Peluang Petahana di Pemilukada Bekasi
Politik-Hukum-Keamanan Wednesday, March 2nd, 2011 188 views
Print Artikel Ini
Oleh : Komarudin Ibnu Mikam
Hingar bingar Pemilukada Kab. Bekasi sudah mulai berisik. Memang, hampir satu tahun lagi. Tapi, jangan berpikir tidak ada gejolak. Semua pemain politik bergerak dengan kapasitas dan kemampuannya. Masing-masing nandur, mempersiapkan segala potensi.Mulai dari logistik hingga modal politik.
Hasil penelitian Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyimpulkan, di Indonesia peluang petahana (incumbent), baik kepala daerah maupun wakilnya, untuk memenangkan pemilu di daerah mencapai persentase tertinggi yaitu berkisar 60%. Data tersebut, menurut pendapat penulis, disebabkan oleh peluang petahana untuk memulai kampanye besar, setidaknya saat awal petahana menduduki jabatannya. Hasil itu juga ditambah dengan besar kemungkinan pelibatan para pegawai/birokrasi untuk mendukung mereka.
Bagaimana dengan petahana? Ibarat nyawah, tanduran petahana lah yang paling hebat. Bupati Sa’dudin kepada penulis pernah berkelakar, bahwa dia tidak akan mencalonkan menjadi Bupati lagi di periode mendatang. “Tapi hanya melanjutkan…..” diplomasinya.
Dan, jujur saya harus katakan bahwa petahanalah yang paling siap untuk bertarung dalam pemilukada 2012.
Tapi, Apakah menjamin Sa’dudin kembali jadi Bupati Periode 2012-2017? Jawabannya BELUM TENTU!
Belum tentu pertama, selama Bupati Sa’adudin menjabat kinerja kerjanya dipertanyakan banyak pihak. Bayangkan, setiap anggaran ada saja dana yang tidak terserap. Tahun 2008, ada Rp. 331 Milyar. Tahun 2009 dana yang tidak terpakai Rp. 440 milyar. Tahun 2010, dana yang tidak terserap sebanyak Rp. 490 milyar.
Bahkan, kemarin tanggal 8 januari 2011, Bupati diprotes warga desa Lenggasari, Kec. Cabang Bungin. yang tak kunjung memperhatikan desa Lenggahsari untuk membangun jalan. Ini cermin betapa kinerja pemerintahan pimpinan Sa’adudin dibawah rata-rata. Bila, 10 angka maksimal maka untuk pembangunan infrastruktur, Bupati hanya dapat poin 4,5 saja.
Saat ini publik berasumsi SKPD yang tidak bisa kerja. Padahal, dalam militer dikenal istilah tidak ada prajurit yang salah. Yang salah itu adalah jenderal. Artinya, SKPD bukan pihak yang perlu dipersalahkan. Yang salah itu yang pimpinannya : Bupati!
Dinas pendidikan juga menjadi catatan tersendiri. Tahun anggaran 2010 kemarin, tercatat ada Rp. 58 Milyar dana yang tidak terserap. Ini aneh. Masa duit sudah ada tidak bisa digunakan.
Belum tentu kedua adalah konflik yang terjadi antara Bupati dan wakil Bupati. Setelah terpilih, kentara sangat bahwa keduanya tak lagi harmonis. Kata semanis madu hanya dibir saja. Janji tinggal janji. Yang ada hanya gigit jari. Bukan rahasia lagi, kalau wakil Bupati kerap curhat di mana-mana. Ia komplain kalau dirinya tidak lagi dipercaya oleh Bupati.
Belum tentu ke tiga adalah kelanjutan dari poin satu dan dua. Karena kinerja tak maksimal dan konflik internal dengan B2, kepercayaan publik pun meruap. Punah tak tahu ke mana. Dalam konteks ini, mesin politik tidak mampu me-manage. Mesin birokrasi apalagi. Politik mutasi terlihat sembarangan. Ada yang baru dimutasi tiga bulan lalu, sekarang sudah dimutasi lagi. Ada yang kepala dinasnya pangkatnya jauh lebih rendah dari kabid. Terlihat sekali aroma kurang sedap.Ini Cuma akal-akalan untuk mencari modal tahun 2011.
Belum tentu ke empat adalah pengelolaan modal yang amburadul. Modal politik di internal partai kerap diwarnai dinamika. Walau pun di ruang publik, tidak terdengar.. Tapi banyak yang mulai antipati dengan incumben dari internal partai. Kelebihannya, kemampuan mereka mengendalikan konflik ini. Akhirnya, tidak sampai mencuat kemana-mana.
