Ketika UN Menjadi Makhluk Tuhan yang Paling Seksi

Makhluk Tuhan Paling Seksi
Makhluk Tuhan Paling Seksi

Tiba-tiba sekolah menjadi bermuatan religius. Doa bersama sampai sholat dhuha dikampanyekan. Katanya, ikhtiar dengan pendalaman materi sudah dilakukan. Tinggal saatnya kita berdoa. Mereka menangis sesunggukan. Kocek kantong orang tuapun ikutan menangis. UN membuat para orang tua menjerit dengan semakin tingginya biaya pendidikan. Orang tua terpaksa, dan dipaksa untuk membayar biaya bimbingan belajar dan pendalaman materi soal-soal UN. Hal yang lebih sadis lagi, sekolah bekerjasama dengan bimbingan belajar agar siswanya lulus 100 persen. Sebuah harga yang harus dibayar mahal demi sebuah prestise sekolah unggul di masyarakat.

Continue reading Ketika UN Menjadi Makhluk Tuhan yang Paling Seksi

Kasus Ny Siami dalam Perspektif Masyarakat Sakit

Sambil tertunduk berlinang air mata Ny Siami tak putus mengucap kata maaf, pengeras suara tak mampu melawan teriakkan warga yang mengepung balai desa, ratusan warga berteriak “usir… usir… usir…” dengan mata melotot dan tatapan ganas siap memangsa wanita lemah tak berdaya, mereka berteriak-teriak hendak mengusir Ny Siami. Walau dikawal beberapa polisi toh akhirnya warga berhasil menarik kerudung Ny Siahami sambil mengumpat sekenanya. Ny Siami bukan maling yang ketangkap basah warga, bukan juga pelaku tindakan asusila yang kemudian dihakimi warga di balai desa. Beliau adalah seorang orangtua murid yang anaknya bersekolah di SD Gadel 2 Kecamatan Tandes, Surabaya. Beliau tiba-tiba saja dibenci ratusan warga karena mengajarkan kejujuran pada anaknya.

 

Kejadian ini berawal pada tanggal 16 Mei yang lalu, setelah Unas selesai beliau diberitahukan oleh wali murid lain bahwa dalam pelaksanaan Ujian Nasional anaknya dijadikan sumber contekan oleh guru, sebelum pelaksanaan Unas anaknya sudah di plot menjadi sumber contekan untuk membagi-bagikan kepada temannya. Mendengar kejadian tersebut Siami lantas kecewa dengan sikap sekolah yang mengajarkan ketidakjujuran pada anaknya. Akhirnya dengan maksud melayangkan protes Siami mendatangi kepala sekolah, dalam pertemuan itu pihak sekolah hanya menyampaikan permohonan maaf dan itu tidak membuat Siami puas. Beliau kemudian melaporkan kejadian ini pada komite sekolah, dan juga tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Kemudian Siami menyampaikan kejadian ini pada Dinas Pendidikan dan Media sehinggga kejadian ini menjadi perhatian publik

 

Dituduh mencemarkan nama baik sekolah dan kampung, warga memaksan siami meminta maaf secara terbuka nami Siami baru bisa menyampaikan permohonan maafnya.

 

Pertemuan juga dihadiri Ketua Tim Independen, Prof Daniel M Rosyid, Ketua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dindik Tandes, Dakah Wahyudi, Komite Sekolah, dan sejumlah anggota DPRD Kota Surabaya. Satu jam menjelang mediasi, sudah banyak massa terkonsentrasi di beberapa gang.

 

Mereka langsung mengepung keluarga ini. Beberapa polisi yang sebelumnya memang bersiaga langsung bertindak. Mereka melindungi keluarga ini untuk menuju ruang Balai RW. Warga kian menyemut dan terus memadati balai pertemuan. Ratusan warga terus merangsek. Salah satu ibu nekat menerobos. Namun, karena yang diizinkan masuk adalah perwakilan warga, perempuan ini harus digelandang keluar oleh petugas.

