Warga Bekasi yang Sering Dianggap “Orang Jakarta”

logobksDKI

Saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2012 lalu, tim dari pasangan Joko Widodo dan Basuki “Ahok” Purnama, yang sekarang sudah jadi Gubernur & Wakil Gubernur, sempat memasang iklan kampanye mereka di jalan ke arah gerbang keluar tol Bekasi Barat dari arah Jakarta. Pengendara yang hendak keluar tol Bekasi Barat yang biasanya disuguhi iklan rokok mild terkenal, saat itu digantikan dengan iklan kampanye baju kotak-kotak tersebut.

Entah apa alasan mereka memasang iklan kampanye di situ, di tempat yang memang strategis tapi sudah jelas-jelas bukan merupakan wilayah DKI Jakarta. Siapa yang hendak mereka jadikan sasaran? Apakah warga DKI yang sering berkunjung ke Kota Bekasi, atau para supir truk Dinas Kebersihan DKI yang akan membuang sampah ke arah Bantargebang, atau berminat jadi Cawalkot Bekasi jika gagal jadi gubernur di DKI?

Semoga pemasangan kampanye tersebut bukan karena mengira wilayah Kota Bekasi ini masih termasuk wilayah Jakarta. Fenomena ini bukan sekadar wacana, banyak yang mengira kota Bekasi itu sama dengan Jakarta. Beberapa kerabat yang tinggal di Jogja dan Solo waktu itu sempat bertanya kepada penulis, memilih siapa dalam Pilgub DKI Jakarta. Meskipun mereka semua sudah pernah bertandang ke rumah penulis di kota Bekasi, tetap saja mereka mengira kota ini masuk wilayah DKI.

Lain lagi dengan kerabat atau pun teman-teman dari Bogor. Meskipun mereka sudah tahu bahwa Bekasi itu termasuk wilayah Jawa Barat, namun kerap kali dalam menyebut arah ke Bekasi mereka selalu bilang “ke Jakarta”. Apalagi ketika belum ada jalan lingkar luar sambungan dari Cikunir ke Kampung Rambutan, sehingga semua perjalanan lewat tol dari Bogor arah Bekasi harus keluar dulu ke Jakarta, tepatnya di Cawang (UKI), sebelum masuk lagi ke tol arah Cikampek.

Bukan salah mereka jika mengira seperti itu. Sejak dahulu memang kota Bekasi telah menjadi daerah penyangga ibukota yang paling mepet dengan Jakarta. Juga merupakan salah satu daerah tempat tinggal asli masyarakat Betawi, ditambah sebagian besar warga Bekasi mencari segenggam berlian di Jakarta. Perilaku serta kebiasaan selama beraktivitas di ibukota mau tak mau ikut terbawa ketika kembali pulang ke Bekasi. Jadilah kota Bekasi seperti fotokopiannya Jakarta. Jadi tak heran jika status “kewarganegaraan” warga Bekasi terkena bias metropolitan Jakarta.

Namun kini warga Bekasi tampak semakin punya rasa percaya diri dengan keberadaan status domisilinya. Keberadaan komunitas lokal seperti contohnya Blogger Bekasi ini semakin membangkitkan semangat pengakuan akan status ke-Bekasi-an kita semua. Melihat perkembangan kota Bekasi yang semakin metropolis dan mandiri, bukan tak mungkin akan semakin banyak warga Bekasi yang tidak tergantung lagi dengan DKI, sehingga makin mantab dan bangga untuk mengaku sebagai warga Bekasi. Semoga. [bw]

Perang Strategi Marketing di Pilkada Jabar

Pilgub Jabar (JB1) 2013
Pilgub Jabar (JB1) 2013

Hari Minggu tanggal 24 Februari 2013  merupakan saat yang telah ditentukan dimana rakyat Jawa Barat menentukan pemimpinnya selama lima tahun kedepan.

