Pemenang Lomba Pilkada Bekasi

Seperti yang pernah diumumkan di blog ini tentang Lomba Pilkada Bekasi 2012 , dan setelah melakukan penjurian serta diskusi yang sempat deadlock untuk mencapai kesepakatan siapa pemenang lomba ini.

Dengan ini diumumkan para pemenang Lomba Pilkada Bekasi 2012.

Penilaian Kompetisi:

  1. Konten harus dapat menjelaskan dengan mudah dan santun tentang jawaban yang diharapkan dari Pertanyaan Umum.
  2. Orisinalitas dan ketajaman analisis
  3. Kualitas dan kuantitas komentar pembaca pada setiap artikel akan menjadi nilai tambah.
  4. Setelah diputuskan sebagai pemenang, maka publik memiliki kesempatan 1 (satu) minggu untuk memberikan masukan /menyanggah jika ada indikasi artikel yang menang tersebut adalah hasil copy-paste! Jika nanti setelah dicek-silang ternyata artikel tersebut terbukti hasil plagiarisme, kemenangannya akan dibatalkan dan diganti oleh yang lain.

Berikut ini adalah para pemenang sesuai dengan penilaian dari Juri: @amriltg, @ajengkol, @indahjuli dan @eshape

  1. Nelfi Syafrina : http://nelfisyafrina.blogspot.com/2012/12/hilangnya-gairah-memilih-di-pilkada.html

  2. Sumiyati Yati: http://sumi1299.blogdetik.com/2012/12/18/pesta-demokrasi-pemilihan-kepala-daerah-kota-bekasi/

  3. Giyat Yunianto: http://www.giyatyunianto17.blogspot.com/2012/12/sepinya-pesta-di-kota-bekasi.html

 

Selamat kepada para pemenang!

Silakan mengirimkan data diri ke email: indahjuli@gmail.com cc ajengkol@gmail.com

Terima kasih, sampai jumpa lagi di lomba berikutnya.

Salam persahabatan

Perang Strategi Marketing di Pilkada Jabar

Pilgub Jabar (JB1) 2013
Pilgub Jabar (JB1) 2013

Hari Minggu tanggal 24 Februari 2013  merupakan saat yang telah ditentukan dimana rakyat Jawa Barat menentukan pemimpinnya selama lima tahun kedepan.

Prosesi pergantian pemimpin di Jawa Barat ini sangat menarik untuk dicermati setelah beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia disedot perhatiannya di ajang pilgub DKI Jakarta, bukan apa, karena provinsi inilah propinsi terbesar setelah provinsi DKI Jakarta dari sisi jumlah penduduk maupun aktivitas ekonominya.

Sudah banyak analisis dan prediksi atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perhelatan akbar ini dibahas dalam kesempatan berbeda diberbagai media, pada kali ini penulis akan mengupas sisi marketing dalam pilkada jabar dari perspektif kacamata orang awam.

Saya akan mengulas/membandingkan secara singkat strategi marketing yang digunakan oleh tiga kontestan yang menurut saya ketiganya berpeluang dan bersaing ketat meraih kursi Jawa Barat 1 (JB1). Mereka adalah kontestan nomor 3 (Dede Yusuf – Lex Laksamana); kontestan nomor 4 (Ahmad Heryawan – Dedi Mizwar) dan kontestan nomor 5 (Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki).

Ketiga kontestan ini memiliki persamaan dan perbedaan strategi marketing yang menarik untuk diulas, diantaranya adalah terlihat pada tiga faktor, pada faktor Figuritas; faktor Simbol dan faktor Slogan.

 

Faktor Figuritas;

Seperti kita ketahui bersama bahwa ketiga kontestan ini memunculkan kesamaan strategi marketing dari sisi figuritas, yaitu ketiganya sama-sama mengusung artis sebagai magnet yang menarik calon pemilihnya (vote getter).

