Sudah Bingung Ya?

Sudah Bingung Ya?
Oleh: nusa putra

Tampaknya ini bukan kebetulan. Masih ingat, dulu menjelang pemilu, pemerintah SBY menurunkan harga bbm,dan keputusan itu dijadikan komoditi kampanye pemilu? Mau diulangi lagi sekarang? Anas Urbaningrum, mantan ketua umum partai demokrat, yang terjeratsangkut kasus korupsi Hambalang bersama banyak kader partai demokrat lainnya, menyebut kenaikan gas elpiji sebagai opera sabun. Pernyataan Anas tidak bisa diremehkan. Sebab, dia pernah jadi ketua umum partai demokrat dan pernah dekat dengan SBY. Artinya, Anas pernah ikut menyusun strategi pemenangan pemilu partai demokrat.

Rasanya kebanyakan rakyat Indonesia sudah sangat cerdas dan tak bisa dikibuli dengan strategi konyol itu. Atau dengan cara lain bisa ditegaskan, hanya orang pendek akal yang masih bisa terpengaruh dengan strategi pura-pura berfihak pada rakyat seperti yang dipertontonkan sepanjang hari minggu di awal Januari ini. Tragisnya, mengapa hajat hidup orang banyak dijadikan komoditi politik untuk tujuan jangka pendek, sekadar untuk menaikkan citra yang lagi terpuruk. Apa mungkin orang-orang di Pertamina begitu beraninya mengambil keputusan yang tidak memperhitungkan kondisi nyata masyarakat yang daya belinya rendah? Apa pemerintah begitu lemah, sehingga sebuah korporasi yang ada dalam kuasanya bisa seenaknya?

Menariknya adalah, para menteri saling tuding di televisi, disusul dengan sikap partai para menteri yang ramai-ramai tidak setuju harga elpiji naik. Apa presiden memang sudah tidak punya kendali terhadap menteri, atau tatakelola pemerintahan memang semrawut karena kepentingan partai dan pribadi menteri yang pengen ikutan pemilihan presiden lebih menonjol? Bukan kali ini saja para menteri saling tuding.

Pada kala KPK membongkar kejahatan terkait impor sapi yang melibatkan presiden PKS, para menteri dan partai politiknya saling tuding di televisi. Sibuk cuci tangan, padahal yang belepotan wajahnya, bukan tangannya. Begitupun saat ada pekan kondom. Para menteri malah saling kecam. Tampak betul kepentingan partai lebih didahulukan daripada kepentingan rakyat banyak. Sedangkan kepentingan rakyat banyak cuma jadi komoditi politik untuk pencitraan, bukan diurusi dengan sistematis, terstruktur dan terukur. Sungguh panggung dagelan yang tidak lucu. Tidak mengejutkan bila hasil survey menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap partai politik di bawah sepuluh persen.

Bila benar presiden baru tahu setelah harga naik, kita harus menilai ulang secara fundamental sistem tatakelola negara ini. Para pengelola pemerintah, juga pengelola perusahaan yang merupakan milik pemerintah harus dengan keras diingatkan. Negara ini memiliki UUD yang secara jelas menegaskan tentang kewajiban negara dan pemerintah terkait hajat hidup orang banyak. Bisa jadi, ada potensi pelanggaran UUD dalam peristiwa ini yang sangat aneh ini.

Sungguh kejadian ini sangat mengerikan. Hajat hidup orang banyak sepenuhnya dikelola dengan tatacara kapitalis yang hanya berorientasi keuntungan.

Dan yang lebih memprihatinkan, sejauh ini pemerintahan Semakin Butek Yo…gagal memanfaatkan kesempatan berkuasa selama dua periode untuk membangun suatu sistem energi nasional yang berkualitas dan berkeadilan. Sehingga sedikit saja ada gejolak harga di tingkat internasional, negara bangsa ini selalu berada dalam posisi seperti telur di ujung pistol. Akibatnya berbagai kebijakan yang telah diupayakan dengan susah payah untuk memperbaiki kesejateraan rakyat, bisa berantakan jika terjadi fluktuasi harga energi. Itu antara lain terbukti dari meningkatnya angka kemiskinan mendekati 500 ribu jiwa pada masa akhir pemerintahan ini.

Mestinya kejadian ini, dan tertangkap tangannya pengelola SKK Migas oleh KPK bisa menjadi jalan masuk bagi KPK untuk membongkar semua misteri pengelolaan energi di negeri ini. Rasanya bukan rahasia lagi, besarnya uang yang dihasilkan dalam bisnis energi selalu terkait sangat erat dengan kuasa dan pembiayaannya.

Pengelolaan dana energi harus sangat transparan, karena menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Karena,

TANPA TRANSPARANSI DAN TATAKELOLA YANG PASTI SERTA TERUKUR, NEGERI INI AKAN JADI ATM PENGUASA TAK BERBUDI.

Surat Penting Untuk Presiden SBY

sbyYth. Bapak Presiden SBY.

Semoga bapak presiden selalu dalam keadaan sehat. Semoga pula pintu kesuksesan senantiasa mengiringi hari-hari bapak dalam mengurusi rakyat indonesia. Bapak senantiasa diberi kesabaran dan kebijaksanaan dalam menghadapinya.

