satu jalur sering menjadi penghambat perjalanan. Saking banyaknya trayek kereta api yang melintas pada jalur yang sama, sebuah kereta api dalam perjalanannya harus banyak menunggu. Apalagi jika ada masalah pada sebuah kereta api atau relnya! Kereta yang anjlok, rel yang rusak karena bencana alam atau pun karena ulah oknum masyarakat yang menjarah sebagian ruas rel untuk dijual sebagai besi tua. Waduh! …Capek deh!
Sekali ada masalah seperti itu, banyak trayek yang mengalami penundaan. Hingga berjam-jam. Sementara perbaikan tidak bisa dilakukan dalam waktu cepat. Tidak heran jika banyak calon penumpang yang mengurungkan niatnya menggunakan kereta api dan beralih pada kendaraan jalan raya.

Bagi kita yang pernah atau bahkan sering menggunakan KA Parahyangan ini, seperti warga Bandung yang bekerja di Jakarta dan setiap akhir minggu pulang ke Bandung, atau mahasiswa yang kuliah di Bandung dan setiap minggu pulang ke Jakarta, pasti akan merasa sedih dengan ditutupnya trayek ini mengingat cukup KA Parahyangan yang bersejarah, membawa kenangan dan karena kereta ini dulunya adalah ikon kereta api Indonesia, dulu banyak sekali penggemarnya. Kita akan diingatkan oleh indahnya pemandangan bumi tempat berhuninya para hyang (parahyangan) sepanjang jalur rel Cikampek – Bandung yang tak akan terlupakan. Serta stasiun-stasiun yang dilewati yang menggambarkan kehebatan arsitektur masa kolonial, juga jembatan-jembatan baja di atas lembah-lembah sebagai hasil teknologi sipil saat itu. Duh, benar-benar mengesankan sekaligus menyayangkan hal ini terjadi !

Kita tidak bisa memprotes atas kebijakan ini, meskipun banyak yang tidak bisa menerima kenyataan ini. Mau bagaimana lagi, namanya bisnis, ya harus bisa mendatangkan keuntungan. Kita memang menyadari, betapa beratnya di masa kini PT KAI membiayai operasionalnya. Sudah harus menyediakan kereta api, dia pun harus menyediakan dan merawat infrastrukturnya berupa jaringan rel kereta api plus stasiun dan lain-lainnya. Berbeda dengan angkutan darat lain, yang pembangunan dan pemeliharaan jalannya ditanggung oleh pemerintah, terlebih adanya jalan tol yang dibangun dengan investasi melibatkan pihak swasta. Moda transportasi kereta api tergilas oleh persaingan masa kini, yang menuntut transportasi murah, massal (agar murah), cepat dan nyaman. Suatu hal yang kurang bisa dipenuhi kereta api, termasuk KA Parahyangan, apalagi dengan adanya jalan tol tadi.

Kebijakan pemerintah yang terlalu memprioritaskan angkutan darat jalan raya, turut membunuh secara pelan-pelan keberadaan angkutan kereta api ini. Besarnya investasi yang harus dikeluarkan untuk pembangunan baru dan perawatan infrastruktur yang yang sudah ada menghambat kemajuan bisnis perkeretaapian di Indonesia. Jalan tol makin banyak, sementara panjang lintasan rel makin sedikit. Bisa dibayangkan, jika jalan tol yang menghubungkan Jakarta – Surabaya sudah terwujud, tidak mustahil habislah moda transportasi kereta api di pulau Jawa ini, jika pemerintah tidak melakukan terobosan segera.

Kereta api yang seharusnya merupakan angkutan massal dan cepat, sudah menjadi nomor ke-sekian dalam pilihan masyarakat yang bepergian antar daerah. Namun, selera masyarakat ini sebenarnya bisa dibentuk jika kebijakan pemerintah bisa mengarahkannya. Ingat, kereta api di masa Lebaran menjadi alat transportasi primadona, karena memang sifatnya yang bisa mengangkut orang dalam jumlah banyak dan tidak terkena kemacetan. Bagaimana menciptakan iklim agar masyarakat memilih kereta api, banyak yang harus dilakukan pemerintah dan juga PT KAI sebagai operator penyelenggara angkutan ini. Menggandeng investor pihak swasta, salah satunya. Memperbaiki dan memperbanyak jaringan lintasan kereta api, mengatur perjalanan kereta api sehingga bisa dijaga ketepatan waktu keberangkatan dan tibanya, menyediakan gerbong yang nyaman, dan lain-lain. Yang lebih penting lagi, memperbaiki pelayanan dan sikap para pegawai PT KAI di lapangan yang kurang profesional, memberantas korupsi, pungli dan segala penyimpangan yang mengakibatkan kebocoran keuangan perusahaan.

Mau kereta api kita seperti di Jepang atau Eropa? Yang trayek dan lintasannya amat banyak, perjalanannya cepat, selalu nyaman meskipun jam-jam tertentu padat penumpang, dan relatif murah. Tentunya kita, terutama penduduk kota besar sangat mau, mau, dan mau.