Nilai lebih pada faktor figuritas ini dimiliki oleh kontestan nomor 3 dan nomor 5, dimana figur artis pada kedua kontestan ini memiliki pengalaman sebagai mantan wakil gubernur (Dede Yusuf) dan mantan anggota DPR (Rieke DP), sementara Dedi Mizwar walaupun memiliki karakter dan penokohan yang kuat, yang bersangkutan sangat minim pengalaman pada level pemerintahan maupun kelembagaan.

Namun terlepas dari kelemahan faktor figur artis, kontestan nomor 4 ini anehnya, justru lebih menonjolkan figur kedua kontestannya ketimbang partai pengusungnya, paling tidak itu yang terlihat pada banner dan spanduknya yang sebagian besar tidak menampakkan logo partai pengusungnya.

Perang Strategi Marketing di Pilkada Jabar.
Perang Strategi Marketing di Pilkada Jabar.

 

 

Faktor Simbol;

Seperti halnya pada perhelatan pilgub DKI Jakarta, pada pilgub Jawa Barat kali ini memunculkan strategis marketing berupa simbol-simbol yang unik.

Kontestan nomor 3 memunculkan simbol berbentuk oval berwarna biru muda dengan larikan warna biru gelap, hijau dan merah, dugaan penulis simbol mereka merepresentasikan keragaman warna partai pengusungnya. Namun sepertinya penulis mendapatkan adanya inkonsistensi dalam mensosialisasikan simbol ini kepada calon pemilih, karena simbol ini hanya dimunculkan pada awalnya saja.

Adalah kontestan nomor 4 yang menurut saya pertama kali di pilgub jabar ini yang  memunculkan simbolnya yang kreatif sekaligus unik berupa simbol kancing merah, kreatif dan unik karena menurut saya kontestan nomor 4 ini (mungkin) belajar dari kesuksesan Jokowi dengan simbol kotak-kotaknya, namun oleh mereka ide ini mereka kembangkan lebih kreatif lagi berupa kancing, dan penulis menduga keunikan tanda silang yang disamarkan menjadi empat atau lima larik benang yang mengikat kancing tersebut sebagai kode yang mengarahkan pemilih untuk mencoblos simbol kancing merah ini, kreatif dan cerdas bukan.

Nah… Simbol yang dunakan oleh kontestan nomor 5 sepertinya tidak asing lagi bagi kita, bagaimana kuatnya brand simbol ini dimunculkan dan dipopulerkan oleh Jokowi pada pilgub DKI. Ya… Simbol yang mereka gunakan sebagai strategi marketing menjaring pemilih adalah dengan simbol kotak-kotak, namun beberapa hal yang sepertinya dilupakan bahwa brand ini menjadi juara di pilgub DKI kemarin adalah semata-mata karena kepopuleran Jokowi sebagai icon pengusungnya dan lagi bukti bagaimana simbol ini tidak berhasil mengangkat salah satu kontestan pada pilgub provinsi Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Perang Strategi Marketing di Pilkada Jabar
Perang Strategi Marketing di Pilkada Jabar

 

 

Faktor Slogan;

Terdapat beberapa slogan yang dipergunakan oleh masing-masing kontestan, namun menurut pandangan penulis terdapat satu slogan yang mereka pergunakan sebagai slogan utama, walaupun terdapat beberapa inkonsistensi dari ketiganya  dalam penggunaan slogan dalam spanduk dan banner mereka.

Adapun penggunaan slogan dapat penulis paparkan sebagai berikut:

Slogan “Bekerja dengan Hati” merupakan kalimat slogan yang digunakan oleh kontestan nomor 3, untuk kontestan nomor 4 dengan slogan “Lebih Dekat dan Melayani” dan kontestan nomor 5 dengan slogan “Jabar Baru, Jabar Bersih”. Sepertinya nafas dan jiwa yang ingin dimunculkan dalam keseluruhan slogan ini dapat kita resapi dan ambil maknanya.

Namun sebagai catatan untuk kontestan nomor 5, sepertinya mereka tidak lepas dari bayang-bayang euforia kemenangan pada laga pilgub DKI yang lalu, dimana segala unsur strategi membrandingkan kontestannya mereka copas bulat-bulat, mulai dari simbol yang dipergunakan (kotak-kotak) maupun slogan yang dipergunakan (Jabar Baru vis a vis dengan Jakarta Barunya Jokowi Ahok).

