Berguru Pada Sri Sultan Hamengku Buwono IX

13648783611701526881

Sebuah pertemuan yang luar biasa ketika saya diberi kesempatan satu forum dengan tokoh media, penulis top Indonesia dan sekaligus aktivis sosial, Bapak Parni Hadi. Forum yang mempertemukan kami itu adalah bedah buku karya beliau dengan Pak Nasyith Majdi. Buku yang berjudul Sri Sultan Hamengku Buwono IX Inspiring Prophetic Leader.

Sebagai seorang wakil kepala daerah, saya sangat tersanjung diberi kesempatan oleh Pak Parni Hadi untuk membedah bukunya. Buku yang banyak memberikan pelajaran dan hikmah kepemimpinan bagi saya sebagai pengemban amanah rakyat.

Buku yang diprakarsai oleh Ikatan Relawan Sosial Indonesia yang juga dipimpin oleh Pak Parni Hadi itu membuka cakrawala kita tentang khasanah kepemimpinan nasional yang kaya dengan keteladanan.

Dalam banyak hal Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberikan keteladanan itu ketika beliau menjadi Raja Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat dan menjadi wakil presiden. Salah satu yang paling berkesan adalah kerelaan beliau berkorban untuk berdirinyanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, halangan dan rintangan masih menghadang. Belanda belum rela Indonesia merdeka, berbagai upaya terus dilakukan untuk menggagalkan tegaknya NKRI. selain mendirikan negara boneka, Belanda juga menahan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Ketika Presiden dan Wakil Presiden RI, Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan di Bangka oleh Belanda, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan kerelaannya membantu menanggung keuangan negara senilai 6 juta Gulden. Kita tahu, kondisi keuangan negara diawal-awal berdirinya belum bisa memenuhi segala kebutuhan pemerintahan yang dipimpin oleh dwi tunggal Soekarno-Hatta.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah seorang nasionalis sejati. Nasionalismenya tidak diragukan lagi. Meski beliau adalah raja dan bangsawan berpengaruh di Jawa, beliau memilih menjadi seorang nasionalis sejati. Ketika Republik ini diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, beliau dengan tegas mengatakan mendukung berdirinya NKRI. Padahal, kedaulatannya sebagai Raja Kesultanan Yogyakarta sangat kuat di mata rakyatnya.

Pada saat yang bersamaan, banyak raja-raja di nusantara meragukan dan belum mengakui kelahiran NKRI, Sri Sultan Hamengku Buwono menyatakan secara tegas bahwa wilayahnya menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Membaca sosok Ngarso Dalem Hamengku Buwono IX lewat karya Pak Parni Hadi dan Pak Nasyith Majdi memiliki arti tersendiri bagi saya. Tertuma belajar tentang kepemimpinan dari aristokrat yang berjiwa nasionalis. Ada banyak keteladanan yang patut kita petik dari sosok beliau. Buku ini wajib dibaca setiap pemimpin. Buku ini menjadi petunjuk yang baik untuk menjadi pemimpin yang bernilai dan sekaligus dicintai rakyat. Karena beliau telah membuktikan itu, menjadi pemimpin yang bernilai dan sekaligus sangat dicintai rakyatnya.

Sulitnya Bertemu Plt. Walikota Bekasi


Ada sebuah pengalaman yang kurang mengenakkan. Hari Rabu, 3 agustus 2011 kami pergi ke kantor walikota Bekasi. Pukul 10.30 saya sudah ada di pemkot Bekasi. Lalu saya telepon ibu Nelly yang ternyata sudah ada di ruang plt walikota Bekasi.

Betapa senangnya saya, sebab sudah lama tak bersua dengan ibu Nelly yang dulu kepala telematika Bekasi. Apalagi beliau dengan senang hati mempertemukan komunitas blogger Bekasi dengan plt walikota, bapak Rahmat Effendi. Surat dan proposalpun langsung masuk ke meja sekretariat plt walikota.

Oleh ajudan kami diminta untuk menunggu. Bapak Rahmat Effendi masih rapat dengan asda katanya. Satu persatu temen-temen blogger Bekasi datang menemani. Mulai dari mas Yuli, mbak Mira lalu mbak Irma dan mas Ilham datang bergabung. Ramailah ruang tunggu bapak plt walikota Bekasi. Kamipun sempat bernarsis ria dan berfoto sejenak untuk melaporkan kondisi kami melalui dunia maya.

Namun, malang benar nasib kami. Pak walikota masih rapat dengan jadwal yang padat. Belum ada kejelasan kapan kami bisa bertemu. Ajudan hanya bisa mengatakan, ditunggu saja.

Akhirnya kamipun menunggu sampai pukul 16.00 sore. Tapi pak plt walikota belum juga keluar menemui kami. Padahal pada siang hari, beliau sudah sempat melihat kami di ruang tunggu. Wah sibuk sekali kelihatannya bapak pejabat kita ini. Sampai- sampai beliau sulit sekali nampaknya bertemu dengan kami dari komunitas blogger Bekasi.

Tiba-tiba ajudan beliau menemui kami. Bapak sudah pulang lewat pintu belakang. Sedih, kecewa dan kesel menjadi satu. Tapi itulah skenario Allah. Nampaknya hari itu Allah belum mempertemukan kami dengan bapak plt walikota.

Semoga bapak plt walikota membaca tulisan saya ini. Betapa inginnya kami bertemu dengannya untuk melaporkan rencana kegiatan amprokan blogger Bekasi yang akan kami laksanakan 17-18 September mendatang. Kami ingin beliau hadir dalam acara kami, dan menyetujui proposal amprokan blogger 2011 yang kami ajukan.

Sulitnya bertemu plt walikota bekasi, membuat saya mencari cara lain untuk bertemu dengan beliau. Niat baik, pasti akan dijawab baik. Semoga Allah melancarkan segala urusan beliau, dan membuat Bekasi lebih cerah di masa kepemimpinannya.

Kami dari blogger Bekasi hanya minta waktu beliau. Kapan kiranya bisa bertemu langsung. Kita bicara tentang amprokan blogger yang telah sukses tahun lalu, dan berharap beliau masih ingat akan kebersamaan kita di pusat industri kecil bekasi dan tempat akhir pembuangan sampah bantar gebang. Semoga beliau ingat, ketika memberikan kartu namanya kepada kami. Sayang no ponselnya sudah tak aktif lagi. Mungkin sudah berganti nomor.

Semoga melalui tulisan ini, ada pembaca yag berbaik hati mempertemukan kami dari komunitas blogger bekasi untuk bisa beraudiensi dengannya, walaupun cuma 30 menit saja.

Salam blogger persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com