Dirjen yang ‘bener’ paling rumahnya di Bekasi?

Wajah Kota Bekasi
Wajah Kota Bekasi

Wakil presiden Jusuf Kalla (JK) di hadapan peserta Raker Departemen Perdagangan bilang bahwa jika dahulu para Direktur Jenderal (Dirjen) selalu punya rumah di daerah Menteng, Kebayoran, atau Bintaro, sekarang jika para Dirjen itu berperilaku benar (tidak korupsi?) paling-paling rumahnya ya cuma di Bekasi (lihat beritanya di sini).

“Dulu kalo dirjen, rumahnya paling tidak di Menteng, Kebayoran atau Bintaro. Tapi sekarang, untuk dirjen yang benar, Bekasi lah,” guyon Wakil Presiden Jusuf Kalla disambut tawa hadirin.

Apa yang dikatakan pak JK cukup menarik untuk dibahas. Memang sih rumah dan tanah di Bekasi tidak semahal di Jakarta atau bahkan mungkin di Bintaro, tapi bukan berarti jika seorang Dirjen punya rumah di Bekasi ia bersih dari ‘uang haram’, atau sebaliknya bukan berarti Dirjen yang punya rumah di Menteng sudah pasti korupsi. Bisa saja dia tinggal di rumah warisan ortunya yang OKL (orang kaya lama) di Menteng, sehingga bukan berarti dia korupsi dulu untuk bisa tinggal di sana.

Tapi apa yang diucapkan pak Wapres ada benarnya juga. Kalau dulu para pejabat sangat menjaga gengsinya, sehingga jika ada seorang Dirjen (atau setingkatnya) yang rumahnya cuma biasa-biasa aja apalagi di Bekasi pula, maka dia akan jadi bahan pergunjingan para pejabat lain koleganya (terutama para istrinya). Sekarang tak ada lagi gengsi-gengsian begitu, seorang menteri tak perlu malu punya rumah di dalam gang yang bahkan tidak bisa dimasuki mobil dinas Volvonya, seperti yang terjadi pada Nur Mahmudi Ismail ketika ia diangkat jadi Menteri Kehutanan, dan kalau tidak salah malah ada juga yang masih tinggal di rumah susun.

Meskipun JK mengucapkan sambil bercanda, tapi ketika candaan itu keluar dari seorang pejabat tinggi negara, pastinya sedikit banyak akan berpengaruh. Bagi Kota dan Kabupaten Bekasi akan sedikit diuntungkan dengan guyonan tersebut. Paling tidak memperlihatkan bahwa daerah Bekasi sudah dikenal sebagai wilayah hunian untuk kelas menengah atas, tetapi tidak terlalu mewah.

Bagi wilayah Menteng dan Kebayoran, mungkin sedikit agak dirugikan karena bisa saja dianggap sebagai tempat para pejabat ‘nggak bener’ menyimpan harta hasil tilepannya dengan membangun rumah di sana. Padahal di kawasan Menteng tak semua pemilik rumah gedong di sana adalah orang kaya. Banyak di antaranya pensiunan atau janda yang mendapat rumah dari negara hingga kini tak kuat bayar pajaknya yang setinggi langit, tapi tak boleh dijual oleh Pemda DKI karena merupakan bangunan bersejarah. Di sisi lain Pemda tidak memberi keringanan pajak untuk para penghuninya yang sudah renta. Sementara mau pindah rumah ke Bekasi sudah tak berdaya untuk membelinya. [bw]

* tulisan ini dimuat pada 11 Agustus 2008 di benwal.multiply.com yg sudah tidak bisa diakses lagi seiring dengan runtuhnya multiply.com