Lantas pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah:
Siapakah kemudian yang akan menjadi juara dalam ajang perebutan kursi kepemimpinan Jawa Barat 1 (JB1) ini??

Dan jawabannya adalah bukan pada hasil survei atau prediksi, tapi kita akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut tidak akan lama lagi, paling tidak dalam 2 atau 3 hari kedepan.

Semoga Jawa Barat selama 5 tahun kedepan akan dipimpin oleh pemimpin yang amanah, pro kepada keadilan untuk rakyat…. Yah… Semoga…

 

Demikian Adanya
~TheEnd~
@ludwinardi | 313FE116
www.ludwinardi.com

Pilkada Kota Bekasi Out Of Topic (OOT): “Blogger Kondang VS Blogger Kondangan”

Dari judulnya saja tentu sudah bisa ditebak kemana arahnya tulisan ini. Mumpung mau Pemilihan Umum Kepada Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bekasi pada tanggal 16 Desember 2012 mendatang, rasanya tidak ada salahnya sebagai warga Kota Bekasi yang katanya peduli akan perkembangan wilayah-nya, ikut ambil bagian dan turut serta dalam hajatan demokrasi 5 (lima) tahunan kali ini. Tulisan ini adalah sebagai salah satu bentuk kepedulian saya sebagai warga Kota Bekasi terhadap masa depan Kota Bekasi selama 5 (lima) tahun kedepan yang akan ditentukan nasibnya dalam waktu 1 (satu) hari melalui Pilkada tersebut.

Buat saya yang sama sekali tidak memiliki latar belakang politik, agak sulit memang jika bicara detail tentang politik. Tapi demi kemajuan Kota Bekasi, tak apalah sekali-kali kita bicara dan membahas soal politik meskipun tidak tahu-menahu tentang politik. Walaupun judulnya menyebut Pilkada Kota Bekasi, namun tulisan ini sengaja saya turunkan dari sudut pandang yang sama sekali berbeda dan malah tidak ingin menyinggung terlalu dalam tentang konten dari Pilkada Kota Bekasi itu sendiri, apalagi membahas tentang peta politik Kota Bekasi serta meramal siapa yang bakalan menang dalam Pilkada kali ini. Lah, dari judulnya saja sudah “Out of Topik (OOT)”, maka sah-sah saja dong kalo saya ngomong ngalor-ngidul selain konten dari Pilkada Kota Bekasi itu sendiri? Paling tidak ada sedikit pembahasan tentang Pilkadanya, sisanya ya OOT!, he..he…

Continue reading Pilkada Kota Bekasi Out Of Topic (OOT): “Blogger Kondang VS Blogger Kondangan”

Blogger Kelola Pilkada Bekasi

Pilkada Bekasi 2012 –  Berawal dari iseng-iseng  tanya Bang Google, sang jawara pencarian di ranah maya, mengenai informasi Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Bekasi atau PILKADA BEKASI yang konon akan berlangsung tahun 2012 ini, saya menemukan satu situs dengan domain pilkadabekasidotcom di urutan pertama.

Awalnya saya mengira situs ini milik Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) guna menyosialisasikan pelaksanaan PILKADA BEKASI tahun 2012 ini. Tapi setelah melongok ke dalamnya, ternyata tidak ada jejak-jejak KPUD di situs tersebut. Yang ada justru jejak seorang blogger yang saya kenal yaitu blogger ganteng yang sangat peduli pemekaran dan nasib petani serta mereka yang kinyis-kinyis. Inisial blogger yang ada dalam berbagai tulisan dan akun twitter di situs tersebut adalah kim.

Namun bukan soal situs atau blog yang dimiliki blogger ganteng tersebut yang mengherankan saya. Wajar jika bloger punya blog sendiri. Yang saya sedikit heran (sedikit aja ga usah banyak-banyak), kenapa situsnya bisa nangkring di urutan pertama halaman pertama Google?  Karena setahu saya, blogger ini sangat gaptek dengan apa yang dinamakan teknik SEO.