Prosesi pergantian pemimpin di Jawa Barat ini sangat menarik untuk dicermati setelah beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia disedot perhatiannya di ajang pilgub DKI Jakarta, bukan apa, karena provinsi inilah propinsi terbesar setelah provinsi DKI Jakarta dari sisi jumlah penduduk maupun aktivitas ekonominya.

Sudah banyak analisis dan prediksi atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perhelatan akbar ini dibahas dalam kesempatan berbeda diberbagai media, pada kali ini penulis akan mengupas sisi marketing dalam pilkada jabar dari perspektif kacamata orang awam.

Saya akan mengulas/membandingkan secara singkat strategi marketing yang digunakan oleh tiga kontestan yang menurut saya ketiganya berpeluang dan bersaing ketat meraih kursi Jawa Barat 1 (JB1). Mereka adalah kontestan nomor 3 (Dede Yusuf – Lex Laksamana); kontestan nomor 4 (Ahmad Heryawan – Dedi Mizwar) dan kontestan nomor 5 (Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki).

Ketiga kontestan ini memiliki persamaan dan perbedaan strategi marketing yang menarik untuk diulas, diantaranya adalah terlihat pada tiga faktor, pada faktor Figuritas; faktor Simbol dan faktor Slogan.

 

Faktor Figuritas;

Seperti kita ketahui bersama bahwa ketiga kontestan ini memunculkan kesamaan strategi marketing dari sisi figuritas, yaitu ketiganya sama-sama mengusung artis sebagai magnet yang menarik calon pemilihnya (vote getter).

Nilai lebih pada faktor figuritas ini dimiliki oleh kontestan nomor 3 dan nomor 5, dimana figur artis pada kedua kontestan ini memiliki pengalaman sebagai mantan wakil gubernur (Dede Yusuf) dan mantan anggota DPR (Rieke DP), sementara Dedi Mizwar walaupun memiliki karakter dan penokohan yang kuat, yang bersangkutan sangat minim pengalaman pada level pemerintahan maupun kelembagaan.

Namun terlepas dari kelemahan faktor figur artis, kontestan nomor 4 ini anehnya, justru lebih menonjolkan figur kedua kontestannya ketimbang partai pengusungnya, paling tidak itu yang terlihat pada banner dan spanduknya yang sebagian besar tidak menampakkan logo partai pengusungnya.

Perang Strategi Marketing di Pilkada Jabar.
Perang Strategi Marketing di Pilkada Jabar.

 

 

Faktor Simbol;

Seperti halnya pada perhelatan pilgub DKI Jakarta, pada pilgub Jawa Barat kali ini memunculkan strategis marketing berupa simbol-simbol yang unik.

Kontestan nomor 3 memunculkan simbol berbentuk oval berwarna biru muda dengan larikan warna biru gelap, hijau dan merah, dugaan penulis simbol mereka merepresentasikan keragaman warna partai pengusungnya. Namun sepertinya penulis mendapatkan adanya inkonsistensi dalam mensosialisasikan simbol ini kepada calon pemilih, karena simbol ini hanya dimunculkan pada awalnya saja.

Adalah kontestan nomor 4 yang menurut saya pertama kali di pilgub jabar ini yang  memunculkan simbolnya yang kreatif sekaligus unik berupa simbol kancing merah, kreatif dan unik karena menurut saya kontestan nomor 4 ini (mungkin) belajar dari kesuksesan Jokowi dengan simbol kotak-kotaknya, namun oleh mereka ide ini mereka kembangkan lebih kreatif lagi berupa kancing, dan penulis menduga keunikan tanda silang yang disamarkan menjadi empat atau lima larik benang yang mengikat kancing tersebut sebagai kode yang mengarahkan pemilih untuk mencoblos simbol kancing merah ini, kreatif dan cerdas bukan.

