Menikmati Sensasi LPI di Stadion Patriot Bekasi

Sebelum memulai tulisan ini saya mesti memberikan testimoni bahwa meski sering ke area Gelanggang Olah Raga (GOR) Bekasi, tapi baru pertama kali inilah saya memasuki Stadion Bekasi dan menonton pertandingan sepakbola. Sebelumnya setiap kali memasuki kawasan GOR saya hanya numpang lewat saja di samping Stadion Patriot.

Karena belum pernah masuk ke Stadion Patriot, saya tidak tahu mana bagian depan dan belakang dari stadion tersebut. Akibatnya sempat terjadi salah pengertian ketika pada hari Minggu (06/02) saya janjian bertemu dengan Juru Bicara Liga Primer Indonesia (LPI) mas Abi Hasantoso di depan pintu masuk utama stadion. Saya mengira pintu masuk utama adalah pintu yang di sebelah timur yang terlihat dari jalan Achmad Yani. Padahal pintu masuk utamanya adalah yang terletak di sebelah barat yang berhadapan dengan lapangan parkir.

Di pintu timur ini terlihat paling kurang satu peleton brimob sudah berjaga-jaga di pintu masuk. Sementara itu rombongan supporter Batavia Union dan pendukung Persipasi (Soebex) terlihat berkerumun di pintu masuk. Mereka belum bisa masuk karena memang belum membeli tiket yang dijual seharga Rp. 10.000 dan Rp. 5.000 per orang.

Setelah memutar sejenak, akhirnya saya sampai di pintu utama di sebelah barat. Mas Abi sudah menunggu disana bersama putranya Ammar dan beberapa teman-teman mas Abi. Tidak menunggu lama kami pun masuk ke stadion karena pertandingan antara Batavia Union vs PSM Makassar memang sudah dimulai. Sebagai undangan, saya dan putra saya Rifcky tidak perlu membeli tiket seharga Rp. 20.000/orang untuk tribun barat.

Setibanya di dalam stadion, saya segera memilih tempat duduk di bagian kiri tribun barat. Di lapangan terlihat pemain dari kedua kesebelasan sedang berjibaku berebut bola dan saling serang ke gawang lawan masing-masing. Perlu waktu sejenak untuk bisa mengetahui posisi Batavia Union dan PSM Makassar yang sedang bertanding di lapangan. Apalagi saya enggak hapal nama-nama pemain kedua kesebelasan. Mau bertanya ke penonton di sebelah agak gengsi, takut dibilang “nonton bola kok enggak tahu posisi kesebelasan yang ditontonnya”.

Akhirnya untuk melacak posisi tim, saya dan anak saya mencoba mengidentifikasikan pemain yang mungkin dikenal, salah satunya adalah De Poras. Setelah beberapa saat menelusuri nama yang tercantum di punggung pemain, ternyata tidak ada pemain yang bernama belakang Poras. (belakangan diketahui bahwa De Poras bukan bermain untuk Batavia Union melainkan Jakarta 1928 FC). Gagal dengan cara ini, kami mencoba mencari-cari penonton yang kemungkinan memakai seragam yang mirip di tim yang bertanding. Untung didapat seorang penonton yang mengenakan kaos putih dengan strip merah hitam di lengan serta logo Batavia Union di dada. Dengan metode ini akhirnya saya tahu kalau Batavia Union berada di kiri dan PSM Makassar di kanan. Ya akhirnya saya bisa menonton pertandingan dengan baik dan benar.

Di lapangan yang becek dan agak sedikit tergenang, terlihat pemain kedua kesebelasan sedang mempertontonkan aksinya dengan penuh semangat. Kedua kesebelasan pun menurunkan formasi lengkap, termasuk pemain-pemain asingnya. Di Batavia Union terlihat ada Javier Rocha yang aktif mengatur serangan dan Juan Cortez yang rajin ke depan. Sementara di PSM Makassar terdapat mantan pemain Ajax Amsterdam Richard Knopper dan Mitrovic Srecko.

