Qurban di Mutiara Mandiri

Tahun  ini perusahaan tempat saya bekerja yaitu PT.Riken Indonesia memberikan  dua ekor  sapi  dan  satu ekor kambing sebagai qurban, ada kemajuan dari pada tahun lalu yang hanya satu ekor sapi, dua ekor sapi dipotong di Rapindo utuk dibagikan kekaryawan dan satu ekor kambing diberikan kerumah baca Mutiara Madiri.

Sebelum saya lanjutkan postingan ini mengenai kegiatan lebaran idul adha,saya mau sedikit mengulas rumah baca mutiara mandiri.

Rumah baca ini dikelola oleh keluarga pengamen bernama Pak Toni. Rumah baca ini gratis bagi warga yang kurang mampu,total muridnya ada 216 siswa yang sekolah disini. seluruhnya keluarga kurang mampu terdiri dari keluarga pengamen, buruh nyuci dan pemulung, lokasi ada dibelakang PT.Sumi Asih dekat tol timur Bekasi.Keadaan tempat belajar ini sagat memprihatinkan, selain bocor disana sini bangunannya pun sudah sagat berantakan,”maklum lah milik pengamen mas mau benerin belum ada rejeki, jangankan untuk ganti pintu atau plafon,buat bayar listrik aja terkadang nunggak tiga bulan”, jawab pak toni ketika saya bertanya,”ini bocor pak ?”.yang bikin saya bangga kepada pak toni adalah hampir seluruh biaya oprasional diperoleh dari mengamen dan mengandalkan sumbangan seiklasnya dari para orang tua murid.

Waktu perusahan berencana akan  mengadakan binatang qurban saya ingat dengan anak-anak disini..kenapa saya ingat dengan anak anak disini…salah satu alasanya adalah,saya ingin anak anak disini juga dapat merasakan daging kurban, karena setiap hari raya idul adha tidak  pernah ada satu bungkuspun yang nyasar kesini…ironis memang, dimana orang-orang berpesta dengan daging kurban disini anak-anak hanya bisa merasakan ramainya  lebaran haji dari sayup-sayup suara takbir….Tidak heran ketika saya datang kesana dengan salah seoran panitia qurban untuk memberikan satu ekor kambing, anak-anak sangat senang sekali,  Satu hari menjelang hari raya idul adha ada sekitar 200 lebih yang terdaftar….tambah bingung saya setelah denger kabar ini, 200 orang ……bagaimana caranya satu kambing dibagi menjadi 200 bungkus..saya pun berusaha nego dengan panitia, meskipun agak sedikit ada rasa tidak enak, karena sudah dikasih malah minta tambah,

tapi ngak apa-apalah demi jiwa-jiwa yang masih bersih ini itu semua saya lakukan..Untuk menambah kekurangan daging time dari sebuai pun bergerak. Shukur dari radar bekasi rencanya akan menyumbang juga, agak lega mudah-mudahan tidak ada nanak anak yang nagis karena tidak kebagian.Untung dari panitia dan  pihak perusahaan masih masih memberi sedikit harapan, karena panitia berjanji kalau ada sisa maka akan disumbangkan lagi ke rumah baca ini..

Hari raya pun tiba, setelah melakukan pemotongan binatang qurban di lingkungan rumah, walau pembagianya belum dilaksanakan saya meluncur ke rapindo untuk ikut membantu panitia membagikan daging qurban, sesampai disan suasana sudah ramai dan satu ekor sapi sudah berubah menjadi gundukan daging yang siapa di bagi-bagi

Ditengah tengah saya bagi-bagi daging qurban pak toni kasih kabar kalau tambahan daging dari Radar Bekasi dengan jumlah yang dijanjikan batal …..Sedih saya dapat kabar ini..istri pak toni menagis tidak tega menyaksikan anak-anak didiknya yang berjubel, untuk merebutkan daging yang tidak seberapa ini, Lagi-lagi sebuai tampil didepan, entah bagaimana caranya Sebuai mendapatkan uang yang jelas mereka mampu membeli  dua ekor kambing lagi untuk tambahan…bravo Sebuai Walau sudah dapat tambahan dua ekor lagi tetap saja masih kurang, padahal satu anak cuma kebagian kurang lebih 300gr,

Proses pembagian daging di Rapindo selesai pukul 15:05 wib sesuai schedule , untung masih ada sisa yang bisa dibawa kesana,saya dan dua orang panitia qurban dari pt rapindo buru-buru meluncur ke rumah baca mutiara mandiri,karena kasihan anak-anak sudah terlalu lama menunggu, sampai disana teman taman dari SeBuai suda menunggu, untuk membagikan  kepada anak-anak yang belum dapet,  daging ini pun segera dibuka dan dan dibungkus ulang, agar jumlahnya mencukupi untuk anak anak yang belum kebagian.

