Dia Yang Tangguh

Pagi menjelang siang itu jam dinding menunjukkan pukul 10:30, waktu dimana seharusnya dia bersiap-siap melakukan rutinitas hariannya menjemput anak keduanya yang masih duduk di bangku sekolah tingkat TK.

Namun hatinya gundah gulana disebabkan cuaca kurang bersahabat, langit begitu gelap dan memuntahkan berton-ton air ke bumi yang mengakibatkan genangan air dijalan-jalan utama di kompleks perumahan dimana dia tinggal bersama ketiga anak dan suaminya tercinta.

Dan ternyata genangan-genangan air itu bukan genangan seperti biasanya.

Banjir di Jalan Utama Kompleks Perumahan
Banjir di Jalan Utama Kompleks Perumahan

Ya….

Genangan air itu berubah seketika menjadi BANJIR….
Genangan air itu seakan mengamuk dan merangkak naik sampai nyaris menyentuh batas lutut orang dewasa dan terus merangkak naik entah sampai batas mana lagi…

Tambah kalut dan bingunglah pikirannya…

Kalut karena hujan yg tidak kunjung reda dan bingung karena banjir serta tidak tahu apa yang musti diperbuatnya.

Sementara diujung sana si anak yang seolah tidak mengerti keadaan ibunya, sedang asyik bercanda hahahihi dengan sebayanya dan bersiap-siap untuk pulang mengakhiri aktivitas sekolahnya.

Banjir di Jalan Menuju Pemukiman Kompleks Perumahan
Banjir di Jalan Menuju Pemukiman Kompleks Perumahan

Selama kurun waktu 30 menit diantara pukul 10:30 sd pukul 11:00, dia berulangkali menelpon suaminya ditempat yang berbeda diruangan kantornya yang nyaman untuk meminta penguatan.

Ditengah keseriusan menelphon suaminya itu, dia dikagetkan oleh suara jam yang berdentang 11 kali, yang lantas menghentikan sebentar pembicaraan dengan suaminya dan melakukan sedikit longokan keluar rumah dengan handphone tetap tergantung ditelinganya…

“Ayah… hujannya mulai reda aku berangkat bersepeda saja, khawatir mogok kalo montoran…”

Katanya semangat penuh keyakinan.

“Lah.. Terus si bontot gimana??

Balas si suami diujung telephone, menguji semangat keyakinan istrinya.

“Biar kubawa pake boncengan anak, disangkut di depan sepeda…. disangkutkan distangnya….”

Jawabnya mantap.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Banjir di Jalan Menuju Sekolahan Si Anak
Banjir di Jalan Menuju Sekolahan Si Anak

Jam menunjukkan lewat pukul 12:00 siang ketika dia mulai memencet tuts qwerty hapenya dengan jari putihnya yg masih terlihat basah dan berkerut karena dingin.

“Halo sayang gimana tadi…??”

Getir terdengar diujung telphone suara suaminya yg tampak khawatir dan berharap akan sampainya berita baik kepadanya.

“Subhanallah Ayah…. Tadi itu airnya luar biasa tinggi…. Ban roda sepedaku hampir tenggelam seluruhnya…. Airnya itu hampir menyentuh kaki si bungsu di boncengan anak…. Kakiku sampai tenggelam Yah, jadinya aku menggowes dengan tenaga ekstra karena beban aku, si bungsu, si abang yang berada diboncengan belakang dan beban arus air banjir itu…. Alhamdulillahnya gak ujan tadi….”

Bak desingan peluru dia melaporkan kejadian heroik yang baru saja dilaluinya kepada suaminya diujung sana.

“Aku capek Yah….”

Dia menutup pembicaraan telephone dengan lirih dan sedikit gemetar yang ditahannya selama pembicaraan itu.

Sementara sang suami diujung telephone didalam ruangan kantornya yang hangat dan nyaman tampak diam terpaku.

Pikirannya berkelebat hebat terbang menuju lokasi banjir yang baru saja dilalui oleh istri dan dua anaknya dengan bersepeda.

Terbayang dipelupuk matanya seorang wanita berjilbab menggowes sepeda berpenumpang satu orang batita di boncengan anak didepan stang dan satu orang anak TK dibonceng dibelakangnya, berusaha mengarungi banjir menantang arus didepannya dan arus yang bergerak liar disekelilingnya, sepeda itu berikut ketiga penumpangnya bergetar dan bergoyang diterpa arus banjir….

