Demo Cikarang “bisa” sia-sia

Demo baru-baru ini yang terjadi di daerah Cikarang tepatnya di sekitar jababeka sempat membuat perekonomian lumpuh total, semua urusan pekerjaan jadi terbengkalai dan sudah bisa terbayang berapa milyar total kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan di sekitar jababeka akibat adanya demo ini

Permasalahan yang saya tahu adalah mengenai ketidak puasan para buruh terhadap nilai UMK yang jumlah pastinya saya kurang tahu tetapi yang pasti nilainya dibawah 2 juta/bulan

Gaji 2 juta/bulan bukan angka yang besar untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari karena saking beragamnya kebutuhan hidup dan juga ditambah pola hidup konsumtif yang sudah mendarah daging

Contoh pengeluaran bulanan kurang lebih seperti ini, cicilan motor 500 ribu, kontrakan rumah 500 ribu dan tersisa 1 juta yang biasanya dibagi untuk 4 orang (suami istri dan 2 anak)

1 juta/30 hari jadinya sekitar 33rb/hari uang yang “tersisa”

Uang 33rb masih harus dikurangi untuk biaya makan, jajan anak, sekolah, bensin, listrik, rekreasi. Lalu apakah cukup dengan uang segitu..??

Itu jika nilai UMK adalah 2juta, bagaimana kalau nilai UMK dibawahnya seperti 1.5juta/bulan, darimana harus menambah kekurangannya..??

Berdasar perhitungan diatas maka jika demo-nya hanya menuntut UMK dibawah 2juta maka lebih baik dibatalkan saja dan digunakan cara lain yang lebih efektif karena biasanya setiap ada kerumunan seperti demo massal maka selalu saja ada pihak ketiga yang akan memanfaatkannya dan bisa merugikan para buruh sendiri yang murni benar-benar memperjuangkan aspirasinya

Lalu apakah cara lain itu..?? Mau tidak mau, suka tidak suka para buruh itu harus Menekan Pengeluaran dan Memperbesar Penghasilan dengan cara BERJUALAN……tidak ada cara lain yang lebih efektif dan cepat dalam menghasilkan uang

Sebagai contoh, membuka warung kecil yang berjualan rokok, kopi, teh, mie rebus dll yang menyewa tempat di emperan ruko, pendapatan sehari minimal 100rb jadi jika sebulan maka bisa didapat lebih dari 3juta dengan jam kerja yang bisa diatur sendiri

Lalu ada pertanyaan, 3 juta itukan pendapatan kotor belum dipotong modal jadinya pasti akan lebih kecil dapatnya

Betul akan lebih kecil tetapi itu hanya tahap awal, paling juga tidak sampai 6 bulan dan setelah itu pendapatan akan bisa berlipat-lipat asalkan serius dan benar menjalaninya

Bandingkan dengan pendapatan UMK yang dibawah 2juta, lebih menarik yang mana..??

Lalu kalau sudah tahu perhitungan seperti diatas, apakah masih mau ber-demo lagi demi kenaikan UMK yang masih tetap saja tidak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari..??

Bagi para pemilik pabrik atau investor melihat kondisi demo yang terus menerus seperti ini maka bisa dipastikan suatu saat mereka pasti akan “cabut” dari Jababeka dan mencari tempat yang lebih kondusif untuk ber-bisnis

Masih bagus kalau pindahnya masih di Indonesia, bagaimana jadinya kalau mereka semua berbondong-bondong memindahkan pabriknya ke negara lain yang lebih aman, siapa yang harus bertanggung jawab dengan pengangguran yang meningkat..??

Atau bisa juga dengan pemikiran optimis bahwa investor luar tidak akan “cabut” karena ekonomi Indonesia saat ini sedang bagus-bagusnya tetapi tetap menjadi masalah kalau para investor beramai-ramai mengalihkan bisnisnya menjadi distributor suatu produk dengan pabrik dari luar dan akibatnya tetap masih banyak pengangguran walaupun bisa terserap sedikit

Hati boleh panas tetapi kepala harus dingin, berpikir jauh ke depan akan lebih baik dibandingkan memikirkan kepuasan sesaat

Salam sukses dunia akherat,

http://prakom.com

http://rawiwahyudiono.com
http://twitter.com/rawiPrakom
http://facebook.com/rawi.wahyudiono

Saatnya turun kelas

Hari ini adalah hari ke 2 memulai pelajaran di SMK Entrepreneur Karya Mandiri Bekasi dan seperti yang sudah saya sampaikan ke semua murid bahwa dalam minggu ini akan ada evaluasi dan seleksi murid kelas XI.