Bapak presiden sby yang saya hormati, dan banggakan. Perkenalkan saya adalah seorang guru yang sudah mengabdikan diri selama 23 tahun di dalam dunia pendidikan. Terus terang saya sungguh bergembira dengan akan diberlakukannya kurikulum baru. Kurikulum ini diberinama oleh kemdikbud kurikulum 2013. Kurikulum yang saya harapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Namun sayang, setelah beberapa kali saya mengikuti proses sosialisasi kurikulum 2013, saya menemukan kekecewaan. Kurikulum 2013 ini ternyata belum siap pakai untuk digunakan atau diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia. Masih banyak hal yang harus diperbaiki dan disempurnakan. Terutama tentang kompetensi inti dan kompetensi dasar yang banyak dikritisi oleh para pakar dan praktisi pendidikan.

Kami sudah banyak memberikan masukan dan kritik yang membangun kepada tim pengembang kurikulum. Tetapi selalu saja mentok dan tak didengar. Mereka terlalu percaya bahwa kurikulum 2013 sangat tepat diterapkan di tahun ini. Mereka seolah tuli, dan merasa benar sendiri. Kami dianggap tidak memahami kurikulum yang sedang disosialisasikan.

Berdasarkan pengalaman saya menjadi guru selama 23 tahun, kurikulum 2013 ini yang banyak mengundang kontroversi. Bahkan staf khusus menteri di DPR ada yang mengatakan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan atau ktsp 2006 melanggar undang-undang. Tentu tidaklah bijak mengatakan seperti itu tanpa kajian ilmiah dan terbuka. Kita akui Ktsp 2006 memang bermasalah. Namun kami ingin tahu dulu dimana letak masalah besarnya dari proses evaluasi yang cermat dan teliti. Pusat kurikulum dan perbukuan harus memberikan data yang jelas kepada publik.

Bapak presiden yang saya hormati dan banggakan. Baru-baru ini kami para guru berdemo ke DPR, dan didukung oleh berbagai kalangan yang mengkritisi kebijakan kemdikbud. Tujuan kemdikbud mengganti kurikulum sangat kami apresiasi, tapi nampaknya timing atau waktunya kurang tepat. Kurikulum 2013 lebih tepat disebut kurikulum ujicoba yang bisa kita teliti kelebihan dan kekurangannya, setelah diujicobakan. Barulah kita tahu apakah kurikulum ini layak diterapkan di seluruh indonesia ataukah tidak. Kita bisa mendiskusikannya melalui kajian ilmiah yang jelas. Bukan dengan pendekatan kekuasaan atau politik.

Bapak presiden SBYyang baik hatinya. Kami percaya bapak bisa melihat ini secara jernih. Kurikulum 2013 belum bisa diterapkan di tahun ajaran ini. Jangan korbankan peserta didik karena ketidaksiapan para guru menghadapi kurikulum baru. Alangkah baiknya jajaran kemdikbud melakukan terlebih dahulu pelatihan guru dari hasil uji kompetensi guru (UKG) yang sudah dilakukan. Di sana akan terlihat jelas masih rendahnya kualitas guru di negeri ini. Kitapun bisa melihat masih rendah pula kualitas kepala sekolah dan pengawas dari hasil UKG. Solusi yang terbaik adalah perbaiki kualitas guru dengan berbagai pelatihan yang efektif dan bukan direkayasa pelaksanaannya dari 5 hari menjadi 3 hari. Kejujuran dalam pelaksanaannya harus diperhatikan dan diawasi. Cara mengajar guru harus diperbaiki dan ditingkatkan.

Bapak presiden SBY yang saya hormati dan banggakan. Usul saya, lakukan debat publik agar rakyat indonesia tahu apa yang sesungguhnya terjadi tentang kurikulum 2013. Kemdikbud dan jajarannya nampaknya sulit sekali menerima kritik dan terus jalan sendiri tanpa memperhatikan usulan para pakar dan praktisi di bidang pendidikan. Tentu kita ingin pendidikan Indonesia menjadi lebih maju ketika dialog terus dikembangkan, dan inilah kehidupan demokrasi yang sebenarnya. Bukan melalui pendekatan kekuasaan dimana para guru diminta untuk tidak kritis dan menerima begitu saja kurikulum 2013 yang masih banyak kekuarangannya. Terutama dalam implementasinya di lapangan yang terkesan tergesa-gesa. Kami tak yakin akan berhasil, sebab negara kita adalah negara kepulauan yang lebih dari 13.000 pulau di dalamnya. Banyak masalah yang nanti akan ditemui ketika kebijakan ini diterapkan.

Akhirnya, saya harus mengakhiri surat saya ini dengan sebuah pesan kepada bapak bahwa guru adalah pemain inti dalam kurikulum. Apapun kurikulumnya, guru profesionallah yang akan membuat kurikulum itu mencapai tujuannya. Guru profesional adalah guru tangguh berhati cahaya yang mampu menghantarkan peserta didiknya ke pintu gerbang kesuksesan di dunia dan akhirat.

Salam blogger persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com

SBY dan Fitnah

Sepertinya sudah jd kebiasaan SBY saat mau pergi ke luar kota atau luar negeri menggelar jumpa pers mendadak sesaat sebelum terbang. Begitu pula kemarin sebelum bertolak ke Pontianak (ini kota usianya pasti muda, kalau tua pasti ponti ibu!).

Lagi-lagi ia melempar sesuatu untuk diperdebatkan. Kemarin dia menyayangkan adanya sms yang isinya bernada fitnah. Tanpa menyebut sms yg mana dan bunyinya apa, SBY merasa prihatin dengan sikap tak jantannya penyebar sms.