Awalnya permainan terlihat lamban, namun setelah Knopper membobol gawang Batavia Union pada menit ke-31, pertandingan mulai terlihat seru dan saling serang. Namun hingga babak pertama berakhir, kedudukan tetap 1-0 untuk keunggulan PSM Makassar.

Di babak kedua Batavia Union mampu membalas setelah wasit memberikan hadiah penalti setelah pemain belakang PSM Makassar Kwon Jun melakukan handsball pada menit ke-50. Juan Cortez memanfaatkan dengan baik tendangan penalti yang diberikan ketika ia berhasil membobol gawang PSM Makassar yang dijaga Deni Marcel. Sejak itu, meski serangan-serangan dari kedua belah pihak terus mengalir, tidak ada gol tambahan sehingga kedudukan akhir imbang 1-1.

Empat menit menjelang bubaran sempat terjadi keributan ketika Javier Rocha dan Strecko Mitrovic bermain kasar. Untung wasit bersikap tegas dan mengusir kedua pemain dengan kartu merah.

Secara keseluruhan pertandingan berjalan dengan baik dan lancar serta tidak ada kerusuhan. Banyaknya polisi yang menjaga pertandingan membuat potensi kerusuhan berkurang. Para penonton yang datang ke stadion, termasuk anak-anak ABG yang datang berombongan juga ngeri untuk memulai kerusuhan. Untuk itu tidak heran jika banyak penonton yang datang ke stadion bersama-sama dengan anak dan istri.

Saya sendiri sangat menikmati pertandingan yang baru saya saksikan. Walau ketrampilan individu yang dipertontonkan masih jauh dari aksi-aksi pemain internasional yang biasa disaksikan di layar televisi (ya iyalah jangan bandingkan dulu dengan mereka), namun permainannya cukup menghibur. Sayang lapangan becek menggangu pergerakan bola, kalau saja lapangannya tidak becek, bisa jadi pertandingan bisa lebih menarik lagi. Satu hal lagi, kalau saja ada papan petunjuk mengenai posisi kesebelasan yang bermain, maka kebingunan seperti yang saya hadapi tidak bakal terjadi.

Satu lagi yang membuat saya senang dan mungkin juga warga kota Bekasi, menurut informasi dari Juru Bicara LPI mas Abi Hasantoso, Stadion Patriot akan dijadikan home based Batavia Union. Sehingga setiap pertandingan kandang Batavia Union akan dilakukan di Bekasi. Artinya tidak tertutup kemungkinan masyarakat kota Bekasi akan menyaksikan lebih banyak lagi bintang-bintang LPI seperti Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan (Persema) serta Lee Hendrie (Bandung FC) merumput di Bekasi.

Monumen Patriot Bekasi

Monumen Patriot yang terdapat di Bumi Perkemahan Pramuka Bekasi, Jalan Achmad Yani, merupakan monumen yang dibangun untuk menghormati perjuangan rakyat Bekasi dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Meski letaknya di ujung jalan utama Bekasi, ternyata banyak anggota masyarakat Bekasi yang tidak mengetahui keberadaan monumen ini. Ketika foto ini saya tampilkan di Facebook misalnya, banyak teman-teman yang justru mempertanyakan keberadaan monumen ini. “Dimana nich? Kok saya tidak pernah lihat? Continue reading Monumen Patriot Bekasi

Ada Apa Di Balik Kata Patriot ?

Saat memutuskan untuk pindah ke Bekasi karena urusan pekerjaan, kata pertama yang saya dengar tentang kota ini adalah julukannya sebagai Kota Patriot. Mendengar kata “patriot”, yang saya bayangkan  adalah rudal-rudal canggih buatan Amerika yang terbukti efektif sebagai alat pembunuh masal. Apakah memang Kota Bekasi pernah dibom Amerika ? Mengapa kata patriot begitu melekat dengan Kota Bekasi ? Pertanyaan  ini, mungkin juga menjadi pertanyaan kaum urbanis lainnya yang telah berketetapan hati menjadi warga di Kota Bekasi.  