Belum tentu ke lima adalah sikap incumben yang terlalu percaya diri. Tidak mau menerima kritik. Tidak mau menerima masukan. Team sukses hanya dari partai dan tidak membuka ruang untuk masukan, kritikan atau saran. Pandangan-pandangan berbeda disikapi sinis. Hal ini diperparah oleh sekelompok orang dekat bupati nyang sikapnya ABUSE (Asal Bupati Senang). Sehingga, Bupati tidak mau belajar. Tidak mau berusaha mempelajari.
Getolnya Sa’dudin ngurusi Pasiban (paguyuban Bekasi Banten) menjadi blunder. Tolakan muncul dari mana-mana. Bupati dianggap memanfaatkan aset rakyat untuk kepentingan kelompok dan golongannya. Jadi, petahana saja tak menjadi jaminan. Sehingga, yang lainpun bisa mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Bekasi 2012.
Pun demikian, bila Bupati membaca coretan ini dan mau membuka diri, masih ada kesempatan. Satu tahun lagi. Kesempatan untuk membuktikan kepada rakyat bahwa Bupati Sa’adudin bisa bekerja. Tak perlu lah kampanye. Buka puasa sunnah bersama dan tahajud bersama adalah hal yang positif. Namun, lebih positif lagi kalau perbaiki kinerja. Selesaikan semua persoalan dengan sistematis dan taktis. Bupati perlu banyak turun langsung.
Rakyat sudah sangat cerdas. Rakyat tidak akan tertipu oleh serangan fajar atau serangan senja. Uang diambil, pilihan belum tentu. Tapi, bila kinerja meningkat. Hati rakyatpun terpikat. Bisa jadi, Bupati Sa’duin kembali menjadi Bupati Bekasi untuk periode ke dua.[kim]
Print Artikel Ini





ini pertanahan apa pertahanan ya maksudnya…? rasanya nga cukup 1 tahun kalo mau benerin jalan-jalan yg rusak di Kabupaten Bekasi.
Tiap hari temen saya ngeluh di jalan Setu yang kayak kumbangan kerbau.
[Reply]
Aris Heru Utomo Reply:
March 2nd, 2011 at 10:09 PM
@ipung,
Petahana (bahasa Inggris: incumbent), dalam politik, adalah pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat. Istilah ini biasanya digunakan dalam kaitannya dengan pemilihan umum, dimana sering terjadi persaingan antara kandidat petahana dan nonpetahana. Sebagai contoh, pada Pemilu Presiden Indonesia 2009, Susilo Bambang Yudhoyono adalah petahana, karena ialah presiden yang sedang menjabat pada saat pemilihan umum untuk memilih presiden berikutnya dilaksanakan. Dalam persaingan kursi-terbuka (dimana petahana tidak mencalonkan diri), istilah “petahana” terkadang digunakan untuk merujuk kepada kandidat dari partai yang sedang memegang jabatan.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Petahana
[Reply]
Hal seperti ini rasanya hanya bisa terjadi ketika rakyatnya sudah tidak kritis, tidak memperhatikan secara mendalam, lebih suka duit sedikit tapi “datang dari langit” daripada menunggu terjadinya perubahan pada nasib mereka yang dikawal oleh leader sejati yang biasanya gagal karena tidak mau main kotor.
[Reply]
Salah satu yg menarik dari artikel bang Komar adalah pernyataan mengenai adanya ketidakcocokan antara orang pertama dan kedua di pemerintahan Kabupaten. Ketidakcocokan ini sama sebangun dengan yang terjadi di tingkat walikota. Di kota malah lebih parah kondisinya dengan kejadian saling jegal yang sudah begitu transparan ke publik. Hal ini tentu saja menyedihkan. Ketika pemilihan mereka bersatu dalam satu paket, ketika menang dan harus menjalankan program, masing2 jalan sendiri dan tidak saling dukung. Yang rugi tentu saja masyarakatnya. Tidak ada yang memperhatikan kepentingan rakyat.
Satu hal lain yang mesti diperhatikan adalah jangan sampai masyarakat tertipu untuk kedua kalinya dengan janji2 pilkada yang hanya manis di mulut. Bisa jadi petahana yang sekarang dianggap kedodoran, menjelang pilkada memoles dan mematut diri agar layak dipilih kembali. Untuk itu peran serta masyarakat, khususnya blogger, untuk secara kritis mengungkapkan ketidakberesan petahana ataupun calon2 lain. Lewat kejujuran dan menulis dengan hati, blogger bisa bertindak sebagai jurnalis warga yang tidak terikat kepada kepentingan media (cetak maupun online) milik para calon yang bertarung di pilkada.
[Reply]
Peluang Petahana di Pemilukada Bekasi | Komunitas Blogger Bekasi…
[...]Team sukses hanya dari partai dan tidak membuka ruang untuk masukan, kritikan atau saran. Pandangan-pandangan berbeda disikapi sinis. Hal ini diperparah oleh sekelompok orang dekat bupati nyang sikapnya ABUSE (Asal Bupati Senang). … Sukses, Peny…