Saya kok jengah melihat konpers seorang presiden isinya cuma seperti itu! Saya pikir SBY tadinya bakal mengumumkan sebuah kebijakan penting semisal membekukan operasioalisasi PT Lapindo Brantas karena lalai dalam eksplorasi di Porong Sidoarjo, Jatim hingga membuat sebagian kota Sidoarjo hingga lima tahun ini karam. Tapi saya lupa, gak mungkinlah SBY berani membuat gebrakan seperti itu karena golkar yang dikomandani Ical Bakrie adalah orang besar dibalik Lapindo Brantas! Apalagi Ical adalah mitra Setgab alias teman koalisi, gak mungkinlah SBY berani macem-macem!

Sebenarnya seperti apa sih sms yg dipersoalkan SBY itu? Beberapa kawan membongkar Pesan di BBM -nya. Saya pun demikian. Saya dapati sms yang konon dikirimkan seseorang dengan nomer Singapura. Konon ini adalah Sms yang dikirimkan Nazarudin dari tempat persembunyiannya. Sms ini diedarkan karena Nazar merasa dikorbankan oleh petinggi Demokrat, dan cara ini ditempuh Nazar untuk balas dendam. Namun Nazar kemudian membantahnya.

Seperti apa sih sms itu? SMS itu dikirimkan melalui nomor +6584393907. SMS ini menyentil SBY, Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati. Begini isinya :

“Demi Alloh, Saya M Nazaruddin telah dijebak, dikorbankan dan difitnah. Karakter, karier, masa depan saya dihancurkan.”

“Dari Singapore saya akan membalas. Saya akan bongkar skandal sex sesama jenis SBY dengan Daniel Sparingga dan mega korupsi Bank Century dan korupsi Andi Mallarangeng dalam Wisma Atlit.”

“Manipulasi data IT 18 juta suara dalam Pemilu oleh Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati.”

Kalau cuma “itu” buat apa menggelar sebuah konpers dan ditayangkan secara live oleh sejumlah stasiun tv! Konpers yang gak ada isinya itu malah jadi bahan olok-olok. Lagi-lagi SBY mempersoalkan hal-hal kecil yang terkait dirinya. Pencitraan memang jadi barang penting buat seorang SBY, jadi kalau ada yang mencoba ‘menggoyang’ dia akan bereaksi sedemikian rupa.

Di bagian lain SBY juga menyinggung keberadaan Teknologi Informasi yang disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjelek-jelekkan dirinya. Saya mengerti yang dimaksud dengan TI disini pastinya microblogging twitter. Memang di twitter belakangan beredar mention pesan yg isinya memperolok lembaga kepresidenan dan menjelek-jelekkan partai politik tertentu. Tapi itulah dinamika twitter. Berdebat tanpa batas, tertawa tanpa aturan ya cuma di twitter. Sebab jika ada aturan yang membelenggu itu bukan lagi web 2.0 yg interaktif.

Saya melihat statemen-statemen Presiden kemarin lebih pada upayanya memperbaiki citra yg kadung terjerembab lantaran mencuatnya kasus suap wisma atlet dengan aktor utamanya Nazarudin, sang Bendahara Umum Partai Demokrat. Lainnya tidak.

Selain itu konpers itu makin membuka mata publik bahwa presiden tak punya tim komunikasi yang tangguh. Harusnya orang sekelas presiden punya tim yang rajin mengamati dan melemparkan isu-isu produktif. Bergaul pulalah dengan media sosial agar bukan sekedar update status namun juga memanfaatkan media sosial untuk menjelaskan sebuah isu yang sedang berkembang.

Butuh orang yang taktis dalam bersikap. Dan yang lebih penting adalah intensitas penggunaan media sosial. Jangan nongol pada saat kasus besar mencuat, sudah ketinggalan kereta bung! Jadikan media sosial sebagai bagian aktivitas sehari-hari. Mungkin SBY butuh seorang Nukman Luthfie, sang pakar marketing dan media sosial itu.

Catatan Kecil tahun 2010

Baru saja kita melewati tahun 2010. Sepanjang tahun 2010, banyak sekali peristiwa penting yang menimpa Indonesia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam beragam aspek seperti Politik, hukum, ekonomi, bencana alam, olahraga,dll. Sebagaimana umumnya di akhir tahun, kita mencoba merefleksikan semua kejadian itu untuk dapat mengambil hikmah,pelajaran, kesadaran baru dalam rangka menyongsong Indonesia yang lebih baik di tahun berikutnya.

Awal tahun lalu, diramaikan dengan kasus Bank Century yang mewarnai dan menyedot energi dan dana bangsa ini. Namun sangat disayangkan penyelesaian kasus ini ditutup begitu saja dengan menjadikan menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai kurban deal politik. Setelah Sri Mulyani hijrah ke Bank Dunia, kasus inipun perlahan redup. Partai Golkar yang semula getol mengangkat kasus ini kemudian merapat kembali ke pangkuan Partai Demokrat. Dalam hitungan hari, Aburizal Bakri menjadi Ketua Harian Sekretariat Gabungan (Setgab) dengan Presiden Yudoyono sebagai ketua umumnya. Di sini mengemuka dugaan bahwa target Golkar hanyalah menyingkirkan Sri Mulyani dari barisan kabinet. Padahal masih ada Budiono yang menjadi Gubernur Bank Indonesia saat pencairan tersebut yang belum diusik. Biaya sekian milyar untuk penyelidikan kasus tersebut oleh Pansus DPR menguap ke udara tanpa hasil konkrit. Rekomendasi DPR pun oleh KPK diannggap tidak dapat dijadikan sebagai bukti hukum. Bila demikian, sesungguhnya untuk apa dibentuk Pansus tersebut bila kesimpulan penyelidikannya tidak berkekuatan apa-apa?