Dengan bantuan Om Google, saya mulai pencarian makna di balik kata patriot. Hasilnya luar biasa banyak, Om Google memberitahu ada sekitar 189.000 hasil telusur untuk kata patriot. Secara umum, patriot merujuk pada sesuatu yang berhubungan dengan kecintaan dan pengabdian seseorang terhadap negara dan tanah airnya. Wujud implementatif kata patriot adalah semangat pengabdian dengan mengorbankan segala hal yang menjadi miliknya sendiri, baik harta maupun nyawa.

Perburuan informasi terus berlanjut dan  semakin menantang ketika menemukan lambang kota ini dalam web site resmi Pemerintah Kota Bekasi. Lambang yang  berbentuk perisai dengan warna dasar hijau muda dan biru langit, dan di bawahnya tertera kata-kata “KOTA PATRIOT”. Di dalam lambang tersebut terdapat gambar yang mencolok yaitu bambu runcing berujung lima berwana putih. Secara sekilas lambang daerah ini menggambarkan perjuangan dan kegigihan rakyat Bekasi dalam  dalam landscape sejarah perjuangan  Indonesia.

Adakah bukti yang cukup signifikan untuk memperkuat argumentasi bahwa kota ini berperan besar di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia ? Seorang sahabat menyarankan saya untuk melihat berbagai monumen (baca:tugu) atau gedung bersejarah yang akan bercerita banyak tentang masa lalu Bekasi. Keberadaannya bisa menjawab mengapa Kota Bekasi dijuluki sebagai Kota Patriot.

Mendengar saran ini, saya langsung mengambil motor menuju lokasi seperti ysng disarankan oleh sahabat yang dikenal sebagai sejarawan Bekasi. Bagi saya, ini ibarat petualangan menyusun puzzle yang harus disusun satu per satu hingga menjadi sebuah gambaran utuh tentang Bekasi.

 Tugu Perjuangan Alun-alun Bekasi

Monumen pertama yang saya kunjungi adalah yang terletak di Alun-alun Bekasi. Masyarakat menyebutnya Tugu Perjuangan Alun-alun Bekasi. Monumen yang berbentuk tugu segi lima dengan tinggi kurang lebih 5 meter terletak persis depan Polres Bekasi. Monumen ini didirikan pada tanggal 5 Juli  1955 sebagai bentuk penghargaan pemerintah kepada para pejuang Bekasi atas perannya dalam memperjuangkan dan menegakkan kemerdekaann Republik Indonesia.

Ada dua peristiwa penting yang melatari pendirian monumen ini. Pertama, peristiwa pertempuran antara rakyat Bekasi melawan pasukan Sekutu dan  NICA yang terjadi pada  tahun 1946. Lokasi pertempuran berpusat di sekitar alun-alun Bekasi. Pertempuran ini terjadi karena keinginan Belanda untuk menguasai kembali Indonesia dengan cara membonceng tentara Sekutu. Namun, keinginan ini ditentang keras oleh seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Bekasi. Penolakan keras rakyat Bekasi, akhirnya membangkitkan kemarahan Sekutu dengan melakukan penyerangan membabi buta terhadap front-front pertahanan para pejuang, termasuk yang berada di Alun-alun Bekasi.

Menghadapi serangan membabi buta dari Sekutu dan anteknya, rakyat Bekasi, mulai dari pemuda, sampai kakek tua renta, bahu membahu melawan pasukan sekutu  yang dilengkapi dengan persenjataan modern.  Rakyat hanya bermodalkan senjata hasil rampasan dari pertempuran sebelumnya dan tajamnya bambu runcing dan golok. Modal nekad ini harus dibayar mahal dengan regangan nyawa. Seketika, alun-alun menjadi kubangan darah dan yang tersisa hanyalah tekad “merdeka dari belenggu penjajahan”.