Seleksinya berdasarkan kepada usaha yang sudah dijalankan dan bagi mereka yang belum sama sekali berjualan atau belum sama sekali terpikir produknya untuk berjualan maka konsekwensinya mereka harus “turun kelas” ikut materi mentor bisnis kelompok di kelas X

Syarat untuk ikut mentoring di kelas X adalah mereka harus “menjual diri” kepada semua kelompok yang ada agar mereka bisa diterima di kelompoknya

Sudah ada beberapa siswa yang turun kelas dan sudah ada siswa yang langsung “berubah pikiran” setelah harus turun kelas

Untuk mencetak entrepreneur memang tidak mudah apalagi untuk kalangan siswa SMK/SMA karena mereka semua masih senang bermain dan belum terlalu memikirkan kebutuhan hidup

Jika mereka kurang uang maka jalan satu-satunya adalah meminta kepada orang tua

Hal ini hampir berlaku ke semua murid SMA/SMK walaupun tidak bisa digeneralisir

Idealnya Entrepeneur itu adalah sebuah cita-cita bukan karena akibat dari kepepet atau karena tidak diterima kerja atau karena PHK atau karena hal lainnya

Seorang Entrepeneur bisa dilahirkan dengan cara kombinasi teori dan praktek

Semoga semua siswa Indonesia sadar akan pentingnya mental Entrepreneur biar mereka tidak harus tergantung kepada orang lain setelah lulus sekolah

Terima kasih,

Rawi Wahyudiono

Sertifikat, ilmu atau jalan-jalan yang dicari para guru..??

Kebahagiaan teman-teman Blogger Bekasi dan IGI di ITCC Purwakarta

Tgl 26-27 Desember 2012 bertempat di ITCC Purwakarta berlangsung pelatihan membuat Blog untuk 100an guru dari komunitas IGI (Ikatan Guru Indonesia) yang bekerjasama dengan Blogger Bekasi, Komunitas Blogger yang memenangkan award sebagai komunitas terbaik pada Pesta Blogger 2010

Pada acara yang bertajuk Training Of Trainer (TOT), semua guru sangat antusias mengikuti pemaparan dari para ahli di bidangnya. Materi mulai dari motivasi menulis, Social media, memilih dan membeli domain/hosting berbayar, cara pemakaian WordPress agar enak dilihat pada blog dll semuanya disampaikan menjadi satu yang di selingi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat rekreasi seperti melihat Stasiun Bumi Indosat dll

Pelatihan ini juga membagikan sertifikat bagi para guru yang mengikuti acara ini dan sertifikat ini konon menjadi sebuah “jimat” yang mahal harganya karena bisa menaikkan gengsi guru di mata pengambil keputusan

Dengan bermodal sertifikat maka beberapa nominal rupiah akan bisa bertambah karena dengan sertifikat ini akan bisa menunjukkan “keprofesionalitas” dari si guru tersebut

Yang menjadi pertanyaan saya adalah…. apakah benar sertifikat ini bisa menjadikan guru tersebut profesional.? apakah bisa dengan pelatihan selama 1-2 hari bisa menjadikan guru itu mahir dan layak menyandang gelar profesional sehingga harus diganjar dengan nilai rupiah tertentu seiring dengan banyaknya sertifikat yang didapat..??

