Sholat Jamaah

Beginiliah Lilo kalau bermain bersama kawan-kawannya, bila ada aku di rumah. Semoga bila tidak ada aku di rumah, mereka juga melakukan hal yang sama.

Amin.

Ambil air wudhu di depan rumah

Bergantian ambil air wudhu

Akhirnya mulai sholat berjamaah

Semoga Allah swt menunjukkan jalan yang benar kepada mereka semua. Amin.

Aku tidak bisa mewariskan banyak hal pada mereka, tetapi semoga mereka dapat membaca ayat-ayat Tuhan yang ada dimana-mana. Insya Allah. Amin.

+++

dimuat juga di blog pribadi

Bukan Papy Sitter

Kalau mas Amril sukses menulis cerita tentang Papy Sitter yang sangat gokil, maka aku lebih banyak berperan sebagai papy sitter yang gak gokil, malah sering terkagum-kagum dengan ulah anakku yang tak pernah kupikirkan.

Tanpa adanya istri di rumah, tetap saja semua bisa berjalan seperti ada istri di rumah. Paling-paling aku hanya menyediakan makan pagi saja, itupun tidak selalu. Lilo kadang sudah menyelesaikan soal masak memasak itu. Aku hanya sekedar menemaninya masak saja.

Nyupir (nyuci piring) dan masak memasak sudah biasa bagi Lilo, tapi pagi ini aku kembali dikejutkan dengan ulah. Ternyata Lilo juga bisa nyeterika sendiri.

Selamat ya Lilo, kamu sudah makin mandiri. Aku banyak belajar darimu deh.

Snack untuk anakku

“Snacknya kok nggak dimakan, puasa ya pak?”, kata kawanku ketika melihat snack pagi yang masih utuh di mejaku.

“Hmmm itu untuk anak-anak yang selalu setia menyambutku di pagar pintu ketika aku pulang dari kantor”, jawabku sambil senyum.

“Lha kalau nggak segera dimasukin plastik, ntar ada yang makan lho pak”, kata kawanku yang lain ikut nimbrung.

“Ya berarti belum rejeki anakku tuh”, jawabku enteng. Continue reading Snack untuk anakku

Sore hari di Bekasi

Aku lihat koleksi foto-foto Lilo saat sore-sore kita jalan-jalan berdua. Hehehe..itung-itung nulis untuk kota Bekasi tercinta, maka kumuat lagi saja foto-foto kenangan ini di blognya BeBlog.
tarzan 02

Lilo paling suka main ayunan tetapi memakai akar pohon. Gayanya sudah mirip Tarzan saja, tetapi tanpa monyet di pundak. Soalnya kalau ada monyetnya, pasti malah Lilo yang takut digigit sama monyetnya.

Waktu kutanyakan soal kepindahan LiLo ke Yogya, menyusul kakak-kakaknya, kayaknya Lilo belum punya keputusan, tetapi dia masih berpikir-pikir dulu. Mungkin dia berpikir di Yogya nanti tidak ada lagi mainan kayak Tarzan-tarzanan ini.

bukit 01

Lilo juga paling seneng memanjat bukit-bukitan yang ada di sekitar perumahan. Sebuah bukit kecil yang gundul, tetapi memberi suasana ceria buat LiLo.

live healthy life 02

Setelah naik ke atas bukit, maka mulailah Lilo berlari-lari kecil. Aku yang kecapekan motret Lilo berlari, sedangkan Lilo tetap saja bernafas biasa seolah-olah tidak sedang berolah raga.

prairi 03

Kalau Lilo merasa capek, maka langitpun jadi atapnya dan bumi jadi kasurnya. Begitu saja LiLo langsung telentang di rumput dan menikmati keindahan langit biru yang ada di atas sana. Itulah langit kota Bekasi yang polusinya tidak separah Jakarta.

prairi 02

Kadang Lilo beraksi seperti Jet Li yang sering dilihatnya di TiVi. Pura-pura bersemedi untuk mencari Chi dari dalam tanah [energi bumi], menyerapnya dan kemudian merubahnya menjadi tenaga dalam yang sangat kuat.

Hehehe… itulah si Kecil Lilo yang suka menemaniku kemana-mana, daripada di rumah sendiri ataupun daripada dia ikut kegiatan yang tidak jelas maknanya.

Bagiku Lilo adalah guru terbaikku, karena dari mulutnya sering keluar kalimat bijak, persis seperti ucapan ustadz yang sering kuliah subuh sehabis sholat subuh. Aku jadi kayak “kebo nusu Gugel” deh.

Makasih ya nak telah banyak menyadarkan kekeliruan bapak.

Akupun jadi ingat petuah guruku, “kalau kita mensyukuri apa yang kita terima, maka sebenarnya kebahagiaan sudah ada pada diri kita, tidak perlu dicari lagi karena dia sudah merasuk dalam hatimu….”

Makin direnungkan, kalimat itu makin bermakna. Itu pula yang membuat aku tetap betah tinggal di Bekasi, meskipun kawan-kawan sering heran dengan pilihanku.