Peristiwa kedua adalah diselenggarakannya rapat umum yang digagas oleh Panitia Amanat Rakyat Bekasi pada bulan Pebruari 1950. Rapat umum ini menghasilkan sebuah resolusi yang disebut sebagai “Resolusi Rakyat Bekasi”. Resolusi ini berisi tuntutan kepada Pemerintah Pusat untuk memberikan otonomi yang lebih luas kepada rakyat Bekasi. Keinginan tersebut akhirnya terwujud pada tanggal 15 Agustus 1950 dan kemudian tanggal tersebut  dijadikan sebagai Hari Jadi Kabupaten Bekasi.

Monumen  Perjuangan Rakyat

Monumen kedua yang dikunjungi berada di areal Stadion Bekasi, Jl.Ahmad Yani, tidak jauh dari Kantor Walikota Bekasi. Monumen ini didirikan pada tahun 1975 pada masa pemerintahan Bupati Abdul Fatah. Ada lima buah tugu dengan tingginya kurang lebih 17 meter yang diletakkan di tengah kolam persegi lima. Di depan lima tugu terukir cuplikan sajak karya Chairil Anwar yang berjudul Kerawang Bekasi.

Di belakang monumen ada relief yang menggambarkan perjalanan rakyat Bekasi yang dimulai pada masa VOC dan penjajahan Belanda samapi masa pembangunan Orde Baru. Relief pertama melukiskan kondisi awal Bekasi yang dikenal sebagai daerah partikelir dan perkebunan yang luas. Pada masa itu,  para tuan tanah yang juga dikenal dekat dengan Pemerintah Jajahan Belanda, sangat mendominasi seluruh siklus kehidupan rakyat. Rakyat selalu berada dalam kondisi menderita karena sikap tuan tanah yang digambarkan kejam dan tanpa tenggang rasa.

Relief kedua menggambarkan kedatangan tentara Jepang yang awalnya disambut sebagai saudara tua ternyata perilakunya jauh lebih kejam dibandingkan dengan tentara Belanda. Pada relief digambarkan bagaimana tentara Jepang memaksa rakyat mengangkut beras ke truk. Pada Masa Jepang ini juga dikenal istilah kerja paksa atau romusha.

Relief ketiga menggambarkan masa setelah  kemerdekaan. Diaroma yang  menggambarkan jiwa patriotisme rakyat Bekasi di berbagai medan pertempuran. Salah satu peristiwa besar yang pernah terjadi adalah aksi pembakaran oleh tentara Sekutu dan Belanda yang kemudian dikenal dengan peristiwa “Bekasi Lautan Api”.

Relief yang terakhir menggambarkan Bekasi pada masa era pembangunan Orde Baru. Diorama dalam relief era pembangunan ini dilukiskan dengan pembangunan gedung-gedung, perumahan beriringan dengan pembangunan pertanian dan program keluarga berencana. Di era Orde Baru, Bekasi kemudian dikenal sebagai daerah industri dan perdagangan yang sangat ramai.

Gedung Papak

Gedung Papak terletak di pinggir Jalan Juanda, Bekasi. Saat ini, Gedung Papak hanya difungsikan sebagai mushola. Sebelum kantor Walikota pindah ke Jalan Ahmad Yani, Gedung Papak pernah dijadikan rumah dinas Walikota dan pusat pemerintahan Kota Administratif  Bekasi. 

Ketika pada masa kemerdekaan, pemilik Gedung Papak adalah seorang keturunan Tionghoa bernama Lee Guan Chin. Walaupun dia seorang non-pri, perhatiannya terhadap perjuangan rakyat Bekasi sangat besar. Karena hubungan baiknya dengan   gerakan perjuangan rakyat yang dipimpin oleh  K.H. Noer Alie,  kemudian Gedung Papak diserahkan oleh pemiliknya untuk dijadikan sebagai salah satu markas perjuangan rakyat Bekasi.