 

Masyarakat Sakit

 

Herbert Marcuse mengidentifikasikan masyarakat Sakit sebagai masyarakat satu dimensi. Masyarakat berdimensi satu merupakan masyarakat yang bersikap reseptif dan pasif sehingga semakin menguatkan dominasi atas diri masyarakat tersebut sehingga dominasi tidak lagi dirasakan dan disadari sebagai sesuatu yang tidak wajar. Apa yang dituntut oleh masyarakat kepada Siami sesungguhnya tidak rasional dan tidak wajar, Siami mengajarkan anaknya kejujuran bahwa mencontek itu perbuatan tercela dan dapat mencederai proses pendidikan yang sedang dijalankan anaknya. Tetapi karena proses contek-mencontek massal itu sudah berlangsung lama dan massif maka masyarakat menggagapnya hal yang wajar. Seperti ungkapan “Kebohongan yang diucapkan berulang, akan dianggap benar”. Didalam masyarakat satu dimensi ini segala pandangan hidupnya hanya diarahkan pada satu tujuan utama saja, yakni mempertahankan sistem yang telah ada dan bertahan sehingga kehilangan prinsip kritisnya.

 

Masyarakat sakit pada kasus ini hanya berpikir pada bagaimana agar anaknya lulus saja tanpa berpikir akan substansi pendidikan bagi anaknya, Mereka berpikir bagaimana anaknya lulus, buka bagai mana anaknya terdidik. Menurut Mercuse hal ini akibat Munculnya bentuk-bentuk kontrol yang baru – Dalam masyarakat industri maju, manusia terbelenggu oleh ketidakbebasan yang berkedokkan kemajuan teknis yang digerakkan oleh rasionalitas, efektivitas dan produktivitas.Dan hal ini akan menghilangkan substansi pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang diberikan sulit tercapai seperti apa yang disebutkan dalam undang-undang sistem pendidikan Nasional.

 

Berikutnya Mercuse berbicara tentang Penaklukan Kesadaran yang Tidak Membahagiakan: Desublimasi yang Represif. lam bab ini Marcuse memfokuskan pembahasannya mengenai segi yang kultural, seni dan estetis dari masyarakat industri maju yang dilihatnya bukan sebagai ‘penurunan budaya tinggi menjadi budaya massa tetapi penolakan kultur ini oleh realitas. Dalam kasus Ny. Siami ini pemahaman luhur tentang pentingnya kejujuran yang sudah tertanam dalam masyarakat seolah-olah terabaikan oleh rasionalitas bahwa anak mereka harus lulus untuk memenuhi tuntutan pekerjaan. Sehingga jika Ny Siami laporannya diteruskan untuk menjatuhkan sanksi pengulangan Unas di sekolah tersebut maka ada kemungkinan anak mereka tidak lulus.

 

Pada hakikatnya pendidikan itu tidak hanya sebagai legalitas formal mendapatkan kehidupan materi saja. Prof. Prayitno mengungkapkan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia seutuhnya, manusia seutuhnya adalah manusia yang terpenuhi 4 dimensi kemanusiaan diantaranya dimensi individu, sosial, agama, dan norma. Menanamkan kejujuran, kebenaran, tanggungjawab membutuhkan konsekuensi yang harus dipilih guna membentuk manusia yang seutuhnya. Agara masyarakat kita bisa sembuh dari sakitnya. ^.^

Kriteria kelulusan Ujian Nasional tahun 2011

Akhirnya perubahan kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional tentang Ujian Nasional dan Kelulusan siswa muncul sebagai bentuk penyerapan aspirasi masyarakat selama ini. Kebijakan tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dari jenjang SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB dan SMK tahun pelajaran 2010/2011 tersebut tertuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 45 tahun 2010 yang ditetapkan pada tanggal 31 Desember 2010.