“Kok di Bekasi sih tinggalnya? Memang tidak ada yang lebih nyaman?”

Dalam hati kubilang, “Kamu belum kenal sih sama walikotanya, hehehe….aku juga belum !:-)..”

Persiapan Lomba Foto “Aku Cinta Bekasi”

Sejak diumumkan adanya lomba foto bertemakan “Aku Cinta Bekasi”, aku langsung mencoba mencari obyek yang ada hubungannya dengan Bekasi. Ternyata gak ketemu. Padahal dulu banyak juga foto-foto Bekasi yang kuambil.

Yang ketemu malah hasil fotoannya LiLo.

Fotoannya LiLo
Fotoannya LiLo

Foto ini diambil oleh LiLo setelah dia melihat foto-foto yang kuambil ketika aku jalan-jalan pagi bersama Haslita Nisa, kakak LiLo.

Di Depan Lap Golf Jababeka
Di Depan Lap Golf Jababeka

Foto ini kuambil ketika aku masih pakai Canon IXUS 8 MB.

Pemandangan di Belakang Rumah
Pemandangan di Belakang Rumah

Saat pulang menuju ke rumah, matahari masih belum tinggi benar jadi terpaksa diambil lagi gambarnya.

Two Towers
Two Towers

Lokasi foto favoritku.

Gambar-gambar ini selalu terasa enak dilihat. Berbeda dengan kalau aku mengambil gambar di seputaran kantorku.

Warna warni di Cawang
Warna warni di Cawang

Nah ini kalau malam, kalau siang lain deh rasanya.

Trotoar sudah bersih
Trotoar sudah bersih

Sebelum ada penertiban, maka Cawang menjadi terminal bayangan yang laris manis dengan PK5. Para PK5 ini asyik jualan memenuhi sepanjang trotoar yang ada dan akibatnya pejalan kaki harus berjalan di badan jalan. Bisa ditebak, kondisi jalan yang tadinya semrawut menjadi tambah semrawut.

Nah, semua foto-fotoku ternyata bercerita tentang kota selain Bekasi. Jadi harus hunting lagi untuk ikut lomba foto BeBlog.

Hadiahnya itu yang bikin ngiler. Padahal syaratnya gampang banget.

Bapak [tidak] Jahat Nak….

“Kenapa bapak pulang malam?”, protes LiLo padaku.

“Jalan macet nak, jadi gak bisa cepat pulang”, jawabku sambil mencoba tetap tersenyum, meskipun badan rasanya capek dihajar kemacetan di depan pertamina Cikarang.

“Kenapa tidak naik sepeda saja ke kantor, kan naik sepeda tidak kena macet”, Lilo terus mengejar.

“Wah bapak tidak kuat kalau harus naik sepeda dari Cikarang ke Cawang nak”

“Kawan-kawanku bapaknya naik sepeda ke kantor. Bapak ikut B2W saja biar sehat !”

“Yah…mereka kantornya kan di sekitar Cikarang, jadi bisa cepat pulang, biarpun naik sepeda. Kalau bapak naik sepeda dari Cawang, jam 12 malem baru nyampai di rumah nak…”

Lilo terdiam mendengar semua penjelasanku. Aku lihat dia masih belum mau terima penjelasanku, tapi dia sudah males ngomong, jadi kulihat dia diam dalam kemarahan yang tertahan.

Kupeluk erat Lilo dan kurasakan tidak ada pelukan balasan dari Lilo.

“Ya Allah, jangan jadikan Lilo sebagai anak yang tidak bisa menerima keadaan ini. Mudahkan hati Lilo menerima kenyataan ini. Aku bukan bapak yang jahat dan semoga Lilo mengetahuinya”

Perlahan-lahan kurasakan pelukan balasan dari Lilo. Aku tidak tahu apakah ini balasan doaku atau kesadaran Lilo memang sudah sampai pada taraf memahami perasaan bapaknya yang sangat mencintainya.

“Percayalah nak, bapak selalu ingin cepat pulang dan bermain dengan Lilo”

Alhamdulillah, akhirnya larut malam datang dan membawa angin syukur di keluargaku.

Sahur Bersama CiMart [MMC]

Setelah kemalaman dari acara buka bersama di BCP tadi malam, aku sedikit meragukan kemampuan LiLo untuk bangun dini hari. Inilah kesalahanku yang baru kusadari sekarang. Coba tadi malam aku yakin bahwa Lilo akan mudah dibangunkan, maka insya Allah Lilo bener-bener mudah dibangunkan.

Allah suka menuruti apa yang ada di hati hambanya, sehingga begitulah yang terjadi ketika aku membangunkan Lilo di dini hari tadi. Susaaaaah banget, bahkan nyaris putus asa. Berkali-kali aku putus asa, sambung asa, putus lagi, sambung lagi, pokoknya putus sambung deh.

Di puncak putus asa itu istriku berkata, “Pak Lilo udah bangun tuh”

Continue reading Sahur Bersama CiMart [MMC]