 Tugu di Jalan KH Agus Salim

Sepanjang petualangan mencari tahu makna patriot, hampir semua orang menggelengkan kepala ketika ditanya tentang nama tugu di Jl. Agus Salim. Termasuk abang-abang becak dan pa ogah yang sering mangkal di sekitar tugu hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu. Informasi yang saya peroleh dari mereka bahwa tugu ini selalu dijadikan patokan bila ada yang mencari alamat rumah di sekitar jalan Agus Salim. Selebihnya mereka hanya menggelengkan kepala.

Monumen ini berbentuk persegi empat, di atasnya terdapat semacam kepala. Konon, ketika awal dibangun di sekeliling kepala tugu ditanam pecahan peluru meriam, mortir, granat tangan, dan selongsong peluru ukuran 12,7 mm yang diambil dari berbagai pertempuran di sekitar Bekasi dan Cakung. Keberadaan barang-barang tersebut memang tidak bisa dilihat secara jelas, karena sekitar tugu dipasang rantai pembatas yang akan menghalangi orang untuk mendekat.

Penjelasan yang lebih ilmiah datang dari sahabat saya yang dikenal sebagai Sejarawan Bekasi yang bernama Ali Anwar. Ia menceritakan bahwa tugu di Jalan Agus Salim, menggambarkan berbagai pertempuran hebat yang pernah terjadi pada masa Agresi II. Berbagai peristiwa penting, seperti di daerah Kali Abang Bungur, Gardu Cabang dan Medan Satria, Kranji dan di berbagai tempat serta peristiwa pembakaran oleh tentara Sekutu diperingati oleh para pejuang dengan membangun tugu ini. Seandainya tidak ada Moch Toha, pahlawan dari bandung Selatan, mungkin Bekasi akan lebih dikenal dengan julukan “Bekasi Lautan Api”. Peristiwa ini menggambarkan betapa hebatnya perjuangan rakyat Bekasi melawan para komprador asing yang ingin menguasai kembali Indonesia.

Bangga Menjadi Warga Patriot

Setelah berkeliling selama 2 hari (tentunya saat week end), saya baru memahami mengapa Bekasi memang layak dijuluki Kota Patriot. Pelajaran yang bisa saya petik dengan mengunjungi berbagai monumen dan gedung bersejarah adalah konsistensi perjuangan para pendahulu bangsa ini yang patut diteladani oleh generasi sekarang. Dengan belajar ke masa lalu, saya sedikit memahami makna patriot itu adalah semangat pengabdian dan pengorbanan terhadap tanah air lebih dari sekedar gigih. Para pejuang yang sekarang sudah terkubur tanah dan sering kita lupakan jasa-jasanya, telah mengajarkan bagaimana berjuang demi kebenaran, sekalipun nyawa menjadi taruhannya.

Pelajaran lain yang saya peroleh dari para pejuang Bekasi adalah sikap yang terbuka terhadap perbedaan, baik yang bersifat suku, agama maupun ras. Gambaran seperti itu setidaknya dioperoleh dari buku yang menceritakan Sejarah pejuangan KH Noer Alie yang jauh dari sikap chauvinism. Rakyat Bekasi menerima dengan tangan terbuka berbagai pihak yang datang dari luar. Bahkan nama-nama mereka seperti Hasibuan, dan Mayor Oking diabadikan menjadi nama jalan. Ini setidaknya membuktikan bahwa para pejuang  Bekasi tempo dulu tidak ada masalah dengan kebhinekaan.

