Reblog #SinauSEO : Lalu lintas Blog sepi

Apa sih yang harus kita lakukan bila kita merasa sudah habis-habisan menulis tetapi lalu lintas blog kita masih juga tidak naik-naik? Blog kita sepi pengunjung bahkan kawan kita sendiripun tidak mau berkunjung ke halaman kita. Pertanyaan itu ternyata terjawab ketika sebuah tulsian dari seorang teman sempat kubaca.

Mari kita simak apa yang dinasehatkan kawanku pada blogku :

1. Mari kita mulai lebih akrab dengan pemberi komentar yang mampir di blog kita. Mereka sudah datang ke rumah kita dan akan menjadi kepuasan bagi mereka bila kita menerima kunjungan mereka dengan menjawab komentar yang mereka tinggalkan. Akan lebih baik lagi kalau disempatkan untuk blogwalking ke sang pemberi komentar. Minimal kita bisa tahu siapakah pengunjung blog kita, agar kita bisa lebih memperhatikan mereka. Hubungan yang baik antara kita dengan pembaca blog kita akan membuat mereka menjadi pembaca blog kita yang loyal.

Buatlah akhir artikel yang memancing pertanyaan.

Misalnya ;
“apakah anda sependapat”
“Apakah anda punya pendapat lain?”
“Apakah anda pernah melakukan hal yang sama atau mirip?”

atau kalimat apa saja yang menggugah pembaca untuk berkomentar.

2. Pasanglah widget yang memudahkan pembaca blog anda untuk “subscribe” via surel (surat elektronik).

Ini adalah suatu hal sederhana yang sepertinya tidak penting, tapi makin banyak ‘subscriber” akan membuat artikel baru di blog anda selalu terkirim ke para pembaca.
Mungkin tidak semuanya loyal pada anda, tapi kalau setiap ada artikel baru terkirim ke mereka, maka ada kemungkinan mereka akan mengikuti tautan di surel mereka.

3. Menulislah secara konsisten dan teratur.

Gunakan fasilitas “terbitkan segera” sebagai pengatur waktu terbit artikel anda. Jangan sampai satu hari bisa menulis lima artikel tapi kemudian absen selama sebulan. Lebih baik atur waktunya, sehingga lima artikel itu bisa diatur agar terbit setiap minggu minimal sekali.

Tidak peduli sependek apa tulisan anda, maka itu lebih baik daripada tidak menulis sama sekali. Terus menulis dan terus belajar untuk lebih baik lagi.

Terima kasih buat temanku atas nasehat yang diberikan untuk blogku.

Salam sehati.

sinau seo 1

 

mikrolet hitam merah

Saya tinggal di Bekasi sejak saya mulai sekolah SD. SD saya di daerah kalimalang, tepatnya di belakang Swalayan Hembo Superindo Duren Sawit. Rumah saya adalah rumah terjauh untuk anak ukuran SD saat itu.

Saya masih inget kalo temen2 SD saya nanya,

Teman : rumah kamu dimana?

Saya : di… *mikir antara ngomong jujur tapi pasti mereka ga tau atau ngarang2 atau ga usah dijawab?!*

Saya : di bekasi…

Teman : dimana tuh?!

Tuh kan?!

Dari kelas 2 SD, saya pulang sekolah menggunakan angkot.

Kenapa ga naik jemputan? Hm.. karena saya sebel!!!! Loh?! Begini maksudnya…

Rumah saya yang terjauh, otomatis saya yang dijemput duluan dan dianter pulang belakangan. Dijemput setengah 6 pagi *dulu tuh jam segitu, gelapnya sama kaya jam 4 pagi* dan pulang satu setengah jam kemudian setelah supir jemputan khatam mengantar temen2 sejemputan! Keburu pingsan kelaperaaannn :((.

Itulah latar belakang kenapa saya lebih suka ngangkot dibandingin naik jemputan.

Dari hari pertama saya ngangkot, saya ingat, bokap berulang2 wanti2 supaya ga diculik orang ga nyasar ke antah berantah.

Nanti kalo pulang, naik mikrolet M19 yang tulisannya MERAH atau M26 yang tulisannya HITAM. Jangan naik M29 yang tulisannya merah ya.. mikrolet itu belok di lampiri.

Saat itu, saya cuma angguk2 aja. Patokannya MERAH atau HITAM.

Kalaupun saya lupa antara 19 atau 29, lebih aman naik mikrolet yang tulisannya warna ITEM.

Alhamdulillah saya ga buta warna. Kalo buta warna, trus ga tau nomor mikrolet pula, tamatlah sudah.

Saat itu, tarip pelajar untuk mikrolet dan ongkos seluruh angkot di Jakarta masih Rp. 100,-. Beneran deh, ga boong!

Waktu itu saya dikasih sangu Rp. 1000,-.