Nah… Simbol yang dunakan oleh kontestan nomor 5 sepertinya tidak asing lagi bagi kita, bagaimana kuatnya brand simbol ini dimunculkan dan dipopulerkan oleh Jokowi pada pilgub DKI. Ya… Simbol yang mereka gunakan sebagai strategi marketing menjaring pemilih adalah dengan simbol kotak-kotak, namun beberapa hal yang sepertinya dilupakan bahwa brand ini menjadi juara di pilgub DKI kemarin adalah semata-mata karena kepopuleran Jokowi sebagai icon pengusungnya dan lagi bukti bagaimana simbol ini tidak berhasil mengangkat salah satu kontestan pada pilgub provinsi Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Perang Strategi Marketing di Pilkada Jabar
Perang Strategi Marketing di Pilkada Jabar

 

 

Faktor Slogan;

Terdapat beberapa slogan yang dipergunakan oleh masing-masing kontestan, namun menurut pandangan penulis terdapat satu slogan yang mereka pergunakan sebagai slogan utama, walaupun terdapat beberapa inkonsistensi dari ketiganya  dalam penggunaan slogan dalam spanduk dan banner mereka.

Adapun penggunaan slogan dapat penulis paparkan sebagai berikut:

Slogan “Bekerja dengan Hati” merupakan kalimat slogan yang digunakan oleh kontestan nomor 3, untuk kontestan nomor 4 dengan slogan “Lebih Dekat dan Melayani” dan kontestan nomor 5 dengan slogan “Jabar Baru, Jabar Bersih”. Sepertinya nafas dan jiwa yang ingin dimunculkan dalam keseluruhan slogan ini dapat kita resapi dan ambil maknanya.

Namun sebagai catatan untuk kontestan nomor 5, sepertinya mereka tidak lepas dari bayang-bayang euforia kemenangan pada laga pilgub DKI yang lalu, dimana segala unsur strategi membrandingkan kontestannya mereka copas bulat-bulat, mulai dari simbol yang dipergunakan (kotak-kotak) maupun slogan yang dipergunakan (Jabar Baru vis a vis dengan Jakarta Barunya Jokowi Ahok).

Lantas pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah:
Siapakah kemudian yang akan menjadi juara dalam ajang perebutan kursi kepemimpinan Jawa Barat 1 (JB1) ini??

Dan jawabannya adalah bukan pada hasil survei atau prediksi, tapi kita akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut tidak akan lama lagi, paling tidak dalam 2 atau 3 hari kedepan.

Semoga Jawa Barat selama 5 tahun kedepan akan dipimpin oleh pemimpin yang amanah, pro kepada keadilan untuk rakyat…. Yah… Semoga…

 

Demikian Adanya
~TheEnd~
@ludwinardi | 313FE116
www.ludwinardi.com

Jokowi dan Anas Urbaningrum

Saya mengagumi kedua sosok ini. Jok0wi dan Anas Urbaningrum. Seandainya Anas Urbaningrum tak tersandung kasus korupsi seperti yang ditiupkan oleh Nazarudin, pastilah nama Anas akan lebih tenar dari Jokowi. Sekarang tinggal menunggu waktu saja, Bisakah Anas kembali seperti dulu lagi? Di puja dan puji di sana sini. Kita pun beraharap sosk muda ini menjadi presiden di masa yang akan datang.

1104499620X310

Jokowi sekarang menjadi icon yang banyak disenangi orang. Beliau bukan ketua umum partai. Bukan pula ketua dewan pertimbangan partai. Jokowi adalah anggota PDIP yang sangat menghormati Ibu Megawati. Walaupun kita sama-sama tahu, popularitas Jokowi sudah mengalahkan Megawati. Itulah fakta yang terjadi saat ini. Jokowi memang benar-benar berada dalam popularitas yang tertinggi.

Jokowi dan Anas Urbaningrum sekarang ini memang sedang menjadi buah bibir di masyarakat. Hanya saja ada perbedaannya. Jokowi kini sedang dipuja-puji, dan Anas sedang dicaci maki. Tinggal menunggu waktu saja, dan angin berhembus ke arah mana. Bila Anas sanggup membuktikan dirinya bersih dan tidak tersangkut kasus korupsi, maka namanya akan harum seperti Akbar Tanjung, ketua Umum Golkr pada masa itu. Anaspun tak akan digantung di Monas, seperti Sindiran Nazarudin agar Jokowi bersih-bersih Monas.