Beberapa perubahan kebijakan tersebut antara lain :

  1. Terdapat dua komponen nilai yang diperhitungkan untuk mendapatkan Nilai Akhir yang akan menentukan Kelulusan Peserta Didik yaitu 40% Nilai Sekolah/Madrasah (Nilai S/M) dan 60% Nilai Ujian Nasional (Nilai UN). Nilai S/M untuk tingkat SMP/MTs/SMPLB adalah 60% Nilai Ujian Sekolah (Nilai US/M) dan 40% rata-rata nilai rapor semester 1 s/d 5. Sedangkan untuk tingkat SMA/MA/SMALB Nilai S/M adalah 60% Nilai US/M dan 40% rata-rata nilai rapor semester 3 s.d 5. (Pasal 5 dan 6)
  2. Kriteria Kelulusan Ujian Sekolah/Madrasah ditetapkan oleh satuan pendidian berdasarkan perolehan nilai S/M (Pasal 5 ayat 1), sedangkan kelulusan Ujian Nasional ditentukan berdasarkan Nilai Akhir (N A) yaitu jika peserta didik memiliki rata-rata NA 5,5 dan NA setiap mata pelajaran paling rendah 4,0 (Pasal 6 ayat 1,2,3)

Selanjutnya Pelaksanan Ujian Sekolah/Madrasah dan Ujian Nasional diatur dalam Permendiknas Nomor 46 tahun 2010 yang ditetapkan pada tanggal 31 Desember 2010. Dalam Peraturan Menteri tersebut antara lain disebutkan bahwa :

  1. Ujian Sekolah/Madrasah pada jenjang SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK dilaksanakan untuk semua mata pelajaran (Pasal 3)
  2. Nilai S/M yang merupakan gabungan Nilai US/M dan rata-rata nilai rapor semua mata pelajaran harus diserahkan pada BSNP sebelum pelaksanaan UN (Pasal 6)
  3. UN tahun 2011 hanya dilakukan satu kali (tidak ada UN Ulangan) dengan jadwal : untuk untuk SMA/MA/SMALB tanggal 18 s.d 21 April 2011 sedangkan SMP/MTs/SMPLB tanggal 25 s.d 28 April 2011. UN susulan bagi siswa yang berhalangan mengikuti UN Utama untuk SMA tanggal 25 s.d 28 April 2011 dan UN susulan SMP tanggal 3 s.d 6 Mei 2011. (Pasal 8)
  4. Pengumuman kelulusan SMA paling lambat tanggal 16 Mei 2010 dan pengumuman kelulusan SMP paling lambat tanggal 4 Juni 2011
  5. Mata Pelajaran yang di UN-kan untuk SMA IPA :Bhs Indonesia, Bhs Inggris, Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi; SMA IPS : Bhs Indonesia, Bhs Inggris, Matematika, Ekonomi, Sosiologi, Georafi; SMA Bahasa : Bhs Indonesia, Bhs Inggris, Matematika, Bahasa Asing lain, Sejarah Budaya/Antropologi, dan Sastra Indonesia, sedangkan UN SMP meliputi : Bhs Indonesia, Bhs Inggris, Matematika dan IPA

Untuk lebih detail mengenai Peraturan Menteri ini silahkan download salinannya :

Permendiknas Nomor 45 tahun 2010

Permendiknas Nomor 46 tahun 2010

Benarkah facebook Membuat Nilai UN Menurun???

Saya agak terusik ketika salah satu peserta i-Edu Workshop menyatakan bahwa Facebook adalah salah satu penyebab nilai UN menurun di tingkat SLTA.

Pernyataan tak terduga itulah yang saya dengar langsung dalam kegiatan “ICT in Education: Implementation & Issue Arising From Case Studies” yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) di Assembly Hall JCC Senayan, Rabu 5 Mei 2010 dari pukul 14.00 s.d. 17.30.