Proses pembagian daging qurban sendiri saya tidak bisa menyaksikan, tapi menurut teman-teman dari sebuai suasana sangat meriah..meriah dalam ukuran orang-orang pinggiran..

Saya mewakili dari rumah Baca Mutiara Mandiri mengucapakan terimakasih kepada panitia qurban RT. Riken Indoseia dan kepada Managemen PT. Riken Indonesia, atas sumbangan binatang qurbanya,Uluran tangan dari Bapak /Ibu telah bangkitkan seyum

anak-anak disini..dan atas bakti dari PT. Riken Indonesi membuktikan anak orang pinggiran tidak sendiri.

Mudah-mudahan tahun depan muka-muka berseri tanpak lagi di Mutiara Mandiri..

Dan juga kepada pengurus rumah baca mutiara mandiri  teruskan berjuangan, semoga kita semua bias bangkit dari kebodohan meskipun negeri ini sudah tidak lagi peduli dengan nasib anak-anak ibupertiwi

“Selamat merayakan hari raya   Idul Adha Tahun 1431 H”

“mari kita berbagi..”

Miskinkah ???

Berkurban adalah media untuk belajar mensucikan kembali hati dan pikiran di jalan Allah
Berkurban adalah media untuk belajar mensucikan kembali hati dan pikiran di jalan Allah

Tidak biasanya, anak saya yang baru berumur 5 tahun, bangun pagi-pagi sekali. Hari itu dia dan teman-temannya sudah janjian untuk shalat Idhul Adha bersama-sama. Seakan tidak mau ketinggalan kereta, anakku bergegas mandi. Biasanya sulit sekali kalau disuruh mandi. Tidak lebih 10 menit dia sudah siap di depan pintu, lengkap dengan sejadah, baju koko dan kopiah.

Kegembiraan jelas terpancar dari raut wajahnya.  Karena pada tahun ini panitia qurban mengajak anak-anak kecil di komplek untuk ikut serta dalam pembagian hewan qurban. Bahkan sebelum hari qurban, anak-anak sudah dilibatkan mengurus hewan qurban. Sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak yang tumbuh di kota besar bisa bermain-main dengan  hewan yang hanya ada dalam buku-buku dongeng. Bagi kita, orang tua yang berasal dari desa, mungkin hal yang biasa memberikan makan bahkan memandikan hewan piaraan seperti kambing dan kerbau. Lain halnya dengan anak-anak kota, untuk bermain kotor-kotoran di sawah saja orang tua harus keluar uang yang cukup banyak.

Dalam perjalanan ke mesjid, saya ceritakan mengapa muslim di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idhul Adha. Muslim yang mampu diwajibkan memotong hewan untuk dibagikan kepada fakir miskin (mudah-mudahan penjelasannya benar, maklum bukan orang pesantrenan). Kemudian saya bertanya:

“de’ tahu gak ciri-ciri orang miskin itu seperti apa ?“…setelah berpikir lama, anakku mulai menjawab, bahwa: “orang miskin itu adalah orang yang tidak punya rumah, tinggalnya di gubuk atau kolong jembatan. Badanya kurus, kulitnya hitam legam dan bajunya compang-camping.”  Gambaran itu tidak lah salah, karena memang buku-buku yang ada mengajarkannya demikian.

Setekah sholat Id, anakku dan teman-temannya bergegas masuk aula untuk membantu para ibu majlis taklim mempersiapkan pembagian daging qurban. Karena hari raya berbarengan dengan pelaksanaan sholat Jumat,  pembagian daging qurban akan dilaksanakan setelah shalat Ashar.