1361148297456682916

Politik memang selalu berubah-rubah. Suatu saat dia menjadi kawan, tapi di saat yang lain dia menjadi lawan. Kita masih ingat duet SBY-JK yang cuma bertahan hanya 5 tahun. Kita pun bisa melihat duet gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriyawan, dan Dede Yusuf yang hanya seumur jagung. Masih menjabat saja sudah terlihat tak saling tegur dan bersinergi. Masing-masing lebih mengedepankan citra dirinya. Kita lihat saja apakah salah satunya terpilih menjadi gubernur Jawa Barat berikutnya?

Jokowi dan Anas Urbaningrum semoga tetap santun dalam bicara. Saya suka keduanya. Gaya bicaranya dan pandai sekali bermain peran. Inilah pemimpin yang kita harapkan. Namun politik terus saja berubah. Bisa jadi Jokowi kini di puja puji, tapi suatu saat bisa jadi nasibnya akan sama dengan Anas Urbaningrum. Begitulah politik, dan kita doakan Jokowi terus menjadi pemimpin harapan rakyat. Santun dalam bicara, dan selalu rendah hati.

1361148260970436818

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Pak Jokowi: Engkaulah Presiden di Hati Kami!

Pemimpin
Pemimpin

Salah seorang peserta modis kompasiana bertanya kepada pak jokowi, “apakah bapak siap menjadi presiden di 2014?” Semua peserta terdiam ketika salah seorang kompasianer mempertanyakan itu. Lalu Pak Jokowi menjawabnya sambil tersenyum. “Saya masih bekerja untuk banjir dan macet di Jakarta”.

13604928521196194732
Jokowi di Acara Kompasiana Modis

Sungguh sebuah jawaban yang super sekali dan membuat kami yang hadir dalam diskusi itu semakin kagum dengan kesederhanaannya. Cara bicaranya yang spontan dan tak dibuat-buat membuat banyak orang menjadi kagum dengan Jokowi.

Jokowi adalah simbol kepemimpinan rakyat yang disegani. Dia menjadi berita dan headline dimana saja berada. Bukan dia yang minta, tapi wartawan dan awak media lainnya yang mencari dan mengikuti Jokowi kemana saja pergi.

Bertemu langsung dengan pak Jokowi di acara modis kompasiana membuat saya merasakan aura kepemimpinan dari seorang jokowi. Mungkin bila diadakan pemilihan presiden hari ini, maka Jokowilah yang terpilih jadi presiden REPUBLIK INDONESIAi.

Pembawaan beliau yang “fun” dan sederhana membuat figur Jokowi senantiasa dicari rakyat yang haus dengan pemimpin yang membela kepentingan rakyat banyak. Jokowi diharapkan menjadi pemimpin yang mampu mendekatkan antara “si kaya dan si miskin”.

Jakarta memang kompleks masalahnya. Baru 3 bulan menjabat Jokowi sudah disuguhi banjir yang luar biasa. Kemacetanpun terjadi dimana-dimana. Hala ini jelas menjadi tantangan tersendiri bagi Jokowi untuk mencari solusinya.

Semoga Jokowi menemukan solusinya dengan terus bekerjasama ke berbagai pihak. Jakarta memang ibu kota negara yang memiliki banyak pesona tersendiri. Ribuan ton sampah setiap harinya ada di sini. Dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu berpikir jernih dan melihat persoalan dari berbagai sisi.

Pertemuan modis kompasiana dengan Jokowi membuat saya semakin percaya bahwa Jokowi adalah presiden di hati kami. Celotehan teman-teman di twitter yang tiada henti melalui #kompasianamodismenjadi tolak ukur tersendiri.