Semoga pelatihan NgeBlog di Purwakarta tidak dijadikan sebagai ajang mencari sertifikat semata tetapi benarbenar dijadikan sebagai media untuk menambah ilmu agar guru benar-benar menjadi sosok yang PROFESIONAL, amin

Salam sukses dunia akherat,

 

Belajar dari ibu

30 puluh tahun yang lalu saya bisa merasakan pedasnya cabe karena ibu yang memaksa saya makan cabe karena saya mengucap kata-kata persahabatan khas surabaya “JANCOK” untuk memanggil seorang kawan dan sehabis itu saya tahu bahwa kata-kata itu tidak boleh di ucapkan sembarangan

30 puluh tahun yang lalu tangan saya pernah dipukul karena “mengambil” uang untuk sewa komik di toko buku langganan dan sehabis itu saya tahu bahwa itu yang dinamakan mencuri

30 puluh tahun yang lalu saya sering diajak ibu jalan berdua ke pasar keputran hanya untuk membeli nasi rawon, soto, es teh dan seperti biasa saya selalu minta tambah nasi tanpa perduli kalau ibu memang juga menahan lapar dan haus setelah sama-sama menahan teriknya kota surabaya dan setelah itu saya tahu bahwa itu yang dinamakan berbagi

Kenakalan dan kenekatan berlanjut terus sampai masuk bangku kuliah

Sering sekali saya harus berbohong kepada ibu hanya demi keinginan mendaki gunung yang saya tahu jika saya bilang pasti tidak diijinkan, terlalu banyak kebohongan yang terucap hanya demi memuaskan nafsu belaka

Sering sekali ibu mengadakan selametan kecil dengan menu bubur merah putih hanya demi keselamatan saya selama pendakian berhari-hari di hutan yang kesemuanya itu tidak bermakna apapun bagi saya

Tidak pulang ke rumah dengan alasan belajar bersama di kampus bisa menjadi senjata utama walaupun di kampus saya hanya memuaskan hasrat bermain bersama teman-teman sampai pagi

Tahun 96 saat saya harus meninggalkan kota Surabaya untuk merantau ke Jakarta, ibu mengantar saya ke stasiun pasar turi

Saya tahu ibu menahan keharuan untuk berpisah sedangkan saya tidak merasakan apapun juga, semua terasa biasa saja tanpa makna apapun

Waktu berlalu begitu cepat dan hubungan dengan ibu berlangsung biasa seperti layaknya orang kebanyakan

Dan beberapa tahun ini saya baru menyadari bahwa kesukaan saya akan seni musik ternyata berasal dari ibu yang sering pentas menyanyikan lagu keroncong

Dari ibu pula saya bisa belajar menghabiskan uang untuk belanja yang sangat bertolak belakang dengan ayah yang seorang akuntan

Dari ibu pula saya banyak belajar melayani pembeli dengan baik walaupun saat itu dagangan gado-gado ibu yang rasanya enak habis laris terbeli tanpa tahu keuntungan berapa yang masuk ke dalam kantong

Tetapi sekarang ibu harus tergolek lemas diatas tempat tidur karena sakit stroke yang di derita selama bertahun-tahun

Sudah berbagai macam cara pengobatan dilakukan dan hasilnya masih tetap sama saja

Saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah memenuhi segala permintaan ibu walaupun ibu tidak pernah meminta

Saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah melakukan amalan-amalan yang terbaik dengan harapan semoga ibu bisa bahagia yang saya sendiri juga tidak tahu apakah hal ini bisa membahagiakan ibu

Hanya satu keinginan ibu yang belum bisa saya penuhi yaitu pergi ke tanah suci

Semoga keinginan ibu yang satu ini bisa segera saya wujudkan walaupun kondisi ibu saat ini tidak memungkinkan, amin….

Bermimpi menjadi seperti Dahlan Iskan

Tulisan Dahlan Iskan (DI) yang berserakan di internet sering membuat saya lupa waktu untuk membacanya sekaligus belajar banyak hal dari tulisan beliau

Tulisan ringan apa adanya khas Jawa Pos jadi mempermudah saya memahami segala persoalan di PLN dan BUMN yang sekarang beliau pimpin

Cerita soal PLN, saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu sewaktu saya ikut tender di PLN, perubahan harga (mark up) untuk mengakomodir semua pihak akhirnya berujung menjadi harga sangat tinggi sekali. Harga printer yang puluhan juta per unitnya bisa menjadi ratusan juta per unit bahkan seringkali spesifikasi di rubah menjadi barang second yang berimbas kepada margin yang berlipat ganda

Dan alhamdulillah di proyek PLN itu saya selalu kalah harga melawan principal dan juga kalah melawan per-koncoan yang kuat sekali didalamnya

Saat ini saya melihat kultur PLN sudah sangat berubah, dari yang dulunya sangat bobrok penuh “tikus” sekarang berubah menjadi perusahaan profesional dengan motto Bekerja Bekerja Bekerja…..