Pada pertengahan tahun 2010, mencuat kasus rekening gemuk para perwira tinggi Polri. Majalah Tempo mengangkat berita mengenai rekening para perwira tinggi Polri yang jumlahnya tidak wajar bila ditinjau dari pendapatan resmi mereka sebagai pejabat. Data ini sebenarnya merupakan temuan PPATK, lembaga Negara yang bertugas mengawasi transaksi mencurigakan. Kasus ini menjadi heboh karena majalah Tempo yang mau terbit tiba-tiba hilang di pasaran karena diduga diborong oleh orang-orang yang tidak senang dengan isi pemberitaan tersebut. Tindakan ini sebetulnya telah mengingkari hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya. Andaikan berita ini mengandung ketidakakuratan data, maka Polri bisa mempergunakan hak jawab dengan menyodorkan bukti-bukti yang sah. Namun sangat disayangkan, penyelesaian kasus ini pun terkesan ditutupi, karena orang yang diduga terlibat dalam rekening mencurigakan tersebut tidak mendapatkan sanksi administrasi dan pidana yang jelas. Pejabat tertinggi Polri pun langsung menyangkal berita tersebut tanpa mengadakan penyelidikan yang mendalam. Bila, tindakan perwira tinggi ini dianggap sebagai nila setitik , maka sikap protektif Kapolri tersebut dapat digolongkan sebagai nila sebelanga merusak susu sebelanga..

Bila Polri sungguh-sungguh mendukung pelayanan umum yang bersih , di masa depan sebaiknya Kapolri harus menanggapi positif setiap pemberitaan mengenai oknum Polri. Pemberitaan negatif mengenai personil polri tidak identik dengan tindakan mengotori Institusi Polri secara keseluruhan. Oleh sebab itu, Kapolri harus terbuka menerima segenap kritik, dan kemudian menyelidiki kebenarannya. Bila terbukti, maka Kapolri harus berani menjatuhkan sanksi administratif dan pidana kepada anggotanya. Perlindungan atas nama ‘esprit de corps’ tidak tepat dipergunakan. Bagaimanapun kepolisian adalah Institusi milik masyarakat dan dibiayai oleh masyarakat melalui pajak. Maka sudah selayaknya Polri juga terbuka bila ada anggotanya yang menyalahgunakan wewenangnya.

Dalam relasi antar umat beragama ,kita masih menjumpai sikap diskriminatif terhadap umat minoritas oleh sebagian pihak. Kasus pembakaran mesjid Ahmadiyah dan juga pemukulan terhadap pendeta HKBP Ciketing menjadi contoh kasus yang menonjol. Padahal dalam bingkai keIndonesiaan, kedua organisasi agama tersebut sudah hadir dan berperan aktif di bumi pertiwi jauh sebelum Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 ditegakkan. Persoalan ini menjadi berlarut karena tidak adanya ketegasan pemerintah pusat, daerah dan aparat kepolisian terhadap pelaku penyerangan. Alih-alih menangkap para pelaku, polisi malah menutup tempat peribadatan mereka dan mengungsikan mereka ke tempat lain dengan alasan agar tidak diserang oleh kelompok yang bertanggung jawab. Menjadi tanda tanya besar, mengapa unit usaha seperti bengkel, pabrik, tempat hiburan,dll dapat memperoleh ijin dengan dapat dalam hitungan minggu atau bulan, namun untuk tempat ibadah umat minoritas justru dipersulit. Indonesia adalah rumah besar bagi seluruh warganya tanpa melihat latar belakang suku dan agama yang sesungguhnya sudah selesai pada masa Sumpah pemuda diikrarkan tahun 1928, sebelum NKRI diproklamirkan.

Tahun 2010 juga ditandai dengan bencana alam yang datang secara beruntun. Dimulai dari banjir bandang di Wasior, Tsunami di Mentawai dan letusan Gunung Merapi yang kesemuanya merenggut korban jiwa dalam jumlah massif. Yang menjadi masalah setiap kali timbul bencana, adalah lambatnya respon pemerintah mengevakuasi korban bencana serta penanganan mereka di pengungsian. Sistem yang ada sepertinya tidak bekerja secara otomatis ketika bencana terjadi. Padahal Badan penanggulangan bencana telah dibentuk mulai tingkat pusat sampai daerah. Semestinya badan-badan tersebut sudah melakukan persiapan secara sistematis mulai dari pra bencana, saat bencana dan pasca terjadinya bencana. Dengan demikian maka akan ada persiapan yang lebih matang dan dapat menghindari jatuhnya banyak korban sia-sia.

Kasus bencana banjir di Wasior sekaligus mengingatkan kita bahwa perlindungan alam merupakan satu kesatuan dengan perlindungan manusia yang tinggal di dalamnya. Manusia adalah bagian kecil dari alam sekitarnya sehingga perusakan lingkungan pada gilirannya adalah penghancuran manusia yang tinggal di dalamnya juga. Persoalannya adalah pelaku perusakan alam sekitar seringkali berada jauh dari lokasi. Tangan mereka bekerja melalui perusahaan-perusahaan yang menebangi pohon-pohon untuk diekspor ke luar negeri. Kesadaran untuk pentingnya menjaga kelestarian alam terabaikan karena mereka tidak menjadi korban jika alam itu mengamuk.