Selamat bekerja pak jokowi! Semoga sehat dan menemukan ide-ide cemerlang dalam membenahi kota jakarta yang kian semrawutan ini. Jokowi, engkaulah presiden di hati kami.

13604933042068630536
Pepih Nugraha dan Jokowi

Salam blogger persahabatan.
Omjay
http://wijayalabs.com

Seandainya Jokowi Bupati Bekasi

13102241501832612493
Joko Widodo

Saya termasuk orang yang terlambat mengenal sosok Joko Widodo atau biasa dipanggil Jokowi yang sejak lama diperbincangkan masyarakat. Walikota Solo berperawakan kurus ini bukan walikota sembarangan pada pemilukada tahun 2010 beliau terpilih untuk kedua kalinya mempin Surakarta dengan perolehan suara lebih dari 90%. Hal ini tentu angka yang luar biasa dalam pemilihan umum, Jokowi menang mutlak. Angka ini tentu menggambarkan kecintaan warga Solo yang bersar terhadap Pemimpin yang satu ini.

Majalah Tempo menjuluki pria lulusan ilmu kehutanan UGM ini sebagai Wali kaki lima. Semua berawal dari upaya penertiban PKL yang menjadi masalah klise di daerah perkotaan, selain penertiban PKL merupakan hasil dari survei yang dilakukan tim kecil pemkot surakarta tentang keinginan-keinginan warga kota tepian Sungai Bengawan. Hasilnya: kebanyakan orang Solo ingin pedagang kaki lima yang memenuhi jalan dan taman di pusat kota disingkirkan.

Jokowi tidak mau melakukan penertiban dengan cara-cara yang biasa dilakukan oleh pemkot di daerah lainnya, dengan cara panggil tentara, polisi atau Satpol PP lalu mengusir mereka dengan paksa. Jokowi memiliki pandangan bahwa “Dagangan itu hidup mereka. Bukan cuma perut sendiri, tapi juga keluarga, anak-anak”. Jokowi ingin melakukan relokasi mereka tetapi 3 periode kepemimpinan sebelumnya gagal melakukan upaya tersebut hal ini terkait ancaman PKL akan membakar kantor walikota jika direlokasi. Ancaman bakar bukan omong kosong. Sejak dibangun, kantor wali kota sudah dua kali-1998 dan 1999-dihanguskan massa.

Jokowi lalu bermaksud melakukan “lobi meja makan” seperti yang ia lakukan ketika memasarkan usaha mebelnya. Lobi meja makan dilakukan dengan cara mengundang koordinator paguyuban Pedagang Kaki Lima makan siang di rumah dinas walikota. Melihat gelagat ingin dipindahkan mereka datang membawa petugas LSM untuk melakukan upaya perlawanan, sampai makan siang selesai para pedagang kaki lima kecele karena nyatanya Jokowi hanya mengundang makan siang saja “Enggak ada dialog, Pak?” tanya mereka. “Enggak. Cuma makan siang, kok,” jawab Joko.

tiga hari setelah itu mereka diundang kembali dalam acara makan siang, hingga tujuh bulan upaya Jokowi mendekatkan diri pada PKL dengan tujuan merelokasi mereka, baru pada pertemuan ke-54 Jokowi mengutarakan maksudnya pada mereka “Bapak-bapak hendak saya pindahkan” dan tak satupun dari mereka membantah

Jokowi tidak berani menjamin bahwa tempat relokasi akan membuat mereka sejahtera, tetapi hanya menjanjikan bahwa tempat PKL yang baru akan diiklankan di media cetak  dan televisi selama empat bulan. Selain itu pedagang kaki lima minta diberikan kios yang baru dengan cuma-cuma,  menurut Jokowi “Ini berat. Saya sempat tarik-ulur dengan Dewan,”. Untungnya, Dewan bisa diyakinkan dan setuju. Jokowi memang benar tidak menarik uang untuk relokasi tetapi para pedagang kaki lima diminta memberikan retribusi harian sebesar 6.500 sehingga dalam waktu beberapa tahun investasi pemerintah Solo sudah bisa kembali.