Belum reda keheranan saya, teman saya yang berprofesi sebagai dukun SEO bilang “ya gak usah heran lah, kan dia blogger Bekasi. Bergaulnya sama blogger Bekasi. Di Bekasi kan banyak pakar-pakar SEO. Bahkan ada blogger Bekasi yang plat motornya saja pakai nomor SEO di belakangnya”.

“Dia kan bisa minta bantuan admin BeBlog atau pakar SEO di BeBlog untuk pilihkan alamat domain yang Google friendly, gampang dicari pakai mesinnya Google, salah satunya adalah “PILKADA BEKASI” , jelas teman saya yang juga temannya blogger pemilik pilkadabekasidotcom.

“o iya ya, saya kok bisa lupa kalau di Bekasi banyak pakar SEO ataupun pakar berjaket yang bisa dimintakan bantuan teknis ataupun sekedar saran dan nasihat”, ujar saya

“Tapi kira-kira siapa yang memilihkan tagline “mempolitikkan kedewasaan, mendewasakan politik?”, tanya teman saya yang dukun CEO tersebut.

“Saya gak paham maksud tagline tersebut”, ujarnya kemudian.

“Wah jangan tanya saya, tanya saja langsung kalau ketemu dia”, ujar saya

“Enggak ach, takut disenggol bacok kalau tanya langsung”, ngeles teman saya tersebut

“Hahahahaha kayak judul film aja, senggol bacok”, “Ya udah kalau takut, saya buatkan postingan saja dech, siapa tahu dia baca dan kasih penjelasan di kolom komentar”

“Kalau dia gak baca?”

“ya di BBM aja atau SMS, susah amat, kasih link tulisan dan suruh dia baca. Gitu aja repot”, sergah saya

“Tapi yang jelas, dia baca atau gak baca tulisan ini. Saya salut dengan upayanya membuat blog khusus soal PILKADA BEKASI. Semoga saja dengan adanya blog tersebut, akan semakin banyak masyarakat yang peduli dan berbondong-bondong ke bilik suara setelah berkunjung kesana. Kalau pada Pilkada 2007 partisipasi pemilih hanya 56 persen, barangkali saja pada PILKADA BEKASI tahun 2012 ini jumlahnya akan lebih meningkat lagi”, tambah saya kemudian sambil mencoba menutup pembicaraan.

“Ok dech, ngomong-ngomong, tulisan ini kok banyak kata PILKADA BEKASI yang diulang-ulang?, mau nembak SEO ya”, tanya teman saya yang dukun SEO tersebut.

“hahahaha tau aja …, udah ach sampai ketemu lagi ya”

Peluang Petahana di Pemilukada Bekasi

Oleh : Komarudin Ibnu Mikam
Hingar bingar Pemilukada Kab. Bekasi sudah mulai berisik. Memang, hampir satu tahun lagi. Tapi, jangan berpikir tidak ada gejolak. Semua pemain politik bergerak dengan kapasitas dan kemampuannya. Masing-masing nandur, mempersiapkan segala potensi.Mulai dari logistik hingga modal politik.
Hasil penelitian Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyimpulkan, di Indonesia peluang petahana (incumbent), baik kepala daerah maupun wakilnya, untuk memenangkan pemilu di daerah mencapai persentase tertinggi yaitu berkisar 60%. Data tersebut, menurut pendapat penulis, disebabkan oleh peluang petahana untuk memulai kampanye besar, setidaknya saat awal petahana menduduki jabatannya. Hasil itu juga ditambah dengan besar kemungkinan pelibatan para pegawai/birokrasi untuk mendukung mereka.

Bagaimana dengan petahana? Ibarat nyawah, tanduran petahana lah yang paling hebat. Bupati Sa’dudin kepada penulis pernah berkelakar, bahwa dia tidak akan mencalonkan menjadi Bupati lagi di periode mendatang. “Tapi hanya melanjutkan…..” diplomasinya.
Dan, jujur saya harus katakan bahwa petahanalah yang paling siap untuk bertarung dalam pemilukada 2012.
Tapi, Apakah menjamin Sa’dudin kembali jadi Bupati Periode 2012-2017? Jawabannya BELUM TENTU!
Belum tentu pertama, selama Bupati Sa’adudin menjabat kinerja kerjanya dipertanyakan banyak pihak. Bayangkan, setiap anggaran ada saja dana yang tidak terserap. Tahun 2008, ada Rp. 331 Milyar. Tahun 2009 dana yang tidak terpakai Rp. 440 milyar. Tahun 2010, dana yang tidak terserap sebanyak Rp. 490 milyar.