Kita juga diingatkan bahwa saat ini bukan lagi era eksplorasi kekayaan alam. Masa eksplorasi kandungan bumi sudah saatnya digantikan eksplarasi alam pikiran dan kreatifitas. Pengembangan ekonomi kreatif merupakan kandungan kekayaan yang tak ada habisnya. Negara-negara yang maju saat ini justru bukan dari hasil kekayaan alam tapi penelitian dan pengembangan industri otomotif, elektronik, animasi, fashion dan jasa. Negara Korea Selatan merdeka pada tahun yang hampir sama dengan Indonesia, namun tingkat ekonnominya sekarang jauh melampaui Indonesia berkat pengembangan ekonomi berbasis Industri. Merek-merek seperti Hyundai, LG, Samsung sekarang menjadi merek dunia. LG dan Samsung bahkan menjadi pionir dalam industri televisi layar datar berbahan LCD, sementara Indonesia hanya menjadi tempat relokasi pabrik dan menjadi target pasar besar karena jumlah penduduknya yang begitu banyak. Ann Wan Seng dalam bukunya Rahasia Bisnis Orang Korea (2006), dalam salah satu babnya memaparkan Strategi Bisnis Korea adalah dengan menguasai teknologi informasi. Untuk mewujudkan mimpinya menjadi pemain utama bidang teknologi tingkat dunia, mereka membangun rantai informasi di seluruh negeri yang dapat digunakan seluruh lapisan masyarakat. Seluruh sekolah juga dilengkapi dengan fasilitas internet. Dan lebih dari 50 5 orang Korea telah dapat menggunakan komputer dan jasa internet. (hal 183). Sementara di Indonesia kita belum tahu persis berapa persen penduduknya yang bisa menggunakan komputer dan internet.

Akhir tahun ini diakhiri dengan keberhasilan (kegagalan?) Indonesia dalam turnamen sepakbola piala Asean. Di satu sisi program naturalisasi 2 pemain asing membantu mengangkat kinerja tim secara keseluruhan. Di sisi lain, terlihat bahwa kebijakan pengelolaan sepakbola kita tidak mampu mengangkat anak bangsa sendiri untuk tampil ke kancah internasional. Sebenarnya hal in merupakan turunan dari kebijakan PSSI yang memperbolehkan hingga 5 pemain asing dalam 1 klub. Akibatnya peluang bagi pemain lokal untuk tampil dan mengembangkan diri khususnya di posisi strategis seperti striker dan gelandang tengah menjadi terbatas.

Penyakit seluruh kepengurusan PSSI dari dulu sampai sekarang adalah ingin melihat tim Indonesia menjadi juara di periode kepengurusannya. Dengan orientasi semacam itu, maka mereka menempuh jalan pintas dengan mengirim satu tim belajar ke luar negeri dan terakhir menaturalisasi pemain. Jalan pintas seperti ini bisa saja berhasil namun menelan dana yang terlalu besar dan tidak berkelanjutan.

Untuk periode ke depan, ada baiknya pengurus PSSI menyusun semacam Sasaran lima tahunan pembinaan sepakbola Indonesia untuk jangka 20-30 tahun. Misalnya dimulai dengan pengadaan lapangan berkualitas internasional di setiap klub peserta Liga Sepakbola Indonesia. Bila sasaran ini tercapai, kepengurusan tersebut bisa dianggap berhasil meski secara prestasi tim nasional belum memadai. Sasaran Periode berikutnya bisa ditetapkan misalnya mengembangkan pemain usia dini mulai usia 7-9 tahun di seluruh negeri. Standarisasi pola latihan , asupan nutrisi , daya tahan (endurance) dan kecepatan lari juga juga harus ditetapkan mengacu pada standar internasional untuk setiap level usia. Bila melihat kemampuan dan ukuran fisik pemain nasional Indonesia saat ini, sampai kapanpun Indonesia tidak akan bisa bergaung di level Asia, apalagi dunia. Hal ini merupakan resultan dari tidak jelasnya pembinaan fisik dan kompetisi yang tidak teratur secara berjenjang dari usia anak-anak dan remaja.

Catatan-catatan di atas adalah wujud keprihatinan kita mengenai pengelolaan negeri milik kita bersama. Sebagaimana cermin yang memantulkan segenap noda di wajah kita agar kita bisa tampil bersih dan menyenangkan semua orang yang melihat, maka catatan reflektif ini pun berharap bisa menjadi cermin yang memantulkan segenap carut marut pengelolaan berbagai masalah social negeri ini

SBY dan Negeri Para Pencuri

SBY dan Omjay
SBY dan Omjay

Membaca Kompas cetak hari ini, Selasa 21 September 2010 membuat hati ini terasa sedih dan pilu. Begitu sulitnya penyakit korupsi diberantas di negeri ini. Sebab banyak maling teriak maling. Kita pun sebagai orang awam menjadi bingung, masihkah ada keadilan hukum di negeri para pencuri. Bahkan kitapun masih dibuat bingung dengan kasus century yang menguap entah kemana.

Continue reading SBY dan Negeri Para Pencuri

SBY : Nyantai sajalah

“Din, sekarang demonya aneh-aneh ya. Ada yang bawa Kerbau tuh”, Khalid mengawali pembicaraan pagi itu di warung mie ayam samping pabrik.

“Hehehe…Kerbau bagi masyarakat Minang adalah lambang Kemenangan atau Kedigdayaan, jadi para pendemo itu ingin agar setelah demo, maka pemerintah menjadi bertambah Jaya, Makmur dan aman sentausa…”

“Ah…kamu ini ngawur saja Din. Darimana kamu punya pendapat seperti itu? Bukannya kerbau itu lambang kebodohan, kalau sapi, itu baru lambang kepintaran?”