Hm… bukan karena saya anak orang kaya, tapi kayanya bokap lebih takut saya ilang karena nyasar trus ga punya ongkos dan kelaparan pula. Jadinya dikasih duit berlebih :D.

okey, terlepas dari nostalgia lokasi rumah dan jumlah uang jajan, beberapa waktu lalu saya kembali mengingat2 lagi tentang merah & hitam mikrolet2 itu.

Sampai sekarang, mikrolet masih sering saya gunakan, terutama ketika saya pulang ke Bekasi di hari kerja terakhir setiap minggunya & saat jalan2 disekitar jalan kalimalang.

Mikrolet2 yang melintasi daerah Jakarta Timur & Bekasi tersebut ternyata sudah tidak menandai identitas trayek jurusannya dengan MERAH atau HITAM lagi, tapi digantikan dengan menggunakan stiker2 dekoratif yang ditempel di kaca jendela dekat pintu, di kaca belakang, kaca jendela sisi kanan (sisi supir) dan tentunya di kaca depan.

Selain menggunakan stiker2 dekoratif untuk menunjukan identitas trayek, kadang para supir atau pemilik angkot tersebut menambahkan ‘kata2 mutiara’ untuk mencirikan kendaraannya.

Seperti misalnya mikrolet yang di kaca belakangnya berstikerkan THE NEW MICHAEL JORDAN, yang punya kesan tidak begitu baik setiap saat saya menumpang mikrolet itu. Terakhir saya menumpang mikrolet ini sekitar 2 tahun lalu sebelum saya kos di deket kantor. Dulu saat saya masih berangkat kerja PP, tiap pagi pasti saya naik mikrolet dengan identitas ini.

Errrggghhh… supirnya sangat amat menyebalkan!!! macet-ga-macet, ada-ga-ada calon penumpang yang berdiri menunggu di tepi jalan, si supir pasti membunyikan klakson. Berisikkk.. pagi2 gitu loh.. waktunya saya melanjutkan tidur selama perjalanan ke kantor yang sempat terputus :(.

Terlepas dari kata2 tambahan selain identitas trayek mikrolet2 tersebut, saya masih tetap penasaran kenapa sekarang warna MERAH HITAM udah ga dipake lagi?

Apakah sudah tidak sesuai dengan trend warna tahun yang sedang berjalan? *kaya koleksi warna kosmetik?!*

Atau apakah ada hubungannya dengan buta warna?!

Atau ada opini lain?

PS. Tulisan aslinya ada disini,  dibuat dalam rangka mengikuti lomba Aku Cinta Bekasi. Wish me luck ya :)

Bang Jo di Bekasi

lampu-merahBagi yang belum pernah tinggal di Jawa Tengah pasti belum tahu arti kata Bang Jo.

Saya memang orang Jawa Timur, tapi sempat mampir hidup di Jawa Tengah, sebelum (akhirnya?) sekarang merapat di Bekasi, Jawa Barat.

Bang Jo bukan nama orang Betawi seperti Bang Ali, Bang Jiun, Bang Jampang ataupun Bang Yos (mantan Gubernur DKI, yang sebenarnya orang Jawa itu). Dalam istilah warga Jawa Tengah (dan DIY) Bang Jo adalah lampu lalu lintas. Bang Jo dari kata abang ijo (merah dan hijau), salah dua dari tiga lampu pada lampu lalu lintas. Kuning gak disebut mungkin karena jarang menyala. Ini sangat membahayakan, karena pengendara bisa berhenti mendadak jika lampu tiba-tiba merah. Atau melaju mendadak karena tiba-tiba lampu menyala hijau dan pengendara mobil dibelakang dengan kesalnya memukul klakson mobilnya agar kita yang paling depan segera tancap gas. Memang kalau gak buru-buru khawatir lampu segera berubah jadi merah.

Nah…. ketidak menentuan ini tidak saya rasakan ketika menjelajahi kota Bekasi. Di sebelah lampu Bang Jo itu ternyata dipasang lampu timer yang memberitahukan kepada pemakai jalan raya, berapa detik lagi lampu merah atau hijau menyala. Jika lampu merah menyala, di sebelahnya ada lampu timer merah yang berhitung mundur (count down). Ini memberitahu kita merapa detik lagi kita harus sabar menunggu. Jadi gak perlulah kesal karena menunggu dalam waktu yang tak diketahui.

Yang paling nyaman tentu kalau lampu hijau yang giliran menyala. Di sebelahnya ada lampu timer hijau. Jadi kita yang masih jauh gak perlulah menancap gas dalam-dalam, kalau tahu bahwa lampunya masih bakal menyala 120 detik misalnya. Angkanya jelas tampak dari kejauhan. Sepanjang mata kita masih agak bagus. Jadi santai saja. Yang penting diperkirakan saja saat di perempatan lampu merah belum menyala.

