Jurnalisme Warga: Potret Jejak Api di Langit Bekasi

Minggu lalu (14 Juli 2011) di twitter beredar kabar bahwa sebuah cahaya berkelebat di atas wilayah Bekasi. Lewat akun twitter @arisheruutomo, saya bertanya ke teman-teman blogger Bekasi, apakah ada yang melihat cahaya tersebut? Tidak berapa lama, Mas Bene @benwal pun menjawab kalau dirinya melihat cahaya tersebut saat berada di Kali Malang. Saya pun kemudian menanyakan ke Mas Bene, apakah sempat memotret lintasan cahaya tersebut.  Mas Bene pun mengiyakan tapi menurutnya gambar yang diambil tidak cukup jelas karena menggunakan kamera handphone, sedangkan obyeknya cukup jauh.

Saya pun kemudian melupakan kejadian tersebut hingga pagi ini saya membaca berita di Yahoo yang berjudul “Jejak Api di Langit Bekasi”. Berita tersebut menceritakan tentang cahaya yang berkelebat di langit Bekasi dan secara pas diambil gambarnya oleh Firman Alamsyah seorang warga Cikarang dan anggota milis Cikarangbaru@yahoogroups.com. Gambar lintasan cahaya yang direkam Firman cukup jelas walau tidak memperlihatkan sumber api.

Namun berbeda dengan di masa lalu dimana kejadian seperti di atas bisa memunculkan berbagai pendapat yang dikaitkan dengan mistis, masyarakat sekarang sudah jauh lebih cerdas dalam membaca suatu kejadian. Kejadian seperti diatas hanyalah suatu fenomena alam biasa yang diduga sebagai jejak kondensasi dari pesawat terbang yang memantulkan cahaya di matahari senja.

Jadi daripada berandai-andai lebih jauh dengan aspek mistis, kita nikmati saja gambar yang diambil Firman. Salut dengan aksinya sebagai jurnalis warga (meski hanya melaporkannya di milis). Ditunggu aksi-aksi jurnalisme warga lainnya, termasuk dari blogger Bekasi. Jangan segan-segan untuk membuat tulisan berformat laporan dan memasukkannya ke menu “laporan warga”. Warga bisa melaporkan apa saja, mulai dari kegiatan arisan hingga peristiwa tak terduga seperti kilatan cahaya yang melintas di langit Bekasi.

wisata kalimalang (sebuah mimpi)

Setiap hari, pagi dan sore selalu melewati kali malang membujur panjang, airnya tenang sedikit coklat dan sebagian kelihatan dangkal.

Ketika masa liburan anak -anak tiba membayangkan tempat rekreasi di Bekasi yang dekat murah dan nyaman, untuk keluarga, selalu hadir mimpi yang indah tentang kalimalang.

Mengapa tidak ada pemodal atau pemerintah tergerak untuk memanfaatkan kali malang sebagai sarana rekreasi keluarga.

Dijadikan tempat sepeda air,.lomba kano,.lomba perahu, tempat mancing dll. tingggal dibangun sarana yang cukup dan dikelola dengan profesional, selalu dimaintain sampah dan kedalaman air,.disediakan penjaga kali dengan pelampung, lifebuoy dll. diatur tempat parkir dll

Alangkah nyamannya,.apalagi kalau melintang diatasnya jalan layang untuk bis bis besar sekaligus sebagai atap dan peneduh disepanjang lai…waooow,..kapan ya..mimpi jadi nyata..??? apa aku harus jadi Bupati dulu..?? ha..ha..namanya juga mimpi..mimpi indah tentang Bekasi..??

 

Mengenal K.H. Noer Ali, Singa Kerawang-Bekasi

Sebagai warga pendatang yang menetap di Bekasi, hampir setiap hari saya melintasi jalan Raya Kali Malang atau yang sekarang diberi nama Jalan K.H. Noer Ali. Jalan ini menjadi salah satu urat nadi utama yang menghubungkan Bekasi dengan Jakarta. Saking pentingnya jalan ini, ratusan ribu penduduk Bekasi yang mencari nafkah di Jakarta setiap harinya melintasi jalan ini dengan menggunakan beragam kendaraan bermotor.

Dari ratusan ribu penduduk Bekasi yang melintasi jalan ini, mungkin banyak yang bertanya-tanya siapa sich K.H. Noer Ali itu? Saya yakin tidak banyak yang mengenal nama beliau. Paling hanya menebak-nebak bahwa nama K.H. Noer Ali adalah nama yang diambil dari nama seorang tokoh masyarakat di Bekasi, Nama tersebut diabadikan sebagai nama jalan untuk menghormati dan menghargai jasa dan perjuangannya semasa hidup.