Para Pembicara i-Edu Workshop di Assembly Hal JCC Senayan Jakarta
Para Pembicara i-Edu Workshop di Assembly Hal JCC Senayan Jakarta

Kegiatan itu merupakan sebuah rangkaian kegiatan besar IT INDO COMM 5-7 Mei 2010 yang telah dibuka secara resmi oleh Menkoinfo, bapak Tifatul Sembiring. Tema besar dalam kegiatan ICT Expo itu adalah “The Role of Broadband Services to Maximize Economic Growth, Digital Creativity and Knowledgw Society”.

Slide Presentasi Mas Muhammad Ihsan, Sekjen IGI
Slide Presentasi Mas Muhammad Ihsan, Sekjen IGI
Mas Muhammad Ihsan, Sekjen IGI Pusat
Mas Muhammad Ihsan, Sekjen IGI Pusat

Dalam pengantar acara workshop i-Edu, mas Muhammad Ihsan, Sekjen Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyatakan bahwa facebook telah menjadi situs nomor 1 di Indonesia dari top ten website yang sering dibuka oleh para pengguna internet di negara Indonesia  yang jumlah penduduknya sudah sekitar  240.271.522 orang. Celakanya orang Indonesia lebih menyukai situs berbau SEX, dengan diperlihatkannya daftar pencarian tag sebagai negara pencari sex nomor 3 di dunia. Hal ini tentu sungguh memalukan, tetapi nyata dalam dunia maya kita.

Peserta i-Edu Workshop Sedang mendengarkan Presentasi Singkat dari IGI
Peserta i-Edu Workshop Sedang mendengarkan Presentasi Singkat dari IGI

Kegaiatan workshop itu dihadiri oleh 4 orang narasumber profesional yaitu:

  1. Mas Donny BU, pengiat internet sehat (internetsehat.org)
  2. Gita Surya Wijaya, Education program Manager (Axioo International)
  3. Arya Sanjaya, Business Development Manager (intel Indonesia)
  4. Wibisono Hadiputro, Divisi Head e-Learning Solution (Indosat)
Peserta i-Edu Workshop Sedang mendengarkan Presentasi
Peserta i-Edu Workshop Sedang mendengarkan Presentasi

Menarik sekali apa yang disampaikan oleh keempat pembicara Worshop, sehingga membuat saya tak bisa menemukan kata-kata yang tepat dari acara itu, yang begitu diburu oleh teman-teman guru yang hadir lebih dari 150 orang guru. Semoga saja bukan berniat untuk mencari selembar sertifikat, tetapi memang benar-benar ingin tahu lebih mendalam tentang Implementasi ICT dalam dunia pendidikan.

Mas Wibisono Hadiputro dari Indosat Sedang Mempresentasikan ISMS
Mas Wibisono Hadiputro dari Indosat Sedang Mempresentasikan ISMS

Dalam presentasinya, Mas Wibisono lebih menitik beratkan kepada pemanfaatan ISMS (internet School Manajemen System) yang sekarang ini sedang dikembangkan oleh pihak Indosat untuk ditawarkan ke sekolah-sekolah. ISMS ini diharapkan dapat meningkatkan komunikasi di antara guru, orang tua, dan siswa.

Sedangkan mas Arya Sanjaya dari intel lebih banyak mempresentasikan tentang paradigma pembelajaran baru dimana guru adalah manusia yang perlu ditingkatkan terus kualitasnya. Guru harus menyadari bahwa pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru saja, tetapi siswa diarahkan untuk bisa belajar mandiri dengan bimbingan guru.

Presentasi Mas Arya dari intel
Presentasi Mas Arya dari intel

Oleh karena itu guru harus bisa melakukan komunikasi yang efektif dengan para peserta didiknya. Diantaranya dengan memiliki keterampilan menggunakan komputer sebagai alat pembelajaran yang efektif. Guru pun diharapkan mampu menjadi konselor bagi anak didiknya. Semua itu tercantum dalam 5 Kecakapan yang harus dikuasai di abad 21.