Sebaliknya jika lampu hijau tapi timernya tinggal hitungan dibawah sepuluh detik, juga gak perlulah kelabakan ngebut. Toh gak bakalan keburu. Nanti malah terjadi kecelakaan. Jadi santai saja. Enak, toh…..

Fasilitas ini memang membuat pengendara nyaman ketika mendekati perempatan atan pertigaan.

Karena saya beredarnya di Cikarang-Bekasi jadi saya pertama kali tahu fasilitas seperti ini ya ketika menjelajah kota Bekasi. Belakangan saya tahu ini juga ada di kota Jakarta. Dasar udik!

Siapapun dan dimanapun yang duluan, fasilitas ini sangat bermanfaat dan perlu diterapkan di wilayah lain. Demi keselamatan pengendara kendaraan bermotor.

Salam Bang Jo,

Choirul Asyhar

http://ayomenulisbuku.wordpress.com

Membaca Rambu Berbahasa Inggris di Bekasi

Rambu lalu lintas depan BCP / Foto by Aris Heru Utomo

Kalau kita berkendaraan mendekati perempatan Jalan Achmad Yani dari arah Jalan K.H. Noer Ali (Kali Malang), persis di depan Bekasi Cyber Park, kita akan mendapatkan rambu lalu lintas dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Selain di tempat tersebut, beberapa rambu serupa dapat dijumpai di dekat jembatan penyeberangan, tidak jauh dari Giant Hypermart, dan jalan Chairil Anwar (depan DPRD Kota Bekasi). Hal ini tentu saja menarik perhatian karena menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang menjadi sasaran pemasangan rambu lalu lintas dalam dua bahasa tersebut?. Continue reading Membaca Rambu Berbahasa Inggris di Bekasi

Rambu di Bekasi yang Kurang Mudah Dibaca

rambu penunjuk arah di bekasi

Setiap kali melihat rambu petunjuk arah di dekat Mal Metropolitan, Bekasi, itu saya merasa kurang sreg. Bukan karena petunjuknya salah, melainkan kemasan tipografinya. Bagi saya itu kurang legible. Kurang mudah dibaca oleh pendatang.

Dari sisi niat, penggunaaan dwibahasa itu baik. Tetapi niat akan terwujud jika caranya mudah dipahami dan diikuti. Pada teks versi Inggris itu, penggunaan huruf indah ala kaligrafi, dari tipografi gaya Hermann Zapf, apalagi kapital semua, agak merepotkan dalam pembacaan.

Huruf indah biasanya dipakai untuk informasi yang tak perlu dibaca cepat. Misalnya untuk undangan dan sertifikat. Dan lazimnya, penerapannya tidak kapital semua.

Setahu saya rambu lalu lintas itu mengenal standar internasional. Memang di banyak pemda, standar itu diabaikan sehingga dalam perjalanan ke luar kota saya sering menjumpai rambu yang sulit dibaca. Bahkan ada saja peletakan rambu yang terlalu rendah — setinggi kepala orang dewasa. Jika terhalang oleh mobil boks, apalagi truk dan bus, maka pengendara mobil dan motor takkan melihatnya.

Di Indonesia ini pihak yang cukup tertib dalam merambu adalah Jasa Marga. Font yang dipilih adalah Interstate. Font ini memang legible, sering dipakai untuk rambu, dan variannya sangat banyak. Beberapa bank menggunakan font ini untuk berkomunikasi melalui teks (bukan pada logo). Yang utama adalah Citicorp (Citibank), dan kemudian Bank BCA dan Bank Mandiri pun sempat menggunakannya dalam buletin, brosur, dan sebagainya.

Jadi, bagaimanakah sebaiknya? Misalkan kita mulai dari yang berbahasa Indonesia dulu. Sebaiknya rambu dibuat lebih mudah dibaca. Akan lebih bagus jika menggunakan Interstate dan yang mirip.

Selamat Datang kembali di Bekasi

Alhamdullilah setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari Pemalang, Jawa Tengah, akhirnya kami sekeluarga tiba kembali dengan selamat di Bekasi pada Sabtu malam (26/9). Saat menyusuri  jalan tol Cikampek – Jakarta, terlihat jalan ramai lancar, begitu pun saat keluar pintu tol Bekasi Barat. Belum terlihat adanya kepadatan seperti lazimnya. Mungkin masih banyak warga Bekasi yang belum kembali atau enggan bepergian karena masih kelelahan. Continue reading Selamat Datang kembali di Bekasi

Kemacetan di Tol Pondok Gede

Sejak 18 Agustus 2009 sampai Kamis 20 Agustus 2009, pemakai jalan tol Cikampek Jakarta terpaksa harus banyak bersabar. Bagaimana tidak, begitu selesai antri untuk membayar tol di Pondok Gedhe, mereka harus langsung siap-siap memposisikan diri untuk parkir di kerumunan mobil yang menyemut.

sehabis mbayar tol