Demikian Adanya
~TheEnd~

*BasedOnTrueStory*

Teruntuk Istriku tercinta dan para Istri2 yang turut mengalami perjuangan itu, InsyaAllah perjuanganmu tidak akan sia-sia….

Salam Hangat,
@ludwinardi | 313FE116
www.ludwinardi.com

Deklarasi Sekolah Damai Bersama Bang Foke di Labschool Jakarta

Deklarasi Sekolah damai di Labschool Jakarta
Deklarasi Sekolah damai di Labschool Jakarta

Hari masih sangat pagi. Namun di sekolah Labschool Jakarta sudah ramai sekali. Banyak pelajar dari sekolah lain sudah datang ke sekolah kami untuk mengikuti kegiatan deklarasi sekolah damai di smp-sma Labschool Jakarta. Ratusan pelajar berkumpul di ruang auditorium lantai 3 Labschool Jakarta. Pagi ini Kamis, 4 Oktober 2012 mereka bertekad untuk mewujudkan sekolah damai tanpa tawuran di antara pelajar.

13493136621100409102
Deklarasi Sekolah Damai di Labschool Jakarta (Dok: Pribadi)

Deklarasi ini dihadiri langsung gubernur DKI Jakarta, Dr. Ing. H. Fauzi Bowo atau biasa disapa Bang Foke. Beliau bersama jajarannya dari dinas pendidikan DKI Jakarta sudah hadir di sekolah kami tepat pukul 07.00 wib. Nampak hadir di atas panggung kepala dinas pendidikan DKI Jakarta, bapak Dr. Taufik Yudi, dan penasehat labschool, bapak Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd.

1349313925804927462
Pak Arief, Pak Karjo, Ibu Indira, pak taufik, dan Jajaran pejabat di lingkungan Pemda DKI Jakarta

Deklarasi sekolah damai dilakukan untuk mewujudkan sekolah damai tanpa tawuran. Menjunjung tinggi kedamaian, menghargai perbedaan, dan menjaga ikatan persaudaraan di antara sesama pelajar. Kita berharap, sudah tidak ada lagi tawuran antar sekolah di jakarta. Minimal, terjadinya tawuran dapat diminimalisasi agar tidak terjadi karena dapat diselesaikan secara damai. Tak ada lagi balas dendam dan sakit hati karena sekolahnya diejek atau dihina. Kita semua menjaga agar tak saling menjelekkan antar sekolah. Itulah awal dari pemicu tawuran di natara para pelajar yang terkadang menjadi “dosa” warisan.

13493145731903774548
Deklarasi Sekolah damai yang dibuka oleh Ceramah pak Arif rachman

Belakangan ini tentu kita sangat sedih karena sudah banyak korban berjatuhan akibat tawuran antar pelajar. Saling serang dan saling serbu antar sekolah seringkali terjadi dan meninggalkan duka di antara kedua belah pihak. Hal yang lebih menyedihkan adalah mereka yang tidak ikutan tawuran malah menjadi korbannya. Oleh karena itu, semua yang hadir dalam deklarasi sekolah damai bertekad untuk mencari kawan dan bukan lawan. Pelajar yang hadir bertekad untuk menjaga kedamaian dalam ikatan persaudaraan. Kita semua adalah bersaudara. Harus saling cinta saling menyayangi.

13493148261792211804
Bang Foke memberikan sambutan dan arahannya di acara deklarasi sekolah damai

Pelajar harus bersatu, dan bukan berkelahi. Pelajar harus berprestasi, dan bukan tawuran di jalanan. Pak Fauzi Bowo atau Bang Foke dalam sambutannya langsung meminta para pelajar mendeklarasikan apa yang ingin mereka sampaikan. Sungguh sangat luar biasa sekali isi deklarasinya, dan saya uploadkan semua fotonya di facebook Omjay di sini.

134931550811448294
salah Seorang pelajar dari Perwakilan 18 Sekolah di jakarta membacakan piagam deklarasinya

 

Salam Blogger persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Sekolah RSBI Kembalilah Ke Sekolah Laskar Pelangi

 

Setelah menghadiri simposium RSBI yang diadakan British Council di Hotel Atlet Century Senayan selama 2 hari, 9-10 Maret 2011 saya berkesimpulan bahwa pelaksanaan RSBI di setiap sekolah yang ada di Indonesia sebaiknya dihentikan. Hal ini bukanlah berdasarkan asumsi semata, tetapi fakta di lapangan terlihat dengan kasat mata bahwa mutu guru kita belum siap untuk menghadapi perubahan pembelajaran di era masyarakat berpengetahuan.