“Aku juga cuma denger dari TiPi tadi malem kok. Katanya sih Minangkabau itu dari kata Kerbau yang menang. Yah intinya kita berbaik sangka sajalah sama mereka, baik para pendemo maupun mereka yang didemo”

“Udah baca koran Tempo tentang ongkos politik pansus?”

“Wah aku gak langganan koran Tempo, kalaupun kadang ke pasar beli koran itu, sering sudah kehabisan

“Siapa sih mengira kalau mas Din langganan koran, paling banter juga koran gosip, hehehe…”

Pembicaraan itu terhenti sebentar karena muncul Anton yang membawa beberapa lembar koran. Langsung saja Anton membentangkan koran di hadapan mereka.

“Apa pendapat kalian terhadap isi berita koran beberapa hari ini?”, tanya Anton sambil pandangan matanya menatap Udin.

“Aku suka membaca kisah hikmah saja pak Anton. Yang lainnya sambil lalu saja, soalnya banyak berita yang bikin kita jadi berpikiran kontra produktip”, jawab Udin sekenanya saja, karena memang dia paling males untuk membaca berita politik di koran.

Menurut Udin, berita di koran meskipun banyak benarnya, tapi kadang disampaikan dengan cara yang kurang baik. Beberapa berita ditampilkan apa adanya, tetapi beberapa berita kadang ditampilkan sepotong-demi sepotong, semuanya melalui sensor politik.

Hanya koran-koran dengan integritas baiklah yang tetap mempertahankan kredibiltasnya sebagai koran terkemuka. Mereka tidak terjebak dalam area politik dan mencoba tetap netral.

“Coba perhatikan koran Tempo ini Din. Ini kan koran yang sering kamu baca. Lihat beritanya bombastis banget. Bisa nggak dibayangkan 14 triliyun per hari?”

“Duit segitu memang banyak banget, dan aku yakin koran Tempo telah menulis dengan dasar yang kuat. Tinggal siapa pembacanya saja pak”

“Maksudmu?”

“Ya mau ditanggapi dengan berang, dengan bijak atau dengan santai. Semuanya terserah para pembacanya dan kepentingan pembacanya”

“Terus…?”

“Kalau menurutku sih kita ambil hikmahnya saja. Kita saling mawas diri. Apa sih yang telah kita lakukan untuk negara ini, apa kontribusi kita terhadap anak cucu kita. Keputusan yang salah di hari ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi negara kita lima tahun ke depan”

Anton termanggu sejenak mendapat jawaban dari Udin. Kenapa Udin ini selalu bisa begitu santai membaca berita yang membuatnya kelabakan hari kemarin.

“Din, apa jadinya kalau gegap gempita politik di negara ini terus dibiarkan berlanjut. Belum habis kasus Bank “C” sudah muncul berita reshufle kabinet. Semuanya itu membuat bisnisku jadi tidak menentu”

“Pak Anton tenang saja. Pabrik kita ini akan tetap berkinerja tinggi, apapun masalah yang ada di luar sana”, Udin mencoba meyakinkan Anton.

“Bener pak Anton. Kita siap mendukung kinerja pabrik ini. Teman-teman juga tidak terpengaruh kok dengan apa yang terjadi di luar sana”

“Aku heran dengan kalian ini. Bener juga ya. Selama ini apapun berita yang muncul di layar kaca maupun di koran tetap tidak mempengaruhi kinerja kita”

“Makanya santai saja pak”

“Hehehe…makasih ya . kayaknya SBY juga mesti santai menghadapi situasi saat ini. Biarkan timnya bekerja dengan baik dan hasil baiknya yang kita tunggu”

“Hahahaha….bener pak Anton. Jangan biarkan SBY tegang dan terlalu berpikir dengan isu-isu yang ada. Santai sajalah”

“Hush…kalau didengar SBY, dia marah enggak ya?”

Tertawa berderailah mereka bertiga sambil meninggalkan warung mie ayam itu. Lonceng pabrik sudah berbunyi, dan saatnya untuk masuk bekerja.

SBY, dimana kau berpijak?

SBY Presiden Indonesia
SBY Presiden Indonesia

Beberapa waktu setelah mendengarkan radio Delta FM tentang posisi SBY setelah dia memberi pernyataan tentang rekomendasi Tim 8, maka aku kemudian nulis status di Fisbuk seperti ini : “…..aku baru ngeh, bahwa apapun yang disampaikan oleh SBY pasti akan disambut dengan suara minor..”, maka beberapa sambutan langsung muncul di bawah statusku.