Kapan ya Indonesia bisa seperti itu? Entah kapan, kita baru bisa mimpi.
Air mata tangis untuk KA Parahyangan saja baru mengering.

Salam,

http://harihari-ceppi.blogspot.com

http://ceppi-prihadi.blogspot.com

Aku Anak Bekasi

“Eh, kapan datangnya? Dari Jakarta jam brapa?”

Hahaha! Lucu, setiap aku keluar kota, entah ke Padang kampung halaman orang tuaku, entah ke Bandung tempat kakak ku tinggal, atau entah itu jalan-jalan ke mana saja. Orang-orang akan bertanya dan kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Dari Jakarta jam brapa? Lalu akupun menjawab; dari sana jam sekian … (dengan mengabaikan Jakarta-nya). Dan setiap pertanyaan berulang, aku selalu menjawab dengan mengabaikan satu hal penting, bahwa aku dari Bekasi bukan dari Jakarta.

Kelucuan berlanjut ketika ‘pengabaian’ terhadap Jakarta-nya itupun diteruskan dengan pernyataan semisal begini;

“Enak ya di Jakarta rame, banyak gedung-gedung tinggi, cari kerja gampang, banyak artis…”


Walah, aku jadi binggung terhadap ‘cerocosan’ yang seolah hanya ingin dijawab dengan pembenaran “ya”. Dan memang cara yang gampang untuk menjawab dengan kata “ya”. Selain tidak ingin mengecewakan pernyataan mereka yang terlalu ‘bersemangat’, juga terlalu malas bagiku yang masih letih untuk menjawab dengan ‘kebenaran’. Kembali aku mengabaikan ketidak ‘sinkronan’ antara pernyataan Jakarta dengan daerah dimana sebenarnya diriku tinggal. Sementara mereka bicara tentang daerah tinggalku, tetapi mereka bicara tentang Jakarta.

Inilah fenomena yang terjadi, ketika seorang ‘anak Bekasi’ pergi keluar kota, bahkan kota yang terdekat dengan Bekasi sekalipun, seperti Bogor, Purwakarta, dan Subang. Nggak boleh dengar logat Jakarte, orang-orang daerahpun lantas menyamakan ‘anak Bekasi’ dengan ‘anak Jakarta’. Nggak percaya? Hehehe, coba aja beli sesuatu di warung, atau ngobrol dengan seseorang di daerah yang tidak kita kenal. Kalau nggak bisa bahasa daerah sono, maka pertanyaan pertama yang diajukan adalah;

“Anak Jakarta ya?”

Hik, bingung jawabnya? Ternyata rata-rata nggak. Ada berbagai alasan orang untuk bilang ‘ya’. Pertama jawaban ‘ya’ memang paling mudah, kedua jawaban ‘ya’ kadang-kadang memang membuat kebanggaan tersendiri bagi mereka. Bangga jadi ‘anak Jakarta’?. Kenapa ya, kok kebanyakan orang bangga dengan sebutan ‘anak Jakarta’?. Bukannya ingin mengecilkan sebuah ibukota dari negara besar ini, tetapi bukankah “Dimana bumi dipijak, Disitu langit di junjung?”

Kalau sudah ‘ya … ya’ terus dari awal, maka pertanyaan selanjutnya akan terasa menjebak, dan jawabannya-pun jadi lucu;

“Jakarta-nya dimana?”

Nah, kan? Sekarang baru terbongkar “bobrok-nya”. Mau tidak mau, ada penjelasan yang harus disampaikan untuk menjelaskan duduk persoalan (kaya di cecar anggota Pansus aja ya?). Dan bisa dibilang, ‘dengan sedikit nyengir’ maka para ‘terdakwa-pun’ akan mengaku.

“Gue di Pondok Gede, Bekasi”

Hehehe … mungkin, bagi yang malas untuk berlama-lama dengan penjelasan detil tentang Jakarta-nya masih ada harapan untuk ‘bertobat’. Tapi bagi yang ‘berbangga diri’ dengan sebutan ‘anak Jakarta’, nggak ada salahnya mulai sekarang ‘koreksi’ diri untuk juga ikut ‘berbangga’ dengan Bekasi. Kota yang mungkin telah ‘melahirkan-nya’, atau kota yang mungkin telah ‘membesarkan-nya’. Sekaligus mengenalkan pada ‘dunia’ bahwa ada sebuah kota nyaman yang menyokong kota besar Jakarta, bahkan menyokong pemerintahan Republik Indonesia.

Bahwa ada kota ‘satelite’ yang juga menjadi ‘incaran’ para investor untuk menanamkan modalnya. Juga bahwa ada kota yang sedang ‘berbenah’ dan ‘mempercantik diri’ hingga mampu mengundang ‘perjaka-perjaka’ dari berbagai kota di sekitarnya untuk tinggal, bekerja dan berwisata ke Bekasi.

Anda anak Jakarta? Saya bukan … Saya Anak Bekasi…