Kurawat Istriku Dengan Penuh Cinta
Cerita Bersambung Wednesday, February 20th, 2013 1,399 views
Print Artikel Ini
Tidak pernah aku bercerita kepada siapapun. Tidak juga kepada engkau. Aku hanya menyimpan kisahku ini dalam hati. Sebuah kisah suami yang merawat istrinya dengan penuh cinta. Baginya, cinta adalah kekuatan. Cinta adalah daya pengungkit yang membuatnya bertahan merawat istrinya yang lumpuh dan tak bisa terbangun dari tempat tidurnya.
Tak terasa sudah 15 tahun lamanya. Sebuah penantian yang membutuhkan kesabaran. Ada banyak air mata menetes, namun ketegaran seorang suami diuji di sana. Ada keperkasaan yang pantang menyerah dengan keadaan. Aku harus menjadi superhero bagi keluargaku.
Kesetiaan teruji, dan pengorbanan yang tak sia-sia itu akhirnya menemukan kebahagian. Itulah buah dari kesabaran. Tak banyak orang yang mengalaminya. Mungkin hanya 1001 manusia saja yang mengalaminya dari 5 milyar penduduk di di dunia. Mungkin juga aku yang ke 1001 itu. Entahlah!
Ujian itu dimulai ketika istriku mengalami sebuah kecelakaan. Truk kontainer yang berisi muatan elektronik telah menabrak motornya. Kakinya patah, dan harus diamputasi. Namun bukan hanya itu saja masalahnya. Tangannya tak bisa digerakkan, jadilah ia manusia lumpuh yang tanpa daya. Aku harus melayaninya dengan sepenuh hati. Cinta kami yang menguatkan aku bertahan.
Segala upaya sudah aku lakukan. Mulai dari pengobatan modern sampai alternatif. Semua tabunganku sudah ludes, dan rumah yang aku tempati beserta anak-anakku terpaksa kujual. Biaya pengobatan yang besar harus membuatku kalah dengan keadaan. Tinggallah kami di rumah yang sangat sederhana.
Pekerjaanku memang agak sedikit terganggu. Untunglah aku mempunyai teman-teman yang baik hati. Aku sering meninggalkan tempat kerja untuk merawat istriku. Mereka mengerti dan memahami keadaanku. Sampai suatu ketika surat itu datang kepadaku. Pimpinan tempat aku bekerja memanggilku. Aku dirumahkan dari tempat kerjaku.
Aku seperti orang gila kala itu. Tapi aku sadar bahwa aku tak boleh pasrah dengan keadaan. Pasrah berarti kalah, dan aku bukan lagi lelaki tangguh yang melindungi anak dan istriku. Mereka harus makan, dan mereka tidak boleh tahu apa yang aku alami.
Sampai suatu ketika, istriku tahu akan keadaanku.
“Mas Kukuh, kok kelihatan muram? Ada apa? Tak seperti biasanya Mas Seperti ini?”. Istriku menyapaku ketika aku pulang dari tempat kerjaku. Tempat yang terakhir kalinya aku singgahi. PHK memaksaku meninggalkan tempat kerja yang penuh kenangan. Disitulah cinta kami bersemi.
“Tidak ada apa-apa Surti! Mas Kukuh hanya capai saja. Pekerjaan di kantor cukup melelahkan hari ini”, itulah perkataanku yang berbohong kepada istriku sendiri. Rasanya, baru kali ini aku berbohong dengan istriku. Tapi dia tak boleh tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
(Bersambung)
Print Artikel Ini



Saya sangat tersentuh membaca cerita Anda,tapi saya hanya bisa berdo’a saja supaya yang bersangkutan di beri kesabaran serta di dengar do;a2nya,Amin.
@Jasa Layanan, amin
Artikelnya sangat bermanfaat, dan mudah di mengerti
Trimakasih
ceritanya mengharukan sekali, ini kisah nyata atau fiksi sob?
murni fiksi, makanya masih bingung bikin lanjutannya, hehehe
ceritany menarik sekali
mantap sekali
josssss