 

Para peneliti silahkan melakukan penelitian yang mendalam, dan saya yakin bahwa sekolah RSBI tak membuat peserta didik menjadi hebat ketika kebijakan yang dikeluarkan kurang menggema di tingkat implementasi. Kita pun harus segera kembali kepada sekolah laskar pelangi yang memiliki fasilitas apa adanya tetapi memiliki guru-guru yang luar biasa. Guru-guru kreatif yang pantang mengeluh sehingga mampu menginspirasi para peserta didiknya untuk bersaing di era global. Era dimana batas negara seolah tiada lagi. Internet telah menyatukan semua orang di seluruh dunia untuk saling berkomunikasi, dan berbagi.

 

Dari paparan presentasi para kepala sekolah RSBI nampak jelas bahwa fasilitas jauh lebih diutamakan ketimbang mutu guru. Walaupun dilaporkan pula tentang pelatihan kompetensi guru, namun prosentasenya amatlah kecil bila dibandingkan dengan peningkatan sarana prasarana. Guru hanya menjadi pelengkap penderita atau prajurit yang siap mati menjalankan kebijakan pemerintah yang ternyata salah konsep. RSBI pun digugat oleh berbagai pihak. Termasuk  oleh organisasi Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang dengan lantang menyuarakannya.

 

Sekolah-sekolah RSBI berusaha untuk mendapatkan sertifikat ISO, yang pada akhirnya membuat peserta didik”RAISO”. Bahkan kita masih menemui ada siswa yang tidak lulus di sekolah RSBI. Kedisiplinan, dan kebersihan sekolah RSBI pun belum sepenuhnya mengikuti aturan-aturan ISO yang benar, sehingga sertifikat ISO didapat, tetapi kenyataannya tak sama dengan apa yang dilihat. Silahkan para peneliti dari kemendiknas melihat sendiri, dan meneliti di seluruh sekolah RSBI di Indonesia. Jangan lupa menggandeng LSM yang independent sepertibritish council agar penelitian menjadi berimbang.

 

Saya bukan orang “pintar”. Saya hanya guru yang berbadan besar dan sedang “gusar”. Adanya RSBI tak membuat dunia pendidikan kita menjadi lebih baik. Para orang pintar itu hanya bisa membuat konsep, tapi tak mampu mengamati di tingkat proses, dan kurang melakukan evaluasi dengan benar. Data-data lengkap telah disampaikan oleh ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), Satria Darma tentang 10 kelemahan RSBI. Fakta-fakta di lapangan pun telah dijelaskan panjang lebar kepada komisi X DPR. Kita pun telah membaca dengan jelas apa yang dipetisikan oleh IGI di koran kompas, dan berbagai media lainnya. Klik.

 

1299793440986618598Wahai para pejabat negeri. Kenapa kita tak belajar kepada sekolah laskar pelangi. Kita lihat perjuangan ibu Muslimah yang begitu besar menyemangati anak didiknya. Kita mungkin masih ingat pesan pak Harfan dalam film laskar pelangi. “Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya”.

 

Banyak sekali pesan moral, dan semngat hidup pantang menyerah yang kita saksikan dari kisah laskar pelangi. Laskar pelangi bukan hanya menginspirasi semua orang, tetapi laskar pelangi telah menunjukkan kepada kita bahwa fasilitas sekolah yang apa adanya atau biasa-biasa sajatelah mampu melahirkan peserta didik  yang luar biasa. Kenapa itu bisa terjadi?  Karena sekolah laskar pelangi ditangani oleh guru-guru yang ikhlas sepenuh hati mengikhlaskan dirinya untuk terus belajar sepanjang hayat. Berusaha keras untuk menjadi guru profesional, dan meninggalkan konvensional. Terus menerus belajar dan berusaha menjadi guru yang berkualitas.

 

Sekolah RSBI yang salah kaprah dalam pelaksanaannya lebih menitikberatkan kepada penyampaian materi ke dalam bahasa Inggris. Bahasa Internasional yang membuat mereka katanya lebih mudah bersosialisasi dalam masyarakat internasional. Namun, kenyataannya tak mudah menyampaikan materi pelajaran dalam bahasa Inggris, karena pengajaran bahasa Inggris sangat berbeda dengan pengajaran materi menggunakan bahasa Inggris.