Cara-cara DI turun langsung ke lapangan hanya untuk mendapatkan “ruh” dari akar permasalahan ternyata menjadi sebuah cara ampuh untuk menghilangkan simpul benang ruwet di PLN dan di BUMN yang saat ini beliau pimpin

Fokus kepada hasil dan mencintai pekerjaan tanpa “perduli” intervensi orang lain adalah salah satu ciri khas dari DI

Melihat cara kerja DI yang fokus penuh totalitas membuat saya heran dengan cara kerja kawan saya yang bermimpi ingin memperbesar bisnisnya dengan melakukan banyak perencanaan tetapi dianya sendiri masih fokus kepada pekerjannya sebagai karyawan di perusahaan orang dan “bisnis”-nya dikerjakan sepulang kerja atau hari sabtu-minggu dengan catatan masih tersisa sedikit “nafas” untuk menjalankannya

Semangatnya boleh sama tetapi cara yang ditempuh sangat jauh berbeda

Mencontek jejak-jejak orang sukses sangat diperlukan tetapi hasilnya tidak akan bisa maksimal jika dari cara pelaksanaannya saja sudah berbeda

Salam sukses dunia akherat,

Sedekah, takwa dan disiplin jadi kunci sukses

Ada seorang teman yang rajin memberikan semua profit penjualannya setiap hari Jumat sebagai sedekah dan dia juga sangat cermat dalam mengelola cashflow usahanya

Saya mengikuti perjalanan bisnisnya sejak mulai dari kecil lalu tertipu dan sekarang sudah mulai membesar

Dia cerita bahwa semenjak dia sering ber-sedekah 100% semua profitnya setiap hari jumat maka dia mengalami perubahan bisnis yang sangat signifikan

Dulu dia sering pusing dengan hutang supplier yang sudah jatuh tempo tetapi sekarang dia cerita bahwa beberapa hutangnya sudah mulai bisa terbayar dan hutang yang lainnya juga sudah bisa terbayang darimana asal uangnya

Supplier yang sering “galak” kalau sudah jatuh tempo ternyata bisa jadi “lembut” biarpun sudah tanggalnya jatuh tempo

Pembayaran dari customer yang biasanya ada jangka waktu 1-2 minggu ternyata ada juga yang bisa bayar di depan walaupun mereka itu sebuah corporate besar

Ternyata menurut dia semua itu adalah buah dari hasil dia sedekah rutin setiap hari jumat dan ditambah beberapa amalan seperti sholat dhuha, baca Al-quran, sholat tepat waktu, dll yang sesuai dengan perintah agamanya

Tetapi menurut saya bukan semata-mata dari hasil menjalankan perintah agama yang membuat bisnisnya melejit tetapi karena si kawan ini juga cermat, teliti dan disiplin menjaga cashflow sambil seminimal mungkin mengurangi hutang uang dari pihak ketiga kecuali hutang barang ke supplier

Kawan saya tersebut juga meyakini pernyataan saya bahwa perpaduan sedekah + takwa + disiplin ternyata bisa membuat bisnis jadi lancar, merubah yang tidak mungkin menjadi mungkin

So…., kalau sudah ada contoh hidup yang nyata, masihkah kita tidak mau menjalankannya…??

Salam sukses dunia akherat,

 

Mengurangi hutang dan membuat simpel bisnis

US dollar

Salah satu cara agar cashflow lancar adalah memperkecil hutang dari pihak ketiga

Hutang yang saya maksud disini adalah hutang yang tidak bisa kita bayar dan juga hutang yang tidak produktif

Bekerjasama dengan investor yang benar bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif asalkan bisa memahami bahwa investor juga harus menanggung kerugian jika bisnis salah hitung.

Investor bukan menjadi debt collector yang menagih tanpa perlu tahu kondisi usaha

Mendapatkan pinjaman untuk bisnis yang terbaik salah satunya adalah meminjam kepada diri sendiri sebagai sang pemilik usaha atau owner

Cara diatas bisa dilakukan dengan catatan pencatatannya harus bagus dan rapi karena setiap pengeluaran dan pemasukan harus benar-benar terlihat biar tidak ada tumpang tindih di laporan keuangan

Selain itu, cara pembayaran dan besarnya uang juga bisa diatur fleksibel tergantung dari misi-nya si owner untuk memperbesar bisnisnya

Membuang hutang yang tidak perlu dan membuat simple sistim bisnis adalah salah satu cara agar cashflow bisa lancar

Salam sukses dunia akherat,
http://prakom.com
http://twitter.com/rawiPrakom
http://facebook.com/rawi.wahyudiono

Bisnis itu cash atau profit oriented..??