Kalau di Bekasi biasanya pengusiran Pedagang Kaki Lima cenderung tidak manusiawi dengan diusir, disita, dikejar-kerjar bahkan tidak sedikit yang kena pentung petugas. Tetapi Jokowi justru melakukan hal sebaliknya, Jokowi tahu bagaimana cara memanusiakan manusia yang merupakan rakyat yang memandatkan amanah kepadanya. Acara relokasi dibuat dengan meriah. Boyongan pedagang dari Banjarsari ke Pasar Klitikan dihiasi dengan senyum dan rasa bangga pedagang kaki lima yang dipindahkan, Semua pedagang mengenakan pakaian adat Solo dan menyunggi tumpeng-simbol kemakmuran. Mereka juga dikawal prajurit keraton berpakaian lengkap. Dengan rendah hati Jokowi berujar bahwa “Orang bilang mereka nurut saya karena sudah diajak makan. Itu salah. Yang benar itu karena mereka diwongke, dimanusiakan,” kata menurut Joko, membela wong cilik sebenarnya bukan perkara sulit. “Gampang. Pokoknya, pimpin dengan hati. Hadapi mereka sebagai sesama, bukan sampah,” katanya. Jujur saya sangat terharu mendengar ketulusan pemimpin yang satu ini

Kini warga Solo kembali menikmati jalan yang bersih, indah, dan teratur. Monumen Juang 1945 di Banjarsari kembali menjadi ruang terbuka hijau yang nyaman. Hingga kini, 52 persen dari 5.718 pedagang kaki lima sudah ditata tinggal sisanya masih dicarikan dana oleh pemkot.

Ekonomi Kerakyatan

Jika pemimpin daerah lain memiliki pemahaman bahwa untuk meningkatkan ekonomi daerahnya adalah dengan membuka investasi swasta sebesar-besarnya dengan memberikan peluang investasi pada sektor-sektor mewah seperti Mall, Pusat perbelanjaan, Alfamart, Indomart, dll. yang pada hakikatnya hanya mensejahterakan sebagian orang, Jokowi justru memiliki kebijakan ekonomi yang bertentangan. Hingga saat ini Joko telah menolak 12 Mall yang coba di bangun di Surakarta, kasus yang terakhir adalah penolakannya terhadap upaya Bibit Waluyo sebagai Gubernur Jawa Tengah membangun Mall di tanah eks bangunan pabrik es Saripetojo. Bahkan sang Gubernur menyatakan walikota Solo ini dengan kata Bodoh, sontak pernyataan itu menyulut kemarahan warga Solo yang mengancam Gubernurnya Sendiri agar tidak memasuki wilayah Solo

Penolakan Jokowi terhadap investasi swasta sebagaimana dipahami oleh kaum kapitalis bukan tanpa alasan, dengan sederhana Joko mengungkapkan bahwa Baginya sesuatu yang kecil bisa memberikan kontribusi besar. Karena yang kecil-kecil itu lama-lama bisa menjadi besar. Bagi dia, menggarap pedagang-pedagang kecil di kota Solo jauh lebih menarik daripada sibuk menarik investor besar. Sebab pedagang kaki lima di Solo itu jumlahnya banyak, sehingga bila ditangani serius mampu menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) yang cukup signifikan. Jokowi prihatin selama 40 Tahun hidupnya di Solo pasar tradisional tidak mengalami perubahan signifikan, bahkan terancam dengan kehadiran Mall. “Kalau yang mart-mart itu tidak menolong yang kecil. Investor itu tidak selalu asing. Karena kalau kecil dikelola dengan baik bisa mendatangkan yang besar. Ratusan ribu rupiah tidak apa-apa, tidak harus miliar,” begitulah alasan seorang pemimpin yang berpihak pada rakyatnya

Hal ini kondisinya terbalik di Bekasi, Pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun Mal, pasar modern, perumahan, tetapi lupa menata pedagang kecil di pasar-pasar tradisional yang mulai kembang-kempis pendapatannya.