 

Pengalaman saya pribadi mengajarkan TIK dengan menggunakan bahasa Inggris tidaklah mudah. Saya justru lebih mudah memberikan materi dengan bahasa Indonesia. Para peserta didikpun lebih mudah menangkap apa yang disampaikan. Terjadilah proses interaksi dalam pembelajaran. Terjalin komunikasi antara guru dengan peserta didiknya. Sayapun banyak belajar dari teman-teman guru lainnya dari seluruh dunia melalui website di http://www.epals.com/projects/info.aspx?divid=WeAreePals_main.

 

Dalam sekolah laskar pelangi. Guru-guru menyampaikan materinya dengan bahasa ibu atau bahasa daerah. Bahasa daerah yang lebih mudah dimengerti oleh murid-muridnya. Bahasa ibu dimatangkan dulu, baru kemudian beralih kepada bahasa nasional. Setelah bahasa nasional matang, barulah beralih kepada bahasa internasional. Kenyataan membuktikan, lulusan sekolah laskar pelangi telah menciptakan orang-orang hebat negeri ini. Anda bisa kembali membaca novel Tetralogi laskar pelangi, atau novel ranah 3 warna yang lagi ngetop sekarang ini. Banyak pembelajaran yang akan anda dapatkan dari kedua novel di atas.

 

Akhirnya, saya tak bisa menyampaikan tulisan-tulisan saya dalam bahasa yang ilmiah. Saya hanya mampu menulis secara alamiah. Sangat sederhana tetapi pesan itu sampai kepada pembaca. Saya bukanlah orang pintar, tetapi saya adalah guru yang gusar. Semoga bangsa ini menjadi besar.

 

Mari kita kembali ke sekolah laskar pelangi yang menciptakan lulusan anak negeri yang mampu menterjemahkan pesan sedrhana pak Harfan, hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya.

 

salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

 

Apa Mereka Sudah Merdeka?

Kemerdekaan adalah:

  • (kata benda) saat di mana sebuah negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya.
  • (kata benda) saat di mana seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi.

Tapi apa iya kita sudah merdeka?

Coba tengok, masih ada yang harus mengais-ngais tempat sampah hanya untuk sekedar makan,masih ada juga yang hanya bisa merasakan makan 2 hari sekali,masih ada juga yang tidak bisa mendapat pendidikan yang layak.

Apa kita sudah merdeka?

Ketika anak – anak yang seharusnya masih merasakan nikmatnya bersekolah justru harus banting tulang di jalan, mengais diantara tumpukan sampah, mengharap rupiah demi menyambung hidup membantu orangtua, melupakan cita – cita mereka. Atau ketika mereka dikeluarkan dari sekolah karena tidak mampu membeli seragam, tidak mampu membeli buku, atau ketika ketahuan guru kalau mereka sedang mengamen demi mendapat tambahan penghasilan membantu orang tua.

Miris sekali.

Mengapa pendidikan menjadi kian mahalnya bagi mereka. Padahal dalam Pasal 31 ayat 1 disebutkan bahwa Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran dan pada ayat 2 disebutkan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang.

Berapa banyak anak yang hak untuk mendapat pendidikannya terabaikan. Berapa banyak anak – anak yang belum mendapat penghidupan yang layak.

Apakah mereka sudah merdeka?

Ketika banyak para penguasa berebut jabatan & mempertebal pundi – pundi kekayaan mereka, yah buat mereka itu Merdeka. Merdeka artinya bebas menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri sendiri. Asik dengan komputer mewah, mobil mewah, laptop mewah, rumah mewah. Gaji besar, jalan – jalan keluar negeri dengan dalih studi banding (tapi ngga pernah ada realisasinya).

Mungkin, buat anak – anak ini, merdeka artinya mereka bisa bebas pergi ke sekolah tanpa takut atau malu karena belum bayaran, tidak bisa beli seragam, tidak bisa beli buku, tidak perlu lagi menunggu jatah makan 2 hari sekali, tidak perlu main kucing – kucingan dengan petugas Satpol PP ketika sedang mengamen.

Memperingati kemerdekaan bukan hanya sekedar seremoni upacara bendera, mendengarkan kembali pidato Proklamasi, lomba balap karung atau makan kerupuk saja. Memperingati kemerdekaan seharusnya memaknai perjuangan yang sudah dilakukan & mengisi kemerdekaan dengan melakukan hal yang bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Untuk mereka yang masih belum merasakan apa yang kita rasakan.

