FIFA Harus Segera Menerapkan Pemakaian Video

Fair play senantiasa menjadi semboyan yang ditekankan kepada para pemain sepakbola. Bila mereka melakukan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip tersebut, mereka bisa mendapat hukuman kartu kuning atau bahkan kartu merah. Seorang pemain yang mengganggu pemain lawan yang berpeluang mencetak gol di kotak penalti misalnya  bisa diganjar kartu merah sekaligus hukuman tendangan  pinalti. Dalam piala Dunia di Afsel saat ini beberapa kali terjadi kejadian serupa.

Namun prinsip yang sama tampaknya belum berlaku bagi para wasit. Beberapa kali wasit melakukan kesalahan dalam menilai terjadinya pelanggaran sehingga keputusan yang diambil terasa merugikan salah satu pihak. Kaka ,misalnya menerima kartu kuning kedua karena dianggap menyikut pemain lawan. Padahal dari tayangan televisi terlihat jelas justru pemain lawan yang menabrak dia, meskipun mungkin terlihat dia mengangkat tangan untuk menghindari tabrakan lawan. Kartu kuning kedua ,diikuti kartu merah telah mengurangi kesempatan Kaka untuk tampil membela  Brazil.

Puncak kesalahan wasit yang saya lihat adalah apa yang terjadi malam ini pada pertandingan antara Jerman melawan Inggeris di Free State Stadium, dalam perdelapan final. Saat kedudukan  2-1 untuk Jerman, tendangan Frank Lampard dari luar kotak finalti jelas terlihat telah melewati garis gawang sebelum kemudian memantul ke tiang atas dan kemudian turun menyentuh garis gawang. Seolah-olah bola belum masuk, penjaga gawang Jerman, Manuel Neuer, segera merebut dan melempar bola kembali ke tengah lapangan. Tragisnya, wasit dan hakim garis tidak melihat bahwa bola sudah masuk dan  tidak mengesahkannya. Frank Lampard dan seluruh pendukung  Inggeris hanya bisa menelan kekecewaan.

Keterbatasan jarak pandang wasit mungkin saja mengurangi keakuratan keputusan yang mereka ambil. Namun kondisi tersebut semestinya disikapi dengan mengadopsi penggunaan perangkat teknologi untuk membantu wasit mengambil keputusan terbaik yang tidak merugikan salah satu pihak yang telah berjuang keras selama pertandingan. Dalam kondisi keragu-raguan untuk mengambil keputusan apakah bola telah melewati garis gawang, wasit semestinya bisa meminta bantuan hakim  keempat untuk memutar ulang video pertandingan. Dengan demikian, wasit dan hakim garis bisa secara jernih memutuskan bahwa gol sah atau tidak.

Persoalannya adalah, FIFA sebagai induk organisasi dunia ternyata tidak menyetujui  penggunaan teknologi video untuk membantu wasit dalam memonitor pertandingan.Terlalu dini menyatakan FIFA anti tenologi karena kenyataannya mereka telah mengadopsi penggunaan telepon wireless untuk memudahkan komunikasi antara wasit dan hakim garis. Lantas, mengapa untuk penggunaan video yang senyatanya mampu mengatasi kekurangan  pengamatan wasit akibat jarak dan sudut pandang ditolak?

Bila FIFA tetap dengan keputusannya untuk meniadakan penggunaan video, maka di masa depan kita akan menyaksikan kembali berulangnya kejadian yang merugikan salah satu kesebelasan akibat keputusan wasit yang tidak tepat. Akan ada gol “Tangan Tuhan” ala Maradona kembali, gol bantuan tangan ala Thiery Henry saat melawan Republik Irlandia di babak penyisihan, hukuman penalty karena diving seperti yang dilakukan Grosso dari Italia yang menyingkirkan Australia tahun 2006. Hari ini kita menyaksikan peristiwa yang persis sama 44 tahun yang lalu saat Inggeris melawan Jerman di Stadion Wembley.. Haruskah kita melihat peristiwa hari ini di Piala-piala Dunia yang akan datang hanya karena administrator sistem persepakbolaan sejagad ini tidak mau berubah ? Jika demikian, mungkin wasit dan FIFA juga perlu diberi kartu merah!! Masalahnya, siapa yang berwenang memberi mereka kartu merah?