Membangun Kota yang Berbudaya

Jokowi melakukan banyak gebrakan progresif di Solo termasuk mengembalikan Solo menjadi Kota berbudaya, caranya yang pertama Jokowi membangun brand Solo sebagai The Spirit of Java Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan

Jokowi sadar bahwa kebudayaan merupakan asset berharga bagi pendapatan daerah, Jokowi gencar melakukan event-event untuk memperkenalkan Solo, baik nasional maupun Internasional. di Negara maju masyarakat cenderung menyukai berbelanja di pasar tradisional karena harganya murah dan juga lebih variatif, selain itu pasar tradisional juga merupakan tempat membangun budaya masyarakat yang baik, karena di pasar masyarakat bersosialisasi dengan baik.

Adapun event budaya yang dilaksanakan pemkot Solo pada tahun ini diantaranya

TANGGAL EVENT LOKASI
30 Januari Grebeg Sudiro Pasar Gedhe
9- 15 Februari Sekaten Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta
16 Februari Grebek Mulud Keraton Kasunanan Surakarta
18-22 Februari Festival Kethoprak Gedung Kesenian Balekambang
20 Februari Solo Karnaval Jalan Slamet Riyadi
19 Maret Festival Tirtonadi Pelataran Sungai Kalianyar
4 April Mahesa Lawung Keraton Kasunanan Surakarta
29 April 1 Mei Bengawan Travel Mart Solo dan sekitarnya
29 April Solo Menari Jalan Slamet Riyadi
6 – 8 Mei Festival Dolanan Bocah Kawasan Gladhak
20 – 21 Mei Mangkunegaran Performing Art Pura Mangkunegaran
19 – 21 Juni Kreatif Anak Sekolah Solo (KREASSO) Kawasan Mangkunegaran
25 Juni Solo Batik Carnival Jalan Slamet Riyadi
25 – 26 Juni Keraton Art Festival Keraton Kasunanan Surakarta
27 Juni Tingalan Jumenengan Dalem ke-7 SISKS XIII Keraton Kasunanan Surakarta
1 – 3 Juli Solo International Performing Art (SIPA) Pamedan Mangkunegaran
4 – 6 Juli Solo Batik Fashion Kompleks Balaikota
Juli Solo Culinary Festival Kompleks Balaikota
23 Juli Final Putra-Putri Solo Ngarsapura
20 Agustus Malem Selikuran Keraton Kasunanan – Taman Sriwedari
31 Agustus Grebeg Poso Keraton Kasunanan – Masjid Agung
1 – 11 September Pekan Syawalan Jurug Taman Satwa Taru Jurug
1 – 11 September Bakdan ing Balekambang Taman Balekambang
29 – 30 September Solo Keroncong Festival Mangkunegaran
1 Oktober Grand Final Cipta Lagu Keroncong Solo
7 – 9 Oktober Wayang Bocah Gedung Wayang Orang Sriwedari
16 Oktober Bengawan Solo Gethek Festival Langenharjo Jurug
21 – 23 Oktober Pasar Seni Balekambang Taman Balekambang
28 – 30 Oktober Javanese Theatrical Solo
6 November Kirab Apem Sewu Kampung Sewu
7 November Grebeg Besar Keraton Kasunanan Surakarta
26 – 27 November Kirab Malam 1 Sura Keraton Kasunanan – Pura Mangkunegaran
5 Desember Wiyosan Jumenengan SP KGPAA Mankoe Nagoro IX Pura Mangkunegaran
31 Desember Pesta Budaya dan Kembang Api Malam Tahun Baru Solo

Begitu indah hidup masyarakat Solo yang disugukan berbagai event menarik yang secara langsung akan mendewasakan masyarakat bagaimana membangun kota wisata yang bersih, sehat, ramah, dan maju.

