The True Love is… Bekasi !

bekasi-bcp

Suara klakson kendaraan berbunyi ramai disepanjang jalan Kalimalang dipagi hari saat puluhan ribu warga Bekasi pergi bekerja untuk mengais nafkah di ibukota Jakarta, pun sebaliknya ketika jam pulang kerja suasana itu berulang. Sepanjang jalan Kalimalang kita melihat puluhan ribu bahkan ratusan ribu mobil dan motor berjejal, saling salip, saling serobot yang pada akhirnya membuat kemacetan panjang. Padahal sekeras apapun klakson dibunyikan yang terjadi tetap kemacetan, toh jalan yang sempit tidak mungkin melebar hanya karena bunyi klakson dari puluhan ribu kendaraan itu.

Nampaknya orang sudah mulai hilang kesabaran. Rasa lelah, panas dan gerah, belum lagi pressure yang ketat dikantor serasa menumpuk dikepala membuat stress dan ingin segera diledakan atau dibuang setiba dirumah dengan cara mandi berguyur dipancuran atau berendam santai di dalam bathtub. Ya, kemacetan bukan lagi barang aneh di sepanjang jalan Bekasi ini. Jalan raya Bekasi yang pada umumnya sempit, banyak gajlugan, berlobang, lampu lalu lintas yang kurang teratur, angkot yang kalau berhenti suka mendadak dan seenaknya, belum lagi dipersimpangan banyak “ pak Ogah’ yang seperti pahlawan dengan berani mengatur laju kendaraan adalah seabreg-abreg keruwetan yang melanda transportasi di Bekasi. Dan panasnya mulai meninggi di siang hari.

Melihat suasana kota Bekasi dari jendela Metropolitan Mall pada malam hari membuat kita sedikit tentram, bahwa ternyata kota Bekasi sudah menjelma menjadi metropolis dengan gemerlap lampu hampir disetiap pojok. Cyber Park yang hangar bingar, Giant yang seperti raksasa betulan, Bekasi Square yang mirip kastil jaman Romawi serta beberapa gedung diseputar mata memandang menunjukkan jatidirinya dengan billboard menyala cerah.

Lampu-lampu kendaraan berwarna terang dilihat dari arah depan seperti ribuan kunang-kunang yang berterbangan ketika kota Bekasi masih merupakan lahan persawahan yang subur atau melihat warna lampu merah merona berjajar panjang mengingatkan lampu tempel yang digantung disepanjang jalan dibungkus kertas wajik. Jalan tol Jakarta – Cikampek yang membelah kota Bekasi menjadi dua bagian yang hampir simetris seakan membelah memori di dalam tempurung kepala kita untuk sedikit mengenang kota Bekasi tempo doeloe, sebuah ingatan masalalu yang indah, sederhana, gelap gulita, padang rumput, ternak kambing domba, bebek beriring, macul di kebun atau nandur disawah dan ngoyos eceng gondok atau mungkin sekumpulan bocah mandi dikali sambil main tekuil,…indah benar.

Sedangkan dibelahan memori yang lain terukir dengan cermat langkah pembaharuan kota yang terus membahana dimana gedung-gedung dan ruko seperti tumbuh dari dalam tanah menggilas lahan padi yang luas, jalan-jalan beraspal bahkan Jakarta Outer Ringroad menerobos jalan setapak yang dulu hanya dilewati sepeda ontel atau gerobak sayur membawa hasil panen menuju proyek dan pasar tradisional Bekasi. Sekarang jalan itu sudah lumayan halus dan lebar dilengkapi pula dengan tiga lampu merah kuning hijau disetiap persimpangan.

Penertiban dan regulasi budaya modern yang kerap masih saja diterobos oleh pengendara yang kurang sopan padahal Polantas sudah sigap diujung dengan aba-aba dan dering suara peluit,..priiit! “Saudara kami tilang, karena menerobos lampu merah!”. Dan kemudian pengendara itu menepi, pura-pura bego supaya dianggap tidak bersalah, lalu ngajak damai dan ngasih beberapa lembar cash money dari dalam dompetnya, beres! Geblek! Pengendara seperti itu adalah orang-orang bodoh yang mengatur regulasi sesuai selera mereka sendiri, atau oknum polantas yang juga culas dan mau menukar kartu tilang hanya dengan selembar uang?

Itu baru soal kecil yang pernah kita cermati, selebihnya puluhan bahkan ratusan budaya kotor berlangsung dikota yang kita banggakan ini setiap waktu. Bekasi tidak harus dibangun dengan budaya jahiliah tersebut, tetapi dengan kemampuan intelektual, etika dan estetika yang elegan. Budaya disiplin, disiplin masuk kantor dan pulang kantor, disiplin melayani masyarakat, disiplin pribadi sebagai masyarakat seperti membayar pajak tepat waktu, membuang sampah pada tempatnya, budaya antre dan semua keluguan yang pernah diwariskan oleh nenek moyang kita dulu, masih adakah itu semua? Kita semestinya khawatir karena budaya ketimuran yang lugu itu sudah mulai hilang karena dianggap norak oleh generasi sekarang!. Keterlaluan. Sungguh keterlaluan! Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan bangsanya, melestarikan budayanya serta menjunjung tinggi bahasanya? Banyak belajarlah dari moment penting memperingati hari Sumpah Pemuda ke- 81 tahun ini.