+++

Sebenarnya yg tidak bersuara alias cuek2 saja lebih banyak..

abis klise sih

master of retorika…. as usual :)

Apa krn sebagian kecil rakyatnya yg nggak sabaran, mudah marah, maunya instant, kurang positive thinking, mau menang sendiri, slalu melihat kurangnya org, rasa kepercayaan rendah,…

tanda2 rakyatnya sudah gak percaya lagi Pak…

…lebih cepat…lebih baik…

kalau kita berpikiran arif, jgn mudah terpancing omongan org, lagipula kita khan gak tahu persis jerohannya bangsa kita, kita semua tahu ibarat penyakit bangsa kita ini penyakitnya sdh kronis tdk gampang menyembuhkan, kalau kita cekoki dgn hal2 yg tdk konstruktif, ujung2nya rakyat jg yg susah, sebaiknya samikna wa atho’na aja

selalu ada alasan di balik sebuah tindakan. pertanyaan terbesarnya, mengapa kita tidak bisa tahu persis jerohannya bangsa kita sendiri. kita tahu kita berpenyakit, tapi kita tidak terlihat sungguh-sungguh ingin menyembuhkan penyakitnya. memang kalimat saya ini bisa didebat karena hanya berdasarkan perasaan bukan bukti. Namun kita diberikan hati dan perasaan oleh Allah SWT tentu bukan tanpa maksud.

samikna wa atho’na… lagi-lagi seperti itu. saya tidak mempermasalahkah samikna wa atho’na jika terjadi di jaman nabi. permasalahannya pemimpin kita bukan nabi yang selalu diingatkan Allah agar terhindar dari kesalahan.

Saya teringat cerita di masa Umar bin Khattab diangkat sebagai khalifah, ada rakyat yang berkata bahwa jika Umar berbuat yang benar dia akan patuh, tapi jika Umar melakukan kesalahan, pedangnya sendiri yang akan menghabisi Umar. Artinya, rakyatlah yang harus menilai bagaimana pimpinan kita. Kita ikuti ketika benar, dan kita koreksi ketika salah… koreksi di sini bisa berarti luas. intinya adalah membuat pemimpin kita tidak lagi melakukan kesalahan.

satu lagi, pemimpin bukan berarti satu-satunya orang yang paling tahu tentang rakyatnya. siapakah yang paling tahu tentang kebutuhan rakyat jika bukan rakyat sendiri. bahkan rakyat kecil di desa yang jauh dari kota pun sekarang bisa menilai bagaimana petinggi negara ini bermain dalam ketoprak yang saat ini terjadi. apakah itu karena hasutan dan omongan? Wallahualam…

+++

Tim 8
Tim 8

Wah ternyata teman-temanku sangat reaktif terhadap pernyataanku. Aku jadi ikut berpikir juga. Sinetron yang dimulai dengan adegan Kapolri vs KPK ini rupanya terus berlanjut dan terus bergulir dengan semakin kencang. Arahnya juga semakin tdiak terduga.

Tiba-tib amuncul tokoh baru ataupun kondisi baru yang membuat jalan cerita yang terlihat akan berakhir dengan satu kemungkinan atau dua kemungkinan ternyata menjadi multi akhir.

Ada yang tiba-tiba merasa bodoh, dan ada juga yang tiba-tiba menjadi pintar dengan membuat analisa yang logis dan penuh argumentasi. Yang terakhir ini membuat yang bodohpun semakin menjadi bodoh.

Alhamdulillah, ada yang menjadi arif dengan kondisi ini. Sebenarnya sampai saat ini kita belum tahu dengan pasti siapa sang sutradara sinetron ini. Apakah pemain utamanya sudah keluar atau belumpun sebenarnya masih perlu dibahas lebih lanjut. Model masyarakat Indonesia [termasuk aku] yang sangat reaktif dan humanis telah membuat sinetron ini makin laris manis disantap pemirsanya.

Pada akhirnya sinetron ini pasti akan berakhir, dan kalau mau arif, marilah kita menjadi penontonyang baik sambil berdoa agar semua ini berakhir dengan baik. Mau gaya India ataupun Hollywood, tapi sebaiknya segera berakhir dengan baik.

Semoga presiden kita tahu dimana posisinya, demikian juga para petinggi kita, baik itu yang ada di Polri, Kejaksaan maupun di KPK dapat membaca posisi dan fungsinya dan mereka semua rajin menanyakan pada hati mereka masing-masing.

Semoga hati mereka masih ada titik jernihnya dan semoga mereka dapat memimpin semua ini dengan hati mereka yang sudah lebih jernih. Insya Allah. Amin.

+++

source gambar dari sini dan dari sini

SBY, Keajaiban Blog dan Tangisan Istri

Omjay Mengucapkan Terima Kasih
Omjay Mengucapkan Terima Kasih

Membaca Kompas cetak hari ini, Selasa 17 November 2009, tentang disfungsi presiden, presiden harus konsekuen, dan Pak SBY bicaralah yang dituliskan oleh para penulis hebat membuat saya tersulut untuk menuliskan pendapat bahwa saatnya pak SBY untuk bicara setelah mendapatkan rekomendasi dari tim delapan.

Apalagi kini kita telah sama-sama tahu bahwa kasus bibit-chamzah sangat lemah di mata hukum dan merupakan rekayasa dari para pejabat yang berkuasa agar KPK lumpuh. Tentu ini sebuah dilema bangsa yang harus membuat kita berpikir bahwa kejujuran saat ini sangat mahal harganya. Orang akan dengan sangat mudahnya bersumpah di muka pengadilan dan merasa dirinya paling benar.

Kalau saya menjadi pak SBY, saya akan bertindak hati-hati dan hal ini bisa menjadi senjata makan tuan. Apalagi teknologi informasi dan komunikasi saat ini sangat terbuka, dimana orang bisa saja cuap-cuap melalui blog dan jejaring sosialnya. Bagi saya pribadi, kekuatan para blogger dan facebooker tidak bisa dianggap enteng. Apalagi blog memiliki keajaiban yang dapat mengangkat pemiliknya menjadi seorang blogger yang dapat bermanfaat untuk orang banyak. Dikenal dan terkenal.

Itulah yang saya rasakan malam ini. Ada rasa haru dan bangga, karena baru saja diumumkan oleh dewan juri bahwa naskah buku saya yang berjudul yuk kita ngeblog! mendapatkan juara pertama tingkat SMP.