Ecocultural City

Kalau di Jakarta hampir tidak ada program pemerintah di era pemerintahan Fauzi Bowo yang berhasil (sept ; perda rokok, dll) maka bang kumis perlu berguru pada Jokowi bagaimana cara memasyarakatkan programnya. Untuk memasyarakatkan progam pemerintah selama lima tahun menjadi Kota Ecociltural City misalnya pemkot solo menyelenggaraan karnaval bertajuk Solo Carnaval Ecocultural City (SCEC) yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bekerja sama dengan sejumlah pihak. Puluhan ribu masyarakat Solo ambil bagian pada pesta rakyat tersebut

Rute karnaval mulai dari Lapangan Kota Barat menuju Halaman Balaikota Solo. Kawasan depan Taman Sriwedari, bahkan menjadi lokasi yang paling padat didatangi warga dari berbagai kalangan, hingga wisatawan mancanegara. Rombongan peserta karnaval bertema Solo Sejuk Sejahtera itu dipimpin langsung oleh Walikota Solo, Joko Widodo. Di barisan paling depan, Walikota mengendalikan sendiri kuda yang menarik kereta kencana yang dinaikinya bersama Wakil Walikota, FX Hadi Rudyatmo dan Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) RI, Bambang Susantono.

Perjalanan dari Lapangan Kota Barat dimulai sekitar pukul 14.00 WIB. Masyarakat pun segera disuguhi tontonan menarik dari ratusan peserta karnaval yang menghadirkan berbagai atraksi dan kostum unik dengan tema-tema ekologi lingkungan hidup, di antaranya air, taman atau tanaman, sawah, hutan, lengkap dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang ada di dalamnya.

Di belakangnya, tampil pula beberapa kelompok yang menghadirkan suasana ekologi di taman seperti bunga, juga petani yang membawa peraga, hingga memedi (orang-orangan) sawah dan wayang padi. Kelompok berikutnya menghadirkan nuansa hutan dengan menampilkan berbagai kostum merak, kijang, wanoro (kera), gunung, hingga manusia pohon dan penari jatayu.

Pada kelompok terakhir, terlihat penampilan dari Komunitas Desa Budaya Solo yang merupakan kelompok peduli sampah. Sedikitnya ada 30 orang yang masuk dalam kelompok tersebut. Di kepala mereka, terpasang keranjang-keranjang sampah. Salah seorang dari mereka melakukan gerakan-gerakan tari yang menggambarkan sebagai tukang sapu yang membersihkan sampah-sampah kota. Mereka bahkan memberikan sebatang sapu lidi yang diberi nama sapu budaya kepada Walikota.

Selain itu pada acara tersebut diresmikan dua transportasi baru kota Solo yakni railbus dan bus tingkat wisata. Keduanya akan menambah panjang deret prestasi Jokowi sebagai Walikota Solo yang sangat dicintai rakyatnya.

Walikota Tanpa Gaji

Meski lama tak mengambil gaji nya, Jokowi tidak lantas bercerita kemana-mana untuk mendapatkan simpati. Hal ini terungkap belum lama ini. Dengan malu-malu diungkapkannya ketika ditanya oleh salah satu peserta seminar “Gerakan Perempuan Mewujudkan Good Governance” di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Kamis (26/5/2011).

Sungguh saya sebagai warga Bekasi iri dengan Solo yang mendapatkan anugerah walikota yang benar-bernar bekerja untuk rakyatnya. Bagi warga Bekasi, menjelang pimilukada ini mari kita mencari sosok Jokowi pada calon pemimpin kita nantinya, bukan hanya mereka yang pandai berjanji tapi mari kita lihat attitude nya selama ini, partai, status sosial, ikatan kekeluargaan tak menjamin. Hanya attitude nya lah yang bisa kita jadikan sebagai pegangan untuk memilih.. Kita berdoa semoga akan muncul Jokowi-Jokowi selanjutnya.. Amiin ya rabb