Julukan Kota Patriot telah membuat saya bangga menjadi salah satu warganya. Walaupun kebanggaan itu belum direfleksikan dalam kegiatan yang bernilai penting bagi warga Bekasi sendiri. Setidaknya kalau saya pulang ke kampung halaman, saya akan katakan dengan bangga bahwa saya tinggal di Kota Bekasi, kotanya para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Kota Bekasi. Semoga di tahun-tahun mendatang, kota ini menjadi rumah demokrasi yang subur dengan ide peradaban dan terwujudnya masyarakat madani yang tidak lagi dikotak-kotakan dalam bingkai kepentingan kelompok, etnis, agama, bahkan kepentingan politik suatu kelompok. Bekasi adalah rumah bersama.

Bekasi, I Love You Full

Be-Blog Mulai Menembus Tapal Batas Udara

Aris-Heru-Utomo
Ketua Blogger Bekasi, Aris Heru Utomo diwawancarai oleh mas Harry Krisnanto dari Radio Pelita Kasih (RPK FM)

Kamis sore (27/11/09) ketika membuka inbox saya mendapatkan email dari Koordinator Program Radio Pelita Kasih FM (RPK FM), Jakarta  dengan subjek Talkshow di 96.30 RPK FM. Pengirimnya adalah Mas Harry Krisnanto atau akrab dipanggil Mas Kris, Koordinator program 96.30 RPK FM Education and Infotainment Station. Ia meminta kesediaan saya untuk berbincang-bincang pada Sabtu pukul 07.00 dalam acara “U & The City” seputar “Blogger Bekasi”. Karena akhir pekan ini tidak memiliki acara ke luar kota, meski ada tambahan libur Idul Adha, saya menyambut baik undangan tersebut.

Sabtu (28/11/09), sekitar pukul 06.20, ditemani istri, saya meluncur ke Radio Pelita Kasih FM (RPK FM) di Jl. Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur. Jalanan masih sepi, sehingga perjalanan dari Bekasi Barat ke Cawang dapat ditempuh kurang dari 30 menit. Setibanya di RPK FM, yang berada satu kompleks dengan Harian Suara Pembaruan, suasana juga masih terlihat sepi. Hanya terlihat beberapa petugas Satpam yang sedang bertugas.

Setelah mengisi buku tamu, oleh petugas satpam kami diminta untuk langsung ke lantai 2, Studio RPK FM. Mungkin karena masih suasana libur, suasana di Studio pun masih terlihat lengang. Namun demikian terlihat Mas Mistam, radio deejay RPK, sudah berada di studio untuk mengendalikan siaran. Tak lama kemudian muncullah Mas Kris. Setelah berbincang-bincang sejenak, acara “U & The City” yang dipandu langsung oleh Mas Kris pun dimulai. Topik hangat kali ini adalah seputar perkembangan blog dan ihwal pembentukan Komunitas Blogger Bekasi atau yang dikenal dengan sebutan be-Blog.

Mas Kris mengawali siarannya dengan mengungkapkan bahwa sejalan dengan semakin meningkatnya teknologi informasi, blog semakin banyak digunakan orang untuk menyampaikan informasi dan gagasan ke masyarakat. Salah satu bukti semakin berkembangnya minat masyarakat terhadap blog adalah dibentuknya Komunitas Blogger Bekasi baru-baru ini.

Menanggapi apa yang disampaikan Mas Kris dan pertanyaan terkait Visi dan program kegiatan be-Blog, saya sampaikan bahwa perkembangan blog di tanah air pada dewasa ini memang sangat menggembirakan. Semakin banyak pengguna internet yang memanfaatkan blog untuk menulis dan menuangkan gagasan. Guna merespon perkembangan tersebut, be-Blog lewat visinya bertekad untuk menjadikan budaya blog sebagai salah satu media alternative menyampaikan informasi dan gagasan melalui jurnalisme warga, khususnya dalam upaya berperan aktif memajukan Bekasi.

Untuk menterjemahkan visi tersebut, direncanakan beberapa program kegiatan seperti blogshop dan berbagai kopi darat dengan tema-tema yang merangsang partisipasi warga untuk lebih mencintai Bekasi. Sebagai langkah pertama setelah peluncuran komunitas pada tanggal 17 Oktober 2009, pada tanggal 14 November 2009 lalu telah diselenggarakan blogshop be-Blog-Kompasiana bertempat di STMIK Bani Saleh.