Menjelang detik-detik pembagian, jalanan menuju mesjid sudah dipenuhi olah orang-orang yang akan menerima daging qurban. Jalanan semakin sesak dengan kendaraan motor yang diparkir kanan kiri, sebagian besar adalah milik para mustahik. Beberapa  motor kelihatan masih gres alias baru keluar dari pabrik, bahkan plat nomornya saja belum ada.

menjelang detik-detik pembagian daging kurban, jalanan mulai dipenuhi oleh para mustahiq
Menjelang detik-detik pembagian daging kurban, jalanan mulai dipenuhi oleh para mustahiq

Sambil menunggu pembagian, sebagian para mustahik sibuk membeli jajanan, mulai dari Ice Walls yang harga termurahnya sekitar Rp. 5.000 sampai tukang baso yang banyak dikerubuti oleh ibu-ibu dan remaja putri. Sebagian lagi sibuk berkerumun sambil pencet-pencet tombol HP. Saya kaget juga, ternyata HP mereka lebih up to date dan tentunya jauh lebih canggih dibandingkan punya saya. Seingat saya, bukankah yang berhak menerima daging qurban itu adalah orang miskin ?  dan ciri orang miskin itu setidaknya adalah seperti yang digambarkan oleh anak saya.

Saya mulai mengingat-ingat indikator kemiskinan yang disusun oleh World Bank, UNPD sampai BKKBN dan Departemen Sosial. Tampaknya indikator yang disusun melalui serangkaian seminar tersebut tidak lagi sesuai dengan gambaran yang saya lihat. Coba lah tengok orang-orang yang antri BLT, sebagian dari mereka mengenakan dandanan model terbaru bahkan ada yang dilengkapi perhiasan yang mencolok mata. Sedangkan orang tua jompo, cacat dan orang miskin yang sebenarnya sangat berhak justeru hanya menjadi penonton, karena mereka tidak kebagian kartu BLT.

Ketika pembagian daging qurban dimulai, orang yang tadi berkerumun tadi mulai berebut tempat agar mendapat posisi yang strategis. Semua orang mengerahkan tenaganya, bahkan sambil sikut dan injak pun menjadi hal yang lumrah dan sah-sah saja.  Dalam waktu 1,5 jam, 3000 kantong daging habis terbagi. Panitia pun bersyukur, pembagian daging qurban berjalan dengan sukses. Kericuhan yang dikuatirkan terjadi seperti di Lapangan Bhayangkara dan Mesjid Istiqlal serta beberapa daerah lainnya tidak terjadi. Setidaknya panitia dapat tidur dengan nyenyak.

Orang tua renta dan anak-anak selalu menjadi korban antrean yang tidak tertib. Desakan ekonomi memaksa mereka bertaruh dengan keselamatan jiwa raga. Setiap tahun kondisi  serupa selalu terulang
Orang tua renta dan anak-anak selalu menjadi korban antrean yang tidak tertib. Desakan ekonomi memaksa mereka bertaruh dengan keselamatan jiwa raga. Setiap tahun kondisi serupa selalu terulang

Menjelang sholat magrib saya pun siap-siap untuk pulang bersih-bersih. Maklum bau daging kambing mengalahkan bau parfume yang mahal sekalipun. Namun betapa kagetnya, ketika baru menginjakkan kaki di luar halaman, ternyata masih banyak para mustahik yang belum kebagian. Mereka menunggu dan berharap-harap cemas, mudah-mudahan masih ada daging qurban yang belum dibagikan. Sebagian dari mereka persis seperti apa yang digambarkan oleh anak saya, bahkan di antaranya adalah orang tua renta yang tentunya kalah tenaga berebut dengan yang muda.  Untungnya, panitia menyisakan beberapa kantong untuk kondisi emergency. Tidak sia-sia mereka menunggu lama, setidaknya mereka bisa pulang dengan senyum mengembang dan nanti malam sudah terbayang dapat makan daging.

Adakah yang salah dalam pembagian daging qurban kali ini ? Yang pasti, tahun depan perlu ada perbaikan sistem yang lebih baik. Saya melihat bahwa ada orang-orang yang sebenanya berhak, namun karena tidak memiliki akses kekuasaan dan kedekatan dengan Pak RT/RW atau orang yang diberi amanah, justeru tidak tercantum dalam daftar penerima daging qurban. Ironisnya, yang mendapatkan daging qurban, justeru adalah orang-orang yang mungkin saja setiap hari mampu membeli daging.

Jadi, siapa sebenarnya yang miskin itu ?  Mengapa setiap tahun makin banyak orang yang antre daging qurban ? Siapa orang di negeri ini yang bisa diminta pertanggungjawabannya ? Jangan-jangan kita salah menginterpretasi UUD yang menyatakan bahwa orang miskin dipelihara oleh negara. Karena dipelihara, tentu saja yang miskin semakin bertambah. Mestinya, UUD diamandemen yang menyatakan negara berkewajiban bin kudu mengurangi kemiskinan setap tahun. Jika gagal, maka Presiden harus mengundur diri. Adakah pemimpin yang berani berikrar seperti itu ? Wallahuallam……..