Memasuki peradaban baru dalam gemerlap budaya dan kekinian harus memberikan semangat militan yang kental dengan budaya kerja keras, bersaing dengan sehat, fair dan legowo. Bahwa setiap kemenangan maupun kekalahan dalam situasi dan kondisi apapun sebenarnya sudah diatur oleh yang mengaturnya, yaitu Allah SWT. Sehingga ketika kita ingin menorehkan tinta emas atau mengukir sejarah dalam mengisi kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat kota Bekasi, siapapun dia dan darimanapun berasal dia, semestinya dilandasi sense of belonging..i’m Bekasi’s community now!. Sehingga ketika membangun kota tercinta ini tidak ada lagi friksi, fikiran kedaerahan, tidak ada lagi perbedaan antara putra daerah dan kaum pendatang, toh Bekasi ini adalah bumi Indonesia juga, milik kita bersama yang harus dibangun, dikelola, dikembangkan, diberdayakan dengan kearifan lokal untuk menyiasati kemandirian global.

Kita boleh belajar dari Barrack Obama, seorang lelaki hebat yang mampu meraih mimpinya untuk membangun Amerika. Sehingga rasanya tidaklah berlebihan ketika kita semua menitipkan pembangunan laju kota Bekasi yang memiliki visi “ Bekasi Kota Unggul dalam Jasa dan Perdagangan bernuansa IHSAN” menjadikan kota Bekasi sebagai komunitas masyarakat modern serta dengan suatu misi yang luhur menjadikan kota Bekasi sebagai daerah kondusif mulai dari kehidupan beragama, sumber daya manusianya, ekonomi, hukum, sumber daya alam, sumber daya buatan maupun keamanan. Kehadiran duet M2M dan Bang Pepen atau H. Mochtar Muhamad dan H. Rahmat Effendi sebagi petinggi kota Bekasi adalah sebuah realitas yang harus terus diberikan dukungan oleh seluruh komponen dan lapisan masyarakatnya dalam mewujudkan mimpi-mimpi masyarakat Bekasi yang menginginkan daerahnya menjadi sebuah wilayah penuh dengan ketentraman dan kemakmuran.

Separuh jalan telah beliau wujudkan dengan menata kota baik berupa kebijakan yang mencerminkan performa infrstruktur maupun suprastruktur. Perluasan jalan-jalan menuju kota, merehabilitasi gedung-gedung sekolah yang rusak, memberikan pelatihan bagi aparat pemerintahan, pelayanan gratis untuk kesehatan bagi masyarakat tidak mampu dan pendidikan dasar gratis bagi anak usia sekolah adalah sebagian dari kemajuan regulasi. Dan kemudahan dalam mendown load informasi maupun pengaduan warga sudah disediakan lewat website pemkot Bekasi maupun beberapa departemen didalamnya, dan baru-baru ini launching bloggerbekasi.com adalah sebagai jawaban bahwa pemerintah kota Bekasi memiliki kepedulian yang tinggi dalam merespon segala kebutuhan warganya.

Sekarang marilah kita mulai surfing didunia maya yang tanpa batas ini. Silahkan anda berhahahihi, sekedar say hello, curhat, berkomentar, kritik membangun, memberi saran atau mengeluarkan unek-unek seputar Bekasi, syah-syah saja sepanjang tidak bersinggungan dengan SARA. Bekasi adalah milik kita bersama, segalanya harus kita berdayakan sebagaimana kita memberdayakan potensi yang ada dalam diri kita. Karena maju mundurnya peradaban masyarakat Bekasi menjadi tanggung jawab kita bersama.

Curahkanlah segala cinta sesejatinya cinta, karena menaruh rasa cinta pada bangsa adalah bagian dari iman kita. Membangun kota Bekasi dengan segenap potensi, sesuai keahlian profesi, minimal sesuai dengan keinginan hati, meskipun kecil, hanya secuil tentu akan dicatat oleh sejarah dan peradaban. Toh berbuat sesuatu yang sangat besar yang dilakukan dengan arogan dan kesombongan tidak memiliki nilai yang lebih baik dari berbuat sebutir jahrah yang dilakukan dengan tulus ikhlas.

Menemukan cinta yang sebenarnya,…ya cinta apa adanya. Sebuah keadaan yang semestinya, seasli-aslinya, mencumbuinya, menggelorakannya, dan cinta itu ada dihadapan kita,…Bekasi!. *Majayus Irone, adalah penulis dan dosen tinggal di Jatiasih – Bekasi.