Mas Gita Surya Wijaya, dari Axioo lebih menekankan SAGUSALA (Satu guru satu laptop) dalam presentasinya, dimana para guru diharapkan telah memiliki laptop canggih dengan biaya terjangkau. Dengan memiliki laptop, diharapkan para guru dapat mengaplikasikan pembelajarannya melalui komputer dan internet. Adanya laptop diharapkan kinerja para guru menjadi lebih baik. Karena itu, axioo menjual laptop super murah lengkap dengan tutorialnya dan software original kepada para guru dengan cara dicicil melalui bank Danamon dan Adira kredit.

5 Kecakapan Abad 21 yang harus dikuasai oleh para guru
5 Kecakapan Abad 21 yang harus dikuasai oleh para guru
Presentasi dari Mas Gita Surya Wijaya dari Axioo
Presentasi dari Mas Gita Surya Wijaya dari Axioo

Namun begitu,  presentasi dari mas Doni BU juga tak kalah menariknya, beliau mengatakan bahwa tim dari internet sehat siap datang ke sekolah-sekolah untuk memberikan penyuluhan tentang pemanfatan internet sehat bagi siswa dan guru. Sebab harus diakui saat ini, konten lokal masih minim diminati dan banyak pengguna internet Indonesia. Mereka lebih suka membuka website  dari luar negeri seperti facebook, google, yahoo, youtube, dan blogger.

Presentasi Mas Doni BU dari Tim Internet sehat
Presentasi Mas Doni BU dari Tim Internet sehat

Dari semua presentasi yang ditampilkan, menarik sekali apa yang disampaikan oleh keempat pembicara itu, tetapi sayangnya tak semua materi yang disampaikan tercatat dengan baik oleh saya yang sudah mengalami PDIP (Penurunan Daya Ingat Permanen).

Saya hanya ingat satu hal, sebagai seorang blogger, wajib baginya bernarsis ria dengan salah satu pengelola acara, dan terjadilah adegan narsis di bawah ini. Hehehehehe, malu deh aku!

Omjay dan Mas Ihsan, Sekjen Ikatan Guru Indonesia (IGI)
Omjay dan Mas Ihsan, Sekjen Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Lalu apa hubungannya antara judul di atas dengan acara ini? jawabnya ya jelas ada hubungannya dong, sebab pertanyaan dan pernyataan itu muncul dari salah satu peserta setelah para narasumber memberikan presentasi. Tealh mampu membuat saya berpikir dan merenung, apa benar gara-gara facebook nilai UN menurun???. Iseng-iseng saya ganti status saya di facebook dengan petanyaan itu.

Antusiasme Peserta Edu Workshop Terlihat sekali di sini
Antusiasme Peserta Edu Workshop Terlihat sekali di sini

Kok lagi-lagi alat atau media yang disalahkan, padahal kan manusianya yang  seharusnya disalahkan. Begitu banyak orang menuliskan dalam tanggapan satus facebook saya di sini.

Seorang teman guru TIK di SMAN 12 jakarta yang bernama ibu Vilia Eka Meyana menuliskan di status facebook saya, “Facebook tidak bisa disalahkan…dia hanya tools…tapi humannya yang kebangetan…tanpa control diri…”

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

Ujian Nasional & Sertifikasi

Seminar dan Worskshop  PTK di Nganjuk Jawa Timur
Seminar dan Worskshop PTK di Nganjuk Jawa Timur

Di antara berita masalah hukum yang belum berkeadilan, masih ada berita masalah pendidikan yang juga tak kalah seru. Ujian nasional akan dimajukan waktunya, dan sungguh sangat mengejutkan. Forum Rektor Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan akan memboikot pelaksanaan sertifikasi tahun 2010. Mereka protes karena honor mereka tak sesuai dengan harapan.