Uang yang bebas inflasi

Istilah Profit is the king sungguh berbahaya jika kita “menelannya mentah-mentah” karena profit itu hanya mencerminkan kondisi penjualan kita di laporan keuangan

Ada yang lebih penting lagi dari profit yaitu CASH, uang cash di “tangan”

Bisnis tidak akan bisa jalan tanpa uang cash, gaji karyawan dibayar dengan uang cash bukan dengan profit, keluarga di rumah tidak butuh profit tetapi butuh duit cash, supplier kita butuh dibayar cash bukan dengan profit

Profit hanya muncul di neraca, hanya di hitung-hitungan akuntansi sedangkan uang cash adalah uang riil yang bisa kita “mainkan”

Salah satu hal yang mempengaruhi besar kecilnya profit adalah besarnya tagihan/piutang kita ke customer. Semakin besar piutang maka otomatis profit akan bergerak naik tetapi piutang bisa menjadi masalah besar bila kita tidak bisa menagih

Didalam berdagang, menjual yang bener itu sulit tetapi menagih itu lebih sulit lagi…….

Kesalahan fatal yang sering dilakukan para pengusaha dalam pengaturan sistim akuntansi adalah tidak di catatnya semua transaksi atau masih bercampurnya antara keuangan pribadi dengan keuangan kantor

Tidak seharusnya kita bangga dengan omzet atau profit besar karena semua itu hanyalah catatan diatas kertas saja

Segera rubah mindset profit adalah segala-galanya, menjual dengan berusaha mendapatkan uang cash sebanyak-banyaknya adalah sebuah cara cerdas mengelola bisnis

Penjualan+profit+cash adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan

*terinspirasi dari workshop Financial Literacy dan pengalaman pribadi*

Salam sukses dunia akherat,

http://prakom.com

http://twitter.com/rawiPrakom

http://facebook.com/rawi.wahyudiono

Motivator VS tukang bohong

Beberapa hari yang lalu di Metro TV di acara Just Alvin dimunculkan 4 motivator terkenal yaitu Andrie Wongso, Hermawan Kartajaya, Tung Desem Waringin dan Gede Prama

Masing-masing menyampaikan kisah perjalanan hidupnya sampai di posisi saat ini dan cerita-cerita ringan selama perjalanan “memotivasi” banyak orang sampai ke seluruh pelosok negeri

Kenapa “memotivasi” harus diberi tanda ” “…?? Karena rata-rata dari beliau semua pada awalnya tidak menyadari bahwa sebetulnya apa yang disampaikan dan dilakukan itu bisa memotivasi dan membuat seseorang berubah

Bahkan Hermawan Kartajaya sendiri mengatakan bahwa dia tidak memotivasi tetapi dia hanya membagikan apa yang dia tahu dan juga karena posisi beliau sebagai konsultan maka yang terbaiklah yang harus disampaikan kepada client

Beliau berempat sepakat bahwa yang disampaikannya tidak semuanya bisa berhasil bagi semua orang dengan berbagai macam alasan dan beliau berempat sepakat bahwa pengalamanlah yang mengajarkan mereka sampai menemukan kata-kata yang tepat untuk “memotivasi” seseorang

Jadi kuncinya adalah kita harus mengalami sendiri dan terlebih dahulu harus sudah menjadi “sesuatu” seperti apa yang disampaikan kepada pendengar

Akan terasa aneh jika seorang motivator bisnis tetapi ternyata dia tidak pernah berbisnis dan kalaupun pernah itupun juga dalam hitungan bulan

Akan terasa aneh jika seseorang mengajarkan manajemen, cashflow, SDM dll yang berhubungan dengan merapikan perusahaan tetapi usahanya sendiri tidak berkembang atau tidak mempunyai karyawan yang banyak