Menanggapi pertanyaan lewat sms dari seorang pendengar yang ingin mengikuti pelatihan-pelatihan berikutnya, saya sampaikan bahwa program blogshop akan dilaksanakan secara regular. Tunggu saja pengumumannya di http://bloggerbekasi.com.

Menanggapi pertanyaan lain dari pendengar mengenai pembentukan komunitas blogger di kota-kota lain dan apakah di Jakarta ada komunitas serupa, saya sampaikan bahwa be-Blog bukanlah yang pertama. Sebelumnya sudah banyak komunitas blogger yang dibentuk di berbagai kota seperti Makassar, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. Bahkan selain Bekasi, kota-kota lain yang berbatasan dengan Jakarta yaitu Depok, Bogor dan Tanggerang pun sudah memiliki komunitas blogger. Sedangkan mengenai komunitas blogger di Jakarta, saya informasikan bahwa setidaknya terdapat dua komunitas blogger berkedudukan di Jakarta yaitu Komunitas Bunderan Hotel Indonesia dan Kopdar Jakarta.

Kembali ke manfaat pembentukan Komunitas be-Blog sendiri, Mas Kris kemudian menanyakan tentang peran blogger dalam mengembangkan Bekasi. Menanggapi hal ini saya sampaikan bahwa sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Jakarta, Bekasi juga turut merasakan langsung imbas dari pembangunan di ibu kota. Selain perkembangan Bekasi sebagai daerah penyangga Jakarta, Bekasi pun dipadati warga pendatang, baik yang mencari nafkah di Bekasi maupun yang menjadi komuter karena bekerja di Jakarta. Pada gilirannya hal ini tentu saja menimbulkan berbagai problematika perkotaan, salah satunya adalah kaburnya identitas kota.

Disini blogger kemudian berperan penting untuk mengkomunikasikan berbagai perkembangan yang berlangsung di masyarakat. Blogger juga bisa menyampaikan berbagai informasi yang mungkin tidak diketahui masyarakat. Contoh gampangnya adalah apakah warga dan masyarakat Bekasi mengetahui apakah Bekasi yang menyebutkan diri sebagai sebagai kota Patriot memang benar-benar memiliki pahlawan yang berasal dari Bekasi. Selain itu apakah benar ikan lele merupakan maskot Bekasi ?

Dengan banyaknya hal-hal yang diperbincangkan seputar blog dan be-Blog, tidak terasa waktu 1 jam cepat berlalu. Mewakili teman-teman be-Blog saya sampaikan ucapan terima kasih kepada RPK FM dan pendengarnya atas kesempatan untuk berbincang-bincang dan berbagi pengalaman. Be-Blog merasa senang bisa menjadi komunitas blogger pertama yang diundang RPK FM dalam acara “U & The City”. Wawancara radio ini juga menjadi yang pertama bagi be-Blog yang dilakukan di luar wilayah Bekasi. Beberapa wawancara sebelumnya yang diikuti pengurus be-Blog dilakukan di Bekasi yaitu saat wawancara di radio Dakta dan Gaya.

Be-Blog juga mendukung keinginan Mas Kris mengundang komunitas blogger lainnya yang berada di sekitar Jakarta dalam acara serupa.  Be-Blog berharap keinginan tersebut dapat direspon dengan baik oleh teman-teman blogger di Depok, Bogor dan Tanggerang.

Sebelum acara berakhir, saya juga kemudian mengundang pendengar RPK FM untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan be-Blog seperti Lomba Penulisan dan Foto Blog “Aku Cinta Bekasi” yang saat ini sedang berlangsung hingga 5 Februari 2010. Tentunya dengan mengikuti persayaratan lomba yang telah ditetapkan.