Dugaan tersebut tidak sepenuhnya keliru karena K.H. Noer Ali merupakan tokoh masyarakat di Bekasi dan seorang pahlawan nasional. Menurut tulisan Prof. Dr. Nina H. Lubis, M.S, yang dimuat dalam situs Bang Foke si ahli Jakarta, K.H. Noer Ali diangkat sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah pada tanggal 9 November 2006 dan dianugrahi Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.

Mengutip buku biografi yang ditulis Ali Anwar, Prof Nina Lubis menyebutkan bahwa Noer Ali lahir tahun 1914 di Kampung. Ujungmalang (sekarang menjadi Ujungharapan), Kewedanaan Bekasi, Kabupaten Meester Cornelis, Keresidenan Batavia. Ayahnya seorang petani bernama H. Anwar bin Layu, seorang petani dan ibunya bernama Hj. Maimunah binti Tarbin. Beliau wafat pada tanggal 3 Mei 1992, dalam usia 78 tahun.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang K.H. Noer Ali, berikut saya kutipkan tulisan Prof. Nina Lubis selanjutnya:

Meskipun ayahnya hanya sebagai petani, namun karena kemauan keras untuk menuntut ilmu, Noer Ali pergi ke Mekah dengan meminjam uang dari majikan ayahnya yang harus dibayar dicicil selama bertahun-tahun. Selama enam tahun (1934-1940) Noer Ali belajar di Mekah.

Saat di Mekah, semangat kebangsaannya tumbuh ketika ia merasa dihina oleh pelajar asing yang mencibir: “Mengapa Belanda yang negaranya kecil bisa menjajah Indonesia. Harusnya Belanda bisa diusir dengan gampang kalau ada kemauan!”. Noer Ali pun “marah” dan menghimpun para pelajar Indonesia khususnya dari Betawi untuk memikirkan nasib bangsanya yang dijajah. Ia diangkat teman-temannya menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Betawi di Mekah (1937).

Sekembalinya ke tanah air, Noer Ali mendirikan pesantren di Ujungmalang. Ketika Indonesia merdeka, ia terpilih sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Cabang Babelan. Tanggal 19 September 1945 ketika diselenggarakan Rapat Raksasa di Lapang Ikada Jakarta, Noer Ali mengerahkan massa untuk hadir. Dalam mempertahankan kemerdekaan, ia menjadi Ketua Lasykar Rakyat Bekasi, selanjutnya menjadi Komandan Batalyon III Hisbullah Bekasi. Bung Tomo saat itu dalam pidato-pidatonya dalam Radio Pemberontak menyebutnya sebagai Kiai Haji Noer Ali sehingga selanjutnya ia dikenal sebagai K.H. Noer Ali.

Peranan pentingnya muncul ketika terjadi Agresi Militer Juli 1947. K.H. Noer Ali menghadap Jenderal Oerip Soemohardjo di Yogyakarta. Ia diperintahkan untuk bergerilya di Jawa Barat dengan tidak menggunakan nama TNI. K.H. Noer Ali pun kembali ke Jawa Barat jalan kaki dan mendirikan serta menjadi Komandan Markas Pusat Hisbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya di Karawang. Saat itu, Belanda menganggap tentara Republik sudah tidak ada. Noer Ali meminta rakyat Rawagede untuk memasang ribuan bendera kecil-kecil dari kertas minyak ditempel di pepohonan. Tentara Belanda (NICA) melihat bendera-bendera itu terkejut karena ternyata RI masih eksis di wilayah kekuasaannya. Belanda mengira hal itu dilakukan pasukan TNI di bawah Komandan Lukas Kustaryo yang memang bergerilya di sana. Maka pasukan Lukas diburu dan karena tidak berhasil menemukan pasukan itu, Belanda mengumpulkan rakyat Rawagede sekitar 400 orang dan kemudian dibunuh. Peristiwa ini membangkitkan semangat rakyat sehingga banyak yang kemudian bergabung dengan MPHS. Kekuatan pasukan MPHS sekitar 600 orang, malang melintang antara Karawang dan Bekasi, berpindah dari satu kampung ke kampung lain, menyerang pos-pos Belanda secara gerilya. Di situlah K.H. Noer Ali digelari “Singa Karawang-Bekasi”. Ada juga yang menyebutnya sebagai “Belut Putih” karena sulit ditangkap musuh. Sebagai kiai yang memiliki karomah, Noer Ali menggunakan tarekat untuk memperkuat mental anak buahnya. Ada wirid-wirid yang harus diamalkan, namun kadang-kadang anak buahnya ini tidak taat. Tahun 1948 Residen Jakarta Raya mengangkat K.H. Noer Ali sebagai Koordinator Kabupaten Jatinegara.