Bahkan, kemarin tanggal 8 januari 2011, Bupati diprotes warga desa Lenggasari, Kec. Cabang Bungin. yang tak kunjung memperhatikan desa Lenggahsari untuk membangun jalan. Ini cermin betapa kinerja pemerintahan pimpinan Sa’adudin dibawah rata-rata. Bila, 10 angka maksimal maka untuk pembangunan infrastruktur, Bupati hanya dapat poin 4,5 saja.

Saat ini publik berasumsi SKPD yang tidak bisa kerja. Padahal, dalam militer dikenal istilah tidak ada prajurit yang salah. Yang salah itu adalah jenderal. Artinya, SKPD bukan pihak yang perlu dipersalahkan. Yang salah itu yang pimpinannya : Bupati!
Dinas pendidikan juga menjadi catatan tersendiri. Tahun anggaran 2010 kemarin, tercatat ada Rp. 58 Milyar dana yang tidak terserap. Ini aneh. Masa duit sudah ada tidak bisa digunakan.

Belum tentu kedua adalah konflik yang terjadi antara Bupati dan wakil Bupati. Setelah terpilih, kentara sangat bahwa keduanya tak lagi harmonis. Kata semanis madu hanya dibir saja. Janji tinggal janji. Yang ada hanya gigit jari. Bukan rahasia lagi, kalau wakil Bupati kerap curhat di mana-mana. Ia komplain kalau dirinya tidak lagi dipercaya oleh Bupati.

Belum tentu ke tiga adalah kelanjutan dari poin satu dan dua. Karena kinerja tak maksimal dan konflik internal dengan B2, kepercayaan publik pun meruap. Punah tak tahu ke mana. Dalam konteks ini, mesin politik tidak mampu me-manage. Mesin birokrasi apalagi. Politik mutasi terlihat sembarangan. Ada yang baru dimutasi tiga bulan lalu, sekarang sudah dimutasi lagi. Ada yang kepala dinasnya pangkatnya jauh lebih rendah dari kabid. Terlihat sekali aroma kurang sedap.Ini Cuma akal-akalan untuk mencari modal tahun 2011.

Belum tentu ke empat adalah pengelolaan modal yang amburadul. Modal politik di internal partai kerap diwarnai dinamika. Walau pun di ruang publik, tidak terdengar.. Tapi banyak yang mulai antipati dengan incumben dari internal partai. Kelebihannya, kemampuan mereka mengendalikan konflik ini. Akhirnya, tidak sampai mencuat kemana-mana.

Belum tentu ke lima adalah sikap incumben yang terlalu percaya diri. Tidak mau menerima kritik. Tidak mau menerima masukan. Team sukses hanya dari partai dan tidak membuka ruang untuk masukan, kritikan atau saran. Pandangan-pandangan berbeda disikapi sinis. Hal ini diperparah oleh sekelompok orang dekat bupati nyang sikapnya ABUSE (Asal Bupati Senang). Sehingga, Bupati tidak mau belajar. Tidak mau berusaha mempelajari.
Getolnya Sa’dudin ngurusi Pasiban (paguyuban Bekasi Banten) menjadi blunder. Tolakan muncul dari mana-mana. Bupati dianggap memanfaatkan aset rakyat untuk kepentingan kelompok dan golongannya. Jadi, petahana saja tak menjadi jaminan. Sehingga, yang lainpun bisa mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Bekasi 2012.