Bila sampai mereka mogok, maka akan sengsaralah para guru, apalagi buat mereka yang belum dinyatakan lulus sertifikasi guru. Sudah lulus saja masih bermasalah, apalagi belum lulus sertifikasi pastilah ada banyak masalah, khususnya masalah isi kantong yang belum menyebar merata ke semua guru. Itulah yang saya baca dari koran kompas cetak bagian opini hari ini, Jum’at 20 November 2009.

Masalah pendidikan memang masalah pelik, dan tidak semua orang bisa memahaminya dengan cara-cara yang bijaksana. Tentu dari menteri pendidikan nasional yang baru, kita berharap ada terobosan yang berbeda dari menteri pendahulunya.

Perbedaan itu misalnya berani menghapus Ujian Nasional (UN) karena UN mematikan kreativitas siswa dan guru. UN hanya melatih siswa menjawab soal-soal PG dan semua itu bisa di drill dengan latihan soal-soal terus menerus. Bagi mereka yang mempunyai uang banyak mungkin tak ada kesulitan dalam memberikan materi tambahan, tetapi bagi mereka yang tak punya uang, maka harus belajar ekstra keras berlatih soal-soal.

Mungkin ini hanya pikiran saya yang tidak holistik. Saya hanya melihat dari kacamata saya saja, tetapi saya bisa membuktikan bahwa UN tidaklah cocok dijadikan penentu  atau barometer kelulusan siswa. Sebab masih banyak ukuran kelulusan yang bisa dilakukan, misalnya dengan sistem tes masuk perguruan tinggi, sehingga bila ada peserta didik yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, maka peserta didik itu harus ikut tes sesuai dengan jenjang yang akan dimasukinya. Seleksi tes perguruan tinggi tak melihat nilai siswa, tetapi kemampuan siswa.

Contoh kasus misalnya, murid SD tak perlu lagi ikut UASBN, karena siswa SD yang telah dinyatakan lulus oleh sekolah akan mengikuti tes di SMP yang akan jadi tujuannya. Begitu seterusnya sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Peserta didik tak perlu ikut ujian nasional, tetapi cukup ikut tes masuk dari sekolah yang bersangkutan. Idegila ini memang butuh sosialisasi dan pemikiran yang panjang serta sistem yang jelas sehingga masing-masing tingkat tahu fungsi dan perannya masing-masing. Semua soal dibuat oleh lembga yang ditunjuk seperti Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP).

Selain masalah UN, ada masalah sertifikasi guru yang belum tuntas dan masih terus dievaluasi. Pelaksanaan sertifikasi guru memang belum menyenangkan semua pihak. Guru diibaratkan seperti kelinci percobaan dari para penentu kebijakan yang sebenarnya kebijakan ini dipaksakan.  Satu sisi jelas guru dan dosen harus disertifikasi untuk meningkatkan profesionalisme mereka, tetapi disisi lain masalahnya adalah banyak guru dan dosen yang kurang bersabar dalam menunggu giliran sesuai dengan jenjang kepangkatannya, dan kurag bersyukur dengan apa yang telah didapatkan, sehingga banyak kita lihat guru dan dosen yang sudah tersertifikasi justru mengalami penurunan kinerja.

Akhirnya UN dan Sertifikasi  adalah masalah yang memusingkan menteri, dan kita doakan beliau mampu mengatasinya dengan kebijakan yang “smart” . Berlaku adil dan menyenangkan semua pihak. Kita pun berharap guru dan dosen semakin bermartabat. Guru di sekolah mampu menjalankan tugasnya dengan baik, dan dosen di perguruan tinggi tidak terlalu asyik mengerjakan tugasnya di luar, sehingga banyak mahasiswa yang tidak terbina dengan baik.

Semoga saja kita bisa memberikan dorongan positif agar pelaksanakan UN dan sertifikasi ini berjalan sesuai dengan harapan semua pihak.  Tidak 100 % mungkin, tetapi setidaknya masalah pendidikan di negeri ini terselesaikan dengan tepat dan cepat.

Salam blogger persahabatan

Omjay