Buat Apa ?
Sosial-Budaya Wednesday, January 6th, 2010 398 views
Print Artikel Ini
Masih banyak PR yang harus dikerjakan pemerintah. Misalnya, "memanusiakan" sekolah yang mirip kandang hewan.
SUATU malam, ketika sedang asyik menonton acara debat publik di sebuah stasiun televisi, istriku bertanya dengan nada yang sangat serius.
“Pa ! Tolong jelaskan dengan gamblang. Mengapa banyak perusahaan negara yang memasang iklan bela sungkawa secara jor-joran. Bahkan ada sebuah BUMN yang memasang setengah halaman. Coba jelaskan, mengapa banyak BUMN yang menghambur-hambur uangnya (dengan memasang iklan) untuk sesuatu yang sudah jelas. Mengapa ?” tanya istriku.
Mendengar pertanyaan ini, saya diam seribu bahasa. Bukan apa-apa, tapi memang tidak tahu sama sekali jawaban yang bisa memuaskan kepenasaran istriku. Karena itu saya posting tulisan ini, mudah-mudahan ada pembaca yang memiliki kecerdasan
for more pictures, click here to visit my blog at wordpress
yang lebih baik dari saya, sehingga bisa menemukan jawaban yang tepat.
Dengan diam, saya berharap istriku tidak lagi bertanya-tanya, sehingga saya dapat menonton acara debat publik dengan tenang. Saya begitu kagum dengan kepintaran para politisi yang sangat pandai berbicara dan berkelit. Luar biasa kemampuan para politisi kita, di saat rakyat sedang menunggu-nunggu akhir berbagai kasus besar negeri ini, mereka masih saja asyik berdebat dengan penuh percaya diri.
Diamnya saya ternyata tidak serta merta membuat istriku diam juga. Bahkan pertanyaannya semakin lama justeru semakin sulit untuk dijawab.
”Coba jelaskan Pa !”, kata istriku dengan wajah penasaran.
”Mungkin itu sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang telah berjasa”, jawab saya sekenanya.
”Kalau begitu alasannya, mengapa tidak negara saja yang mengambil alih penghormatan tersebut ? Negara kan lebih pantas melakukan itu, karena memiliki otoritas dalam memberikan berbagai gelar kehormatan dan kepahlawan terhadap jasa seseorang. Bukan kah banyak BUMN yang masih melampirkan Laporan Keuangan Tahunan-nya dengan catatan ”masih merugi” ? Katanya merugi, tapi koq masih bisa mengeluarkan dana besar untuk sesuatu yang tidak bermanfaat secara langsung bagi masyarakat. Kan beriklan di media massa bisa ratusan juta. Uang sebanyak itu bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Misalnya untuk perbaikan upah karyawan, bangun sekolah, bangun klinik rakyat. Saya tidak mempersoalkan penghormatan siapa pun terhadap orang yang meninggal. Kalau itu dilakukan oleh masyarakat, saya tidak akan protes. Tapi kalau BUMN melakukan sesuatu yang tidak berkaitan dengan core business-nya, buat apa ? Ini juga tidak bisa dikategorikan program Corporate Social Responsibility. Negeri ini kan perlu uang banyak untuk membangun segala hal. Pemerintah kan belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kenapa sih, kita ini suka pamer padahal kita gak punya banyak uang ? Seperti mobil menteri yang konon harganya di atas 1 M. Kenapa tidak nyari mobil Kijang saja ? Jadi semua itu buat apa ?”, tanya istriku mengakhiri argumen panjang untuk menjelaskan keresahannya.
Saya tetap tidak bisa menjawab pertanyaan terakhir istriku dengan argumen yang memuaskan. Saya teringat nasihat seorang sahabat, ”jangan pernah mendiamkan pertanyaan istri, segera lah jawab secepat mungkin. Kalau dibiarkan, maka dia akan berbicara terus yang hanya membuat kita semakin terpojok”. Agar tidak terlalu banyak pertanyaan, saya mengajak istri untuk segera istirohat. Tapi pertanyaan istriku tetap mengganggu pikiran saya. Bahkan ketika mau berangkat ke kantor pun, pertanyaannya masih belum terjawab. Buat apa itu semua ? (Tulisan serupa juga diposting di kompasiana.com. Kemang Pratama, 7/1/2010)
Print Artikel Ini





Y mungkin hanya BUMN tersebut yg bisa jawab pa’ kenapa dia bisa ngeluarin dana yg jor-joran bwat membuat dan menayangkannya di media. kita si cuma bisa bertanya2 dan molohok keheranan hahahhahaha…….
[Reply]
tapi kalau tanya ke bumn, jawabannya muter-muter ndak jelas
[Reply]