Pun demikian, bila Bupati membaca coretan ini dan mau membuka diri, masih ada kesempatan. Satu tahun lagi. Kesempatan untuk membuktikan kepada rakyat bahwa Bupati Sa’adudin bisa bekerja. Tak perlu lah kampanye. Buka puasa sunnah bersama dan tahajud bersama adalah hal yang positif. Namun, lebih positif lagi kalau perbaiki kinerja. Selesaikan semua persoalan dengan sistematis dan taktis. Bupati perlu banyak turun langsung.
Rakyat sudah sangat cerdas. Rakyat tidak akan tertipu oleh serangan fajar atau serangan senja. Uang diambil, pilihan belum tentu. Tapi, bila kinerja meningkat. Hati rakyatpun terpikat. Bisa jadi, Bupati Sa’duin kembali menjadi Bupati Bekasi untuk periode ke dua.[kim]

Pondokgede yang Membingungkan

[show_avatar email=pamantyo@gmail.com align=left avatar_size=33]Dulu beberapa kawan saya menganggap Pondokgede itu di Jakarta Timur. Kok bisa? Setahu mereka TMII, TPI, dan Asrama Haji, itu  di Pondokgede — semuanya masih di wilayah DKI.

Awal saya bermukim di Pondokgede, 1993, seorang kurir kerepotan karena harus ke Bekasi dulu, hingga dekat Balai Kota, karena dia mendapatkan yang info yang “benar tapi kurang jelas”. Yaitu, Pondokgede (memang) di Bekasi.

Mau lebih membingungkan? Awal 90-an, Kantor Pos Pondokgede menyebarkan stiker kampanye bahwa kode pos yang benar adalah “Pondokgede 17414″. Artinya, Pondokgede adalah (calon) sebuah kota.

Perbatasan DKI dan Jawa Barat di Kali Sunter, Jatiwarna, Bekasi

Dua-tiga tahun lalu, kelurahan saya, Jatirahayu, dicabut dari Kecamatan Pondokgede, lalu dimasukkan ke kantong baru: Kecamatan Pondokmelati. Bagaimana cara penulisan kode pos yang benar, “Bekasi 17414″ ataukah tetap “Pondokgede 17414″, saya tidak tahu.

Kode pos di Indonesia itu belum (atau kurang) menjadi bagian dari sistem informasi geografis yang lengkap. Bandingkan dengan layanan internet di Amrik yang cukup memasukkan Zip code. Meskipun begitu toh nyatanya Pak Pos tidak bingung. Lebih penting lagi, kurir nonpos pun paham karena bagi mereka kode pos itu tidak penting.

Tentang Pondokgede yang Bekasi, akhirnya toh banyak yang kian paham. Maka pemgembang perumahan di Jatiasih awal 90-an pun mempromosikan proyeknya berada di Pondokgede — padahal bukan berada di Kecamatan Pondokgede. Yah, supaya terkesan dekat dengan Jakarta.

Dekatkah Pondokgede dengan DKI? Bergantung Pondokgede yang mana dulu. Kalau pasar dan mal/plaza ya dekat, karena tak jauh dari Kali Sunter pembatas wilayah dengan Lubangbuaya, DKI.

Tentang mal/plasa, ini dulu juga membingungkan. Nama resmi properti Puskopau TNI-AU (berkongsi dengan swasta) itu adalah Pondok Gede Asri. Nama ini sempat terpampang di gerbang kompleks niaga — tapi kurang dikenal. Kata “plaza” dan “mal(l)” lebih popular. Lho, kok bisa dua versi? Cari saja di Google: “mal(l)” dan “plaza” sama-sama eksis. :D

Lantas mana yang benar, “Pondokgede” atau “Pondok Gede”? Keduanya benar. :) Untuk penulisan sepihak, saya mengikuti pedoman penulisan nama geografis: Pondokgede. Misalnya untuk posting di blog dan penulisan alamat rumah. Untuk kepentingan menghormati nama, ya saya ikuti si empunya nama, misalnya Pondok Gede Asri tadi (“pondok” dan “gede” dipisah).

Bonus:
+ Djoko van Pondokgede
+ Antara Bekasi dan DKI
+ Pilkada di Pinggir Kali
+ Cerita Orang Perbatasan
+ Pribumi Bekasi dan Pendatang