***

Courtesy Photo by : M Harun Alrasyid, SeBUAI & Koleksi Pribadi

Selamat Hari Anak Nasional

Yap! Aku memulai hari ini, 23 Juli 2010 dengan status di Facebook “Selamat Hari Anak Nasional untuk seluruh anak-anak di Indonesia…..Semoga hak-hak anak Indonesia dapat terpenuhi,terutama untuk Pendidikan, Kesejahteraan
& Kesehatan…..”.

Dibeberapa sudut kota atau bagian di Negara ini mungkin sedang merayakan Hari Anak Nasional dengan lomba – lomba di sekolah, pawai, atau apalah namanya. Bahkan pemerintah pun membuat sebuah acara peringatan Hari Anak Nasional. Tapi, jauh…jauh dari hiruk pikuk peringatan seremonial Hari Anak Nasional itu, coba ingat – ingat ketika dalam perjalanan di Bis, di lampu merah, atau di tempat – tempat umum. Masih banyak (sangat banyak malah) anak – anak yang membawa kecrekan untuk mengamen, membawa gitar kecil yang suara senarnya sudah ngga karuan & ditimpali dengan suara nyanyiannya yang ehem….ngga pas sama musiknya. Atau lihat, anak- anak batita yang digendong – gendong ibunya dari mobil ke mobil meminta sedikit belas kasihan para pengendara di lampu merah. Atau para batita yang terpaksa tidur di trotoar. Makan seadanya. Kepanasan. Debu. Dipaksa bekerja, atau terpaksa bekerja karena keadaan. Continue reading Selamat Hari Anak Nasional

Ketika Video Porno Masuk Ke Sekolah Kita

Foto illustrasi oleh Admin (be-Blog)

Berita panas yang tersebar akhir-akhir ini tentang video porno mirip artis Luna Maya-Ariel-Cut Tari ternyata mengundang para siswa “penasaran” untuk mencari video itu. Kekuatan berita di media dan rasa penasaran itu begitu menggoda kaum muda yang berstatus sebagai pelajar. Mereka seakan-akan berlomba-lomba untuk mendapatkan video mesum itu.

Continue reading Ketika Video Porno Masuk Ke Sekolah Kita

APING

Nama lengkapnya Aprilia Maharani, tapi kami biasa memanggilnya APING. Ia berusia sekitar 8 tahun, anak ke 3 dari 5 bersaudara. Kakak petamanya duduk di kelas 5 sekolah dasar. Sedangkan aping sendiri sekarang menjalani pendidikan di kelas 2.

Saya mengenalnya lewat anak saya. Gadis kecil ini adalah teman bermain anak saya yang baru berusia 2 tahun. Sebenarnya saya sudah mengamati gadis kecil ini ketika tanpa sengaja melihatnya bermain busa sendirian didepan rumah neneknya. Dia gadis kecil yang unik dan mempesona.

Ibu dan ayah aping adalah teman bermain saya ketika kecil dulu. Ayahnya buruh serbutan, ibunya, ibu rumah tangga seperti saya. Dengan lima anak yang masih kecil-kecil, hidup mereka tentulah sangat memprihatinkan. Mereka tinggal di rumah neneknya, jadi satu dengan dua keluarga lain. Ayahnya terkadang tidak bekerja, tapi taukah apa yang membuat hidup mereka terlihat indah??? Mereka ga pernah mengeluh. Sesekali saya melihat ibu si aping mengaduk pasir dan semen, sementara ayah Aping memasang bata ketika mendapat pekerjaan sebagai kuli bangunan. Atau ayah dan ibu membuat ketupat dan anak-anak yang menjualnya. Soal makan? Anak-anak ini sungguh anak-anak yang luar biasa, mereka makan apapun yang dimasak ibunya. Mulai dari sayur asem, daun singkong, sampe jengkol, semua makan dengan lahap. Wow, itu pemandangan yang indah bagi saya.

Lewat Aping pula lah akhirnya saya kembali ke sana. Ketempat dimana saya mengabiskan sebagian masa kanak-kanak saya. Sekolah saya…

Seminggu lalu saya mengantar aping dan kakak-kakaknya ke sekolah. Sekalian ngajak jalan anak saya maksudnya. Pfyuhf…baru nyadar ternyata udah hampir 20 tahun saya tidak pernah ke sana. Dan sekolah saya pun sudah almarhum aliyas sudah berganti nama. Dulu SDN Pangkalan Jati II sekarang menjadi SDN Jatiwaringin IX.  Berada di wilayah Bekasi Jawa Barat. Kami menyebutnya SD Ayeng. Malah beberapa temen SMP saya menyebutnya SD Areng karena dindingnya yang menghitam.