Blog memang ajaib. Media ini bukan hanya mengangkat saya menjadi pemenang pertama sayembara penulisan naskah buku pengayaan 2009, Juga blog telah membuat saya menjadi terampil menulis. Bahkan kini blog telah membuat saya menjadi kreatif menulis. Rasanya belum bisa tidur, kalau belum memposting satu tulisan untuk teman-teman di dunia maya. Teman-teman pasti menunggu tulisan-tulisan saya. Meski terkadang tulisan itu mungkin kurang bermanfaat buat orang banyak.

miracleAlhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah Ilahi Rabbi, dalam waktu yang hampir bersamaan saya telah memenangkan dua lomba sekaligus, sebagai juara pertama nasional lomba blog balai bahasa bandung, dan juara pertama buku pengayaan 2009. Tentu ini semua bukan pekerjaan yang langsung selesai, tetapi merupakan sebuah proses perjuangan yang membutuhkan perjuangan.

Pada tengah malam sekitar jam 00.00, saya kabari istriku di rumah, dan saya katakan bahwa saya mendapatkan juara pertama. Mendengar kabar itu, sontak istriku menangis bahagia.  Meskipun hanya melalui HP, kudengar isak tangisan itu begitu membahagiakan dan mengharukan.  Sungguh berita yang tiada disangka, termasuk diriku sendiri. Betapa bahagianya kami. Malam itu, tanpa kami sadari,  kami sama-sama menangis bahagia. Musibah yang kami alami telah diubah Allah menjadi anugerah tak ternilai.  Robohnya rumah kami karena dimakan rayap yang memaksa kami juga harus mengontrak rumah petak untuk sebulan ini benar-benar membawa perasaan kami lebih berkeinginan untuk mendekat-Nya. Insya Allah, rumah rusak itu akan menjelma menjadi rumah indah yang penuh barokah karena dibangun dari isi otak karena kemurahan-Nya. Allah telah menganugerahkan limpahan rezeki kepada kami dengan jalan yang tiada terduga. Terima kasih ya Allah, karena Engkaulah kami dapat berubah dan mengubah keadaan ini. Engkau telah menunjukkan kami jalan rezeki melalui blog yang telah dikunjungi pembaca untuk berkenan berbagi. Kiranya Engkau tetap berkenan untuk meridloi blog ini agar tetap eksis di hati kami dan pembaca. Tentu kami berharap agar blog ini bermanfaat bagi kemajuan bangsa, khususnya dunia pendidikan yang sedang mulai bangun.

Melalui blog ini, dengan segala ketulusan dan keikhlasan, kami menyampaikan terima kasih tak  terhingga kepada pembaca. Tanpa pembaca dan motivasi Anda, kami bukanlah apa-apa. Pembaca,  sedikit yang dapat kami sampaikan ini semoga menjadi sebuah pencerahan. Selain kepada pembaca, kami pun tak lupa dan melupakan jasa dan doa keluarga tercinta. Istriku, anak-anakku, ayahandamu hanya dapat mengucapkan terima kasih. Kalian adalah motivator ayahmu. Tanpamu, ayahmu bukanlah apa-apa.  Jikalau ayahmu pergi, itu tidaklah bermaksud untuk menghindari kewajiban mendidikmu. Justru ayahmu pergi untuk kewajiban yang lebih besar, yakni mendidik bangsa ini agar mengenal karakter terdidik sehingga terbentuk generasi yang santun dan berprestasi. Kini doa dan dukungan kalian, sebagian telah dikabulkan Allah. Maka, ikhlaskanlah ayahandamu pergi untuk berbagi. Yakinlah, bahwa Allah itu mboten sare (tidak tidur), begitu saya meminjam istilah bahasa Jawa dari teman sekamarku, Johan Wahyudi dari Sragen Jateng, yang juga menjadi juara 1 untuk tingkat SMA.

Salam Blogger persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

SBY dan Politik Balas budi

Omjay dan Berlian
Omjay dan Berlian

Mendengar pengumuman kabinet yang telah disampaikan oleh bapak presiden SBY beberapa saat lalu membuat saya ingin berbagi pendapat dengan anda para pembaca kompasiana. SBY dan politik balas budinya telah terungkap dalam penyusunan dan pengumuman kabinet indonesia bersatu, dan besok ke-34 menteri yang dipilih oleh pak SBY akan dilantik dan pak SBY-Budiono akan mengadakan rapat kabinet yang pertama.
Continue reading SBY dan Politik Balas budi

SBY Berkomentar di BBC

Ini bukan gosip dan bukan fitnah. Ini nyata dan berdasarkan fakta yang terjadi di dunia maya. Mata saya terbelalak dan tak percaya kalau SBY memberikan komentar dalam postingan saya di BBC. Sebuah blog agregator yang baru saja melakukan pre Launching pada 17 Agustus 2009 di Bekasi Cyber Park (BCP) Kalimalang. Tepatnya di Cyber Food Center (CFC) Lantai 2. Bahkan dari komentarnya itu, membuat saya dan kawan-kawan lebih bersemangat dalam mengurusi blog agregator ini. Sesemangat saya memakan es campur makasar, dan nasi timbel Sunda komplit di CFC Bekasi. (Terima kasih ya mas Aris, saya sudah ditraktir, dan mohon maaf hadiah ultahnya ketinggalan di rumah). Hehehehehe.
Continue reading SBY Berkomentar di BBC