Apakah seorang motivator bisnis harus mereka yang sukses di bisnisnya..?? Tidak juga karena bisa saja pada saat kita ketemu, bisnis si motivator tersebut sedang kurang bagus tetapi justru itu menariknya karena kita bisa tahu letak titik-titik yang perlu di waspadai sebelum kita benar-benar bangkrut

Lalu apakah mereka yang tidak “memenuhi syarat” sebagai motivator tidak kita dengar suaranya..?? Tidak juga karena dengan mendengar apa yang disampaikan secara teori (karena kurang praktek) maka kita bisa membuat perbandingan dengan bisnis kita

Sekarang kita kembalikan ke diri kita sendiri, apakah pantas kita disebut motivator…??

Sudah berapa banyak pengalaman yang kita alami sebagai bahan materi me-motivasi seseorang…??

Sebagai motivator, beranikah kita mempertanggung jawabkan di akhirat kelak apa yang kita sampaikan kepada pendengar..??

Semoga kata-kata bijak “sampaikan walaupun hanya satu ayat…” tidak dijadikan alasan pembenar untuk memotivasi seseorang, amin

Salam sukses dunia akherat,

http://prakom.com

http://twitter.com/rawiPrakom

http://facebook.com/rawi.wahyudiono

Kena siklus 3 tahunan

stress

Beberapa hari yang lalu ada kawan curhat soal usahanya yang dulu sempat merajai di skala nasional tetapi sekarang berbalik 180 derajat, usahanya sekarang sudah kembang kempis malah cenderung bangkrut

Semua aset harus dijual demi membayar kewajiban kepada supplier, PHK sebagian besar karyawan dilakukan, pemotongan gaji untuk level manager keatas dan sebagainya demi untuk memperpanjang nafas sementara

Dari panjang lebar ceritanya, akhirnya terjawab sudah permasalahan utamanya yaitu kurangnya kontrol terhadap sistim akuntansi/keuangan

Mereka menganggap bahwa dengan sudah menggunakan program akuntansi dan sudah menggaji orang untuk mengurusi maka berarti mereka sudah rapi keuangannya

Mereka lupa bahwa antara laporan keuangan di kertas dan cash flow itu sangatlah berbeda tetapi dua-duanya sama-sama penting dan sama-sama harus dikuasai ilmunya

Membaca laporan keuangan cukup dibagian bawahnya saja, dijaga di bagian total paling bawah jangan sampai warna merah atau dalam kurung atau minus. Jika tanda atau warna tersebut muncul maka harus segera dilakukan langkah perbaikan usaha

Sedangkan cashflow adalah uang riil yang ada di tangan atau tabungan dan buat mereka itu cashflow haruslah benar-benar uang yang ada di tangan bukannya dalam bentuk giro, cek atau piutang yang membutuhkan waktu untuk pengambilannya

Selain itu, konflik kepentingan antara partner lebih besar nuansanya daripada mencari keutuhan dan kelanggengan usaha

Setelah lama bercerita akhirnya diambillah kesimpulan bahwa usaha ini harus segera di tutup untuk menghindari kerugian yang semakin besar

Kalau pakai hitungan akal maka akan sayang menutup usaha ini karena prospek masih ada dan order juga masih berjalan, hanya butuh sedikit keseriusan dari masing-masing founder

Tetapi jika diteruskan maka suasana tidak nyaman akan semakin terasa dan akibatnya bisa berujung kepada kejatuhan usaha karena langkah ini hanyalah sekedar memperpanjang waktu dan memboroskan duit

Dibalik itu semua ternyata ada yang lebih menarik lagi yaitu usaha kawan saya ini kena siklus 3 tahunan usaha

Biasanya kalau perusahaan itu bisa melewati 3 tahun maka perusahaan itu akan aman sampai goncangan lagi pada tahun ke-5 yang dilanjut lagi pada tahun ke-10

Saya dan kawan-kawan pernah mengalami siklus seperti itu, entah benar atau tidak tetapi yang pasti saya pernah melewatinya

Semoga kita semua selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa, amin

Salam sukses dunia akherat
Rawi wahyudiono

http://www.prakom.com
http://rawiwahyudiono.com
http://www.facebook.com/rawi.wahyudiono
http://www.twitter.com/rawiPrakom

Power by PRAKOM.COM