Ketika terjadi Perjanjian Renville, semua pasukan Republik harus hijrah ke Yogyakarta atau ke Banten. Ia hijrah ke Banten melalui Leuwiliang, Bogor. Di Banten, MPHS diresmikan menjadi satu baltalyon TNI diPandeglang. Saat akan dilantik, tiba-tiba Belanda menyerbu. Noer Ali pun bersama pasukannya bertempur di Banten Utara sampai terjadinya Perjanjian Roem-Royen. Dalam Konferensi Meja Bundar yang mengakhiri Perang Kemerdekaan 1946-1949, Noer Ali diminta oleh Mohammad Natsir membantu delegasi Indonesia. Selain itu, ia pun masuk ke luar hutan untuk melakukan kontak-kontak dengan pasukan yang masih bertahan. Ketika pengakuan kedaulatan ditandatangani Belanda, MPHS pun dibubarkan. Jasa-jasanya selama masa perang kemerdekaan dihargai orang termasuk oleh A.H. Nasution, yang menjadi Komandan Divisi Siliwangi waktu itu. Kemudian dimulailah perjuangan K.H. Noer Ali dalam mengisi kemerdekaan melalui pendidikan maupun melalui jalur politik.


Pemikiran Noer Ali untuk memajukan pendidikan di negeri ini, sebenarnya sudah dimulai sejak ia mendirikan pesantren sepulang dari Mekah. Setelah merdeka, peluang lebih terbuka. Tahun 1949, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Islam di Jakarta. Selanjutnya
Januari 1950 mendirikan Madrasah Diniyah di Ujungmalang dan selanjutnya mendirikan Sekolah Rakyat Indonesia (SRI) di berbagai tempat di Bekasi, kemudian juga di tempat lain, hingga ke luar Jawa.


Di lapangan politik, peran Noer Ali memang menonjol. Saat Negara RIS kembali ke negara kesatuan, ia menjadi Ketua Panitia Amanat Rakyat Bekasi untuk bergabung ke dalam NKRI. Tahun 1950, Noer Ali diangkat sebagai Ketua Masyumi Cabang Jatinegara.


Tahun 1956, ia diangkat menjadi anggota Dewan Konstituante dan tahun 1957 menjadi anggota Pimpinan Harian/Majelis Syuro Masyumi Pusat. Tahun 1958 menjadi Ketua Tim Perumus Konferensi Alim Ulama-Umaro se-Jawa Barat di Lembang Bandung, yang kemudian melahirkan Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat.

Tahun 1971-1975 menjadi Ketua MUI Jawa Barat. Di samping itu, sejak 1972 menjadi Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat. Dalam perkembangan selanjutnya, ia bersikap sebagai pendamai, tidak pro satu aliran. Dengan para kiai Muhammadiyah, NU, maupun Persis, ia bersikap baik

Catatan: Prof. Dr. Nina H. Lubis, M.S adalah Guru Besar Ilmu Sejarah Fak. Sastra Unpad/Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.

Jembatan Kali Malang [Cikarang]

Pagi-pagi menuju ke kantor, kulihat beberapa kemacetan di beberapa tempat. Esoknya baru tahu kalau ada yang kecelakaan masuk kali malang dan korban meninggal. Sebabnya bisa ngantuk, bisa juga karena ada masalah di rem, sehingga nyelonong masuk kali dan menabrak motor.

Pembangunan di Cikarang Bekasi ini memang terus berlangsung, hal ini kadang-kadang membuat jengkel pemakai jalan, tetapi itu memang sebuah pengorbanan yang harus dilakukan kalau ingin mempunyai jalan yang lebih nyaman dibanding yang ada saat ini.

Contoh pembangunan yang tidak juga selesai adalah jembatan baru di kali malang ini. Sudah dua kali puasa dan belum juga ada tanda-tanda akan rampung.

Continue reading Jembatan Kali Malang [Cikarang]