Aping atau saya bisa saja bersekolah di sekolah lain di wilayah Jakarta, karena wilayah tempat tinggal kami masih menjadi bagian dari wilayah Jakarta. Jika saat itu saya dihadapkan pada sedikitnya pilihan sekolah, di mana sekolah dasar yang terdekat dari tempat tinggal saya hanya SD Ayeng, sedangkan sekolah yang lain jauh. Sedangkan Aping dan saudara-saudaranya dihadapkan pada keterbatasan biaya.  Emang sih, dimana-mana sekolah SD gratis, tapi setidaknya kalo sekolah di SD Ayeng mereka ga perlu ongkos untuk sampai ke sekolah.

Menginjakan kaki disana lagi, jadi terbayang rentetetan kenangan 20 tahun lalu. Inget Pak Momo, inget Bu Zubaedah, inget Mang Ndang, Lia Adistia, Prio Hadi, Wisnu Fajar, Netta, Mamay yang gak naek-naek kelas, juga Nanang Kosim yang sudah tiada. Huh kayak ga ada abis-abisnya. Banyak yang berubah dalam 20 tahun ini. Sekarang sekolahnya sudah bertingkat, nama sekolah juga udah berubah, guru-gurunya juga udah berubah. Yang ga berubah??? Tempat jajannya. Masih ditanah kosong depan sekolah yang kalau panas berdebu dan kalau ujan beceknya minta ampun.

Yang membuat saya sedih sekaligus bangga??? Hm…

Hampir sebagian besar murid-murid di sekolah ini berasal dari keluarga yang tidak mampu, anak-anak dengan latar belakang keluarga seperti Aping. Jauh dari jemputan mobil-mobil mewah, jauh dari gaya anak-anak gaul. Mereka  dekil-dekil, tapi terlihat  semangat. Saya baru tersadar, anak-anak tetangga saya yang orang tuanya memiliki penghasilan lumayan menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah negeri maupun swasta di Jakarta, sedangkan mereka dengan penghasilan pas-pasan meyekolahkan anaknya di SD Ayeng.

SD Ayeng, sebuah sekolah di pinggir kota Bekasi yang becek, terkesan kumuh, semerawud, tapi bias bertahan lebih dari 20 tahun. Menampung ratusan murid dari keluarga biasa-biasa saja, Tanpa Aping, mungkin saya tidak akan pernah menyadari, betapa saya bangga pernah menjadi bagian dari sekolah ini, sekolah yang sudah membesarkan saya, mengajarkan saya membaca dan menulis, mengajarkan saya berteman, mengajarkan saya menjadi ibu yang baik saat ini.

Bravo ya SD Ayeng, maju terus ditengah gempuran globalisasi, Saya bangga pernah sekolah disana. That’s way kenapa saya cinta Bekasi, karena disanalah  SD Ayeng berada…

Sekilas 18tahun saya bersama Bekasi

terlahir di kota metropolitan Jakarta tepatnya di daerah kemayoran, pada tanggal 14 April 1989. tidak lama berselang dari kelahiran saya diboyong oleh Ayah dan Ibu ke sebuah kota urban yang banyak dari warganya merupakan pekerja di kantor-kantor maupun toko-toko di Jakarta, yah itulah kota saya dibesarkan hingga berusia 18 tahun, Bekasi.

logo-bekasi-2

Continue reading Sekilas 18tahun saya bersama Bekasi

Sekolah Gratis buat Anak Dhuafa

Minggu lalu, dalam acara master Mind Cikarang, ada salah satu kawan yang cerita tentang susahnya mendirikan TK dan akhirnya memilih mendirikan BimBel.

Ada diskusi menarik soal perlunya anak kecil belajar menulis. Pada usia balita, sebaiknya anak-anak itu dibiarkan bermain dan jangan pernah dibebani untuk menjadi seorang anak yang pintar menulis.

Anak-anak akan berkembang lebih optimal jika dibiarkan berkreasi dengan otak kanannya. Jadi isilah hari-hari sang anak dengan kegiatan yang menumbuhkan semangat hidupnya dan perkembangan otaknya. Continue reading Sekolah Gratis buat Anak Dhuafa